# Obrolan Ringan Tentang Rezeki, Naik Gunung, Traveling, Kebaikan & Keberanian! | SUARA BERKELAS #196

https://www.youtube.com/watch?v=W0cky-mKBQg
Translation: en

[00:00] Banyak orang yang berpikiran buruk tentang orang Timur.
  Many people have bad thoughts about Eastern people.

[00:01] Karena apa?
  Why?

[00:03] Karena orang gak bisa ngebuktiin langsung ke sana, Bang.
  Because people can't prove it directly there, Bro.

[00:04] Karena harga tiket pesawat mahal, Bang.
  Because plane ticket prices are expensive, Bro.

[00:05] Coba kasih turun harga tiket pesawat.
  Try lowering the price of plane tickets.

[00:07] Orang bisa bakalan buktiin seramah apa orang Timur.
  People will be able to prove how friendly Eastern people are.

[00:08] Mereka tuh siap mati, Bang, untuk kita, Bang.
  They are ready to die, Bro, for us, Bro.

[00:11] Kalau kita tuh dekat sama mereka, gitu loh.
  If we are close to them, you know.

[00:14] Seramah itu sebaik itu orang-orang sana.
  That's how friendly and good the people there are.

[00:16] Ketika aku volunteir sana, mereka tuh udah nganggap kayak anak, Bang.
  When I volunteered there, they already considered me like a child, Bro.

[00:17] Kayak anak sendiri gitu loh.
  Like their own child, you know.

[00:19] Udah enggak ada kayak ini, e, kayak turis.
  There's no longer like this, uh, like a tourist.

[00:21] Mereka tuh anggap tu kayak keluarganya sendiri gitu.
  They consider you like their own family.

[00:22] Apapun mereka kasih.
  They give anything.

[00:24] Yang bikin aku sampai di titik sekarang doa orang tuaku, gitu.
  What brought me to this point is my parents' prayers, you know.

[00:25] Ketika aku setiap hari nelepon orang tuaku lima kali.
  When I call my parents five times every day.

[00:27] Ibarat kan lima kali orang tuaku ngedoain aku, Bang.
  It's like my parents pray for me five times, Bro.

[00:29] Semakin banyak orang tua ngedoain aku, semakin amalanku dilancarin, gitu loh.
  The more parents pray for me, the smoother my deeds go, you know.

[00:32] Banyak orang bilang tuh ketika kita naik gunung sama orang, kita tuh pasti bakalan langsung jadi keluarga, Bang.
  Many people say that when we climb a mountain with someone, we will definitely become family right away, Bro.

[00:37] Karena kita enggak ada jaringan, enggak ada megang HP gitu.
  Because we have no signal, no holding phones, you know.

[00:39] Paling megang HP untuk ngerekam-rekam sesekali doang gitu.
  At most holding a phone to record occasionally, that's it.

[00:42] Jadi serunya naik gunung tuh itu, Bang.
  So that's the fun of climbing a mountain, Bro.

[00:44] Jadi semua orang tuh harus nyobain naik gunung.
  So everyone should try climbing a mountain.

[00:45] Serius dah.
  Seriously.

[00:47] Kebanyakan orang sekarang itu gagal ngonten karena ketika dia bikin satu dua konten udah enggak rameai, dia gak mau bikin lagi.
  Most people nowadays fail at content creation because when they make one or two pieces of content and it's not popular, they don't want to make more.

[00:52] Yang harusnya dia lakukan adalah bikin aja, jangan pikirin view.
  What he should do is just make it, don't think about the views.

[00:53] [musik]
  [music]

[00:55] Yang bakal ngejawab itu cuma waktu gitu loh, Bang.
  The one that will answer that is only time, you know, Bro.

[00:56] Karena kalau dari awal kita udah mikirin duit, udah dari awal
  Because if from the start we're already thinking about money, from the start

[01:00] Kita mikirin view, enggak akan ada habisnya.
  We think about the view, it will never end.

[01:01] Kita enggak akan bisa menu ekspektasi kita sendiri gitu loh.
  We won't be able to meet our own expectations, you know.

[01:04] Semua itu yang bakal jawab waktu gitu.
  All of that will be answered by time.

[01:07] Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara berkelas.
  Hello everyone, welcome back to the Suara Berkelas podcast.

[01:12] Hari ini aku happy sekali karena kita kedatangan tamu berkelas.
  Today I am very happy because we have a classy guest.

[01:14] Ada temanku sendiri, Ejak.
  There is my own friend, Ejak.

[01:18] Halo, Abang.
  Hello, brother.

[01:19] Akhirnya jadwalnya cocok.
  Finally the schedule matches.

[01:21] [tertawa]
  [laughs]

[01:22] Akhirnya jangan cocok karena teman-teman harus tahu nih orang sibuk banget kayak dia kalau keluar kota, ke luar negeri itu bisa sebulan 2 bulan dan alhamdulillah akhirnya aku bisa ngebuk jawal ejak hari ini.
  Finally it matches because friends need to know, this person is very busy, like when he goes out of town, abroad, it can be a month or two, and alhamdulillah finally I can schedule Ejak today.

[01:31] Alhamdulillah di suara berkelas.
  Alhamdulillah on Suara Berkelas.

[01:35] Ejak aku tahu kamu punya audiens yang besar sekali ya.
  Ejak, I know you have a very large audience, right.

[01:37] Alhamdulillah tapi belum tentu audiens-nya adalah audiens suara berkelas dan aku mau kamu menyapa audiens suara berkelas.
  Alhamdulillah, but it's not necessarily that the audience is the Suara Berkelas audience, and I want you to greet the Suara Berkelas audience.

[01:44] Siapa ejak dengan bahasa yang mudah dipahami.
  Who is Ejak in easy-to-understand language.

[01:47] Halo teman-teman suara berkelas semua.
  Hello all Suara Berkelas friends.

[01:49] Aku adalah ejak.
  I am Ejak.

[01:51] Anak daerah dari Pekanbaru.
  A regional kid from Pekanbaru.

[01:52] Mungkin enggak ada yang tahu ya Pekanbaru ya.
  Maybe no one knows Pekanbaru, right.

[01:55] Kadang e ketika aku bilang Pekanbaru orang tuh pasti bilang Pekanbaru di mana?
  Sometimes when I say Pekanbaru, people always say, where is Pekanbaru?

[01:56] Di Kalimantan ya, di Sulawesia gitu.
  In Kalimantan, right, in Sulawesi, like that.

[01:59] Padahal pekan di Sumatera di Riau gitu.
  Actually, it's in Sumatra, in Riau.

[02:01] Jadi aku adalah
  So I am

[02:01] Salah satu kreator di daerah Pekanbaru ee yang sekarang sudah merantau ke Bandung.
  One of the creators in the Pekanbaru area who has now migrated to Bandung.

[02:08] Nah, begitu, Bang.
  Well, that's it, bro.

[02:09] Kurang lebih.
  More or less.

[02:09] Kenapa Bandung?
  Why Bandung?

[02:12] Karena aku itu kontennya kan traveling ya sekarang ya.
  Because my content is traveling now, right.

[02:14] Ee ketika di Bandung ee lingkungannya itu ini, Bang, supportif semua.
  Uh, when in Bandung, the environment is, bro, all supportive.

[02:20] Eh, aku gugup banget sumpah.
  Uh, I'm really nervous, I swear.

[02:22] Maaf ya, Bang.
  Sorry, bro.

[02:22] Jadi aku gugup banget ini pertama kalinya ini ketika aku diundang Bang Bilal ke suara berkelas tuh kayak aku langsung ini beneran aku diundang gitu dari semua bintang tamu yang ada gitu loh.
  So I'm really nervous, this is the first time when I was invited by Bang Bilal to Suara Berkelas, it's like I'm directly, really invited from all the guests that are there, you know.

[02:32] Nah, kenapa Bandung?
  Well, why Bandung?

[02:35] Karena ee di Bandung itu Bang kan aku kontennya traveling ya.
  Because uh in Bandung, bro, my content is traveling, right.

[02:36] Ketika aku mau bikin campen atau kerjaan itu tuh ada Ciwide Day, terus ada ee kayak Lembang dan lain-lain.
  When I want to make a campaign or work, there is Ciwide Day, and then there are uh like Lembang and others.

[02:44] Jadi dekat ketika aku mau bikin campaign atau kerjaan gitu.
  So it's close when I want to make a campaign or work like that.

[02:48] Dan ketika aku dulu sempat tinggal di Jakarta juga 1 tahun, tapi enggak cocok karena ketika aku ada kerjaan atau lain-lain itu tuh susah, Bang.
  And when I used to live in Jakarta for a year, it didn't suit me because when I had work or other things, it was difficult, bro.

[02:54] Hm.
  Hm.

[02:54] Harus ke Bogor kan jatuhnya kan karena kan enggak ada yang hutan atau gunung dan lain-lain gitu kan.
  I had to go to Bogor, right, because there are no forests or mountains and so on, right.

[02:59] Jadi aku lebih memilih untuk tinggal di Bandung karena aku bisa dapat semuanya di sana.
  So I prefer to live in Bandung because I can get everything there.

[03:02] Gitu loh.
  That's it.

[03:03] Dan enggak macet dan enggak macet.
  And it's not congested, and it's not congested.

[03:05] Betul.
  Correct.

[03:05] Aku tertarik undang aja ke sini karena banyak teman-teman di sana yang kalau punya banyak uang ya, punya banyak rezeki itu mereka langsung mikirnya, "Aku pengin jalan-jalan ke luar negeri."
  I'm interested, just invite them here because many friends there, when they have a lot of money, yes, have a lot of fortune, they immediately think, "I want to travel abroad."

[03:18] Tapi Ejak adalah salah satu temanku yang justru pengin banget mengelilingi Indonesia dulu gitu.
  But Ejak is one of my friends who actually really wants to explore Indonesia first.

[03:24] Dan kamu banyak ke kota-kota di Indonesia yang bahkan aku sendiri enggak pernah dengar nama kota itu gitu ya.
  And you've been to many cities in Indonesia that even I myself have never heard of the name of that city.

[03:28] Iya.
  Yes.

[03:29] Pertanyaan simpel, kenapa Indonesia dulu dan ada enggak cerita menarik dari kota-kota yang bahkan kita enggak pernah dengar gitu ya?
  Simple question, why Indonesia first and are there any interesting stories from cities that we've never even heard of?

[03:36] Kenapa Indonesia?
  Why Indonesia?

[03:39] Karena kalau bukan kita, siapa lagi, Bang?
  Because if not us, who else, bro?

[03:40] Hmm.
  Hmm.

[03:41] Karena kayak ibaratkan untuk sekarang kebanyakan content creator itu pasti ke luar negeri kan enggak salah.
  Because it's like, nowadays most content creators definitely go abroad, right, that's not wrong.

[03:47] Tapi kan setiap orang punya pasarnya masing-masing kan.
  But everyone has their own market, right.

[03:48] Kalau aku, aku lebih pengin aku lebih mengeksplore Indonesia dulu karena dari segi pertama budget murah.
  For me, I'd rather explore Indonesia first because firstly, from a budget perspective, it's cheap.

[03:53] Enggak semuanya budgetnya murah, ya.
  Not everything's budget is cheap, yeah.

[03:55] Eh, terus yang kedua kayak Indonesia itu kaya banget gitu.
  Uh, then secondly, like Indonesia is very rich.

[04:00] Karena aku udah jalan ke beberapa negara kayak dari segi
  Because I've been to several countries, like in terms of

[04:02] Underwater ya, dari segi underwater tuh Indonesia tuh nomor satu menurut aku di dunia, Bang.
  Underwater, in terms of underwater, Indonesia is number one in my opinion in the world, Bang.

[04:05] [tertawa] Kenapa?
  [laughs] Why?

[04:07] Karena aku pernah ke Zanzibar ya waktu pada saat itu e sama teman-temanku sama Bang Sadam, sama Bang Dimas gitu kan.
  Because I went to Zanzibar back then with my friends, with Bang Sadam, with Bang Dimas, you know.

[04:12] Ketika di sana kita ee ini ee diving sama lumba-lumba dan aku ngelihat underwaternya tuh kayak karangnya enggak ada sama sekali, Bang.
  When we were there, we, uh, this, uh, diving with dolphins and I saw the underwater, like, there were no corals at all, Bang.

[04:18] Cuman pasir putih gitu doang.
  Just white sand, that's it.

[04:20] I.
  I.

[04:21] Tapi ketika aku di Indonesia, karang kita tuh juara nomor satu di dunia.
  But when I'm in Indonesia, our corals are number one in the world.

[04:25] Serius.
  Seriously.

[04:27] Apalagi kayak Raja Ampat, Wakatobi, Bandaneira, terus di Ternate, Labuhan Bajo.
  Especially like Raja Ampat, Wakatobi, Bandaneira, then in Ternate, Labuhan Bajo.

[04:32] Banyak banget underwater Indonesia itu juara banget.
  There's so much, Indonesia's underwater is really champion.

[04:33] Terus kayak pulau-pulau di Indonesia itu masih banyak bahkan yang orang jarang dengar.
  Then like the islands in Indonesia, there are still many that people rarely hear about.

[04:36] Kayak yang terakhir nih ya, aku tuh ke Pulau Sabu.
  Like the most recent one, I went to Sabu Island.

[04:40] Oke.
  Okay.

[04:40] Di otak orang kan Sabu itu ini ya, kayak ib.
  In people's minds, Sabu is like, you know, like, uh.

[04:42] [tertawa]
  [laughs]

[04:43] Sedangkan di Indonesia tuh ada Pulau Sabu itu Bang Sadam udah ke sana kemarin yang dia aku udah nonton di podcast kan dia bilang ke laba Maj itu tuh jarang banget orang tahu dan itu tuh feels-nya tuh enggak kayak di Indonesia sama sekali Bang.
  Whereas in Indonesia there is Sabu Island, Bang Sadam has been there recently, which I've watched on the podcast, right, he said that the Laba Maj is very rarely known by people and the feel is not like in Indonesia at all, Bang.

[04:55] Hm.
  Hm.

[04:55] Dan kayak pada saat aku ke sana ini beneran di Indonesia ya gitu kayak itu tuh kayak kalau di iniin ke ee di tempat di luar gitu tu kayak Kazakhstan lah jatuhnya.
  And like when I went there, it's really in Indonesia, like that, it's like if it's placed, uh, in a place abroad, it would be like Kazakhstan.

[05:01] Ada salah satu tempat di
  There is one place in

[05:03] Kazakhstan apa gitu namanya.
  Kazakhstan, that's what it's called.

[05:04] Itu tuh percis banget kayak di sana gitu.
  That is exactly like there.

[05:06] Terus kayak yang kedua ee ada satu pulau namanya itu Nuucamolas.
  Then for the second one, there is an island called Nuucamolas.

[05:10] Nuamolas ya.
  Nuamolas, yes.

[05:10] Itu tuh pulau itu ada di Flores di NTT tepatnya itu ada di seberang Labuan eh di seberang Werbo.
  That island is in Flores, in East Nusa Tenggara, precisely across from Labuan, uh, across from Werbo.

[05:17] H.
  H.

[05:17] Nah, jadi di Nuucamolas ini pulaunya itu identik ee dengan kayak putri tidur, Bang.
  So, on Nuucamolas, the island is identical to, like, a sleeping princess, bro.

[05:23] Jadi ee nuca molas itu julukannya itu nuca artinya perempuan.
  So, the nickname for Nuca Molas is that 'nuca' means woman.

[05:27] Molas itu cantik.
  'Molas' means beautiful.

[05:27] Oke.
  Okay.

[05:28] Jadi pulau yang cantik gitu.
  So, a beautiful island.

[05:30] Nah, pada saat aku ke sana apa namanya nih?
  So, when I went there, what's it called?

[05:34] Ee pada saat aku ke sana itu akomodasi sana masih susah.
  Uh, when I went there, the accommodation there was still difficult.

[05:37] Jadi aku sama temanku itu ke sana pakai kapan layan.
  So, my friend and I went there using a kapan layan.

[05:40] Hm.
  Hm.

[05:40] Pada saat aku ke sana aku bikin video, ternyata orang baru kaget, "Oh, ini di Indonesia ya?" gitu.
  When I went there, I made a video, and it turned out people were surprised, 'Oh, this is in Indonesia, right?' like that.

[05:46] Hm.
  Hm.

[05:46] Nah, pada pulau itu rame, Bang.
  So, that island is crowded, bro.

[05:49] Dan sampai sekarang ketika aku datang ke pulau itu lagi, orang-orang sana tuh sangat-sangat berterima kasih sama aku gitu.
  And until now, when I come to that island again, the people there are very, very grateful to me.

[05:54] Jadi aku tuh happy banget ketika setiap balik ke sana, "Mas, ini ee ada ada dia bawa tamu nih," gitu kan.
  So I am very happy every time I go back there, 'Sir, this, uh, he brought guests,' right.

[05:58] "Ini loh yang ramaiin pulau kita," gitu.
  'This is the one who made our island crowded,' like that.

[06:01] Jadi kayak harunya tuh beda gitu, Bang.
  So, like, the pride is different, bro.

[06:03] Kayak kesenangan aku tuh beda gitu.
  Like, my happiness is different.

[06:05] Ketika orang-orang sana membanggakan aku sama orang-orang luar kayak ketika ada YouTuber atau konten kreator yang datang, dia akan selalu membangga-banggakan aku ke orang-orang kayak ini loh yang bikin pulau kita ramai gitu.
  When the people there boasted about me to outsiders, like when a YouTuber or content creator came, he would always boast about me to people, like, 'This is the one who made our island busy.'

[06:14] Hm.
  Hm.

[06:15] Kayak titik kesenangan tuh beda banget.
  Like, the point of enjoyment is really different.

[06:16] Serius.
  Seriously.

[06:17] Ketika aku ke sana tuh.
  When I go there.

[06:17] Wow.
  Wow.

[06:19] Dan aku ke sana tuh udah hampir lebih lima kali lah gitu kan.
  And I've been there almost more than five times, you know.

[06:22] Dan yang kedua apa yang ketiga gitu pada saat aku ke sana itu tuh aku voluntiran, Bang di sana, Bang.
  And the second or third time when I went there, I volunteered there, bro.

[06:26] H.
  H.

[06:27] Jadi aku tuh biasanya kalau trip kalau ee kalau trip ketika aku sudah berkesan sama satu tempat itu, aku pasti akan balik lagi dan aku akan voluntiran di sana gitu.
  So usually, when I trip, um, when I trip and I'm impressed with a place, I will definitely come back and volunteer there.

[06:35] Kebetulan aku tuh punya teman dokter.
  I happen to have a doctor friend.

[06:38] Nah, aku ngajak beberapa teman-temanku yang dokter, terus beberapa teman-teman kreator yang lain untuk datang ke sana.
  So, I invited some of my doctor friends, and also some other creator friends to come there.

[06:43] Kita lelang barang-barang kita, kita berbagi untuk orang-orang di sana.
  We auctioned off our items, we shared for the people there.

[06:48] Entah itu anak kecil atau warga-warga di sana gitu loh.
  Whether it's children or residents there, you know.

[06:51] Karena kan pulaunya ini kecil dan masih di luar jangkauan pemerintah kan.
  Because the island is small and still out of government reach, right.

[06:54] Iya.
  Yes.

[06:54] Nah, kalau bukan kita siapa lagi gitu loh, Bang.
  So, if not us, then who else, bro.

[06:56] Wow, [tertawa]
  Wow, [laughs]

[06:58] Mantap.
  Awesome.

[07:02] Tapi pertanyaan simpel, Jak.
  But a simple question, Jak.

[07:02] Enggak murah, Jak tiket domestik?
  Isn't it expensive, Jak, the domestic ticket?

[07:04] Benar.
  True.

[07:05] Apalagi tadi kamu bilang ke timur gitu.
  Especially since you said to the east earlier.

[07:06] Ya.
  Yes.

[07:06] Aku aku pulang ke Aceh aja harganya R jutaan gitu.
  I, I go back to Aceh, the price is in the millions.

[07:11] Mungkin ke timur juga harga yang sama gitu.
  Maybe to the east, the same price.

[07:15] Benar.
  Correct.

[07:15] Benar.
  Correct.

[07:15] Nah, kenapa aku lebih memilih ke daerah timur atau Indonesia?
  So, why do I prefer the eastern region or Indonesia?

[07:20] Karena ketika kita ngonten atau ketika kita ee traveling, kita kan harus ngeluarin modal kan.
  Because when we create content or when we, uh, travel, we have to spend capital, right.

[07:25] Sama halnya kayak orang jualan gitu, Bang.
  It's the same as people selling things, bro.

[07:26] Ya, aku harus ngeluarin modal juga untuk mendapatkan adjustment atau insight gitu loh.
  Yes, I also have to spend capital to get adjustment or insight, you know.

[07:33] Maka itu aku ini, aduh aku grogi lagi.
  That's why I'm, oh, I'm nervous again.

[07:33] Enggak apaa, enggak apa, aman, aman.
  It's okay, it's okay, safe, safe.

[07:34] Maka itu ini ee makanya itu aku lebih memilih Indonesia karena kadang nilai jual Indonesia tuh lebih ini, Bang, lebih mahal.
  That's why, uh, that's why I prefer Indonesia because sometimes the selling value of Indonesia is more, bro, more expensive.

[07:40] Kenapa?
  Why?

[07:44] Karena e ketika aku ngupload konten tentang Indonesia itu tuh lebih relate bagi orang-orang daripada orang ngupload ke konten luar negeri itu.
  Because, uh, when I upload content about Indonesia, it's more relatable to people than uploading content about foreign countries.

[07:49] Sesimpel nih aku ngupload ke Bromo.
  Simply, I upload to Bromo.

[07:50] Orang-orang bisa ke Bromo kan.
  People can go to Bromo, right.

[07:52] Jadi orang-orang tuh akan nyari info tentang Bromo apa segala macam nyarinya ke aku gitu.
  So people will look for info about Bromo and everything, they look for it from me.

[07:55] Oh oke oke.
  Oh, okay, okay.

[07:57] Ketika luar negeri semua orang bisa ke Eropa.
  When it comes to abroad, everyone can go to Europe.

[08:01] Kasih simpel gini deh.
  Let me put it simply like this.

[08:01] Semua orang bisa ke Eropa tapi enggak semua orang bisa ke Nuucamolas atau ke Sabu gitu loh Bang.
  Everyone can go to Europe, but not everyone can go to Nuucamolas or Sabu, you know, bro.

[08:05] Mm
  Mm

[08:07] Aku sendiri belum pernah dengar nucamolas gitu.
  I myself have never heard of Nuncamolas like that.

[08:09] Apalagi polosu sabu gitu.
  Even more so, polosu sabu like that.

[08:11] Ya, tapi dampaknya ejak ke Nuncamolas itu banyak juga berarti YouTuber atau teman-teman lain yang akhirnya datang dan semakin gencar promosinya Nuncamolas itu gitu ya sampai familiar akhirnya.
  Yes, but the impact from Nuncamolas is that many YouTubers or other friends eventually came and the promotion of Nuncamolas became more intense, until it became familiar.

[08:19] Iya.
  Yes.

[08:21] Bahkan kayak sampai sekarang tuh biasa kan kalabuhan baju tuh tripnya Bang ee jualan trip orang-orang tuh cuman sailing atau mentok-mentok warebo.
  Even until now, it's common, you know, the harbor clothes, the trip, Bang ee sells trips, people only go sailing or at most to Warebo.

[08:27] Sekarang ada sepaketebo sama nuchaamolas karena dia berseberangan jadi sepaket.
  Now there is a package with Nuncamolas because it's opposite, so it's a package.

[08:30] Oke.
  Okay.

[08:31] Tapi pertanyaan simpel, apakah diucamas itu tuh ada kayak teman-teman yang jualan souvenir?
  But a simple question, are there friends who sell souvenirs at Nuncamolas?

[08:35] Apakah teman-teman yang kayak jualan makanan dan minuman pada akhirnya karena mereka aware, "Oh, tiba-tiba udah ramai ramai pendatang ini."
  Are friends who sell food and drinks eventually because they are aware, "Oh, suddenly it's crowded with newcomers."

[08:43] Pada saat pertama, kedua aku datang enggak, belum.
  The first and second times I came, no, not yet.

[08:46] Tapi sekarang bahkan orang-orang sana sudah menyiapkan kuda, udah ada yang jualan, udah ada ojek, sekarang sudah banyak kapal yang datang ke sana gitu.
  But now, the people there have even prepared horses, there are people selling, there are motorcycle taxis, now many boats come there.

[08:53] Itu aku senang banget ketika ngelihat perkembangan itu gitu loh, Bang.
  I am very happy when I see that development, you know, Bang.

[08:57] Dan ee karena di sana penginapan belum ada yang terlalu proper ya.
  And um, because there are no accommodations that are too proper yet.

[09:00] Bahkan warga-warga sana menyewakan rumahnya untuk dipakai sama turis gitu loh.
  Even the locals there rent out their houses for tourists to use, you know.

[09:03] Hm.
  Hm.

[09:03] He.
  He.

[09:03] Jadi dapat imp mereka masakin mereka dapat ini, mereka jualan makanan mereka.
  So they get income, they cook, they get this, they sell their food.

[09:08] dapat ini.
  get this.

[09:11] Mereka pakai ojek dapat ee ekonominya kebantuah gitu.
  They use motorcycle taxis, the economy is helped like that.

[09:12] Tapi kan waktu itu kamu jalan masih dengan kapal nelayan kan?
  But back then you were still traveling by fishing boat, right?

[09:16] Berarti sekarang tetap dengan kapal nelayan.
  So now it's still with a fishing boat.

[09:17] Tetap dengan kapal nelayan tapi udah lebih proper.
  Still with a fishing boat but it's already more proper.

[09:20] Oke.
  Okay.

[09:21] Iya.
  Yes.

[09:21] Karena kayak ibaratkan pada saat itu kapal nelayan itu kapal nelayan biasa.
  Because it's like, at that time the fishing boat was just an ordinary fishing boat.

[09:24] Tapi kalau sekarang sudah ditaruh atap, udah dikasih kursi gitu, Bang.
  But now it's already got a roof, already given seats like that, Bro.

[09:28] Udah di dibikin nyamanlah untuk e tamu gitu.
  It's already made comfortable for guests, like that.

[09:30] Iya.
  Yes.

[09:32] Iya.
  Yes.

[09:32] Dan pada saat itu ee pada saat kami ke sana, pada saat aku ke sana sama temanku ee nelayan tuh eh ee si warga lokal tuh belum ngerti.
  And at that time, when we went there, when I went there with my friend, the fishermen, uh, the locals didn't understand yet.

[09:41] Tapi kalau sekarang ketika ke sana dia ngerti nih kita kapal ngarah ke sini ya spot-spot orang ngonten tuh di sini gitu.
  But now when you go there, they understand, 'Oh, our boat is heading here, these are the spots where people make content, here.'

[09:46] Spot orang bikin video atau foto foto-foto tuh kebanyakan di sini gitu.
  The spots where people make videos or photos are mostly here, like that.

[09:49] Jadi mereka tuh sekarang udah lebih aware gitu spot-spot mana aja yang ketika tamu datang mereka maunya ke mana aja gitu.
  So they are now more aware of which spots, when guests come, they want to go where.

[09:56] Kamu kan dari Indonesia bagian barat ya.
  You're from western Indonesia, right.

[09:59] Iya.
  Yes.

[09:59] Tapi kamu pengin lebih explore ke Indonesia bagian timur gitu ya.
  But you want to explore more of eastern Indonesia, right.

[10:03] Apakah karena keindahan alamnya atau apa?
  Is it because of the natural beauty or what?

[10:06] Yang pertama karena keindahan alamnya.
  First, because of the natural beauty.

[10:09] Yang kedua karena aku senang sama orang-orang Timur, Bang.
  The second reason is because I like Eastern people, Bro.

[10:11] Hmm.
  Hmm.

[10:12] Kayak ketika aku sana tuh aku ngerasa pulang.
  Like when I'm there, I feel like I'm home.

[10:14] Serius.
  Seriously.

[10:16] Ketika aku datang ke sana tuh kayak ee karena kan aku kerjanya di media sosial ya, Bang.
  When I come there, it's like, um, because I work in social media, right, Bro.

[10:20] Ketika aku di Bandung atau di mana, orang tuh menganggap aku sebagai influencer.
  When I'm in Bandung or wherever, people see me as an influencer.

[10:24] Tapi ketika aku di sana, aku dianggap sebagai orang biasa.
  But when I'm there, I'm considered an ordinary person.

[10:25] Aku dianggap sebagai teman saudara gitu.
  I'm considered a friend or sibling, like that.

[10:27] Senang banget aku ketika ke sana gitu.
  I'm really happy when I go there, like that.

[10:29] Hm.
  Hm.

[10:32] Wah, aku belum pernah sih emang spesifik mau jalan ke Indonesia Timur gitu.
  Wow, I've actually never specifically wanted to go to Eastern Indonesia, like that.

[10:34] Dan hopefully setelah kita ngobrol seperti ini ada teman-teman yang termotivasi juga termasuk aku yang oke next trip ke mana?
  And hopefully after we talk like this, there will be friends who are motivated, including me, thinking okay, next trip where?

[10:41] Pelan-pelan Indonesia bagian timur gitu.
  Slowly, the eastern part of Indonesia, like that.

[10:43] Karena orang semua bakal pakai opsi Bali Labuhan Bajo banyak banget bagian timur yang belum kita lore ya.
  Because everyone will choose the Bali Labuan Bajo option, there are many eastern parts we haven't explored yet, right.

[10:51] He.
  He.

[10:53] Hai warga berkelas, buat kamu yang punya jasa konsultasi atau mau buat jasa konsultasi tapi masih ribut banget, chat-chatin satu persatu.
  Hello, classy citizens, for those of you who have a consulting service or want to create a consulting service but are still very busy, chatting one by one.

[11:01] Aku relate banget karena aku pernah di posisi itu ya.
  I really relate because I've been in that position, you know.

[11:03] Capek, pusing, harus cari hasil transfer, digosting, ngeschedule terus.
  Tired, dizzy, having to look for transfer results, being ghosted, scheduling constantly.

[11:09] Ini yang bikin aku
  This is what makes me

[11:11] Enggak fokus dengan pekerjaan utamaku gitu.
  I'm not focused on my main job.

[11:15] Tenang, kalau kamu lagi di fase itu juga sekarang aku punya solusi simpel yang bisa bantu kamu beresin masalah ini.
  Don't worry, if you're also in that phase right now, I have a simple solution that can help you solve this problem.

[11:23] Yes, link it appointment.
  Yes, link it appointment.

[11:23] Kamu tinggal bikin halaman, booking, atur jadwal kosong, durasi sesi, harga, sampai detail layanannya.
  You just create a page, booking, set available schedule, session duration, price, and service details.

[11:30] Calon klien tuh tinggal pilih ja, awalnya bayar, dan semuanya langsung tercatat rapi.
  Potential clients just choose, pay upfront, and everything is neatly recorded.

[11:35] Jadi, kamu tuh enggak perlu lagi jadi admin, dadakan setiap harinya.
  So, you don't need to be an admin anymore, scrambling every day.

[11:39] So, kalau kamu punya jasa konsultasi, mentoring, kelas private atau sesi 101, appointment di Linkit itu bisa bikin proses booking kamu jauh lebih profesional, simpel, dan gak bikin kamu pusing.
  So, if you have consulting services, mentoring, private classes, or 101 sessions, appointments on Linkit can make your booking process much more professional, simple, and not make you dizzy.

[11:52] Tunggu apaagi?
  What are you waiting for?

[11:55] Langsung cobain sekarang.
  Just try it now.

[11:55] Apakah ada cerita menarik lainnya, Jak, yang bisa kamu share ke kita?
  Are there any other interesting stories, Jak, that you can share with us?

[11:59] Baik itu dari sisi kamu bermimpi ke tempat itu, baik itu ketika kamu ke sana, banyak hal yang bisa kamu dapat di pelajaran hidup kamu, gitu.
  Whether it's from the side of you dreaming of that place, or when you go there, there are many things you can get as life lessons, you know.

[12:07] Kalau dari aku tuh, Bang, ee ada satu quot yang aku selalu pegang
  As for me, Bro, um, there's one quote that I always hold on to.

[12:12] Sampai sekarang itu ada ada hadis yang mengatakan kirunas anfahum linas kalau enggak salah itu ya ininya.
  Until now, there is a hadith that says, 'The best of people are those who are most beneficial to others,' if I'm not mistaken.

[12:18] Jadi sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna untuk orang banyak.
  So the best human being is one who is useful to many people.

[12:21] Jadi sekarang tujuan hidupku adalah aku pengin bermanfaat bagi semua orang gitu, Bang.
  So now my life goal is that I want to be beneficial to everyone, bro.

[12:25] Karena semakin banyak aku memberikan manfaat untuk semua orang, semakin banyak orang yang mendoakan aku gitu.
  Because the more I provide benefits to everyone, the more people pray for me.

[12:30] Jadi semakin lancar rezekiku, semakin apapun yang aku kerjakan tuh semakin dimudahkan, gitu.
  So the smoother my sustenance flows, the easier everything I do becomes.

[12:33] Hm.
  Hm.

[12:35] Jadi tujuanku sekarang adalah semakin banyak aku membantu orang, aku tuh semakin pengin banyak didoain orang gitu.
  So my goal now is that the more I help people, the more I want to be prayed for by many people.

[12:40] Jadi apapun yang aku lakukan sekarang tuh alhamdulillah dipermudah gitu.
  So whatever I do now, thank God, it is made easy.

[12:44] Kayak sesimpel aku kelabuhan bajo, tiba-tiba aku sakit gigi.
  Like as simple as when I went to Labuan Bajo, suddenly I had a toothache.

[12:46] Oke.
  Okay.

[12:47] Aku tinggal bikin story.
  I just made a story.

[12:48] Aku lagi sakit di Labuhan Bajo.
  I'm sick in Labuan Bajo.

[12:49] Ada kenalan dokter gigi enggak?
  Is there a dentist acquaintance?

[12:51] Dokter giginya yang datang gitu.
  The dentist came to me.

[12:53] Kita [tertawa] followers ini, ini mau kita bantu enggak?
  We [laugh] these followers, do we want to help them or not?

[12:55] Karena kayak ketika aku ke sana tuh kan bantu promosiin tempatnya dia gitu kan.
  Because like when I go there, I help promote his place, right.

[12:59] Bantu promosiin pulaunya dia gitu.
  Help promote his island.

[13:00] Ketika pulaunya ramai, orang-orang sana pun berterima kasih dengan cara seperti itu, gitu.
  When the island becomes busy, the people there thank me in that way.

[13:04] Tapi kalau kamu sendiri udah ke berapa negara dan apakah ada hal-hal menarik yang bisa kamu share ke negara tersebut?
  But how many countries have you yourself been to, and are there any interesting things you can share with those countries?

[13:12] Siapa tahu di sini teman-teman yang mungkin juga udah completed banyak kota-kota di Indonesia dan mereka juga mau melangkah ke luar negeri gitu.
  Who knows, maybe there are friends here who have also completed many cities in Indonesia and they also want to step abroad.

[13:19] Dari POV ajak deh.
  From a POV, just invite them.

[13:20] Kalau aku tuh negara mungkin masih terhitung pasti belasan ya, Bang.
  For me, the countries are probably still counted in the teens, bro.

[13:23] 17 apa 18.
  17 or 18.

[13:25] Tapi aku lebih sering mengulang, Bang.
  But I more often revisit, bro.

[13:26] Mengulang di negara mengulang negara.
  Revisiting a country, revisiting countries.

[13:26] Iya.
  Yes.

[13:28] K ibarkan ke Jepang aku itu berapa kali ya?
  Like, to Japan, how many times was I?

[13:30] Ke Jepang tiga kali atau dua kali, ke Nepal dua kali, ke Saudi tiga empat kali gitu.
  To Japan three times or two times, to Nepal twice, to Saudi three or four times like that.

[13:35] Nah, kenapa aku mengulang?
  So, why do I revisit?

[13:37] Karena kayak ee bagi aku sekarang traveling itu bukan sekedar tempatnya, Bang, tapi perihal aku pergi sama siapa gitu.
  Because like, for me now, traveling is not just about the place, bro, but about who I go with.

[13:43] Sama halnya kayak ibaratkan naik gunung, Bang.
  It's like climbing a mountain, bro.

[13:46] Sebagus apapun gunungnya, kalau orang-orangnya enggak asik gunung itu kerasa asik gitu loh.
  No matter how beautiful the mountain is, if the people aren't fun, the mountain feels fun, you know.

[13:51] Tapi badai walau walau badai bagaimanapun kalau orang-orangnya asik enggak akan kerasa badai gitu loh.
  But even a storm, no matter how bad the storm, if the people are fun, you won't feel the storm, you know.

[13:56] Hmm.
  Hmm.

[13:57] H karena serunya itu gitu loh.
  Because the fun is like that, you know.

[13:59] Karena kan ke orang-orangnya itu asik, jadi kayak asik aja bawanya gitu.
  Because the people are fun, so it just feels fun to go along with it.

[14:02] Tapi kalau ya dari awal orang-orangnya udah enggak asik, walaupun tempatnya bagus, kita enggak akan enjoy gitu kan.
  But if from the start the people aren't fun, even if the place is nice, we won't enjoy it, right.

[14:05] Iya.
  Yes.

[14:06] Jadi kayak sekarang tuh bagi aku traveling tuh bukan perihal tempat, tapi perihal aku sama siapa perginya gitu.
  So like now, for me, traveling is not about the place, but about who I go with.

[14:11] Hm.
  Hm.

[14:11] Dan yang aku suka dari kamu juga
  And what I like about you too

[14:12] kamu ke suatu kota atau suatu daerah itu
  you go to a city or a region

[14:15] tuh kamu bukan sekedar kayak liburan doang kan.
  it's not just like a vacation, right.

[14:18] Kamu naik gunung gitu, kamu explore ke tempat-tempat yang belum pernah orang explore gitu ya.
  You climb a mountain, you explore places that people have never explored before, right.

[14:22] Iya.
  Yes.

[14:24] Apakah motivasinya sesimpel?
  Is the motivation that simple?

[14:26] Gua gua punya keberanian ini atau ada suatu hal lain yang kayak lu kayak enggak sekedar menjamah kotanya tapi spesifik banget ke pelosok-pelosoknya gitu, ke daerah-daerah yang orang jarang kunjungi.
  I have this courage or is there something else like you're not just touching the city but very specifically going to its remote corners, to areas that people rarely visit.

[14:34] Karena aku tuh dulu awalnya penakut, Bang.
  Because I was originally a coward, bro.

[14:36] Aku adalah anak yang sangat-sangat penakut dan aku tuh ke mana-mana dulu dilarang sama orang tuaku.
  I was a very, very timid child and I used to be forbidden by my parents to go anywhere.

[14:41] Oke.
  Okay.

[14:41] Jadi ketika aku dapat kebebasan ee ya aku pengin ngyoba semua hal gitu loh.
  So when I got freedom, um, yes, I wanted to try everything, you know.

[14:46] Aku takut ketinggian.
  I'm afraid of heights.

[14:49] aku takut aku enggak bisa berenang tapi aku nyoba gitu loh.
  I was afraid I couldn't swim, but I tried, you know.

[14:53] Dan ketika aku nyoba ternyata aku bisa gitu loh.
  And when I tried, it turned out I could, you know.

[14:54] Kadang orang-orang tuh belum nyoba dia udah takut duluan.
  Sometimes people are already afraid before they even try.

[14:56] Jadi ujung-ujung enggak mau nyoba gitu loh.
  So in the end they don't want to try, you know.

[14:57] Karena kayak di prinsip aku tuh adalah lebih baik aku nyoba dan aku gagal daripada aku enggak nyoba sama sekali gitu loh.
  Because my principle is that it's better for me to try and fail than not to try at all, you know.

[15:03] Setidaknya aku tahu aku sudahudah nyoba gitu loh.
  At least I know I've tried, you know.

[15:05] Dan kenapa aku bilang eh kenapa K yang tadi Abang tanya kenapa aku lebih memilih kayaknya naik gunung atau eksplor bawah lautnya gitu.
  And why I said, uh, why K, what you asked earlier, why I seem to prefer climbing mountains or exploring underwater.

[15:10] Karena kadang orang-orang tuh enggak bisa ngelihat gunung.
  Because sometimes people can't see the mountain.

[15:12] Enggak semua orang bisa
  Not everyone can

[15:13] Naik gunung gitu loh kayak orang-orang kerja kantoran gitu kan.
  Climbing a mountain, you know, like office workers do.

[15:16] Oh, ternyata gunung tuh gini ya gitu.
  Oh, so that's what a mountain is like.

[15:18] Oh, ternyata bawah laut tuh seperti ini ya gitu.
  Oh, so that's what underwater is like.

[15:20] Jadi gua pengin ngasih lihat ke orang-orang ternyata Indonesia tuh sekaya ini gitu loh.
  So I want to show people that Indonesia is this rich.

[15:22] Indonesia itu punya ini gitu loh.
  Indonesia has this, you know.

[15:25] Negara itu kita itu kaya banget.
  Our country is very rich.

[15:27] Bang, aku pernah ke Uganda.
  Bro, I've been to Uganda.

[15:29] Oke.
  Okay.

[15:30] Uganda itu kalau enggak salah tuh negara itu sangat-sangat korup lah ya.
  Uganda, if I'm not mistaken, is a very, very corrupt country.

[15:33] Bisa dibilang sih ini ya.
  You could say so.

[15:34] Dan negara itu ee salah satu ini tuh ya dari pariwisata itu cuman mengandalkan hewannya doang.
  And that country, um, one of its tourism relies only on its animals.

[15:40] Simpan ada aku kita kemarin simpan tracking gitu.
  Wait, we did tracking there.

[15:42] Simpan set tracking di Uganda.
  We set up tracking in Uganda.

[15:45] Ketika itu ya negara itu mengharapkan dari pariwisata seperti itu doang gitu.
  At that time, that country only expected tourism like that.

[15:48] Tapi Indonesia yang sekaya ini gitu loh.
  But Indonesia is this rich, you know.

[15:51] Kayak punya bawah laut yang oke, hewan oke, flora oke, fauna oke gitu.
  Like having a great underwater world, great animals, great flora, great fauna.

[15:57] Tapi kayak agak gimana gitu, Bang.
  But it's kind of like, how do I say it, Bro.

[15:59] Agak agak kasihan aku gitu loh.
  I feel a bit sorry, you know.

[15:59] Iya.
  Yes.

[16:01] Iya.
  Yes.

[16:01] Tapi tapi tadi gambaran kamu sih kebayang sekali sih ketika kamu bilang emang tujuan kamu itu kan bermanfaat bagi orang lain gitu.
  But your description earlier was very clear when you said your goal is beneficial for others.

[16:06] Terutama orang-orang yang kadang enggak ada waktu untuk liburan seminggu, 2 minggu gitu.
  Especially people who sometimes don't have time for a one-week or two-week vacation.

[16:11] Dan tontonan mereka kontennya ejak itu.
  And their viewing content is like that.

[16:13] Iya.
  Yes.

[16:13] Gimana sih ajak naik gunung, gimana.
  How about inviting them to climb a mountain, how about that.

[16:14] Sih ajak e menyelam ke dasar laut gitu ya.
  So, like, invited to dive to the bottom of the sea, you know.

[16:18] Jadi orang-orang yang tadinya mungkin tidak pernah kepikiran untuk traveling he itu langsung kepikiran tuh atau kayak lu pernah nonton enggak film ee Water Mut ya.
  So people who previously might never have thought about traveling, they immediately thought about it, or like, have you ever watched the film Water Mut, yeah.

[16:29] Dia yang dia tuh kayak orang kantoran akhirnya dia explore ke tempat-tempat yang enggak pernah dia kunjungi.
  He, who was like an office worker, eventually explored places he had never visited.

[16:33] Akhirnya dia berubah perspektif gitu akhirnya dia resign.
  Eventually his perspective changed like that, and he resigned.

[16:37] Iya, itu cara pandang yang menarik ketika yang tadinya kayak ngulang hal yang sama terus akhirnya coba traveling gitu.
  Yes, that's an interesting perspective when someone who was like repeating the same thing over and over finally tries traveling.

[16:43] Iya.
  Yes.

[16:45] Karena kayak traveling itu menurutku belajar sih, Bang.
  Because traveling, in my opinion, is about learning, bro.

[16:47] Aku tuh awalnya kontennya bukan traveling.
  My content initially wasn't about traveling.

[16:48] Salah Bang tahu kontennya aku tuh awalnya masak.
  You know, bro, my content was originally about cooking.

[16:52] Iya, awalnya aku kontennya masak.
  Yes, initially my content was cooking.

[16:54] Nah, kenapa aku memutuskan untuk traveling?
  So, why did I decide to travel?

[16:56] Ketika aku masak, aku dapat duit.
  When I cooked, I earned money.

[16:59] Aku enggak mau.
  I didn't want that.

[17:00] Aku masih muda.
  I'm still young.

[17:00] Aku mau dapat duit doang.
  I don't just want to earn money.

[17:02] Ketika aku masak, aku cuma satu ruangan seperti ini doang.
  When I cook, I'm just in one room like this.

[17:03] Ya udah aku masak, kalau dapat duit, ya hidupku repeat di situ doang, Bang.
  So I cook, if I earn money, my life just repeats there, bro.

[17:05] Gitu.
  Like that.

[17:08] Jadi selagi aku masih muda, selagi aku masih kuat dan sanggup g ya sudah aku memutuskan mencoba sesuatu hal yang baru gitu loh.
  So while I'm still young, while I'm still strong and capable, I decided to try something new, you know.

[17:12] Aku traveling.
  I travel.

[17:14] Kenapa aku memutuskan untuk traveling
  Why did I decide to travel

[17:15] Dan aku kontenin gitu?
  And I make content like that?

[17:18] Aku dapat duit, aku dapat relasi, aku dapat pengalaman.
  I get money, I get connections, I get experience.

[17:21] Hm.
  Hm.

[17:21] Jadi aku tuh enggak mau bertahan di satu zona nyamanaku doang gitu loh.
  So I don't want to just stay in my comfort zone like that.

[17:24] Iya.
  Yes.

[17:26] Oke, berarti aku nangkap nih connecting the doors-nya ejak gitu.
  Okay, so I catch the connecting the doors thing like that.

[17:28] Yang pertama nih orang jago masak ya.
  The first one is this person is good at cooking, right.

[17:30] Yang kedua ni orang suka traveling.
  The second one is this person likes traveling.

[17:31] Yang ketiga ni orang suka berteman jaga relasi gitu.
  The third one is this person likes making friends and maintaining relationships like that.

[17:35] Makanya nanti ada pertanyaan tentang pertemanan ya, yang aku tahu itu dari teman-teman juga tentang ejak.
  That's why later there will be questions about friendship, which I know from friends too about ejak.

[17:40] Kamu jago masak dan itu sangat bantu dong ketika kamu traveling, misalnya kamu di gunung, kamu di pantai dan kamu punya bahan-bahan mentah tuh kamu bisa masak.
  You are good at cooking and that really helps when you travel, for example you are in the mountains, you are at the beach and you have raw ingredients, you can cook.

[17:49] Benar.
  True.

[17:51] Kalau laki-laki itu ee masak itu enggak penting resep, yang penting ada bahan kita bisa bikin jadi apapun.
  For men, um, cooking doesn't need a recipe, what matters is having ingredients, we can make anything.

[17:54] Oke.
  Okay.

[17:55] Dan ketika di gunung, aku tuh pengin ngubah mindset orang-orang yang di gunung yang biasanya makan Indomie atau bikin nasi goreng biasa.
  And when in the mountains, I want to change the mindset of people in the mountains who usually eat Indomie or make plain fried rice.

[18:02] Tapi aku mengubah mindset orang tuh kalau makan di gunung kita harus bikin yang sesuatu yang lebih enak gitu loh.
  But I change people's mindset that when eating in the mountains we have to make something tastier like that.

[18:07] Karena apa?
  Because why?

[18:08] Karena kita capek naik gunung ya.
  Because we are tired from climbing the mountain, right.

[18:10] Kita harus ketika kita harus dibayar pakai makan enak gitu loh.
  We must, when we must be rewarded with good food like that.

[18:12] Kayak aku tuh sama temanku bahkan kayak bikin tumpeng, bikin chicken cordon blue, bikin ee
  Like me and my friend even make tumpeng, make chicken cordon bleu, make um

[18:17] Bakso gitu yang jarang dibikin orang.
  That kind of meatball soup that people rarely make.

[18:19] Kita bikin semewah mungkin gitu.
  We make it as luxurious as possible.

[18:20] Siapin bahan dari bawah dong.
  Prepare the ingredients from the bottom, please.

[18:21] Iya.
  Yes.

[18:21] Siapin bawah bahan dari bawah.
  Prepare the bottom ingredients from the bottom.

[18:24] Nah, kadang orang nanya bawnya gimana, Bang?
  Well, sometimes people ask how to carry it, bro?

[18:26] Bawanya pakai porter gitu loh.
  You carry it using a porter, you know.

[18:27] Oh.
  Oh.

[18:27] Enggak harus kita semuanya yang bawa gitu loh.
  It doesn't have to be us carrying everything, you know.

[18:32] Karena kan ya kenapa kita pakai porter?
  Because, well, why do we use a porter?

[18:34] Kadang kalau di gunung itu, Bang, kadang ada beberapa orang yang keren-kerenan gitu.
  Sometimes on the mountain, bro, sometimes there are people who try to act cool like that.

[18:37] Ih lemah nih naik gunung pakai porter gitu.
  Oh, how weak to climb a mountain using a porter like that.

[18:39] Ya, bagi aku adalah kita capek-capek nyari duit ya udah kita bayar orang gitu loh.
  Well, for me, we work hard to earn money, so we just pay someone, you know.

[18:42] Dan ketika kita bayar orang, kita membantu perekonomian masyarakat sekitar gitu kan.
  And when we pay someone, we help the local economy, right.

[18:45] Setuju.
  Agreed.

[18:45] Setuju.
  Agreed.

[18:47] Ini gara-gara gini nih orang udah ekspektasinya tinggi pas naik gunung majak nih.
  This is because of this, people already have high expectations when climbing Mount Majak.

[18:49] Wah kalau sama Jakjak nih enak nih masakan di atas.
  Wow, if it's with Jakjak, the food up there is delicious.

[18:52] Iya.
  Yes.

[18:53] Tapi kalau itu bisa aku pastikan dan aku garansi 100%.
  But I can confirm and guarantee that 100%.

[18:58] We we itu masak di mana, Jak?
  Where did we cook that, Jak?

[18:59] Dan masaknya seperti apa pada waktu itu pas awal-awal konten.
  And how was the cooking back then at the beginning of the content.

[19:01] Pas awal konten aku masak itu aneh.
  At the start of the content, I cooked something strange.

[19:03] Masak sesuatu yang aneh.
  Cooked something strange.

[19:05] Aku bikin nasi goreng pakai Milo, terus aku bikin ee ee sup pakai tempe gitu, Bang.
  I made fried rice with Milo, then I made um um soup with tempeh, bro.

[19:11] Jadi kayak ibaratkan perihal ngonten itu, Bang, bukan seberapa bagus, tapi seberapa unik.
  So it's like regarding content creation, bro, it's not about how good, but how unique.

[19:15] Konten bagus itu banyak, tapi
  Good content is abundant, but

[19:17] Konten unik itu jarang.
  Unique content is rare.

[19:19] Keunikan kan punya ciri khasnya masing-masing, kan.
  Uniqueness has its own characteristics, right.

[19:20] Jadi semakin unik semakin orang tonton, semakin bagus ya bagus aja gitu loh.
  So the more unique it is, the more people watch, the better it is, just like that.

[19:24] Kayak kalau unik ya unik gitu loh.
  Like if it's unique, it's just unique.

[19:26] Oke.
  Okay.

[19:28] Tapi Jak pernah lihat juga postingan-postingan kamu yang berani cringe gitu.
  But Jak has also seen your posts that are boldly cringe.

[19:34] The art of being cringe, the art of being kelihatan aneh ketika ngonten gitu ya.
  The art of being cringe, the art of looking weird when creating content, right.

[19:38] Pasti orang-orang yang udah achieve jutaan followers, audience-nya besar sekali dan kamu tuh PD-PD aja gitu pegang kamera di depan orang banyak gitu.
  Surely people who have achieved millions of followers, their audience is huge, and you are just confident holding a camera in front of many people.

[19:46] Pasti ada fase kayak pahit banget kayak takut dij pernah di fase dianggap remeh segala macam.
  There must be a phase that is very bitter, like being afraid of being in a phase where you are considered trivial and all.

[19:52] Nah, untuk ngelewatin fase itu tuh apa aja yang pernah dihadapi?
  So, to get through that phase, what have you faced?

[19:55] Karena aku yakin teman-teman yang menonton ini juga pasti mungkin sedang di fase itu dan mereka pengin tahu perspektif ejak sampai seped sekarang gitu.
  Because I'm sure the friends watching this are also probably in that phase and they want to know the perspective from then until now, like that.

[20:02] Kenapa gua bisa sepeda sekarang, Bang?
  Why can I be like this now, Bro?

[20:03] Karena dulu aku tuh selalu diremehkan sama orang, Bang.
  Because back then I was always looked down upon by people, Bro.

[20:06] Hm.
  Hm.

[20:07] Ketika awal aku ngonten, aku ngonten tuh dari 2015.
  When I first started creating content, I started in 2015.

[20:10] Oke.
  Okay.

[20:10] Lama juga.
  That's a long time too.

[20:12] Pada saat aku ngonten 2015, orang-orang beberapa temanku lah ya, sampai sekarang masih temenan sih, dia pada bilang kayak, "Bang, apaan sih bikin-bikin video enggak jelas gitu."
  When I was creating content in 2015, some of my friends, well, we're still friends until now, they said things like, 'Bro, what are you doing making unclear videos like that.'

[20:18] kayak orang goblok enggak akan ada

[20:19] duitnya gitu. Tapi aku suka."

[20:23] Nah, perihal ngonten yang penting kita

[20:24] suka, Bang. Aku bikin apa yang aku suka

[20:26] bukan apa yang orang suka.

[20:28] Karena dari awal kalau kita ngikutin

[20:29] maunya orang enggak akan ada habisnya

[20:30] gitu. Kalau dari awal kita ngikutin

[20:32] maunya kita, kita senang bikinnya, kita

[20:33] bakal lanjutan terus gitu loh. Kayak

[20:35] bilang, "Aku udah punya jutaan

[20:36] followers, tapi aku enggak enggak ada

[20:38] keibadan idealis gitu. apapun aku upload

[20:40] itu karena aku suka aku akan

[20:42] meng-upload, aku akan membikin apapun

[20:43] yang aku suka gitu loh

[20:45] karena ini media aku gitu loh, ini pasar

[20:47] aku gitu loh ya. Kalau kalian suka

[20:48] tonton, kalau enggak ya usah gitu.

[20:51] Berarti kamu ada ngelewatin fase kayak

[20:53] enggak peduliin deh views-nya berapa

[20:54] gitu ya?

[20:54] Enggak. Karena yang penting aku upload,

[20:56] yang penting aku suka dan aku upload.

[20:59] Karena gini, Bang. Kebanyakan orang

[21:01] sekarang itu gagal ngonten karena ketika

[21:03] dia bikin satu dua konten udah enggak

[21:04] ramai, dia enggak mau bikin lagi. Yang

[21:06] harusnya dia lakukan adalah bikin aja,

[21:07] jangan pikirin view. yang bakal ngejawab

[21:09] itu cuma waktu gitu loh, Bang. Karena

[21:11] kalau dari awal kita udah mikirin duit,

[21:13] udah dari awal kita mikirin view, enggak

[21:14] akan ada habisnya. Kita enggak akan bisa

[21:15] men ekspektasi kita sendiri gitu loh.

[21:17] Semua itu yang bakal jawab waktu gitu

[21:18] loh.

[21:19] Hmm. Tapi kan itu terlatih, Jak. Karena

[21:22] banyak teman-teman di luar sana tuh

[21:23] kayak mereka bisa bilang, "Aku enggak

[21:24] PD, aku enggak berani." Karena mereka

[21:26] juga melatih untuk enggak PD. Itu kan

[21:28] terlatih terus tuh aku mau posting tapi

[21:30] besok kaji besok besok besok besok

[21:32] sampai kemudian sudah bertahun-tahun

[21:33] enggak posting-posting dan akhirnya

[21:34] nyesal juga karena enggak mulai sejak

[21:35] awal gitu ya. Kalau kamu ketemu dengan

[21:37] orang seperti itu gitu, kamu mau

[21:39] nyampain apa ke mereka? Kayak ya udah

[21:41] ini konten kamu itu hak milik kamu.

[21:43] Jangan peduliin orang atau seperti apa.

[21:45] Kalau saran dari aku adalah bikin dulu.

[21:47] Jangan pikirin orang, jangan pikirin

[21:49] view, jangan pikirin apapun. Intinya

[21:50] kita senang lakuin.

[21:52] Hmm.

[21:53] Intinya tuh kebanyakan orang sekarang

[21:54] tuh karena terlalu banyak mikiran

[21:56] omongan orang enggak jadi bikin dan

[21:58] enggak jadi memulai gitu loh. Intinya

[21:59] mulai dulu aja gitu. Kadang ada orang

[22:01] yang bikin konten 1 sampai 9 konten.

[22:03] 99nya enggak ada yang naik, dia nyerah.

[22:04] Padahal dia enggak tahu kalau dia bikin

[22:06] konten ke-10, di antara konten 10 itu

[22:08] naik, konten yang lain ikut naik gitu

[22:09] loh, Bang.

[22:10] Hm.

[22:12] Jadi orang tuh jangan jangan terlalu

[22:13] cepat nyerah dan jangan jangan mikirin

[22:15] hasil dulu, gitu loh. Bikin dulu aja,

[22:16] proses dulu aja. Karena ee ketika kita

[22:18] berproses, kita tuh akan ee ketika kita

[22:20] jatuh, kalau kita berproses, kita tahu

[22:22] cara untuk naik. Tapi kalau dari awal

[22:24] kita bikin sesuatu dan udah naik dan ee

[22:26] kita jatuh, kita enggak tahu cara naik

[22:27] lagi. Iya. I good point. I

[22:31] nikmatin aja prosesnya gitu loh.

[22:32] Hm. He.

[22:33] Kebanyakan orang sekarang tuh gak mau

[22:34] maunya yang instan aja. Sedangkan aku

[22:36] ngonten dari 2015 aku naiknya itu baru

[22:38] 2020.

[22:40] Wow.

[22:40] Banyak orang yang ngonten sekarang di

[22:42] era digitalisasi sekarang itu tuh

[22:44] gampang banget naiknya, Bang.

[22:45] H.

[22:45] Apalagi dengan adanya TikTok gitu kan.

[22:47] TikTok tuh semua orang bisa FP, Bang,

[22:49] bisa viral. Gampang banget gitu loh.

[22:50] Iya. Dan mempertahankannya yang sulit

[22:51] sih.

[22:52] Mempertahankannya yang sulit gitu.

[22:53] Hmm.

[22:55] Tapi aku sangat-sangat relate sama

[22:56] teman-teman di luar sana, terutama kayak

[22:58] ejak tadi yang kayak kadang kita tuh

[23:00] harus menghadapi fase proses yang pahit

[23:04] bisa 3 tahun 4 5 tahun gitu. Karena

[23:06] supaya apa? Karena pas lu dapatin

[23:07] sesuatu yang baru dan yang berkelas itu

[23:09] lu mengapresiasinya.

[23:11] Karena sesuatu yang instin itu kayak

[23:12] kita kayak take for granted gitu loh.

[23:14] Iya benar. [berdehem]

[23:14] Ya udahlah udah udah terlanjur FP terus

[23:17] pas udah

[23:18] hilang FP-nya enggak bisa nge-maintain

[23:20] lagi baru kita ngerasa kok ada yang

[23:21] hilang dan stres kan. Benar ya. In itu

[23:24] berproses. Sama halnya kayak barkan

[23:25] membentuk tim, Bang.

[23:26] I

[23:26] aku sebelum aku bentuk tim, aku harus

[23:29] bisa ngedit sendiri, aku harus bisa

[23:30] bikin storyline sendiri, aku harus bisa

[23:31] dilal-dilan kerjaan sendiri, aku harus

[23:33] bisa ngerekam sendiri. Ketika aku enggak

[23:34] punya tim, aku bisa sendiri kok, gitu.

[23:36] Iya. I

[23:36] simpel itu, gitu. Intinya tuh ee kalau

[23:39] kita mau sesuatu ya kita harus proses

[23:40] dulu, nikmatin proses dulu, gitu loh.

[23:42] I dan ketika kita punya tim, kita lebih

[23:44] gampang ng-directnya kan karena kita

[23:46] sudah pernah ngerasain fase itu ya.

[23:47] Betul. Jadi kita tahu caranya gitu loh.

[23:49] Iya. I ya. Ya, si benar-benar setuju

[23:50] sekali karena banyak teman-teman di luar

[23:52] sana yang konsul ke aku kayak kita punya

[23:55] one consultation gitu ya di linkit.

[23:57] Terus teman-teman aku pada bilang kayak

[23:59] ee mereka bangun tim terus mereka

[24:02] ngeluh karena timnya pada bikin banyak

[24:04] alasan kayak ngedit harus 5 jam. Satu

[24:06] res doang ngedit konten simpel 5 jam.

[24:08] Terus kalau aku bilang kayak, "Oh, kamu

[24:10] enggak paham karena kamu juga jarang

[24:11] enggak pernah ngedit gitu. Kalau kamu

[24:13] kasih ke aku dan tim kamu ketemu sama

[24:15] aku, aku bisa tackel tuh

[24:17] alasan-alasannya

[24:18] karena lu harus fokus dengan apa yang lu

[24:20] bikin dulu sampai lu bisa ng-ederek

[24:21] orang gitu ya.

[24:22] Iya. Bahkan timku tuh sangat-sangat

[24:24] gokil, Bang. Aku punya tim namanya itu

[24:26] Mas Adit. Dia itu bisa ee ngedit video

[24:28] durasi 45 menit sampai 1 jam YouTube

[24:30] vlog dalam waktu 1 hari.

[24:33] Wow.

[24:33] Jadi dan kadang aku jalan nih kan kadang

[24:35] biasanya aku trip gitu kan aku

[24:37] kebanyakan kan kalau nginp-nginap itu

[24:39] barter. Nah aku nginp-nginap itu barter

[24:41] kan. Entah itu sama villa, penginapan

[24:43] apapun hotel gitu kan. Ketika aku jalan

[24:45] terus kayak tiba-tiba ja jadi apa Mas

[24:48] ini tinggal upload aja kan kita barter

[24:50] kan kapan tag-nya? Udah dia bilang

[24:52] saking dia udah ngerti sama aku gitu loh

[24:53] bang enggak perlu di-brief lagi udah

[24:55] udah ngerti sendiri gitu loh.

[24:56] Wah

[24:57] timku tuh superers superer tim. Serius

[24:58] dah.

[24:59] Iya iya i

[24:59] kayak aku yang aku bawa nih Fadel.

[25:01] Nah itu kayak aku tuh selalu bilang sama

[25:03] dia, "Tu kan aku aku ngasih e hard disk

[25:05] aku, SSD aku ke dia. Aku tinggal ngirim

[25:07] referensi doang. Bang jadi Bang jadi

[25:09] gitu."

[25:09] Iya ya. Inisiatif sih itu salah satu hal

[25:11] yang mahal dari tim sih. Inisiatif

[25:13] inisiatif dan di timku aku enggak mau

[25:15] mereka tuh ngerjain kontenku doang. Aku

[25:16] nge-push mereka, mereka harus ngonten

[25:18] karena aku mau grow bareng. Aku enggak

[25:20] mau grow sendiri.

[25:20] Benar. Setuju. Aku suka itu. Ya, dan aku

[25:24] juga notice ya, Teman-teman, yang

[25:25] menonton ini tuh kalau Ejak tuh suka

[25:27] banget ng-repost postingan orang lain.

[25:29] Termasuk aku posting juga dipost sama

[25:31] Ejak, terus ada orang lain bikin konten

[25:33] juga di-post sama Eja gitu. Tanpa aku

[25:35] tanya ke eja, tanpa aku bikin pernyataan

[25:37] ke ejek, aku langsung punya hipotesis,

[25:39] yaitu kayaknya ini ejak support orang

[25:42] deh. Bisa jadi ketika dia ng-repost

[25:45] orang itu dia ingat fase-fase dia saat

[25:47] memulai enggak ada yang ngrepost dia,

[25:48] enggak ada yang clap for dia, enggak ada

[25:50] yang support dia. Dan ketika dia punya

[25:52] audios yang besar, dia akan nge-support

[25:54] dan nge-clap for orang. Kayak orang yang

[25:55] punya trauma, dia ingin memutus lantai

[25:57] traumanya dan dia nge-support

[25:58] keluarganya atau anak-anaknya gitu.

[26:00] Apakah itu statement yang tepat atau

[26:01] seperti apa?

[26:02] Tepat banget, Bang. Karena aku tahu cara

[26:04] e aku tahu waktu aku berproses dulu,

[26:06] Bang, aku diremehkan orang, enggak

[26:07] dipeduliin orang, tapi aku tetap bikin,

[26:09] bikin, bikin. Dan ketika aku ngelihat

[26:10] orang yang lagi berproses, ya aku bantu,

[26:12] gitu loh. Kadang, Bang, e kenapa aku

[26:14] banyak banget ng-repost video orang?

[26:16] Kenapa aku banget ng-repost ini itu

[26:17] bahkan kerjaan orang pun aku repost,

[26:19] endorsan orang yang bahkan aku tuh

[26:20] enggak dapat persenan sama sekali gitu

[26:21] loh. Kenapa aku mau nge-repost? Karena

[26:24] ee satu tombol klik itu tuh kecil

[26:26] banget, Bang. Gampang kan? Enggak sampai

[26:27] 1 detik loh klik gitu kan. I

[26:29] tapi dampaknya besar bagi orang gitu

[26:31] loh. Dan ketika orang itu dapat e dampak

[26:33] yang besar, aku didoakan gitu loh. Aku

[26:35] dapat pahala jariah gitu. Semakin banyak

[26:36] pahala pahala jariah yang aku dapatkan,

[26:38] semakin orang itu eh semakin rezekiku

[26:39] dilancarkan gitu, Bang.

[26:41] Tapi apa motivasi lain, Jak? Selain kamu

[26:44] kayak membantu teman-teman yang tadi

[26:45] baru memulai gitu, apakah kamu pernah

[26:48] punya gambaran di kepalamu bahwa

[26:50] oh ini supaya nanti Tuhan membalasnya

[26:52] atau supaya aku juga dipost oleh orang

[26:54] lain gu atau selesai di situ doang gitu.

[26:56] Enggak selesai di situ doang. Wis,

[26:58] karena tulus aja, Bang. Karena aku

[27:00] ketika melakukan sesuatu aku enggak

[27:01] pernah minta imbalan. Aku enggak pernah

[27:02] berharap imbalan. Karena kalau kita

[27:03] berharap dan harapan itu enggak terjadi,

[27:05] kita sakit hati, Bang. [mendengus] Yang

[27:06] penting ikhlas.

[27:08] Seperti yang yang di podcast Abang sama

[27:09] Kak Roma itu tuh benar banget semuanya

[27:11] ikhlas.

[27:12] Kalau kita ikhlas pasti dimudahkan,

[27:13] Bang, semuanya, Bang.

[27:15] Hm. Aku penasaran, Jak. Apakah kamu tipe

[27:17] orang yang senang bermanifestasi,

[27:20] bermimpi karena kamu tadi ngomongin

[27:22] tentang nonton juga podcast suara

[27:23] Bekelas sama Roma gitu, ya?

[27:25] Iya. Apakah kamu tipe orang yang kayak

[27:27] coret-coret di kertas terus tiba-tiba

[27:29] banyak tercapai kamu apresiasi gitu?

[27:30] Karena banyak juga teman-teman di sini

[27:32] yang kayak banyak impiannya terwujud.

[27:34] Mereka tuh kayak lupa bersujud gitu loh.

[27:36] Jadi kayak tipe orang yang tiba-tiba

[27:38] lupa. Kalau kamu seperti apa?

[27:39] Aku tipikal orang yang afirmasi. Benar

[27:41] yang Abang bilang. Jadi di saat

[27:43] kamar-kamar orang itu estetik, Bang,

[27:44] tapi kamarku itu penuh tulisan.

[27:46] Oke.

[27:46] Jadi di dinding kamarku itu aku tulis,

[27:48] "Aku pengin apa? Aku pengin umrah tiap

[27:50] tahun. Aku pengin naik pesawat bisnis

[27:51] class. Aku pengin majuin pariwisata

[27:53] Indonesia. Aku pengin ngelihat PSPS naik

[27:55] ke Liga 1.

[27:56] PSPS Pekanbaru.

[27:57] Pekanbaru. Dan aku tulis semuanya, Bang.

[27:59] Ya, aku enggak tahu kapan itu terwujud.

[28:00] Yang penting aku tulis aku pengin dulu

[28:01] aja gitu loh. Enggak ada yang tahu kan

[28:03] kapan terwujudnya gitu. Bahkan ada satu

[28:05] kontenku yang aku pin sampai sekarang

[28:06] aku bilang, aku nulis waktu dulu aku

[28:08] ngomong, "Aku pengin keliling Indonesia

[28:10] sebelum umur aku 25 tahun. Tapi apa?

[28:14] Tulisan Indonesia aku kelilingin. Aku

[28:16] jokes tapi enggak ada yang tahu kan

[28:18] sekarang aku keliling Indonesia beneran

[28:19] gitu loh.

[28:20] Mimpi dulu aja, Bang. Mimpi itu gratis."

[28:22] Iya. I ya. Wah.

[28:23] Kalau kata Raim Lode itu mimpi itu

[28:24] gratis, ambil yang paling mahal gitu

[28:26] loh.

[28:26] Iya. I ya. Mimpi itu gratis, ambil yang

[28:28] paling mahal.

[28:28] Iya.

[28:29] Aku bisa menyimpulkan ejak ini tipe

[28:31] orang yang sportif banget kalau jadi

[28:33] teman gitu ya.

[28:35] Kalau aku masuk ke dunia pertemanan

[28:36] kamu, aku notice kamu berteman sama

[28:39] teman-teman travel, pemain bola juga.

[28:40] Pokoknya banyak hal orang random yang

[28:42] kamu jadi teman gitu ya.

[28:42] I stand up komedi juga gitu.

[28:44] Banyak banget nyanyi bahkan. Ya,

[28:46] pertanyaan simpel.

[28:48] Gimana cara ng-maintain pertemanan dari

[28:51] POV seorang yang berkelas gitu?

[28:53] Cara aku mau maintain pertemanan adalah,

[28:55] "Bang, aku akan sangat-sangat menghargai

[28:57] waktu." Kenapa aku bilang seperti itu?

[28:59] Kayak aku di Jakarta, aku akan membagi

[29:00] wakuku 3 jam aku dengan ini, 3 jam aku

[29:02] dengan ini, 3 jam aku dengan ini, gitu.

[29:05] Jadi, aku enggak mau yang keatkan sehari

[29:06] itu kosong aja gitu. Jadi, seharian aku

[29:09] tuh aku harus ketemu orang, aku harus

[29:10] ngobrol sama orang gitu. Tapi ada

[29:12] masanya aku enggak mau ketemu orang. Itu

[29:14] adalah fase di mana aku pulang

[29:15] traveling.

[29:16] Oh,

[29:16] pulang traveling aku akan ngecas 3 hari

[29:18] atau 2 hari gitu kan aku enggak ketemu

[29:19] orang. Udah habis itu aku pasti ngobrol

[29:20] sama orang. Aku akan tetap ngejaga e

[29:22] hubunganku dengan orang-orang tuh yang

[29:23] setidaknya aku ketemu dan ngobrol

[29:25] walaupun apapun itu obrolannya gitu live

[29:27] update lah intinya gitu. Jadi hubunganku

[29:29] tuh tetap terjaga terus gitu. Kita tetap

[29:31] keep in touch gitu. Berarti kamu yang

[29:33] menentukan energimu itu bisa enggak 3

[29:35] jam untuk dia, 3 jam untuk dia. Karena

[29:37] banyak orang yang mungkin enggak enakan

[29:38] kayak pulang traveling bukannya

[29:40] nge-charge malah kasih energi ke orang

[29:42] lain dan

[29:42] energinya sisa 1% sebenarnya.

[29:44] Iya.

[29:45] Tapi jadinya enggak optimal ketika

[29:47] quality time dengan teman-temannya ya.

[29:48] Iya. Nah, kayak aku itu mmaintain dengan

[29:49] cara ya ketika aku after after traveling

[29:52] aku istirahat dulu, habis itu udah

[29:53] ketemu lagi, ngobrol lagi sana sini itu

[29:56] terus apa yang bisa aku bantu? Kayak

[29:57] sesimpel. Abang boleh deh lihat di ini

[29:59] aku teman-temanku tuh yang baru-baru ini

[30:01] aku colab semua postingannya gitu karena

[30:03] aku pengin mereka grow gitu loh Bang.

[30:04] Karena aku pengin orang-orang tuh

[30:05] ngerasain apa yang aku rasain gitu.

[30:07] Hm.

[30:07] Karena ketika mereka sukses, ketika

[30:08] mereka punya followers yang banyak

[30:10] mereka akan ingat aku gitu. Karena aku

[30:11] tuh enggak akan selamanya di atas, Bang.

[30:13] I

[30:14] dan ketika aku jatuh ya, orang-orang

[30:16] yang aku bantu yang akan ngebantu aku

[30:17] tanpa aku minta, gitu loh.

[30:18] Hmm. Berarti kamu tadi share ekspektasi

[30:21] dong.

[30:21] Hah?

[30:22] Kamu bakal share ekspektasi ke mereka

[30:23] dong kalau bisa.

[30:24] Ya maksud ya secara tidak langsung pasti

[30:26] mereka bakal bantu aku gitu loh.

[30:27] Oh

[30:27] tanpa aku minta pun gitu dan itu terjadi

[30:30] dan itu sudah terjadi ya kan

[30:32] setiap masa ada orangnya setiap orang

[30:33] ada masanya itu

[30:35] enggak selalu kita enggak selalu di atas

[30:37] gitu ya.

[30:37] Iya

[30:38] tapi kalau aku seorang introvert Jack

[30:40] atau aku orang enggak berani karena kamu

[30:42] juga tadi bilang kamu tipe orang enggak

[30:44] berani gitu untuk bisa berteman dengan

[30:46] orang kan berarti kayak ada value yang

[30:48] harus kita tawakan juga gitu ya.

[30:49] Benar. Aku yakin teman-teman di sini

[30:50] juga kadang masih kesepian, enggak punya

[30:52] teman, enggak tahu curhat siapa gitu.

[30:54] Dan mau memulai langkah pertama untuk

[30:56] punya teman

[30:58] yang baik, teman yang sportif gitu.

[31:00] Untuk memulai itu adalah ya dari awal

[31:03] kita dari teman terdekat dulu, Bang.

[31:05] Kayak aku nih sesimpel kenal Abang, ya

[31:07] udah aku e ngobrol dulu sama Abang. Nah,

[31:09] ketika itu Abang nongkrong atau sama

[31:10] siapa ya udah ketika Abang nongkrong,

[31:12] abang buat teman ya ketemu lagi gitu.

[31:13] Jadi semakin sering aku ke e ketemu

[31:16] orang ya semakin banyak aku dapat ketemu

[31:18] orang baru gitu loh.

[31:19] Dan dari situ aku belajar belajar

[31:20] belajar belajar dan ujung-ujung enggak

[31:21] akan introvert lagi gitu loh.

[31:23] Ya memang awalnya diam-diam dulu gitu

[31:25] kan tapi lama-kelamaan kan bakalan

[31:26] terbiasa gitu loh. Intinya coba gitu.

[31:28] Tapi k orang insecure kayak

[31:30] takut dij di awal nih gua ada

[31:32] kepentingan banget nih tiba-tiba

[31:34] mau kenal sama orang tapi belum dekat

[31:36] gitu.

[31:36] Iya

[31:37] orang udah ngeblok dirinya sendiri dulu

[31:38] loh. Udah pasang tembok dulu loh.

[31:40] Iya. Nah, kalau aku, Bang, e

[31:42] mengatasinya adalah orang-orang seperti

[31:44] itu ya. Kalau orang ini mengeset tembok

[31:46] ya udah aku kan langsung jaga jarak cari

[31:47] orang baru gitu.

[31:49] Hm.

[31:49] Karena kadang aku tuh tipikal orang yang

[31:51] pemalu juga, Bang. Ketika aku ngobrol

[31:53] sama orang, orangnya itu enggak excited,

[31:54] udah aku diam karena aku takut

[31:56] mempermalukan diriku sendiri, Bang.

[31:57] Iya, kan?

[31:58] Iya. Iya.

[31:59] J daripada aku sakit hati dan kesal,

[32:01] udah. Oh, ternyata dia enggak mau diajak

[32:03] ngobrol. Oh, ternyata obrolannya enggak

[32:04] nyambung. Ya udah cari obrolan yang

[32:05] nyambung gitu loh.

[32:06] He. Dan apakah

[32:08] traveling itu itu salah satu assessment

[32:12] kamu untuk menyeleksi siapa teman kamu?

[32:15] Benar banget.

[32:16] Gimana tuh?

[32:17] Traveling atau naik gunung itu akan ee

[32:19] ngelihatin sifat as seseorang dan itu

[32:20] benar.

[32:21] Hmm.

[32:22] Kadang kayak naik gunung nih, Bang.

[32:23] Ketika kita naik gunung sama si A sama

[32:26] si B gitu kan. Ketika kita naik sama si

[32:27] A ee ketika kita susah atau apa, dia

[32:30] enggak maolong. Dia malah mikirin diri

[32:31] sendiri. Dia malah mikirin puncak gitu.

[32:33] Tapi kita dekat sama si B enggak nyampai

[32:34] puncak pun enggak apa-apa deh gitu. Di

[32:36] situ di situ tuh orang tuh bakal

[32:37] kelihatan ketika dia susah gitu.

[32:38] Orang akan kelihatan sifat aslinya itu

[32:40] ketika susah, Bang.

[32:41] Hmm.

[32:43] Itu itu benar-benar relate di aku gitu

[32:44] loh.

[32:45] Iya. Ketika susah, ketika kepepet ya.

[32:48] Iya. Ya. Ketika kepepet itu bakal

[32:49] kelihatan sifat aslinya.

[32:50] Hm.

[32:51] Kayak sesimpel aku naik gunung nih.

[32:53] Kalau aku kan kamu bilang tadi kan aku

[32:54] naik gunung tuh bukan perihal tempat.

[32:55] Eh, aku kalau naik gunung tuh bukan

[32:57] perihal gunungnya lagi, tapi perihal

[32:58] sama siapanya. Jadi aku tuh sekarang

[33:00] kalau naik gunung pasti orangnya itu-itu

[33:01] aja. Karena mereka udah saling ngerti

[33:03] gitu loh ya. Ketika kita naik gunung, eh

[33:05] badai udah enggak usah muncak. Udah ya

[33:06] udah kita turun gitu loh. Kita

[33:07] happy-happy aja gitu. Jadi enggak ada

[33:09] yang terlalu berkspektasi tinggi gitu

[33:10] loh. Karena udah sekepala semua, udah

[33:12] ngerti semua gitu kan.

[33:14] Tapi kalau kita- kitaita pergi sama

[33:15] orang baru terus tiba-tiba dia enggak

[33:17] mau gitu ya aku tetap harus memuncak

[33:19] gitu.

[33:19] H

[33:20] kadang-kadang ada yang kayak gitu kan.

[33:21] Nah tapi kayak untungnya di lingkunganku

[33:23] aku membangun lingkungan yang sehat dan

[33:24] mereka tuh udah pada ngerti semua gitu.

[33:26] Ya, tujuan gunung itu bukan puncak, tapi

[33:28] story di perjalanannya itu gitu loh.

[33:31] Berarti aku bisa mencoba untuk

[33:32] menyimpulkan kamu tuh berarti punya

[33:34] teman yang oh ini teman khusus gunung,

[33:36] teman khusus pantai, teman khusus luar

[33:38] negeri, teman khusus

[33:40] traveling, teman khusus nongkrong.

[33:41] Apakah itu akurat?

[33:43] Itu akurat dan aku sering menggabungkan

[33:45] semuanya.

[33:46] Oke. Oke.

[33:47] Dan kadang ketika aku nongkrong kayak

[33:49] aku bilang 3 jam sama ini, 3 jam sama

[33:51] ini. Tapi kadang ada di beberapa momen

[33:53] aku gabungin semuanya, Bang. H

[33:55] dari anak gunung, dari anak laut, dari

[33:57] anak yang suka traveling, yang ke luar

[33:59] negeri aku gabungin dan ternyata ke

[34:00] ibaratkan obrolannya nyambung dan habis

[34:02] itu kita bisa traveling bareng gitu loh.

[34:04] Hmm.

[34:05] Intinya kadang orang tuh e enggak pd

[34:07] kenalan aja, tapi ketika kenalan

[34:08] ternyata nyambung itu intinya mulai dulu

[34:10] aja gitu loh.

[34:11] I aku tadi noti suatu hal yang menurut

[34:14] aku nih kayaknya ejak sama kayak aku

[34:15] deh.

[34:17] Kamu dulu awalnya enggak berani kan?

[34:18] Iya.

[34:19] Dan kamu dari kecil itu mungkin

[34:20] ditahan-tahan oleh orang tuamu untuk

[34:22] pergi jauh gitu ya.

[34:23] Iya. Benar.

[34:24] Atau kalau konteksnya aku dulu, aku

[34:25] enggak boleh

[34:27] keluar rumah di atas jam .00 malam kan.

[34:29] Takut takut aku telak pulang. Dan pada

[34:31] waktu itu aku ngeluh kayak aku kayak

[34:33] enggak suka. Kenapa sih, Ma? Kenapa sih

[34:34] ya harus kayak gini banget?

[34:36] Dan ketika aku dewasa ternyata

[34:38] hidup itu ada sistemnya, ada aturannya

[34:40] gitu.

[34:40] Dan itu menurut aku, aku thanks banget

[34:42] ke orang tua. Apakah kamu tipe anak yang

[34:45] seperti itu dari kecil bahwa kamu juga

[34:47] kayak ngapain sih, Ma, dilarang-larang

[34:50] dan ditahan-tahan? Dan akhirnya ketika

[34:53] orang tuamu ngelihat kamu sudah siap,

[34:54] kamu bisa dilepas gitu kayak kamu bisa

[34:57] bebas ke mana aja. Jak karena ada

[34:58] sebaliknya teman-temanku yang dari dulu

[34:59] enggak ditahan-tahan pas sudah dewasa di

[35:01] tahan-tahan gitu.

[35:02] Iya.

[35:02] Aku mau masuk ke dunia kamu dengan orang

[35:04] tuamu seperti apa?

[35:05] Aku adalah tipikal anak yang apa-apa itu

[35:07] ngabarin orang tua.

[35:08] Hm.

[35:08] Anak mam lah bahasanya.

[35:10] Karena kayak aku nih ngerantau. Salah

[35:12] satu aku diizinin ngerantau sama orang

[35:13] tua adalah karena aku selalu berkabar,

[35:14] Bang. Di mana pun dan kapanpun. Kalau

[35:17] ada jaringan kayak di gunung nih satu

[35:18] detik pun yang penting aman. Ma aman

[35:20] gitu. H

[35:21] Abang boleh lihat ee apa eh ini aku sama

[35:24] orang tuaku riwayat chat itu pasti aku

[35:26] telepon semua jarang yang ngechat karena

[35:28] aku tuh bisa dibilang lima kali sehari

[35:30] lah telepon orang tu

[35:31] bangun tidur siang sore habis magrib

[35:35] sama malam sebelum tidur

[35:38] karena apa ya karena yang penting orang

[35:40] tua tuh sebenarnya Bang ngizinin anaknya

[35:41] ke mana pun pergi asal berkabar

[35:43] kebanyakan anak-anak sekarang tuh gengsi

[35:45] untuk ngubungin orang tuanya Bang

[35:46] H

[35:47] itu pasti banyak banget orang-orang yang

[35:48] gengsi bisa ini deh Iya. Tapi kan mereka

[35:51] menyalahkan orang tuanya juga. Ee aku

[35:53] gengsi mah karena emang itu udah diset

[35:56] bonderis dari orang tuaku juga ke

[35:57] anaknya gitu.

[35:58] Iya. Tapi kembali lagi ya harus dari

[36:00] kitanya gitu, Bang. Mulai aja dulu gitu

[36:02] karena Bang ee yang bikin aku sampai di

[36:04] titik sekarang adalah doa orang tuaku

[36:05] gitu. Ketika aku setiap hari nelepon

[36:07] orang tuaku lima kali. Ibaratkan lima

[36:09] kali orang tuaku ngedoain aku, Bang.

[36:10] Semakin banyak orang tua ngedoain aku,

[36:12] semakin amalan aku dilancarin gitu loh.

[36:14] Wow.

[36:14] Jadi itu amalan yang aku iniin dari

[36:16] selama ini gitu loh.

[36:17] Wow. Kamu percaya keberkahan datang dari

[36:19] doa orang tua ya.

[36:20] Iya. Iya benar.

[36:21] Hm. Tapi orang tua kamu questioning

[36:23] enggak sekarang? Karena banyak orang tua

[36:25] di luar sana mungkin punya ekspektasi

[36:27] bahwa anakku harus bekerja di tempat

[36:30] yang udah pasti terjamin segala macam.

[36:32] Dan kayak enggak semua orang paham bahwa

[36:34] konteksnya kreator, traveler atau orang

[36:37] kreatif ke kamu

[36:38] yang tidak terikat 100% pada suatu hal

[36:41] gitu ya.

[36:42] Gimana cara komunikasiin ke orang tua

[36:44] gitu.

[36:45] Alhamdulillah tuh dari awal ketika aku

[36:47] awal ngonten tuh aku sama Bang Megi yang

[36:48] aku bilang tadi, Bang Megi Irawan dan

[36:50] orang tuaku tuh udah tahu sama dia.

[36:52] Jadi aku tuh ikut sama dia dan dia tuh

[36:53] waktu itu bantu ngejelasin ke orang tua

[36:55] kerjaan kita seperti ini loh.

[36:56] Oke.

[36:57] Jadi ee lambat lawan bina waktu orang

[36:59] tuaku ngerti oh kerjaan anak anak aku

[37:01] ini gitu. Jadi kayak sekarang itu ee mau

[37:04] apapun yang aku lakukan dia support.

[37:05] Tapi kadang dia ngingetin jangan kayak

[37:07] sesimpel ee jangan bikin yang aneh-aneh.

[37:10] Jangan ngomong kasar, jangan sembarangan

[37:12] ngomong di gunung. terus jangan

[37:14] nyenggol-nyenggol sesuatu yang enggak

[37:15] perlu disenggol gitu.

[37:17] Jadi dia dia selalu ngingetin gitu.

[37:19] Tapi apapun yang aku lakukan kadang aku

[37:20] bilang ke orang tuaku, "Mak, ini benar

[37:22] kok. Enggak usah ini enggak usah

[37:23] dengerin orang." Kadang dia tuh

[37:24] ngedengerin omongan orang juga gitu loh.

[37:26] Iya.

[37:26] Kadang kan bagi kita benar, belum tentu

[37:28] bagi orang lain benar kan, Pak.

[37:29] Setuju, setuju, setuju. Aku juga sempat

[37:31] beraperan beberapa tahun lalu ketika

[37:32] orang tuaku itu lebih percaya kepada

[37:35] omongan orang. Kayak mereka tanya kan,

[37:37] "Itu si bilang kerja apa?" Itu kan

[37:38] mungkin cuma bertah 5 10 tahun doang itu

[37:40] kayak misalnya podcast atau kreatif

[37:42] hal-hal lainnya gitu. Dan aku yang pada

[37:43] waktu itu kayak masih rentan banget aku

[37:46] kayak questioning mah kenapa percaya

[37:47] sama orang kan orang enggak paham apa

[37:48] yang aku kerjakan gitu ya. Biasanya

[37:50] orang yang komplaining juga uangnya

[37:51] enggak ada gitu ya.

[37:51] Iya betul

[37:52] tapi kita yang belum siap mental kadang

[37:54] enggak terima itu. Kita ingin mengontrol

[37:55] omongan orang gitu ya.

[37:57] Makanya menurut aku komunikasi sama

[37:58] orang tua tuh harus sekuat mungkin ya.

[38:00] Iya. Iya. Komunikasi kayak setiap ee

[38:01] kalau orang bilang ini ya aku langsung

[38:03] telepon orang tuaku gitu loh. Enggak kok

[38:04] ma seperti ini. Yang penting orang tua

[38:06] tuh dikasih kejelasan aja Bang gitu.

[38:07] Iya. Iya.

[38:08] Kadang orang tua tuh per dikasih

[38:10] kejelasan dia pasti bakal ngerti kok

[38:11] gitu.

[38:11] Iya. Dan aku pernah baca ini, aku lupa

[38:13] di mana yang dia bilang sebenarnya hal

[38:16] yang paling mahal di dunia ini yaitu

[38:17] ketika orang tua itu trust kepada

[38:19] anaknya.

[38:19] Betul.

[38:20] Itu yang paling mahal. Kata kunci trust

[38:21] itu

[38:22] dan anak bisa ke mana aja kan kalau

[38:24] punya trust dari orang tua ya.

[38:25] Iya. Apapun yang aku lakukan asal ya

[38:27] kayak orang tua bilang orang tua selalu

[38:28] ngingetin jangan ngomong sembarang.

[38:30] Jangan tinggalin salat. Udah itu aja.

[38:32] Simpel ya.

[38:32] Iya.

[38:33] I dan aku juga bisa melihat ke dunia

[38:35] kamu Jak. Ini yang aku sering bilang,

[38:37] orang-orang kelas itu yang mengapresiasi

[38:39] hal-hal simpel dan dari menit awal

[38:41] sampai sekarang kita ngomonginnya

[38:42] hal-hal simpel doang.

[38:43] Kayak si Ajak itu sama orang tuanya

[38:45] dekat, dia suka berteman, dia support

[38:48] sama orang-orang lain gitu. Dia suka

[38:49] traveling, dia bisa nge-manage uangnya.

[38:52] Sebenarnya hal-hal simpel yang yang

[38:53] kadang orang tuh take for granted.

[38:54] Kadang orang tuh mau si sesuatu yang

[38:56] mewah sekali sampai lupa hal-hal

[38:57] basicnya gitu.

[38:58] Iya.

[38:59] Hal-hal basic apa? Hal fundamental apa

[39:01] yang masih kamu pegang sampai hari ini?

[39:03] Yang sebenarnya itu nge-create siapa?

[39:06] eja gitu. Karena aku yakin orang-orang

[39:07] berkelas yang aku temui itu punya

[39:10] season-season of life yang enggak

[39:12] kelihatan. Tapi itu ngbentuk dia sekali.

[39:15] Yang ngebentuk aku sampai sekarang tuh

[39:16] ada dua, Bang. Aku enggak pernah pelit

[39:18] relasi.

[39:20] Hm.

[39:20] Karena kayak dari relasi perelasi itu

[39:22] tuh sangat-sangat besar, Bang,

[39:23] dampaknya, Bang. Kayak ketika Bang Dimas

[39:25] ngenalin Abang ke aku gitu

[39:27] dan nanti aku ngenalin temanku ke ee aku

[39:29] ngenalin temanku ke Abang itu. Jadi,

[39:31] kayak dari situ tuh ee linknya tuh

[39:32] banyak gitu loh. Itu yang bikin aku gede

[39:34] sampai sekarang. He

[39:35] yang banyak orang sekarang ituak ini

[39:37] adalah yang enggak e terlalu perhatiin

[39:40] adalah anak-anak sekarang tuh relasi

[39:42] ya.

[39:42] Orang tuh kebanyakan terlalu mikirin

[39:44] duit atau apa gitu. Yang harus pikirin

[39:46] tu relasi gitu. Apalagi selagi masih

[39:47] muda itu perbanyak relasi Bang

[39:48] menurutku. Karena relasi yang akan

[39:50] ngebantu kita gitu.

[39:51] Setuju. Bahkan pekerjaan kita rata-rata

[39:53] juga dari relasi ya. Kayak closing

[39:55] brand, event-event besar juga dari

[39:56] relasi.

[39:57] Iya pasti dari relasi kan

[39:58] omongan-omongan ini yang yang bikin aku

[39:59] gede sampai sekarang selain doa orang

[40:00] tuh kayak relasi aku gitu. Heeh. Heeh.

[40:03] Jadi ke mana pun sesimpel nih, Bang,

[40:04] traveling. Traveling. Kenapa aku sampai

[40:07] sekarang tuh traveling ke mana pun aku

[40:08] tuh gampang? Karena relasiku, Bang.

[40:11] Hm.

[40:11] Jadi kayak aku tuh kalau traveling

[40:13] sekarang enggak semuanya itu bayar,

[40:14] Bang. Yang aku bayar tuh cuman tiket

[40:16] pesawat doang.

[40:17] I

[40:18] mungkin orang ngelihat kayak ibaratkan,

[40:19] "Ih, ini banyak ya duitnya pasti

[40:20] traveling terus ini dibayarin ini

[40:22] dibayar gitu kan." Padahal enggak. Aku

[40:24] tuh traveling cuma beli tiket pesawat

[40:25] doang, beli tiket kereta doang. Ketika

[40:27] di sana aku ya ketemu temanku, "Bang,

[40:28] mau enggak barter gitu ya." Walaupun

[40:30] mungkin banyak sekarang contonent

[40:31] kreator yang followersnya 2 jutaan

[40:33] enggak mau barter gitu kan. Kalau aku ya

[40:34] bagiku kalau bagi aku diuntungkan dan

[40:36] aku suka ya udah enggak apa-apa gitu ya

[40:38] udah barter aku bisa ngebantu tripnya

[40:40] dia. Aku terbantu dapat konten gitu loh.

[40:42] Hmm.

[40:43] Dan aku dapat relasi juga gitu loh.

[40:46] Dan kayak traveling itu sebenarnya

[40:48] enggak mahal Bang. Asal mau ribet.

[40:51] Traveling itu enggak mahal asal mau

[40:52] ribet. Kasih contoh deh.

[40:53] Iya kasih contoh sesimpel kayak gini. Eh

[40:56] banyak kan e transportasi enggak cuman

[40:58] pesawat ada kapal. ada bis, ada kereta,

[41:01] tergantung kitanya mau naik yang mana

[41:03] gitu ya. Kalau kita mau ribet, kita bisa

[41:05] naik kapal ke Papua naik pesawat itu R

[41:07] juta sampai 4 juta 3 jam. Tapi kalau

[41:10] kita mau ribet 5 hari, kita tetap sampai

[41:12] di Papua tapi paling R1 juta.

[41:15] Hm.

[41:16] Dan nginap. Enggak harus selalu nginap

[41:18] di tempat mewah. Ada hostel, kita bisa

[41:20] kenalan sama orang lokal, kita bisa

[41:21] nginap di tempat orang lokal gitu. Yang

[41:23] kayak ibaratkan yang bikin aku gede

[41:25] sampai sekarang tuh ya orang lokal,

[41:26] Bang.

[41:26] Enggak melulu aku barter sama trip.

[41:28] Kadang aku ya kenalan dulu sama orang

[41:30] lokal ya. Ketika aku di sana dia nyambut

[41:32] aku, dia ngajak aku ke tempat-tempat

[41:33] yang bahkan enggak pernah diposting sama

[41:34] orang gitu loh. Hi Jam lah bahasanya.

[41:37] Dan ketika dia datang ke tempatku, aku

[41:38] akan melakukan sesuatu yang timbal balik

[41:40] gitu loh. Ya udah nginap di Bandung,

[41:41] nginap di rumahku gitu.

[41:42] Iya. Dan menurut aku kata kuncinya di

[41:44] sini juga beradaptasi sih harusnya kayak

[41:46] banyak orang yang sorry for saying

[41:48] misalnya harus serba mewah kalau ke

[41:50] traveling. G

[41:50] benar.

[41:51] Dan misalnya lu datang ke timur lu juga

[41:53] harus bisa berapasi dengan

[41:55] kondisi-kondisi yang ada di lokal.

[41:56] Misalnya lu kayak gu gua mau hemat gitu

[41:59] ya, lu harus bisa beradaptasi untuk

[42:00] nginap di rumah warga gitu ya. Lu harus

[42:02] beradaptasi dengan apa yang mereka makan

[42:04] gitu ya. Benar.

[42:05] Itu sih kata kunci adaptasi ya.

[42:06] Benar. Iya adaptasi. Karena kayak kalau

[42:09] kita traveling kalau maunya mewah terus

[42:10] enggak akan bisa, Bang. Karena enggak

[42:13] semua tempat itu bisa menyediakan ee

[42:15] yang apa yang kita mau gitu ya. Mau

[42:17] enggak mau kita harus beradaptasi dan

[42:18] harus menerima apapun yang ada di situ

[42:20] gitu loh.

[42:20] Karena kita tujuan ke sana ya harus siap

[42:22] gitu loh.

[42:22] H

[42:23] kadang kebanyakan orang tuh

[42:24] ekspektasinya terlalu tinggi terus

[42:25] ternyata enggak enggak kesampaian

[42:27] ekspektasinya dia kecewa gitu loh ya.

[42:29] Kayak ibarat kan aku kemarin ke daerah

[42:30] namanya Sabu Bang. Sabu itu bagus

[42:32] banget.

[42:33] Transportasi itu ke sana tuh masih satu

[42:35] dua doang Bang.

[42:36] Tapi kamu belum belum bilang sabu itu di

[42:37] kawasan mana ya?

[42:38] Sabu itu di NTT.

[42:39] Oke.

[42:39] Jadi Sumba,

[42:40] sabu baru Kupang sama rote.

[42:42] Kenapa sabu itu kurang terkenal? Ya

[42:44] kurang terkenal karena akomodasi di sana

[42:45] susah, Bang. pesawat ke sana itu cuman

[42:47] dua kali seminggu,

[42:48] kapal cuman ada beberapa kali gitu,

[42:50] terus akomodasi kayak penginapan gitu

[42:52] belum ada yang proper di sana gitu loh.

[42:54] Nah, aknya bahkan tuh kemarin waktu di

[42:55] sana nginpnya itu di ini kayak

[42:57] penginapan ya, ya okelah penginapan gitu

[42:59] loh. Enggak yang proper-proper banget.

[43:01] Karena tujuan aku ke sana bukan nginap,

[43:03] tujuan aku ke sana tempatnya gitu loh.

[43:05] I

[43:05] aku pengin explore kayak ada nama daerah

[43:06] tuh Kelaba Maja. Aku pengin ke Kelaba

[43:08] Maja bukan nginap di sini gitu loh.

[43:10] Oh.

[43:13] Ada hal lain enggak ya kamu bisa share

[43:14] tentang pengalaman kamu? ke kawasan

[43:16] timur atau di kota-kota lain yang kadang

[43:19] tuh orang belum aware ni kota cakep

[43:20] banget gitu.

[43:21] Selayar

[43:22] Nah, aku aja belum dengar Selayar. Apa

[43:24] tuh? Selayar.

[43:24] Selayar itu, Bang, ada di ee Mak e

[43:28] Sulawesi. He.

[43:29] Tepatnya itu setelah ini. Abang tahu ini

[43:31] enggak sih? Biraukumba.

[43:32] Bulukumba tahu.

[43:33] Bulukumba itu kan tempat bikin kapal ya.

[43:35] Nah, di situ tuh ada satu pulau namanya

[43:36] Selayar. Selayar tuh hampir sama kayak

[43:38] Labuhan Bajo, Bang.

[43:39] Dia punya bukit, dia punya underwater

[43:41] yang bagus, dia punya pantai yang bagus,

[43:42] dia punya karang-karang yang bagus gitu.

[43:45] Tapi orang dia itu dekat banget sama

[43:46] Florest juga. Jadi biasanya tuh

[43:48] kapal-kapal after dari

[43:50] Blue Kumba bikin lewatin selayar dulu

[43:52] baru ke ini baru ke Florest gitu.

[43:54] H.

[43:54] Jadi waktu aku ke sana itu ee aku

[43:56] diajakin sama temanku, dia punya trip

[43:58] kan ketika itu. Nah, ketika ke sana aku

[44:00] kaget, "Koku enggak pernah tahu pulau

[44:01] ini ya?" ya karena akomodasi ke tanas

[44:03] itu masih belum terlalu banyak.

[44:04] Sedangkan pesawat ke sana itu satu kali

[44:06] seminggu.

[44:07] I

[44:07] dan kalau mau ke sana lagi itu e harus

[44:09] pakai bis, harus pakai nyebrang lagi,

[44:11] pakai mobil pribadi gitu. Kayak yang

[44:12] tadi aku bilang, kalau mau ribet kita

[44:14] bakal dapat sesuatu yang bagus gitu loh.

[44:16] Ya, aku bisa dapat tahu pulau itu kayak

[44:18] karena aku mau ribet gitu. Pada saat

[44:20] sampai sana kayak ternyata segokil ini

[44:22] ya si selayar ini gitu loh. Punya

[44:24] semuanya tapi kembali lagi akomodasi itu

[44:25] belum terlalu proper gitu. Banyak

[44:27] tempat-tempat di Indonesia nih. Aku

[44:29] cuman sedikit ngasih keluh kesah. Boleh

[44:30] enggak sih, Bang?

[44:30] Oke, boleh silakan.

[44:32] Yang aku agak sedikit kecewa ya. Di

[44:34] Indonesia itu, Bang, tempat-tempat yang

[44:35] selalu dipromosikan itu Bromo, Bali,

[44:39] Lombok, Labuhan Bajo yang di mana tempat

[44:41] itu udah dipromosikan eh tanpa

[44:43] dipromosikan pun udah orang tahu semua

[44:46] gitu loh. Harusnya yang dipromosikannya

[44:48] itu kayak Selayar, entah itu Sabu tadi,

[44:50] entah itu Luwuk Banggai, entah itu ee

[44:53] pulau banyak di Aceh yang

[44:55] seperti-seperti itu seharusnya yang

[44:57] budget promosi itu dipakai ke sana gitu

[44:58] biar orang tahu gitu loh. Indonesia tuh

[45:00] se itu gitu loh. H

[45:02] karena ya buat apa, Bang, promosiin

[45:03] Bromo lagi, Bang? Siapa yang enggak tahu

[45:04] Bromo? Siapa yang enggak tahu Bali? Iya,

[45:07] kan?

[45:07] Iya iya i ya setuju sih. Kayak Pulau

[45:10] Banyak itu cakep banget di Aceh.

[45:11] Iya, kan Pulau Banyak cakep banget kan?

[45:12] Pulau Nasi gitu loh.

[45:13] Iya, Pulau Nasi benar-benar.

[45:14] Iya. Terus Aceh Singkil.

[45:16] Wah, itu cakep banget sih. Even Sabang

[45:17] aja banyak teman-teman enggak tahu kalau

[45:19] Sabang itu indah banget lautnya.

[45:20] Iya, benar. Terus ada gunung api bawah

[45:22] laut di Sabang gitu loh.

[45:23] Iya. Iya. I teman-teman Jakarta pada

[45:25] emang iya ya bisa diving di Sabang gitu.

[45:28] emang bisa iya main ke pulau banyak

[45:29] kayak banyak hal yang harusnya jadi

[45:31] kayak soft selling ya dari dari

[45:33] pemerintah kita ya.

[45:34] Iya. Iya. Tapi Bang kadang ada enggak

[45:36] bisa menyalahkan 100% pemerintah ya.

[45:38] Kadang orang lokalnya juga Bang

[45:40] kembali lagi ya kayak kadang ada

[45:41] beberapa tempat yang ketika kita

[45:43] promosikan orang lokalnya siap enggak

[45:44] gitu.

[45:45] Ada aku pernah ada satu cerita ada

[45:47] langgam nyebut tempatnya. Aku tuh naik

[45:49] kapal Bang. Aku naik kapal ee pulau ini

[45:52] dipromosiin kan tempat ini rame nih

[45:54] Bang. Nah, ketika tempat ini rameai, aku

[45:56] sama temanku naik kapal bayar per orang

[45:58] Rp20.000. Bang, udah ya jalan. Gitu kan

[46:01] berhenti dia tengah-tengah tengah-tengah

[46:02] danau, Bang. Terus dia bilang, "Bang,

[46:04] mau ke sana?" Oh, kalau ke sana per

[46:06] meter tambah 5.000, Bang.

[46:08] Oke. Oke.

[46:09] Kayak kembali lagi orang lokalnya siap

[46:11] enggak gitu? Kadang ee kembali lagi kan

[46:13] dari ee harus ada masukan dan harus ada

[46:15] di ini sosialisasi ke orang-orang

[46:16] seperti ini gitu loh.

[46:17] Berarti R.000 sampai tengah danau.

[46:18] Iya. R.000 sampai tengah danau, habis

[46:20] itu kalau geser nambah 5.000 per orang

[46:21] gitu. On ada di re dia 5.000 [tertawa]

[46:25] marketing.

[46:26] Jaraknya tinggal 20 m lagi berarti

[46:28] 5.000* 20 kali ya.

[46:30] Wah itu iya sih emang kesiapan mental ya

[46:32] karena kalau terikat sama yang kayak kan

[46:35] mereka tidak punya sistemnya mungkin

[46:36] kayak by mood aja. Wah ini gua punya

[46:38] banyak utang nih tiba-tiba naikin harga

[46:39] gitu.

[46:40] Kayak pungli lah tiba-tiba.

[46:41] Nah ya pungli

[46:42] ya. itu tu

[46:42] kadang ada beberapa tempat juga kayak

[46:44] kita bayar tiket nih di depan pas Mas eh

[46:47] tiket sama parkir pas masuk itu kan

[46:48] tiket yang gerbang ini kan tiket ee apa

[46:51] e pariwisatanya di sini parkirnya segini

[46:53] kayak kok dua kali gitu loh

[46:54] terus pas masuk uang keamanan lagi ini

[46:56] lagi gitu tuh Bang yang seharusnya

[46:58] diberantas dari Indonesia Bang

[47:00] pariwisata di Indonesia

[47:01] oke oke berarti menarik kayak dalam

[47:02] konteks safe improvement juga kadang

[47:04] kita tuh pengin di level 100 tapi

[47:06] kesiapan mental kita cuma di 50 gitu ya

[47:08] tapi kita complaining terus kenapa

[47:09] enggak 100 ya

[47:10] iya

[47:11] kayak kenapa apa kota ini atau tempat

[47:13] ini tuh belum terkenal. Kadang kalaupun

[47:15] terkenal kadang belum siap secara

[47:17] akomodasi sama mentalnya masyarakat

[47:19] setempah juga ya.

[47:20] Iya. Kembali lagi ya enggak bisa

[47:21] menyalahkan masyarakat juga kalau ada

[47:23] sosialisasi dari ini dari atas pasti

[47:25] mereka akan ngerti kok gitu.

[47:27] I

[47:27] intinya komunikasi gitu loh. [tertawa]

[47:29] Kayak

[47:30] kayak hubungannya kayak hubungan ya.

[47:31] Iya kayak hubungan komunikasi. Kalau

[47:32] enggak dikomunikasi kan pasti berantakan

[47:34] gitu loh. Yang A bikin yang A, yang B

[47:35] bikin yang B gitu. Yang ada di kepala

[47:37] dia aja yang dia bikin gitu loh. Kalau

[47:38] semuanya dikomunikasikan pasti bakal

[47:40] berjalan lancar gitu loh.

[47:41] Iya. kayak komplainnya cuma di

[47:42] kepala-kepala doang ya, tapi tanpa

[47:44] komunikasi juga enggak akan terhubung

[47:45] ya.

[47:45] Iya. Kayak enggak usah jauh-jauh. Nepal,

[47:47] Bang. Aku pernah ke Nepal ya, dua kali

[47:49] ke Nepal. Aku ke Fres Basecamp, ke

[47:51] Anapura Cirkuit gitu kan. Di sana itu

[47:53] tuh orang-orang sama pemerintah tuh

[47:54] ngerti negara kita tuh turis loh. Kita

[47:56] kita itu berharap dari gunung gitu loh.

[47:58] Jadi kayak komunikasi antara

[47:59] pemerintahnya sama si orang-orang eh

[48:02] tour guide-nya itu udah saling saling

[48:04] komunikasi satu sama lain gitu. Jadi

[48:05] mereka tinggal menjalankan aja apa

[48:06] peraturan dari ini, apa yang boleh

[48:08] dilakukan dan apa yang tidak boleh

[48:09] dilakukan gitu loh. Intinya dikasih tahu

[48:10] gitu loh.

[48:11] Hmm. Oke, Jak sebelum kita ke KN

[48:14] pertanyaan terakhir aku ya karena aku

[48:16] udah dari tadi tuh pengin banget ke

[48:17] Indonesia Timur gitu ya.

[48:18] He

[48:20] les kamu dari bagian Indonesia Timur dan

[48:22] kamu ingin meyakinkan aku kenapa aku

[48:23] harus ke Indonesia Timur ya?

[48:25] Iya.

[48:25] Gimana caranya meyakinkan aku biar

[48:27] beneran jalan besok ini.

[48:28] Kenapa? Iya. Kenapa Indonesia Timur?

[48:30] Indonesia Timur tuh sangat-sangat kaya,

[48:31] Bang. Karena apa? Indonesia Timur itu

[48:34] punya gunung, punya bawah laut, punya

[48:36] safana, punya semua, Bang.

[48:37] Orang-orangnya ramah gitu nih. Ya,

[48:39] banyak orang yang berpikiran buruk

[48:41] tentang orang Timur. Karena apa? Karena

[48:43] orang enggak bisa ngebuktiin langsung ke

[48:44] sana, Bang. Karena harga tiket pesawat

[48:45] mahal, Bang. Coba kasih turun harga

[48:48] tiket pesawat, orang bisa bakalan

[48:49] buktiin seramah apa orang Timur. Kayak

[48:52] kalau bahasa ini, Bang, mereka tuh siap

[48:53] mati, Bang, untuk kita, Bang. Kalau kita

[48:54] tuh dekat sama mereka, gitu loh.

[48:56] Seramah itu sebaik itu orang-orang sana.

[48:58] Ketika aku volunteir sana, mereka tuh

[48:59] udah nganggap kayak anak kan, Bang.

[49:01] kayak anak sendiri gitu loh. Udah enggak

[49:02] ada kayak ini e kayak turis. Mereka tuh

[49:04] anggap kayak keluarganya sendiri itu.

[49:06] Apapun mereka kasih. Entah itu mereka

[49:07] kasih aku mereka nih ee di rumahnya itu

[49:10] mereka naruh kain yang sudah dia tenun

[49:11] bertahun-tahun. Kita yang baru datang

[49:13] sudah ngasih ini karena kamu kayak sudah

[49:15] mama anggap kayak anak mama sendiri

[49:16] gitu. Iya.

[49:17] Ketika dia bikin makanan, dia biasanya

[49:19] makan ikan kerapu sebulan sekali, Bang.

[49:21] Dia ngasih aku ikan kerapu, "Bang, aku

[49:23] yang baru datang," gitu loh. Seramah

[49:24] itu, Bang, orang-orang sana. Dan kayak

[49:26] ee di sana tuh gunungnya, gunungnya

[49:29] bagus banget. Terus kayak kenapa aku

[49:31] bilang aku biasa itu traveling bat

[49:33] sampai berbulan-bulan di daerah timur?

[49:34] Karena aku bisa ngekplore banyak hal.

[49:36] Kayak mungkin aku ngeluarin mahal untuk

[49:38] tiket pesawat, tapi dengan apa ee

[49:40] destinasi yang aku dapat kan itu tuh

[49:41] terbayarkan banget gitu. Kayak naik

[49:43] gunung bagus, terus ketika aku selesai

[49:45] naik gunung aku bisa diving. Ketika aku

[49:46] selesai diving aku bisa nyari yang lain

[49:48] gitu loh. Banyak hal yang bisa aku

[49:49] dapatkan di Indonesia Timur gitu loh.

[49:51] Dan enggak cuman itu kayak aku bisa

[49:52] dapatkan ee acara adatnya lah atau

[49:54] hal-hal yang enggak aku tahu gitu loh.

[49:56] Iya. Itu tadi itu deep banget sih. Aku

[49:58] membayangkan sosok-sosok nenek-nenek

[49:59] yang di Indonesia Timur yang kayak cinta

[50:01] banget sama tamu-tamu gitu ya. Mereka

[50:03] kayak udah nenun kain bertahun-tahun

[50:05] tiba-tiba mereka trust sama kita yang

[50:07] orang asing.

[50:08] Itu aku membayangkan aku visualisasikan

[50:10] yang kepala aku tadi itu indah banget

[50:12] sih.

[50:12] Kayak aku tuh bisa memastikan ya 1500%

[50:16] ceramah apa orang Timur gitu.

[50:18] Kayak intinya tuh ya itu, Bang. Kasih

[50:20] turun harga tiket pesawat biar orang

[50:21] bisa buktiin langsung ke sana gitu loh.

[50:23] Kadang orang-orang Indonesia tuh lebih

[50:24] memilih traveling ke luar negeri karena

[50:25] harga tiket di luar lebih murah, Bang.

[50:27] Iya. Ya,

[50:28] aku PP dari Sumba ke Jakarta R juta yang

[50:31] di mana R juta aku udah bisa PP ke

[50:33] Jepang, Bang.

[50:33] Iya.

[50:34] Tapi kenapa aku lebih memilik sana? Ya

[50:36] karena semua orang bisa ke Jepang.

[50:37] Enggak semua orang bisa ke daerah timur

[50:38] gitu loh.

[50:39] Aku pengin buktiin aja, pengin ngasih

[50:40] tahu ke orang-orang Indonesia Timur tuh

[50:41] secantik ini gitu loh.

[50:43] I.

[50:48] Oke,

[50:50] aku lagi sibuk nulis. So, bagi

[50:52] teman-teman yang juga lagi aktif nulis

[50:55] dan mau hasilin 2 sampai 3 digit sebulan

[50:57] dari nulis dan kalian enggak tahu

[50:58] caranya, tenang. Aku ada satu website

[51:01] simpel yang bisa bantu kamu monetisasi

[51:03] hasil tulisanmu. Karena aku udah

[51:05] ngerasain dari nol sampai di fase

[51:07] sekarang tulisanku diuntungi oleh banyak

[51:08] orang. Fitur blog di linkit bisa jadi

[51:10] solusinya. Kamu bisa tulis artikelmu

[51:13] insight, cerita, atau edukasi panjang

[51:16] langsung di satu halaman yang rapi.

[51:18] Jadi, ketika ada audiens yang mau

[51:20] belajar lebih dalam tentang isi kepalamu

[51:22] atau tentang cerita-cerita kamu, kamu

[51:23] tinggal arahin mereka ke blog yang kamu

[51:26] tulis di Linkin. Daripada kamu harus

[51:28] balasin DM satu persatu, WA satu

[51:30] persatu, kamu tinggal balas aja. Aku

[51:32] udah nulis kok di Linkit. Lebih praktis,

[51:34] lebih profesional, dan konten kamu atau

[51:37] tulisan kamu tuh jadi punya rumahnya

[51:39] sendiri. Karena kadang ya yang kamu

[51:41] butuhkan itu bukan cuma kontenmu atau

[51:43] tulisanmu yang viral dan rameai, tapi

[51:45] konten atau tulisan yang bisa terus

[51:47] ditemukan oleh audiensmu. So, langsung

[51:50] aja cobain fitur blog di Linkit.

[51:54] Tiga pertanyaan, Jak teman-teman suara

[51:56] berkelas.

[51:57] Yes.

[51:57] Pertanyaan pertama dari Tenanny Lubis.

[52:03] Traveling yang paling worthed menurut

[52:05] ejak itu saat ke mana?

[52:08] Traveling yang paling worth adalah

[52:10] traveling yang perginya sama orang yang

[52:12] tepat.

[52:14] Karena kamu tadi bilang bukan spesifik

[52:15] lokasi ya,

[52:16] bukan lokasi lagi, Bang. Karena kan

[52:17] tingkat kebagiaan orang beda-beda kan.

[52:19] Karena aku udah datang ke banyak tempat

[52:21] jadi aku tuh udah bingung, Bang, bagus

[52:22] tuh yang kayak gimana gitu karena udah

[52:24] terlalu sering karena kerja udah

[52:25] jatuhnya kerjaan kan. Nah, tapi yang

[52:27] bikin aku nikmat dan tepat itu adalah

[52:29] kalau aku pergi sama orang-orang yang

[52:31] tepat gitu loh.

[52:31] He.

[52:32] Yang udah sepaham sama aku gitu loh.

[52:33] Jadi traveling itu akan sangat-sangat

[52:34] menyenangkan.

[52:37] Hmm. He. Tapi kalau aku tanya kayak top

[52:39] three ah bareng siapa dan ke mana, masih

[52:41] ingat enggak?

[52:42] Masih.

[52:44] Kalau top three itu bisa dibilang ee

[52:47] tiga dulu ya. Tiga itu aku bisa bilang

[52:49] Gunung Leuser.

[52:50] Gunung Leuser.

[52:51] Gunung Leuser itu 2023. Yang 2023 ya

[52:53] karena k dua kali kan yang 2023 itu aku

[52:55] sama tim mantap negeri Bung Viersa.

[52:57] Jadi pada saat itu kita tuh naik gunung

[52:59] ee itu tuh salah satu gunung terpanjang

[53:01] di Asia Tenggara, Bang.

[53:02] I

[53:03] di Aceh, kampung Abang.

[53:04] Sumatera Utara, Medan, eh Aceh gitu ya?

[53:06] Heeh. Jadi kayak peretnya tuh kayak

[53:08] ternyata bisa ya gitu. Aku yang anak ee

[53:12] yang awalnya tuh takut naik gunung. Aku

[53:13] tuh lemah, aku sakit tipes, Bang. Kenapa

[53:15] aku memutuskan untuk naik gunung? Karena

[53:16] aku pengin ngelawan rasa sakit aku dan

[53:18] rasa takut aku gitu. Ternyata aku bisa

[53:19] gitu loh.

[53:20] Yang di mana orang naik gunung Lewester

[53:22] itu 14 hari, Bang. E dengan jarak 118 km

[53:25] dengan bawaan carir itu 16 sampai 20

[53:27] kilo. Kita tuh bisa menembus dalam waktu

[53:30] 11 hari.

[53:30] Wis.

[53:31] Itu tuh sangat-sangat berkesan karena

[53:33] dalam 2 minggu kita enggak ada jaringan

[53:34] sama sekali, Bang. Ya udah kita bonding

[53:35] gitu loh.

[53:36] Iya. itu sangat-sangat seru naik gunung

[53:37] pada saat itu gitu. Terus H

[53:39] karena semakin lama di gunung tuh

[53:40] semakin akan cepat kita bonding sama

[53:42] orang. Walaupun kita baru kenal sama

[53:43] orang ketika kita banyak orang bilang

[53:45] tuh ketika kita naik gunung sama orang

[53:46] kita tuh pasti bakalan langsung jadi

[53:47] keluarga, Bang.

[53:48] I

[53:48] karena kita enggak ada jaringan, enggak

[53:50] ada megang HP gitu. Paling megang HP

[53:51] untuk ngerekam-rekam sesekali doang

[53:52] gitu. Jadi serunya naik gunung tuh itu,

[53:55] Bang. Jadi semua orang tuh harus nyobain

[53:56] naik gunung. Serius dah.

[53:57] Dan kalau ibaratkan nih mau mungkin ada

[53:59] beberapa orang yang mau nikah gitu kan,

[54:00] coba deh ajak naik gunung. [tertawa]

[54:02] Kelihatan tuh sifat aslinya tuh.

[54:04] Iya iya iya. Assesmennya dinikah

[54:06] [tertawa]

[54:07] ee naik gunung ya.

[54:07] Iya. Heeh.

[54:08] Yang kedua deh tadi.

[54:09] Yes.

[54:11] Yang kedua apa tadi? Kan lesor yang

[54:12] ketiga.

[54:13] Oh iya. Yang kedua. Yang kedua itu aku

[54:15] bisa bilang itu ee

[54:19] yang kedua itu ee bisa dibilang itu

[54:21] bandanera.

[54:22] Bandanera.

[54:22] Karena apa? Karena bandaanera itu

[54:24] ngerubah mindset aku, Bang. Ngerubah

[54:26] mindset aku. Eh, ngerubah ngerubah insek

[54:28] aku drastis. Pada saat itu aku bikin

[54:31] video ee lumba-lumba di Bandana itu tuh

[54:34] yang nonton sampai R0 juta, Bang.

[54:36] Wih,

[54:36] dari situ baru kier eh karier traveling

[54:38] aku tuh melejit. Kayak ibaratkan aku

[54:40] traveling ke sana, ke sini, ke sana,

[54:41] sini gara-gara Banda. Jadi kayak

[54:44] sesimpel ee sebenarnya tuh ya pada saat

[54:47] aku ke sana tuh aku kan kaget kan kadang

[54:49] kalau traveling tuh Bang ke

[54:50] tempat-tempat ee ke alam gitu kita

[54:52] enggak tahu apa yang terjadi. Nah pada

[54:54] saat itu aku lagi di kapal tiba-tiba

[54:56] banyak banget lumba-lumba gitu loh. Maka

[54:57] itu banyak orang mungkin yang tahu aku

[54:58] tuh dari video lumba-lumba gitu. Ketika

[55:00] aku ke sana tuh kayak ee orang tuh

[55:02] tahunya Banda Nera tuh cuman kayak

[55:04] gunungnya gunung api banda, terus slow

[55:06] living di banda gitu. Tapi enggak ada

[55:07] yang e memperhatikan bawa lautnya atau

[55:09] hewan-hewan yang ada di sana gitu loh.

[55:11] Dan bandanera itu juga punya e

[55:14] hammerhead, scoling hammerhead.

[55:16] Bahkan enggak cuman scholing hammerhead,

[55:17] kadang paus, kadang tiba-tiba ada

[55:19] dugong, ada banyak hewan-hewan yang

[55:21] enggak orang tahu tuh tiba-tiba ada di

[55:22] sana. Karena bandanera itu lautnya itu

[55:24] ee jadi jalur migrasi, Bang. He.

[55:26] Jadi, jalur migrasi paus, hiu atau

[55:29] apapun itu kadang bisa ada di sana gitu

[55:30] loh. Jadi, Bandaera itu adalah salah

[55:33] satu tempat-tempat yang sangat-sangat

[55:34] gokil menurut aku. Entah itu dari

[55:36] orang-orangnya atau dari bawah laut. Dan

[55:38] sejarahnya juga

[55:39] sejarah Bandaera itu Abang tahu enggak

[55:41] sih ada satu pulau ee di Amer eh Amerika

[55:44] apa Inggris ya? Manhattan itu di mana

[55:45] sih?

[55:46] Di New York.

[55:47] Iya, di New York. Ee itu tuh mau

[55:48] ditukarkan dulu sama pulau ini pulau run

[55:50] di ini di Bandan Era karena apa? Karena

[55:52] di Bandanera itu ada pala. Dulu pala tuh

[55:54] harganya tuh lebih mahal daripada emas.

[55:56] Heeh.

[55:56] Jadi apa penjajah itu datang lu ke

[55:58] Indonesia buat itu gitu loh. Coba aja

[56:00] kebayang enggak sampai sekarang kalau

[56:01] ibar ini Manhattan punya Indonesia.

[56:04] [tertawa]

[56:04] Oke.

[56:07] Yang pertama.

[56:08] Yang pertama itu aku bisa bilang sabu.

[56:10] Oke.

[56:11] Yang aku datangin kemarin.

[56:12] Kamu tadi dari tadi mention sabu.

[56:13] Kayaknya suka banget sama sabu. Ya

[56:14] suka banget aku, Bang. Serius. Karena

[56:16] aku ke sana tuh kemarin cuma 2 hari. Aku

[56:18] tuh pengin lama di sana tapi kembali

[56:20] lagi transportasi tuh masih susah, Bang.

[56:22] Jadi aku tuh penginnya ketika aku balik

[56:24] lagi ya transportasinya udah oke,

[56:26] akomodasinya udah oke, terus banyak

[56:28] penginapan yang bagus loh ya lebih enak

[56:31] aku untuk ngeklornya gitu loh karena

[56:32] banyak halal kayak ternyata ada ya

[56:34] tempat kayak gini gitu, ternyata ada ya

[56:35] tempat kayak gini gitu.

[56:37] Itu tuh sangat-sangat gong sabu tuh

[56:38] sumpah sangat-sangat row, Bang.

[56:40] Tapi tadi aku lucunya kayak [terkesiap]

[56:42] misalnya ada kliper yang menyalahikan

[56:44] kan kayak

[56:45] kamu suka banget sabu terus kamu jawab

[56:46] suka banget. [tertawa]

[56:47] Nah itu yang jadi hook konten, Bang.

[56:49] Kalau kan ng konten itu kan gu bilang

[56:50] enggak penting bagus, yang penting unik.

[56:52] Ketika aku ngonten di sana, aku tuh

[56:53] bikin doang itu sumpah aku suka banget

[56:54] sama sabu [tertawa] gitu langsung.

[56:57] Padahal kan sabunya pulau sabu gitu loh.

[56:59] Sabuai juga gitu loh.

[57:00] Ini kalau di sama klipper tadi bisa

[57:03] enggak apa-apa. Enggak apa-apa ya harus

[57:04] nonton full yang penting ya.

[57:05] Ben i harus nonton full jangan nonton

[57:06] setengah-setengah.

[57:08] Alright kita ke pertanyaan kedua.

[57:13] Pertanyaan kedua dari FRDHKh_.

[57:17] Dia nanya, "Penasaran dong sama

[57:21] seleranya Kak Ejak gitu. Bisakah aku

[57:24] jadi calonnya Kak Ejak dan bagaimana sih

[57:26] hubungan pcintaan Kak Ejak yang jarang

[57:28] di-share?"

[57:29] Jadi ee kalau tipe aku tuh ya, Bang,

[57:32] kayak ee di beberapa podcast aku bilang,

[57:34] "Aku tuh penginnya yang berhijab dan

[57:36] suka traveling."

[57:36] Iya, spesifik ya.

[57:37] Karena biar ini, Bang, biar bisa bareng.

[57:39] Seru enggak sih? Kayak ibaratkan

[57:40] traveling bareng kayak Sadam sama

[57:41] Gladis, kayak ada temanku Alam sama

[57:43] Syifa, kayak ketemu orang yang satu

[57:44] paham tuh seru banget, Bang. Iya,

[57:46] karena itu susah banget ketika ketemu

[57:48] pasangan. Karena dia harus mengerti kita

[57:50] tu kenal orang sebanyak apa.

[57:52] I

[57:52] kadang kebanyakan orang tuh kalau ketika

[57:54] tememu pasangan yang suka traveling, dia

[57:55] pasti cemburuan gitu.

[57:57] Karena aku pernah dekat sama ini

[57:58] perempuan tuh belum apa-apa udah cemburu

[58:00] sama teman-teman yang cewek gitu loh.

[58:02] Oke, Pak. Karena kan enggak melulu kita

[58:03] tuh dekat sama perempuan, kita tuh

[58:04] pacaran atau berhubungan ya dekat ya

[58:06] temenan gitu loh. Karena kan semakin

[58:08] sering kita traveling semakin kita tuh

[58:09] bisa ngebaca banyak orang gitu loh. Jadi

[58:11] penginnya itu dapat yang satu ini Bang

[58:13] satu

[58:14] hobi lah, satu frekuensi lah gitu. Jadi

[58:17] kayak seru gitu loh.

[58:18] Nah, kenapa yang berhijab dari orang

[58:20] tuaku? [tertawa] Tapi kalau aku ya

[58:22] berhijab enggak berhijab yang penting

[58:23] agamanya bagus.

[58:25] Hmm.

[58:26] Kayak salat udah sesimpel itu aja gitu.

[58:29] Iya. Tapi dari sisi pencintaan berarti

[58:31] kamu lagi open [tertawa]

[58:33] kelas tiba-tiba ngomongin ini ya. Nah,

[58:35] kadang kan Bang orang tuh di hidup ee

[58:38] pasti ada fase dia tuh beruntung di

[58:39] keluarga,

[58:40] di pertemanan, di karir. Nah, enggak kan

[58:43] semuanya tuh beruntung kan. Nah, kalau

[58:45] aku tuh kenanya di percintaan gagal

[58:46] terus.

[58:47] Oh,

[58:47] karena terlalu baik dan terlalu EVOR.

[58:49] [tertawa]

[58:51] Iya, tapi dari poov sebelah sih.

[58:53] Iya, benar. Tapi ya enggak tahu ya,

[58:54] mungkin karena kan setiap orang apa yang

[58:56] dirasain karena mungkin ngerasa kayak

[58:57] dia takut enggak bisa ngebales gitu kan.

[58:59] Tapi kalau menurut aku adalah kayak aku

[59:01] senang melakukan ya udah aku akan

[59:02] melakukan itu gitu loh. Ya ini bentuk

[59:03] aku suka sama orang dan ini bentuk aku

[59:05] cara love language aku seperti ini loh

[59:07] gitu.

[59:07] Tapi kebanyakan orang tuh takut dia tuh

[59:09] enggak bisa ngebales gitu loh.

[59:10] Hm.

[59:10] Tapi kayak bagiku udah ya udah aku

[59:12] ikhlas kok ya gini cara aku untuk

[59:14] menunjukkan kalau aku tuh suka sama dia

[59:16] gitu loh.

[59:16] I

[59:17] tapi kebanyakan gagal gitu.

[59:18] I

[59:19] tapi kayak ketika gagal aku enggak

[59:20] pernah ee nyalahin diriku sendiri.

[59:22] enggak pernah nyalahin keadaan yang

[59:24] ngaku ini adalah ya Tuhan enggak

[59:26] mempertemukan aku dengan dia pasti akan

[59:28] diganti sama yang lebih baik gitu loh.

[59:29] H

[59:30] ya kembali lagi yang di awal tadi kita

[59:31] bilang ikhlas. Kalau kita ikhlas pasti

[59:33] akan dikasih yang lebih baik gitu loh

[59:34] ya. Atau konteks gagalnya itu bukan

[59:36] gagal sih kayak Tuhan tuh menunda supaya

[59:38] kamu dapat lebih baik biasanya.

[59:39] Iya. Benar

[59:40] ya.

[59:42] Oke kita ke pertanyaan ketiga

[59:47] dari one_7.

[59:50] Bang Ejak minta saran dong hal apa yang

[59:52] harus aku persiapkan untuk solo

[59:54] traveling selain duit doang?

[59:57] Relasi.

[59:58] Hm.

[59:58] Kayak bilang tadi aku tuh, Bang, sebelum

[01:00:00] di dunia traveling aku tuh kan suporter

[01:00:03] ya. Kayak aku bilang tadi aku suporter

[01:00:04] Pekanbaru.

[01:00:05] Ee PSPS Pekanbaru aku tuh kurva eh

[01:00:07] ultrasnya lah kalau bilang ini kan. Jadi

[01:00:09] aku tuh ee sebelum aku traveling aku tuh

[01:00:11] punya banyak teman suporter. Jadi aku

[01:00:13] tuh sebelum aku punya banyak followers,

[01:00:15] sebelum aku dikenal banyak orang, aku

[01:00:17] tuh sering, Bang. Aku tuh senang banget

[01:00:18] punya teman di luar kota. Ya udah ketika

[01:00:20] ngelihat oh ini orang Sumba kufollow ah

[01:00:22] gitu.

[01:00:22] Oke.

[01:00:23] Oh ini orang Bali ku follow ah. Kita

[01:00:24] kenalan gitu. Mas dari suporter ini ya

[01:00:26] Mas? Mas dari supporter ini ya Mas?

[01:00:28] Terus kayak enggak enggak ada yang tahu

[01:00:29] kan kayak sekarang aku bisa menyamperin

[01:00:30] mereka satu-satu gitu loh.

[01:00:32] Iya.

[01:00:32] Dan aku masih ingat semua teman-teman

[01:00:34] suporterku gitu loh. Kayak ya udah

[01:00:36] tujuan aku tuh adalah aku punya banyak

[01:00:38] teman di luar kota sekaligus manifestasi

[01:00:40] suatu saat aku pasti bakal ketemu mereka

[01:00:41] gitu loh.

[01:00:42] I

[01:00:42] dan aku pasti ketemu gitu loh.

[01:00:44] Hmm. He.

[01:00:45] Jadi kayak aku hampir semua teman-teman

[01:00:47] suporterku yang dulu-dulu dari 2015 2014

[01:00:49] aku temenan sampai sekarang udah ketemu

[01:00:51] sama mereka semua hampir semua gitu loh.

[01:00:52] Iya.

[01:00:53] Terus simpel kamu mau ke sport Persip k

[01:00:56] mau ke sporter Persija masih masuk gitu

[01:00:58] ya.

[01:00:58] Iya benar masih masuk karena aku tuh ada

[01:01:00] di netral

[01:01:01] Pekanbaru gitu loh. Aku pernah ada

[01:01:03] kejadian lucu Bang

[01:01:04] kalau cerita-cerita sporter aku pernah

[01:01:06] ada kejadian lucu. Pada saat aku di

[01:01:08] Jakarta aku tuh pernah hampir di ini,

[01:01:10] Bang. Hampir dicegat orang karena

[01:01:11] kebawa-bawa sial warna biru.

[01:01:13] Oke.

[01:01:13] Suorter Persipia gitu. Bukan, Bang. Ini

[01:01:15] Pekanbaru. Oh, maaf ya, Mas. Ini ini,

[01:01:17] gitu. Nah, terus pada saat aku di

[01:01:19] Bandung, aku tuh hampir diiniin orang

[01:01:20] juga kayak karena ngomongnya luugue kan

[01:01:22] sama temanku gitu kan. Padahal temanku

[01:01:24] ini orang Karawang gitu loh. Nah, eh

[01:01:27] kalian thejek ya ini nih bukan aku

[01:01:29] Pekanbaru ini nih gitu. Jadi enaknya

[01:01:30] Pekanbaru tu ya netral gitu loh. Kita

[01:01:32] enggak ada bermusuhan dan berinian sama

[01:01:33] siapapun gitu.

[01:01:34] Makanya tadi gini, "Kalian ya?" "Enggak,

[01:01:36] saya ejak gitu." [tertawa]

[01:01:37] Mirip yajak ya.

[01:01:39] Tapi ini out of topicnya dari yang dia

[01:01:40] bahas tadi ya, Bang. Kayak aku tuh

[01:01:42] pengin banget suporter Indonesia tuh

[01:01:43] nyatu gitu, Bang. Karena kayak seru aja

[01:01:45] gitu, Bang, kalau eh kayak ibaratkan

[01:01:47] entah itu The Jack sama Viking gabung

[01:01:49] gitu. Entah itu Arema sama Bonek ini

[01:01:51] suporter gabung itu kayak seru gitu loh.

[01:01:54] Kayak karena ee sekarang tuh kan banyak

[01:01:56] peraturan-peraturan yang aneh dari PSSI

[01:01:57] itu kayak larangan away lah gitu,

[01:01:59] larangan ini larangan itu gitu. Padahal

[01:02:02] kalau orang kalau semakin dilarang

[01:02:04] semakin dilakukan

[01:02:05] benar

[01:02:05] coba enggak ada larangan pasti orang tuh

[01:02:07] tahu sendiri kok tahu diri kok gitu.

[01:02:09] Jadi kayak semakin dilarang tuh orang

[01:02:10] akan semakin melakukan gitu.

[01:02:11] Iya. sama kedewasaan dari para supporter

[01:02:14] sih. Karena ada beberapa kasus kan atau

[01:02:16] berapa insiden yang terjadi di negara

[01:02:19] kita ini kan ada sampai ada korban jiwa

[01:02:20] itu karena kayak ambisi-ambisi seotor

[01:02:23] ya.

[01:02:23] Benar. Iya. Dan kembali lagi sih ya

[01:02:25] kalau bisa berdamai itu akan lebih seru

[01:02:27] gitu, lebih enak gitu.

[01:02:29] He

[01:02:29] dan kayak dari segi sepak bola kan bisa

[01:02:31] memajukan perekonomian juga kan Bang.

[01:02:33] Kayak ibaratkan nih dari Jakarta away ke

[01:02:34] Bandung. Seberapa banyak orang-orang

[01:02:36] Jakarta ke Bandung? Pasti banyak kan ini

[01:02:37] ya kan pariwisatanya dari segi

[01:02:39] perekonomian masyarakat sekarang bakal

[01:02:40] maju gitu kan. Tapi kembali lagi mungkin

[01:02:42] kalau untuk yang Bandung sama Jakarta

[01:02:43] tuh akan sangat-sangat susah, Bang.

[01:02:44] Karena udah memang dari lama kan.

[01:02:46] Tapi yang berharap semoga lekas inilah

[01:02:48] karena biar biar biar seru sepak bolaan

[01:02:50] gitu kan.

[01:02:50] Benar, benar, benar. Dan pentingnya

[01:02:52] relasi ya saya

[01:02:53] i pentingnya relasi itu relasi sangat

[01:02:54] penting.

[01:02:56] Wow, seru banget Jak. Dari aku yang

[01:02:58] terakhir ya.

[01:03:00] The worst advice yang pernah kamu

[01:03:02] terima.

[01:03:03] Berbuat baik aja sama semua orang.

[01:03:05] Karena apa, Bang? Karena

[01:03:07] ini walaupun aku enggak jadi haji ya

[01:03:09] tahun ini ya, Bang ya. Jadi aku tuh e

[01:03:12] aturan tahun-tahun ini haji, Bang. Tapi

[01:03:13] enggak jadi berangkat karena enggak

[01:03:14] dapat visa. Tahu sendiri kan visa haji

[01:03:15] di Indonesia seperti apa, ya?

[01:03:17] Pada saat itu aku pernah ketemu sama

[01:03:19] konten kreator dari Malaysia namanya

[01:03:21] Akil Misnan.

[01:03:22] Sekarang dia lagi, dia itu kontennya

[01:03:23] itu, Bang, sepedaan dari Malaysia ke

[01:03:25] Mekah.

[01:03:25] He.

[01:03:26] Jadi sekarang dia tuh motoran dari

[01:03:28] Malaysia ke Eropa.

[01:03:29] Oke.

[01:03:29] Jadi pada saat itu dia traveling ke

[01:03:31] Indonesia. Dia ini temannya temanku. Aku

[01:03:33] enggak kenal sama dia dan aku enggak

[01:03:34] tahu orang ini hidup sama sekali. Dia

[01:03:36] datang ke Indonesia dan aku ngelihat

[01:03:38] temanku bikin konten ee dibikin story.

[01:03:40] Dia lagi di Indonesia. Aku bilang ee

[01:03:42] temanku ini dia bang punya anak kecil,

[01:03:44] istrinya baru melahirkan. Eh, itu

[01:03:46] temannya nginp di rumahku aja enggak

[01:03:47] sih? Kan lu enggak kenal. Enggak

[01:03:49] apa-apa, udah di rumahku aja. Kau punya

[01:03:50] anak kecil kasihan. Nanti dia enggak

[01:03:52] bakalan nyaman juga kayak enggak enak

[01:03:53] nanti enggak enakan gitu kan. Udah

[01:03:55] tinggal di rumah aku kan aku ajak ke

[01:03:56] Bandung keliling Bandung ke sini ke

[01:03:57] sini. Aku bilang sama dia, "Mau ke

[01:03:59] mana?" Aku nak keliling ini aku nak

[01:04:02] backpackeran dari Bandung sampai ke Rote

[01:04:05] lah. Dia bilang kan sampai ke daerah

[01:04:06] timur Indonesia.

[01:04:07] Oh ya udah bilang kan kau ketemu sama

[01:04:09] orang yang pas gua bilang nanti kau ke

[01:04:12] Sumba ke Surabaya ke Jogja kayak ini

[01:04:15] temui temanku ya ini ini ini ini. Temui

[01:04:16] ini gitu. Jadi bilang aja teman eja

[01:04:18] teman eja. Dan alhamdulillah setiap dia

[01:04:19] jalan dari Malang ke Jogja ke mana, dia

[01:04:21] itu ketemu teman-temanku semua gitu loh.

[01:04:23] Dan disambut dengan baik. Dan balasan

[01:04:24] yang dia lakukan adalah ketika pada saat

[01:04:26] dia sampai di Lombok, dia nelepon aku,

[01:04:27] "Bang, kayak, "Ja, apa? Kenapa, Ki?" Aku

[01:04:30] bilang, "Kan, kau mau haji enggak?"

[01:04:32] "Maulah." "Siapa yang enggak mau haji?"

[01:04:33] Itu pikir pertanyaan, bukan tawaran kan.

[01:04:35] Terus tiba-tiba ngomong, "Oke, kau kirim

[01:04:37] KTP sama ini tahun depan kau berangkat

[01:04:39] ya." Dia bilang, "Ini serius aku bilang

[01:04:41] serius." Dia bilang kayak ya udah kau

[01:04:43] mau enggak mau. Aku bilang, "Ya udah kau

[01:04:44] berangkat ya, Bang." Aku langsung

[01:04:46] nangis, Bang, di situ, Bang.

[01:04:47] Iya. Terus kayak, "Oh, ternyata Tuhan

[01:04:49] tuh aku tuh ee bermimpi aku tuh cuman

[01:04:53] pengin umrah tiap tahun, tapi Allah

[01:04:55] ngasih aku haji gitu loh, Bang." Kayak

[01:04:58] ternyata ee yang aku tangkap adalah

[01:05:00] kayak aku tuh enggak mulai sekarang aku

[01:05:03] tuh enggak pernah mau minta sesuatu yang

[01:05:04] kecil lagi. Aku pengin minta se apapun

[01:05:06] yang aku minta, aku minta yang K Roma

[01:05:07] bilang kan kayak, "Ya Allah tuh maha

[01:05:09] besar, jangan minta yang kecil." gitu

[01:05:10] loh. Jadi kayak sekarang tuh aku pasti

[01:05:12] minta sesuatu yang yang di luar nalar

[01:05:14] aku minta gitu loh. Aku pengin keliling

[01:05:16] dunia, aku pengin ini, pengin itu segala

[01:05:17] macam yang enggak kepikiran di orang aku

[01:05:19] minta gitu loh.

[01:05:19] H

[01:05:20] karena ya semakin kita baik sama orang

[01:05:22] ya semakin hal-hal tak terduga itu

[01:05:24] datang gitu loh Bang. Kayak itu kan

[01:05:26] tiba-tiba dikasih haji gitu loh. Tapi

[01:05:27] ternyata enggak jadi haji tahun ini gitu

[01:05:29] loh. Tapi enggak apa-apa pasti ee tahun

[01:05:31] depannya bakalan coba lagi dan pasti

[01:05:33] Allah tuh nyiapin yang terbaik gitu loh.

[01:05:34] Inti ikhlas aku tuh udah ikhlas gitu

[01:05:35] loh. Apapun yang terjadi aku tuh ikhlas

[01:05:37] gitu loh

[01:05:38] ya. Terima kasih banyak kelas. Sehat

[01:05:40] terus. Semoga lancar perjalanannya.

[01:05:42] Makasih semuanya.
