# PERINGATAN PERISTIWA SEJARAH HARI JADI BANTUL - Dharmaning Satriya Akarya Raharjaning Nagari

https://www.youtube.com/watch?v=5523uXnDUEA
Translation: en

[00:11] Bantul Bumi Satria tahun ini siap menapaki usia barunya.
  Bantul Bumi Satria is ready to step into its new age this year.

[00:18] Perjalanan panjang itu diwujudkan dalam filosofi logo Hari Jadi ke-195 tahun Kabupaten Bantul.
  That long journey is embodied in the philosophy of the 195th Anniversary logo of Bantul Regency.

[00:27] Angka satu diwujudkan dalam bentuk cantik melambangkan ketelitian, kesabaran, pelestarian budaya, dan kearifan lokal.
  The number one is manifested in a beautiful shape symbolizing precision, patience, cultural preservation, and local wisdom.

[00:37] Angka 9 direpresentasikan dengan bentuk ombak yang menggulung mencerminkan dinamika kehidupan yang terus bergerak maju.
  The number 9 is represented by a rolling wave shape reflecting the dynamics of life that keeps moving forward.

[00:46] Angka lima disimbolkan dengan padi beserta daun yang merunduk.
  The number five is symbolized by rice along with bowing leaves.

[00:50] Bermakna kesuburan, produktivitas, dan kemakmuran.
  It signifies fertility, productivity, and prosperity.

[00:55] Angka 195 berpadu membentuk luk keris mencerminkan kekuatan, keberanian, ketangguhan, dan jiwa kesatria.
  The number 195 combines to form the curve of a keris, reflecting strength, courage, resilience, and a knightly spirit.

[01:06] Dibentuk dari perpaduan unsur budaya, alam, dan pangan yang.
  Formed from a combination of cultural, natural, and food elements that.

[01:12] Divisualisasikan dalam tiga warna.
  Visualized in three colors.

[01:15] Warna kuning menjadi simbol budaya yang mencerminkan kejayaan.
  The color yellow becomes a cultural symbol that reflects glory.

[01:21] Warna biru melambangkan alam yang berarti kehidupan.
  The color blue symbolizes nature, which means life.

[01:26] Warna hijau menjadi simbol pangan yang bermakna kemakmuran.
  The color green becomes a symbol of food, which signifies prosperity.

[01:33] Perjalanan panjang itu diwujudkan dalam filosofi logo Hadijadi ke-195 tahun Kabupaten Bantul.
  That long journey is embodied in the philosophy of the 195th anniversary logo of Bantul Regency.

[01:36] Darmaning Satrio Akaryo Raharjaning Nagari.
  The dedication of knights in creating the prosperity of the country.

[01:48] Bantul Bumi Satria tahun ini siap menapaki usia barunya.
  Bantul, the Land of Knights, is ready this year to step into its new age.

[02:03] Angka satu diwujudkan dalam bentuk cantik melambangkan ketelitian, kesabaran, pelestarian budaya, dan kearifan lokal.
  The number one is manifested in a beautiful form symbolizing precision, patience, cultural preservation, and local wisdom.

[02:13] Angka 9 direpresentasikan dengan bentuk ombak yang menggulung mencerminkan dinamika kehidupan yang terus bergerak maju.
  The number 9 is represented by a rolling wave shape, reflecting the dynamics of life that continue to move forward.

[02:23] Angka lima disimbolkan dengan padi beserta daun yang merunduk bermakna kesuburan, produktivitas, dan kemakmuran.
  The number five is symbolized by rice and drooping leaves, signifying fertility, productivity, and prosperity.

[02:31] Angka 195 berpadu membentuk luk keris mencerminkan kekuatan, keberanian, ketangguhan, dan jiwa kesatria.
  The number 195 combines to form the curves of a keris, reflecting strength, courage, resilience, and the spirit of a knight.

[02:43] Dibentuk dari perpaduan unsur budaya, alam, dan pangan yang divisualisasikan dalam tiga warna.
  Formed from a combination of cultural, natural, and food elements visualized in three colors.

[02:51] Warna kuning menjadi simbol budaya yang mencerminkan kejayaan.
  The color yellow becomes a cultural symbol that reflects glory.

[02:57] Warna biru melambangkan alam yang berarti kehidupan.
  The color blue symbolizes nature, which means life.

[03:02] Warna hijau menjadi simbol pangan yang bermakna kemakmuran.
  The color green becomes a symbol of food, which signifies prosperity.

[03:09] Perjalanan panjang itu diwujudkan dalam filosofi logo Hari Jadi ke-195 tahun Kabupaten Bantul.
  That long journey is embodied in the philosophy of the 195th anniversary logo of Bantul Regency.

[03:10] Darmaning Satrio Akar Raharjaning Nagari.
  The dedication of a knight is the root of the nation's prosperity.

[03:24] Bantul Bumi Satria tahun ini siap menapaki usia barunya.
  Bantul Bumi Satria is ready to step into its new age this year.

[03:39] Angka satu diwujudkan dalam bentuk canting melambangkan ketelitian, kesabaran, pelestarian budaya, dan kearifan lokal.
  The number one is embodied in the form of a canting, symbolizing precision, patience, cultural preservation, and local wisdom.

[03:50] Angka 9 direpresentasikan dengan bentuk ombak yang menggulung mencerminkan dinamika kehidupan yang terus bergerak maju.
  The number 9 is represented by the shape of rolling waves, reflecting the dynamics of life that continue to move forward.

[03:59] Angka lima disimbolkan dengan padi beserta daun yang merunduk.
  The number five is symbolized by rice and bowing leaves.

[04:03] Bermakna kesuburan, produktivitas, dan kemakmuran.
  It signifies fertility, productivity, and prosperity.

[04:08] Angka 195 berpadu membentuk luk keris mencerminkan kekuatan, keberanian, ketangguhan, dan jiwa kesatria.
  The number 195 combines to form the curve of a keris, reflecting strength, courage, resilience, and a knightly spirit.

[04:20] Dibentuk dari perpaduan unsur budaya, alam, dan pangan yang divisualisasikan.
  It is formed from a combination of cultural, natural, and food elements that are visualized.

[04:26] Dalam tiga warna.
  In three colors.

[04:28] Warna kuning menjadi simbol budaya yang mencerminkan kejayaan.
  The yellow color becomes a cultural symbol that reflects glory.

[04:34] Warna biru melambangkan alam yang berarti kehidupan.
  The blue color symbolizes nature, which means life.

[04:39] Warna hijau menjadi simbol pangan yang bermakna kemakmuran.
  The green color becomes a food symbol that signifies prosperity.

[04:46] Tahun Kabupaten Bantul.
  The year of Bantul Regency.

[04:49] Darmaning Satrio Akaro Raharjaning Nagari.
  The devotion of the knights for the prosperity of the country.

[05:00] Bantul, kabupaten di wilayah selatan daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun di atas tanah yang tenang.
  Bantul, a regency in the southern region of the Special Region of Yogyakarta, was not built on peaceful ground.

[05:07] Perjalanan Bantul dimulai dari puing-puing perang Jawa yang mengendap di memori rakyatnya.
  Bantul's journey began from the ruins of the Java War that settled in the memories of its people.

[05:15] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT Mangunegoro, dilempar pada badai politik, sosial, dan ekonomi yang luar biasa.
  The first regent of Bantul at that time, KRT Mangunegoro, was thrown into an extraordinary political, social, and economic storm.

[05:23] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus.
  Not only about regional security after the Java War, KRT Mangunegoro also had to.

[05:28] Mengurus birokrasi dan kesepakatan politik demi menghadapi tekanan tanam paksa.
  Managing bureaucracy and political agreements to face the pressure of forced cultivation.

[05:33] Bermula dari tanam paksa, kebun-kebun tebu kian membentang di Bantul.
  Starting from forced cultivation, sugarcane plantations increasingly stretched across Bantul.

[05:38] Deru-deru pabrik gula mulai menggeliat di tanah ini.
  The roar of sugar factories began to stir in this land.

[05:42] Demi menyokong industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada tahun 1924 di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo Pusumo.
  To support this industry, the Kamijoro Dam was built in 1924 under the leadership of Regent KRT Dirjo Pusumo.

[05:50] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca zaman, rel kereta mengular, pasar-pasar riuh di berbagai sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak para pemikir.
  From time to time, Bantul continues to read the era, railway tracks snake around, markets are bustling in various corners, schools emerge and produce thinkers.

[06:07] 33 bupati datang dan pergi silih berganti.
  33 regents have come and gone, taking turns.

[06:10] Masing-masing menorehkan legasi menuntun masyarakatnya mendobrak bilik-bilik modernisasi.
  Each one left a legacy, guiding their community to break through the chambers of modernization.

[06:16] Lantas masyarakatnya terus diuji ditempah.
  Then the community continued to be tested and forged.

[06:20] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak akibat guncangan gempa 2006, semangat gotong royong masyarakat Bantul lah yang membawa tanah ini lekas pulih dan bangkit lebih kuat.
  Just as Bantul was once devastated by the 2006 earthquake, it was the spirit of mutual cooperation of the Bantul community that brought this land to recover quickly and rise stronger.

[06:31] Maka rasanya tak salah apabila Bantul Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati diri masyarakat Bantul untuk berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap zaman, serta bahu-membahu untuk mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.
  So it feels right if 'Bantul Bumi Satria' is carried as the identity value of the Bantul community to stand without fear, be adaptive to the times, and work hand-in-hand to boost the welfare of its people.

[07:12] Bantul, kabupaten di wilayah selatan daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun di atas tanah yang tenang.
  Bantul, a regency in the southern region of the Special Region of Yogyakarta, was not built on peaceful ground.

[07:20] Perjalanan Bantul dimulai dari puing-puing perang Jawa yang mengendap di memori rakyatnya.
  Bantul's journey began from the ruins of the Java War that settled in the memories of its people.

[07:26] Bupati pertama Bantul kala itu KRT Mangunegoro dilempar pada badai.
  The first regent of Bantul at that time, KRT Mangunegoro, was thrown into a storm.

[07:31] Politik, sosial, dan ekonomi yang luar biasa.
  Extraordinary political, social, and economic conditions.

[07:35] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus mengurus birokrasi dan kesepakatan politik demi menghadapi tekanan tanam paksa.
  Not only regarding regional security after the Java War, KRT Mangunegoro also had to manage bureaucracy and political agreements to face the pressure of forced cultivation.

[07:45] Bermula dari tanah paksa, kebun-kebun tebu kian membentang di Bantul.
  Starting from forced land, sugarcane plantations increasingly stretched across Bantul.

[07:50] Deru-deru pabrik gula mulai mengeliat di tanah ini.
  The roar of sugar factories began to stir in this land.

[07:51] Demi menyokong industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada tahun 1924 di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo Pusumo.
  To support this industry, the Kamijoro Dam was built in 1924 under the leadership of Regent KRT Dirjo Pusumo.

[08:03] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca zaman.
  From time to time, Bantul continues to read the era.

[08:06] Rel kereta mengular, pasar-pasar riuh di berbagai sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak para pemikir.
  Train tracks snake around, markets are bustling in various corners, schools are springing up and producing thinkers.

[08:19] 33 bupati datang dan pergi silih berganti.
  33 regents have come and gone, taking turns.

[08:21] Masing-masing menorehkan legasi, menuntun masyarakatnya mendobrak bilik-bilik modernisasi.
  Each has left a legacy, guiding their society to break through the chambers of modernization.

[08:28] Lantas masyarakatnya terus diuji, ditempah.
  Then the society continues to be tested, forged.

[08:32] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak akibat guncangan gempa 2006, semangat gotong royong masyarakat Bantulah yang membawa tanah ini lekas pulih dan bangkit lebih kuat.
  Just as Bantul was once devastated by the 2006 earthquake, it was the spirit of mutual cooperation among the people of Bantul that brought this land to recover quickly and rise stronger.

[08:40] Maka rasanya tak salah apabila Bantul Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati diri masyarakat Bantul untuk berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap zaman, serta bahu-membahu untuk mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.
  So it feels right if 'Bantul Bumi Satria' is brought as the identity value of the Bantul community to stand without fear, be adaptive to the times, and work hand-in-hand to boost the welfare of its people.

[09:23] Bantul, kabupaten di wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun di atas tanah yang tenang.
  Bantul, a regency in the southern region of the Special Region of Yogyakarta, was not built on calm ground.

[09:30] Perjalanan Bantul dimulai dari.
  Bantul's journey began from.

[09:33] Puing-puing Perang Jawa mengendap di memori rakyatnya.
  The debris of the Java War settled in the memories of its people.

[09:37] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT Mangunegoro, dilempar pada badai politik, sosial, dan ekonomi yang luar biasa.
  The first regent of Bantul at that time, KRT Mangunegoro, was thrown into an extraordinary political, social, and economic storm.

[09:46] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca Perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus mengurus birokrasi dan kesepakatan politik demi menghadapi tekanan tanam paksa.
  Not only regarding regional security after the Java War, KRT Mangunegoro also had to manage bureaucracy and political agreements to face the pressure of forced cultivation.

[09:57] Bermula dari tanam paksa, kebun-kebun tebu kian membentang di Bantul.
  Starting from forced cultivation, sugarcane plantations increasingly stretched across Bantul.

[10:01] Deru-deru pabrik gula mulai mengeliat di tanah ini.
  The roar of sugar factories began to stir in this land.

[10:05] Demi menyokong industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada tahun 1924 di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo Pusumo.
  To support this industry, the Kamijoro Dam was built in 1924 under the leadership of Regent KRT Dirjo Pusumo.

[10:11] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca zaman.
  From time to time, Bantul continues to read the era.

[10:15] Rel kereta mengular, pasar-pasar riuh di berbagai sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak para pemikir.
  Train tracks snake around, markets are bustling in various corners, schools are emerging and producing thinkers.

[10:30] 33 bupati datang dan pergi silih berganti.
  33 regents have come and gone in succession.

[10:32] Masing-masing menorehkan.
  Each one left their mark.

[10:34] Legasi menuntun masyarakatnya mendobrak bilik-bilik modernisasi.
  The legacy guides its people to break through the chambers of modernization.

[10:39] Lantas masyarakatnya terus diuji, ditempah.
  Then its people continue to be tested and forged.

[10:43] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak akibat guncangan gempa 2006, semangat gotongroyong masyarakat Bantulah yang membawa tanah ini lekas pulih dan bangkit lebih kuat.
  Just as Bantul was once devastated by the earthquake in 2006, it was the spirit of mutual cooperation of the Bantul people that brought this land to recover quickly and rise stronger.

[10:53] Maka rasanya tak salah apabila Bantul Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati diri masyarakat Bantul untuk berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap zaman, serta bahu-membahu untuk mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.
  So it feels right that 'Bantul Bumi Satria' is brought as the identity value of the Bantul people to stand without fear, be adaptive to the times, and work hand-in-hand to boost the welfare of its people.

[11:34] Bantul, kabupaten di wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun di atas tanah yang tenang.
  Bantul, a regency in the southern region of the Special Region of Yogyakarta, was not built on peaceful land.

[11:43] Perjalanan Bantul dimulai dari puing-puing perang Jawa yang mengendap di memori rakyatnya.
  Bantul's journey began from the ruins of the Java War that settled in the memories of its people.

[11:49] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT Mangunegoro, dilempar pada badai politik, sosial, dan ekonomi yang luar biasa.
  The first regent of Bantul at that time, KRT Mangunegoro, was thrown into an extraordinary political, social, and economic storm.

[11:57] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus mengurus birokrasi dan kesepakatan politik demi menghadapi tekanan tanam paksa.
  Not only regarding regional security after the Java War, KRT Mangunegoro also had to manage bureaucracy and political agreements to face the pressure of the forced cultivation system.

[12:08] Bermula dari tanah paksa, kebun-kebun tebu kian membentang di Bantul.
  Starting from forced land, sugarcane plantations increasingly stretched across Bantul.

[12:12] Deru-deru pabrik gula mulai menggeliat di tanah ini.
  The roar of sugar factories began to stir in this land.

[12:14] Demi menyokong industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada tahun 1924 di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo Pusumo.
  To support this industry, the Kamijoro Dam was built in 1924 under the leadership of Regent KRT Dirjo Pusumo.

[12:25] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca zaman, rel kereta mengular, pasar-pasar riuh di berbagai sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak para pemikir.
  From time to time, Bantul continued to read the times, railway tracks snaked, markets were rowdy in various corners, schools appeared and produced thinkers.

[12:41] 33 bupati datang dan pergi silih berganti.
  33 regents have come and gone, one after another.

[12:44] Masing-masing menorehkan legasi menuntun masyarakatnya mendobrak bilik-bilik modernisasi.
  Each one left a legacy of guiding their community to break through the barriers of modernization.

[12:50] Lantas masyarakatnya terus diuji ditempah.
  Then the community continued to be tested and forged.

[12:54] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak akibat guncangan gempa 2006, semangat gotongroyong masyarakat Bantulah yang membawa tanah ini lekas pulih dan bangkit lebih kuat.
  Just as Bantul was once devastated by the 2006 earthquake, it was the spirit of mutual cooperation among the people of Bantul that brought this land to recover quickly and rise stronger.

[13:05] Maka rasanya tak salah apabila Bantul Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati diri masyarakat Bantul untuk berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap zaman, serta bahu-membahu untuk mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.
  So it feels right that Bantul Bumi Satria is brought forward as the identity value of the Bantul community to stand without fear, be adaptive to the times, and work hand-in-hand to boost the welfare of its people.

[13:46] Bantul, kabupaten di wilayah selatan daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun di atas tanah yang tenang.
  Bantul, a regency in the southern region of the Special Region of Yogyakarta, was not built on peaceful land.

[13:54] Perjalanan Bantul dimulai dari puing-puing perang Jawa yang mengendap di memori rakyatnya.
  Bantul's journey began from the ruins of the Java War that settled in the memories of its people.

[14:00] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT Mangunegoro, dilempar pada badai politik, sosial, dan ekonomi yang luar biasa.
  The first regent of Bantul at that time, KRT Mangunegoro, was thrown into an extraordinary political, social, and economic storm.

[14:09] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus mengurus birokrasi dan kesepakatan politik demi menghadapi tekanan tanam paksa.
  Not only regarding regional security after the Java War, KRT Mangunegoro also had to manage bureaucracy and political agreements to face the pressures of forced cultivation.

[14:19] Bermula dari tanah paksa, kebun-kebun tebu kian membentang di Bantul.
  Starting from forced land, sugarcane plantations increasingly stretched across Bantul.

[14:24] Deru-deru pabrik gula mulai menggeliat di tanah ini.
  The roar of sugar factories began to stir in this land.

[14:27] Demi menyokong industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada tahun 1924 di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo Kusumo.
  To support this industry, the Kamijoro Dam was built in 1924 under the leadership of Regent KRT Dirjo Kusumo.

[14:35] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca zaman.
  From time to time, Bantul continues to read the era.

[14:39] Rel kereta mengular, pasar-pasar riuh di berbagai sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak para pemikir.
  Train tracks snake, markets are bustling in various corners, schools are emerging and producing thinkers.

[14:53] 33 bupati datang dan pergi silih berganti.
  33 regents have come and gone, one after another.

[14:57] Masing-masing menorehkan legasi menuntun masyarakatnya mendobrak bilik-bilik modernisasi.
  Each left a legacy of guiding their community to break through the barriers of modernization.

[15:02] Lantas masyarakatnya terus diuji ditempah.
  Then the community continued to be tested and forged.

[15:06] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak akibat guncangan gempa 2006, semangat gotongroyong masyarakat Bantulah yang membawa tanah ini lekas pulih dan bangkit lebih kuat.
  Just as Bantul was once devastated by the 2006 earthquake, it was the spirit of mutual cooperation among the people of Bantul that brought this land to recover quickly and rise stronger.

[15:16] Maka rasanya tak salah apabila Bantul Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati diri masyarakat Bantul untuk berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap zaman, serta bahu-membahu untuk mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.
  So it feels right that 'Bantul Bumi Satria' is carried as the identity value of the Bantul community to stand without fear, be adaptive to the times, and work hand-in-hand to boost the welfare of its people.

[15:57] Bantul, kabupaten di wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun di atas tanah yang tenang.
  Bantul, a regency in the southern region of the Special Region of Yogyakarta, was not built on peaceful land.

[16:04] [musik]
  [music]

[16:05] Perjalanan Bantul dimulai dari puing-puing perang Jawa yang mengendap di memori rakyatnya.
  Bantul's journey began from the ruins of the Java War that settled in the memories of its people.

[16:09] [musik]
  [music]

[16:11] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT Mangunegoro, dilempar pada badai politik, sosial, dan ekonomi yang luar biasa.
  The first regent of Bantul at that time, KRT Mangunegoro, was thrown into an extraordinary political, social, and economic storm.

[16:14] [musik]
  [music]

[16:20] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus mengurus birokrasi dan kesepakatan politik demi menghadapi tekanan tanam paksa.
  Not only regarding regional security after the Java War, KRT Mangunegoro also had to manage bureaucracy and political agreements to face the pressure of the forced cultivation system.

[16:24] [musik]
  [music]

[16:31] [musik]
  [music]

[16:31] Bermula dari tanah paksa, kebun-kebun tebu kian membentang di Bantul.
  Starting from forced land, sugarcane plantations increasingly stretched across Bantul.

[16:35] Deru-deru pabrik gula mulai menggeliat di tanah ini.
  The roar of sugar factories began to stir in this land.

[16:37] Demi menyokong industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada tahun 1924 di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo Pusumo.
  To support this industry, the Kamijoro Dam was built in 1924 under the leadership of Regent KRT Dirjo Pusumo.

[16:39] [musik]
  [music]

[16:45] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca zaman.
  From time to time, Bantul continues to read the era.

[16:49] [musik]
  [music]

[16:51] Rel kereta mengular, pasar-pasar riuh di berbagai sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak para pemikir.
  Railway tracks snaked, markets were bustling in various corners, schools sprang up and produced thinkers.

[17:04] 33 bupati datang dan pergi silih berganti.
  33 regents have come and gone, one after another.

[17:06] Masing-masing menorehkan legasi, menuntun masyarakatnya mendobrak bilik-bilik modernisasi.
  Each left a legacy, guiding their community to break through the barriers of modernization.

[17:13] Lantas masyarakatnya terus diuji, ditempah.
  Then the community continued to be tested and forged.

[17:17] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak akibat guncangan gempa 2006, semangat gotong royong masyarakat Bantulah yang membawa tanah ini lekas pulih dan bangkit lebih kuat.
  Just as Bantul was once devastated by the 2006 earthquake, it was the spirit of mutual cooperation of the Bantul people that brought this land to recover quickly and rise stronger.

[17:25] Maka rasanya tak salah apabila Bantul Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati diri masyarakat Bantul untuk berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap zaman, serta bahu-membahu untuk mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.
  So it feels right that Bantul Bumi Satria is brought forward as the identity value of the Bantul people to stand without fear, be adaptive to the times, and work hand-in-hand to boost the welfare of its people.

[18:15] Eh, Bu.
  Eh, Ma'am.

[18:15] Minggu ngarep ki le arisan nang nggone sopo to Bu?
  Whose house is the social gathering at next week, Ma'am?

[18:17] Jarene ning omah Buini to Bu.
  They said it's at Buini's house, Ma'am.

[18:19] Tapi iki aku rod kuatir Bu, ning kono ku iki.
  But I'm a bit worried, Ma'am, about going there.

[18:23] Kuatir opo meneh to, Bu?
  What are you worried about now, Ma'am?

[18:25] Lah, dalane omahe Buini kui akeh jeglongane, Bu.
  Well, the road to Buini's house has many potholes, Ma'am.

[18:26] Bojoku wingi iki wis arep gejeglong ngono kuwi.
  My husband almost fell into one yesterday.

[18:30] We saiki dalane wis apik yo bu.
  But the road is good now, Ma'am.

[18:32] Aku wingi bar liwat kono soale.
  Because I just passed by there yesterday.

[18:34] W mosok to Bu.
  Oh, really, Ma'am?

[18:34] Lah piye toh Bu Isma II?
  How is that, Bu Isma II?

[18:37] Lah ya aku ki wis su ora lewat kono Bu.
  Well, I haven't passed by there in a long time, Ma'am.

[18:39] Kapan le ono terakhir ki?
  When was the last time?

[18:39] Yo pas bojoku arep kejeglung kui.
  It was when my husband almost fell into one.

[18:45] Asalamualaikum ibu-ibu.
  Peace be upon you, ladies.

[18:47] Waalaikumsalam Pak.
  And peace be upon you too, Sir.

[18:50] Monggommonggo, Pak.
  Please, please come in, Sir.

[18:50] Pinara ngih.
  Please have a seat.

[18:52] Nggih.
  Yes.

[18:52] Ajeng kepanggih sinten, Pak?
  Who are you looking to meet, Sir?

[18:54] Leres daleme Bu Cimbul.
  Is this Bu Cimbul's house?

[18:54] Giih.
  Yes.

[18:57] Nggih.
  Yes.

[18:57] Nggih.
  Yes.

[18:57] Nggih.
  Yes.

[18:57] Monggo.
  Please.

[19:00] Nggih.
  Yes.

[19:00] Izin, Ibu-ibu.
  Excuse me, ladies.

[19:00] Ee saya Ardika dari petugas pajak BPK PAD Kabupaten Bantul.
  I am Ardika, a tax officer from the BPK PAD of Bantul Regency.

[19:09] Loh, ono acara opo, Pak?
  Oh, what is the occasion, Sir?

[19:09] Ono kasus nopo melih?
  Is there another case?

[19:11] Mboten enten kasus Bu.
  There is no case, Ma'am.

[19:11] Ampun serus-serius.
  Don't be so serious.

[19:14] Nah, saya ke sini dalam
  Well, I am here to...

[19:17] Rangka menyampaikan surat pemberitahuan pajak terutang PBB P2.
  In the context of delivering the notification letter for PBB P2 tax due.

[19:23] Pajak opo meneh toh, Pak?
  What kind of tax is it again, Sir?

[19:26] Mbok ndelok kene?
  Could you look here?

[19:27] Lah io toh kok kabeh-kabeh kon majeki.
  Well, yes, why is everything being taxed?

[19:30] Omang ono manfaate, Pak.
  Is there really any benefit, Sir?

[19:33] Manfaate kathah, Ibu.
  The benefits are many, Ma'am.

[19:34] Santai mawon.
  Just relax.

[19:36] Ah niki sekaligus sosialisasi saya izin telepon pimpinan nggih.
  Ah, this is also for socialization; I ask for permission to call my superior, okay.

[19:42] Oalah kok dadi serius ngene toh.
  Oh my, why has it become so serious like this.

[19:44] Yo wis Bu dirungok sikik wae.
  Alright then, Ma'am, let's just listen for a bit.

[19:45] Heeh.
  Yeah.

[19:46] Heeh.
  Yeah.

[19:47] Dirungoke.
  Listen to it.

[19:48] Ayo.
  Come on.

[19:55] Asalamualaikum ibu-ibu.
  Peace be upon you, ladies.

[19:58] Waalaikumsalam.
  And peace be upon you too.

[20:00] Perkenalkan saya Ibu Tirul dari Kepala BPKAD Kabupaten Bantul.
  Let me introduce myself, I am Mrs. Tirul from the Head of BPKAD of Bantul Regency.

[20:06] Tadi Pak Adika cerita kalau Ibu-ibu masih bingung soal manfaat pajak daerah.
  Earlier, Mr. Adika told me that you ladies are still confused about the benefits of regional taxes.

[20:11] Nggih.
  Yes.

[20:12] Enggih, Bu.
  Yes, Ma'am.

[20:13] Soale rakyat niku mok kon bayar pajak terus.
  Because the people are just told to pay taxes constantly.

[20:17] Nggih.
  Yes.

[20:18] Wajar Bu.
  That's natural, Ma'am.

[20:19] Tapi sebenarnya pajak.
  But actually, taxes...

[20:20] Daerah niku kathah kebermanfaatanipun, loh Bu.
  That region has many benefits, you know, Ma'am.

[20:25] Sak tenane pajak daerah niku nopo to Bu?
  What exactly is regional tax, Ma'am?

[20:27] Nggih, jadi gini Bu.
  Yes, it's like this, Ma'am.

[20:31] Pajak daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul nomor 6 tahun 2023 tentang pajak daerah dan retribusi daerah niku.
  Regional tax is based on the Bantul Regency Regional Regulation number 6 of 2023 concerning regional taxes and regional levies.

[20:41] Pajak adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
  Tax is a mandatory contribution to the region owed by an individual or entity that is coercive based on the law, without receiving direct compensation, and is used for regional needs for the greatest prosperity of the people.

[21:02] Pajak daerah niku nopo mawon toh, Bu?
  What are the types of regional taxes, Ma'am?

[21:05] Nah, bagus.
  Well, that's a good question.

[21:08] Pajak niku macamnya banyak Bu.
  There are many types of taxes, Ma'am.

[21:11] Wonten pajak bumi dan bangunan, perdesaan dan perkotaan, terus BPHTB, perolehan hak atas tanah dan bangunan.
  There is land and building tax, rural and urban, then BPHTB, acquisition of rights to land and buildings.

[21:18] Cobi, Pak, kulo minjam HP-ne.
  Excuse me, Sir, may I borrow your phone?

[21:21] Ada juga PBJT

[21:24] yaitu [musik] pajak barang dan jasa

[21:26] tertentu yang terdiri dari makanan dan

[21:29] [musik] atau minuman, tenaga listrik,

[21:33] jasa parkir, jasa perhotelan, jasa

[21:37] kesenian dan hiburan, [musik] terus

[21:39] pajak reklame, pajak air tanah, pajak

[21:43] [musik] MBLB,

[21:45] options PKB, dan option BPNKB gitu loh,

[21:49] Bu. Oalah katah nggih Bu ternyata.

[21:52] Nggih, Bu. Hasil pajak ini sangat

[21:55] bermanfaat bagi masyarakat yang dapat

[21:57] dirasakan secara langsung.

[22:00] Nah, manfaat dari pajak yang pertama

[22:04] yaitu untuk pembangunan infrastruktur

[22:05] [musik]

[22:07] seperti perbaikan jalan, pembangunan

[22:10] jembatan, lampu penerangan jalan umum,

[22:13] fasilitas umum. Ngaten loh Bu.

[22:17] Oalah, Bu. Pantes dalan sik wingi rusak

[22:19] wis apik saiki Bu

[22:21] nggih. Terus juga untuk fasilitas

[22:23] kesehatan seperti operasional pukesmas,

[22:27] pelayanan kesehatan daerah sampai

[22:29] [musik] sarana dan prasarana kesehatan

[22:32] masyarakat,

[22:33] BBJS kesehatan dan ketenagakerjaan.

[22:36] [musik]

[22:37] Oalah niku k ng se pajak Bu.

[22:40] Leres Bu. Terus fasilitas pendidikan

[22:43] pajak niku [musik]

[22:44] membantu pembangunan sekolah baru,

[22:47] perbaikan sekolah, pengadaan meja kursi,

[22:51] buku pelajaran,

[22:54] komputer, seragam sekolah, dan alat

[22:57] laboratorium.

[22:58] Sekolahan iku ngih se pajak Bu.

[23:00] Betul, Bu. Selain itu, pajak daerah juga

[23:03] digunakan untuk keamanan dan ketertiban.

[23:06] misalipun operasional fasilitas

[23:09] penunjang keamanan dan layanan darurat

[23:11] masyarakat.

[23:12] Oh, nggih nggih nggih nggih nggih.

[23:15] Kemudian [musik]

[23:16] pemberdayaan ekonomi masyarakat

[23:18] misalipun pembinaan UGMKM, pelatihan

[23:23] keterampilan,

[23:24] dan [musik] biantu gawe lapangan kerja

[23:27] baru.

[23:29] Wah, sae sanget niku, Bu. Saiki kathah

[23:32] sik mulai usaha UMKM.

[23:34] Nggih. Dan ingkang terakhir Bu niku

[23:38] kagem kesejahteraan sosial. Pajak daerah

[23:42] meniko biantu pendanaan bansos

[23:45] mengadakan program pelestarian

[23:47] lingkungan sampai acara seni dan budaya

[23:51] saking masyarakat.

[23:53] Walah kathah sanget nggih Bu manfaate

[23:55] saking pajak daerah.

[23:56] Nggih Bu. Nah sakiki sampun luwih paham

[23:59] kan manfaat saking membayar pajak daerah

[24:02] Bu? Nggih, nggih, nggih. Sampun paham

[24:05] kulo. Matur suwun nggih, Bu.

[24:09] Dados makaten, Ibu-ibu.

[24:12] Jadi, pajak daerah itu [musik] bukan

[24:14] sekedar kewajiban, tetapi juga bentuk

[24:18] kontribusi kita bersama untuk

[24:21] pembangunan Kabupaten Bantul menjadi

[24:23] lebih baik.

[24:27] Meniko Bu Cimbul SPPT PBB-nya?

[24:30] Oh, kulo tingali ngih Pak.

[24:35] Leres niki, Pak. Matur suwun nggih, Pak.

[24:37] Sami-sami ngih. Tak bayare sikh siap.

[24:41] [musik]

[24:42] Nah, Sedulur Bantul, ini ada contoh

[24:45] penerimaan manfaat [musik] dari pajak

[24:47] daerah Bantul.

[24:48] Terima kasih atas peningkatan fasilitas

[24:52] kesehatan Kabupaten Bantul. Saya sangat

[24:56] terbantu [musik] dengan pelayanan yang

[24:58] semakin mudah dan nyaman ketika berubah.

[25:03] Terima [musik] kasih Kabupaten Bantul.

[25:05] Jos.

[25:06] Terima kasih [musik] buat pemerintah

[25:09] Kabupaten Bantul. Kami sangat terbantu

[25:13] dengan adanya fasilitas [musik]

[25:15] kesehatan. Semoga ke depannya bisa lebih

[25:19] baik. Kabupaten Bantul. Jos.

[25:23] [musik]

[25:23] Terima kasih saya ucapkan kepada

[25:25] pemerintah Kabupaten Bantul yang sudah

[25:28] membantu warga Mbak Kulon bikin [musik]

[25:31] cor jalan ini sehingga menjadi bagus.

[25:34] Karena pada ini pekerjaannya itu dari

[25:37] warga sini juga kira-kira sekitar 20

[25:40] orang. Di samping jalan menjadi [musik]

[25:42] bagus, income dari warga juga nambah,

[25:45] Mas. Soalnya itu kan ada ada upahnya,

[25:47] Mas. dan bermanfaat sekali buat warga

[25:50] bakulan-kulon [musik]

[25:52] kegotongroyongan juga tambah bagus

[25:55] pokoknya bermanfaat sekali Mas untuk

[25:58] warga [musik] Bakulan Pemerintah

[26:00] Kabupaten Bantul jos pajak lunas

[26:03] pembangunan jelas [musik]

[26:06] nah sekarang sedulur Bantul sudah paham

[26:09] kan pengertian dan manfaat dari pajak

[26:12] daerah

[26:13] ayo semua tertib membayar pajak daerah

[26:16] untuk pembangunan Kabupaten Bantul

[26:19] menjadi lebih baik.

[26:21] Pajak lunas, [musik] pembangunan jelas.

[26:33] Bersama dengan saya. Sebelum kita akan

[26:36] memulai rangkaian acara sereshan

[26:38] peringatan peristiwa sejarah dalam

[26:41] rangka Hari Jadi Kabupaten Bantul, kami

[26:44] persilakan terlebih dahulu kepada

[26:46] seluruh hadirin boleh berdiri dari

[26:48] tempat duduknya kemudian menikmati

[26:50] hidangan sebagai hidangan pembuka makan

[26:53] malam terlebih dahulu ya. Sekali lagi

[26:57] kami persilakan monggo katur dhumateng

[26:59] Bapak Ibu sedaya mawon dan juga

[27:01] teman-teman semuanya kami persilakan

[27:04] sebelum nanti kita akan ikuti bersama

[27:06] rangkaian acara dari peringatan

[27:09] peristiwa sejarah dalam rangka hari jadi

[27:12] Kabupaten Bantul. Saya persilakan

[27:14] terlebih dahulu Bapak, Ibu, dan juga

[27:16] rekan-rekan semuanya. Mari untuk bisa

[27:19] bersama-sama menikmati hidangan makan

[27:21] malam terlebih dahulu. Saya persilakan

[27:24] rekan-rekan semuanya. Monggo. Terima

[27:26] kasih ya.

[27:36] Oke, ya. Oke. Baik, kita ceknya. Yang

[27:41] pertama adalah menikan lagu Indonesia

[27:42] Raya. Kemudian yang kedua adalah

[27:45] pembukaan.

[27:48] Terus kemudian dilanjutkan dengan

[27:53] itu dilanjutkan dengan doa. Terus doa

[27:57] adalah tarian

[28:03] penyelenggara kegiatan. Oke ya.

[28:06] Kemudian laporan penyelenggara dari

[28:08] Bapak Jatum Yunan SS MI.

[28:12] K akan disampaikan yaitu sambutan

[28:15] keparahan dari Bupati K yang terhormat

[28:18] Bapak Haji Ah putri. Benar. Setelah dari

[28:21] Pak Abdul Bali kita akan lanjut yaitu

[28:24] berkaitan dengan show atau bulan bicara.

[28:28] itu moderatornya adalah

[28:31] kemudian ada

[28:46] oh ya ok

[28:52] oke bapak-bapaknya

[28:57] Kami sudah kegiatan hadirin yang

[29:00] berbahagia

[29:09] kesempatan waktu.

[29:26] Oke,

[29:30] ikut

[29:34] aja.

[29:38] Oh,

[29:40] iya.

[30:11] Bantul, kabupaten di wilayah selatan

[30:14] daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak

[30:17] dibangun di atas tanah yang tenang.

[30:20] Perjalanan Bantul dimulai dari

[30:21] puing-puing perang Jawa.

[30:29] Bantul, [musik]

[30:30] kabupaten di wilayah selatan daerah

[30:32] Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun

[30:35] di atas tanah yang tenang. Perjalanan

[30:38] Bantul dimulai dari puing-puing perang

[30:40] Jawa yang mengendap di memori [musik]

[30:42] rakyatnya.

[30:43] Bupati pertama Bantul kala itu KRT

[30:46] Mangunegoro dilempar pada badai politik,

[30:49] sosial, dan ekonomi yang luar biasa.

[30:52] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca

[30:54] perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus

[30:57] mengurus birokrasi dan kesepakatan

[30:59] politik demi menghadapi tekanan tanam

[31:01] paksa. Bermula dari tanam paksa,

[31:04] kebun-kebun tebuk kian membentang di

[31:06] Bantul. Deru-deru pabrik gula [musik]

[31:08] mulai menggeliat di tanah ini. Demi

[31:11] menyokong industri ini, Dam Kamijoro

[31:13] dibangun pada tahun 1924 di bawah

[31:16] kepemimpinan Bupati KRT Dirjo Pusumo.

[31:20] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca

[31:23] zaman. Rel kereta mengular, [musik]

[31:25] pasar-pasar riuh di berbagai sudut,

[31:27] sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak

[31:28] para pemikir. [musik]

[31:36] 33 bupati datang dan pergi silih

[31:38] berganti. Masing-masing menorehkan

[31:40] [musik] legasi, menuntun masyarakatnya

[31:42] mendobrak bilik-bilik modernisasi.

[31:45] Lantas masyarakatnya terus diuji,

[31:47] ditempah.

[31:49] Sebagaimana [musik] Bantul pernah luluh

[31:51] lantak akibat guncangan gempa 2006,

[31:53] semangat gotongroyong masyarakat

[31:55] Bantulah yang membawa tanah [musik] ini

[31:56] lekas pulih dan bangkit lebih kuat. Maka

[31:59] rasanya tak salah apabila Bantul Bumi

[32:02] Satria dibawa [musik] sebagai nilai jati

[32:04] diri masyarakat Bantul untuk berdiri

[32:06] tanpa gentar, adaptif terhadap zaman,

[32:08] serta bahu-membahu untuk mendongkrak

[32:10] kesejahteraan [musik] rakyatnya.

[32:21] [musik]

[32:56] iki wis esuk. Ayo subuan

[33:05] tak wudu se pak

[33:07] ya.

[33:40] wis Nggih.

[33:41] Sampun, Pak.

[33:46] Hm. Saiki anake Bapak wis ganteng ya.

[33:51] Wis yuk salat.

[33:59] Allahu

[34:01] Akbar.

[34:24] is w is ng

[34:28] aku iso tapi

[34:32] ayo Jatika.

[34:33] Ayo

[34:53] komik

[34:55] dolan

[35:00] Pak. Kone enten mboten pak?

[35:02] Iya sikat

[35:05] mik goleki koncone lhoih pak

[35:10] n endi?

[35:12] Egrang, Pak.

[35:13] Loh, kui opo kok ngpring? Arti to iki

[35:17] jenenge aku duwe dikawek bapak aku ngene

[35:21] iki loh cara main

[35:40] tapi aku iso le nganggo

[35:42] apa tak ajari

[35:44] ya wis g lapangan

[35:45] I

[35:48] pamet sik nggih, Pak. Ya, ora sore-sore

[35:51] yo.

[36:34] Noh sa giliran kowe.

[36:36] Tapi aku ora iso.

[36:37] Ra apao tak ajari.

[36:39] Y tapi gojengi yo

[36:41] gojengi sik tenan.

[36:42] Iya i

[36:44] gojaki tenan lho dit. I yo tak goi nek

[36:47] kowe arep wedi yo ora bakal iso

[36:50] yo tak jajal ya Dit

[36:51] tapi gocoki tenan ya o diculke

[36:53] y

[36:56] piye iki dit iso ora ditah

[36:59] kok angel ya dito lagi pisan-pisan

[37:02] [musik] yo ngene iki y

[37:05] i

[37:06] tenan l Yo

[37:23] kok r angel ya, Dito.

[37:53] nikmat

[37:56] Urip ning alam duno ki digawe kepenak.

[38:02] Eh, piye, Jo?

[38:05] Bejo

[38:07] bagus tenan.

[38:10] Oh. Io.

[38:14] Wis, engko tak pakani di longkas. Aku

[38:18] arep ngombe kopi

[38:28] iki ngopo le,

[38:30] Pak? Gaweke gerang kaya nggone

[38:32] dituroreni, Pak.

[38:34] Hm. Kowe iso apa piye?

[38:37] Iso yen gawe dewe

[38:40] wis saiki

[38:43] maem sik kek adus mengko tak gawek

[38:48] ye.

[38:55] He nak yo anak lanang yo gawekne ni

[39:37] [musik]

[39:45] Piye, Pak? Kok wis dadi urung?

[39:47] Weh, nyo. Wis dadi nyo.

[39:54] Wah, api banget kok bapak iso gawe eang.

[39:57] Lah yo iso wong bapakmu biyen io

[40:00] dolanane koy ngono kuwi e le.

[40:02] Walah bapak biyen dadine dolanan.

[40:04] Io

[40:06] wis kono gek tinggahke sik.

[40:08] Oleh rapat tak jaj ning latar sik.

[40:10] Wah sesuk wae ikii wis magrib.

[40:15] Oh i tapi sesok ajari ter loh, Pak

[40:18] ya. Heeh. Yeah.

[40:40] [musik]

[41:34] Piye le? Iso urung

[41:37] urung.

[41:38] Nah wingi nek wis sinau karo Dito, karo

[41:41] sopo koncomu?

[41:42] Reni.

[41:42] Nah piye?

[41:45] Durung wingi tiba-tiba terus.

[41:48] Y wis yo tak ajari yo

[41:57] munggah sik to to diseimbangke awakmu ya

[42:02] terus tangan karo kaki yo bareng ning

[42:04] ngejokke diolu ya terus terus yang dewe

[42:10] ya

[42:15] piye

[42:16] hmm Hmm.

[42:19] Ya. Terusulke

[42:21] ya.

[42:23] Piye

[42:25] ya? Oo seimbang sik jiu.

[42:29] Nah.

[42:40] Eh nik wis to. Eh gerang deweang

[42:54] apik to wis ngongang jalanan bareng yo.

[43:25] Hei

[43:31] K opo wani-wani ngelarang ad nang kene

[43:37] wani yo ngelawan aku.

[43:40] He to wani to saiki tak tantang so sing

[43:44] wani balapan sing menang engko oleh

[43:47] wilayah neng kene. Oke. L

[43:51] bakal menang.

[44:01] Piye nek ses kalah op maneh saiki aku

[44:04] lancar ngang.

[44:08] Aku yakin sesok ad bakal menang

[44:17] ii ngopo el kokengut.

[44:20] Kiro-kiro aku iso pak

[44:22] lah yo iso ngopo?

[44:25] Masalahe aku karo konco-kancoku

[44:26] ditantang balapan gerang karo Satria.

[44:31] Sik penting kowe sinau latihan terus

[44:35] bakal iso le semangat.

[44:39] Tapi nek ra oleh nek menang aku ora iso

[44:42] dolanan ning kono kae meneh.

[44:43] Lha io. Mula kowe kudu latihan terus.

[44:49] Menko suwe ning suwe bakal iso yo. Yakin

[44:54] yakin iso.

[44:56] Oke.

[44:57] Awas

[45:01] ya, Pak

[45:02] ya.

[45:23] Sing hati-hati lho le.

[45:30] Ngandel tenan ora dibok kene tak.

[45:33] Duh duh duh. Sik sik sik. Ii sing loroi.

[45:37] Yun sik. Aduh. Aduh. Bagus. Ah, bagus

[45:41] dewe. Bagus dewe.

[45:53] Piye, L? Isih loro opene

[46:00] tambani Bapak ya.

[46:03] Ora apao

[46:06] io

[46:14] tambani

[46:18] Iya.

[46:35] Eh eh loro apao ditahan do engko nuk

[46:39] mari

[46:41] e to wis orada loro.

[46:45] Ora ora loro.

[46:48] Wis

[46:51] wis to wis rampung toh. Wis ng nek nuk

[46:54] [musik] mari

[46:56] mestine aku sesok kalah soale saiki

[46:59] sikilku lagi loro.

[47:04] Kowe ngerti ora le bapak karo ibu

[47:07] ngenahi [musik] jeneng satmiku

[47:10] supaya

[47:12] tole sesuk [musik]

[47:13] dadi bocah sing tangguh

[47:16] ora gampang nyerah [musik] ya.

[47:19] Dadi saiki kowe kudu yakin nek kowe

[47:25] bakal iso ya.

[47:28] Nah, Bapak sayang kowe l

[47:34] wis [musik] saiki wis bengi bapak wis

[47:39] ngantuk. Ayo [musik] bubuk

[47:46] wis wengi

[47:49] kemule dinggo kemulih

[47:51] sumuk

[47:53] wis bapak anu ya bubuk yan ya

[47:57] yang bubuk tuh

[48:18] kok durung teko lah mbuh wani paling

[48:23] eh lah kae doan wis do teko sabar aku.

[48:27] Lah io wong ada sing menang.

[48:36] Ojo seneng sih pekanku bakal menang.

[48:41] kalah rung ojo ngimpi

[48:56] oke Oke.

[49:31] menang

[49:32] [berteriak]

[49:46] [musik]

[50:57] Bantul, kabupaten di wilayah selatan

[50:59] daerah istimewa Yogyakarta ini tidak

[51:02] dibangun di atas tanah yang tenang.

[51:05] Perjalanan Bantul dimulai dari

[51:07] puing-puing perang Jawa yang mengendap

[51:09] di memori rakyatnya.

[51:11] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT

[51:13] Mangunegoro, dilempar pada badai

[51:16] politik, sosial, dan ekonomi yang luar

[51:18] biasa. Tak cuma soal keamanan wilayah

[51:21] pasca perang Jawa, KRT Mangunegoro juga

[51:24] harus mengurus birokrasi dan kesepakatan

[51:27] politik demi menghadapi tekanan tanam

[51:29] paksa.

[51:30] Bermula dari tanah paksa, kebun-kebun

[51:33] tebuk kian membentang di Bantul.

[51:35] Deru-deru pabrik gula mulai menggeliat

[51:37] di tanah ini. Demi menyokong industri

[51:39] ini, Dam Kamijoro dibangun pada tahun

[51:42] 1924

[51:43] di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo

[51:46] Kusumo.

[51:47] Dari masa ke masa, Bantul terus membaca

[51:50] zaman. Rel kereta mengular, pasar-pasar

[51:53] riuh di berbagai sudut, sekolah-sekolah

[51:55] bermunculan dan mencetak para pemikir.

[52:03] 33 bupati datang dan pergi silih

[52:06] berganti. Masing-masing menorehkan

[52:08] legasi [musik]

[52:09] menuntun masyarakatnya mendobrak

[52:10] bilik-bilik modernisasi.

[52:13] Lantas masyarakatnya terus diuji

[52:15] ditempah.

[52:17] Sebagaimana [musik] Bantul pernah luluh

[52:18] lantak akibat guncangan gempa 2006,

[52:21] semangat gotongroyong masyarakat

[52:22] Bantulah yang membawa tanah ini lekas

[52:24] pulih dan bangkit lebih kuat. Maka

[52:27] rasanya tak [musik] salah apabila Bantul

[52:29] Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati

[52:31] diri masyarakat Bantul untuk berdiri

[52:33] tanpa gentar, adaptif terhadap zaman,

[52:36] serta bahu-membahu untuk mendongkrak

[52:38] kesejahteraan rakyatnya.

[53:31] Le

[53:34] zat miko.

[53:36] Ayo bangun.

[53:38] Sing ngantuk ya, Pak.

[53:41] iki wis esuk. Ayo sebuah

[53:50] tak wudu se pak

[53:52] ya.

[54:25] Wis le

[54:26] sampun Pak.

[54:31] Hm. Saiki anake Bapak wis ganteng ya.

[54:36] Wis yo salat

[54:39] naik Bapak.

[54:44] Allahu

[54:46] Akbar.

[55:09] K is w is ng durung

[55:13] aku is Piran i tiba gak apa? Tak iso

[55:17] ayo ngampili jat miko. Ayo

[55:38] komik

[55:40] dolan

[55:45] pak enten mboten pak? Iya sik

[55:50] le miko goleki koncone lho pak

[55:56] n endi

[55:57] pak

[55:59] loh kui opo kok ada ngompring kowe

[56:02] ngerti to iki jenenge aku duwe digawek

[56:05] bapak aku ngene iki lho cara ini

[56:25] tapi aku iso le nganggo

[56:27] apao ko tak ajari

[56:29] yo wis g lapangan

[56:31] i

[56:33] pam sik nggih pak

[56:35] yaas

[56:36] sore-sore y

[57:05] [musik]

[57:20] Nyoh saik giliran kowe.

[57:21] Tapi aku ora iso.

[57:22] Ra poo tak ajari.

[57:24] I tapi gojengi yo

[57:26] gojengi sik tenan.

[57:28] Iya i

[57:30] goaki tenan lho ditit. I yo tak goi nek

[57:33] kowe arep wedi yo ora bakal iso

[57:35] y tak jajal yao Dit

[57:37] tapi gocoki tenan yo dicolke

[57:39] y

[57:41] piye iki dit iso ora ditah

[57:45] kok angel ya dito lagi pisan-pisan yo

[57:48] ngene ikiah y

[57:50] i

[57:52] tenan l Yo

[58:09] kok r angel

[58:38] nikmat

[58:42] Urip ning alam duno ki digawe kepenak.

[58:47] Weh, piye, Jo?

[58:50] Bejo

[58:52] bagus tenan.

[58:55] Oh iya.

[58:58] Oh.

[59:00] Wis engko tak pakani dilongkas. Aku arep

[59:03] ngombe kopi [tertawa]

[59:14] iki ngopo le,

[59:15] Pak? Gaweke gerang kaya nggone

[59:18] dituroreni, Pak.

[59:20] Hm. Kowe iso apa piye?

[59:22] Iso yen gawe dewe

[59:26] wis saiki

[59:29] maem sik k adus mengko tak gawek

[59:34] ye.

[59:40] He ndak yo anak lanang yo tak gawekne.

[59:43] nih

[01:00:22] [musik]

[01:00:30] Piye, Pak? Kok wis dadi urung?

[01:00:32] Weh, nyo. Wis dadi, nyo.

[01:00:40] Wah, api banget kok bapak iso gawe

[01:00:42] egrang.

[01:00:42] Lah yo iso wong bapakmu biyen io

[01:00:45] dolanane koy ngono kuwi, e, le.

[01:00:47] Walah, bapak biyen dadine dolanan.

[01:00:50] I

[01:00:52] wis kono gekgahke sik.

[01:00:54] Oleh rapat tak jaj ning latar sik.

[01:00:56] Wah, sesuk wae iki wis magrib.

[01:01:00] Oh i tapi sesok ajari terus loh Pak

[01:01:03] ya. Heeh. ya

[01:01:26] [musik]

[01:01:54] [berteriak]

[01:02:19] Piye le? Iso urung

[01:02:22] urung.

[01:02:23] Nah wingi nek wis sinau karo Dito. Sopa

[01:02:26] koncomui.

[01:02:28] Nah piye?

[01:02:30] Durung wingi tiba-tiba terus.

[01:02:33] Y wis yo tak ajari yo

[01:02:42] munggah sik to to diseimbangke awakmu ya

[01:02:47] terus tangan caro kaki yo bareng ning

[01:02:50] ngejokke

[01:02:52] ya terus terus diangkat dewe ya

[01:03:00] piye

[01:03:02] hm Hm.

[01:03:04] Ya. Terus

[01:03:07] tulke ya.

[01:03:08] Piye

[01:03:11] ya? Oo seimbangke sik Ju.

[01:03:14] Nah.

[01:03:25] Eh wis to eh. Ooh, de grang deweang

[01:03:40] apik to ya. ngomong kangan bareng ye.

[01:04:17] opo wani-wani ngelarang ad kene

[01:04:23] wani yo ngelawan akui

[01:04:26] to wani to saiki tak tantang sopo sing

[01:04:29] wani balapan sing menang engko oleh

[01:04:32] wilayah neng kene. Oke. Jadi loh

[01:04:37] bakal menang yen

[01:04:47] nek a dewe seso kalah opo meneh saiki

[01:04:49] aku ung lancar nglang.

[01:04:53] Aku yakin sosok adiknya bakal menang.

[01:05:03] K ngopo le kok mesengut ki?

[01:05:05] Kiro-kiro aku iso ora yo, Pak?

[01:05:08] Lah yo iso ngopo?

[01:05:10] Masalahe aku karo konco-kancoku

[01:05:12] ditantang balapan gerang karo Satria.

[01:05:17] Sik penting kowe sinau latihan terus

[01:05:20] bakal iso le.

[01:05:23] Semangat.

[01:05:25] Tapi nek ra oleh nek ra menang aku iso

[01:05:27] dolanan ning kono kae meneh.

[01:05:29] Lah io. Mula kowe kudu latihan terus.

[01:05:34] Menko suwe ning suwe ya bakal iso. Yo.

[01:05:39] Yakin. Yakin iso.

[01:05:42] Oke.

[01:05:43] Awas

[01:05:46] ya Pak

[01:05:47] ya.

[01:06:08] Sing hati-hati lho le.

[01:06:15] Ngandel tenan ora kene tak. Duh duh duh.

[01:06:19] Se sik

[01:06:23] y. Aduh aduh bagus bagus dewe.

[01:06:38] Piye le isih loro

[01:06:45] tambahi bapak ya?

[01:06:49] Ora apao

[01:06:51] i nok?

[01:06:59] tambani yao

[01:07:22] ditahan Delo engko nuk mari.

[01:07:27] E to loro

[01:07:30] ora loro.

[01:07:33] Wis

[01:07:36] wis to wis rampung toh.

[01:07:38] Wis ng nek nuk mari

[01:07:41] mestine aku sesok kalah soale saiki

[01:07:44] [musik] sikilku lagi loro.

[01:07:49] Kowe ngerti ora le? [musik] Bapak karo

[01:07:52] Ibu ngenahi jeneng satmiku

[01:07:55] supoyo

[01:07:57] tole sesuk dadi [musik] bocah sing

[01:08:00] tangguh ora gampang nyerah ya. Dadi

[01:08:06] saiki kowe kudu [musik] yakin nek kowe

[01:08:10] bakal iso ya.

[01:08:14] Nah, Bapak sayang K L

[01:08:21] saiki wis bengi [musik]

[01:08:23] Bapak wis ngantuk ayo bubuk

[01:08:31] wis wengi

[01:08:35] kemule dinggo [musik] kemulih

[01:08:37] sumuk

[01:08:38] iya wis Bapak anu ya bubuk Yan ya

[01:08:41] iya

[01:08:42] yang bubuk

[01:09:04] Kok durung teko lah mbuh doani paling.

[01:09:09] Eh lah kae wis doan wis do teko ra sabar

[01:09:12] aku.

[01:09:12] Lah io wong ad sing menang.

[01:09:21] Ojo seneng sih pekanku bakal menang.

[01:09:26] kalah rung ojo ngimpi

[01:09:42] Oke.

[01:09:47] Ayo

[01:10:16] Bu

[01:10:17] [berteriak]

[01:10:35] [musik]

[01:11:50] Eh, Bu. Minggu ngarep ki le arisan nang

[01:11:52] nggone sopo to Bu? Jarene ning omah Ibu

[01:11:54] to Bu. Tapi iki aku rod kuatir Bu, ning

[01:11:57] kono ku iki.

[01:11:57] Kuatir opo meneh to, Bu?

[01:11:59] Lah, dalane omahe Bu Rini kui akeh

[01:12:01] jeglongane, Bu. Bojoku wingi iki wis

[01:12:03] arep gejeglong ngono kuwi.

[01:12:04] We saiki dalane wis apik yo bu. Aku

[01:12:06] wingi bar liwat kono soale.

[01:12:09] W mosok to Bu. Lah piye toh Bu Isma II?

[01:12:11] L aku ii wis ora lewat kono Bu. Kapan le

[01:12:14] ono terakhir ki? Yo pas bojoku arep

[01:12:16] kejeglung kui.

[01:12:19] Asalamualaikum ibu-ibu.

[01:12:22] Waalaikumsalam

[01:12:24] Pak. Monggo. Pak pinara

[01:12:26] nggih.

[01:12:26] Nggih. Ajeng kepanggih sinten, Pak?

[01:12:29] Leres daleme Bu Cimbul.

[01:12:31] Nggih. Nggih. Nggih. Monggo.

[01:12:35] Nggih. Izin ibu-ibu. Ee saya Ardika dari

[01:12:39] petugas pajak BPK PAD Kabupaten Bantul.

[01:12:43] Loh, ono acara opo, Pak? Ono kasus nopo

[01:12:46] melih?

[01:12:47] Mboten enten kasus, Bu. Ampun

[01:12:48] serius-serius.

[01:12:51] Saya ke sini dalam rangka menyampaikan

[01:12:53] surat pemberitahuan pajak terutang PBB

[01:12:56] P2.

[01:12:58] Pajak opo meneh toh, Pak? Mbok ndelok

[01:13:00] kene?

[01:13:02] Lah io toh kok kabeh-kabeh kon majeki.

[01:13:04] Omang ono manfaate, Pak.

[01:13:07] Manfaate kathah, Ibu. Santai mawon. Ah

[01:13:10] niki sekaligus sosialisasi

[01:13:14] saya izin telepon pimpinan nggih.

[01:13:17] Oalah kok dadi serius ngene toh. Yo wis

[01:13:19] Bu dirungok sikik wae.

[01:13:20] Heeh. Heeh. Dirungoke. Ayo.

[01:13:30] Asalamualaikum Ibu-ibu.

[01:13:32] Waalaikumsalam.

[01:13:34] Perkenalkan saya Ibu Tirul dari Kepala

[01:13:37] BPKAD Kabupaten Bantul. Tadi Pak Adika

[01:13:41] cerita kalau Ibu-ibu masih bingung soal

[01:13:44] manfaat pajak daerah. Nggih.

[01:13:46] Enggih, Bu. Soale rakyat niku mok kon

[01:13:49] bayar pajak terus.

[01:13:51] Nggih. Wajar Bu. Tapi sebenarnya pajak

[01:13:55] daerah niku kathah kebermanfaatanipun

[01:13:58] lho, Bu.

[01:13:59] Sak tenane pajak daerah niku nopo to,

[01:14:01] Bu? Nggih. Jadi gini, Bu. Pajak Daerah

[01:14:05] berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten

[01:14:08] Bantul nomor 6 tahun 2023 tentang pajak

[01:14:13] daerah dan retribusi daerah niku. Pajak

[01:14:16] adalah kontribusi wajib kepada daerah

[01:14:19] yang terutang oleh pribadi atau [musik]

[01:14:22] badan yang bersifat memaksa berdasarkan

[01:14:25] undang-undang

[01:14:27] dengan tidak mendapatkan imbalan secara

[01:14:30] langsung dan digunakan untuk keperluan

[01:14:33] [musik] daerah. bagi sebesar-besarnya

[01:14:35] kemakmuran rakyat.

[01:14:37] Pajak daerah niku nopo mawon toh, Bu?

[01:14:40] Nah, bagus. Pajak niku macamnya banyak

[01:14:43] Bu. Wonten pajak bumi dan bangunan,

[01:14:46] perdesaan dan perkotaan, terus BPHTB,

[01:14:49] perolehan hak atas tanah dan bangunan.

[01:14:53] Cobi, Pak. Kulo minjam HPne.

[01:14:56] Ada juga PBJT

[01:14:59] yaitu [musik] pajak barang dan jasa

[01:15:01] tertentu yang terdiri dari makanan dan

[01:15:04] [musik] atau minuman, tenaga listrik,

[01:15:07] jasa parkir, jasa perhotelan, jasa

[01:15:11] kesenian dan hiburan, terus pajak

[01:15:14] reklame, pajak [musik] air tanah, pajak

[01:15:18] MBLB,

[01:15:19] option PKB, dan option BPNKB gitu loh,

[01:15:24] Bu. Oalah katah nggih Bu ternyata.

[01:15:27] Nggih Bu, hasil pajak ini sangat

[01:15:29] bermanfaat bagi masyarakat yang dapat

[01:15:32] dirasakan secara langsung.

[01:15:35] Nah, manfaat dari pajak yang pertama

[01:15:38] yaitu untuk pembangunan [musik]

[01:15:40] infrastruktur seperti perbaikan jalan,

[01:15:43] pembangunan [musik] jembatan, lampu

[01:15:46] penerangan jalan umum, fasilitas umum.

[01:15:49] Ngaten loh Bu.

[01:15:51] Oalah Bu. Pantes dalan se wingi rusaki.

[01:15:53] Wis apik saiki Bu.

[01:15:55] Nggih. Terus juga untuk fasilitas

[01:15:57] kesehatan seperti operasional [musik]

[01:16:00] pukesmas, pelayanan kesehatan daerah

[01:16:04] sampai sarana dan prasarana kesehatan

[01:16:06] masyarakat,

[01:16:08] BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan.

[01:16:12] Oalah niku ki ng seing pajak Bu.

[01:16:14] Leres, Bu.

[01:16:16] Terus fasilitas pendidikan pajak niku

[01:16:19] membantu pembangunan sekolah [musik]

[01:16:21] baru, perbaikan sekolah, pengadaan meja

[01:16:25] kursi, buku pelajaran,

[01:16:28] komputer, seragam sekolah, dan alat

[01:16:32] laboratorium.

[01:16:33] Sekolahan iku nggih se pajak Bu.

[01:16:35] Betul, Bu. Selain itu, pajak daerah juga

[01:16:38] digunakan untuk keamanan dan ketertiban.

[01:16:41] Misalipun operasional fasilitas

[01:16:44] penunjang keamanan. dan layanan darurat

[01:16:46] masyarakat.

[01:16:47] Oh, nggih nggih nggih nggih nggih nggih

[01:16:49] nggih.

[01:16:50] Kemudian pemberdayaan ekonomi masyarakat

[01:16:53] misalipun pembinaan UGMKM,

[01:16:57] pelatihan [musik] keterampilan,

[01:16:59] dan biantu gawe lapangan kerja baru.

[01:17:04] Wah, sae sanget niku, Bu. Saiki kathah

[01:17:07] sik mulai usaha UMKM.

[01:17:09] Nggih. Dan ingkang terakhir Bu niku

[01:17:13] kagem kesejahteraan sosial. Pajak daerah

[01:17:16] meniko biantu pendanaan Bansos

[01:17:20] mengadakan program pelestarian

[01:17:22] lingkungan sampai acara seni dan budaya

[01:17:25] saking masyarakat.

[01:17:28] Walah kathah sanget nggih Bu manfaate

[01:17:30] saking pajak daerah.

[01:17:31] Nggih Bu. Nah sakniki sampun luwih paham

[01:17:34] kan manfaat saking membayar pajak daerah

[01:17:37] Bu?

[01:17:38] Nggih, nggih, nggih. Sampun paham kulo

[01:17:40] matur suwun nggih, Bu.

[01:17:44] Dados maken, Ibu-ibu.

[01:17:47] Jadi, pajak daerah itu bukan sekedar

[01:17:50] kewajiban, tetapi juga bentuk kontribusi

[01:17:53] kita bersama untuk pembangunan Kabupaten

[01:17:57] Bantul menjadi lebih baik.

[01:18:02] Meniko Bu Cimbul SPPT PBB-nya?

[01:18:05] Oh, kul tingali ngih Pak.

[01:18:09] Leres niki, Pak. Matur suwun nggih, Pak.

[01:18:12] Sami-sami ngih. Tak [musik] bayare

[01:18:14] sikhih. Siap.

[01:18:17] Nah, Sedulur Bantul, ini ada contoh

[01:18:19] penerimaan manfaat dari pajak [musik]

[01:18:21] daerah Bantul.

[01:18:23] Terima kasih atas peningkatan fasilitas

[01:18:27] kesehatan Kabupaten Bantul. Saya sangat

[01:18:30] terbantu [musik] dengan pelayanan yang

[01:18:33] semakin mudah dan nyaman ketika berubah.

[01:18:37] Terima kasih Kabupaten Bantul. Jos.

[01:18:41] Terima [musik] kasih buat pemerintah

[01:18:44] Kabupaten Bantul. Kami sangat terbantu

[01:18:48] dengan [musik] adanya fasilitas

[01:18:50] kesehatan. Semoga ke depannya bisa lebih

[01:18:54] baik. [musik] Kabupaten Bantul. Jos.

[01:18:58] Terima kasih saya ucapkan kepada

[01:19:00] pemerintah Kabupaten Bantul [musik] yang

[01:19:02] sudah membantu warga Mbak Kulank Kulon

[01:19:05] bikin cor jalan ini sehingga menjadi

[01:19:07] bagus. Karena pada [musik] karya ini

[01:19:10] pekerjaannya itu dari warga sini juga

[01:19:13] kira-kira sekitar 20 orang. Di samping

[01:19:16] jalan [musik] menjadi bagus, income dari

[01:19:19] warga juga nambah, Mas. Soalnya itu kan

[01:19:21] ada ada upahnya, [musik] Mas. dan

[01:19:23] bermanfaat sekali buat warga bakulan

[01:19:26] kulon. Kegotongroyong juga tambah bagus.

[01:19:30] Pokoknya bermanfaat sekali, Mas, untuk

[01:19:32] warga [musik] Bakulan. Pemerintah

[01:19:34] Kabupaten Bantul jos. Pajak lunas,

[01:19:38] pembangunan jelas.

[01:19:41] Nah, sekarang Sedulur [musik] Bantul

[01:19:43] sudah paham kan pengertian dan manfaat

[01:19:46] dari pajak daerah?

[01:19:48] Ayo semua tertib membayar pajak daerah

[01:19:51] untuk pembangunan Kabupaten [musik]

[01:19:53] Bantul menjadi lebih baik.

[01:19:55] Pajak lunas pembangunan jelas.

[01:23:23] Bantul Bumi Satria tahun ini siap

[01:23:26] menapaki usia barunya.

[01:23:29] Perjalanan panjang itu diwujudkan

[01:23:31] [musik]

[01:23:32] dalam filosofi logo hari jadi ke-195

[01:23:35] tahun Kabupaten Bantul. Angka satu

[01:23:39] diwujudkan dalam bentuk [musik] canting

[01:23:41] melambangkan ketelitian, kesabaran,

[01:23:44] pelestarian budaya, dan kearifan lokal.

[01:23:47] [musik]

[01:23:49] Angka 9 direpresentasikan dengan bentuk

[01:23:51] ombak yang menggulung mencerminkan

[01:23:53] [musik] dinamika kehidupan yang terus

[01:23:56] bergerak maju.

[01:23:58] Angka lima disimbolkan dengan padi

[01:23:59] beserta [musik] daun yang merunduk.

[01:24:02] Bermakna kesuburan, produktivitas, dan

[01:24:04] [musik] kemakmuran.

[01:24:07] Angka 195 berpadu membentuk luk keris,

[01:24:10] mencerminkan [musik] kekuatan,

[01:24:12] keberanian, ketangguhan, dan jiwa

[01:24:15] kesatria.

[01:24:17] [musik]

[01:24:18] Dibentuk dari perpaduan unsur budaya,

[01:24:21] alam, dan pangan yang divisualisasikan

[01:24:23] [musik]

[01:24:24] dalam tiga warna.

[01:24:27] Warna kuning menjadi simbol budaya yang

[01:24:29] mencerminkan kejayaan.

[01:24:32] [musik] Warna biru melambangkan alam

[01:24:34] yang berarti kehidupan.

[01:24:37] Warna hijau menjadi simbol pangan yang

[01:24:40] bermakna kemakmuran.

[01:24:44] [musik] 195 tahun Kabupaten Bantul.

[01:24:47] Darmaning Satri akaro raharjaning

[01:24:50] [musik] nagari.

[01:25:05] Bantul, kabupaten di wilayah selatan

[01:25:08] daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak

[01:25:11] dibangun di atas tanah yang tenang.

[01:25:13] Perjalanan Bantul dimulai dari

[01:25:15] puing-puing perang Jawa yang mengendap

[01:25:17] di memori rakyatnya.

[01:25:19] Bupati pertama Bantul kala itu KRT

[01:25:22] Mangunegoro dilempar pada badai politik,

[01:25:25] sosial, dan ekonomi yang luar biasa.

[01:25:28] Tak cuma soal [musik] keamanan wilayah

[01:25:30] pasca perang Jawa, KRT Mangunegoro juga

[01:25:33] harus mengurus birokrasi dan kesepakatan

[01:25:35] politik [musik] demi menghadapi tekanan

[01:25:37] tanam paksa. Bermula dari tanam paksa,

[01:25:40] kebun-kebun tebuk kian membentang di

[01:25:42] Bantul. Deru-deru pabrik gula mulai

[01:25:45] [musik] menggeliat di tanah ini. Demi

[01:25:47] menyokong industri ini, Dam Kamijoro

[01:25:49] dibangun pada tahun 1924

[01:25:52] di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo

[01:25:54] Kusumo. Dari masa [musik] ke masa,

[01:25:57] Bantul terus membaca zaman, rel kereta

[01:26:00] mengular, pasar-pasar riuh di [musik]

[01:26:02] berbagai sudut, sekolah-sekolah

[01:26:03] bermunculan dan mencetak para pemikir.

[01:26:11] [musik]

[01:26:12] 33 bupati datang dan pergi silih

[01:26:14] berganti. Masing-masing menorehkan

[01:26:16] [musik] legasi menuntun masyarakatnya

[01:26:18] mendobrak bilik-bilik modernisasi.

[01:26:21] Lantas masyarakatnya terus diuji [musik]

[01:26:24] ditempah.

[01:26:25] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak

[01:26:27] akibat guncangan gempa 2006, semangat

[01:26:30] gotongroyong masyarakat Bantulah yang

[01:26:32] membawa tanah ini [musik] lekas pulih

[01:26:33] dan bangkit lebih kuat.

[01:26:35] Maka rasanya tak salah apabila [musik]

[01:26:37] Bantul Bumi Satria dibawa sebagai nilai

[01:26:40] jati diri masyarakat Bantul untuk

[01:26:41] berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap

[01:26:44] [musik] zaman, serta bahuembahu untuk

[01:26:46] mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.

[01:27:14] [musik]

[01:27:16] Bantul, kabupaten di wilayah selatan

[01:27:19] daerah Istimewa Yogyakarta ini tidak

[01:27:22] dibangun di atas tanah yang tenang.

[01:27:25] Perjalanan Bantul dimulai [musik] dari

[01:27:27] puing-puing perang Jawa yang mengendap

[01:27:29] di memori rakyatnya.

[01:27:31] Bupati pertama Bantul kala itu KRT

[01:27:33] Mangunegoro dilempar pada badai politik,

[01:27:36] sosial, dan ekonomi yang luar biasa.

[01:27:40] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca

[01:27:42] perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus

[01:27:45] mengurus birokrasi dan kesepakatan

[01:27:46] politik demi menghadapi tekanan tanam

[01:27:49] paksa. [musik]

[01:27:50] Bermula dari tanah paksa, kebun-kebun

[01:27:52] tebuk kian membentang di Bantul.

[01:27:55] Deru-deru pabrik gula [musik] mulai

[01:27:56] menggeliat di tanah ini. Demi menyokong

[01:27:59] industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada

[01:28:01] tahun 1924

[01:28:03] di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo

[01:28:06] Pusumo. Dari masa ke masa, Bantul terus

[01:28:10] membaca zaman. Rel kereta [musik]

[01:28:11] mengular, pasar-pasar riuh di berbagai

[01:28:13] sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan

[01:28:15] mencetak para pemikir.

[01:28:22] [musik]

[01:28:23] 33 bupati datang dan pergi silih

[01:28:26] berganti. Masing-masing menorehkan

[01:28:28] legasi, menuntun masyarakatnya [musik]

[01:28:30] mendobrak bilik-bilik modernisasi.

[01:28:33] Lantas masyarakatnya terus diuji,

[01:28:35] ditempah.

[01:28:36] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak

[01:28:39] akibat [musik] guncangan gempa 2006,

[01:28:41] semangat gotongroyong masyarakat

[01:28:42] Bantulah yang membawa tanah ini lekas

[01:28:44] [musik] pulih dan bangkit lebih kuat.

[01:28:47] Maka rasanya tak salah apabila Bantul

[01:28:49] Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati

[01:28:51] diri masyarakat [musik] Bantul untuk

[01:28:53] berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap

[01:28:55] zaman, serta bahuembahu untuk

[01:28:57] mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.

[01:29:28] Bantul, [musik]

[01:29:29] kabupaten di wilayah selatan Daerah

[01:29:31] Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun

[01:29:34] di atas tanah yang tenang. Perjalanan

[01:29:37] Bantul dimulai dari puing-puing perang

[01:29:39] Jawa [musik] yang mengendap di memori

[01:29:40] rakyatnya.

[01:29:42] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT

[01:29:45] Mangunegoro, dilempar pada badai

[01:29:47] politik, sosial, dan ekonomi yang luar

[01:29:49] biasa.

[01:29:51] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca

[01:29:53] perang Jawa, KRT Mangunegoro [musik]

[01:29:55] juga harus mengurus birokrasi dan

[01:29:57] kesepakatan politik demi menghadapi

[01:29:59] tekanan tanam paksa.

[01:30:01] Bermula dari tanah paksa, kebun-kebun

[01:30:04] tebuk kian membentang di Bantul.

[01:30:06] Deru-deru pabrik gula mulai [musik]

[01:30:07] mengeliat di tanah ini. Demi menyokong

[01:30:10] industri ini, Dam Kamijoro dibangun pada

[01:30:13] tahun 1924 di bawah kepemimpinan [musik]

[01:30:16] Bupati KRT Dirjo Pusumo. Dari masa ke

[01:30:19] masa, Bantul terus membaca zaman. Rel

[01:30:22] kereta mengular, pasar-pasar riuh di

[01:30:24] berbagai sudut, sekolah-sekolah

[01:30:26] bermunculan dan mencetak para pemikir.

[01:30:29] [musik]

[01:30:35] 33 [musik]

[01:30:35] bupati datang dan pergi silih berganti.

[01:30:38] Masing-masing menorehkan legasi,

[01:30:40] menuntun masyarakatnya mendobrak [musik]

[01:30:41] bilik-bilik modernisasi.

[01:30:44] Lantas masyarakatnya terus diuji,

[01:30:46] ditempah.

[01:30:48] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak

[01:30:50] akibat guncangan [musik] gempa 2006,

[01:30:52] semangat gotongroyong masyarakat

[01:30:54] Bantulah yang membawa tanah ini lekas

[01:30:56] pulih [musik] dan bangkit lebih kuat.

[01:30:58] Maka rasanya tak salah apabila Bantul

[01:31:00] Bumi Satria dibawa [musik] sebagai nilai

[01:31:02] jati diri masyarakat Bantul untuk

[01:31:04] berdiri tanpa gentar, adaptif terhadap

[01:31:06] zaman, serta bahu-membahu [musik] untuk

[01:31:09] mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.

[01:31:12] Acara Sara Sehat pada kesempatan malam

[01:31:14] hari ini. Maka untuk itu kami persilakan

[01:31:16] kepada seluruh tamu undangan untuk bisa

[01:31:19] duduk menempati tempat duduk yang sudah

[01:31:21] kami siapkan. Terima kasih.

[01:31:38] Hadirin yang berbahagia, Bupati Bantul

[01:31:41] beserta rombongan memasuki area acara.

[01:31:45] Hadirin dimohon berdiri.

[01:33:09] lagi

[01:34:00] Bapak, Ibu tamu undangan yang kami

[01:34:02] hormati. Untuk meningkatkan rasa cinta

[01:34:06] dan rasa nasionalisme kita terhadap

[01:34:09] Negara Kesatuan Republik Indonesia, mari

[01:34:12] bersama-sama kita menyanyikan lagu

[01:34:15] kebangsaan Indonesia Raya. Hadirin

[01:34:19] dimohon berdiri.

[01:34:42] [musik]

[01:36:15] Hadirin disilakan duduk kembali.

[01:36:27] Asalamualaikum warahmatullahi

[01:36:30] wabarakatuh.

[01:36:31] Waalaikumsalam.

[01:36:35] Om swastiastu.

[01:36:38] Namo buddhaya. Salam kebajikan.

[01:36:42] Shalom. Salam sejahtera untuk kita

[01:36:45] semua. Salam buda lestari budayaku.

[01:36:53] Sebelumnya kami ingin mengucapkan

[01:36:55] selamat datang terlebih dahulu kepada

[01:36:59] yang terhormat Bupati Bantul Bapak H.

[01:37:03] Abdul Halim Musli dan juga Wakil Bupati

[01:37:07] Bantul Bapak Aryanto.

[01:37:11] Kemudian kami juga mengucapkan selamat

[01:37:14] malam serta selamat datang kepada Ketua

[01:37:17] DPRD Kabupaten Bantul yang dalam hal ini

[01:37:21] berkenan mewakili beliau adalah Ibu

[01:37:24] Dranda Ani Widayani, MIP selaku Wakil

[01:37:29] Ketua Komisi A.

[01:37:32] Yang kami hormati jajaran Forko Pimda

[01:37:36] Kabupaten Bantul atau yang mewakili.

[01:37:40] Yang kami hormati, kami ucapkan selamat

[01:37:43] datang kepada Ketua Warkaban Bapak Dr.

[01:37:47] Sigit Mustofa Nuruddin, ST. M.M.

[01:37:52] Kemudian selamat malam kepada yang kami

[01:37:54] hormati Sekretaris Daerah Kabupaten

[01:37:57] Bantul beserta jajaran perangkat daerah.

[01:38:02] Yang kami hormati pula Bapak-bapak

[01:38:04] narasumber yang sudah berkenan untuk

[01:38:06] bisa hadir pada kesempatan malam hari

[01:38:09] ini. Dan tidak lupa saya juga ingin

[01:38:12] menyapa kepada hadirin tamu undangan

[01:38:15] yang sudah hadir secara langsung bersama

[01:38:18] dengan saya. Kemudian juga selamat malam

[01:38:21] saya mengucapkan untuk pemirsa Bantul TV

[01:38:25] di mana pun berada dan tidak lupa

[01:38:28] seluruh peserta yang turut hadir melalui

[01:38:31] ruang Zoom meeting BKPSDM

[01:38:34] yang berbahagia.

[01:38:38] Kami ucapkan selamat datang dan selamat

[01:38:41] mengikuti rangkaian acara sarasehan

[01:38:44] peringatan peristiwa sejarah dalam

[01:38:47] rangka hari jadi ke-195

[01:38:52] Kabupaten Bantul. Darmaning satrio

[01:38:55] Akaryo Raharjaning Nagari.

[01:39:04] Puji dan syukur Bapak, Ibu, dan juga

[01:39:06] seluruh hadirin. Mari bersama-sama kita

[01:39:09] panjatkan atas kehadirat dari Tuhan yang

[01:39:11] maha kuasa yang tentu saja selalu

[01:39:14] berkenan untuk bisa membersamai langkah

[01:39:17] kita semuanya. Dan saya juga turut

[01:39:19] berharap semoga nikmat, rasa syukur dan

[01:39:23] kebahagiaan serta kesehatan akan selalu

[01:39:26] menyertai kita semuanya.

[01:39:30] Sebelumnya mohon izin Bapak dan Ibu

[01:39:33] perkenalkan saya Dita Nurmalauti sebagai

[01:39:37] pembawa acara yang pada kesempatan malam

[01:39:39] hari ini akan membersamai Bapak Ibu

[01:39:42] semuanya dalam rangkaian acara

[01:39:45] peringatan peristiwa sejarah dalam

[01:39:47] rangka Hari Jadi Kabupaten Bantul. Dan

[01:39:50] tentu saja berikutnya hadirin yang

[01:39:53] berbahagia untuk bisa menambah rasa

[01:39:55] syukur atas terselenggaranya acara malam

[01:39:58] hari ini, mari Bapak Ibu dari tempat

[01:40:01] duduk kita masing-masing kita panjatkan

[01:40:03] doa kepada Tuhan yang maha kuasa. Dan

[01:40:06] doa pada malam hari ini akan dipandu

[01:40:10] oleh Bapak Anang Haji Dewanto, SH. dari

[01:40:14] bagian Kesra. Maka untuk itu kepada

[01:40:17] Bapak Anang Haji Dewanto, SH. Saya

[01:40:21] persilakan.

[01:40:32] Auzubillahiminasyaitanirrajim.

[01:40:35] Bismillahirrahmanirrahim.

[01:40:39] Alhamdulillahi rabbil alamin

[01:40:44] hamdan syakirin

[01:40:46] hamdan naimin hamda yuwafi niamahu

[01:40:49] waukafiu mazidah

[01:40:52] ya rabbana lakal hamdu kama yambi

[01:40:55] wajikal karimi wa sultanik

[01:40:59] allahumma sholli wasallim ala sayyidina

[01:41:02] muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad

[01:41:06] ya Allah Ya Tuhan kami,

[01:41:10] dengan penuh kerendahan hati,

[01:41:13] segala puji dan syukur setulusnya kami

[01:41:16] persembahkan kehadirat-Mu, ya Allah,

[01:41:19] berkat rahmat-Mu yang telah Engkau

[01:41:21] anugerahkan kepada kami.

[01:41:24] Pada malam hari ini kami berkumpul dalam

[01:41:28] rangka sarasehan hari jadi Kabupaten

[01:41:30] Bantul yang ke-195

[01:41:33] melalui tema meracut jejak sejarah

[01:41:36] Bantul. menuju terwujudnya bantul yang

[01:41:39] maju, kuat, demokratis, dan sejahtera.

[01:41:43] Dengan penuh harap kami memohon

[01:41:45] kehadirat-Mu ya Allah, jadikanlah acara

[01:41:48] ini sebagai bentuk rasa syukur kami

[01:41:51] kepada-Mu.

[01:41:53] Ya Allah, ya qadial hajat, telah 195

[01:41:58] tahun Kabupaten Bantul ini berdiri.

[01:42:01] Telah begitu banyak perubahan dan

[01:42:03] kemudahan yang kami rasakan.

[01:42:06] Kami menyadari apa yang kami dapatkan

[01:42:09] sampai hari ini adalah anugerah

[01:42:13] sekaligus amanah yang Engkau berikan

[01:42:15] kepada kami. Ya Allah, jadikanlah acara

[01:42:19] ini pemacu semangat kami untuk tetap

[01:42:23] terus meningkatkan profesionalisme

[01:42:26] dalam rangka membangun bandul yang maju,

[01:42:28] kuat, demokratis, dan sejahtera dalam

[01:42:31] bingkai keberagamaan dan budaya

[01:42:34] istimewa.

[01:42:36] Ya Allah, Tuhan yang maha kuasa,

[01:42:39] limpahkanlah keberkahan kepada kami.

[01:42:43] Anugerahkanlah [mendengus]

[01:42:44] ketentraman,

[01:42:46] kemajuan, dan kemakmuran bagi seluruh

[01:42:49] masyarakat Bantul. Jauhkanlah kami dari

[01:42:52] segala bencana, dari segala perpecahan,

[01:42:55] kemiskinan, dan berbagai hambatan yang

[01:42:58] dapat mengganggu pembangunan dan

[01:42:59] kesejahteraan rakyat. Ya Allah, Tuhan

[01:43:03] yang maha pengampun.

[01:43:05] Ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa

[01:43:08] kedua orang tua kami, para pendahulu,

[01:43:12] para pemimpin, serta seluruh masyarakat

[01:43:14] Kabupaten Bantul. Terimalah amal ibadah

[01:43:17] kami dan tuntunlah kami ke jalan yang

[01:43:20] Engkau ridai. Ya Allah, kabulkanlah

[01:43:24] segala doa-doa kami. Rbana atina fid

[01:43:28] dunya hasanah wafil akhirati hasanah

[01:43:32] waqinaar.

[01:43:34] Walhamdulillahiabbil

[01:43:36] alamin.

[01:43:46] Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak

[01:43:49] Anang Haji Dewanto, SH. yang sudah

[01:43:52] berkenan untuk bisa memandu doa dalam

[01:43:54] acara sarasehan yang sedang berlangsung.

[01:43:59] Bapak, Ibu, dan juga hadirin yang kami

[01:44:02] hormati. Mari sejenak sesaat lagi kita

[01:44:05] akan bersama-sama untuk bisa menikmati

[01:44:08] suguhan kesenian budaya yang tentu saja

[01:44:11] akan dihadirkan melalui persembahan

[01:44:14] penampilan tari putyastuti dari sanggar

[01:44:17] Srikandi 25 Entertainment. Boleh kita

[01:44:21] berikan tepuk tangan yang meriah Bapak

[01:44:23] Ibu semuanya dan selamat menyaksikan.

[01:44:33] [musik]

[01:45:13] Kamiwiti sinden sandoning

[01:45:17] pradangga

[01:45:20] [bernyanyi]

[01:45:22] jarwa [musik]

[01:45:23] mudan

[01:45:28] [musik]

[01:45:29] Sang Prabu Kresnaungana

[01:45:33] [musik]

[01:45:42] wulan utama [musik]

[01:45:47] [bernyanyi]

[01:45:50] [musik]

[01:45:52] kalwa

[01:45:54] [bernyanyi]

[01:45:55] [musik]

[01:45:56] kalwa

[01:45:58] Kandeking

[01:45:59] samudra

[01:46:02] [bernyanyi]

[01:46:04] aku

[01:46:07] [musik]

[01:46:09] sai

[01:46:13] [musik]

[01:46:14] lir

[01:46:26] Kinaryo

[01:46:31] sung pe

[01:46:37] pujo

[01:46:44] kanti Kanti

[01:46:46] sekar

[01:46:52] tuti [musik]

[01:46:57] rujak nangka rujake para

[01:47:01] kudaya [musik]

[01:47:06] di lari widada

[01:47:11] rujak [musik]

[01:47:13] rujak

[01:47:14] para pemudian

[01:47:20] golek ilmu [musik]

[01:47:22] kang saditi

[01:47:25] [bernyanyi]

[01:47:29] mas

[01:47:33] [musik]

[01:47:36] nganti

[01:47:38] [musik]

[01:47:42] maran

[01:47:42] [musik]

[01:47:43] eman

[01:47:45] eman

[01:47:49] geting ilmu [musik] kangu

[01:47:56] [musik]

[01:48:02] ayo tentr

[01:48:06] rires Wis [musik]

[01:48:13] [musik][bernyanyi]

[01:48:14] ayu

[01:48:18] tentrane

[01:48:21] [musik]

[01:48:22] wong lumana

[01:48:28] [musik] gones Nes

[01:48:36] [musik]

[01:48:42] lela lela

[01:48:45] lela

[01:48:49] deni wutaning [musik]

[01:48:52] luk

[01:48:59] [musik]

[01:49:14] [bernyanyi]

[01:49:17] [musik]

[01:49:27] sira [musik]

[01:49:42] malungya [musik]

[01:49:57] kalang

[01:49:59] [musik]

[01:50:14] [bernyanyi]

[01:50:16] [musik]

[01:50:34] sebuah persembahan yang luar biasa yang

[01:50:37] ditampilkan, ditarikan oleh

[01:50:39] penari-penari hebat yang begitu apik,

[01:50:42] yang begitu anggun dan juga serempak

[01:50:45] tentu saja dalam persembahan tari.

[01:50:51] Hadirin yang berbahagia, acara

[01:50:54] selanjutnya adalah laporan penyelenggara

[01:50:57] kegiatan sarasehan peringatan peristiwa

[01:51:01] sejarah dalam rangka hari jadi Kabupaten

[01:51:04] Bantul yang ke-195

[01:51:07] dan akan disampaikan oleh Kepala Dinas

[01:51:10] Kebudayaan Kundo Kabudayan Kabupaten

[01:51:14] Bantul. Maka untuk itu kepada yang kami

[01:51:17] hormati Bapak Yanatun Yunadiana, S.S. S.

[01:51:20] M.Si. Kami persilakan.

[01:51:42] Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum

[01:51:44] warahmatullahi wabarakatuh.

[01:51:48] Yang terhormat Bapak Bupati Bantul.

[01:51:52] Yang kami hormati Bapak Wakil Bupati

[01:51:54] Bantul. Yang kami hormati Ketua DPRD

[01:51:58] Kabupaten Bantul. Yang kami hormati

[01:52:01] jajaran Forkom PIMKAP

[01:52:04] Kabupaten Bantul.

[01:52:06] Yang kami hormati Kepala Perangkat

[01:52:09] Daerah Kabupaten Bantul. Yang kami

[01:52:11] hormati para penewu sekabupaten Bantul.

[01:52:15] Yang kami hormati

[01:52:18] narasumber Dr. Ato Ilah, dosen FIB UGM.

[01:52:22] Dr. Lilik Suharmaji, M.Pd., Ketua Pusat

[01:52:25] Studi Mataram.

[01:52:27] Yang kami hormati dan kami banggakan

[01:52:31] Bapak Ketua Warkaban Bapak Dr. Sikit

[01:52:34] Mustofa. sugung rauh Bapak yang kami

[01:52:37] yang para hadirin yang berbahagia

[01:52:39] peserta saresean baik yang hadir di

[01:52:43] parasamnya maupun hadir secara daring.

[01:52:48] Bapak, Ibu yang kami hormati,

[01:52:50] perkenankan kami membacakan laporan

[01:52:53] kegiatan sebagai berikut.

[01:52:56] Latar belakang Kabupaten Bantul memiliki

[01:52:59] sejarah panjang yang menjadi pondasi

[01:53:02] terbentuknya identitas, karakter, dan

[01:53:06] perkembangan penyelenggaraan

[01:53:08] pemerintahan serta kehidupan masyarakat

[01:53:11] hingga saat ini.

[01:53:13] Perjalanan sejarah tersebut tidak

[01:53:15] terlepas dari peran para tokoh bupati

[01:53:18] pendahulu, terutama Kanjeng Raden

[01:53:21] Tumenggung Mangonegoro sebagai bupati

[01:53:24] pertama.

[01:53:26] Memahami dan meneladani nilai-nilai

[01:53:29] perjuangan para kesatria pendahulu

[01:53:31] merupakan bagian penting dalam upaya

[01:53:33] memperkuat jati diri masyarakat

[01:53:36] sekaligus menjadikan sejarah sebagai

[01:53:39] sumber pembelajaran untuk merumuskan

[01:53:42] arah pembangunan yang selaras dengan

[01:53:44] karakter, potensi dan kebutuhan

[01:53:46] masyarakat Kabupaten Bantul

[01:53:50] sebagai bagian dari rangkaian hari jadi

[01:53:52] Kabupaten Bantul ke-195.

[01:53:55] Kegiatan peristiwa kegiatan peringatan

[01:53:58] peristiwa sejarah dalam bentuk saresean

[01:54:01] ini didukung dari dana keistiwaan daerah

[01:54:04] Timbang Jakarta.

[01:54:08] Melalui kegiatan ini diharapkan

[01:54:10] terbangun pemahaman yang lebih

[01:54:12] komprehensif terhadap perjalanan sejarah

[01:54:15] Kabupaten Bantul. tumbuh semangat untuk

[01:54:18] meneladani nilai-nilai satria pendahulu

[01:54:21] serta tercipta perspektif historis yang

[01:54:24] dapat menjadi salah satu landasan dalam

[01:54:27] mendukung pembangunan Kabupaten Bantul

[01:54:30] yang berorientasi kepada kesejahteraan

[01:54:32] masyarakat dan pelestarian nilai-nilai

[01:54:35] budaya selaras dengan tema bantul bumi

[01:54:38] satria darmaning satrio akaryo

[01:54:41] raharjaning nagari.

[01:54:44] Tujuan dan sasaran.

[01:54:46] Tujuan satu, meningkatkan pemahaman

[01:54:49] masyarakat tentang sejarah Bantul. Dua,

[01:54:52] menumbuhkan rasa cinta tanah air dan

[01:54:55] budaya.

[01:54:56] Tiga, menginternalisasi

[01:54:59] nilai-nilai perjuangan kepada generasi

[01:55:02] muda. Keempat, mendorong pelestarian dan

[01:55:06] dokumentasi sejarah.

[01:55:08] Sasaran

[01:55:10] perangkat daerah dan ASN di lingkungan

[01:55:12] Pemerintah Kabupaten Bantul. Dua,

[01:55:14] pelajar dan mahasiswa. Tiga, komunitas

[01:55:18] sejarah dan budaya. Keempat, masyarakat

[01:55:20] umum.

[01:55:22] Pelaksanaan kegiatan

[01:55:24] nama kegiatan peringatan peristiwa

[01:55:27] sejarah Kabupaten Bantul. Tema kegiatan

[01:55:30] Hari Jati Kabupaten Bantul. meneladani

[01:55:33] kepemimpinan KRT Mangunegoro.

[01:55:37] Merajut jejak sejarah menuju terwujudnya

[01:55:39] Kabupaten Bantul yang maju, kuat,

[01:55:42] demokratis, dan sejahtera dalam bingkai

[01:55:46] keberagamaan dan budaya istimewa.

[01:55:49] Tempat dan waktu hari Jumat, 10 Juli

[01:55:54] 2026.

[01:55:56] Waktu pukul 19.00

[01:55:58] WIB sampai selesai. Tempat Pendopo

[01:56:01] Parasamia Kabupaten Bantul. Narasumber

[01:56:04] 1. Dr atau Ilah, Dosen FIB UGM. 2 Dr.

[01:56:08] Lilik Suarmasi, M.Pd. Ketua Pusat Studi

[01:56:10] Mataram.

[01:56:12] Bentuk kegiatan 1. Talk show

[01:56:14] kesejahteraan.

[01:56:16] Du pentas seni bertema sejarah.

[01:56:19] Publikasi sejarah. Empat pembinaan

[01:56:22] komunitas sejarah.

[01:56:27] penutup. Dalam kesempatan ini kami

[01:56:30] mengucapkan terima kasih yang

[01:56:32] sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati

[01:56:35] Bantul, Bapak Wakil Bupati Bantul, Bapak

[01:56:37] Sekda, serta semua pihak yang telah

[01:56:40] membantu terlaksananya kegiatan ini.

[01:56:43] Mohon maaf jika banyak kekurangan dalam

[01:56:45] pelaksanaan kegiatan.

[01:56:49] Nun ngapunten mawab ada sedikit pantun.

[01:56:53] Aura kasih di bawah pohon rambutan.

[01:56:58] Terima kasih. Jika salah mohon

[01:57:01] dimaafkan. Wasalamualaikum

[01:57:03] warahmatullahi wabarakatuh.

[01:57:19] Jalan-jalan ke Bantul bersama Aura

[01:57:21] Kasih.

[01:57:24] Untuk Bapak Kepala Dinas saya ucapkan

[01:57:26] terima kasih.

[01:57:30] Baik Bapak, Ibu, dan juga seluruh

[01:57:32] hadirin yang berbahagia. Untuk

[01:57:34] selanjutnya mari kita saksikan dan tentu

[01:57:38] saja kita simak bersama sambutan

[01:57:40] pengarahan yang akan disampaikan secara

[01:57:43] langsung oleh Bupati Bantul. Maka untuk

[01:57:47] itu kepada yang terhormat Bapak H. Abdul

[01:57:51] Musli kami persilakan.

[01:58:09] Asalamualaikum warahmatullahi

[01:58:12] wabarakatuh.

[01:58:13] Waalaikumsalam.

[01:58:15] Selamat malam. Salam sejahtera bagi kita

[01:58:18] semua. Shalom.

[01:58:20] Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam

[01:58:22] kebajikan.

[01:58:25] Yang saya hormati Wakil Bupati Bantul,

[01:58:28] Bapak H. Arif Suharanto, Esos, M.M.

[01:58:32] Yang saya hormati

[01:58:36] Kapolres Bantul yang diwakili Wakapolres

[01:58:39] Kompol Citra Fatwa Rahmadani, Esos,

[01:58:42] M.M., MIK.

[01:58:44] Yang saya hormati Dandim 0729

[01:58:48] Bantul yang diwakili Kasdim Bapak Mayor

[01:58:52] CBA Suryati.

[01:58:55] Yang saya hormati Kajari Bantul diwakili

[01:58:58] Kasih Pitsus Bapak Muhammad Hindra, S.

[01:59:02] SH. MH.

[01:59:04] Yang saya hormati

[01:59:06] Ketua DPRD Kabupaten Bantul yang

[01:59:09] diwakili Wakil Ketua Komisi A Ibu Dranda

[01:59:13] Ani Widayani, MIP.

[01:59:16] Yang saya hormati

[01:59:19] Ketua Pengadilan

[01:59:21] Agama Bantul diwakili oleh

[01:59:25] Ibu Hajah Titik Handriani, S.H., M.Si.,

[01:59:28] M.H.

[01:59:30] Yang saya hormati Sekda Bantul, Bapak

[01:59:33] Agus Budiraharja, SKM MKes. Yang saya

[01:59:37] hormati Ketua Warkaban warga Kabupaten

[01:59:41] Bantul yang ada di Jabo Detabek, Bapak

[01:59:46] Dr. Sigit Mustofa Nuruddin, ST., M.M.

[01:59:50] Sekaligus beliau ini adalah Dirjen

[01:59:52] Pembangunan dan Pengembangan Kawasan

[01:59:54] Transmigrasi Kementerian Transmigrasi

[01:59:58] Republik Indonesia.

[01:59:59] Yang kami hormati para narasumber.

[02:00:03] Pertama Bapak Dr. Ahmad Athoillah, MA.

[02:00:06] Dosen Sejarah FB UGM dan

[02:00:11] Bapak Dr. Lilik Suharmaji, M.Pd., Ketua

[02:00:16] Pusat Studi Mataram.

[02:00:18] Yang saya hormati

[02:00:20] para asisten, para kepala OPD, kepala

[02:00:25] BUMN, BUMD, para panewu, para tokoh

[02:00:29] masyarakat yang tidak dapat saya

[02:00:32] sebutkan satu persatu. Yang saya

[02:00:34] hormati.

[02:00:37] Alhamdulillah puji syukur ke hadirat

[02:00:39] Allah Subhanahu wa taala, Tuhan yang

[02:00:42] maha kuasa pada malam ini kita dapat

[02:00:46] berkumpul untuk mengikuti sarasehan

[02:00:50] hari jadi ke-195

[02:00:53] Kabupaten Bantul dengan tema Bantul Bumi

[02:00:57] Satria

[02:00:58] Darmaning Satrio Akaryo Raharjaning

[02:01:01] Nagari.

[02:01:03] Ibu, Bapak, dan Saudara-saudara

[02:01:05] sekalian.

[02:01:08] Darmaning satrio akaryo raharjaning

[02:01:11] nagari ini secara harfiah berarti

[02:01:15] pengabdian seorang satria

[02:01:18] hanya akan menciptakan kemakmuran dan

[02:01:20] kesejahteraan

[02:01:22] negara atau nagari dalam hal ini adalah

[02:01:26] daerah.

[02:01:28] Pesan filosofis dari tema ini adalah

[02:01:32] bahwa seorang satria atau pejuang sejati

[02:01:36] tidak mencari kehormatan pribadi,

[02:01:40] melainkan mengemban tugas untuk

[02:01:42] melindungi, mensejahterakan, dan membawa

[02:01:45] kedamaian bagi rakyat dan negerinya.

[02:01:50] Satria tidak terbatas pada pemimpin.

[02:01:54] Namun jiwa satria yang melekat pada

[02:01:56] seluruh masyarakat Bantul

[02:01:59] ini harus dapat menciptakan kemakmuran

[02:02:02] dan kesejahteraan

[02:02:04] masyarakat Bantul.

[02:02:07] Ibu, Bapak, dan Saudara-saudara

[02:02:09] sekalian.

[02:02:12] Sesuai dengan visi Pemerintah Kabupaten

[02:02:15] Bantul, yaitu terwujudnya Kabupaten

[02:02:18] Bantul yang maju,

[02:02:21] kuat, demokratis,

[02:02:24] sejahtera

[02:02:26] dalam bingkai keberagamaan

[02:02:29] dan budaya istimewa.

[02:02:32] Ini adalah semangat yang dijiwai oleh

[02:02:35] para satria di masa lalu.

[02:02:40] Bahwa peringatan hari jadi ini sejatinya

[02:02:43] kita membicarakan diri kita sendiri.

[02:02:47] Pangeran Diponegoro, Sultan Agung, dan

[02:02:51] para pahlawan Bantul saat ini, saat itu

[02:02:56] adalah Koco Benggolo.

[02:03:00] Adalah cerminan yang harus kita gunakan

[02:03:04] untuk membangun Kabupaten Bantul yang

[02:03:06] kita cintai ini.

[02:03:09] Dan sejarah membuktikan bahwa mereka ini

[02:03:14] orang-orang yang berhasil menancapkan

[02:03:17] jiwa-jiwa satria, orang-orang hebat,

[02:03:20] orang kuat, orang kreatif

[02:03:23] milik Kabupaten Bantul.

[02:03:26] Coba ini bukan sekedar klaim tanpa

[02:03:29] bukti.

[02:03:31] Mari kita cermati secara lebih objektif.

[02:03:36] Dan ini diakui oleh berbagai lembaga.

[02:03:40] Misalnya

[02:03:42] Badan Pusat Statistik mengeluarkan data

[02:03:46] ada 10 kabupaten di Indonesia

[02:03:50] yang memiliki indeks pembangunan manusia

[02:03:53] tertinggi IPM

[02:03:55] dan nilai IPM Kabupaten Bantul itu

[02:03:57] sebesar 83,3

[02:04:01] menempati ranking 4 kabupaten seluruh

[02:04:05] Indonesia

[02:04:07] dan

[02:04:09] Brin

[02:04:10] Badan Riset dan Inovasi Nasional

[02:04:13] mengukur indeks daya saing daerah.

[02:04:16] Berapa nilai IDSD indeks daya saing

[02:04:19] daerah Kabupaten Bantul?

[02:04:22] Brin memberikan nilai pada tahun 2025

[02:04:25] baru saja Kabupaten Bantul memperoleh

[02:04:28] nilai IDSD yaitu daerah yang memiliki

[02:04:33] indeks daya saing tinggi sebesar 4,07

[02:04:38] melampaui capaian IDSD DIY sebesar 4

[02:04:43] bahkan mendapatkan urutan keempat juga

[02:04:47] dari seluruh kabupaten di Indonesia.

[02:04:50] Ini artinya apa?

[02:04:54] Ya, ini kalau istilah santrinya namanya

[02:04:58] tahaddus bin nikmah, yaitu

[02:05:01] menyampaikan

[02:05:03] kepada publik bahwa kita ini punya

[02:05:06] keunggulan,

[02:05:08] bahwa kita ini punya kekuatan, maka kita

[02:05:11] harus percaya diri sebagai orang Bantul,

[02:05:14] warga Bantul. Enggak main-main. Yang

[02:05:18] dinilai itu satu lingkungan pendukung.

[02:05:22] Dinilai bahwa Bantul ini memiliki

[02:05:24] lingkungan pendukung

[02:05:27] yang kuat. Dua, sumber daya manusia.

[02:05:31] Nah, ini yang harus kita

[02:05:34] kaji lebih jauh. SDM yang dimiliki

[02:05:37] Bantul. Kemudian yang ketiga,

[02:05:41] pasar. Dan yang keempat adalah ekosistem

[02:05:45] ekonomi.

[02:05:47] Empat hal ini baik oleh BRIN maupun oleh

[02:05:50] BPS Bantul dinilai memiliki indeks daya

[02:05:54] saing

[02:05:56] karena memiliki terutama sumber daya

[02:05:59] manusia yang hebat.

[02:06:02] Bukti kedua ini enggak main-main. Ini

[02:06:05] enggak hanya klaim tanpa bukti. Mari

[02:06:08] kita lihat dengan cermat. Apa toh sumber

[02:06:12] daya alam yang dimiliki oleh Bantul?

[02:06:15] Tidak ada.

[02:06:17] Kita punya sentra industri

[02:06:21] bambu di Muntuk yang hari ini masih

[02:06:23] eksis bahkan berkembang, bahkan

[02:06:26] diekspor. Apakah kita punya bambu?

[02:06:29] Tidak. Kita tidak punya bambu.

[02:06:32] Kita punya sentra industri kulit

[02:06:34] dimanding. Apakah kita ini punya kulit

[02:06:38] juga? Tidak. kulit diimpor dari daerah

[02:06:41] lain. Kita punya sentra industri gerabah

[02:06:45] Kasongan

[02:06:46] yang sekarang berkembang dari gerabah

[02:06:49] tradisional

[02:06:50] menjadi bentuk-bentuk estetik,

[02:06:54] menjadi gerabah modern yang diekspor ke

[02:06:57] mana-mana. Apakah kita punya tanah liat?

[02:07:00] Ayo. Tidak. Tanah liat dari mana? Dari

[02:07:04] Klaten, dari Purworejo, dari Magelang.

[02:07:07] kita impor.

[02:07:09] Kita punya industri home dekor dari

[02:07:14] anyaman serat Abaka. Abaka itu bambu.

[02:07:17] Dari rotan. Dari enceng gondok. Apakah

[02:07:21] kita punya rotan? Punya serat abaka?

[02:07:24] Punya enceng gondok? Tidak.

[02:07:27] semuanya diimpor.

[02:07:30] BPS

[02:07:32] mencatat bahwa 70% ekspor daerah

[02:07:35] Istimewa Yogyakarta itu berasal dari

[02:07:39] Bantul, diproduksi oleh warga Bantul.

[02:07:43] Yang 30% nilai ekspor itu itu dibagi

[02:07:47] Sleman, Gunung Kidul, Kulonprogo, dan

[02:07:50] Kota Yogyakarta.

[02:07:52] Berarti apa kesimpulannya? Dengan ekspor

[02:07:55] yang sebesar itu, Bantul adalah daerah

[02:07:59] yang punya relasi internasional terkuat

[02:08:02] di daerah Istimewa Yogyakarta.

[02:08:05] Nah,

[02:08:09] oke. Mari kita cermati lebih jauh

[02:08:11] tentang SDM Bantul ini. Ini bukan klaim,

[02:08:14] tetapi ini pengamatan yang objektif.

[02:08:19] Dari sekian industri kreatif yang kita

[02:08:22] miliki ini, pertama kita tidak punya

[02:08:26] apapun sumber atau bahan bakunya. Mau

[02:08:30] bambu, mau kayu, serat abaka, enceng

[02:08:34] gondok, apalagi

[02:08:38] tanah liat bahkan kita tidak punya.

[02:08:42] Tetapi

[02:08:44] warga Bantul bisa survive dan eksis

[02:08:48] kehidupan ekonominya karena itu

[02:08:51] semuanya. Kesimpulannya apa? Bahwa warga

[02:08:54] Bantul adalah warga yang memiliki

[02:08:57] kreativitas dan daya tahan yang luar

[02:09:00] biasa. Seandainya tidak ada kreativitas

[02:09:03] itu, saya tidak bisa membayangkan

[02:09:06] bagaimana Bantul itu bisa survive.

[02:09:10] Berbeda misalnya kita dengan

[02:09:11] Banjarmasin, Kutai Kertanegara,

[02:09:14] daerah-daerah itu seandainya

[02:09:17] seluruh warganya tidur saja

[02:09:21] ya, pagi-pagi tinggal ngambil batu bara.

[02:09:24] Batu bara tidak ada di kedalaman tapi

[02:09:27] sudah tampak di permukaan. Tinggal

[02:09:29] ngambil dijual, ngambil dijual. Itu

[02:09:32] mereka hidup. Kita tidak punya nikel,

[02:09:35] tidak punya emas.

[02:09:38] Walhasil sumber daya alam kita hampir ya

[02:09:42] hampir tidak memiliki secara signifikan.

[02:09:46] Tapi dengan kreativitas warga Bantul itu

[02:09:49] enggak main-main. 1 juta jiwa loh. 1

[02:09:53] juta jiwa penduduk Bantul ya nyatane

[02:09:56] bisa makan semua. Nyatane mereka bisa

[02:10:01] survive dan eksis. Inilah satu hal yang

[02:10:05] patut kita syukuri.

[02:10:08] Maka

[02:10:10] ekonomi kreatif dan berpikir kreatif dan

[02:10:13] inovatif ini harus menjadi habit kita,

[02:10:17] harus menjadi budaya kita.

[02:10:20] Maka

[02:10:22] tidak heran Kabupaten Bantul itu

[02:10:25] langganan

[02:10:27] apa? daerah yang mendapatkan penghargaan

[02:10:29] tingkat nasional sebagai daerah yang

[02:10:32] paling inovatif se-Indonesia melalui

[02:10:36] misalnya IGA inovatif government award

[02:10:41] yang setiap tahun di di diselenggarakan

[02:10:44] oleh Kemenpan.

[02:10:47] Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian. dengan

[02:10:49] fakta-fakta yang sangat meyakinkan itu.

[02:10:53] Saya berpikir

[02:10:55] bahwa inilah kekuatan kita yang harus

[02:10:58] kita lestarikan. Mari kita biasakan

[02:11:02] berdiskusi untuk memecahkan masalah ini

[02:11:05] secara kreatif.

[02:11:08] mulai dimulai dari pemerintahnya OPD-UPD

[02:11:12] biasakanlah berdiskusi

[02:11:15] untuk menciptakan satu solusi yang

[02:11:19] kreatif.

[02:11:21] Kreativitas di OPD-OPD ini kita amati

[02:11:24] cukup baik walaupun masih harus terus

[02:11:26] kita dorong.

[02:11:28] Misalnya di sektor kelautan perikanan,

[02:11:31] pantai kita ini hanya 13 km panjangnya.

[02:11:37] Saya sering berdiskusi sama Mbak

[02:11:39] Istriani, hadir orangnya, kepala dinas.

[02:11:43] Coba

[02:11:45] apa namanya kita memproduksi garam

[02:11:49] nyatanya bisa. Coba kita

[02:11:53] memproduksi bandeng

[02:11:56] ini demplotnya

[02:11:58] bisa. Bahkan kita sudah melakukan

[02:12:03] membuat demplot lobster laut yang

[02:12:08] dikembangkan di darat. Walaupun ini

[02:12:10] masih kita amati, kita bersama pakar ini

[02:12:15] masih ada banyak hambatan

[02:12:18] ee yang terus ingin kita perbaiki.

[02:12:22] Malah Pak Sekda ini punya apa namanya?

[02:12:26] Lobster air tawar. Nah, ini kita ini

[02:12:31] [berdehem]

[02:12:31] enggak punya tradisi itu. Tapi Pak Sekda

[02:12:34] telah memulai. Nanti kalau itu sukses ya

[02:12:38] ditular-tularkan Pak Sekda.

[02:12:41] Saya tak juga belajar nanti ya.

[02:12:46] Kemudian bahwa

[02:12:49] dari hasil inovasi dan kreativitas warga

[02:12:52] Bantul inilah

[02:12:54] kita ingin

[02:12:57] jiwa satria itu kita pasang ya pada

[02:13:04] kita semuanya sebagai warga Bantul agar

[02:13:07] kita memiliki daya saing yang semakin

[02:13:10] tinggi. Kita tidak hanya ingin maju

[02:13:13] tetapi juga kuat. kuat itu memiliki

[02:13:18] sustainabil sustainabilitas yang tinggi

[02:13:22] ya. Ora mung berhasil ming sak naliko

[02:13:25] tapi berhasil terus. Nah, tetapi juga

[02:13:29] kita harus demokratis

[02:13:31] ya.

[02:13:32] ide-ide bahkan kritik itu hal yang biasa

[02:13:36] kita menerima kritik maka kritiklah

[02:13:40] pemerintah ya tentu dengan cara-cara

[02:13:43] yang lebih beradab gitu tetapi

[02:13:48] kritik-kritik itu ee sekaligus juga bisa

[02:13:53] merangsang para aparatur kita, para

[02:13:57] birokrasi pemerintah Kabupaten Bantul

[02:14:00] untuk mencari solusi atas

[02:14:02] problem-problem yang kita hadapi.

[02:14:06] Ibu, Bapak, dan Saudara-saudara

[02:14:07] sekalian, hari ini Bantul sudah 195.

[02:14:12] kita

[02:14:14] melakukan refleksi sejauh mana capaian

[02:14:17] yang telah kita capai

[02:14:20] dan masalah apa yang masih tersisa dan

[02:14:24] ternyata banyak. Maka kita harus

[02:14:26] terus-menerus berjuang dengan

[02:14:29] mengerahkan daya dan kreativitas yang

[02:14:32] harus terus kita tumbuh kembangkan.

[02:14:35] Kiranya demikian yang perlu saya

[02:14:37] sampaikan. Terima kasih dan selamat hari

[02:14:40] jadi. Semoga warga Bantul semakin maju,

[02:14:43] semakin sejahtera, semakin harmonis, dan

[02:14:47] bahagia. Wasalamualaikum warahmatullahi

[02:14:51] wabarakatuh. Waalaikumsalam.

[02:15:05] Kami ucapkan terima kasih kepada Bupati

[02:15:08] Bantul, Bapak H. Abdul Halim Muslih yang

[02:15:11] sudah berkenan untuk menyampaikan

[02:15:13] sambutan, pengarahan dalam acara

[02:15:16] sarasehan peringatan peristiwa sejarah

[02:15:19] Hari Jadi Kabupaten Bantul.

[02:15:23] Bapak, Ibu hadirin yang berbahagia,

[02:15:26] kemudian juga pemirsa Bantul TV di mana

[02:15:30] pun berada. Kemudian juga rekan-rekan

[02:15:32] yang sudah bergabung melalui ruang Zoom.

[02:15:36] Pada kesempatan malam hari ini, sesaat

[02:15:39] lagi kita akan segera memasuki acara

[02:15:42] gelar wicara yaitu talk show. Dan kita

[02:15:45] akan bahas bersama berkaitan tentang

[02:15:48] meneladani kepemimpinan Raden Tumenggung

[02:15:52] Mangun Negoro.

[02:15:54] Merajut jejak sejarah Bantul menuju

[02:15:58] terwujudnya Kabupaten Bantul yang maju,

[02:16:02] kuat, demokratis, dan sejahtera dalam

[02:16:06] keberagamaan dan budaya istimewa. Boleh

[02:16:10] kita berikan tepuk tangan terlebih

[02:16:11] dahulu.

[02:16:15] Dan untuk selanjutnya pada sesi diskusi

[02:16:18] kali ini akan hadir rekan saya sebagai

[02:16:21] moderator yaitu saudari Joana Zira atau

[02:16:26] lebih akrab disapa dengan Mbak Jo

[02:16:31] yang merupakan seorang jurnalis dari

[02:16:34] majalah Mentao Dinas Kebudayaan

[02:16:37] Kabupaten Bantul. Kemudian Mbak Jo ini

[02:16:40] juga aktif sebagai seorang penggiat

[02:16:43] literasi. Beliau juga merupakan duta

[02:16:46] gemari baca, duta museum, dan duta

[02:16:50] bahasa. Dan saat ini beliau juga sedang

[02:16:53] menempuh pendidikan S2 di jurusan

[02:16:57] penyuluhan pembangunan Universitas Gadah

[02:17:00] Mada. Maka untuk itu mari bersama-sama

[02:17:03] kita ikuti dan mari kita sambut ini dia

[02:17:06] saudari Joana Zetira.

[02:17:17] Aura Kasih tampil di pensi.

[02:17:21] Terima kasih Mbak MC.

[02:17:24] Bismillahirrahmanirrahim.

[02:17:26] Tumbas bolu bonuse tebu.

[02:17:30] Sugeng dalu Bapak Ibu.

[02:17:34] Ono janoko petuk bupun

[02:17:37] dinten puniko pripun kabaripun?

[02:17:41] Alhamdulillah.

[02:17:43] Asalamualaikum warahmatullahi

[02:17:44] wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita

[02:17:46] semua. Shalom. Om swastiastu. Namo

[02:17:49] buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Dan

[02:17:52] salam sehat untuk kita semua. Salam

[02:17:54] budaya.

[02:17:57] Oh, kurang kurang ini. Kurang. Barang

[02:18:01] siapa yang masih muda jawab salam

[02:18:03] budayanya kencang tak doain dapat pacar.

[02:18:07] Yang sudah punya tambah disayang pacar.

[02:18:09] Kita ulangi. Salam

[02:18:10] budaya

[02:18:13] budayaku

[02:18:14] yang depan ini sudah punya pacar atau

[02:18:16] punya pasangan? Sudah punya pasangan.

[02:18:18] Makin disayang pasangannya pastinya.

[02:18:21] Belum.

[02:18:22] Belum, Pak Sekda. Ampun loh, Pak.

[02:18:25] [tertawa]

[02:18:26] Hadirin sekalian, menyelami tema dan

[02:18:30] semangat bantul bumi satria Darmaning

[02:18:33] Satria Akarya Raharjaning Nagari. Mari

[02:18:37] kita saksikan video berikut ini.

[02:18:56] Yang kini kita kenal sebagai Bantul.

[02:18:59] Tahun 1831,

[02:19:02] Sri Sultan Hamengkubono kelima

[02:19:05] memberikan kepercayaan penuh kepada

[02:19:07] seorang nayaka Kesultanan [musik]

[02:19:08] Yogyakarta, Raden Tumenggung

[02:19:11] Mangunegoro.

[02:19:12] Beliau ditetapkan sebagai bupati pertama

[02:19:15] Kabupaten Bantul.

[02:19:17] 14 tahun lamanya dari 1831

[02:19:21] hingga 1845

[02:19:24] beliau memimpin dengan amanah yang tidak

[02:19:26] ringan menjaga keamanan wilayah pasca

[02:19:29] perang menata birokrasi [musik]

[02:19:31] pemerintahan yang baru terbentuk

[02:19:34] membangun fondasi sosial dan ekonomi

[02:19:36] bagi rakyatnya

[02:19:38] namun lebih dari sekedar jabat Raden

[02:19:42] Tumenggung Mangunegoro mewariskan

[02:19:44] sesuatu yang jauh lebih berharga

[02:19:47] jiwa kesatria, semangat gotongroyong,

[02:19:50] dan cita-cita luhur untuk Bantul yang

[02:19:52] sejahtera.

[02:19:54] Hari ini kita merayakan jejak panjang

[02:19:57] itu. Mengenang sejarah untuk menggenggam

[02:20:00] masa depan.

[02:20:11] Bantul, kabupaten di wilayah selatan

[02:20:14] daerah istimewa Yogyakarta ini tidak

[02:20:16] dibangun di atas tanah yang tenang.

[02:20:19] Perjalanan Bantul dimulai dari

[02:20:21] puing-puing perang Jawa yang mengendap

[02:20:23] di memori rakyatnya.

[02:20:25] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT

[02:20:28] Mangunegoro, dilempar pada badai

[02:20:30] politik, sosial, dan ekonomi yang luar

[02:20:33] biasa.

[02:20:34] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca

[02:20:36] perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus

[02:20:39] mengurus birokrasi dan kesepakatan

[02:20:41] politik demi menghadapi tekanan tanam

[02:20:43] paksa. Bermula dari tanam paksa,

[02:20:46] kebun-kebun tebuk kian membentang di

[02:20:48] Bantul. Deru-deru pabrik gula mulai

[02:20:50] menggeliat di tanah ini. [musik] Demi

[02:20:53] menyokong industri ini, Dam Kamijoro

[02:20:55] dibangun pada tahun 1924

[02:20:58] di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo

[02:21:00] Kusumo.

[02:21:02] Dari masa [musik] ke masa, Bantul terus

[02:21:04] membaca zaman. Rel kereta mengular,

[02:21:06] pasar-pasar riuh di berbagai sudut,

[02:21:08] sekolah-sekolah bermunculan dan mencetak

[02:21:10] para pemikir.

[02:21:18] 33 bupati datang dan pergi silih

[02:21:20] berganti. Masing-masing menorehkan

[02:21:22] [musik] legasi menuntun masyarakatnya

[02:21:24] mendobrak bilik-bilik modernisasi.

[02:21:27] Lantas masyarakatnya terus [musik] diuji

[02:21:29] ditempah.

[02:21:31] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak

[02:21:33] akibat guncangan [musik] gempa 2006,

[02:21:35] semangat gotongroyong masyarakat

[02:21:37] Bantulah yang membawa tanah ini lekas

[02:21:39] pulih dan bangkit lebih kuat. Maka

[02:21:41] rasanya tak salah [musik] apabila Bantul

[02:21:43] Bumi Satria dibawa sebagai nilai jati

[02:21:46] diri masyarakat Bantul untuk berdiri

[02:21:48] tanpa gentar, adaptif terhadap [musik]

[02:21:50] zaman, serta bahu-embahu untuk

[02:21:52] mendongkrak kesejahteraan rakyatnya.

[02:22:11] Tepuk tangannya untuk kita semuanya.

[02:22:15] Bantul Bumi Satria. Yang terhormat Pak

[02:22:18] Bupati Bantul. Segeng dalu Bapak yang

[02:22:21] kami hormati Pak Wakil Bupati. Segang

[02:22:23] dalu, Bapak yang kami hormati pula Ibu

[02:22:26] DPRD segeng dalu. Ibu yang kami hormati

[02:22:30] pula Bapak Sekda Segendalu. Bapak yang

[02:22:34] kami hormati seluruh kepala OPD di

[02:22:37] Bantul dan juga kepala atau ketua

[02:22:40] Warkaban Pak Dirjen Segendalo. Bapak

[02:22:43] senang sekali di malam hari ini saya

[02:22:45] Joana bisa berjumpa dengan Bapak Ibu

[02:22:47] yang semangat untuk mencintai bantulnya

[02:22:50] luar biasa. Semua yang hadir yang cinta

[02:22:53] bantul boleh angkat tangan.

[02:22:56] Hah, kurang semangat. Yang cinta Bantul

[02:22:59] mana suaranya?

[02:23:01] Oh, luar biasa. Tadi di awal di layar

[02:23:05] nama saya kelihatan agak Eropa dikit ya.

[02:23:08] Joanna Maria Zetirada Costa. Enggak

[02:23:10] kerasa bantol-bantolnya. Betul. Betul.

[02:23:14] Meskipun ada Eropa-Eopa dikit, muka saya

[02:23:17] mantel banget sebetulnya. Cuma memang

[02:23:19] ibu saya Cirebon, Bapak saya Timor

[02:23:22] Leste, tapi di jiwa saya hanya Bantul

[02:23:26] seorang.

[02:23:28] [tertawa]

[02:23:29] Maka dari itu di malam hari ini saya

[02:23:31] sangat terhormat bisa berjumpa dengan

[02:23:33] Bapak Ibu sekalian karena saya tumbuh

[02:23:38] dan besar di Bantul dan sebuah

[02:23:40] kehormatan untuk saya Pak bisa menjadi

[02:23:44] bagian dari redaksi majalah Mentao di

[02:23:47] Disbut Bantul yang membuat saya bisa

[02:23:50] berjumpa bertemu dengan para pakar-pakar

[02:23:54] budayawan, sosok-sosok penggerak epis

[02:23:57] Episentrum Kebudayaan di Bantul.

[02:24:00] Applause untuk Bantul Kundo Kebabudayan.

[02:24:04] Tentunya di malam hari ini kita akan

[02:24:06] sama-sama menambah rasa cinta kita

[02:24:08] kepada Bantul di mana kita sudah

[02:24:11] menyaksikan video di belakang layar tadi

[02:24:15] dan seiring dengan yang telah

[02:24:17] disampaikan Pak Bupati tadi di awal

[02:24:20] bahwa ketika saya pernah wawancara Pak

[02:24:23] dengan narasumber majalah Menta

[02:24:25] budayawan penerimaan duga penghargaan di

[02:24:27] Bantul beliau bilang, "Mbak Bantul ki

[02:24:30] opo-opo duwe Gu

[02:24:33] budayawan tak terhitung jumlahnya,

[02:24:36] seniman tak terhitung jumlahnya.

[02:24:39] Mungkin potensi alamnya enggak sebegitu

[02:24:41] banyak, tapi SDM-nya luar biasa. Setuju?

[02:24:45] setuju

[02:24:46] setuju dan maka dari itu di tema yang

[02:24:50] luar biasa di malam hari ini kita akan

[02:24:53] berbicara tentang sebuah tema yang akan

[02:24:57] mengajak kita bukan hanya sekedar

[02:25:00] menengok masa lalu dan juga bukan

[02:25:03] sekedar meromantisasi masa lalu. Tema

[02:25:07] kita akan mengajak kita untuk mengenal

[02:25:10] diri kita sendiri sebagai warga Bantul.

[02:25:14] Temanya adalah

[02:25:16] menadani kepemimpinan Raden Tumanggung

[02:25:18] Mangunegoro

[02:25:19] yang akan sama-sama kita bedah untuk

[02:25:22] melihat bagaimana jejak sejarah

[02:25:26] 195 tahun yang lalu itu bisa menjadi

[02:25:30] Kompas Bantul yang terus maju, kuat,

[02:25:36] demokratis, dan sejahtera. Untuk itu

[02:25:39] kita akan berjumpa dan dibersamai untuk

[02:25:41] diskusi dengan dua Begawan sejarah yang

[02:25:44] luar biasa. Izin saya akan panggil untuk

[02:25:48] bergabung ke atas panggung. Yang pertama

[02:25:50] adalah dosen sejarah UGM. Berikan tepuk

[02:25:54] tangan yang meriah untuk Bapak Dr. Ahmad

[02:25:56] Ato Ilah.

[02:26:05] Sugeng dalu, Pako. Wah. Ah, ini agak

[02:26:09] susah berdiri. Maaf ya, Pak. [tertawa]

[02:26:11] Sudah PW soalnya. Sehat, Pak. Kita cek

[02:26:14] mikon boleh, Pak, di belakang.

[02:26:17] Kalau hari ini pakai batik motif apa,

[02:26:19] Pak?

[02:26:20] Kita uji. [tertawa]

[02:26:22] Monggo, Pak Ao.

[02:26:24] Kurang tahu ya, Mbak.

[02:26:27] Karena ini batik dari wira desa, Mbak.

[02:26:29] Wow.

[02:26:30] Iya. Dari ee Bupati Pekalongan, Pak.

[02:26:33] Wow.

[02:26:34] ketika memperingati seorang bupati besar

[02:26:37] bernama Jayengrono.

[02:26:39] Oh.

[02:26:39] J sana bupati itu diperingati dalam

[02:26:42] rangka festival bupati. Jadi kayak

[02:26:45] festival Mangonegoro gitu.

[02:26:46] Wow. Tepuk tangan dong untuk beliau.

[02:26:50] Selanjutnya kita akan melengkapi diskusi

[02:26:52] di malam hari ini ya Pak ATO dengan

[02:26:55] sosok yang luar biasa. Beliau merupakan

[02:26:58] Kepala Pusat Studi Mataram. Tepuk tangan

[02:27:01] yang meriah untuk Bapak Dr. Lili

[02:27:03] Suharmaji.

[02:27:07] Wow, sugeng dalu, Pak Lili.

[02:27:16] Semonggo, Pak Lili. Oh, iya.

[02:27:18] Asalamualaikum, Pak.

[02:27:21] Monggo, Pak Lili. Izin, Pak. Boleh

[02:27:22] digeser? Iya, Pak Lili. Kita uji dulu

[02:27:26] Pak hari ini motifnya apa, Pak?

[02:27:28] Batiknya, Pak.

[02:27:30] Nah, ini di luar skrip ini, Pak. Di luar

[02:27:33] skrip ini.

[02:27:35] Enggak tahu, Mbak. [tertawa]

[02:27:37] Ngapa, Pak.

[02:27:37] Yang jelas pemberian orang saya pakai.

[02:27:40] Asik. Tepuk tangan untuk beliau.

[02:27:43] Apapun motif batiknya, kita semua

[02:27:45] berkumpul dengan rasa cinta yang sama.

[02:27:47] Betul ya, Pak ya. Cinta pada bantul

[02:27:50] tercinta pastinya.

[02:27:52] Untuk mendiskusikan hal yang sangat

[02:27:54] fundamental dan juga dekat dengan

[02:27:56] kehidupan sehari-hari kita ini, maka

[02:27:59] kita akan memulai diskusi terlebih

[02:28:01] dahulu dengan membuka kembali lembaran

[02:28:05] sejarah dari akar yang paling dalam.

[02:28:08] Kenapa sebetulnya, Pak, tanggal 20 Juli

[02:28:12] 1831

[02:28:14] dipilih?

[02:28:16] Dan mengapa tanah Bantul yang begitu

[02:28:18] sakral bagi perjuangan Pangeran

[02:28:21] Diponegoro dan sejauh mana Pleret

[02:28:24] menjadi jangkar berdirinya peradaban

[02:28:27] Mataram. Nah, semua pertanyaan besar ini

[02:28:29] akan langsung dibahas oleh narasumber

[02:28:33] pertama kita. Beliau merupakan seorang

[02:28:36] akademisi,

[02:28:37] peneliti senior sekaligus dosen

[02:28:40] departemen sejarah di Fakultas Ilmu

[02:28:42] Budaya UGM. Kiprah beliau dalam meneliti

[02:28:46] sejarah sosial politik dan simpul-simpul

[02:28:49] perjuangan lokal di Jawa sudah tidak

[02:28:52] diragukan lagi. Melalui perspektif

[02:28:55] krisis beliau, kita akan diajak untuk

[02:28:58] melintasi lorong waktu melihat Bantul di

[02:29:03] masa perang Diponegoro. Maka langsung

[02:29:07] kita sambut dengan tepuk tangan yang

[02:29:08] meriah, Bapak Dr. Ahmad.

[02:29:11] Sumonggo Pak Aung.

[02:29:16] Sumonggo Pak AT.

[02:29:18] Oke, matur nuwun ee

[02:29:22] seang dalu sedanten. Asalamualaikum

[02:29:24] warahmatullahi wabarakatuh. P Bapak Pati

[02:29:27] yang saya hormati, Pak Wabuk ya, Ibu DPR

[02:29:30] yang saya hormati, Bapak Kejaksaan dari

[02:29:34] Kapoles dari Dandim, Pak Sekda, Pak

[02:29:37] Kadis Buddha yang saya hormati

[02:29:39] dan anu Mbak ini saya di WA

[02:29:43] banyak banget para teman-teman pegawai.

[02:29:45] Wah, [tertawa]

[02:29:46] jadi semua bilangnya begini, "I aku

[02:29:49] ditugasi kon ngeresume."

[02:29:51] [tertawa]

[02:29:52] Jadi banyak sekali yang apa ee WA e

[02:29:56] kreatif sekali ya berarti ya. Jadi semua

[02:29:58] menyimak ini jadi ee ee apa

[02:30:02] saya rasa ini metode yang tepat ya untuk

[02:30:05] pembelajaran sejarah lokal seperti ini

[02:30:07] karena memang sejarah lokal tuh ya yang

[02:30:08] menikmati ya kita-kita ini diseminasinya

[02:30:11] ya memang untuk kita. Nah, ee pertama

[02:30:14] [berdehem]

[02:30:15] sejak awal ketika saya bergabung di

[02:30:18] dinas, bukan bergabung bekerja ya, ee

[02:30:21] diajak sering membantu Dinas Budayaan

[02:30:23] Bantul. Saya tuh paling senang nyebut

[02:30:25] Bantul itu adalah negara Gading atau

[02:30:28] Gading Mataram. Jadi, sudah tidak ada

[02:30:30] nama yang lebih akurat lagi selain itu

[02:30:34] setahu saya sepemahan saya kalau kita

[02:30:37] mau ha

[02:30:38] dikembalikan ke mataram. Oh, jangan.

[02:30:40] [tertawa]

[02:30:41] [terkesiap]

[02:30:41] Ee banyak orang dulu menyebut Bantul itu

[02:30:43] Lipuro. Tapi kalau Lipuro kan cuman situ

[02:30:46] itu ya, ada Palbapangul didik. Tapi

[02:30:48] kalau negara Gading itu adalah Pasir

[02:30:52] Mendit itu sampai ke timur sampai Opak.

[02:30:56] Jadi sebenarnya bagian selatan itu kalau

[02:30:59] yang utara namanya Mataram Kerajen,

[02:31:01] kalau yang selatan namanya Mataram

[02:31:03] Gading. Problemnya adalah yang

[02:31:05] Kulomprogo itu Mataram Gadingnya

[02:31:07] kemudian milik Pangeran Otokusumo atau

[02:31:10] Pakualamat. [mendengus] Nah, pertama

[02:31:12] [berdehem]

[02:31:13] saya ingin menyampaikan ee tentang dua

[02:31:16] peradaban penting ya, Teman-teman,

[02:31:18] saudara-saudara saya yang ada di e di

[02:31:20] Bantul semuanya. Jadi kalau kita bicara

[02:31:23] tentang Bantul itu kita punya dua IKN

[02:31:26] ibu kota apa Nusantara ya namanya Kerto

[02:31:31] dan Pleret. Nah, saya ingin menyampaikan

[02:31:33] sebenarnya apa yang pernah nanti saya

[02:31:35] akan menyambut Pak Bupati tadi apa Pak

[02:31:37] Bupati tadi kan mengatakan seolah-olah

[02:31:40] [berdehem]

[02:31:40] menurut Pak Bupati kalau Mbah Tulgi

[02:31:43] ekspor okeh berarti jaringannya lebih

[02:31:45] global gitu kan seperti itu. Nanti akan

[02:31:47] saya sampaikan sebenarnya kapan kemudian

[02:31:49] Mbah Anul itu tertarik atau terseret

[02:31:52] dalam pusaran global. Saya rasa kemudian

[02:31:54] nanti Pak Bupati tadi juga sudah

[02:31:56] menyinggung cara santri kayak gitu ya.

[02:31:58] Nanti kan saya akan saya haturkan. Nah,

[02:32:01] pertama memang sejak awal

[02:32:04] ee Sultan Agung, jadi nama Sultan Agung

[02:32:08] itu baru muncul di PP2 nggih Bapak Ibu.

[02:32:11] Nggih. Jadi enggak pernah ada nama

[02:32:13] Sultan Agung. Jadi di masanya dia

[02:32:16] sendiri dia tidak pernah mengatakan

[02:32:18] dirinya Agung. Jadi yang menyebutkan

[02:32:20] Agung itu Pakubono 2. Jadi berapa tahun

[02:32:23] setelah? Setelahnya jauh. Yang menyebut

[02:32:26] Agung itu hanya satu putranya itu

[02:32:28] disebut amangkurat agung. kayak gitu.

[02:32:30] Jadi kalau beliau sendiri hanya

[02:32:32] nyebutnya susuh ning Mataramu. Nah,

[02:32:34] nanti akan saya sampaikan gelar beliau.

[02:32:36] Nah, ee memang sejak awal setelah

[02:32:40] ayahandanya kan seorang pembangun besar

[02:32:42] ya yang namanya Anyokrowati Sedokria itu

[02:32:44] kan raja suka membangun. Nah, itu

[02:32:47] kemudian bergeser ke selatan itu sejak

[02:32:49] tahun 1620

[02:32:52] itu kemudian beliau mulai membangun yang

[02:32:54] namanya Kerto.

[02:32:56] Ee Bapak Ibu sekarang untuk membayangkan

[02:32:58] bagaimana spasial kerto luasnya kerto

[02:33:01] itu adalah jika sebuah meriam dibunyikan

[02:33:05] Nago siluman atau apa jler itu ya itu

[02:33:07] maka akan berkumpul 200.000 prajurit

[02:33:10] berisi pengawal infantri dan cavaleri.

[02:33:13] Jadi kalau pasebani jelas enggak mungkin

[02:33:17] 200.000 bisa berkumpul. Jadi luasnya

[02:33:20] kerto itu adalah patokannya adalah suatu

[02:33:23] tempat mendengar meriam 200.000 bisa

[02:33:25] berkumpul. Saking luasnya kerto itu

[02:33:28] karena untuk bisa berkumpul 200.000

[02:33:30] dalam satu suara meriam. Jadi itulah

[02:33:33] kemudian ee untuk mengukur ee luasnya

[02:33:37] Kerto. Nah, kemudian dari Kerto inilah

[02:33:39] dari dusun kecil yang sekarang namanya

[02:33:41] Kerto itu beliau mendapat gelar

[02:33:44] Susuhunan. Jadi memang gelar beliau itu

[02:33:46] bukan Sultan tapi Susuhunan Sultan Agung

[02:33:49] itu yaitu pada tanggal 15 Agustus 1624.

[02:33:53] Nah, selanjutnya

[02:33:55] ee dari Kerto inilah semua

[02:33:59] strategi-strategi Sultan Agung

[02:34:01] menaklukkan titik simpul laut. Saya

[02:34:04] tidak mengatakan menaklukkan darat lagi.

[02:34:07] Jadi kalau kelasnya Sultan Agung itu

[02:34:09] tidak pernah berurusan dengan darat,

[02:34:11] tapi Sultan Agung itu selalu berurusan

[02:34:13] dengan laut saya rasa. Kemudian kalau

[02:34:15] ada sebuah pendapat yaitu yang namanya

[02:34:17] Among Tani dagang layar sudah yang

[02:34:20] namanya layar itu sudah dikembangkan

[02:34:22] sejak ee Demak dan Sultan Agung mewarisi

[02:34:25] itu dengan baik. Nah, banyak penaklukan

[02:34:28] yang sangat luar biasa yang kemudian

[02:34:30] Sultanagu menjadi rasa besar. Raja besar

[02:34:32] adalah penaklukan Surabaya. Nah,

[02:34:35] penaklukan Surabaya ini sebagai bukti

[02:34:36] kemudian pangerannya Surabaya itu bisa

[02:34:39] kita taklukkan dan kita punya budaya.

[02:34:41] Jadi Pangeran budayawan pertama kali di

[02:34:44] Matram itu adalah Pangeran Pekik yang

[02:34:47] sumare wonten Banyu Sumurup. Jadi kalau

[02:34:51] mau tanya siapakah budayawan Mataram?

[02:34:53] Berarti jawabannya adalah Pangeran

[02:34:56] Pekik. Jadi kalau Bantul punya banyak

[02:34:58] budayawan, maka memang dibantulah ada

[02:35:01] seorang budayawan besar Mataram bernama

[02:35:03] Pangeran Pekik. itu beliau membuat

[02:35:05] wayang, beliau membuat banyak hal dan

[02:35:07] ada makam seniman juga, Mbak. Khusus

[02:35:08] Mbantul seperti itu. [tertawa]

[02:35:11] Nah, selanjutnya ee dari Bantulah

[02:35:15] kemudian banyak daerah-daerah yang

[02:35:17] ditaklukkan seperti Betawi, Jakarta ya,

[02:35:21] Sukadana, Pati, terus Giri dan

[02:35:24] Blambangan. Lah ini centop sekali ya.

[02:35:27] Ayahnya mengalahkan Sunan bukan

[02:35:29] mengalahkan Sunan ya, membawahi pengaruh

[02:35:32] Sunan. yang anaknya nanti membawahi

[02:35:35] pengaruh Cirebon. Jadi ada dua daerah

[02:35:38] Wali Songo yang kemudian bisa ditekuk

[02:35:40] oleh Mataram ini adalah Giri dan Cirebon

[02:35:42] pada waktu itu. Karena apa? Karena

[02:35:44] Sultan Agung akan malas kalau ini tidak

[02:35:46] ditekuk nanti legitimasi raja itu selalu

[02:35:48] dari Sunaniri. Jadi kalau Sunaniri ini

[02:35:50] enggak dikalahkan nanti pasti ada raja

[02:35:53] baru. Karena yang bisa mengesahkan raja

[02:35:55] di Jawa itu hanyalah Sunanri. Jadi

[02:35:57] caranya seperti itu. Jadi yang

[02:35:59] dihancurkan itu bukan Sunaninya, tapi

[02:36:01] pengaruhnya agar tidak ada raja lagi

[02:36:04] kembar selain raja di Mataram. Nah,

[02:36:06] kemudian ada sekitar 25 orang naik kapal

[02:36:11] Inggris yang diutus ini Pak Bupati ke

[02:36:14] Makkah yaitu untuk minta gelar. Kemudian

[02:36:18] beliau diberi gelar bernama Sultan Abdul

[02:36:21] Mahomed Maulana Mataram. Nah, inilah

[02:36:24] saya rasa pertama kali ee Sultan Agung

[02:36:28] kemudian terbiasa sekali ee berpesan

[02:36:31] kirim pesan dengan ee orang-orang Islam

[02:36:34] di Makkah. Kemudian juga ee ada beberapa

[02:36:38] informasi bahwa sebenarnya ketika

[02:36:39] penyerangan Batavia ee Betawi itu

[02:36:42] sebenarnya Sultan Agung sedang sudah

[02:36:44] bersurat dengan ee angkatan laut

[02:36:47] Portugis. Jadi sebenarnya sejak masa

[02:36:50] beliaulah

[02:36:51] ee Bantul itu sudah menjadi global

[02:36:55] seperti itu. Jadi sudah biasa dulu pada

[02:36:57] waktu itu raja bersurat-suratan dan

[02:36:59] buktinya juga sekarang ada di Mogiri ada

[02:37:01] kunci dari Ngerum, ada kunci dari

[02:37:03] beberapa negara. Nah, dari Kerto jugalah

[02:37:07] pertama kali Babat Tanah Jawa itu

[02:37:09] dituliskan. Keren ya. Jadi kota literasi

[02:37:12] pertama Mataram. Nah, kemudian

[02:37:14] selanjutnya adalah ee dari Kerto itu

[02:37:17] kemudian ee Sultan Agung ini bisa

[02:37:20] mengontrol berbagai daerah di wilayah

[02:37:22] luar yaitu Makassar, Palembang, Jambi,

[02:37:26] dan Cirebon. Jadi kalau hobinya Sultan

[02:37:29] Agung dan anaknya ini tapi yang paling

[02:37:31] keras anaknya yang amangat ini, itu

[02:37:34] hobinya adalah seperti Iran, Pak. Jadi

[02:37:36] kalau macam-macam tutup Selat Malaka. W

[02:37:40] kayak gitu.

[02:37:41] [tertawa]

[02:37:41] Jadi saya membayangkan banget ini kayak

[02:37:44] dulu misalnya Portugis mau macam-macam

[02:37:46] ya sudah berasnya dari Matram itu kita

[02:37:48] blok di Malaka ya sudah enggak bisa.

[02:37:51] Jadi dulu bisa-bisanya seorang raja yang

[02:37:54] berduduk di kerto itu bisa mengatur

[02:37:59] apao laut Indonesia ini melalui

[02:38:02] tutupmenutup Selat Malaka. Nah, dengan

[02:38:05] [mendengus] mengerahkan Palembang dan

[02:38:06] Jambi. Nah, ini saya rasa hanya

[02:38:08] satu-satunya Raja Mataram yang bisa

[02:38:10] menutup laut ya cuman bapak anak ini

[02:38:12] aja. Tapi yang paling lebih hebat adalah

[02:38:14] anaknya nanti yang Amangat Agung. Karena

[02:38:17] amangrat Agung itu menurut saya adalah

[02:38:19] satu-satunya raja angkatan laut terbesar

[02:38:21] dan terbaik di Mataram. Tidak ada

[02:38:23] duanya. Nah, setelah itu tidak ada lagi.

[02:38:26] Maka memang kalau logika militer mungkin

[02:38:28] dari Pak Damdim bisa anu karena sking

[02:38:30] kuate angkatan laute maka ketika darat

[02:38:32] diserang itu kosong. Daerah apa? Daerah

[02:38:35] Mataram Selatan itu malah justru kosong

[02:38:37] karena pusat kekuatannya semua ditaruh

[02:38:39] di Jepara, di Demung, di Panarukan

[02:38:41] seperti itu. Nah, selanjutnya ee Sultan

[02:38:45] Agung ini juga membangun makam

[02:38:48] Pajiimatan Mogiri. Nah, pas ketika

[02:38:51] bangun makam inilah saya menduga ada

[02:38:52] COVID pada waktu itu. Sultan Agung tuh

[02:38:55] kondur dari Mogir itu flu terus mboten

[02:38:59] kerso ngunjuk obat sampai akhire sedo.

[02:39:02] Jadi memang sedone terakhir adalah flu

[02:39:04] dari Imogiri. Nah, seperti itu. Itu

[02:39:07] konduripun Sultan Agung. Nah, sekarang

[02:39:09] kita bicara tentang peleret. Nah, Bapak,

[02:39:12] [berdehem] Ibu kalau kita bicara tentang

[02:39:13] pleret ya, Pleret itu ee adalah istana

[02:39:18] termegah sepanjang masa yang tidak

[02:39:20] pernah ada yang bisa menyaingi kecuali

[02:39:24] HP 1. Jadi kalau kakeknya dulu membuat

[02:39:27] Segoroyoso, cucunya membuat taman Sari

[02:39:30] seperti itu. Nah, ini memang dulu Sunan

[02:39:32] Kiri pernah memberikan simbol e membuat

[02:39:34] danau buatan seperti itu. Nah, dalam

[02:39:38] sejarah PLet ini pertama kalilah seorang

[02:39:40] raja meminta agar semua masyarakatnya

[02:39:45] membuat batu bata. Jadi, kalau Bapak,

[02:39:47] Ibu tinggal di player nanti menemukan

[02:39:48] batu bata yang ukurannya besar, itu

[02:39:50] memang perintah dari beliau. Dan batu

[02:39:52] batanya nanti lucu-lucu. Jadi, misal

[02:39:54] kalau daerah mana itu tandanya apa?

[02:39:55] Kalau daerah mana tandanya apa, jadi

[02:39:57] nanti batu bata yang ditemukan nanti

[02:39:59] akan serinya bermacam-macam seperti itu.

[02:40:01] Nah, kemudian ee ditempati tahun 165.

[02:40:05] Nah, beliau juga membangun Segarayasa di

[02:40:09] daerah Pleret. Tapi lucunya tenaganya

[02:40:12] semua dari Karawang. Kita bayangkan.

[02:40:15] Coba kita bayangkan kalau 500 orang

[02:40:18] Karawang datang ke sini aja kan kayak

[02:40:20] sekarang kebalik ya. Kita yang kerja di

[02:40:21] Karawang. [tertawa]

[02:40:23] Dulu kalau zaman Amamangr tuh orang

[02:40:25] Karawang yang kerja ke sini, orang

[02:40:27] Jakarta yang ke sini. bukan kita malah

[02:40:29] yang ke sana seperti itu. Itu

[02:40:30] menunjukkan kalau mangpeler itu yo dulu

[02:40:32] ya memang apa ya sangat kuat sekali

[02:40:34] seperti itu. Nah, kemudian berani juga

[02:40:37] berkonflik dengan Banten. Ora ono sing

[02:40:40] pernah nantang Banten. Kejobo amangat 1

[02:40:43] ini aja. Jadi ee kalau ada sejarah

[02:40:46] tentang bajak laut di Indonesia, kapan

[02:40:49] bajak laut itu mulai muncul di

[02:40:50] Indonesia? Di laut Nusantara ketika

[02:40:53] Banten roboh. Karena Banten ini adalah

[02:40:55] polisinya laut. Ketika polisinya laut

[02:40:57] roboh, maka bajak laut muncul. Lah itu

[02:41:00] aja diserang kok sama Mangrat 1 ini.

[02:41:03] Nah, luar biasa gitu. Nah, selanjutnya

[02:41:05] beliau juga sangat dekat dengan

[02:41:08] Palembang dan Jambi sebagai blokade

[02:41:10] Selat tadi ya. Nah, selanjutnya di masa

[02:41:13] Sultan ee Sunan Amangkurat ini di Pleret

[02:41:16] inilah ada sensus pertama kali

[02:41:19] sensus ya sensus oleh Amanat Agung ini

[02:41:22] dilaksanakan setahun. Kalau Pak Bupati

[02:41:25] ono biro pusat statistik di zamanurat

[02:41:28] Agung ning Pleret itu sudah ada biro

[02:41:31] pusat statistik Pleret di masa itu ya

[02:41:34] saya kemarin ada teman yang cerita sama

[02:41:37] Sultan Sunan ee Sunan Amangat Agung ini

[02:41:41] kalau sedang judek kalau pusing gitu ya

[02:41:44] itu hobinya main layang-layang.

[02:41:46] Jadi kalau sekarang di perang Titis kok

[02:41:49] ana ono festival layang-layang lah wong

[02:41:52] Amangatagung aja dulu memang senangnya

[02:41:53] main layang-layang seperti itu. Nah,

[02:41:56] selanjutnya di masa beliaulah Pleret

[02:41:59] juga menjadi gudang beras yang tidak

[02:42:02] bisa dikalahkan di manapun ya karena

[02:42:04] berasnya Karawang dibawa ke sini semua

[02:42:06] ya seperti itu. Nah, kemudian ee beliau

[02:42:09] menahan serangan-serangan dari beberapa

[02:42:12] kelompok ya. Jadi ada kelompok yang

[02:42:15] paling berbahaya sekali adalah kelompok

[02:42:17] dari Makassar. Jadi sebenarnya Makassar

[02:42:19] itulah yang pertama kali menggerogoti

[02:42:21] kekuatan Makassar itulah yang

[02:42:22] menggerogoti ee kekuatan Mataram. Nah,

[02:42:26] sekarang kalau Bapak Ibu tindak di Jalan

[02:42:28] Magelang nanti ada makam Wahidin. Nah,

[02:42:30] di situ ada makam namanya King Daeng

[02:42:32] Naba lah. Itu adalah grup dari penyerang

[02:42:34] itu. Nah, kemudian ee otak dari serangan

[02:42:38] kepada ini adalah Raden Kajor dan

[02:42:40] Klaten. Didukung dengan pasukan dari

[02:42:43] Madura. Jadi, kita tuh dikepung tiga

[02:42:44] orang. Dikepung grup Makassar, dikepung

[02:42:47] grup Madura, dan dikepung oleh grup

[02:42:50] Klaten. Min khusus Kajoran. Dusunnya

[02:42:53] kecil banget Kajoran. lagi sekarang tuh

[02:42:55] ming dusunah cilik banget. Nah, kemudian

[02:42:59] Pet runtuh pada 28 Juni 167.

[02:43:04] Pertanyaan besarnya Bapak Ibu,

[02:43:07] Bantul itu kemudian jadi kosong wilayah

[02:43:09] ini. Jadi habis jadi kota mewah,

[02:43:12] gembar-gembar. Semua menteri berkumpul

[02:43:14] di situ, semua acara di situ. Tiba-tiba

[02:43:17] setelah tahun 167 ini tidak ada apa-apa.

[02:43:22] sepi.

[02:43:24] Saya menghitung Bantul ini mengalami

[02:43:26] kekosongan, keramaian itu 78 tahun.

[02:43:30] Hampir satu abad tidak ada apa-apanya.

[02:43:34] Kemudian baru ada kes ee kesultanan pada

[02:43:37] tahun 175.

[02:43:39] Jadi kita bayangkan 167 sampai 1755

[02:43:43] itu tidak ada apa-apa. Nah,

[02:43:45] pertanyaannya siapakah yang pada waktu

[02:43:47] itu ada di Bantul? Beliau adalah grup

[02:43:52] keluarga gajah

[02:43:54] ya. Saya menyebutnya paling senang

[02:43:55] keluarga gajah. Beliau adalah keluarga

[02:43:58] grup jejeran.

[02:44:01] Nah, jejeran ini memang sejak awal ee

[02:44:04] menjadi ee pendukung ee nek saya

[02:44:07] mengatakan di sini bahasane yo bahasa

[02:44:09] saya adalah sebagai keluarga pendukung

[02:44:12] sarpras sarana dan prasarana. Jadi

[02:44:16] selama kerto adab, peleret ada itu ya

[02:44:18] mendukung ya jejerane. Saya membayangkan

[02:44:21] mungkin itu kayak Jakarta itu kayak

[02:44:22] Tangerangnya, Bekasinya ee

[02:44:25] pinggiran-pinggiran seperti itu. Nah,

[02:44:28] keluarga gajah ini punya sumbangs yang

[02:44:31] besar terhadap Kesultanan Yogyakarta dan

[02:44:33] perang Jawa tanpa disadari. pertama ee

[02:44:37] salah satu keluarga beliau dari

[02:44:39] keturunan gajah ini ada yang bernama

[02:44:43] Tumenggung Joyowinoto.

[02:44:45] Nah, Temenggung Jawinoto sekarang

[02:44:47] makamnya di belakang masjid Jerren itu.

[02:44:49] Beliau adalah pendukung setia ketika

[02:44:52] Mangku Bumi mengadakan perlawanan.

[02:44:55] Nah, dan Joyow Winoto inilah kemudian

[02:44:57] yang juga dipasrahi sama Mangku Bumi

[02:45:01] untuk membangun Kedaton di Amber

[02:45:03] Ketawang, menjualkan batu kambing,

[02:45:06] mengolah batu kambing, akhirnya berdiri

[02:45:08] keraton Yogyakarta. Itu ternyata

[02:45:12] pemodalnya, pembangunnya, pendukungnya

[02:45:15] wong jejer. Nah, seperti itu. Nah,

[02:45:19] sekarang nyambung di perang Jawa. Perang

[02:45:22] Jawa yang hebat sama 5 tahun.

[02:45:25] Sekarang nggih Pak Dandim bisa

[02:45:28] membayangkan untuk ABRI masuk desa

[02:45:30] sehari di dusun Sewon iki rapate rong

[02:45:33] minggu loh mbak. Ibu-ibu gawe sego nek

[02:45:35] abrine teko. Bayangke nek perang 5 tahun

[02:45:38] Pak Le rapat berapa bulan persiapannya.

[02:45:42] Nah bagaimana modal perang Diponegoro

[02:45:45] yang paling luar biasa untuk perang 5

[02:45:46] tahun ini? Memang Diponegoro mendapatkan

[02:45:49] modal dari ketika menjarah atau

[02:45:52] menghadang pasukan di pisangan, Sleman.

[02:45:54] Betul. Tapi semua itu dikumpulkan di

[02:45:58] Selarung. Nah, perlu diketahui bahwa

[02:46:00] salah satu keluarga gajah ini, jejeran

[02:46:02] ini, itu ada senopati Mataram bernama

[02:46:06] Sumoiningrat. Nah, itu dulu Somoingrat

[02:46:08] ini adalah pemilik tanah Palungguh,

[02:46:11] Selarong.

[02:46:13] Nah, ketika ee beliau meninggal karena

[02:46:16] Geger Spi, maka tanah itu dikelola oleh

[02:46:19] Pangeran Diponegoro.

[02:46:21] Nah, ini jadi Diponegoro itu mewarisi

[02:46:25] tanah dari Sumoiningrat ini yang ada di

[02:46:28] Selarong. Maka kemudian Diponegoro bisa

[02:46:30] menjadikan Selarong itu sebagai pusat

[02:46:32] militernya, pusat pendidikannya karena

[02:46:34] ditemukan sebuah serat di sana. Membikin

[02:46:37] kebun-kebunnya, membikin gua-guanya,

[02:46:39] membikin tempat tidur dan sebagainya.

[02:46:41] Dan ini ditata sangat rapi sejak 1811

[02:46:45] sampai 1825. Artinya di Ponegoro itu

[02:46:48] sudah menata di selarong semuanya.

[02:46:51] Dan itu adalah dari Temenggung Gajah.

[02:46:53] Berarti yang perlu kita ingat bahwa

[02:46:56] selama 78 tahun itu kita disangga,

[02:46:58] Bantul itu disangga oleh keluarga ini.

[02:47:01] Nah, yang paling penting selanjutnya

[02:47:04] next. Nggih. Ini adalah ee bentuk

[02:47:07] ee silsilah ya kayaknya. Next. Nah,

[02:47:10] seperti ini silsilahnya yang saya pahami

[02:47:12] dengan cepat ya. Nah, pertama ee yang

[02:47:16] Tumenggung Jaya Winoto ini disebut Gajah

[02:47:19] Gede, kemudian anaknya disebut Gajah

[02:47:22] Cilik, kemudian anaknya lagi disebut

[02:47:24] Gajah Treno. Maka saya senang menyebut

[02:47:27] dengan keluarga gajah atau keluarga

[02:47:29] Tumenggung Gajah. Dan ini adalah asli

[02:47:33] dari Jejeran. Tapi yang ee Kiai Ageng

[02:47:36] Krian ini keluarga dari Blagulopadi.

[02:47:39] Jadi sebenarnya kenapa keluarga Jejeran

[02:47:41] ini sangat ampuh sekali? Karena dua

[02:47:45] keluarga jejeran ini mewarisi dua darah

[02:47:47] pemenang. Jadi kan dulu ketika ee ee

[02:47:51] pemanahan itu ee senopati berhasil

[02:47:54] membunuh penangsang itu kan dapat

[02:47:56] undian. Yang ee

[02:48:00] pemanan dapat mentaok, yang pati dapat

[02:48:03] kota. e penjawi. Nah, ini keturunannya.

[02:48:06] Jadi, gabungan antara kota dan desa itu

[02:48:08] gabungan dengan pemanan dan ee Pati

[02:48:11] Penjawi itu itu ada di jejeran ini. Maka

[02:48:14] saya rasa kemudian ee mereka kemudian

[02:48:17] punya kekuasan yang sangat sangat kuat

[02:48:20] sekali seperti itu. Nah, selanjutnya ee

[02:48:24] kita bicara tentang perang Jawa. Nah,

[02:48:26] perang Jawa itu menurut saya yang paling

[02:48:29] signifikan selama 5 tahun tuh hanya ada

[02:48:31] di tiga titik di Bantul ini. Pertama di

[02:48:34] Selarong, lalu yang kedua di Bantul

[02:48:38] Karang. Nah, ini jadi istilah Bantul

[02:48:41] karang atau istilah Bantul ini mulai

[02:48:44] muncul catat di catatan-catatan ee

[02:48:47] sumber-sumber perang Jawa. Misalnya

[02:48:49] kayak peta-peta milik The Ste5

[02:48:53] e karya-karya Java Urloh ee Babat

[02:48:56] Diponegoro mungkin juga menyebut. Jadi

[02:48:58] istilah Bantul karang ini baru eksis

[02:49:01] muncul itu di 1820-an.

[02:49:06] Itu istilah Bantul. Tapi kalau

[02:49:07] sebelumnya setahu saya adalah negoro

[02:49:09] Gading atau Gading Mataram tadi seperti

[02:49:12] itu. Nah, kemudian ee beberapa

[02:49:15] pertahanan yang diserang ee oleh

[02:49:18] Jenderal Vanin, oleh eh Mayor Solowin,

[02:49:21] kemudian eh terakhir di Siluk. Kalau

[02:49:24] kita lihat serangan-serangan terbesar

[02:49:26] jatuhnya di Bantul karang semua. Karena

[02:49:28] apa? Memang seolah-olah pada perang Jawa

[02:49:31] itu Bantul karang itu kayak sudah

[02:49:33] menjadi sebuah komunitas kayak menjadi

[02:49:35] kayak pusat sebuah kota kecil gitu loh.

[02:49:37] Yang itu isinya adalah grupnya

[02:49:39] pengalasan semua grupnya Diponegoro

[02:49:42] semua. Jadi sampai empat kali atau tiga

[02:49:44] kali ini diserang seperti Selarung.

[02:49:46] Berbeda dengan Siluk kemudian karena

[02:49:48] Siluk tapi serangan di Siluk kekalahan

[02:49:51] Diponegoro di Siluk ini kemudian menjadi

[02:49:52] kekalahan Diponegoro

[02:49:54] selanjutnya. Nah, yang menarik dari

[02:49:57] Bantul Karang ini, Pangeran Diponegoro

[02:49:59] sendiri ikut berperang di Bantul Karang.

[02:50:02] Jadi, kalau Diponegoro pernah hadir di

[02:50:04] Bantul karang, itu tidak mitos, tapi itu

[02:50:07] betul-betul fakta. Diponegoro sendiri

[02:50:08] yang mempertahankan desa yang bernama

[02:50:11] Bantul Karang ini. Maka saya rasa

[02:50:13] kemudian memang ee Bantul Karang menjadi

[02:50:17] sebuah apa ya, sebuah tanda yang saya

[02:50:19] rasa itu menjadi sign ataupun tanda buat

[02:50:23] Bantul. hari ini Bantul ya, Nek ee kalau

[02:50:26] kita bicara Bantul Dude ya, Bantul

[02:50:28] karang seperti itu. Nah, next. Ini yang

[02:50:31] mungkin e terakhir saya sampaikan

[02:50:32] tentang hari jadi. Sebenarnya tentang

[02:50:35] hari jadi itu kalau di babak keterangan

[02:50:38] dari Jafa Urlugh itu disebutkan awalnya

[02:50:41] adalah namanya resolusi. Jadi memang

[02:50:44] sejak tahun 1831 ee sampai 1901 itu

[02:50:49] suatu hal suatu hal suatu hal suatu hal

[02:50:51] suatu hal suatu hal itu semua ditata.

[02:50:54] Nah, karena semua ditata maka ee nanti

[02:50:57] mungkin Pak Lilik akan memberikan

[02:51:00] tambahan. Tapi saya ingin menyuplikan.

[02:51:02] Jadi kebetulan Pak Zanatun ini memberi

[02:51:05] tugas saya untuk menulis artikel tentang

[02:51:07] Tumenggung Mangonegoro ini. Dan mohon

[02:51:10] maaf Pak Bupati ini sedang risetnya

[02:51:12] malah sedang jalan lagi Pak Bupati. Jadi

[02:51:14] saya itu dari kemarin sudah dibantu oleh

[02:51:17] beberapa rekan. Mbak Elsa dari Kominfo,

[02:51:19] Mas Rifki dari Bappeda dan Dinas

[02:51:22] Kebudayaan. Saya itu sedang mengumpulkan

[02:51:25] kajian BPPEDA yang 2003, 2007 dan 2010.

[02:51:30] Nah, di situ disebutkan kalau si

[02:51:32] Temenggung Mangonegoro ini kabarnya

[02:51:34] adalah mantu dari HB3 tetapi

[02:51:39] dari istri namanya Sasmito Ningsih.

[02:51:42] Problemnya adalah kalau si Mangunegoro

[02:51:45] ini istrinya Sasmito Ningsih. Berarti

[02:51:48] kan ini adik ipare Diponegoro toh. itu

[02:51:51] problemnya ikut mengantar Diponegoro ke

[02:51:54] Manado

[02:51:56] dan baru pulang ke Jawa 1832.

[02:52:00] Memang di silsilahnya di Serat Suryorojo

[02:52:02] disebutkan ee Kanjeng Raden Tumenggung

[02:52:06] Tipwiyono Salin Asmo Raden Tumenggung

[02:52:10] Mangunegoro. Nah, itu kalau versi arsif

[02:52:13] dan ini saya sedang mencari arsif baru

[02:52:16] ee dari kajian Pak Joko Suryo yang sudah

[02:52:17] dikaji dan sudah disowankan kepada Paku

[02:52:21] Alam pada waktu itu tahun '6 yaitu

[02:52:24] tentang laporan dari residen Yogyakarta

[02:52:28] 1831. Nanti semoga berapa hari segera

[02:52:32] ketemu. Dan Pak Bupati dan ee ee ee

[02:52:36] segala jajaran pemerintahan Bantul. Saya

[02:52:40] justru melihat keunikan tersendiri kalau

[02:52:43] kenapa Bupati Temenggung Mangunegoro itu

[02:52:46] disarekke dikuburkan itu di pagar

[02:52:50] gunung.

[02:52:51] Iya

[02:52:52] Piungan. Nah memang ee kalau kita

[02:52:55] menyebut pagar gunung itu memang

[02:52:57] keluarga dari Karontangan, Ki Ageng

[02:52:59] Karuntangan. Dan Ki Ageng Karontangan

[02:53:01] itu adalah adik daripada Ki Ageng

[02:53:03] Pemanahan. Nah, kalau memang apa ee

[02:53:08] hal-hal itu benar, maka kemudian bisa

[02:53:10] menjawab bahwa

[02:53:13] ee teman-teman semuanya

[02:53:16] khusus untuk Yogyakarta

[02:53:18] itu semua bupati sejak tahun 1831

[02:53:23] sampai 1845 baik Kulon Progo Nenggung,

[02:53:27] Gunung Kidul

[02:53:31] alman

[02:53:33] baru yang tercatat di reing almanak itu

[02:53:37] tahun 1845

[02:53:39] atas nama Tumenggung Joyo di Ningkrat

[02:53:43] seperti itu. Nah, mudah-mudahan nanti

[02:53:45] laporan arsip residen ini segera ketemu

[02:53:47] dan kita nanti akan segera mengerti data

[02:53:49] yang sebenarnya yang pernah dikaji tahun

[02:53:51] 1986 itu. Tapi saya ingin menyampaikan

[02:53:55] tentang apa tugas beratnya Mangunegoro

[02:53:58] ini. Saya beberapa kali menemukan arsib

[02:54:01] yang menyatakan bahwa tugas Bupati

[02:54:04] Bantul ini tugasnya sama imbangnya

[02:54:07] dengan Bupati Sentolo.

[02:54:10] Gelar Bupati Sentolo itu adalah Bupati

[02:54:13] Tarik Tambang.

[02:54:15] Karena bupatinya mendapatkan hasil cukai

[02:54:18] dari Satang Argo Mulyo Sedayu niko

[02:54:21] mangke tekan deso Siwalan Sentolo. Jadi

[02:54:25] sama Sultan dia diberi hak untuk menarik

[02:54:28] dana satang niku loh. Maka kemudian

[02:54:30] ketika Pak Hamkobono ke-8 diminta untuk

[02:54:34] bangun jembatan bantar, residen menolak.

[02:54:37] Loh kan yang sering menikmati dananya

[02:54:39] kan keraton otomatis. Kemudian yang

[02:54:42] bangun kemudian menjadi HB8. Nah. Sama

[02:54:45] saja dengan Bupati Bantul pertama kali

[02:54:47] 1831

[02:54:49] sampai 1845

[02:54:51] itu bupati ini tugasnya adalah mengurusi

[02:54:54] tanah kabonongan.

[02:54:56] Di mana kita tahu bahwa Bantul ini punya

[02:55:00] nek saya mengatakan ee SDM-nya

[02:55:04] SDM-nya Pak Bahlilnya mana? Pak Balilnya

[02:55:07] Jogja.

[02:55:09] Karena kalau kabonongan ini berhenti,

[02:55:11] lampu semua keraton Jogja ini padam.

[02:55:15] Karena minyak semua lampu-lampu di

[02:55:17] keraton seluruh keraton Yogyakarta ini

[02:55:19] minyaknya dari tanah kabo kabonongan.

[02:55:23] Maka orang-orang kabonongan ini

[02:55:25] dibebaskan membayar pajak karena

[02:55:27] warganya sudah membuat minyak makan

[02:55:30] kelentiknya itu untuk penerangan

[02:55:32] lampu-lampu di seluruh keraton. Nah, ini

[02:55:34] tugas beratnya si Mangunegoro ini

[02:55:37] mengelola tanah kabonongan yang tidak ee

[02:55:41] cukup sedikit. Dan kemudian nanti Bapak

[02:55:43] Ibu tahu bahwa kemudian ketika keraton

[02:55:46] sudah tidak menggunakan banyak minyak

[02:55:47] tanah, minyak makan dari minyak apa

[02:55:49] kelapa ya dari daerah Kabonungan

[02:55:51] kemudian kabonongan dirubah menjadi

[02:55:53] saluran kami joro yang kemudian sampai

[02:55:55] ke keretek yang kemudian menjadi

[02:55:57] kebun-kebun itu. Nah, itu saja mungkin

[02:55:59] dari nuun Mbak

[02:56:01] tepuk tangan untuk Pak Ato.

[02:56:04] Wow.

[02:56:06] Bantu lahir dari sosok-sosok yang sangat

[02:56:10] tangguh yang spiritnya bisa kita rasakan

[02:56:13] sampai hari ini. Sebelum kita lanjut ke

[02:56:16] sesi yang akan sangat menarik juga,

[02:56:19] Bapak, Ibu, dan Mas, Mbak yang sampai

[02:56:21] belakang sana boleh kita angkat tangan

[02:56:23] kanan semuanya

[02:56:25] boleh taruh di bahu teman sebelahnya.

[02:56:28] Nah, tepok-tepok sambil ikuti kata-kata

[02:56:30] saya ya. Dulur Bantul

[02:56:34] kurang keras. Ya, Dulur Bantul.

[02:56:37] Dulur Bantul.

[02:56:39] Setelah ini

[02:56:40] Setelah ini

[02:56:41] kita akan lebih kenal

[02:56:45] dengan KRT

[02:56:46] dengan KT

[02:56:48] Mangunegoro.

[02:56:49] Mangunegoro.

[02:56:50] Angkat tangan kirinya, tepok teman

[02:56:52] sebelahnya. Oke, dulur.

[02:56:56] Kamu fokus ya.

[02:56:59] Kalau enggak fokus

[02:57:01] tak itik-itik. Ayo. Coba. Boleh, Bu.

[02:57:04] [tertawa]

[02:57:06] Enggak boleh ya, Bu ya? Bapak enggak

[02:57:07] boleh, Pak. Ampun loh, Pak. Ampun.

[02:57:09] Ampun. Hadirin sekalian, berikutnya kita

[02:57:12] akan langsung menyelam lebih jauh untuk

[02:57:16] membedah bagaimana karakter leadership

[02:57:19] KRT Mangunegoro,

[02:57:21] lalu juga makna filosofis di balik nama

[02:57:23] Bantul karang hingga transformasinya ke

[02:57:27] masa kini. Nah, kita akan langsung

[02:57:29] belajar dari pakarnya. Beliau merupakan

[02:57:33] seorang sejarawan yang mendedikasikan

[02:57:36] fokusnya pada Dinasti Pembentuk

[02:57:39] Peradaban Yogyakarta. Beliau adalah

[02:57:42] ketua pusat studi Mataram yang

[02:57:45] tulisannya dan kajiannya

[02:57:47] mengenai suksesi kepemimpinan dan

[02:57:50] sejarah Mataram selalu menjadi rujukan

[02:57:53] yang sangat penting. Maka langsung kita

[02:57:56] sambut dengan tepuk tangan yang meriah

[02:57:58] Bapak Dr. Lili Suharmaji. Sumonggo, Pak

[02:58:02] Lili. Iya. Baik, Mbak Jo.

[02:58:05] Bismillahirrahmanirrahim.

[02:58:06] Asalamualaikum warahmatullahi

[02:58:09] wabarakatuh. Waalaikumsalam

[02:58:11] warahmatullah.

[02:58:12] Selamat malam, salam sejahtera untuk

[02:58:16] kita semua.

[02:58:18] Bapak Bupati, tamu undangan, dan hadirin

[02:58:22] yang saya hormati.

[02:58:26] Senang sekali malam hari ini saya

[02:58:29] bergabung

[02:58:32] untuk sosialisasi sejarah.

[02:58:37] banyak anak-anak kita yang enggan

[02:58:40] belajar sejarah.

[02:58:44] Untuk itulah kalau kami-kami ini

[02:58:46] diundang sangat senang, Mbak ee apalagi

[02:58:51] sejarah tentang Bantul gitu ya. Nah,

[02:58:55] Bapak Ibu,

[02:58:57] saya di sini akan membahas tentang peran

[02:59:00] KRT Mangunegoro

[02:59:03] dalam pembangunan Bantul.

[02:59:06] Kalau kita bicara tentang

[02:59:10] Mangonegoro,

[02:59:13] kita tidak lepas dari sejarah perang

[02:59:17] Jawa

[02:59:20] 1825

[02:59:22] sampai 1830

[02:59:25] habis magrib.

[02:59:27] [tertawa]

[02:59:27] 5 menit, Pak. 5 menit.

[02:59:31] Nah, di perang Jawa ini ada fenomena

[02:59:34] menarik, Bapak Ibu.

[02:59:38] Ada tiga

[02:59:40] bangsawan.

[02:59:43] Yang pertama memihak di Ponegoro.

[02:59:50] Ada 23 bangsawan itu yang datang ke

[02:59:54] Selarong

[02:59:56] setelah di Ponegoro memproklamirkan

[03:00:00] perang dengan kolonial Belanda.

[03:00:06] Salah satu yang terkenal itu Pangeran

[03:00:09] Mangkubumi.

[03:00:11] Jadi Pangeran Mangkubumi ini adik HB3,

[03:00:15] adik CER.

[03:00:17] Jadi ee seibu dan seayah.

[03:00:22] Makanya Diponegoro ini sangat akrab

[03:00:25] dengan Pangeran Mangkubi.

[03:00:29] Di digambarkan Pangeran Mangkubumi itu

[03:00:32] punya pun, Bapak, Ibu.

[03:00:35] Saya pernah mengkritik

[03:00:37] ee sebuah ee pameran lukisan

[03:00:42] yang ee diadakan di sebelah utara

[03:00:46] keraton itu. Ah, ee menggambarkan mangku

[03:00:50] bumi itu utuh gitu ya.

[03:00:54] Jadi ee

[03:00:56] dia punya gondok Bapak Ibu, gondoknya

[03:00:59] besar gitu.

[03:01:02] Kemudian Pangeran Joyo Kusumo 1

[03:01:06] ini gugur

[03:01:08] di Kokap

[03:01:09] Sengir

[03:01:09] Sengir ya

[03:01:12] dengan dua putranya

[03:01:15] dan itu sangat ditangisi oleh Diponegoro

[03:01:22] Sentot ya

[03:01:27] termasuk adik keponakan Sentot Prawiro

[03:01:29] Derj

[03:01:31] Ada juga bangsa yang hak kolonial atau

[03:01:34] keraton. Pangeran Panular.

[03:01:38] Pangeran Panular ini adalah

[03:01:41] orang yang menulis babat panular.

[03:01:46] Kita beruntung punya orang ini. Sehingga

[03:01:50] kita mengetahui peristiwa Geger Spoy

[03:01:54] 1812.

[03:01:57] Karena dia

[03:01:59] menulis babat, dia tahu persis saat itu

[03:02:01] karena dia terlibat

[03:02:04] ee mempertahankan keraton Jogja dari

[03:02:06] serangan Inggris.

[03:02:11] Ini Pangeran Panular.

[03:02:14] Kemudian Pangeran Mertosono

[03:02:17] berganti dengan Pangeran Murdaningrat.

[03:02:22] Pangeran Mertoso ini sosok seorang

[03:02:25] bangsawan yang setia dengan bapaknya.

[03:02:29] Ketika HB2

[03:02:32] dikerangkeng di benteng Frederbg

[03:02:36] dan dicopot semua

[03:02:39] kancing yang ada berliannya itu,

[03:02:43] Parangan Mertosono enggak tega.

[03:02:46] Dia bilang sama Rafles,

[03:02:49] "Aku ingin menemani ayah saya."

[03:02:53] Boleh Rafles, "Silakan."

[03:02:55] Sampai nanti ketika HB2 di buang ke

[03:03:00] Penang yang sekarang Malaysia itu

[03:03:04] Pangeran Mertosono rela ngikut. Dia

[03:03:07] enggak terlibat politik,

[03:03:10] tapi demi setia

[03:03:13] kepada ayahnya.

[03:03:16] dia ikut

[03:03:18] nanti ketika

[03:03:20] Jawa dikuasai oleh Belanda lagi

[03:03:24] dialihkan ke Ambon

[03:03:28] HB2 sama Mertoseno di Ambon kemudian

[03:03:31] dipulangkan ke Jawa lagi.

[03:03:36] Ini orang-orang yang membela keraton dan

[03:03:39] kolonial akhirnya mereka meninggal di

[03:03:41] Lengkong Bapak Ibu.

[03:03:43] Jadi pertempuran di sana di Lengkong itu

[03:03:47] ee mereka berdua dan teman-teman lain

[03:03:49] dari keraton

[03:03:52] dan meninggalnya itu Diponegoro enggak

[03:03:53] ada di situ, Bapak, Ibu. Karena ketika

[03:03:57] pulang ke keraton dari Kulonprogo

[03:03:59] itu di

[03:04:01] dihadang [berdehem] oleh Bengkut

[03:04:04] Diponegoro sampai tidak ee sepengetahuan

[03:04:07] Diponegoro

[03:04:09] ketika melihat paman-pamannya meninggal

[03:04:12] nangis. di Ponegoro sehingga langsung

[03:04:15] menyuruh untuk memandikan, menyalatkan,

[03:04:18] dikuburkan di situ.

[03:04:22] Yang ketiga, bangsawan yang netral. Ini

[03:04:25] abu-abu.

[03:04:27] Ee mungkin tadi agak berbeda dengan

[03:04:30] ee Mas Atoela. Jadi KRT Mononegoro ini

[03:04:36] salah satu bangsawan yang abu-abu.

[03:04:40] Dia enggak memihak Diponegoro

[03:04:43] dan juga enggak memihak kolonial.

[03:04:47] Kadang kala yang abu-abu itu malah aman

[03:04:51] ya [tertawa]

[03:04:52] dalam bidang politik gitu.

[03:04:55] Kalau seandainya

[03:04:59] Mangonegoro memihak Diponegoro, tentu

[03:05:03] kolonial enggak merestuionegoro

[03:05:07] itu menjadi bupati Bantul pertama.

[03:05:12] Apalagi Bantul adalah basis perjuangan

[03:05:16] Diponegoro.

[03:05:19] Pasti nanti akan timbul dendam orang

[03:05:22] Bantul sama Mangonegoro.

[03:05:25] Makanya di sini kebetulan Mangonegoro

[03:05:29] ini orang yang abu-abu

[03:05:34] gitu. Kita lanjut.

[03:05:37] Nah,

[03:05:39] bangsawan yang terlibat dalam perang

[03:05:41] Jawa itu ada yang dapat jabatan, Bapak,

[03:05:45] Ibu

[03:05:47] yang memihak kolonial setelah perang

[03:05:49] Jawa itu contohnya Tumenggung

[03:05:51] Cokonegoro,

[03:05:53] Bupati pertama Purworejo.

[03:05:57] Itu terang-terangan memihak kolonial

[03:06:00] memusuhi Diponegoro.

[03:06:03] Karena kolonial menganggap bahwa itu

[03:06:07] berjasa,

[03:06:08] maka dia diangkat menjadi bupati pertama

[03:06:14] Purworejo.

[03:06:16] Mbah Gelen dulu ya, Mbagelen.

[03:06:21] Dan yang memihak di pener juga ada Bapak

[03:06:23] Ibu

[03:06:24] yang ketika perang usai

[03:06:29] dia menjabat sebagai patih.

[03:06:33] Ketika perang Jawa dia diangkat oleh

[03:06:37] Diponegoro sebagai basah

[03:06:40] panglima perang. Namanya Basah Gondo

[03:06:43] Kusumo.

[03:06:46] Kenapa dia diangkat sebagai Patih

[03:06:48] Darjoima?

[03:06:50] karena dia keturunan Danjan.

[03:06:55] Jadi patih itu

[03:06:57] trahnya itu ada gitu ya,

[03:07:01] keturunan dari bapaknya, kakeknya dan

[03:07:04] sebagainya.

[03:07:06] Makamnya di Melangi Bapak Ibu.

[03:07:10] Kalau panjenengan ke Melangi Masjid

[03:07:13] Patok Negoro Melangi, nanti sebelah

[03:07:15] kanan

[03:07:17] nanti ada makam

[03:07:20] Basah Gondok Kusumo atau Patih Danurjo

[03:07:24] Kelima

[03:07:28] bersama disandingkan dengan Patih Darjo

[03:07:32] kedua.

[03:07:34] Monggo dipersani keemplangi ziarah ke

[03:07:36] sana.

[03:07:38] Nah. Dampak perang Jawa bagi Kesultanan

[03:07:42] Yogyakarta.

[03:07:46] Perang Jawa itu diperkirakan oleh

[03:07:49] kolonial itu enggak lama,

[03:07:52] tapi sampai mengenjak 2 tahun

[03:07:56] kok

[03:07:57] Diponegoro enggak tertangkap tertangkap

[03:08:00] gitu ya.

[03:08:02] Nah, di sini kemudian antara pejabat

[03:08:05] sipil dengan pejabat militer saling

[03:08:09] menyalahkan.

[03:08:12] Pejabat sipil ini gara-gara kamu

[03:08:15] sehingga pajak menurun

[03:08:19] karena pajak langsung diambil alih oleh

[03:08:21] Diponegoro.

[03:08:25] Militer bilang ini karena ulah

[03:08:28] orang-orang sipil

[03:08:30] itu saling menyalahkan.

[03:08:34] Nah, akhirnya mereka berkumpul

[03:08:38] dan membahas tentang Yogyakarta. itu

[03:08:42] menarik Bapak Ibu. [mendengus] Usulan

[03:08:44] pertama

[03:08:47] Kesultanan Jogja dihapus saja

[03:08:51] nanti orangnya di bawah kolonial.

[03:08:55] Usulan ini ditolak Bapak Ibu karena ini

[03:08:58] berpotensi konflik antara kolonial

[03:09:01] dengan prabangsawan keraton Jogja.

[03:09:07] Usulan kedua,

[03:09:09] kesulan Jogja dilebur dan menyatu dengan

[03:09:13] kesunan Surakarta.

[03:09:16] Sama seperti dulu sebelum perjanjian

[03:09:18] Gianti.

[03:09:21] Ini juga ditolak karena berpotensi

[03:09:24] konflik antara bangsawan Jogja dengan

[03:09:27] bangsawan Surakarta

[03:09:30] dan bangsawan Jogja dengan kolonial.

[03:09:37] Usulan ketiga di Ponegoro diberi wilayah

[03:09:39] kekuasaan

[03:09:41] di wilayah Kesultanan Jogja

[03:09:46] seperti kakek buyutnya

[03:09:49] Pangeran Mangkubumi

[03:09:51] itu kan dalam perang Gianti memberontak

[03:09:56] kepada kompeny Belanda saat itu.

[03:10:00] Nah, agar berhenti udah ini separuh

[03:10:05] Mataram kasihkan kamu aja biar kamu

[03:10:08] berhenti gitu kan gampangnya.

[03:10:11] Nah, usulan ini ditolak. Kenapa?

[03:10:15] Karena Diponegoro menurut menurut

[03:10:17] kolonial itu dia berjuang itu ingin

[03:10:20] menjadi imam bagi umat Islam di Jawa,

[03:10:25] bukan jadi raja.

[03:10:28] Kalau nanti misalnya

[03:10:33] Diponegoro diberi kekuasaan akan

[03:10:36] mengancam kedudukan kolonial.

[03:10:40] Nah, akhirnya ee Dekok, Jenderal Dekok

[03:10:44] usul, "Y sudah kalau gitu

[03:10:48] kita datangkan saja HB2 di Ambon."

[03:10:52] Barangkali HP2 itu bisa ngerih-ngerih di

[03:10:55] Ponegoro

[03:10:57] karena dia itu cucunya untuk berhenti

[03:11:00] berperang.

[03:11:04] Usulan ini resikonya sedikit sekali.

[03:11:10] Apalagi memang HP2 saat itu dianggap

[03:11:13] masih punya power.

[03:11:17] Akhirnya disepakati HP2 dipulangkan.

[03:11:21] dan membunjuk di Ponegoro.

[03:11:24] Tetapi apa yang terjadi? Kewibawaan HB2

[03:11:28] sudah luntur.

[03:11:30] Pengikut-pengikutnya sudah yang setia

[03:11:32] sudah tidak ada lagi.

[03:11:36] Sehingga usaha

[03:11:38] kolonial ini gagal.

[03:11:46] Strategi gimana caranya? HB2 gagal.

[03:11:51] Strategi keduanya apa? Jenderal Dekok

[03:11:53] mengambil simpati pengikut Diponegoro.

[03:11:59] Ya,

[03:12:00] Dekok memerintahkan

[03:12:02] agar jangan sekali-kali lagi

[03:12:07] kampung-kampung Basis Diponegoro itu

[03:12:09] dibakar.

[03:12:11] Jangan sekali-kali lagi menyiksa

[03:12:15] pengikut Diponegoro yang tertangkap.

[03:12:17] Kita ambil simpati.

[03:12:22] Strategi ini gagal juga

[03:12:25] Diponegoro tetap melawan.

[03:12:28] Akhirnya strateg yang ketiga membuat

[03:12:31] benteng stelsel.

[03:12:33] Jadi Belanda, Bapak Ibu itu membuat

[03:12:36] benteng itu jaraknya dekat-dekat.

[03:12:40] Karena apa? Diponegoro dalam menjalankan

[03:12:43] perangnya itu grilya.

[03:12:45] Satu benteng itu dihuni maksimal 30

[03:12:49] prajurit.

[03:12:52] Mereka berpatroli

[03:12:54] sehingga dengan demikian memutus rantai

[03:12:59] dari akomodasi tentara perang

[03:13:02] Diponegoro.

[03:13:04] Inilah yang kemudian

[03:13:07] banyak pengikut Diponegoro itu frustasi,

[03:13:10] sentot,

[03:13:13] menyerah.

[03:13:15] Kiai Mojo menyerah.

[03:13:18] Niageng Serang dan anaknya menyerah.

[03:13:23] Ternyata pembuatan benteng ini

[03:13:26] berhasil

[03:13:27] tapi belum menangkap Diponegoro.

[03:13:31] Akhirnya jalan terakhir adalah

[03:13:33] mengadakan perundingan

[03:13:36] di ponogo dibujuk. Apa bujukannya Bapak

[03:13:38] Ibu?

[03:13:40] Kalau nanti gagal perundingan, silakan

[03:13:43] di Ponegoro

[03:13:45] untuk kembali ke hutan.

[03:13:48] Rupanya bujukan itu ee dianggap beneran

[03:13:52] oleh Diponegoro. Makanya di Kasihan

[03:13:54] Magelang

[03:13:56] 2 hari setelah lebaran

[03:14:01] bertemu dengan Dekok dan langsung

[03:14:03] ditangkap.

[03:14:10] Nah,

[03:14:12] perang Jawa, pasca perang Jawa, Bapak

[03:14:14] Ibu

[03:14:16] ini menyisahkan

[03:14:20] strategi Belanda atau kolonial Belanda

[03:14:24] dengan cara apa? Memikirkan penataan

[03:14:26] ulang kembali wilayah Kesultanan Jogja

[03:14:28] dan Surakarta.

[03:14:32] Belanda ingin mempersempit wilayah Jogja

[03:14:36] maupun wilayah Surakarta agar apa? Tidak

[03:14:40] timbul tokoh-tokoh yang akan memberontak

[03:14:42] kembali.

[03:14:46] Makanya kemudian ada Perjanjian Klaten,

[03:14:49] Bapak Ibu tanggal 27 September 1830.

[03:14:54] Nanti akan terbentuk engklef-inklef atau

[03:14:56] kantong-kantong.

[03:14:59] Dulu Bapak Ibu, Imogiri,

[03:15:03] Kota Gede itu ada wilayahnya Surakarta

[03:15:07] dan juga ada wilayahnya Yogyakarta.

[03:15:14] itu hasil dari perjanjian Klaten.

[03:15:18] Nah, pada 26 dan 31 Maret 1831,

[03:15:24] pemerintah kolonial Belanda dan

[03:15:27] Kesultanan Jogja mencapai kesepakatan

[03:15:31] penetapan wilayah kekuasaan.

[03:15:36] Apa isinya? Mataraman, yaitu Jogja

[03:15:39] Pusat.

[03:15:41] batasnya sungai Progo sama sungai Opak.

[03:15:47] Kenapa disebut Mataraman?

[03:15:50] Karena ternyata

[03:15:53] wilayah Senopati ketika mendikan Matram

[03:15:55] itu adalah antara opak dengan progo

[03:16:02] itu. Yang kedua Konogo dan yang ketiga

[03:16:06] Gunung Kidul.

[03:16:08] Nah, untuk wilayah Mataram itu dibagi

[03:16:12] tiga ya, Kabupaten Bantul Karang,

[03:16:17] Kabupaten Denggung, dan Kabupaten

[03:16:20] Kalasan

[03:16:23] itu. Nah, pada 20 Juli 1831

[03:16:26] secara resmi ditetapkan pembentukan

[03:16:29] distrik Bantul Karang. tadi disampaikan

[03:16:32] oleh Mas Toela bahwa bantul karang itu

[03:16:35] disebut ketika perang Jawa.

[03:16:39] Nanti kita kira-kira berakhir itu awal

[03:16:41] abad 19 itu ya. Karena saya melihat

[03:16:44] arsip-arsip Belanda itu ee

[03:16:47] perusahaan-perusahaan gula di Bantul itu

[03:16:50] tidak menggunakan kata bantul karang,

[03:16:52] tapi bantul. Oya o-nya dua bantul gitu

[03:16:56] ya. itu

[03:17:00] nah kenapa

[03:17:03] HB5 menunjuk KRT Mangonegoro

[03:17:07] sebagai

[03:17:09] Bupati Bantul pertama

[03:17:13] yang pertama Maonegoro menantu Sultan

[03:17:16] HB3 tadi disinggung Mas Aela

[03:17:20] dia menikah dengan bendera Raden Ayu

[03:17:23] Mangunegoro.

[03:17:25] Jadi orang dulu itu kalau nama ibu itu

[03:17:29] mengutut nama suaminya gitu. Nah, Raden

[03:17:34] Ayu Mangonegoro ini putri dari Bendero

[03:17:37] Mas Ajeng Sasmito Ningsih.

[03:17:42] Itu suami ee istrinya HB3.

[03:17:46] Ini menurut Serat Rojoputro, Bapak Ibu.

[03:17:50] Bukunya tipis itu ya.

[03:17:54] KRT Mangonegoro sebelumnya sebagai

[03:17:56] nayoko atau pejabat keraton Jogja

[03:18:00] sehingga pengalamannya itu sangat

[03:18:02] dibutuhkan untuk memimpin Bantul.

[03:18:06] Ini alasan yang kedua.

[03:18:09] Yang ketiga,

[03:18:11] KRT Mangonegoro dianggap tidak ada

[03:18:13] dendam dengan masyarakat Bantul pasca

[03:18:16] perang Jawa.

[03:18:21] Selarung itu lungguhnya di Ponegoro.

[03:18:28] Orang-orang Selarung itu sangat

[03:18:30] mencintai Diponegoro. Bapak, Ibu ketika

[03:18:33] sistem sewa tanah

[03:18:36] para bangsawan Jogja

[03:18:38] yang punya lungguh itu langsung

[03:18:40] disewakan ke orang-orang Cina dan

[03:18:43] orang-orang Eropa

[03:18:46] karena dapat duit banyak.

[03:18:48] Diponegoro enggak. Kenapa? Kalau

[03:18:50] disewakan ke orang-orang Cina dan

[03:18:53] orang-orang Eropa, maka nanti

[03:18:55] pekerja-pekerja di perkebunan

[03:18:59] itu nanti kehilangan pekerjaannya.

[03:19:04] Dan kalau kita lihat Bapak Diponegoro

[03:19:09] versi Manado, Bapak Ibu, Selarong itu

[03:19:12] ketika 1825 sampai 1826 itu makmurnya

[03:19:17] lebih makmur dari kota Jogja.

[03:19:21] berasnya murah,

[03:19:23] bahan-bahan baku pangan melimpah.

[03:19:26] Jadi, kotanya itu lebih lebih meriah,

[03:19:30] lebih ramai daripada

[03:19:33] kota Jogja.

[03:19:36] Sehingga ketika perang Jawa itu di

[03:19:40] daerah Pandak, Bapak Ibu, Desa Pandak

[03:19:43] itu tempat produksi Mesu dan itu dibuat

[03:19:48] oleh ibu-ibu

[03:19:50] dan mesu itu ternyata kualitasnya tinggi

[03:19:52] banget. Saking apa? Cintanya sama

[03:19:55] Diponegoro.

[03:20:01] Di Bantul itu ada jantol, Bapak, Ibu.

[03:20:04] Jangan membayangkan jalan tol itu

[03:20:06] seperti sekarang.

[03:20:08] Jalan tol itu ee jembatan Bapak Ibu,

[03:20:12] tapi dipajeki.

[03:20:14] Jadi kalau orang bawa binatang lewat

[03:20:18] jalan itu ditarik,

[03:20:21] orang bawa-bawaan ke pasar ditarik

[03:20:27] orang bawa

[03:20:29] sapi. Wah, sapi [tertawa] ketika mau

[03:20:33] menyeberang sungai itu ditarik.

[03:20:37] Bahkan yang lebih parah kalau sapinya

[03:20:39] itu kan antri Bapak Ibu ee di gerbang

[03:20:42] itu kalau antri dan sapinya itu makan

[03:20:45] rumput wilayah jalan tol itu maka

[03:20:49] didenda.

[03:20:51] Petani. Kalau didenda kan enggak punya

[03:20:53] uang.

[03:20:54] Akhirnya apa? Sapi itu ditahan oleh

[03:20:58] pengelola jalan tol.

[03:21:02] sampai petani ini bisa menebus denda

[03:21:07] itu.

[03:21:09] Yang lebih parah lagi, di gerbang itu

[03:21:13] juga

[03:21:15] dijual opium.

[03:21:17] Jadi orang yang antri, warga Bantul yang

[03:21:20] antri

[03:21:23] di jalan tol itu kadang beli opium

[03:21:26] sehingga menyengsarakan keluarganya.

[03:21:30] Inilah salah satu sebab

[03:21:33] perang Jawa karena di Ponegoro ingin

[03:21:35] menghancurkan jalan tol itu.

[03:21:39] Itu

[03:21:41] makanya

[03:21:43] ketika Mangunegoro itu di beri jabatan

[03:21:47] di Bantul, orang Bantul enggak dendam.

[03:21:49] Manegoro itu kan enggak ada dengan orang

[03:21:52] Bantul.

[03:21:55] sehingga ketika dia menjabat

[03:21:59] ee tidak ada intrik-intrik yang berarti.

[03:22:04] Yang berikutnya adalah Mangonegoro

[03:22:06] sebagai nayoko yang loyal kepada Sultan.

[03:22:10] Tadi dia tidak ikut Diponegoro, tapi ee

[03:22:14] dia sebagai nayoko keraton Jogja.

[03:22:19] Sekarang kita menginjak jasanya, Bapak

[03:22:21] Ibu.

[03:22:26] Maonegoro menjabat 14 tahun

[03:22:30] sampai meninggal. Orang dulu itu kalau

[03:22:32] menjabat kan sampai meninggal Bapak Ibu

[03:22:35] ya. Nah, apa jasanya? Yang pertama

[03:22:39] peletak dasar pemerintahan Kabupaten

[03:22:41] Bantul.

[03:22:43] Pembagian wilayah, pengangkatan aparat

[03:22:46] pemerintahan, menjalankan administrasi

[03:22:48] kabupaten dan sebagainya. diawali kok

[03:22:52] bisa dia mantan nayoko pejabat tinggi

[03:22:56] keraton. Jadi punya pengalaman

[03:23:01] yang kedua membangun birokrasi dari

[03:23:04] awal.

[03:23:06] Bayangkan Bapak Ibu tidak ada warisan

[03:23:08] birokrasi tiba-tiba bangun birokrasi.

[03:23:11] Alangkah susahnya

[03:23:15] kerja keras siang malam Bapak Ibu.

[03:23:18] Yang ketiga, dapat menjaga keamanan

[03:23:20] Bantul pasca perang Jawa.

[03:23:24] Yang keempat, mendorong pembangunan

[03:23:27] sosial dan ekonomi di Bantul. Kalau

[03:23:29] fisik belum terlihat, Bapak, Ibu, ya.

[03:23:32] Karena memang saat itu transisi, ya.

[03:23:36] Apalagi nanti setelah pasca perang Jawa

[03:23:39] ada tanam paksa gitu ya.

[03:23:43] Berikutnya merintis pembangunan

[03:23:44] masyarakat Bantul, meletakkan fondasi

[03:23:47] pemerintahan dan diteruskan oleh

[03:23:49] penggantinya.

[03:23:53] Jasa yang lain adalah mewariskan

[03:23:56] keteladanan

[03:23:58] kepemimpinan di daerah Bantul, membentuk

[03:24:01] masyarakat Bantul yang harmonis,

[03:24:03] sejahtera, toleran rukun dan sebagainya.

[03:24:10] Ini ee makam KRT Mangonegoro

[03:24:15] di Bantul ya, di sasono Sentono, Pagar

[03:24:20] Gunung Siti Mulyo [musik]

[03:24:21] Piyungan, Bantul.

[03:24:26] Itu

[03:24:27] ee demikian yang saya sampaikan, saya

[03:24:31] akhiri wasalamualaikum warahmatullahi

[03:24:34] wabarakatuh.

[03:24:37] Applaus yang meriah untuk Pak Lili.

[03:24:40] Wow, lengkap sudah. [menghela napas]

[03:24:43] Hari ini kita sama-sama mengenal Bantul

[03:24:45] tentang KRT Mangunegoro, bupati pertama

[03:24:48] di Bantul. Tentu sebetulnya, Pak, kalau

[03:24:51] kita ngomongin ini berapa SKS, Pak?

[03:24:54] Punten.

[03:24:55] [tertawa]

[03:24:56] 4 SKS satu semester, ya. ini kita

[03:24:59] padatkan dalam sebuah sarasehan di malam

[03:25:02] hari ini. Tentu sebetulnya kita pengin

[03:25:05] diskusi ya, Pak ya. Tapi karena mungkin

[03:25:08] waktu kita cukup padat, jadi kita

[03:25:11] mungkin sampai di sini untuk

[03:25:13] sarasehannya

[03:25:15] dari dua pembicara kita dari Pak Ato dan

[03:25:18] juga Pak Lili. Kita kemudian bisa

[03:25:20] melihat lensa sejarah yang kemudian kita

[03:25:24] dipaparkan bahwa Bantul itu lahir dari

[03:25:29] fondasi perjuangan yang kokoh pasca

[03:25:33] perang Diponegoro.

[03:25:35] Bicara soal sejarah, ternyata di ruangan

[03:25:38] ini juga hadir insan sejarah, insan

[03:25:41] budayawan museum juga ada Pak Gatot di

[03:25:44] sana dari FKMB juga, dari M.Si juga

[03:25:48] hadir, Pak Suparel ini kayaknya di

[03:25:50] belakang juga ada dan juga dari seluruh

[03:25:53] pegiat sejarah maupun budaya di Bantul

[03:25:56] dan juga Pak yang hadir lewat Bantul TV.

[03:25:59] Wow. Selamat malam yang di Bantul TV

[03:26:03] juga di Zoom BKPSDMP.

[03:26:05] Terima kasih telah menyimak dengan

[03:26:07] sangat hidmat sesi yang sangat insavel

[03:26:09] di malam hari ini. Tentu kita malam hari

[03:26:13] ini telah diajak untuk menyelami jati

[03:26:16] diri Bantul di mana di bawah

[03:26:18] kepemimpinan perdana KRT Tumenggung

[03:26:21] Mangonegoro, karakter Bantul karang,

[03:26:24] karakter yang kuat, tangguh, dan kokoh.

[03:26:27] Laikke Batu karang telah dinubuatkan

[03:26:30] menjadi urat nadi masyarakat kita.

[03:26:34] Dan meneladani kepemimpinan masa lalu

[03:26:38] bukanlah soal mengglorifikasi

[03:26:41] apa yang sudah lewat, melainkan kita

[03:26:45] sama-sama

[03:26:47] menyelami dan mengimani nilai-nilai

[03:26:50] ketangguhan, keberagaman dan budaya

[03:26:53] istimewa itu kita manifestasikan hari

[03:26:55] ini. nilai-nilai itulah yang kemudian

[03:26:58] harus menjadi bahan bakar kita semua

[03:27:01] untuk mewujudkan Bantul yang semakin

[03:27:05] maju, kuat, demokratis, dan juga

[03:27:09] sejahtera. Tepuk tangannya boleh.

[03:27:13] Kalau saya bilang Bantul, semua jawab

[03:27:16] bumi satria. Bantul.

[03:27:18] Bumi Satria.

[03:27:19] Bantul.

[03:27:20] Bumi

[03:27:21] mantul bumi satria.

[03:27:24] Matur nuwun sanget saya Joana dan juga

[03:27:26] Pak A dan juga Pak Lilik mohon undur

[03:27:29] diri. Matur nuwun sanget dan salam

[03:27:32] budaya.

[03:27:35] Oh, saya punya pantun, Pak. Terakhir

[03:27:37] boleh ya dibantu cakepnya.

[03:27:39] Belum sah. Belum sah kalau belum pantun

[03:27:41] soalnya. Jalan-jalan ke Pasar Sentul

[03:27:45] cakep.

[03:27:46] Tidak lupa beli pepaya.

[03:27:48] Cakep.

[03:27:49] Mari terus membangun Bantul

[03:27:53] dengan semangat Bantul Bumi Satria.

[03:27:57] Matur nuwun. Kembalikan ke Mbak MC

[03:28:00] cantik. Sumonggo Mbak Dita.

[03:28:02] Baik. Saya ucapkan terima kasih tentu

[03:28:04] saja kepada Bapak Dr. Ahmad Ahohilah,

[03:28:07] kemudian juga Bapak Dr. Lili Suharmaji

[03:28:10] sebagai narasumber. Matur nuwun sanget

[03:28:13] Bapak sudah berkenan untuk bisa sharing

[03:28:16] dan mohon maaf ini karena belum

[03:28:18] berkesempatan untuk bisa berdiskusi

[03:28:20] secara langsung bersama dengan

[03:28:21] rekan-rekan karena memang keterbatasan

[03:28:24] waktu kami ya. Dan juga terima kasih

[03:28:26] banyak untuk Mbak Joana. Boleh berikan

[03:28:29] tepuk tangannya Bapak, Ibu, dan juga

[03:28:31] rekan-rekan semuanya.

[03:28:34] Kemudian hadirin yang kami hormati,

[03:28:37] kemudian juga rekan-rekan semua ataupun

[03:28:40] juga pemirsa yang masih menyaksikan

[03:28:42] melalui live streaming dari Bantul TV.

[03:28:45] Kemudian juga yang masih bergabung

[03:28:48] bersama dengan kami setia melalui ruang

[03:28:50] Zoom meeting. Bagaimana semangatnya

[03:28:53] malam hari ini? sudah sambil nyemil apa

[03:28:57] mungkin di rumah masing-masing milek

[03:29:00] atau mides ya atau seblak mungkin dan

[03:29:03] pada kesempatan malam hari ini setelah

[03:29:05] tadi kita sudah mengikuti jalannya acara

[03:29:07] dari gelar wicara maka tibalah saatnya

[03:29:10] kita di penghujung acara dari sarasehan

[03:29:13] peristiwa peringatan sejarah dalam

[03:29:15] rangka hari jadi ke-195

[03:29:19] Kabupaten Bantul darmaning satrioh akary

[03:29:22] raharjaning nagari dan tentu saja Kak

[03:29:25] Kami di sini mewakili kerabat kerja yang

[03:29:27] bertugas mengucapkan terima kasih kepada

[03:29:30] Bupati Bantul, Wakil Bupati Bantul

[03:29:33] terima kasih. Matur nuwun sanget Bapak.

[03:29:36] Kemudian juga beserta tamu undangan,

[03:29:38] jajaran yang sudah hadir pada kesempatan

[03:29:41] malam hari ini. Dan tidak lupa apresiasi

[03:29:44] setinggi-tingginya kepada Dinas

[03:29:46] Kebudayaan Kundoh Kabudayaan Kabupaten

[03:29:49] Bantul sebagai penyelenggara acara pada

[03:29:52] kesempatan malam hari ini. Serta seluruh

[03:29:54] pihak yang tentu saja sudah mendukung,

[03:29:57] sudah hadir setia mengikuti acara dari

[03:30:00] mulai acara sampai dengan acara malam

[03:30:02] hari ini selesai ya. Dan sebelum saya

[03:30:04] tutup, saya ingin menginformasikan

[03:30:06] terlebih dahulu pesan dari panitia. Bagi

[03:30:08] rekan-rekan yang hadir secara langsung

[03:30:11] bersama dengan saya di pendopoh Paras

[03:30:13] Samia. Silakan nanti ketika di layar

[03:30:15] depan dari teman-teman semuanya

[03:30:18] tertampil

[03:30:20] scan QR barcode, silakan untuk bisa

[03:30:22] di-can QR-nya. Nanti bisa diunduh

[03:30:25] e-sertifikat melalui QR yang sudah

[03:30:28] tertera di layar depan, ya. Dan malam

[03:30:31] hari ini saya juga tidak ingin kalah

[03:30:34] dengan moderator ini. Saya juga ingin

[03:30:36] berpantun ya. Saya juga ingin berpantun

[03:30:39] untuk Bantul tercinta. Boleh disaut

[03:30:42] dengan kata sae nggih Bapak Ibu ya.

[03:30:46] Baik. Jalan-jalan ke pasar Bantul cari

[03:30:49] buah tangan.

[03:30:51] Jangan lupa mampir Paseban banyak

[03:30:54] kulinernya.

[03:30:56] Selamat ulang tahun untuk Bantul penuh

[03:30:58] kenangan.

[03:31:00] Semoga semakin mempesona dalam semua

[03:31:03] bidangnya. Saya Dita Nurmanasari pamit

[03:31:06] undur diri. Terima kasih. Wabillahi

[03:31:08] taufik wal hidayah warid wal inayah.

[03:31:10] Wasalamualaikum warahmatullahi

[03:31:13] wabarakatuh.

[03:31:53] Iya.

[03:32:33] B

[03:32:34] Kabupaten di wilayah selatan daerah

[03:32:36] Istimewa Yogyakarta ini tidak dibangun

[03:32:39] di atas tanah yang tenang. Perjalanan

[03:32:42] Bantul dimulai dari puing-puing [musik]

[03:32:44] perang Jawa yang mengendap di memori

[03:32:46] rakyatnya.

[03:32:47] Bupati pertama Bantul kala itu, KRT

[03:32:50] Mangunegoro dilempar pada badai politik,

[03:32:53] sosial, dan ekonomi yang luar biasa.

[03:32:56] Tak cuma soal keamanan wilayah pasca

[03:32:58] perang Jawa, KRT Mangunegoro juga harus

[03:33:01] mengurus birokrasi dan kesepakatan

[03:33:03] politik demi menghadapi [musik] tekanan

[03:33:05] tanam paksa. Bermula dari tanam paksa,

[03:33:08] kebun-kebun tebuk kian membentang di

[03:33:10] Bantul. Deru-deru pabrik gula mulai

[03:33:13] menggeliat di [musik] tanah ini. Demi

[03:33:15] menyokong industri ini, Dam Kamijoro

[03:33:17] dibangun pada tahun 1924

[03:33:20] di bawah kepemimpinan Bupati KRT Dirjo

[03:33:22] Kusumo. Dari masa [musik] ke masa,

[03:33:25] Bantul terus membaca zaman. Rel kereta

[03:33:28] mengular, pasar-pasar riuh di berbagai

[03:33:30] sudut, sekolah-sekolah bermunculan dan

[03:33:32] mencetak para pemikir. [musik]

[03:33:40] 33 bupati datang dan pergi silih

[03:33:42] berganti. Masing-masing menorehkan

[03:33:44] legasi, menuntun masyarakatnya mendobrak

[03:33:47] [musik] bilik-bilik modernisasi.

[03:33:49] Lantas masyarakatnya terus diuji,

[03:33:51] ditempah.

[03:33:53] Sebagaimana Bantul pernah luluh lantak

[03:33:55] [musik] akibat guncangan gempa 2006,

[03:33:57] semangat gotongroyong masyarakat

[03:33:59] Bantulah yang membawa tanah ini lekas

[03:34:01] pulih dan bangkit lebih kuat. Maka

[03:34:03] rasanya tak salah apabila Bantul Bumi

[03:34:06] Satria dibawa [musik] sebagai nilai jati

[03:34:08] diri masyarakat Bantul untuk berdiri

[03:34:10] tanpa gentar, adaptif terhadap zaman,

[03:34:12] serta bahuembahu untuk mendongkrak

[03:34:14] kesejahteraan rakyatnya.

[03:34:23] [musik]

[03:34:37] Bantul Bumi Satria tahun ini siap

[03:34:40] menapaki usia barunya.

[03:34:43] Perjalanan panjang itu diwujudkan dalam

[03:34:46] filosofi logo hari jadi ke-195 [musik]

[03:34:49] tahun Kabupaten Bantul. Angka satu

[03:34:53] diwujudkan dalam bentuk cantik

[03:34:55] melambangkan ketelitian, kesabaran,

[03:34:58] pelestarian budaya, dan kearifan [musik]

[03:35:01] lokal. Angka 9 direpresentasikan dengan

[03:35:05] bentuk ombak yang menggulung

[03:35:07] mencerminkan [musik] dinamika kehidupan

[03:35:09] yang terus bergerak maju.

[03:35:12] Angka lima disimbolkan dengan padi

[03:35:13] beserta [musik] daun yang merunduk.

[03:35:16] Bermakna kesuburan, produktivitas, dan

[03:35:19] kemakmuran.

[03:35:21] Angka [musik] 195 berpadu membentuk luk

[03:35:23] keris mencerminkan kekuatan, keberanian,

[03:35:27] ketangguhan, dan jiwa kesatria. [musik]

[03:35:31] [lonceng]

[03:35:32] Dibentuk dari perpaduan unsur budaya,

[03:35:35] alam, dan pangan yang divisualisasikan

[03:35:38] [musik] dalam tiga warna.

[03:35:41] Warna kuning menjadi simbol budaya yang

[03:35:43] [musik] mencerminkan kejayaan.

[03:35:46] Warna biru melambangkan alam yang

[03:35:48] berarti kehidupan.

[03:35:51] Warna hijau menjadi simbol pangan yang

[03:35:54] bermakna kemakmuran.

[03:35:58] [musik] 195 tahun Kabupaten Bantul.

[03:36:01] Darmaning Satrio Akar Raharjaning

[03:36:05] Nagari. [musik]

[03:36:13] Bantul Bumi Satria tahun ini siap

[03:36:16] menapaki usia barunya.

[03:36:20] Perjalanan panjang itu diwujudkan dalam

[03:36:22] filosofi logo Hari Jadi ke-195

[03:36:25] tahun Kabupaten Bantul.

[03:36:28] Angka satu diwujudkan dalam bentuk

[03:36:31] cantik lembangkan ketelitian, kesabaran,

[03:36:35] pelestarian budaya, dan kearifan [musik]

[03:36:37] lokal. Angka 9 direpresentasikan dengan

[03:36:41] bentuk ombak yang menggulung

[03:36:43] mencerminkan dinamika kehidupan yang

[03:36:45] terus bergerak maju.

[03:36:48] Angka [musik] lima disimbolkan dengan

[03:36:49] padi beserta daun yang merunduk.

[03:36:52] Bermakna kesuburan, produktivitas, dan

[03:36:55] kemakmuran. [musik]

[03:36:57] Angka 195 berpadu membentuk luk keris

[03:37:01] mencerminkan kekuatan, [musik]

[03:37:02] keberanian, ketangguhan, dan jiwa

[03:37:05] kesatria.

[03:37:08] Dibentuk dari perpaduan unsur budaya,

[03:37:11] alam, dan pangan yang divisualisasikan

[03:37:14] [musik] dalam tiga warna.

[03:37:17] Warna kuning menjadi simbol budaya yang

[03:37:20] mencerminkan [musik] kejayaan.

[03:37:22] Warna biru melambangkan alam yang

[03:37:25] berarti kehidupan.

[03:37:27] Warna hijau menjadi simbol pangan yang

[03:37:30] bermakna kemakmuran.

[03:37:34] [musik]

[03:37:34] 195 tahun Kabupaten Bantul Darmaning

[03:37:38] Satrio Akaro Raharjaning Nagar

[03:37:42] [musik]
