# The Story of My Food Revelation: A Food Technologist’s Perspective | Dennis Guido | TEDxUNDIP

https://www.youtube.com/watch?v=xj0Z6HmploE
Translation: en

[00:07] Gua baru aja balik dari Papua pegunungan.
  I just got back from Papua Mountains.

[00:12] benar-benar kemarin literally kayak ini.
  really yesterday literally like this.

[00:14] masih pakai ornamen-ornamennya.
  still wearing its ornaments.

[00:17] Dan kalau kalian cari di Google, Papua Pegunungan ini adalah provinsi yang baru dilantik tahun 2022 kemarin.
  And if you search on Google, Papua Mountains is a province that was newly inaugurated in 2022.

[00:28] Jadi benar dia baru 3 tahun menjadi provinsi, tapi ironisnya dia juga adalah menjadi provinsi dengan penduduk miskin terbanyak di Indonesia.
  So it's true it's only been a province for 3 years, but ironically it is also the province with the largest poor population in Indonesia.

[00:42] Jadi di sana kemarin gua melihat banyak banget hal ironis, menyedihkan.
  So there yesterday I saw many ironic, sad things.

[00:47] Di sana gua melihat jalan yang rusak, longsor, kemudian juga banjir yang bikin mereka banyak mengalami gagal panen dan mengakibatkan kelaparan dan juga sistem pendidikan yang belum
  There I saw damaged roads, landslides, then also floods that caused them to experience crop failures and resulted in starvation and also an education system that is not yet

[01:02] Memadai.
  Adequate.

[01:06] Sebagai anak teknologi pangan dan juga content creator sekarang di sana gua mendapatkan misi untuk mengeksplore pangan lokal yang ada di sana dan juga berbagi cara untuk mengolahnya sehingga mereka dapat menjadikannya pangan-pangan lokal tersebut menjadi produk dengan nilai jual yang lebih sehingga harapannya bisa meningkatkan pendapatan mereka.
  As a food technology student and also a content creator, now there I was given a mission to explore local food there and also share ways to process it so that they can make these local foods into products with higher selling value, so the hope is that it can increase their income.

[01:32] Selama 3 hari gua pergi ke tiga distrik yang berbeda dengan rintangannya dan tiga olahan makanan yang berbeda.
  For 3 days I went to three different districts with their challenges and three different food preparations.

[01:43] Pertama ada tape dari singkong karena di sana kaya akan ubi-ubian dan singkong.
  First, there is cassava tape because the area is rich in tubers and cassava.

[01:49] Yang kedua ada minyak dari buah merah.
  The second is oil from red fruit.

[01:52] Dan yang ketiga ada selai nanas dari buah nanas khas Papua pegunungan.
  And the third is pineapple jam from the distinctive pineapple of Papua mountains.

[02:01] Dan cerita tentang selain nanas ini
  And the story about this pineapple jam

[02:03] sampai sekarang menjadi momen paling emosional dalam karir pertek pangan gua menjadi content creator.
  Until now, it has become the most emotional moment in my career in food technology, becoming a content creator.

[02:13] Karena di suatu distrik bernama Jiwika, ibu-ibu di sana mereka bilang banyak ee nanas tumbuh di sana dengan keunikannya, dengan rasa yang manis kayak madu, bentuk yang besar berair, kemudian juga wangi yang harum sekali.
  Because in a district called Jiwika, the mothers there said that many pineapples grow there with their uniqueness, with a sweet taste like honey, a large juicy shape, and also a very fragrant smell.

[02:31] Mereka sangat bangga dengan nanas yang tumbuh di sana.
  They are very proud of the pineapples that grow there.

[02:36] Tapi mereka belum pernah mengolah buah-buah tersebut karena mereka merasa cukup dengan memakan buah itu secara langsung.
  But they have never processed these fruits because they felt it was enough to eat the fruit directly.

[02:46] Jadi ketika mendengar kata selai mereka merasa terkejut.
  So when they heard the word jam, they were surprised.

[02:50] Mereka belum pernah dengar selai itu apa.
  They had never heard of what jam was.

[02:54] Dan ketika mereka tahu selai itu adalah produk lembut yang bisa dicocol dengan ubi dan singkong di sana, mereka benar-benar antusias untuk mendengar dan
  And when they learned that jam was a soft product that could be dipped with sweet potatoes and cassava there, they were very enthusiastic to hear and

[03:04] mempelajarinya.
  study it.

[03:06] Dan di sana gua benar-benar semangat untuk mengajari mereka.
  And there I was really excited to teach them.

[03:09] Jadi, dari kita mengajari cara memotong nanas hingga kecil-kecil, kemudian kita juga mengajarkan cara memasak yang higienis.
  So, from us teaching how to cut pineapple into small pieces, then we also teach how to cook hygienically.

[03:16] Kita berikan mereka sarung tangan dan juga cara mencuci tangan.
  We give them gloves and also how to wash their hands.

[03:21] Kemudian juga kita ajari mereka untuk berpikir secara inovatif.
  Then we also teach them to think innovatively.

[03:24] Mereka bisa tambahin rempah-rempah yang tumbuh di sana.
  They can add spices that grow there.

[03:28] Kita juga mengajarkan ee cara mereka kreatif mengemas selain nanas dengan rapi dan bahkan memberikan nama yang unik untuk produk mereka nanti bisa dijual.
  We also teach them how to creatively package the pineapple jam neatly and even give a unique name to their product so it can be sold later.

[03:42] Dan momen emosional ini muncul ketika akhirnya selain nanas yang mereka tambahin, jahe ditumbuh di tempat mereka ini akhirnya jadi dan kita semua berkumpul membentuk lingkaran.
  And this emotional moment arose when finally the pineapple jam they added, ginger grown in their place, was finally ready and we all gathered in a circle.

[03:53] Kita duduk di lantai bersama-sama dan kita mencicip selain nanas itu untuk pertama kalinya
  We sat on the floor together and tasted that pineapple jam for the first time

[04:03] ketika selain nanas ini masuk ke mulut
  when this pineapple jam went into the mouth

[04:05] mereka reaksinya masih belum bisa hilang dari ingatan gua sekarang.
  their reaction still hasn't disappeared from my memory now.

[04:08] Karena setiap nonton videonya pun gua masih merasa kaget dan juga tercengang.
  Because every time I watch the video, I still feel surprised and astonished.

[04:13] Karena ketika mereka mencoba selain nanas ini, benar-benar ekspresi ceria, mata mereka melotot, senyum lebar, dan juga rasa bangga yang mereka dapatkan karena mereka berhasil mengolah makanan yang mereka punya di sana menjadi selain nanas yang menarik dan bisa dijual.
  Because when they tried this pineapple snack, their expressions were truly cheerful, their eyes widened, they had big smiles, and also the pride they felt because they succeeded in processing the food they had there into an interesting and sellable pineapple snack.

[04:39] Di sini gua merasa kalau mereka mendapatkan proses yang gua sebut sebagai pencerahan pangan atau food revelation di mana akhirnya mata mereka dan pikiran mereka terbuka.
  Here I feel like they got a process that I call food enlightenment or food revelation where finally their eyes and minds were opened.

[04:50] Mereka sadar kalau pangan-pangan lokal yang tumbuh di sekitar mereka ini bisa diolah menjadi produk dengan nilai jual yang tinggi dan harapannya bisa meningkatkan pendapatan dan ekonomi mereka.
  They realized that the local foods growing around them could be processed into products with high sales value, and hopefully, it could increase their income and economy.

[05:05] Dan dari mereka pun juga gua belajar.
  And from them I also learned.

[05:07] Gue juga mendapatkan pencerahan pangan ini karena gua sadar betul kalau ternyata teknologi pangan benar-benar sepenting itu dalam masyarakat dan juga sepenting itu ee untuk bisa disampaikan informasinya ke semua orang.
  I also gained enlightenment on food because I realized that food technology is truly that important in society and also that important to be able to convey the information to everyone.

[05:24] Dan ngomongin penting enggak penting sebenarnya gua ada pertanyaan buat kalian.
  And speaking of important or not important, I actually have a question for you.

[05:29] Gua pengin tanya seberapa penting makanan bagi diri kita?
  I want to ask how important food is to ourselves?

[05:32] Jadi kalian bisa angkat tangan, kalian sebut ee angkanya dari 1 sampai 5.
  So you can raise your hands, you state the number from 1 to 5.

[05:35] Dari skala enggak penting sampai sangat penting.
  From a scale of not important to very important.

[05:38] Kalian boleh angkat tangan.
  You may raise your hands.

[05:43] Oke.
  Okay.

[05:46] Dan sekarang gua ngelihat banyak angka lima.
  And now I see many fives.

[05:48] Artinya kita semua sepakat kalau ternyata makanan itu sangat penting bagi diri kita.
  It means we all agree that food is very important to ourselves.

[05:52] Karena kita butuh makanan buat hidup, kita butuh makanan untuk rasanya, kita butuh nutrisinya untuk kehidupan kita yang lebih sehat.
  Because we need food to live, we need food for its taste, we need its nutrition for our healthier lives.

[05:59] Tapi sekarang ada pertanyaan kedua.
  But now there is a second question.

[06:03] Menurut kalian seberapa dalam kalian
  According to you, how deeply you

[06:06] memikirkan makanan kalian? Jadi ini dalam skala 1 sampai 5 gua cuma butuh kalian ee berpikir dalam kepala kalian dan gua bakal bantu dengan tangga kesadaran makanan yang gua buat.
  thinking about your food? So on a scale of 1 to 5, I just need you to think in your heads and I'll help with the food awareness ladder that I made.

[06:21] Jadi kalau kalian misal ada di level 1 ini artinya kalian ee masih memikirkan makanan dari segi sensoris saja.
  So if you are, for example, at level 1, it means you are still thinking about food from a sensory perspective only.

[06:30] Kalian cuma pikir makanan dari warna, bentuk, rasa atau instant gratification.
  You only think about food by its color, shape, taste, or instant gratification.

[06:35] Cuma rasa kenyang yang kalian terima.
  You only receive the feeling of fullness.

[06:37] Kalau kalian naik ke level 2, artinya kalian sudah memikirkan makanan dari segi nutrisi dan kesehatannya.
  If you move up to level 2, it means you are already thinking about food in terms of its nutrition and health.

[06:43] Naik lagi ke level 3, kalian sudah memikirkan efek sosial dari makanan kalian.
  Moving up again to level 3, you are already thinking about the social effects of your food.

[06:48] Entah itu dari segi budaya, identitas.
  Whether it's in terms of culture, identity.

[06:52] Kalau kalian bisa naik lagi ke level 4, kalian sudah memikirkan asal muasal proses yang terjadi pada makanan kalian.
  If you can move up again to level 4, you are already thinking about the origin of the processes that happen to your food.

[06:59] hingga dampak lingkungan yang diberikan oleh makanan kalian.
  up to the environmental impact of your food.

[07:03] Dan kalau kalian sudah sampai level terakhir di level 5, kalian sudah memikirkan etika,
  And if you have reached the final level, level 5, you are already thinking about ethics,

[07:07] kesejahteraan, dan juga dampak global
  welfare, and also the global impact

[07:09] yang makanan punya.
  that food has.

[07:11] Jadi, kalau kita sudah memikirkan
  So, if we have already considered

[07:12] kesejahteraan petani yang menghasilkan
  the welfare of farmers who produce

[07:14] makanan kita, kita sudah memikirkan
  our food, we have already considered

[07:16] dampak global lain, misalnya ekonomi
  other global impacts, for example economic

[07:18] atau politik.
  or political.

[07:20] Jadi, kalian coba pikirin dalam kepala
  So, you try to think in your head

[07:22] kalian menurut kalian kalian ada di
  according to you, where are you

[07:23] level mana?
  at what level?

[07:23] Karena gua mau coba
  Because I want to try

[07:26] sebenarnya coba tebak kalau benar coba
  actually try to guess if it's true, try

[07:28] ngangguk aja dikit-dikit gua bakal
  just nod a little, I will

[07:30] lihatin.
  watch.

[07:30] Jadi menurut gua kebanyakan
  So in my opinion, most

[07:33] dari kalian masih ada di level 1 sampai
  of you are still at level 1 to

[07:35] 2.
  2.

[07:38] Nah, udah ngangguknya bareng-bareng
  Well, now you're all nodding together

[07:40] semua ini.
  all of this.

[07:43] Gua pun masih ada di level 1 sampai 2.
  I am also still at level 1 to 2.

[07:45] Setidaknya sampai kurang lebih 5 tahun
  At least until approximately 5 years

[07:48] yang lalu
  ago

[07:50] gua belajar kalau sebenarnya ada yang
  I learned that there was actually something

[07:52] aneh.
  strange.

[07:54] Tadi kita jawab makanan itu sangat ting
  Earlier we said food is very imp

[07:55] bagi kita.
  to us.

[07:55] Tapi kenapa enggak banyak
  But why aren't many

[07:58] orang yang benar-benar memikirkan secara
  people really thinking deeply

[08:00] dalam tentang makanannya?
  about their food?

[08:06] Sampai sekarang gua belajar kalau
  Until now I learned that

[08:07] ternyata makanan itu lebih kompleks dari kebutuhan untuk hidup dan juga nutrisinya.
  It turns out that food is more complex than the need to live and also its nutrition.

[08:16] Gua percaya kalau dunia kita berpusat pada makanan di mana makanan bermain peran penting dalam macam-macam aspek kehidupan manusia kayak ekonomi, sosial, budaya, dan politik bahkan dan sebagainya.
  I believe that our world is centered on food, where food plays an important role in various aspects of human life such as economy, social, cultural, and political, and so on.

[08:32] Jadi hari ini gua di sini ingin berbagi perspektif gua sebagai food technologist, anak teknologi pangan tentang kesadaran pangan atau food revelation.
  So today I am here to share my perspective as a food technologist, a food technology student, about food awareness or food revelation.

[08:44] Harapannya adalah kalian dapat mendapatkan kesadaran pangan ini sendiri dalam hidup kalian.
  The hope is that you can gain this food awareness yourself in your lives.

[08:48] Dan harapannya juga adalah kalian dapat memilih makanan yang lebih lebih baik dan berdampak ke depannya.
  And the hope is also that you can choose food that is better and has an impact in the future.

[08:59] Jadi cerita singkat kenapa gua mendapatkan proses kesadaran pangan ini dimulai ketika 5 tahun lalu
  So, a brief story of why I gained this food awareness process started 5 years ago.

[09:08] Dan gua bakal bercerita tentang salah satu project pang teknologi pangan gua bernama project Zero.
  And I will tell you about one of my food technology projects called Project Zero.

[09:15] Ini adalah project asal muasal nak tekpang akun gua di sosial media.
  This is the project that originated my food tech account on social media.

[09:21] Ketika itu umur gua masih 25 tahun dan sedang menghadapi quarter life crisis.
  At that time, I was still 25 years old and facing a quarter-life crisis.

[09:27] Jadi, hidup gua lagi berasa monoton, kemudian juga lagi cari tujuan hidup, kemudian ee lagi mencari aktivitas yang gua benar-benar pengin lakuin untuk seumur hidup gua.
  So, my life felt monotonous, and I was looking for a purpose in life, and also looking for an activity that I really wanted to do for the rest of my life.

[09:37] Dan waktu itu gua posisinya lagi bekerja di salah satu industri minuman setelah lulus dari kuliah teknologi pangan.
  And at that time, I was working in one of the beverage industries after graduating from food technology college.

[09:44] Gua bekerja di salah satu industri minuman ee sebuah brand minuman yang cukup terkenal di Indonesia sebagai formulator dalam divisi R&D.
  I worked in one of the beverage industries, a well-known beverage brand in Indonesia, as a formulator in the R&D division.

[09:53] Jadi emang kerjaannya kita mengotak-ngatik formulasi minuman tersebut.
  So, our job was to tinker with the beverage formulation.

[10:00] Jadi benar-benar tahu semua proses dari awal sampai akhir, kemudian juga proses-prosesnya.
  So, I really knew all the processes from beginning to end, and also the processes.

[10:05] Dan ketika itu kita mendapatkan project untuk bisa bersaing dengan salah satu
  And at that time, we got a project to compete with one of the

[10:10] brand minuman teh buah yang nomor satu
  The number one fruit tea drink brand

[10:14] di Indonesia.
  in Indonesia.

[10:17] Jadi idenya adalah kita membuat minuman teh buah juga, tapi
  So the idea is we make a fruit tea drink too, but

[10:20] dengan tambahan nutrisi seperti vitamin C, vitamin B, kemudian kita gunakan
  with added nutrients like vitamin C, vitamin B, then we use

[10:26] proses sterilisasi kayak UHT sehingga
  a sterilization process like UHT so that

[10:29] produk minuman tersebut ee
  the drink product is uh

[10:32] bisa awet tanpa bahan tambahan pengawet.
  can last without added preservatives.

[10:35] Dan kalau kalian pengin tahu sebagai orang R&D biasa kalau kita berhasil
  And if you want to know, as a normal R&D person, if we succeed

[10:39] launching produk nyampai dijual di pasaran tuh kita kayak berasa bapak
  in launching a product and selling it in the market, we feel like a father

[10:41] ngelahirin anak gitu.
  giving birth to a child.

[10:43] Jadi kita kayak pantau terus ini benar-benar produknya
  So we keep monitoring if this product is really

[10:45] laku atau enggak di pasaran dan ternyata
  selling or not in the market, and it turns out

[10:50] bisa enggak laku.
  it didn't sell.

[10:53] Jadi sebagai bapaknya waktu itu gua benar-benar penasaran kenapa produk ini
  So as its father, at that time I was really curious why this product

[10:56] kita minta tim marketing untuk survei dan akhirnya
  We asked the marketing team to survey, and finally

[10:59] alasannya cukup simpel tapi ternyata
  the reason was quite simple but it turned out to be

[11:01] mencengangkan buat gua karena ternyata
  shocking for me because it turned out

[11:03] alasannya adalah konsumen di Indonesia
  the reason was that consumers in Indonesia

[11:07] enggak cukup sadar atau enggak cukup
  are not aware enough or not enough

[11:11] memahami tentang aspek nutrisi yang ada
  understanding the nutritional aspects that exist

[11:13] dan juga teknologi yang ada di prosesnya.
  and also the technology that exists in the process.

[11:15] Jadi mereka cuma mikirin rasa enak atau enggak, rasa ee harganya mahal atau enggak, cukup untuk dompet mereka atau enggak, cukup sesimpel itu doang.
  So they just think about whether the taste is good or not, whether the price is expensive or not, whether it's enough for their wallets or not, it's that simple.

[11:25] Dan dari situ benar-benar gua e terbakar motivasinya.
  And from there, my motivation was truly ignited.

[11:29] Gua akhirnya punya tujuan hidup untuk bisa meningkatkan tingkat kesadaran pangan pada semua orang lewat sosial media.
  I finally had a life goal to be able to increase the level of food awareness for everyone through social media.

[11:34] Dan akhirnya itu yang menumbuhkan eh akun sosial media Naktpang.
  And finally, that's what grew the Naktpang social media account.

[11:37] Dan sebenarnya hari ini dia lagi ulang tahun kelima pas banget di bulan Mei.
  And actually, today it's celebrating its fifth birthday, right in May.

[11:49] Jadi Project Zero ini yang membuat gua mengalami pencerahan pangan hingga sampai sekarang gua bisa ee terus belajar dan juga em membagikan ke kalian informasi-informasi terkait makanan.
  So this Project Zero is what made me experience food enlightenment until now I can continue to learn and share information related to food with you.

[12:01] Jadi apa itu ee pencerahan pangan?
  So what is food enlightenment?

[12:06] Food revelation itu adalah momen sebenarnya.
  Food revelation is a moment, actually.

[12:08] Momen ketika kita menyadari akan keinginan dan kebutuhan kita ee terkait
  A moment when we realize our desires and needs related to

[12:14] peningkatan kesadaran pangan.
  increasing food awareness.

[12:16] Jadi kita mau belajar, kita mau meningkatkan tingkat kesadaran kita mungkin dari level 1 2 kita mau coba naik ke level 3.
  So we want to learn, we want to increase our awareness level perhaps from level 1 2 we want to try to go up to level 3.

[12:22] Itu adalah e kesadaran pangan.
  That is e food awareness.

[12:25] Dan trigger gua tadi seperti yang gua bilang karena gua mengetahui kalau ternyata konsumen di Indonesia itu kurang sadar akan makanannya dan juga keinginan gua untuk berdampak buat orang lain.
  And my trigger earlier, as I said, was because I knew that consumers in Indonesia are not very aware of their food, and also my desire to have an impact on others.

[12:37] Gua sadar ternyata lewat perjalanan gua mempelajari makanan yang macam-macam di akun gua ternyata proses pencerahan pangan ini bukan proses yang terjadi sekali.
  I realized that through my journey of learning about various foods on my account, it turns out that this food enlightenment process is not a one-time process.

[12:48] Jadi ini bisa ee berulang-ulang lewat cerita pangan yang kita alami.
  So this can be e repeated through the food stories we experience.

[12:54] Dan gua bakal metik beberapa cerita untuk kalian.
  And I will pick some stories for you.

[12:56] Misalnya cerita pertama di Papua tadi.
  For example, the first story in Papua earlier.

[12:59] Cerita Papua ini sebenarnya kita tercerahkan bahwa ternyata Indonesia ee terkait edukasi pangan itu sangat tidak merata.
  This Papua story actually enlightened us that Indonesia's food education is very uneven.

[13:08] Kita bisa lihat contohnya kayak di Papua Pegunungan.
  We can see an example like in Papua Mountains.

[13:10] waktu rata-rata pendidikan atau waktu
  when the average education or time

[13:15] Sekolah mereka di Papua Pegunungan.
  Their school is in Papua Pegunungan.

[13:17] Contohnya cuma 5 tahun untuk laki-laki dan 3 tahun untuk perempuan.
  For example, only 5 years for men and 3 years for women.

[13:21] Sedangkan di DKI Jakarta ini sampai 11 tahun.
  Whereas in DKI Jakarta, it is up to 11 years.

[13:24] Dan kita juga bisa harus sadar kalau kasus stunting dan kelaparan ini masih banyak sekali di Indonesia.
  And we also need to be aware that cases of stunting and hunger are still very numerous in Indonesia.

[13:32] Global hunger index kita masih 16,9% dan dibandingkan China yang sekarang bahkan sudah di bawah 5%.
  Our global hunger index is still 16.9%, compared to China, which is now even below 5%.

[13:39] Jadi dari cerita di Papua kita benar-benar belajar bahwa em kita harus sadar, kita harus melihat makanan dari segi sosial.
  So from the story in Papua, we truly learn that we must be aware, we must look at food from a social perspective.

[13:48] Kita harus ingat bahwa ada teman-teman yang kelaparan di sana dan gua sudah melihat dengan mata kepala sendiri.
  We must remember that there are friends who are starving there, and I have seen it with my own eyes.

[13:53] Kemudian cerita kedua itu adalah ketika gua pernah mengunjungi suatu produksi gula aren tradisional di Lebak, Banten.
  Then the second story is when I visited a traditional palm sugar production in Lebak, Banten.

[13:58] Waktu itu ketemu sama namanya Pak Basri.
  At that time, I met someone named Pak Basri.

[14:02] Dia adalah petani yang jujur, ramah, dan dia mempertahankan autentisitas dan juga originalitas dan segi tradisional dari gula aren.
  He is an honest, friendly farmer, and he maintains the authenticity, originality, and traditional aspects of palm sugar.

[14:09] Karena ternyata dari cerita ini kita tercerahkan rasa gula aren yang asli dan ternyata kalau di pasaran
  Because it turns out that from this story, we are enlightened about the taste of real palm sugar, and it turns out that in the market

[14:16] banyak banget gula aren yang dioplos
  There's a lot of palm sugar mixed in

[14:17] dengan gula pasir
  with granulated sugar

[14:22] dengan tujuan agar harganya lebih murah.
  with the aim of making the price cheaper.

[14:26] Setelah belajar dari Pak Basri, gua
  After learning from Pak Basri, I

[14:29] pulang dan ingin beli gula aren dari
  went home and wanted to buy palm sugar from

[14:31] dia.
  him.

[14:34] Dan kalau kalian pengin tahu harga
  And if you want to know the price

[14:36] setiap bongkah gula aren yang udah
  of each block of palm sugar that has already

[14:39] melewati proses yang kompleks dan juga
  gone through a complex process and also

[14:42] dibungkus daun yang rapi itu cuma R.000.
  wrapped neatly in leaves is only Rp.000.

[14:44] Sedangkan di kota ini bisa dijual sampai
  Whereas in this city it can be sold for up to

[14:48] Rp20.000 hingga R30.000.
  Rp20,000 to Rp30,000.

[14:49] Dan dari cerita ini kita bisa
  And from this story we can be

[14:51] tercerahkan bahwa salah satu isu pangan
  enlightened that one of the issues of food

[14:53] dan pertanian di Indonesia adalah
  and agriculture in Indonesia is

[14:56] kesejahteraan petani.
  farmer welfare.

[14:58] Jadi kita belajar kalau sekarang profesi
  So we learn that currently the profession

[15:01] petani ini sangat sulit untuk direerasi
  of farmer is very difficult to be pursued

[15:03] karena ternyata profesi petani untuk
  because it turns out the profession of farmer for

[15:06] anak muda ini sangat ini dianggap bukan
  young people is considered not

[15:08] profesi yang menguntungkan, kemudian
  a profitable profession, then

[15:12] juga memakan banyak waktu dan ee dan
  it also takes a lot of time and uh and

[15:12] menguras banyak tenaga mereka.
  drains a lot of their energy.

[15:16] Kita harus memikirkan kesejahteraan petani karena hanya mereka yang menumbuhkan makanan kita.
  We must think about the welfare of farmers because they are the ones who grow our food.

[15:23] Kita harus memikirkan apakah petani yang menghasilkan makanan sehari-hari kita makan mendapatkan yang adil atau tidak atau malah merugikan mereka.
  We must consider whether the farmers who produce our daily food are getting a fair deal or are being disadvantaged.

[15:30] Kan lebih parahnya lagi apakah di masa depan adakah petani yang cukup untuk menghasilkan makanan yang banyak bagi kita.
  Even worse, will there be enough farmers in the future to produce enough food for us?

[15:43] Lalu ngomongin masa depan.
  Then, let's talk about the future.

[15:46] Sebenarnya cerita ketiga ini adalah ketika gua mengunjungi suatu pameran teknologi pangan di Singapura.
  Actually, this third story is about when I visited a food technology exhibition in Singapore.

[15:52] Di sana benar-benar belajar banyaknya keajaiban.
  There, I truly learned about many wonders.

[15:54] Mungkin menurut kita masih keajaiban ee yang bisa dilakukan teknologi pangan.
  Perhaps, in our opinion, these are still wonders that food technology can achieve.

[15:58] Mungkin di masa depan kita bisa melihat, kita bisa membuat daging sendiri di dapur tanpa perlu ee memotong hewan, tanpa perlu membunuh hewan.
  Perhaps in the future, we can see, we can make our own meat in the kitchen without needing to slaughter animals, without needing to kill animals.

[16:10] Kita bisa lihat kita bisa menumbuhkan sayuran buah di dalam kosan kita tanpa butuh sinar matahari.
  We can see, we can grow vegetables and fruits in our dorm rooms without needing sunlight.

[16:16] Kita juga bisa mungkin menggantikan
  We can also perhaps replace

[16:18] protein di masa depan dengan serangga.
  protein in the future with insects.

[16:22] Ini adalah realita yang sudah ada di teknologi pangan.
  This is a reality that already exists in food technology.

[16:25] Tapi perlu kita catat kalau ternyata inovasi-inovasi seperti yang tadi gua sebutkan adalah ee bentuk inovasi yang berpusat pada saat pada masalah sustainability dan juga isu lingkungan.
  But we need to note that it turns out that innovations like what I just mentioned are a form of innovation centered on sustainability and environmental issues.

[16:42] Karena kita bisa pelajari kalau ternyata emisi gas karbon dioksida dari produksi makanan itu tinggi sekali.
  Because we can learn that carbon dioxide gas emissions from food production are very high.

[16:46] bisa dilihat dari ee produksi pertaniannya, kemudian juga penggunaan lahan, kemudian juga dari proses ee pembuatan pengolahan pangannya, kemudian juga dari pengemasan, bahkan sampah makanan pun menghasilkan sampah emisi.
  it can be seen from the agricultural production, then also land use, then also from the food processing manufacturing process, then also from packaging, even food waste produces emission waste.

[17:05] Kemudian juga kita belajar kalau setiap makanan memiliki emisi gas CO2 yang berbeda-beda.
  We also learn that every food has different CO2 gas emissions.

[17:08] Kalau kalian lihat yang di bawah daging, sapi menyumbang mengemisi gas rumah kaca terbesar.
  If you look at the bottom, beef contributes the largest greenhouse gas emissions.

[17:14] Itulah kenapa sekarang di teknologi pangan mereka
  That is why now in food technology they

[17:18] sedang berlomba-lomba untuk bisa menggantikan sumber protein dari daging.
  are racing to be able to replace protein sources from meat.

[17:24] Dan juga yang ketiga, kita juga belajar kalau dalam penggunaan lahan ini banyak sekali digunakan oleh produksi pangan.
  And also the third, we also learn that in the use of this land, a lot is used for food production.

[17:32] Tapi masalahnya kita masih bisa melihat teman kita yang kelaparan dan bahkan teman-teman kita yang di kota juga ikut membuang makanan.
  But the problem is we can still see our friends who are starving and even our friends in the city are also throwing away food.

[17:40] Jadi isu lingkungan ini adalah isu yang harus kita perhatikan bersama.
  So this environmental issue is an issue that we must pay attention to together.

[17:45] Karena solusi-solusi seperti ini tidak akan bisa selesai kalau kita sebagai konsumennya, sebagai pembeli makannya ini tidak sadar atau tidak memahami.
  Because solutions like this will not be resolved if we as consumers, as buyers of food, are not aware or do not understand.

[17:58] Jadi hadir di sini bukan untuk memberitahu kalian makanan mana yang baik atau tidak beserta teknologinya.
  So I am not here to tell you which food is good or not along with its technology.

[18:09] Gua datang di sini secara simpel ingin mengajak kita untuk meningkatkan tingkat kesadaran kita terhadap makanan.
  I come here simply to invite us to increase our level of awareness towards food.

[18:16] Karena dengan kita sadar, kita jadi lebih bijak.
  Because when we are aware, we become wiser.

[18:18] Dan dengan lebih bijak,
  And by being wiser,

[18:21] Kita jadi bisa memilih makanan yang lebih berdampak untuk diri kita sendiri, sesama, dan juga lingkungan kita.
  We can then choose food that has a greater impact on ourselves, others, and our environment.

[18:29] Aku harap semoga pencerahan makanan bisa terjadi dalam kehidupan kalian ke depannya.
  I hope that food enlightenment can happen in your lives going forward.

[18:33] Terima kasih.
  Thank you.
