# [Live Session] UT1 - #01 : Kuliah Perdana Ushul Tafsir - Ustadz Umar Rais Hisyam, B.A., B.A., M.A.

https://www.youtube.com/watch?v=7dtPJQh__Fg
Translation: en

[00:00] warahmatullahi wabarakatuh.
  Peace and blessings of Allah be upon you.

[00:01] Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
  Praise be to Allah, Lord of the worlds, and by Him

[00:04] nastain waa um dunya wdin wasalatu
  we seek help, and for this world and religion, and blessings

[00:06] wasalamu ala asrofil iyaai wal mursalin
  and peace be upon the noblest of prophets and messengers

[00:09] waa alihi wasohbihi waman tabiahum
  and upon his family and his companions, and those who follow them

[00:11] bihsani ilai yaumiddin. Amma ba'du.
  with excellence until the Day of Judgment. Furthermore,

[00:14] Alhamdulillah, segala puji bagi Allah
  Praise be to Allah, all praise is due to Allah

[00:16] Subhanahu wa taala yang telah
  Exalted and Glorified is He, who has

[00:18] mempertemukan kita pada kesempatan yang
  brought us together on this occasion which is

[00:20] penuh keberkahan ini. Selawat serta
  full of blessings. And prayers and

[00:23] salam semoga senantiasa tercurahkan
  salutations may always be bestowed

[00:25] kepada nabi kita Muhammad sallallahu
  upon our Prophet Muhammad, peace be upon him,

[00:27] alaihi wasallam, kepada keluarga beliau,
  upon his family,

[00:30] para sahabat, dan orang-orang yang
  his companions, and those who

[00:32] istikamah mengikuti sunah beliau hingga
  remain steadfast in following his Sunnah until

[00:34] akhir zaman nanti. Para peserta Liqomu
  the end of time. Participants of Liqomu

[00:37] rahimahullah,
  may Allah have mercy on them,

[00:38] dengan penuh rasa syukur kita memasuki
  with full gratitude, we enter

[00:41] pertemuan perdana pada perkuliahan usul
  the inaugural meeting for the Usul

[00:44] tafsir bersama guru kita Al Ustaz Umar
  Tafsir lecture with our teacher, Al Ustaz Umar

[00:47] Rais BA MA. Hafidahullahu taala.
  Rais BA MA. May Allah protect him.

[00:51] Semoga majelis ini menjadi majelis ilmu yang
  May this gathering be a gathering of knowledge that is

[00:52] diberkahi, diliputi dengan ketenangan,
  blessed, filled with tranquility,

[00:55] dan menjadikan jalan bertambahnya
  and paves the way for increased

[00:56] pemahaman kita terhadap kalamullah dan
  understanding of the words of Allah and

[00:59] sunah-sunah Rasulullah sallallahu alaihi
  the Sunnah of the Messenger of Allah, peace be upon him.

[01:01] wasallam.
  And peace be upon you.

[01:04] Sebelum halaqah dimulai, kami mengingatkan kepada seluruh ikhwah peserta liq maftuh untuk menyiapkan alat tulis dan buku catatan agar faedah-faedah yang disampaikan oleh ustaz dapat dicatat dengan baik.
  Before the halaqah begins, we remind all brothers and sisters participating in the open liq to prepare writing tools and notebooks so that the benefits conveyed by the teacher can be well recorded.

[01:16] Serta bagi ikhwah yang tidak ada uzur dimohon untuk dapat open kamera serta menempatkan diri di tempat yang kondusif.
  And for brothers and sisters who have no excuse, you are requested to turn on your cameras and place yourselves in a conducive environment.

[01:24] Walaupun halaqok kita dilaksanakan secara online, semoga kita tetap dapat menjaga adab-adab selama bermajelis ilmu serta menghadirkan hati di dalam menuntut ilmu.
  Although our halaqah is carried out online, hopefully we can still maintain the etiquette during the knowledge gathering and present our hearts in seeking knowledge.

[01:34] Tanpa berpanjang kata, marilah kita membuka majelis ini dengan memohon keberkahan ilmu dari Allah Subhanahu wa taala kepada Ustaz Umar Rais BA hafidahullahu taala.
  Without further ado, let us open this assembly by asking for the blessings of knowledge from Allah Subhanahu wa taala to Ustaz Umar Rais BA, may Allah protect him.

[01:45] Waktu dan tempatnya kami persilakan.
  We give the time and place to you.

[01:48] Tafadul Ustaz.
  Please, Ustaz.

[01:53] Bismillahirrahmanirrahim.
  In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.

[01:58] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
  Peace and blessings of Allah be upon you.

[02:06] Inalhamdalillah nahmaduhu wastainuhu
  We praise Him and seek His help.

[02:09] wasastagfiruh
  And we seek His forgiveness.

[02:11] wubillahuri
  And we seek refuge in Allah

[02:13] anfusina
  from our souls

[02:16] waminati aalina
  and from our evil deeds.

[02:19] yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil
  Whom Allah guides, none can misguide, and whom He leaves astray,

[02:22] fala hadiyaalah
  none can guide.

[02:25] ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
  I bear witness that there is no god but Allah alone,

[02:27] syarikalah wa ashadu anna muhammadan
  He has no partner, and I bear witness that Muhammad

[02:30] abduhu wa rasuluh
  is His servant and His messenger.

[02:33] Alhamdulillah
  Praise be to Allah.

[02:35] bersyukur kepada Allah kita semua
  We are all grateful to Allah.

[02:38] bersyukur kepada Allah Subhanahu wa
  Grateful to Allah, Subhanahu wa

[02:39] taala bisa dipertemukan di
  Ta'ala, for being able to meet in

[02:44] kajian perdana
  the inaugural study session

[02:46] atau pertemuan perdana session di
  or the inaugural meeting session at

[02:52] Alaq ASI Akademi Usul Tafsir
  Alaq ASI, the Academy of Usul Tafsir.

[03:00] Dan
  And

[03:02] kita memohon kepada Allah Subhanahu wa
  we ask Allah Subhanahu wa

[03:03] taala untuk
  Ta'ala for

[03:06] memberkahi pertemuan ini dan menjadikannya jalan untuk lebih memahami Al-Qur'an, lebih dekat dengan tafsirnya dan juga memahami penafsiran para ulama dengan baik dan benar.
  bless this meeting and make it a way to better understand the Qur'an, closer to its interpretation, and also to understand the interpretations of the scholars well and correctly.

[03:32] Para mahasantri His Akademi.
  The students of His Academy.

[03:35] Susunan acara sore ini insyaallahu taala seperti yang telah disampaikan kepada kami insyaallah 60 menit atau sekitar ee sampai jam berapa berarti di sana?
  The arrangement of this afternoon's event, God willing, as has been conveyed to us, God willing, 60 minutes or around, uh, until what time does that mean there?

[03:53] Jam di sini sampai jam 5.30 ya.
  The time here is until 5:30.

[03:53] Oh di sana jam 09.30 30 akan kita murajaah dari halaqah 1 sampai 10.
  Oh, there it's 9:30, 30 we will review from halaqah 1 to 10.

[04:07] tentang materi usul tafsir ini.
  about the material of this interpretation proposal.

[04:12] Kemudian 30 menit setelahnya ada akan ada sesi tanya jawab jika ada yang ingin ditanyakan dan semoga Allah subhanahu wa taala memberikan kami kemudahan untuk menjawab.
  Then 30 minutes after that there will be a Q&A session if there is anything to ask and may Allah subhanahu wa taala give us ease to answer.

[04:32] Tayib. Sebelum kita masuk ke materi, ana memberikan dua tanbih atau dua himbauan tentang materi usul tafsir ini, ya.
  Okay. Before we go into the material, I am giving two reminders or two appeals about the material of this interpretation proposal, yes.

[04:46] Yang pertama, materi usul tafsir ini itu berupa kaidah-kaidah.
  The first is, this interpretation proposal material is in the form of rules.

[04:57] Jadi wajar kalau misalnya seorang murid mempelajari sebuah kaidah belum terlalu tergambar dengan baik
  So it is natural if, for example, a student studies a rule and it is not yet clearly depicted.

[05:08] kecuali dengan banyaknya contoh setelah mempelajari kaidah tersebut seperti seorang mempelajari kaidah nahwu, kaidah sarf, dia tidak akan bisa memahaminya dengan baik.
  Unless with many examples after studying those rules, like someone studying the rules of nahwu, the rules of sarf, they will not be able to understand it well.

[05:26] kecuali setelah dia mempelajari contoh-contohnya dan bahkan lebih baik lagi jika belajar membaca kitab gundul dan seterusnya.
  Unless after they study the examples, and even better if they learn to read the unvocalized book and so on.

[05:38] Begitu juga usul tafsir.
  It is the same with the proposal for tafsir.

[05:41] Kita tidak akan bisa memahami kaidah-kaidah yang telah kita pelajari dengan baik, kecuali setelah kita banyak menelaah tafsir-tafsir para ulama dan mempraktikkan kaidah-kaidah yang telah kita pelajari dalam ee penafsiran mereka.
  We will not be able to understand the rules that we have learned well, unless after we extensively study the tafsirs of the scholars and practice the rules that we have learned in their interpretations.

[06:05] Kemudian yang kedua ya lebih ke penjelasan tentang sumber
  Then the second is more about the explanation of the source.

[06:11] Dari materi kita ini.
  From our material.

[06:16] Jadi materi yang telah kita susun ana sendiri sama dengan Ustaz Uma hafidahullahu taala adalah yang telah kita pelajari di Jamiah Islamiyah Madinah.
  So the material that I have compiled myself, along with Ustaz Uma, may Allah have mercy on him, is what we have studied at the Islamic University of Madinah.

[06:34] Selama program studi satu ana sendiri.
  During the one-year study program myself.

[06:40] Kemudian Ustaz Ustaz Umair berhubung beliau adalah memang di Qism tafsir kalau ana sendiri di Qisum Qiraat beliau di Kisum Tafsir maka kami berusaha untuk meringkas apa yang telah kita ee dapatkan di kuliah dari berbagai kitab yang modern sebenarnya belum.
  Then Ustaz Umair, because he is indeed in the Department of Tafsir, while I am in the Department of Qiraat, he is in the Department of Tafsir, so we tried to summarize what we have obtained in lectures from various modern books, actually not yet.

[07:06] Jadi yang disusun oleh ulama belakangan atau masyaikh belakangan seperti almuhazab fi ushuli tafsir dan attrir fi.
  So it is compiled by later scholars or later sheikhs such as Al-Muhazzab fi Usuli Tafsir and At-Tir fi.

[07:14] Ushuli tafsir, fusul fi ushuli tafsir.
  Ushuli tafsir, chapters in ushuli tafsir.

[07:18] Kita berdua berdiskusi kemudian berusaha menyusun ee dengan lebih runtut dan lebih lebih baik menurut ijtihad kamu berdua.
  The two of us discussed then tried to arrange it more coherently and better according to your joint ijtihad.

[07:32] Nah, mungkin itu sedikit yang ana tambahkan di awal liq ini.
  Well, maybe that's a little bit that I will add at the beginning of this meeting.

[07:41] Kemudian di sini ada 10 halaqah.
  Then here there are 10 halaqahs.

[07:43] Insyaallah kita akan baca ringkas agar kita bisa istikarf atau mengingat kembali apa yang telah kita pelajari.
  God willing, we will read briefly so that we can review or remember what we have learned.

[07:56] Yang pertama tentang mukadimah, pendahuluan.
  The first is about the introduction, the preface.

[08:01] Usulut tafsir.
  Usulut tafsir.

[08:04] Di halaqah pertama kita mempelajari tentang ee beberapa tema penting.
  In the first halaqah, we studied about some important themes.

[08:14] yaitu pengertian usul tafsir urgensi
  That is the understanding of the urgency of usul tafsir.

[08:23] yang juga di dalam bahasa Arab disebut dengan ahami ya.
  Which is also called in Arabic as ahami ya.

[08:27] Kemudian tujuan hadf kenapa kita belajar usul tafsir.
  Then the purpose of hadf, why we study usul tafsir.

[08:31] Kemudian hukum menafsirkan Al-Qur'an dan hubungan ulumul Quran dengan usulut tafsir.
  Then the law of interpreting the Qur'an and the relationship between ulumul Qur'an and usulut tafsir.

[08:43] Yang pertama ushul tafsir secara bahasa dan secara istilah.
  The first is ushul tafsir, linguistically and terminologically.

[08:46] Kita fokus ke istilahnya saja ya karena ini yang menjadi inti bahasan kita untuk dan untuk meringkas waktu.
  We will focus only on the terminology, because this is the core of our discussion to save time.

[09:01] Dan usul tafsir adalah almadzi yabu ususi walqidumu alai tafsirul Quran.
  And usul tafsir is almadzi yabu ususi walqidumu alai tafsirul Quran.

[09:08] Ilmu yang mempelajari landasan-landasan yang menjadi dasar dalam menafsirkan
  The science that studies the foundations that become the basis for interpretation.

[09:15] Al-Qur'an.
  The Qur'an.

[09:19] Ya, baik itu kita akan menjadikannya dasar sebab jika kita ingin menafsirkan Al-Qur'an, menjelaskan makna Al-Qur'an atau kita menjadikannya dasar untuk menilai penafsiran seseorang.
  Yes, whether we make it a basis because if we want to interpret the Qur'an, explain the meaning of the Qur'an, or we make it a basis for judging someone's interpretation.

[09:36] Menilai penafsiran seorang mufassir.
  Judging the interpretation of an interpreter.

[09:40] Apakah itu benar ataukah itu salah?
  Is it right or is it wrong?

[09:47] urgensi pahamiah tentang mempelajari usul tafsir ini yaitu untuk mengontrol penafsiran Al-Qur'an agar tidak jatuh ke dalam kesalahan.
  The urgency of understanding about studying the principles of interpretation is to control the interpretation of the Qur'an so as not to fall into error.

[10:00] Kemudian juga semakna dengan itu menjadi tolak ukur untuk membedakan penafsiran yang benar dan yang salah.
  Then, it also means becoming a benchmark to distinguish between correct and incorrect interpretations.

[10:08] Kemudian melawan anggapan bahwasanya tafsir adalah produk semata yang tidak ada ee
  Then, it counters the assumption that interpretation is merely a product that does not exist, uh

[10:17] Kaidahnya.
  Its principle.

[10:20] Semua orang bisa menafsirkan sesuai apa yang dia kehendaki.
  Everyone can interpret according to what they desire.

[10:26] Kemudian keempat melawan anggapan bahwasanya makna Al-Qur'an berubah sesuai dengan waktu dan tempat.
  Then the fourth refutes the assumption that the meaning of the Al-Qur'an changes according to time and place.

[10:30] Al-Qur'an tentu saja cocok maknanya ee bisa untuk membawa maslahah di semua waktu dan tempat.
  The Al-Qur'an, of course, its meaning is suitable, it can bring benefit at all times and places.

[10:41] Tapi bukan berarti maknanya berubah-rubah.
  But that doesn't mean its meaning changes.

[10:45] Maknanya berubah-rubah menyesuaikan tempat tersebut.
  Its meaning changes to suit that place.

[10:48] Ya, itu sesuatu dua hal yang berbeda maknanya tetap tetap ee satu atau tetap yang benar yang dimaksudkan.
  Yes, those are two different things, its meaning remains, remains, uh, one or remains the intended correct one.

[11:00] Tapi makna ini bisa memberi maslahat di tempat manaun dan di ee waktu kapan.
  But this meaning can provide benefit in any place and at any time.

[11:13] Kemudian hukum mempelajari dan menafsirkan Al-Qur'an secara umum.
  Then the law of studying and interpreting the Al-Qur'an in general.

[11:16] Ini
  This

[11:19] masuk ke pembahasan kedua dari halaqah yang tadi ya.
  Entering the second discussion of the previous halaqah.

[11:21] Halqah pertama ini yaitu secara umum hukumnya adalah wajib.
  This first halaqah, in general, its hukum (ruling) is obligatory.

[11:27] Karena mentadaburi Al-Qur'an adalah wajib sesuai perintah Allah Subhanahu wa taala.
  Because contemplating the Quran is obligatory according to the command of Allah Subhanahu wa taala.

[11:32] tidak akan bisa mentadaburi Al-Qur'an kecuali dengan mengetahui penafsirannya.
  One cannot contemplate the Quran except by knowing its interpretation.

[11:37] Dan Al-Qur'an menafsirkan ayat yang tidak bisa ditafsirkan.
  And the Quran interprets verses that cannot be interpreted.

[11:46] Dan ini berkaitan dengan hukumnya tadi ya.
  And this relates to the ruling earlier.

[11:47] Jika kita masih ee kita diwajibkan untuk mentadaburi Al-Qur'an, apakah artinya semua Al-Qur'an itu bisa ditafsirkan?
  If we are still, uh, we are obligated to contemplate the Quran, does it mean all of the Quran can be interpreted?

[11:57] Ternyata ada Al-Qur'an yang kita tidak bisa menafsirkannya, tidak bisa ditafsirkan.
  It turns out there are parts of the Quran that we cannot interpret, cannot be interpreted.

[12:07] Ini disebutkan dalam sebuah asar ya inana dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma tentang pembagian tafsir.
  This is mentioned in an athar, from the companion Ibn Abbas radhiallahu anhuma, regarding the division of tafsir.

[12:13] Ada yang dinamakan dengan mutasyabihul Quran yang
  There is something called mutasyabihul Quran which

[12:19] tidak diketahui maknanya kecuali Allah kecuali Allah
  its meaning is unknown except to Allah, except to Allah

[12:24] Subhanahu wa taala yang mengetahuinya.
  Glory be to Him, who knows it.

[12:29] seperti hal-hal yang gaib seperti
  like unseen matters, like

[12:31] kaifiah atau
  how or

[12:35] ee tata cara Allah Subhanahu wa taala
  uh the manner of Allah, Glory be to Him,

[12:37] ketika beristiwa. Maka ini termasuk hal
  when He established Himself. So this is included in matters

[12:41] yang tidak bisa ditafsirkan, diketahui
  that cannot be interpreted, known

[12:44] maknanya secara pasti karena kita tidak
  its meaning with certainty because we are not

[12:48] diberitahu oleh Allah Subhanahu wa
  informed by Allah, Glory be to Him,

[12:50] taala. Adapun maknanya, maknanya kita paham ala
  He. As for its meaning, its meaning we understand according to

[12:55] wartafaa seperti yang disebutkan oleh
  the scholars as mentioned by

[12:57] para ulama. Tapi bagaimana ala wartafaa
  the scholars. But how according to the scholars

[13:01] ini kaifiahnya tidak ada yang tahu. Nah,
  this, its manner, no one knows. Well,

[13:05] kemudian contohnya adalah contohnya lagi
  then its example is, its example again

[13:08] tentang
  about

[13:10] ee
  uh

[13:13] kapan hari kiamat itu datang.
  when the Day of Judgment will come.

[13:18] Nah, kemudian arti dari araful
  Well, then the meaning of araful

[13:20] muqattaah.
  Muqatta'ah.

[13:21] Banyak e pendapat para ulama tentang makna ahlul muqatah.
  There are many opinions of the scholars about the meaning of Ahlul Muqatah.

[13:25] Namun yang dirojikan di sini yaitu itu adalah ee dan itu termasuk ee pendapat sebagian ulama muqatah tidak ada yang tahu maknanya.
  However, what is intended here is that it is an opinion of some scholars that the meaning of Muqatah is unknown.

[13:37] Allah Subhanahu wa taala menurunkannya demikian dan kita tidak bisa mereka-reka maknanya.
  Allah Subhanahu wa taala revealed it as such, and we cannot speculate on its meaning.

[13:47] Adapun ee bagian kedua yaitu tafsir menafsirkan ayat yang bisa ditafsirkan.
  As for the second part, it is the interpretation of verses that can be interpreted.

[13:53] Maka jika diketahui penafsirannya dari bahasa Arab, maka jika orang itu mengetahu tahu tentang bahasa Arab punya dasar dalam bahasa Arab maka boleh menafsirkan.
  So, if its interpretation is known from the Arabic language, and if that person knows about the Arabic language and has a foundation in Arabic, then it is permissible to interpret.

[14:07] Jika tidak bisa, maka tidak boleh menafsirkannya.
  If one cannot, then it is not permissible to interpret it.

[14:10] Kemudian ada juga yang bisa diketahui dari ee Nabi sallallahu alaihi wasallam beserta juga para ulama karena mereka adalah pewaris para nabi.
  Then there is also what can be known from the Prophet sallallahu alaihi wasallam, as well as from the scholars, because they are the inheritors of the prophets.

[14:21] Nah, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa taalaikai wahum yatafakarun.
  No, the evidence is the word of Allah, Glorified and Exalted is He, while they reflect.

[14:40] Dan hukum mempelajari tafsir ada yang wajib, ada yang tidak wajib.
  And the ruling on studying tafsir, some are obligatory, some are not obligatory.

[14:46] Yang wajib adalah yang berkaitan dengan kewajiban amaliah seorang muslim seperti tauhid dan syirik, rukun iman dan seterusnya yang hukumnya wajib ain.
  What is obligatory is that which is related to the obligatory practices of a Muslim, such as monotheism and polytheism, the pillars of faith, and so on, the ruling of which is obligatory upon every individual.

[15:00] Yang tidak dip wajib adalah yang lainnya.
  What is not obligatory is the others.

[15:05] seperti penafsiran ee tentang kisah-kisah dan seterusnya.
  such as the interpretation of stories and so on.

[15:12] Baik.
  Good.

[15:14] Kemudian tentang ulumul Quran dan usul tafsir.
  Then about Ulumul Quran and Usul Tafsir.

[15:17] Hubungan antara kedua ilmu ini.
  The relationship between these two sciences.

[15:21] Ulumul Qur'an lebih luas mencakup banyak
  Ulumul Qur'an is broader, encompassing many

[15:24] hal yang berkaitan dengan semua ilmu
  that which relates to all knowledge

[15:27] yang berkaitan dengan Al-Qur'an.
  that relates to the Al-Qur'an.

[15:30] baik itu yang ee mencakup maknanya atau
  whether it encompasses its meaning or

[15:33] yang berkaitan dengan ee bacaan dan
  that which relates to the recitation and

[15:38] seterusnya.
  so on.

[15:48] Al-Qur'an apa? Ulumul Quran itu lebih luas dari ushulut tafsir.
  What is the Al-Qur'an? Ulumul Quran is broader than ushulut tafsir.

[15:53] Tib. Halaqah kedua masih tentang pendahuluan mencakup tiga tema utama, yaitu
  Tib. The second session is still about the introduction, covering three main themes, namely

[16:02] apa saja yang dibahas dalam usul tafsir, kemudian sejarahnya, kemudian beberapa karya tulis tentang usul tafsir
  what is discussed in usul tafsir, then its history, then several writings about usul tafsir

[16:11] yang dibahas dalam usul tafsir yang pertama mukadimah asasiah, pendahuluan, kemudian masadirut tafsir,
  which is discussed in usul tafsir, the first is mukadimah asasiah, introduction, then masadirut tafsir,

[16:17] kemudian ijma dan ikhtilaf.
  then ijma and ikhtilaf.

[16:24] syarat dan adab seorang mufassir dan qawaidut tafsir.
  The conditions and etiquette of an interpreter and the principles of interpretation.

[16:28] Yang terakhir tentang qawaidut tafsir ini sebagian ulama menyendirikannya menjadi sebuah ilmu tersendiri.
  The latter, regarding these principles of interpretation, some scholars have separated it into a distinct science.

[16:37] Walaupun sebenarnya dia masuk dalam usulut tafsir, tapi karena banyaknya kaidah-kaidah tafsir yang telah disimpulkan oleh para ulama atau yang telah dibukukan oleh para ulama akhirnya menjadi sebuah ilmu tersendiri.
  Although in reality it falls under the principles of interpretation, but because of the many principles of interpretation that have been concluded by scholars or have been compiled by scholars, it has finally become a distinct science.

[16:54] Dan di kuliah kami di Madinah ada pelajaran tersendiri yang membahas tentang qawaidut tafsir.
  And in our lectures in Madinah, there is a separate lesson that discusses the principles of interpretation.

[17:04] Dan sepertinya di halaqah kali ini halaqah Aademi tidak dibahas dengan ee detail karena memang itu tadi.
  And it seems that in this session, the Aademi session, it is not discussed in detail because of that.

[17:17] Jadi tafsir sebagian ulama menjadikannya sebuah ilmu tersendiri.
  So, interpretation, some scholars make it a distinct science.

[17:21] Adapun yang kita bahas di halaq kita dari nomor 1 sampai 4 dalam
  As for what we discuss in our circle from number 1 to 4 in

[17:28] Pelajaran mata kuliah ini.
  The lessons of this course.

[17:33] Tib. Kemudian sejarahnya ada beberapa fase.
  Tib. Then its history has several phases.

[17:36] Yang pertama tentang fase peletakan pondasi.
  The first is about the foundation-laying phase.

[17:40] Artinya awal ya.
  Meaning the beginning, yes.

[17:44] Semua ilmu syari berawal dari Al-Qur'an dan Asunah.
  All Sharia knowledge originates from the Al-Qur'an and Sunnah.

[17:47] Dari zaman Rasul sallallahu alaihi wasallam, dari praktik Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menafsirkan Al-Qur'an.
  From the time of the Messenger, peace be upon him, from the practice of the Prophet, peace be upon him, when interpreting the Al-Qur'an.

[17:57] Kemudian beliau mengambil sebuah kaidah atau menerapkan
  Then he took a principle or applied

[18:46] Sebuah kaidah.
  A rule.

[19:28] Bismillah terpotong sedikit karena ada telepon.
  Bismillah was cut off a little because there was a phone.

[19:33] Saya ruler.
  I am the ruler.

[19:35] Ayo.
  Come on.

[19:41] Ee jadi kita sampai ke sejarah tentang usul tafsir.
  Ee so we come to the history about the proposal of interpretation.

[19:48] Kemudian setelah fase pondasi ini ada fase pembukuan.
  Then after this foundation phase, there is the bookkeeping phase.

[19:52] Setelah di para ulama meneliti ilmu ini dari hadis-hadis Rasul sallallahu alaihi wasallam.
  After the scholars researched this knowledge from the hadiths of the Messenger, peace be upon him.

[19:58] Mereka menulisnya dalam kitab-kitab yang membahas ilmu-ilmu lain.
  They wrote it in books that discuss other sciences.

[20:04] Mereka selipkan kaidah-kaidah ini seperti dalam kitab-kitab tafsir itu sendiri.
  They inserted these principles, such as in the books of tafsir themselves.

[20:09] dalam mukadimahnya atau di tengah-tengahnya.
  in their introductions or in the middle of them.

[20:17] Kemudian ada juga dalam kitab kitab Ulumul Qur'an.
  Then there is also in the books of Ulumul Qur'an.

[20:22] Karena ulumul Quran tadi setelah setelah kita sebutkan ya kan mencakup juga ulumut tafsir.
  Because Ulumul Quran, as we mentioned earlier, covers Ulumut Tafsir as well.

[20:27] Kemudian juga kitab ushul fikih karena usul fikih di banyak kaitannya juga dengan usul tafsir seperti yang kita bahas nanti ada tentang taksisul.
  Then also the book of Usul Fiqh, because Usul Fiqh has many connections with Usul Tafsir, as we will discuss later, there is about taksisul.

[20:40] yaitu mengkhususkan lafaz yang umum dan seterusnya.
  which is specifying general terms and so on.

[20:42] Kemudian mereka mengambil contoh dari Al-Qur'an mempraktikkannya.
  Then they took examples from the Al-Qur'an and practiced them.

[20:45] Maka itu termasuk pembahasan usul tafsir
  So that is included in the discussion of Usul Tafsir.

[20:49] juga.

[20:52] Kemudian juga kitab-kitab bahasa seperti

[20:54] Majzul Quran dan Tahibul Lugh.

[20:57] Kemudian setelah itu baru ada yang

[21:01] membukukan secara khusus, secara

[21:02] independen, yaitu contohnya adalah

[21:06] almukadimah fi usul Tafsir karya

[21:09] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

[21:11] rahimahullahu taala dan juga

[21:15] kitab-kitab

[21:17] lain setelahnya.

[21:22] usulun tafsir karya Sikhul eh Isad

[21:26] Alimin

[21:27] dan juga yang membahas beberapa

[21:32] ee pembahasan khusus dalam usul tafsir

[21:35] seperti qawaidut tarjih

[21:38] tafsirul lhawi, al ijma fit tafsir. Ini

[21:41] adalah beberapa tema dalam usul tafsir

[21:43] yang disendirikan

[21:45] oleh beberapa penulis.

[21:48] Nah,

[21:50] kemudian kita masuk ke halaqah ketiga

[21:53] yang membahas tentang

[21:56] penafsiran

[21:58] dengan Al-Qur'an. Penafsiran Al-Qur'an

[22:01] dengan Al-Qur'an.

[22:04] Sebelum kita masuk,

[22:06] kita membahas tentang arti dari masadir

[22:08] tafsir, yaitu almarajiul awali.

[22:12] ee

[22:15] rujukan utama yang dijadikan landasan

[22:19] seorang mufasir.

[22:23] Dan ada beberapa istilah lain seperti

[22:25] ruruk tafsir. Jadi ini bedanya bisa

[22:29] dilihat dari isi sisi pandangnya ya.

[22:32] Turukut tafsir metode metode. Kemudian

[22:35] marajut masodirulut tafsir adalah

[22:38] sumber. Seorang yang menggunakan sumber

[22:42] ee tafsir tertentu tentu metodenya tidak

[22:45] sama dengan sumber lainnya.

[22:49] Maka sebagian menamakannya dari sisi

[22:51] pandang sumbernya.

[22:54] Sebagian lain menamai dengan sisi

[22:56] pandang metodenya.

[22:58] Dan yang disebutkan dalam pembahasan itu

[23:00] ternyata sama yaitu

[23:03] tentang masadirut tafsir.

[23:06] Ada tujuh

[23:08] ee secara umum yaitu Al-Qur'an, sunah,

[23:11] tafsirus Sahabah, walut tabiin,

[23:15] lhah, Arrailiat.

[23:22] Tafsirul eh Alqur'an bil Quran yaitu

[23:25] bayan ma ayat ayat ukra penjelasan dari

[23:30] sebuah ayat dengan ayat yang lain baik

[23:33] secara sarif atau secara ee istimba atau

[23:39] di diambil kesimpulan oleh para ulama

[23:42] dan dikaitkan dengan ayat lain.

[23:47] pahami ya kenapa tafsir Al-Qur'an itu

[23:50] penting.

[23:52] Tafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an itu

[23:53] penting karena seorang

[23:57] yang ee

[24:00] mengucapkan

[24:03] pasti atau Allah Subhanahu wa taala yang

[24:06] menfirmankan Al-Qur'an pasti lebih tahu

[24:08] tentang makna dari firmannya sendiri.

[24:11] Jika itu telah dijelaskan dalam

[24:13] Al-Qur'an maka itu adalah sebaik-baik

[24:15] penafsiran.

[24:17] Dan ini juga digunakan oleh para salafus

[24:20] saleh

[24:22] ya.

[24:26] Dan juga digunakan oleh Rasul sallallahu

[24:29] alaihi wasallam ketika menafsirkan

[24:32] syirik dengan nuzul. Beliau mengaitkan

[24:34] dengan ayat lain.

[24:37] Begitu juga

[24:39] yang menjadikan penafsiran Al-Qur'an ini

[24:43] adalah penafsiran yang kuat adalah yang

[24:46] kita sebutkan tadi ya. Mutakallim orang

[24:48] yang atau yang mengucapkan itu lebih

[24:52] tahu tentang apa yang ma dia maksudkan

[24:56] dalam ucapannya.

[24:59] Tayib.

[25:02] penafsiran Al-Qur'an dan Al-Qur'an

[25:03] terbagi menjadi dua. Dan ini sama ya,

[25:07] nanti ada juga di tafsir ee sunah

[25:10] bisunah. ada yang sorih, ada yang

[25:13] ada yang ee

[25:16] tidak demikian, yaitu yang dikaitkan

[25:19] oleh

[25:22] yang lain, oleh Nabi sallallahu alaihi

[25:25] wasallam atau sahabat atau tabiin.

[25:28] Yansari yang langsung dijelaskan

[25:31] oleh Allah Subhanahu wa taala seperti

[25:34] makna wali

[25:37] aulia.

[25:39] Allah Subhanahu wa taala langsung

[25:40] sebutkan penjelasannya di ayat

[25:42] setelahnya.

[25:43] Adapun yang ee ghairus shih yaitu yang

[25:46] dikaitkan oleh seorang mufasir itu Nabi

[25:50] sallallahu alaihi wasallam maka itu

[25:54] ee wajib diterima. Kemudian sahabat dan

[25:57] tabiin

[25:59] rahimahumullahu taala.

[26:04] Maka

[26:07] dilihat jika ijtihadnya itu berdasarkan

[26:11] dalil yang kuat maka waktunya diterima.

[26:17] Apalagi jika ijma mereka ijma, maka ada

[26:22] unsur lain yang membuat ee penafsiran

[26:25] itu menjadi lebih kuat untuk diterima.

[26:29] Nah,

[26:31] baik. Bagian kedua kita membahas tentang

[26:39] ee macam-macam penafsiran

[26:41] ayat dengan ayat lainnya. Dan

[26:43] ulama-ulama yang masyhur dengan metode

[26:46] ini.

[26:47] Yang pertama bayanul mujmal.

[26:51] Almujmal yang global

[26:53] butuh dijelaskan lagi.

[26:56] Iya.

[26:59] Nah,

[27:01] contohnya fahimatul an'am

[27:06] illa ma yutla alaikum. yang di Allah

[27:10] Subhanahu wa taala menghalalkan

[27:12] bahimatul an'am kecuali yang disebutkan

[27:17] yang telah diharamkan. Apa yang telah

[27:19] diharamkan ini? Yaitu yang disebutkan

[27:21] dalam surat Al-Maidah

[27:24] yaitu bangkai

[27:27] ee darah, babi, dan seterusnya.

[27:32] Kemudian takqyidul mutlak.

[27:34] almutab ya. Ini semua istilah-istilah

[27:36] ini berkaitan juga dengan ilmu ushul

[27:38] fikih. Makanya tadi kita sebutkan di

[27:41] awal bahwasanya

[27:43] pembahasan pembahasan usul tafsir itu

[27:47] sebelum dikubuhkan dalam karya tulis

[27:50] tersendiri banyak juga didapati dalam ee

[27:53] kitab-kitab ushul fikih. dan kitab-kitab

[27:55] usul fikih itu lebih dahulu adanya

[27:58] daripada kitab ushul tafsir yang

[28:01] tersendiri yang bukan ee di sela-sela

[28:06] kitab

[28:08] dalam pembahasan lain.

[28:11] Takqyidul mutlq. Kemudian juga taksisul

[28:15] am.

[28:17] Kemudian tafsiru lafzin bilfah.

[28:20] Lafzah lafzah.

[28:23] Ya, ada lafaz yang garib, yang

[28:26] asing.

[28:28] Kemudian ditafsirkan dalam ayat lain

[28:30] dengan lafaz yang lebih

[28:33] familiar, lebih banyak digunakan

[28:37] sekalipun dua-duanya tentu fasih.

[28:40] Kemudian maknan bimakna

[28:43] apa yang dimaksud dalam ayat laus

[28:47] bihimul diratakan bumi. Dijelaskan dalam

[28:51] surat Annaba, seandainya mereka seperti

[28:55] menjadi tanah saja sehingga tidak

[28:57] dihisab oleh Allah subhanahu wa taala.

[28:59] Bayanul mubham. Mubham itu yang tidak

[29:01] diketahui

[29:03] ee

[29:05] tidak daketahui personalnya.

[29:09] kemudian dijelaskan dalam ayat lain

[29:11] personal yang dimaksud dalam ayat

[29:13] tersebut, ya. Kemudian

[29:17] ee penjelasan dari sebuah hal yang

[29:21] disebutkan secara ringkas dengan

[29:25] ee yang disebutkan secara panjang lebar

[29:29] di tempat lain.

[29:32] Nah, pembahasan ketiga dalam

[29:37] halaqah yang keempat ya, ini adalah

[29:40] tentang beberapa ulama yang masyhur

[29:43] dengan karya tulisnya atau dengan

[29:45] metodenya,

[29:47] yaitu menafsirkan Al-Qur'an dengan

[29:48] Al-Qur'an.

[29:50] Yaitu yang pertama Muqatil bin Sulaiman

[29:53] Albalhi dan semua kitab alwujuh wadhaif

[29:58] di kalangan para ulama. Karena alwujuh

[30:01] itu beberapa

[30:05] ayat

[30:06] yang

[30:08] ee lafaznya itu beda-beda tapi

[30:12] sebenarnya maknanya mirip. Nadir

[30:15] kebalikannya.

[30:19] Afwan. Alwujud itu satu wafat yang

[30:22] bermakna banyak seperti ummah beberapa.

[30:25] ada

[30:26] ada yang maknanya ini, ada yang maknanya

[30:29] itu. Dan annadhaif beberapa lafaz yang

[30:32] beda tapi maknanya sama.

[30:34] Nah, ketika dua pembahasan ini dikaitkan

[30:37] dengan Al-Qur'an, maka otomatis dia akan

[30:40] mencari ayat-ayat yang yang

[30:43] sama, kemudian maknanya beda-beda dan

[30:46] saling berkaitan dan akhirnya

[30:49] menafsirkan satu ayat dengan ayat lain

[30:51] dan akhirnya itu masuk dalam tafsir

[30:54] Al-Qur'an fil Qur'an.

[30:57] Nah,

[31:00] kemudian

[31:02] beberapa ulama lain seperti Abdur

[31:04] Abdurrahman bin Zaid bin Aslam

[31:08] ini salah satu adbaut tabiin. Kemudian

[31:11] Ibnu Katsir Addimasqi

[31:14] dalam kitab beliau tafsir Al-Qur'anul

[31:16] Azim dan beberapa karya tulis lainnya.

[31:24] Kemudian kelima,

[31:29] alaqah kelima tentang penafsiran

[31:31] Al-Qur'an dengan hadis Rasul sallallahu

[31:34] alaihi wasallam.

[31:40] Kita

[31:42] baca tema utamanya yaitu pengertian,

[31:46] kemudian urgensi, kemudian

[31:50] sebuah masalah yaitu apakah Nabi

[31:51] sallallahu alaihi wasallam menafsirkan

[31:53] seluruh Al-Qur'an. Kemudian beberapa

[31:57] pembagian tentang metode penafsiran ini

[32:01] pengertiannya adalah segala sesuatu yang

[32:06] ee apa pengertian dari tafsir di sunah

[32:10] adalah bayan mail ayatil quraniyah bima

[32:13] war fah

[32:15] penjelasan makna dari sebuah ayat dengan

[32:19] apa yang datang dalam sunah rasul

[32:21] sallallahu alaihi wasallam.

[32:23] Nah,

[32:29] dalil dari

[32:32] hadis tentang penafsiran ini

[32:37] tentang

[32:38] dalil dari Al-Qur'an bahwasanya hadis

[32:42] itu menjelaskan Al-Qur'an adalah firman

[32:44] Allah Subhanahu wa taalazalnaikinasi

[32:49] nuzila ilai

[32:52] kami menurut Turunkan kepadamu Al-Qur'an

[32:54] agar engkau menjelaskan kepada manusia

[32:57] apa yang telah diturunkan kepada mereka.

[33:02] Kemudian hadis Aisyah kana khuluquul

[33:04] Quran. Jadi Rasul sallallahu alaihi

[33:06] wasallam tidak semata-mata menjelaskan

[33:10] dengan perkataan saja tapi juga dengan

[33:12] perbuatannya. Makanya tadi bima sunah

[33:16] seluruh yang datang dari sunah beliau

[33:19] sallallahu alaihi wasallam.

[33:21] Nah,

[33:25] urgensi ahamiah. Kenapa hadis itu sangat

[33:29] penting dalam menafsirkan Al-Qur'an?

[33:31] Yang pertama karena Rasul sallallahu

[33:32] alaihi wasallam adalah yang menyampaikan

[33:35] Al-Qur'an ini.

[33:38] Kemudian hukum asalnya sunah dalam

[33:40] menjelaskan Al-Qur'an berdasarkan ayat

[33:42] tadi.

[33:45] Dan yang ketiga

[33:48] ini

[33:49] seperti sebuah tanbih ya, bahwasanya

[33:53] Asunah itu tidak ada yang bertentangan

[33:56] dengan Al-Qur'an. Jadi ini bantahan

[33:59] kepada orang yang me

[34:03] menganggap bahwasanya sunah itu

[34:07] tidak bisa diterima atau yang disebut

[34:10] dengan kelompok mungkirus sunni atau

[34:13] yang disebut dengan quraniyun

[34:15] yang mereka hanya me menerima ayat

[34:19] Al-Qur'an saja karena mereka anggap

[34:22] sunah itu

[34:25] adalah

[34:27] semuanya semanya difas

[34:29] sallallahu alaihi wasallam tidak

[34:30] muthawatir ahad dan seterusnya.

[34:33] Maka

[34:35] hal ini bertentangan dengan ee

[34:40] kaidah ini.

[34:45] Fungsi dari

[34:48] hadis dalam menafsirkan Al-Qur'an

[34:54] ya. Salah satu fungsinya yaitu memutus

[34:56] khilaf.

[34:59] Jika ada beberapa

[35:02] pendapat dalam penafsiran sebuah ayat

[35:04] kemudian ada hadis yang menjelaskannya,

[35:06] tentu saja

[35:08] yang datang pada hadis tersebut itulah

[35:11] penafsiran yang paling utama.

[35:15] Tib.

[35:18] Kemudian ini

[35:21] semacam tanbih juga bahwasanya

[35:25] yang meninggalkan

[35:27] atau mengesampingkan penafsiran dengan

[35:30] asunah maka dia akan tersesat.

[35:35] Nah, ini yang

[35:38] ditanbih dalam Rasul sallallahu alaihi

[35:40] wasallam dalam sebuah hadis bahwasanya

[35:43] ada akan ada orang yang hanya menerima

[35:46] Al-Qur'an saja.

[35:48] Ma wajadna

[35:50] bainana wainakum kitabullah. Mereka

[35:52] seakan-akan

[35:54] membahasakannya dengan

[35:56] berpegang teguh dengan Al-Qur'an.

[35:58] Quraniun

[36:00] kita punya kitabullah. kita apa yang

[36:04] kita temui di situ yang halal kita akan

[36:07] menghalalkannya

[36:09] dan yang kita dapatkan di situ haram

[36:13] maka kita akan mengharamkan

[36:16] kemudian mereka tidak mengakui hadis

[36:20] maka ini adalah kesalahan

[36:24] dan beliau Rasulullah sallallahu alaihi

[36:25] wasallam menjelaskan bahwasanya apa yang

[36:28] Rasul sallallahu alaihi wasallam

[36:29] haramkan maka itu seperti yang Allah

[36:30] subhanahu wa taala juga haramkan karena

[36:33] sunah menjelaskan Al-Qur'an.

[36:38] Masuk ke pembahasan kedua yaitu apakah

[36:41] Nabi sallallahu alaihi wasallam

[36:43] menafsirkan seluruh Al-Qur'an

[36:48] dalam artian apakah

[36:50] ada riwayat

[36:53] dari Rasul sallallahu alaihi wasallam

[36:56] tentang penafsiran semua ayat Al-Qur'an.

[37:00] Maka jawabannya tidak.

[37:04] Karena

[37:06] Al-Qur'an diturunkan kepada para sahabat

[37:09] yang mereka sangat fasih dalam bahasa

[37:12] Arab. Sebagian Al-Qur'an itu bisa

[37:16] langsung mereka pahami karena mereka

[37:20] atau sebagian banyak ya sebagian besar.

[37:24] Bahkan sebutkan bahwasanya

[37:27] penafsirannya adalah yaitu dengan

[37:29] pembacaannya itu sendiri. Ketika

[37:31] Rasulullah sallallahu alaihi wasallam

[37:32] menyampaikan, maka itulah sudah

[37:34] penjelasan dari Rasul sallallahu alaihi

[37:36] wasallam. Karena mereka langsung

[37:38] memahaminya dengan tabiat bahasa mereka.

[37:42] Kecuali ada beberapa ayat yang memang

[37:44] musykil. Kemudian mereka bertanya kepada

[37:47] Rasul sallallahu alaihi wasallam.

[37:48] Kemudian Rasul sallallahu alaihi

[37:50] wasallam menjelaskan.

[37:59] Apakah Nabi sallallahu alaihi wasallam

[38:01] menjelaskan secara global?

[38:05] Tentu Rasulullah sallallahu alaihi

[38:07] wasallam menjelaskannya

[38:09] secara global. Dan ini menjadi ee

[38:16] makna dari ayat tadi ya. yanginasi

[38:23] agar engkau menjelaskan

[38:26] kepada manusia apa yang diturunkan

[38:30] kepada mereka. Apakah penjelasannya

[38:32] semuanya secara rinci? Jawabannya tidak.

[38:35] Ada yang secara global dari akhlak

[38:37] beliau, dari ee bahasa Arab yang memang

[38:41] saat itu dipahami oleh para sahabat dan

[38:44] seterusnya.

[38:47] tafsir. Kemudian yang pembahasan

[38:50] selanjutnya yaitu attafsirun

[38:52] ee nabawi

[38:54] dan at-tafsir

[38:59] asunah bisun almubasyir. Pembagian

[39:02] tentang tafsir dengan hadis ini sama

[39:07] dengan Al-Qur'an tadi. Ada yang shih itu

[39:09] yang disebut dengan

[39:11] ee almubasyir. Dan ada juga yang

[39:16] menamainya dengan tafsirun nabawi

[39:20] seperti makna dari

[39:23] almagdubi alaihim dan juga addalin yaitu

[39:27] alyahud wan nasara dan seterusnya. Ini

[39:31] yang Nabi sallallahu alaihi wasallam

[39:33] menafsirkannya secara langsung.

[39:36] Kemudian yang ghair mubasyir

[39:39] yaitu

[39:42] yang dikaitkan oleh para ulama

[39:44] setelahnya

[39:46] seperti yang dalam ee tafsir Al-Qur'an

[39:49] bil Quran tadi juga ada yang shih yang

[39:53] yang diambil dari ee penjelasan mufasir

[39:59] baik itu Nabi atau setelah mereka

[40:02] setelah beliau sallallahu alaihi

[40:04] wasallam.

[40:10] hujiah atau keabsahan.

[40:14] Tafsir an-Nabawi.

[40:18] Tafsirun Nabawi adalah hujah yang tidak

[40:21] boleh diselisi.

[40:24] Tentu saja jika hadisnya sahih. Bahkan

[40:27] Imam Syafi'i rahimahullahu taala

[40:31] menukil ijma di sini ya. Ajmaal

[40:33] muslimun.

[40:36] sunatu rasulillahi sallallahu alaihi

[40:38] wasallam lam yakun lahu ayadaahai ahad

[40:44] kemudian

[40:46] yang gir mubasyir maka dilihat

[40:50] apakah

[40:52] mereka ijmak

[40:54] dalam hal pengaitan hadis tadi sebagai

[40:57] penjelasan ayat atau ada khilaf

[41:01] nah

[41:05] Tayib. Kemudian

[41:08] selanjutnya tentang masih berkaitan

[41:10] dengan tafsir sunah bisunah,

[41:14] kita akan

[41:16] memurajaah tentang

[41:20] ee contoh-contoh dan macam-macam tafsir

[41:23] Quran di sunah dan juga beberapa karya

[41:27] tulis.

[41:30] Yang pertama ada Izalatul Labas.

[41:34] Ini yang ee diriwayatkan dari sahabat

[41:37] Adi bin Hatim radhiallahu anhu tentang

[41:39] makna

[41:42] e khaitul abad, benang putih dan benang

[41:44] hitam

[41:46] yang dimaksud adalah fajr. Kemudian

[41:48] idohful musykil

[41:50] sesuatu yang yang

[41:55] mengganjal atau musykil. tidak bisa

[41:57] diketah tidak diketahui maknanya.

[42:02] Kemudian tafsirul lafzul garib

[42:07] ya tadi juga ada dia di Al-Qur'an dengan

[42:12] Al-Qur'an. Di sini juga ada di Al-Qur'an

[42:14] dengan Asunah. Kalau tadi lafzun bilf

[42:16] kalau di sini lafz garib

[42:20] dengan hadis Rasul sallallahu alaihi

[42:22] wasallam. Kemudian taksisul amam tadi

[42:25] juga ada di

[42:27] Al-Qur'an bil Quran. Kemudian taqyidul

[42:29] mutlak,

[42:31] tafsirul mujmal atau bayanul mujmal.

[42:36] Bayanmal ini sangat banyak ya, karena

[42:39] banyak sekali syariat-syariat Allah

[42:42] Subhanahu wa taala dalam

[42:45] dalam Al-Qur'an yang tidak dijelaskan

[42:47] detailnya kecuali dalam Asunah.

[42:50] Tentang tata cara salat, tentang ee

[42:57] tentang kadar zakat dan seterusnya.

[43:02] Taihul mubham yang tidak jelas.

[43:05] tidak disebutkan secara jelas ee

[43:09] personalnya

[43:12] dan seterusnya.

[43:14] Atamsil yang berupa permisalan

[43:16] menjelaskan dengan permisalan.

[43:20] Beberapa ulama yang masyhur dengan

[43:23] metode ini

[43:26] ya.

[43:28] termasuk para sahabat

[43:31] Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dan juga

[43:34] tabiin dan juga para pengarang tafsir

[43:37] setelah mereka.

[43:42] Tayib.

[43:46] Kita lanjutkan

[43:48] ee TB di halaqah ketujuh tentang

[43:53] penafsiran dengan

[43:55] para sahabat dengan perkataan para

[43:59] sahabat atau penafsiran para sahabat itu

[44:02] sendiri.

[44:05] Halaqah pertama kita membahas tentang

[44:08] definisi sahabat. Kemudian urgensi atau

[44:13] kenapa penafsiran para sahabat itu

[44:15] penting untuk memahami Al-Qur'an.

[44:18] Kemudian juga dari mana para sahabat

[44:21] mengambil ilmu tafsir mereka.

[44:25] Definisinya

[44:27] yaitu

[44:29] siapapun yang bertemu dengan Rasul

[44:31] sallallahu alaihi wasallam

[44:34] dalam keadaan mukmin dan meninggal dalam

[44:38] keadaan mukmin juga.

[44:43] urgensi. Kenapa para sahabat ini

[44:48] ee penafsirannya itu sangat penting

[44:54] ya, karena mereka menyaksikan turunnya

[44:57] Al-Qur'an secara langsung. Bagaimana

[44:59] kondisi Rasul sallallahu alaihi wasallam

[45:02] saat itu, bagaimana kondisi masyarakat

[45:05] saat itu,

[45:08] sehingga mereka memahami

[45:11] keadaannya.

[45:12] Kemudian mereka tahu juga

[45:16] tentang bahasa. Saat itu mereka memahami

[45:19] bahasa Arab yang fusha, yang fasih.

[45:24] Kemudian mereka tahu keadaan orang-orang

[45:26] yang di sekitar Rasul sallallahu alaihi

[45:29] wasallam atau secara umum semua

[45:33] masyarakat saat itu, baik yang musyrik

[45:35] atau munafik atau Yahudi dan Nasrani dan

[45:38] seterusnya dan keadaan kaum muslimin

[45:41] mereka mengetahuinya.

[45:43] Kemudian pemahaman mereka yang sempurna.

[45:47] Artinya mereka bukanlah orang yang ingin

[45:51] menyelisihi kebenaran. mereka berusaha

[45:55] untuk

[45:57] ee mengikuti kebenaran dan itu telah di

[46:01] tazkiah ya telah disebutkan oleh Allah

[46:04] Subhanahu wa taala

[46:07] dalam

[46:08] firman Allah Subhanahu wa taala

[46:09] wasabiqual aaluna minal muhajirin

[46:15] Allah Subhanahu wa taala telah memuji

[46:18] keadaan mereka dan menyuruh kita untuk

[46:21] mengikuti mereka.

[46:25] Tayib. Kemudian pembahasan kedua yaitu

[46:28] tentang sumber penafsiran mereka. Mereka

[46:31] mengambil penafsirannya dari Al-Qur'an.

[46:36] Jadi kalau dilihat dari sini

[46:39] ini juga termasuk pembahasan Al-Qur'an

[46:42] tafsirul Quran bil Qur'an.

[46:45] Jadi contoh ini cocok cocok untuk

[46:48] pembahasan ini dan juga cocok untuk

[46:49] pembahasan penafsiran Al-Qur'an bil

[46:52] Quran yang telah kita lalui.

[46:56] Nah, karena yang menasir yang

[46:59] menafsirkannya, yang mengaitkannya

[47:00] adalah sahabat.

[47:04] Kemudian dengan sunah bisunah juga

[47:09] ee apa Al-Qur'an bisunah.

[47:13] Kemudian dengan asbabun nuzul

[47:17] seperti yang disebutkan di sini tentang

[47:21] asal mula turunnya atau asbabun nuzul

[47:24] turunnya ayat infa wal marwat wal

[47:26] marwata min syairillah.

[47:30] Kemudian tentang ee bahasa Arab yang

[47:34] mereka ketahui maknanya. Walaupun tentu

[47:37] saja mereka tidak satu

[47:40] level ya semuanya.

[47:42] dalam bahasanya ya seperti umumnya

[47:46] manusia

[47:48] mereka juga bertingkat-tingkat

[47:52] dalam pemahaman bahasanya. Ada yang ahli

[47:54] bahasa, ada yang

[47:57] ya tidak demikian. Tapi yang jelas

[48:00] mereka bertutur

[48:03] bertutur kata dengan bahasa yang fasih,

[48:05] bahasa Al-Qur'an.

[48:08] Kemudian

[48:10] Ahlul Kitab. Ahlul kitab. Mereka juga

[48:12] mengambil

[48:14] beberapa riwayat dari Ahlul Kitab.

[48:16] Contohnya dari Abul Jalid ini yang

[48:19] menafsirkan arraud dengan

[48:22] angin. Arraud yang makna yang masyhur

[48:26] yaitu guntur petir.

[48:30] Mereka meriwayatkan pendapat lain yang

[48:33] berasal dari ahlul kitab yaitu

[48:36] ee arh yang berarti angin. Kemudian

[48:41] mereka juga berijtihad. Mereka juga

[48:43] berijtihad menyimpulkan dari hasil

[48:46] analisis mereka dari makna ayat.

[48:51] Nah,

[48:54] kemudian

[48:55] halaqah selanjutnya

[48:57] tentang hukum tafsir para sahabat. Hukum

[49:02] artinya hukum menerimanya ya. Apakah

[49:04] wajib diterima atau tidak

[49:07] dan beberapa pembagiannya. Kemudian

[49:08] karakteristik

[49:10] ya sifat sifat yang menonjol dalam

[49:15] tafsir para sahabat. Kemudian beberapa

[49:17] sahabat yang masyhur kemudian

[49:20] perbedaan tingkatan

[49:23] ee

[49:25] sahabat. Ada yang ada yang alim, ada

[49:28] yang sigharus sahabah.

[49:31] Nah, kemudian beberapa karya tulis yang

[49:33] banyak menyebutkan karya ee penafsiran

[49:35] mereka.

[49:39] Hukum tasir para sahabat yang pertama

[49:41] yang harus diterima,

[49:44] yang tidak boleh ditolak yaitu yang

[49:48] tidak ada ruang bagi pendapat untuk ikut

[49:52] serta di situ.

[49:54] Contohnya

[49:56] tentang asbabun nuzul ya. Mereka enggak

[49:59] reka-reka. Mereka akan melihat kejadian

[50:02] yang terjadi saat itu.

[50:04] Kemudian mughayyabat,

[50:07] hal-hal yang gaib. Mereka enggak mungkin

[50:10] me

[50:11] membuat-buat. Mereka pasti

[50:14] mendengarnya dari Rasul sallallahu

[50:16] alaihi wasallam.

[50:20] Kemudian

[50:22] dari israiliyat yang ini dijelaskan ya

[50:25] dengan beberapa

[50:27] perinciannya di halaqah khusus.

[50:30] Kemudian dari ijtihad,

[50:33] jika itu

[50:37] disepakati maka wajib diterima.

[50:40] Jika masyhur dan tidak ada yang

[50:43] menyelisihi, maka juga

[50:46] menurut kebanyakan ulama adalah hujah.

[50:49] Nah,

[50:52] TB.

[50:59] Kemudian

[51:01] jika itu dari ee jika itu berupa

[51:05] analisis para sahabat dan ada beberapa

[51:08] pendapat

[51:10] artinya mereka tidak sepakat maka

[51:12] dilihat mana yang

[51:15] rajih di antara pendapat-pendapat

[51:16] tersebut.

[51:19] Jadi kita baca ringkas saja karena waktu

[51:22] sudah hampir habis.

[51:28] Kemudian karakteristik atau ciri khas ya

[51:32] dari tafsir para sahabat

[51:36] tadi dalam bagian urgensi telah kita

[51:39] sebutkan beberapa. Kemudian yang lain

[51:41] yaitu mereka

[51:44] penafsirannya tidak mencakup seluruh

[51:46] Al-Qur'an dari awal sampai akhir ya.

[51:49] yang mereka sudah tahu itu

[51:52] sudah jelas maknanya, mereka tidak

[51:54] menjelaskannya lagi.

[51:58] Kemudian yang banyak diriwayatkan yaitu

[52:01] lafaz yang samar maknanya

[52:04] yang tidak banyak diketahui oleh orang

[52:06] awam.

[52:07] Kemudian mereka juga tidak banyak

[52:09] menulis tafsir. Sama seperti ilmu-ilmu

[52:11] lain di zaman itu belum banyak karya

[52:14] tulisnya dan mereka juga tidak banyak

[52:18] berselisih ya jika dibandingkan dengan

[52:21] generasi setelah mereka.

[52:24] beberapa sahabat yang masyhur dalam

[52:26] bidang ilmu tafsir yang banyak

[52:28] riwayatnya ini disebutkan dalam beberapa

[52:31] disertasi ilmiah ya yang meneliti

[52:34] menghitung riwayat-riwayat yang mereka

[52:38] riwayatkan tentang tafsir dan mereka

[52:40] mengurutkan

[52:42] 10 sahabat.

[52:48] Kemudian kenapa ada perbedaan tingkatan

[52:52] sahabat dalam penafsiran? Karena

[52:54] perbedaan keilmuannya dan perbedaan

[52:58] ee waktu menemani Rasul sallallahu

[53:00] alaihi wasallam. Ada yang lama, ada yang

[53:03] sebentar. Dan itu tentu berpengaruh pada

[53:06] keilmuan

[53:08] mereka juga.

[53:10] Dan perbedaan ee banyaknya murid,

[53:13] banyaknya yang meriwayatkan dari mereka.

[53:16] Kemudian di sini ada beberapa tafsir

[53:19] yang banyak menukil riwayat para sahabat

[53:24] dan juga beberapa karya tulis ilmiah

[53:28] yang membahas tentang hal tersebut.

[53:31] Pembahasan terakhir kita ya

[53:34] tentang

[53:37] pembahasan tafsir tabiin dan juga atbaut

[53:40] tabiin.

[53:44] Nah,

[53:47] pengertian dari tabiin

[53:51] adalah

[53:53] yang bertemu dengan para sahabat

[53:55] kemudian meninggal dalam kondisi

[53:57] beriman. Adapun atba tabiin ya yang

[54:01] bertemu dengan tabiin dan meninggal

[54:03] dalam kondisi beriman dan mereka

[54:06] memiliki fadilah khusus karena

[54:08] disebutkan dalam hadis

[54:11] Rasul sallallahu alaihi wasallam tentang

[54:13] generasi terbaik.

[54:16] Nah, dan di sini ada

[54:19] penjelasan kapan generasi tabiin

[54:21] terputus, yaitu saat

[54:24] meninggalnya Khalaf bin Khalifah tahun

[54:27] 180 di akhir abad ke-2 Hijriah.

[54:31] Kemudian adapun generasi sahabat

[54:34] terputus dengan

[54:37] meninggalnya

[54:40] ee Amir bin Wailah bin Wailah tahun 110

[54:46] Hijriah di awal abad kedua.

[54:51] Nah,

[54:55] penafsiran tabiin dan adbaut tabiin ini

[54:58] karakteristiknya ya kebanyakan adbaut

[55:01] tabiin itu menukil dari tabiin. Jadi

[55:04] enggak sebanyak

[55:06] para tabiin itu sendiri. Tabiin lebih

[55:09] banyak menafsirkan daripada atabau

[55:11] tabiin. Sedangkan atabau tabiin lebih

[55:13] banyak menukil.

[55:16] Nah, di zamanut tabiin

[55:20] telah tersusun sebuah kitab yang

[55:24] ya mencakup seluruh Al-Qur'an dari akal

[55:27] sampai akhir. Salah satunya Muqatil Ibnu

[55:29] Sulaiman yang telah kita sebutkan tadi

[55:33] awal ya, bahwasanya beliau masyhur

[55:35] dengan ee metode penafsiran Al-Qur'an

[55:39] dengan Al-Qur'an.

[55:42] Kemudian

[55:44] urgensi. Kenapa ini penting? Kenapa

[55:47] penafsiranut

[55:49] tabiin dan juga tabiin itu penting?

[55:51] Itu yang disebutkan oleh para ulama

[55:54] dalam kitab-kitab ushul tafsir.

[55:58] Karena mereka mengedepankan tafsir bil

[56:00] maksur. Tafsirul maksur

[56:02] lebih dekat dengan penafsiran Rasul

[56:05] sallallahu alaihi wasallam. Dan mereka

[56:07] menukil dari para sahabat secara

[56:09] langsung.

[56:11] Nah,

[56:13] kemudian mereka juga hidup di

[56:16] masa di mana ihtijajul lghawi,

[56:20] di mana bahasa Arab itu masih dijadikan

[56:22] hujah.

[56:26] Karena setelah masa mereka bahasa Arab

[56:29] banyaknya tercampur dengan dengan ujmah

[56:32] dengan bahasa ajang sehingga tidak bisa

[56:36] dijadikan hujah dalam

[56:40] ee bahasa Arab.

[56:45] Kemudian mereka juga jauh dari hawa

[56:47] nafsu sama dengan sahabat tadi.

[56:51] Dan mereka memiliki kedudukan yang

[56:55] tinggi, yang istimewa.

[56:58] Karena disebutkan dalam hadis tadi ya,

[57:00] sebaik-baik generasi.

[57:04] Sumber penafsiran mereka ada dari

[57:06] Al-Qur'an,

[57:08] kemudian dari Asunah, kemudian dari

[57:11] sababun nuzul. Tentu saja mereka

[57:14] menukilnya dari sahabat, tidak melihat

[57:15] langsung.

[57:17] Kemudian tafsir generasi sebelumnya bagi

[57:20] atbaut tabiin, mereka

[57:23] menukil dari tabiin.

[57:26] Dan yang kelima adalah bahasa Arab.

[57:30] Yang keenam

[57:32] dari israiliyat sama dengan sahabat

[57:34] tadi. Yang ketujuh adalah dari ijtihad.

[57:38] ijtihad hasil ee analisis pendapat

[57:42] mereka.

[57:45] Namun tentu saja mereka tidak mengikuti

[57:48] hawa nafsu dalam berpendapat.

[57:51] Namun

[57:53] memperhatikan ee kaidah-kaidah yang

[57:55] benar dalam berijtihad.

[57:59] Kemudian dipak terakhir ini sudah habis

[58:02] waktunya kita baca dengan singkat uji ya

[58:05] keabsahan kemudian karakteristik dan

[58:08] juga beberapa tabiin yang terkenal

[58:11] dengan riwayat-riwayat tafsirnya banyak

[58:14] diriwayatkan dari mereka.

[58:19] Maka

[58:22] ada dua pembagian utama. Yang pertama

[58:25] tafsir manqul yang mereka hanya menukil

[58:27] saja. Kemudian tafsir ijtihad yang

[58:30] mereka me

[58:34] memakakan pendapat mereka, hasil

[58:37] analisis mereka.

[58:40] Tiib

[58:43] tafsir mangqul

[58:47] ya. Jika berupa tafsir Al-Qur'an bil

[58:49] Quran yang sori maka jelas wajib

[58:51] diterima telah kita bahas tadi ya.

[58:53] Kemudian jika tidak soreh maka sama

[58:56] dengan as

[58:58] humnya yang ijtihad.

[59:00] Begitu juga dengan hadis.

[59:03] Adapun asbabun nuzul, asbabun nuzul

[59:06] tentu saja hujah karena mereka

[59:08] mengambilnya dari para sahabat.

[59:13] Namun jika sanadnya lemah atau terputus

[59:16] maka bukan hujah.

[59:18] Israiliyat

[59:20] akan ada pembahasan khusus di alaqon.

[59:23] karena ada pertiannya. Kemudian

[59:28] jika mereka sepakat maka

[59:33] tentu saja itu adalah hujah yang wajib

[59:36] diterima.

[59:38] Karena

[59:40] karena ijmak itu sendiri, kesepakatan

[59:42] itu sendiri adalah hujah.

[59:46] Namun jika tidak disepakati maka

[59:49] ditargih, maka diambil mana yang paling

[59:54] kuat.

[59:55] Nah,

[01:00:00] tayib.

[01:00:02] Kemudian beberapa karakteristik atau

[01:00:05] sifat-sifat istimewa dari para tafsir

[01:00:08] tabiin.

[01:00:10] Mereka sangat perhatian dengan ee tafsir

[01:00:13] para sahabat. karena mereka adalah murid

[01:00:15] mereka secara langsung. Kemudian mulai

[01:00:18] ditulisnya ilmu tafsir

[01:00:21] ya karena mereka hidup di abad ke-2

[01:00:23] Hijriah yang memang saat itu mulai

[01:00:26] banyak ilmu-ilmu syari yang ditulis.

[01:00:29] Kemudian

[01:00:31] ikhtilaf tafsir atau perbedaan pendapat

[01:00:34] mereka lebih banyak daripada generasi

[01:00:36] sahabat.

[01:00:37] Kemudian banyak riwayat israiliyat

[01:00:40] karena ya mereka di zaman futuhat juga

[01:00:43] ya di zaman

[01:00:47] pembebasan

[01:00:49] dan banyak

[01:00:51] di zaman itu

[01:00:53] ee negeri-negeri Nasra dan Yahudi yang

[01:00:57] dibebaskan.

[01:00:59] Kemudian mereka

[01:01:02] mendengarkan maklumat dari mereka.

[01:01:08] Kemudian ini jumlah mufasir ya dari

[01:01:12] kalangan riwayat ee tabiin.

[01:01:19] Adapun atbaut tabiin mereka lebih

[01:01:22] sedikit ijtihad daripada tabiin. Mereka

[01:01:24] banyak menukil saja.

[01:01:28] Kemudian tadi ada kitab tafsir lengkap

[01:01:30] dari awal sampai akhir karya Muqatil

[01:01:32] Ibnu Sulaiman

[01:01:35] dan juga karya-karya lain yang berkaitan

[01:01:39] dengan ulumul Quran dan ee ulum tafsir.

[01:01:45] Nah,

[01:01:47] jumlah mufasir di kalangan para atâut

[01:01:49] tabiin lebih sedikit

[01:01:51] dari kalangan para tabiin.

[01:01:54] beberapa karya tulis atau ulama yang

[01:01:57] masyur di kalangan para tabiin bersamaan

[01:02:00] dengan sanad gurunya ya.

[01:02:03] Ikrimah

[01:02:05] dari Ibnu Abbas, Masuk dari Ibnu Mas'ud,

[01:02:09] Abul Aliah dari Ubay bin Ka'ab dan Alhan

[01:02:13] Albashri dari Anas bin Malik. Nah, jadi

[01:02:16] dan ini banyak di di sebut dengan

[01:02:20] madaris tafsir. Madaris tafsir ya.

[01:02:24] perguruan tafsir. Ada yang di Basrah,

[01:02:26] ada yang di Madinah, ada yang di Makkah

[01:02:29] dengan beberapa ee

[01:02:33] dengan beberapa ulama yang tersehor di

[01:02:38] perguruan tersebut.

[01:02:41] Ini beberapa nama yang masyhur di

[01:02:42] kalangan arba tabiin

[01:02:46] dan

[01:02:48] beberapa karya yang ber perhatian dengan

[01:02:53] penafsiran mereka banyak menyebutkan

[01:02:55] penafsiran mereka

[01:02:59] tayib.

[01:03:01] Wallahuam bawab. Mungkin ini yang bisa

[01:03:05] kita baca ringkas dari

[01:03:09] alfas 1 sampai 10. Dan

[01:03:13] akan lebih jelas lagi tentu saja seperti

[01:03:16] yang telah kita sebutkan tadi jika kita

[01:03:19] banyak membaca kitab-kitab tafsir itu

[01:03:22] sendiri

[01:03:23] dengan penjelasan para ulama.

[01:03:27] Banyak juga halaqah-halaqah

[01:03:29] yang di bisa diambil faedah di YouTube

[01:03:32] atau di dalam media lainnya tentang

[01:03:36] tafsir atau usul tafsir seperti Syekh

[01:03:39] Saidid Ataya

[01:03:42] dan Syekh Abdurrahman Asyahiri dan

[01:03:44] beberapa para masyaikh lainnya yang

[01:03:46] banyak membahas tentang tafsir dan usul

[01:03:50] tafsir.

[01:03:53] Wallahuam.

[01:03:56] Ee kurang lebihnya mohon maaf kami

[01:03:58] kembalikan ke

[01:04:03] nam ustaz jazakallahu khairan atas

[01:04:05] penjelasannya. Baik ee ikhwah sekalian

[01:04:08] kita masuk pada sesi tanya jawab. Bagi

[01:04:11] ikhwan yang ingin bertanya dipersilakan

[01:04:13] untuk mengangkat tangan atau menggunakan

[01:04:15] fitur rin terlebih dahulu. Adapun bagi

[01:04:18] akhwat yang ingin bertanya dapat

[01:04:20] menuliskan pertanyaannya melalui kolom

[01:04:23] komentar yang akan kami bacakan. Tafadol

[01:04:26] kami persilakan.

[01:04:30] Baik. Ee pertanyaan yang pertama Ustaz

[01:04:32] dari Jaka Sinung ARN 24119

[01:04:40] Jaka Sinung

[01:04:43] kami persilakan.

[01:04:51] Alhamdulillah.

[01:04:54] Ee

[01:04:57] terima kasih atas waktunya.

[01:04:58] Asalamualaikum, Ustaz.

[01:05:01] Waalaikumsalam warahmatullah.

[01:05:03] Ya, dalam penjelasan ee dalam mata

[01:05:06] kuliah di HIS Akademi ini kami sudah

[01:05:09] mendapat tentang tafsir waktu itu.

[01:05:11] Tafsir ayat-ayat pendek waktu itu. Itu.

[01:05:14] Nah, dalam suatu penjelasan ee dikatakan

[01:05:17] oleh beliau, Ustaz bahwa [berdehem]

[01:05:21] dalam menjelaskan yang tadi kaitannya

[01:05:22] dengan

[01:05:24] menafsirkan ayat dengan sunah tadi, maka

[01:05:27] ada ada beberapa ada hal yang dilakukan

[01:05:29] oleh para mufassir menafsirkan ayat-ayat

[01:05:32] Al-Qur'an dengan hadis-hadis yang lemah

[01:05:34] itu. Nah, bagaimana itu ee kaidahnya

[01:05:37] atau aturannya atau penjelasan lebih

[01:05:40] lanjut? Ustaz syukran.

[01:05:48] ya

[01:05:52] penafsiran yang kita bahas dalam

[01:05:56] usul tafsir di sini tentu saja yang kita

[01:06:00] maksud adalah dengan hadis yang sahih.

[01:06:03] Makanya tadi kita enggak bahas ee

[01:06:06] tentang

[01:06:08] kita enggak enggak nyinggung banyak

[01:06:10] tentang sanad hadis.

[01:06:13] Karena yang kita maksudkan adalah hadis

[01:06:16] yang sabit yang

[01:06:19] bisa dijadikan hujah. Adapun para adapun

[01:06:23] hadis-hadis yang tidak tabit yang tidak

[01:06:25] bisa dijadikan hujah, baik itu diif atau

[01:06:29] munqati atau maudu dan seterusnya tentu

[01:06:33] saja tidak bisa dijadikan

[01:06:36] acuan dalam menafsirkan.

[01:06:40] Ada beberapa ulama yang memberi

[01:06:42] keringanan atau memberi

[01:06:45] ee kelonggaran ya kan dalam hal yang

[01:06:49] bukan bukan amaliah yang bukan berkaitan

[01:06:52] dengan ibadah seorang muslim. Misalnya

[01:06:55] dalam hal kisah-kisah

[01:06:58] kisah-kisah Ashabul Kahfi misalnya kisah

[01:07:02] kisah Bani Israil walaupun sanadnya

[01:07:04] lemah. ada juga di

[01:07:08] dan ini juga ada yang dari israiliyah

[01:07:10] juga intinya hadis-hadis yang sangat

[01:07:13] nyalam. Namun ya

[01:07:17] perlu diperhatikan jika yang ee ayat itu

[01:07:22] berkaitan dengan amaliah dengan dengan

[01:07:27] ibadah seorang muslim atau akidahnya,

[01:07:29] kita tidak bisa meyakini itu adalah

[01:07:34] yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wa

[01:07:35] taala. Karena tafsir itu adalah kita

[01:07:40] menjelaskan atau menyebutkan apa yang

[01:07:43] dimaksud oleh Allah Subhanahu wa taala

[01:07:45] dalam ayat tersebut. Kita bisa

[01:07:48] menjadikannya sebagai

[01:07:50] ee istinnas istilahnya.

[01:07:54] Istinnas itu

[01:07:56] wawasan yang sebagai wawasan luas

[01:08:00] tentang ayat tersebut. Tapi kita tidak

[01:08:01] bisa memastikan itu adalah tafsirnya.

[01:08:04] Jika hadis itu adalah lemah ya atau

[01:08:10] bahkan terputus mungqati atau maudu

[01:08:14] bahkan palsu.

[01:08:17] Jika palsu maka jelas kita menolaknya.

[01:08:22] Wallahuam

[01:08:28] naam. Eh, selanjutnya bagi ikhwah yang

[01:08:31] lain tafadol silakan untuk dapat res.

[01:08:52] Belum ada ini. [tertawa]

[01:08:55] Nam.

[01:08:57] Oh, naam. Ada dari ALN 242,

[01:09:02] Irfan Abdul Aziz. Kami persilakan.

[01:09:14] Bismillah. Asalamualaikum, Ustaz.

[01:09:25] Waalaikumsalam warahmatullahi

[01:09:26] wabarakatuh.

[01:09:27] Baik, Pak. Ustaz, atas hukumnya ee yang

[01:09:31] ingin ana tanyakan, bagaimana hukum

[01:09:33] seseorang itu ketika dia menjelaskan

[01:09:36] tafsir Al-Qur'an itu dengan ee

[01:09:38] logikanya, maksudnya menyesuaikan dengan

[01:09:41] artinya, Ustaz, tapi dia enggak paham

[01:09:42] bahasa Arab,

[01:09:45] tapi dia menjelaskan itu tidak jauh dar

[01:09:47] dari konteks artinya itu. Nah, nah,

[01:09:50] kalau seperti ini bagaimana, Ustaz,

[01:09:51] hukumnya, Ustaz? Syukran Ustaz

[01:09:53] jazakullah khairan.

[01:10:08] hilang.

[01:10:22] Baik. Ee coba ee diulangi lagi, Pak

[01:10:25] mungkin pertanyaannya.

[01:10:33] Tes

[01:10:37] ti

[01:10:51] jelas pertanyaannya ya.

[01:11:00] Ee mikrofonnya belum nyala, Ustaz.

[01:11:07] Ee baik, mohon maaf tadi terputus karena

[01:11:09] ada yang nelpon seluler, ya.

[01:11:13] Ya.

[01:11:15] Ee

[01:11:17] yang menafsirkan dengan logikanya dan

[01:11:20] tidak sesuai dengan

[01:11:22] konteks ayat gitu, Pak. Gitu, Pak Irfan.

[01:11:24] Ya, saya ingat saya sesuai dengan

[01:11:27] konteks ayat itu yang dijelaskan. Cuman

[01:11:29] dia enggak ee enggak tafsir Ibnu Katsir,

[01:11:31] enggak jadi enggak berpedoman kepada

[01:11:33] satu kitab tafsir gitu. Jadi dia

[01:11:34] menjelaskan secara logika dengan artinya

[01:11:36] gitu, Ustaz.

[01:11:39] Tapi dia enggak paham bahasa Arab gitu,

[01:11:40] Ustaz. Pang hukum seperti itu, Ustaz.

[01:11:43] [mendengus]

[01:11:47] Ya, perlu ditinjau ulang tentunya kalau

[01:11:51] dia hanya menggunakan pendapatnya.

[01:11:55] dan sangat rawan untuk jatuh dalam

[01:11:57] kesalahan jika hanya mengandalkan ee

[01:12:01] pendapatnya. Apalagi enggak bisa bahasa

[01:12:03] Arab, sedangkan Al-Qur'an turun dengan

[01:12:05] bahasa Arab.

[01:12:08] Bab ee

[01:12:11] perlu ditinjau ulang jangan langsung

[01:12:13] diterima untuk harus dicek ulang.

[01:12:23] Namam. Ee bagi ikhwah yang lain

[01:12:28] ada yang ingin ditanyakan? Tafadul kami

[01:12:30] persilakan.

[01:12:36] Heeh. Ini ada pertanyaan dari kolom

[01:12:39] komentar, Ustaz.

[01:12:41] dari saya.

[01:12:42] Mohon maaf e sebelumnya saya izin tutup

[01:12:47] tutup kamera gak gak masalah ya karena

[01:12:49] mau sambil jalan sebentar.

[01:12:52] N Ustaz tafadol Ustaz

[01:12:54] I ya silakan silakan dilanjut

[01:12:57] nam dari ARN 2123313

[01:13:01] dari Mujahidin. Bismillah barakallahu

[01:13:04] fikum ustaz izin bertanya. perihal

[01:13:07] tafsir ulama Indonesia seperti Buya

[01:13:09] Hamka dengan tafsir A-Azhar dan tafsir

[01:13:13] AHzan tokoh persis. Apakah boleh

[01:13:15] digunakan, Ustaz?

[01:13:21] Baik.

[01:13:22] Wallahuam. Mereka semua adalah para

[01:13:25] ulama kita ya.

[01:13:28] Dan ana sendiri

[01:13:31] belum sempat menelaah tafsir-tafsir

[01:13:33] mereka. Jadi

[01:13:36] mungkin bisa ditanyakan ke para ustaz

[01:13:38] yang memang

[01:13:42] karena ee hukum menghukumi sesuatu itu

[01:13:47] farun anawuri ya harus dilihat dari ee

[01:13:53] harus tahu dulu gitu ya apa yang dia

[01:13:55] hukum.

[01:13:56] Wallahuam

[01:14:01] n ustaz jazakallah khairan. Ee

[01:14:05] mungkin ada

[01:14:08] yang ditanyakan lagi ikhwan atau

[01:14:12] dari akhwat mungkin.

[01:14:18] Afan Ustaz izin ini kira-kira dapat

[01:14:20] menjawab menjawab berapa pertanyaan lagi

[01:14:23] ya Ustaz?

[01:14:25] Ee

[01:14:27] mungkin satu lagi mungkin ya saya mohon

[01:14:29] maaf karena ini kebetulan di telepon ada

[01:14:34] kegiatan yang

[01:14:36] agak mendak ustaz

[01:14:39] tafadul ikhwah kita ee adakan satu

[01:14:43] pertanyaan lagi bagi yang ingin bertanya

[01:14:45] dari ikhwan maupun akhwat

[01:14:53] atau tidak ada?

[01:14:58] sepertinya sudah tidak ada lagi.

[01:15:04] Baik ee Ustaz

[01:15:07] izin ee

[01:15:09] kita cukupkan dulu, Ustaz, mungkin pada

[01:15:12] sesi kali ini. Alhamdulillah ee demikian

[01:15:15] untuk sesi tanya jawab pada Liqo Maftuh

[01:15:18] kali ini. Sebelum halaqah kita akhiri,

[01:15:21] kiranya ustaz ee dapat berkenan

[01:15:23] memberikan nasihat sebagai penutup bekal

[01:15:26] untuk kami di dalam menuntut ilmu dan

[01:15:28] mengamalkan apa yang telah kami pelajari

[01:15:31] pada majelis kali ini. Tafadul ustaziran

[01:15:37] atas kesempatannya untuk berbagi dengan

[01:15:43] para maha santri sekalian. Sungguh

[01:15:46] kesempatan yang sangat berharga bagi

[01:15:48] kami

[01:15:50] bisa ee ikut bergabung di HSI Akademi

[01:15:54] ini. dan

[01:15:56] secara pribadi ber terima kasih kepada

[01:16:02] ee para pengurus Akademi dan para tim

[01:16:05] ilmiah dan tim ee lainnya dan para

[01:16:11] peserta semua yang dengan semangat

[01:16:14] mengikuti

[01:16:16] ee HSI, program HSI akademi ini dan

[01:16:20] memang butuh sabar ya untuk memahami ini

[01:16:24] usul tafsir ini yang terkadang

[01:16:27] mirip-mirip pembagian-pembagiannya,

[01:16:30] terkadang

[01:16:31] ee agak

[01:16:35] agak susah dicerna

[01:16:37] maknanya. Maka itu semua adalah yang

[01:16:41] pertama dari kekurangan kami sebagai

[01:16:44] pemateri dan

[01:17:38] Hah?

[01:17:43] itu

[01:18:17] Asalamik

[01:18:33] ee mungkin karena jaringan Ustaz

[01:18:35] Qadarullah sedang buruk ya. Nam ee kita

[01:18:39] cukupkan.

[01:18:43] Baik. Alhamdulillahiabbil alamin. Segala

[01:18:45] puji bagi Allah subhanahu wa taala atas

[01:18:46] nikmat, ilmu dan kesempatan yang telah

[01:18:48] Allah berikan kepada kita pada halaqah

[01:18:51] malam hari ini. Kami mengucapkan

[01:18:54] jazakumullah khairan wabarakallahu fikum

[01:18:56] kepada Ustaz Umar Rais BA, MA

[01:18:59] hafidahullahu taala atas ilmu, nasihat,

[01:19:01] dan faedah yang telah disampaikan.

[01:19:04] Semoga Allah subhanahu wa taala menjaga

[01:19:06] beliau, memberkahi ilmu dan amal beliau,

[01:19:08] serta menjadikan apa yang telah beliau

[01:19:10] sampaikan sebagai pemberat timbangan di

[01:19:12] sisi Allah subhanahu wa taala. Kami juga

[01:19:15] mengucapkan terima kasih kepada seluruh

[01:19:17] peserta Liq Maftuh yang telah hadir

[01:19:19] dalam mengikuti halqoh kali ini dengan

[01:19:21] penuh perhatian dan juga adab. Semoga

[01:19:23] Allah subhanahu wa taala menjadikan

[01:19:25] langkah kita di dalam menuntut ilmu ini

[01:19:27] sebagai jalan menuju rida Allah

[01:19:29] subhanahu wa taala. Kami selaku panitia

[01:19:32] memohon maaf apabila dalam pelaksanaan

[01:19:35] kali ini terdapat banyak kekurangan baik

[01:19:38] di dalam penyampaian teknis pelaksanaan

[01:19:40] maupun hal-hal yang lainnya yang kurang

[01:19:42] berkenan. Semoga Allah subhanahu wa

[01:19:44] taala berkenan memaafkan kekurangan kita

[01:19:46] dan memberikan setiap upaya kecil ini di

[01:19:49] dalam menghidupkan majelis ilmu ini.

[01:19:51] Baik, ee kita cukupkan akhirul kalam.

[01:19:54] Subhanakallahumma wabihamdika ashadu

[01:19:56] alla ilaha illa anta astagfiruka wa

[01:19:58] atubu ilaih. Wasalamualaikum.

[01:20:00] warahmatullahi wabarakatuh.
