# JANGAN BERDANDAN! - KHW PART 122

https://www.youtube.com/watch?v=XUvoBrwQzqQ
Translation: en

[00:00] Mereka semua ini menggiring Winda menuju ke bangunan megah yang tampak seperti istana atau dan ketika pintu gerbang istana itu dibuka Winda langsung sadar bahwa apa yang sedang dilihatnya itu bukanlah dunianya.
  All of them were leading Winda towards a magnificent building that looked like a palace, and when the palace gate was opened, Winda immediately realized that what she was seeing was not her world.

[00:13] Hai assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
  Hi, peace be upon you and God's mercy and blessings.

[00:14] Terima kasih sudah klik video ini.
  Thank you for clicking on this video.

[00:17] Oke jadi di malam Jumat ini seperti biasa aku akan menceritakan lagi satu kisah horor Wawa yang udah masuk ke part 122 dan di malam ini aku akan menceritakan kisah tentang seseorang yang mengalami gangguan horor pada saat mengikuti acara perkemahan.
  Okay, so on this Friday night, as usual, I will tell another horror story of Wawa that has entered part 122, and tonight I will tell the story of someone who experienced a horror disturbance while attending a camping event.

[00:30] Nah wawa aku yang sebenarnya enggak peka dengan hal-hal mistis itu tiba-tiba terbuka aja gitu mata batinnya sampai-sampai dia berkali-kali hampir dibawa ke sebuah Kerajaan gaib.
  Well, Wawa, who was actually not sensitive to mystical things, suddenly had her inner eye opened, so much so that she was repeatedly almost taken to a supernatural kingdom.

[00:40] Wah dan seramnya lagi ternyata gangguan itu enggak berhenti di situ aja ada plot twist besar di akhir cerita yang berkaitan dengan lokasi perkemahan yang didatanginya.
  Wow, and what's even scarier, it turns out the disturbance didn't stop there; there was a big plot twist at the end of the story related to the camping location she visited.

[00:48] Enggak penasaran gue sama kisah selengkapnya ikan tapi tunggu dulu sebelum kita membahas kisah ini lebih lanjut aku punya informasi penting yang mau aku sampaikan ke kalian semua seperti yang kalian tahu KH yang masuk.
  Aren't you curious about the full story? But wait, before we discuss this story further, I have important information I want to convey to all of you, as you know, KH that entered.

[01:00] Ke email aku, kan, udah banyak kali ini.
  To my email, right, there have been many this time.

[01:02] Alhamdulillah 25.000 email dan pas ku cek dengan teliti lagi, kalian yang ngirim email ini ternyata tersebar nih dari seluruh Indonesia.
  Alhamdulillah, 25,000 emails, and when I checked carefully again, you who sent these emails turned out to be spread out from all over Indonesia.

[01:10] Dari situlah akhirnya tercetuslah ide kami untuk bisa membuat KHW spesial Nusantara atau Glenn.
  From there, finally our idea was sparked to be able to make a special Nusantara KHW or Glenn.

[01:15] Jadi nanti akan ada KW dari masing-masing provinsi dari ujung Banda Aceh sampai ujung Papua.
  So later there will be a KW from each province from the tip of Banda Aceh to the tip of Papua.

[01:21] Nah, dari 38 provinsi di Indonesia, Wak, 37 provinsi di antaranya udah ada yang ngirim email ke kita, cuma satu yang belum, tuh Papua Pegunungan yang ibukotanya Jayawijaya belum.
  Well, out of 38 provinces in Indonesia, Wak, 37 of them have already sent emails to us, only one hasn't, that is Papua Pegunungan whose capital is Jayawijaya hasn't.

[01:31] Nah nanti dari situ kami pilihlah salah satu perwakilan untuk bisa masuk di ke Hawai Nusantara kita ya, OS, sisanya enggak hangus, tenang aja kalian dan Insyaallah ke Hawai Nusantara ini akan kita mulai minggu depan.
  Well later from there we will choose one representative to be able to enter our Nusantara Hawai, okay, OS, the rest won't be wasted, just relax and God willing, this Nusantara Hawai will start next week.

[01:41] Wak, ya pas 123 urut tuh nanti satu persatu dari mulai Aceh, Sumatera Utara sampai ke Papua Barat.
  Wak, yes, exactly in order 123, later one by one starting from Aceh, North Sumatra to West Papua.

[01:48] Jujur aku excited kaliwa dengan kehauin nusantara ini, betul-betul terharu gitu loh, macam ketemu banyak keluarga baru dari seluruh Indonesia.
  Honestly, I am very excited about this Nusantara event, truly touched, you know, like meeting many new families from all over Indonesia.

[01:53] Waktuku Aceh dong, Sumatera Utara, ada Batam, ada semuanya ada, Masya Allah.
  My time, Aceh of course, North Sumatra, there's Batam, there's everything, Mashallah.

[01:59] Terima kasih banyak sekali lagi atas.
  Thank you very much once again for.

[02:01] Kesediaan kalian berbagi cerita horor kalian di sini kepada kami semua, khw ada berkat kalian dan juga balik lagi ke kalian ya.
  Your willingness to share your horror stories here with all of us, there is thanks to you and also back to you, yes.

[02:09] Nah jadi kayak gitu aja informasinya, Pak ya.
  Well, that's just the information, sir, yes.

[02:11] Semoga kalian excited juga ini sama kayak kita semua untuk menyambut KW Nusantara dan sekarang baru nih.
  Hopefully you are also as excited as all of us to welcome KW Nusantara and now here's something new.

[02:16] Tanpa berlama-lama kita langsung masuk aja ke cerita yang tadi saya kira.
  Without further ado, let's just jump into the story that I thought earlier.

[02:22] [Musik]
  [Music]

[02:24] Oke Pak jadi kisah yang akan aku bawakan malam ini dikirim sama Wawa aku yang kita sebut aja namanya Winda dari Jawa Tengah.
  Okay sir, so the story that I will present tonight was sent by Wawa, whom we'll just call Winda from Central Java.

[02:32] Halo Winda, nah pengalaman horornya Winda alam ini Pak terjadi pada tahun 2015 lalu ketika dia masih kelas 2 SMA.
  Hello Winda, well, Winda's horror experience in nature, sir, occurred in 2015 when she was still in 2nd grade of high school.

[02:39] Tapi sebelum aku masuk ke ceritanya, aku mau disclaimer dulu kalau semua nama dan tempat dalam kisah ini udah aku samarkan, Wa ya.
  But before I get into the story, I want to disclaim first that all names and places in this story have been obscured by me, yes.

[02:44] Nah lanjut lagi, jadi ceritanya pada saat itu si Winda ini tergabung dalam sebuah organisasi luar sekolah yang memang rutin mengadakan perkemahan.
  Well, continuing on, so the story is that at that time, Winda was part of an extracurricular organization that regularly held camps.

[02:51] Nah perkemahan itu cukup ramai Pak karena pesertanya juga berasal dari berbagai sekolah se-kabupaten dan di acara itu jugalah Winda bertemu dengan teman-teman baru yang menjadi kawan satu regunya.
  Well, that camp was quite crowded, sir, because the participants also came from various schools across the district, and it was at that event that Winda met new friends who became her squad mates.

[03:00] Satu regu itu sekitar...
  One squad was about...

[03:02] 10 sampai 15 orang wah ini aku sebutin aja nama-nama yang masuk ke cerita ya.
  10 to 15 people, wow, I'll just mention the names that are part of the story, okay.

[03:06] Yang pertama tadi si Winda, yang kedua ada Nuna, Riris, Keisha, Bagas, dan Reza, oke.
  First was Winda, second there was Nuna, Riris, Keisha, Bagas, and Reza, okay.

[03:11] Nah terus singkat cerita berangkatlah Winda bersama teman-temannya ini ke lokasi perkemahan, tempatnya cukup jauh di sebuah pedesaan yang berbatasan dengan pantai.
  Well, then long story short, Winda and her friends departed to the campsite, which was quite far in a village bordering the beach.

[03:19] Nah di sana mereka akan berkemah selama 3 hari 2 malam, tapi uniknya di perkemahan itu mereka nggak nginep di tenda gitu tidak, melainkan mereka akan menginap di rumah warga.
  Well, there they would camp for 3 days and 2 nights, but uniquely at that camp they didn't sleep in tents, no, instead they would stay in residents' houses.

[03:28] Jadi memang selama program itu berlangsung dari sananya udah kayak gitu aturannya, biasanya satu regu akan menginap di dua rumah warga yang berbeda.
  So indeed during that program, from the start the rules were already like that; usually one team would stay in two different residents' houses.

[03:36] Nah waktu itu Winda dan teman regunya yang perempuan menginap di rumah Bu Elni namanya, sedangkan nanti yang laki-laki menginap di rumah salah satu perangkat desa yang bernama Pak Idrus.
  Well, at that time Winda and her female teammates stayed at a house belonging to a woman named Bu Elni, while the boys stayed at the house of a village official named Pak Idrus.

[03:43] Satu rumah Bu Elmi, satu rumah Pak Idrus, laki-laki eh salah perempuan laki-laki gitu ya.
  One house was Bu Elmi's, one house was Pak Idrus's, male—oh wrong, female and male, like that, right.

[03:49] Nah rumah Bu Elmi yang ditempati Winda ini enggak terlalu besar, cuman berisi dua kamar aja.
  Well, Bu Elmi's house where Winda stayed wasn't too big, it only had two rooms.

[03:53] Nah kamar pertama ditempati sama Bu Elmi sama anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun, sedangkan kamar kedua yang ada di bagian belakang dan dibiarkan kosong karena memang yang tinggal di situ cuma dua orang aja.
  Well, the first room was occupied by Bu Elmi and her daughter who was still 4 years old, while the second room at the back was left empty because only two people lived there.

[04:04] Bu Helmi sama anaknya di kamar 2 itulah.
  Mrs. Helmi and her child are in room 2, that's it.

[04:05] Winda, Nuna, Riri sama Kesya tidur kamar belakang tuh gelap kali.
  Winda, Nuna, Riri, and Kesya sleep in the back room, it's very dark.

[04:09] Nah dia enggak terawat itu loh macam enggak pernah ditempatin.
  Well, it's not maintained, like it's never been occupied.

[04:14] Tapi anehnya di sana ada satu sarung yang menggantung di tembok padahal enggak ada laki-laki yang tinggal di rumah tua nah.
  But strangely, there was a sarong hanging on the wall even though there were no men living in the old house.

[04:18] Meski merasa janggal nih, Winda enggak ambil pusing karena ya kan.
  Even though she felt it was odd, Winda didn't bother about it, because, you know.

[04:22] Berdasarkan informasi yang dia terima, katanya Bu Elmi ini sempat tinggal lama di luar pulau dan baru menempati rumah itu lagi beberapa saat sebelum mereka kemah di sana ya.
  Based on the information she received, it was said that Mrs. Elmi had lived outside the island for a long time and only moved back into that house a short while before they camped there.

[04:30] Jadi wajar aja kalau memang rumahnya nggak terawat dengan baik lagi, itu kan memang udah nggak lama, eh udah lama nggak ditempatin sama Bu Elmi, ya kan?
  So it's only natural if the house is no longer well-maintained, it hasn't been, um, it's been a long time since it was occupied by Mrs. Elmi, right?

[04:36] Dan soal sarungnya, siapa tahu Bu Elmi juga suka sarungan, nggak cuma laki-laki aja, kayak gitu pikiran Winda pertamanya.
  And about the sarong, who knows, maybe Mrs. Elmi also likes wearing a sarong, not just men, that was Winda's initial thought.

[04:41] Winda sama teman-temannya pun mengikuti perkemahan dengan sangat gembira sampai akhirnya menjelang sore, masih di hari yang sama nih.
  Winda and her friends followed the camp very happily until finally towards the evening, still on the same day.

[04:48] Ya, banyaklah peserta kemah yang datang ke masjid untuk beribadah dan juga numpang mandi.
  Yes, many camp participants came to the mosque to pray and also to take a shower.

[04:54] Nah, karena di rumahnya Bu Elmi ini enggak ada kamar mandi, wa, Winda sama kawan-kawannya pun jadi ikutan ngantri juga lah mandi di masjid.
  Well, because Mrs. Elmi's house didn't have a bathroom, Winda and her friends also ended up queuing to shower at the mosque.

[04:59] Tapi untungnya waktu itu Winda ketemu nih sama salah satu warga yang bernama Bapak Gio.
  But luckily, at that time Winda met one of the residents named Mr. Gio.

[05:03] Nah, Bapak Gio ini, Bapak menawarkan mereka.
  Well, this Mr. Gio, he offered them.

[05:04] untuk Ya udah kalian mandi aja di rumah
  For, yeah, just take a bath at home.

[05:06] saya katanya ada tuh singkat cerita
  I said there was a short story.

[05:08] mereka menyetujui dan setelah mandi
  They agreed, and after bathing,

[05:10] mereka sempat tuh ngobrol-ngobrol sama Pak Gio dan juga istri Pak Gio ya kan
  they had a chat with Mr. Gio and also Mrs. Gio, right?

[05:14] Di moment itu dengan wajah khawatir Pak Gio nanya gimana kalian di rumahnya Bu Elmi nyaman kalau enggak betah boleh loh kalian tinggal di sini aja kata Pak Gio
  At that moment, with a worried face, Mr. Gio asked, 'How are you at Mrs. Elmi's house? Comfortable? If you're not comfortable, you can stay here,' said Mr. Gio.

[05:22] Nah dengan ada bercanda Winda pun menjawab alhamdulillah aman-aman aja kok pak tapi paling nanti kami bakal sering ke sini nih buat numpang mandi
  Well, jokingly, Winda replied, 'Alhamdulillah, it's safe, sir, but we'll probably come here often to take a bath.'

[05:30] Kata siapa Kan kata Winda
  'Who said?' said Winda.

[05:32] Iya udah nggak papa ke sini aja tapi Bapak pesan ya selama kalian kemah di sini kalian harus hati-hati ya Nak
  'Yes, it's okay, just come here, but Father advises you, as long as you camp here, you must be careful, child.'

[05:38] hati-hati Gimana Pak kata mereka kan
  'Careful how, sir?' they said.

[05:40] sebenarnya ada aturan ketat yang nggak boleh dilanggar di sini
  Actually, there are strict rules that cannot be broken here.

[05:44] Oh ya aturan apa nih jadi gini siapapun dilarang berdandan kalau masuk ke area lapangan dan tidak boleh membunyikan alat musik terutama gamelan di sana
  'Oh, what rules are these? So, anyone is forbidden to dress up when entering the field area and is not allowed to play musical instruments, especially the gamelan there.'

[05:56] saat mendengar adanya aturan tersebut Winda sempat keheranan eh kok Bu Elmi nggak pernah menginformasikan hal itu sama kami ya
  Upon hearing about these rules, Winda was puzzled, 'Eh, why didn't Mrs. Elmi ever inform us about that?'

[06:01] tapi garasi Winda ini selalu berpikir logis Pak dia enggak terlalu ambil pusing tuh dia cuman Oh iya siap pak
  But Winda's nature always thinks logically, sir; she didn't worry too much, she just said, 'Oh, yes, understood, sir.'

[06:05] Kami enggak bakal kayak gitu katanya.
  We won't be like that, they said.

[06:07] Sudah tuh.
  That's it.

[06:09] Mereka pun lanjut mengikuti acara perkemahan sudah masuk dari kedua nih Pak.
  They then continued to follow the camp event, already entering from both sides, sir.

[06:11] Nah di hari kedua ini kegiatan mereka adalah untuk mencari jejak.
  Now on this second day, their activity was to search for tracks.

[06:15] Nah rutenya mencakup wilayah sekitar lapangan desa, perkebunan karet, dan juga mengarah ke dekat pantai.
  Now the route covered the area around the village field, rubber plantations, and also led near the beach.

[06:22] Tapi waktu itu ya ikut kegiatan itu cuman perwakilan 5 orang setiap regu.
  But at that time, only representatives of 5 people from each squad participated in that activity.

[06:24] Dan kebetulan si Winda ini nggak termasuk dalam 5 orang tersebut ya.
  And coincidentally, Winda was not included in those 5 people.

[06:28] Dan 5 orang dari regunya Piggy sisanya tinggal.
  And the 5 people from Piggy's squad, the rest stayed.

[06:31] Nah karena nganggur Pak, Winda dan beberapa teman lainnya pun memutuskan untuk eh wa kita jalan-jalan aja ke pantai yuk.
  Now because they were idle, sir, Winda and several other friends decided to, uh, let's just go for a walk to the beach, come on.

[06:37] Mereka ke pantai.
  They went to the beach.

[06:39] Nah selama mereka di pantai ya udahlah mereka kasih-kasih foto-foto sambil bersenda gurau.
  Now while they were at the beach, well, they took photos while joking around.

[06:42] Dan pada saat itu Winda juga lanjut lagi berjalan di sepanjang garis pantai sambil mengumpulkan kerang-kerang.
  And at that time, Winda also continued walking along the shoreline while collecting shells.

[06:48] Wak karena dia suka nengok kerang yang dia tangkap, diambillah satu kerang yang memang ukurannya kecil nih.
  Because she liked to look at the shells she caught, she picked up one shell that was indeed small in size.

[06:53] Terus disimpan sama siapa nih? Sama si Winda.
  Then who kept it? Winda did.

[06:55] Nah pas lagi asik-asiknya main wa tiba-tiba datanglah ini dua orang kakak pembina mereka yang menyusul mereka dari jauh sih.
  Now while they were having fun playing, suddenly these two senior supervisors came, who had followed them from afar.

[07:01] Kakak Pembina ini bilang, "Woi kalian ngapain di sana? Ayo balik, bentar lagi acara."
  This senior supervisor said, "Hey, what are you doing there? Come back, the event is about to start."

[07:05] Selanjutnya mau dimulai kata si Kakak.
  Next, the older sibling was about to begin.

[07:07] Ini nah mendengar teriakan itu dengan buru-buru mereka pun langsunglah beralih terbirit-birit kembali ke area perkemahan.
  Upon hearing that scream, they quickly turned and scurried back to the campsite.

[07:15] Nah si Winda yang ternyata punya riwayat sakit lemah jantung dia memilih untuk berjalan pelan-pelan aja.
  Well, Winda, who apparently had a history of heart weakness, chose to walk slowly.

[07:19] Apalagi jalanan yang harus mereka lalu itu terjal dan penuh semak-semak yang semakin membuat si Winda ini enggak bisa berlari.
  Moreover, the path they had to take was steep and full of bushes, which made it even harder for Winda to run.

[07:24] Nah tuh Winda berjalan santai aja kan ditemani juga sama Ririn dan Keisha sementara teman-teman lainnya sama dua Kakak Pembina tadi udah jauh nih lari ke depan.
  So Winda walked leisurely, accompanied by Ririn and Keisha, while the other friends and the two senior counselors had already run far ahead.

[07:34] Nah pas mereka masuk ke Perkebunan karet Wak tiba-tiba saja Winda Ririn sama Keisha mendengar ada suara orang berlari ini dari arah belakang.
  Then, as they entered the rubber plantation, suddenly Winda, Ririn, and Keisha heard the sound of someone running from behind.

[07:41] Mereka pun panik ya kan dikiranya orang yang berlari itu adalah kakak pembina mereka yang kesal nih sama mereka gara-gara Jalan terlalu santai kali.
  They panicked, thinking that the person running was their counselor who was annoyed with them for walking too slowly.

[07:47] Akhirnya tanpa melihat ke belakang Mereka pun berlari juga lewat sekencang mungkin sampai tanpa sadar kedua kaki Si Wina itu sampai tergores Tumbuhan berduri gitulah sampai berdarah.
  Finally, without looking back, they also ran as fast as they could, until Winda's feet were unknowingly scratched by thorny plants and bled.

[07:56] Waduh cuma lari ada kakak doang lah setelah beberapa jauh berlari Pak Winda merasa tubuhnya jadi lemas sekali dengan terengah-engah dia berkata weh udah weh pelan-pelan aku sudah enggak kuat lagi.
  Oh dear, it was just a counselor running; after running some distance, Winda felt her body become very weak and gasping for breath, she said, 'Hey, slow down, I can't take it anymore.'

[08:06] Kata si Winda, karena suara larian Kakak Pembina yang mengejar mereka tadi di belakang udah enggak ada.
  Winda said, because the sound of the Advisor's running chasing them earlier was no longer behind.

[08:12] Riri sama si Kesya pun dengan sigap langsung memapas si Winda sambil berjalan pelan-pelan.
  Riri and Kesya immediately and swiftly grabbed Winda while walking slowly.

[08:16] Terus enggak lama kemudian mereka berpapasan nih sama Pak Gio, eee bapak yang waktu tempat mereka numpang mandilah.
  Then not long after, they met Mr. Gio, the man whose place they used to bathe.

[08:21] Bapak pesan, kebetulan pagi ini lagi ada di kebun kare itu, nengoklah ya.
  The man said, coincidentally this morning he was at the curry garden, so he looked.

[08:26] Allah, Winda, kenapa kaki kau tuh jalan sampai bincang-bincang kayak gini?
  Oh my God, Winda, why is your leg walking so wobbly like this?

[08:29] Kata siapa?
  Who said?

[08:29] Kata Pak Gio.
  Mr. Gio said.

[08:31] Iya, Pak, tadi kami lari-lari soalnya takut dimarahin Kakak Pembina.
  Yes, sir, earlier we were running because we were afraid of being scolded by the Advisor.

[08:35] Tadi ada Kakak Pembina yang ngejar kami, Pak.
  Earlier there was an Advisor who chased us, sir.

[08:37] Kata si Geisha, "Kakak Pembina yang mana nih?"
  Geisha said, "Which Advisor is this?"

[08:40] Kata si bapak, "Dari tadi loh di sini enggak ada Kakak Pembina yang lewat mau ke pantai yang paling mau mengejar kalian."
  The man said, "There hasn't been any Advisor passing by here heading to the beach who would chase you all."

[08:45] Hah, ada kok, Pak, tadi yang ngejar kami, dan tadi juga ada Kakak Pembina yang manggil kami supaya datang ke acara selanjutnya.
  Huh, there was, sir, earlier the one who chased us, and earlier there was also an Advisor who called us to come to the next event.

[08:49] Nah, eh, jalur ke pantai itu cuma bisa lewat sini aja.
  Well, uh, the path to the beach can only go through here.

[08:52] Kalau memang ada yang lewat, pasti bapak lihat.
  If anyone did pass by, I would have seen them.

[08:54] Dari tadi Bapak di sini enggak lihat siapa-siapa kok.
  I've been here all along and haven't seen anyone.

[08:58] Nah, mendengar ucapan Pak Gio itu, seketika mereka pun jadi langsung terkejut.
  Well, upon hearing Mr. Gio's words, they were immediately shocked.

[09:01] Siapa berarti yang manggil kita tadi itu?
  So who was it that called us earlier?

[09:03] Siapa, Pak?
  Who, sir?

[09:03] Tapi lagi-lagi mereka memilih untuk positif thinking.
  But again they chose to think positively.

[09:05] Wah, mereka pun...
  Wow, they then...

[09:08] Melanjutkan lagi kan perjalanan dan
  Continuing the journey again, right, and

[09:09] langsung bergabunglah dengan para peserta kemah lainnya.
  immediately join the other camp participants.

[09:14] Nah terus singkat cerita acara pun selesai seperti biasa.
  Well, then, long story short, the event finished as usual.

[09:17] Sore harinya mereka mampir lagi nih ke rumah Pak Gio untuk numpang mandi
  In the afternoon, they stopped by again at Mr. Gio's house to take a shower

[09:20] sekaligus juga ngobatin luka-luka gores yang ada di kakinya si Winda
  and also to treat the scratch wounds on Winda's feet

[09:24] dan kebetulan pula Wak nanti malam di hari itu adalah Malam Terakhir mereka berkemah
  and coincidentally, that night was their last night camping

[09:27] sekaligus juga menjadi acara Puncak yang tentunya akan menjadi ramai oleh bulan hiburan ya gan.
  and also the peak event, which would certainly be lively with entertainment, right, folks.

[09:34] Nah karena acaranya cuma seru-seruan aja, Nuna salah satu anggota regunya si Winda ini sengaja minta mandi duluan nih
  Well, because the event was just for fun, Luna, one of Winda's team members, deliberately asked to shower first,

[09:38] karena dia mau dandan.
  because she wanted to dress up.

[09:40] Nah melihat Luna yang asik dan dan akhirnya Winda dan yang lain juga ikutan
  Well, seeing Luna having fun, eventually Winda and the others also joined in,

[09:44] dan juga gak lama kemudian mereka pun sudah selesai siap-siap nih
  and not long after, they were already done getting ready,

[09:47] udah pada cantik nih ya kan
  they were all pretty now, right,

[09:49] mereka pun menemui Pak Gio dan istrinya untuk berpamitan
  they then met Mr. Gio and his wife to say goodbye,

[09:51] sekaligus juga mengucapkan terima kasih banyak ke Pak Gio.
  and also to express many thanks to Mr. Gio.

[09:55] Pak Gio bilang besok kapan-kapan jangan lupa mampir ke sini lagi ya jaga silaturahmi
  Mr. Gio said, 'Next time, don't forget to stop by here again, okay, maintain the friendship,'

[09:59] kata pagi-pagi enggak nih
  he said, 'In the morning, not yet?'

[10:00] Orang ini berdandan kayaknya Winda pun cuma mengiyakan
  This person is dressed up, it seems; Winda just agreed,

[10:03] dan mereka saling bertukaran nomor HP.
  and they exchanged phone numbers.

[10:06] Dah tua singkat cerita para peserta kemah pun mulai
  Well, long story short, the camp participants began

[10:08] Bergegas menuju ke lapangan desa tempat diselenggarakannya acara awalnya Winda sempat enggak mau datang wa karena kan Kaki masih sakit ya kan.
  Hurrying to the village field where the event was held, at first Winda didn't want to come because her foot still hurt, right.

[10:17] Tapi karena Bagas dan Reza datang menyusul siapa Ini si Winda mau enggak mau dia pun jadi ikut ke lapangan.
  But because Bagas and Reza came to pick her up, Winda had no choice but to go to the field.

[10:23] Kenapa Wina dan teman-teman yang sudah dekat dari lapangan wa seketika dia tersentak.
  Why, when Wina and friends were already near the field, she suddenly gasped.

[10:27] Kalian tahu di momen ini dia terkejut setelah menyadari bahwa ternyata acara hiburannya adalah pertunjukan seni tari dan musik gamelan.
  You know, at this moment she was surprised after realizing that the entertainment event was a performance of dance and gamelan music.

[10:37] Nah mengetahui hal itu langsung bilang eh wa bukannya kata Pak Gio di sini nggak boleh main gamelan ya.
  So upon knowing that, she immediately said, 'Hey, didn't Mr. Gio say that playing gamelan is not allowed here?'

[10:43] Iya di lapangan ini ya kan katanya enggak boleh apa mungkin pak Gio cuma bercanda ndak ya atau cuma lagi nakut-nakutin kita aja.
  Yes, here in this field, right, he said it's not allowed, or maybe Mr. Gio was just joking, or just trying to scare us.

[10:52] Hmm bisa jadi bisa jadi setahu aku gamelan juga umum kali kok di daerah-daerah sini mudah-mudahan enggak terjadi apa-apa kata si Kesya kan.
  Hmm, maybe, maybe, as far as I know, gamelan is quite common in these areas, hopefully nothing happens, said Kesya, right.

[10:58] Nah di tengah keramaian itu teman-temannya Winda pada nyebar nih entah ke mana.
  So in the middle of the crowd, Winda's friends scattered, who knows where.

[11:01] Hanya menyisakan si Winda sama si Kesya aja berdua.
  Leaving only Winda and Kesya, just the two of them.

[11:04] Mereka pun memilih untuk menonton pentas dari barisan belakang yang memang dekat sama pohon beringin.
  They then chose to watch the performance from the back row, which was indeed close to the banyan tree.

[11:08] Awalnya semua berjalan baik-baik aja.
  At first everything was going fine.

[11:11] Tapi ketika para penari itu udah hampir selesai, Mentos tiba-tiba saja secara mengejutkan terdengar teriakan dari berbagai arah.
  But when the dancers were almost finished, Mentos suddenly heard screams from all directions.

[11:21] Dan bisa kalian tebak apa yang terjadi?
  And can you guess what happened?

[11:23] Hmm, betul, kesurupan massal.
  Hmm, right, mass possession.

[11:24] Semua menjadi keos lah itu semua kan.
  Everything became chaotic, right?

[11:26] Satu menjerit di sana, di belakang, oh semua lah.
  One screamed over there, in the back, oh everyone.

[11:30] Nah, pada saat situasi sudah mulai kacau ini, tiba-tiba Reza, salah satu kawan cowok dari regunya si Winda ini, muncul dari arah kiri lapangan.
  Well, when the situation was already starting to get chaotic, suddenly Reza, one of the male friends from Winda's team, appeared from the left side of the field.

[11:35] Pak Reza ini berjalan menghampiri mereka sambil terus menatap Winda tanpa berkedip, tengok terus.
  This Mr. Reza walked towards them while continuously staring at Winda without blinking, just kept looking.

[11:41] Nah, Winda yang keheranan dengan tatapan Reza itu belum sempat nanya apa-apa lagi, Wa, karena tiba-tiba disaat yang bersamaan si Wina terjatuh tergeletak di tanah.
  Well, Winda, who was puzzled by Reza's gaze, hadn't had time to ask anything else, Wa, because suddenly at the same time Wina fell down lying on the ground.

[11:49] Winda waktu itu merasa enggak bisa mengendalikan tubuhnya.
  At that time Winda felt she couldn't control her body.

[11:53] Dan dengan sigap si Reza tadi ini ya langsung menggotong tubuhnya si Winda balik ke rumah Bu Elmi.
  And quickly, this Reza immediately carried Winda's body back to Mrs. Elmi's house.

[11:57] Sesampai di rumah Bu Elmi, wa Winda pun dibaringkan di ruang tamu.
  Upon arriving at Mrs. Elmi's house, Winda was laid down in the living room.

[12:01] Dan pada saat itu tubuhnya mendadak dingin dan kejang-kejang.
  And at that moment her body suddenly became cold and convulsed.

[12:02] Wah, nah pada saat itu indah mengira, ih sakit jantung aku kumat nih, karena biasanya kalau kecapean dia ini akan kumat dengan gejala serupa wa.
  Wow, well at that time Indah thought, oh my heart condition is acting up again, because usually when she's exhausted she would have a relapse with similar symptoms.

[12:06] Nah, kisah yang tahu.
  Well, that's the story.

[12:09] Soal kondisi kesehatan dunia ini pun langsung berusaha mencari obat si Winda yang ada dalam tasnya dan alhamdulillahnya setelah minum obat doa kondisi Winda udah berangsur-angsur membaik.
  Regarding the health condition of this world, she immediately tried to find Winda's medicine in her bag, and thankfully after taking the medicine and praying, Winda's condition gradually improved.

[12:19] Dia pun dibawa nih ke kamar belakang kan untuk beristirahat.
  She was then taken to the back room to rest.

[12:21] Terus tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, banyak peserta kemah yang saat itu belum tidur nih.
  Then, before we knew it, the time showed one in the morning, and many camp participants were still awake.

[12:27] Dan di kamar waktu itu cuma ada Winda sama Keisha yang udah tidur.
  And in the room at that time, there was only Winda and Keisha, who was already asleep.

[12:31] Nah pada saat itu Winda belum bisa tidur dan perasaannya langsung gak enak gitu, entah kenapa dia ini mendadak ngerasa kesal dan benci kali sama Nuna.
  Well, at that moment, Winda couldn't sleep and her feeling suddenly became uneasy; for some reason, she suddenly felt very annoyed and hated Nuna.

[12:40] Wa masih nggak orang yang pertama kali ngajak mereka dandan sebelum nonton pentas.
  She was still not the first person to invite them to dress up before watching the performance.

[12:43] Kebencian itu pun semakin besar sampai akhirnya ketika Nina eh Nuna pula Nuna masuk ke kamar untuk tidur, Winda terus menerus menatapnya dengan tajam tanpa berkedip.
  That hatred grew even bigger until finally when Nina, uh, Nuna, Nuna entered the room to sleep, Winda kept staring at her sharply without blinking.

[12:52] Ditengok si Nunnah, teruskan Pak.
  She looked at Nunnah, then continued, Sir.

[12:55] Enggak lama kemudian Luna tiba-tiba menjerit dan berlari ketakutan di keluarga kamar.
  Not long after, Luna suddenly screamed and ran in fear around the room area.

[12:58] Dari luar kamar terdengar Nona menangis sesungguhkanlah.
  From outside the room, Nona was heard crying, truly.

[13:01] Teman-teman yang pada saat itu masih berkumpul di sana jadi nanyain Luna, "Kenapa kau itu indah Winda? Winda kenapa?"
  The friends who were still gathered there then asked Luna, "Why are you, beautiful Winda? Winda, why?"

[13:08] Winda tadi nangis darah katak dia.
  Winda was crying blood, she said.

[13:12] Tiba-tiba bangun mengejar aku kata si lunawa eh bercanda kok.
  Suddenly woke up chasing me, said the lunawa, eh just kidding.

[13:14] Macam mana pula nangis darah nih.
  How come crying blood now.

[13:16] Tengok aja gua sendiri kalau aku enggak percaya kata lunak nah.
  Just look at me myself if I don't believe the soft words.

[13:19] Baik guys yang sebenarnya peka dengan hal-hal gaib.
  Okay guys, the one who is actually sensitive to supernatural things.

[13:21] Wah langsung lah itu bergegas menghampiri si Winda kamar dan seketika si Bagas langsung bilang kau bukan Winda kau siapa.
  Wow, immediately he rushed to approach Winda's room and instantly Bagas said, you are not Winda, who are you?

[13:26] Nah mendengar pertanyaan bagas, Winda nggak jawab apa-apa ini tapi badannya mendadak kaku dan dia menjerit meronta-ronta.
  Now hearing Bagas's question, Winda didn't answer anything but her body suddenly stiffened and she screamed and struggled.

[13:32] Di momen itu Bagas pun sadar bahwa si Winda telah kesurupan.
  At that moment Bagas realized that Winda was possessed.

[13:37] Teman-teman langsung membawa Winda balik lagi ke ruang tamu untuk disadarkan.
  Friends immediately brought Winda back to the living room to be revived.

[13:42] Nah sesampainya di ruang tamu pak Bagas nanya lagi kau siapa kenapa tadi kok nakut-nakutin sinuna.
  Now upon arriving in the living room, Mr. Bagas asked again, who are you, why were you scaring Sinuna earlier?

[13:46] Nah Winda sebenarnya mendengar jelas pertanyaan dari si Bagas itu tapi seluruh anggota tubuh itu enggak bisa dikendalikan.
  Now Winda actually clearly heard the question from Bagas but her entire body could not be controlled.

[13:52] Wah lalu tanpa sadar dia berkata nuna dia seenaknya dandan di sini aku enggak suka kata dia.
  Wow then unconsciously she said, Nuna she casually dresses up here, I don't like it, she said.

[13:59] Nah di tengah kesadaran yang sudah mulai hilang itu wa samar-samar Winda melihat Bagas berusaha mengeluarkan sosok yang sedang merasukinya itu.
  Now in the midst of the fading consciousness, Winda vaguely saw Bagas trying to expel the entity that was possessing her.

[14:06] Sementara Winda cuma mampu menangis sambil berdoa di dalam hati sosok yang merasuki Winda ini terus.
  Meanwhile Winda could only cry while praying in her heart, the entity possessing Winda continued.

[14:13] Berteriak meracakan hal-hal aneh wa
  Screaming, saying strange things, and

[14:15] situasi makin enggak terkendali sampai
  the situation became more and more uncontrollable until

[14:17] akhirnya Bu Elmi ini si pemilik rumah
  finally, Mrs. Elmi, the homeowner,

[14:19] tiba-tiba berteriak dari dalam kamarnya
  suddenly screamed from inside her room,

[14:22] diam Kalian bawa pergi anak tuh katanya
  "Be quiet! Take that child away!" she said.

[14:24] nah semua orang mendengar teriak karena
  Well, everyone heard the scream because

[14:27] Bu Elmi kan seolah nggak peduli dengan
  Mrs. Elmi seemed not to care about

[14:28] apa yang terjadi Bu Elmi hanya meminta
  what was happening; Mrs. Elmi only asked

[14:31] mereka pergi Kalian semua dari rumah aku
  them to leave: "All of you, get out of my house!"

[14:32] katanya akhirnya mereka pun bersama-sama
  she said. Finally, they together

[14:34] membawa si Winda ke masjid yang letaknya
  brought Winda to the mosque, which was located

[14:36] memang gak jauh dari rumah Bu Elmi Tapi
  indeed not far from Mrs. Elmi's house. But

[14:38] sayangnya waktu dibawa ke masjid ini
  unfortunately, when brought to this mosque,

[14:39] kondisi Winda malah makin jadi parah
  Winda's condition actually got worse.

[14:41] nasi Reza wa kawan cowok satunya lagi
  Reza and his other male friend,

[14:43] yang memang ternyata juga punya
  who indeed also had

[14:45] kelebihan itu akhirnya ikut turun tangan
  that ability, finally stepped in

[14:48] dan berusaha menyadarkan si Winda di
  and tried to revive Winda. At

[14:50] moment itu aku udah enggak ingat lagi
  that moment, I no longer remembered

[14:51] apa yang dilakukan sama si Reza sama
  what was done by Reza and

[14:53] kawan-kawan aku karena disaat yang
  my friends, because at the same

[14:54] bersamaan kalian tahu Winda merasa
  time, you know, Winda felt

[14:56] jiwanya ini sudah pergi ke suatu tempat
  that her soul had gone to a place

[14:59] yang sangat asing dalam penglihatan si
  that was very strange. In Winda's vision,

[15:02] Winda dia melihat dia ini kayak digiring
  she saw that she was being led

[15:04] oleh banyak makhluk seram dengan wujud
  by many scary creatures with forms

[15:06] yang berbeda-beda aduh merinding Ada
  that were different. Oh, it gave me goosebumps! There was

[15:09] sosok orang tanpa kepala dia ada macan
  a headless figure, there was a tiger,

[15:11] ada kuntilanak ibu-ibu paruh baya ada
  there was a kuntilanak, a middle-aged woman, there was

[15:13] Anak kecil banyak lah mereka semua ini.
  There were many children, all of them.

[15:15] Menggiring Winda menuju ke bangunan megah yang tampak seperti istana.
  They led Winda towards a magnificent building that looked like a palace.

[15:20] Dan ketika pintu gerbang istana itu dibuka, Winda langsung bahwa apa yang sedang dilihatnya itu bukanlah dunianya.
  And when the palace gate was opened, Winda immediately realized that what she was seeing was not her world.

[15:27] Masuk ke mana Deni tah nggak lama kemudian dari dalam istana keluar nih seorang perempuan cantik karena dia cantik kali katanya macam Ratu macam Ratu betulan.
  She entered somewhere, Deni didn't know, and not long after, a beautiful woman came out of the palace because she was very beautiful, they said, like a queen, a real queen.

[15:38] Terus perempuan ini bilang, "Kemarilah nak, kau akan bahagia di sini," kata si perempuan nih.
  Then this woman said, "Come here, child, you will be happy here," said the woman.

[15:43] Nah karena Winda udah sadar kalau itu bukan duniaku, "Enggak, enggak, ini bukan duniaku," dia pun langsung segera menolak kau ajakan tersebut.
  Now because Winda already realized that it was not her world, "No, no, this is not my world," she immediately refused the invitation.

[15:47] Dan ketika Winda di balik badan untuk berlari meninggalkan istana, Pak, tiba-tiba saja dalam sekejap dia sudah kembali lagi ke dalam raganya.
  And when Winda turned around to run away from the palace, sir, suddenly in an instant she was back inside her body.

[15:55] Samar-samar Winda melihat ada banyak sekali teman yang masih berkumpul di masjid dan tampak sangat kelelahan.
  Vaguely, Winda saw many friends still gathered at the mosque and looking very exhausted.

[16:01] Dan enggak lama kemudian azan subuh pun berkumandang.
  And not long after, the call to dawn prayer resounded.

[16:03] Wah, Antum bisa balik sih Winda ini?
  Wow, you can come back, Winda?

[16:05] Nah setelah Winda sepenuhnya sadar dari kesurupan, Wak, dia pun bergegas membereskan barang-barangnya karena di hari itu acara perkemahan kan udah selesai kan.
  Now after Winda fully regained consciousness from being possessed, Uncle, she hurriedly packed her things because that day the camping event was already over.

[16:13] Nah pas dia mau balik.
  Now just as she was about to go back.

[16:15] Lagi ke rumah Bu Elmi lagi Winda merasa seperti ada sosok laki-laki yang berlari mengejarnya dari belakang.
  Again to Mrs. Elmi's house, Winda felt as if there was a male figure running after her from behind.

[16:22] Kejadiannya sama persis karena dia waktu mau pulang dari Pantai kemarin.
  The incident was exactly the same because when she was about to go home from the beach yesterday.

[16:26] Tuhan entah itu hanya perasaan aja atau apa, Wak.
  God knows if it was just a feeling or what, Wak.

[16:27] Tapi karena ketakutan, Wina pun memilih untuk terus-menerus meminjamkan mata dia baca-baca doakan.
  But because of fear, Wina chose to keep lending her eyes to read prayers.

[16:31] Tapi suara lari di belakangnya masih ada, Wak.
  But the sound of running behind her was still there, Wak.

[16:35] Jatuh singkat cerita, tepat sebelum acara perkemahan dibubarkan, Wak tiba-tiba Bagas, kawan yang pertama kali nyadarkan siapa ini, nyadarkan si Winda, datang nih menghampiri si Winda dan mengatakan sesuatu yang membuat Winda lumayan tercengang.
  Long story short, right before the camping event was disbanded, Wak suddenly Bagas, the friend who first realized who this was, realized Winda, came approaching Winda and said something that made Winda quite stunned.

[16:50] Bagas bilang, "Win, aku nggak tahu ini kebetulan atau bukan ya, tapi aku ngerasa ada yang janggal lah, Win.
  Bagas said, "Win, I don't know if this is a coincidence or not, but I feel something is off, Win.

[16:54] Tadi malam tuh, sebelum kau kesurupan, sebelum kita semua pergi ke lapangan buat lihat pentas, sebelum semua ini terjadi, aku sempat melihat Reza lagi bakar dupa, Win.
  Last night, before you got possessed, before we all went to the field to watch the performance, before all this happened, I saw Reza burning incense again, Win.

[17:03] Serius dong, buat apa dia bakar dupa?
  Seriously, what did he burn incense for?

[17:07] Nah itu dia, aku nggak tahu, tapi aku punya feeling, aku ngerasa itu pasti ada hubungannya sama kejadian-kejadian bisnis semalam lah, Wa.
  Well that's it, I don't know, but I have a feeling, I feel that it must be related to the business incidents last night, Wa.

[17:14] Nah, mendengar ucapan Bagas itu langsung...
  Well, upon hearing Bagas's words, immediately...

[17:16] Bertanya-tanya apa yang lagi dibuat sama si Reza ini, kenapa kemarin aku sampai kesurupan, dan sebenarnya aku ini kenapa, aku bikin salah apa?
  Wondering what Reza is doing, why I got possessed yesterday, and actually why am I, what mistake did I make?

[17:25] Meskipun terus Wak merenungi perbuatannya itu selama berada di perkemahan itu, dia menduga kejadian horor yang menimpanya adalah karena tanpa sadar dia sempat nih berbuat salah.
  Even though Wak kept reflecting on his actions while at the camp, he suspected that the horror incident that befell him was because he had unconsciously made a mistake.

[17:33] Diingat-ingatnya lagi akan mungkin pertama dia sama kawan-kawannya kurang beribadah di situ, terus kedua dia ini sempat mengambil kerang kan di laut, dan yang ketiga dia melanggar larangan untuk tidak berdandan pada saat memasuki lapangan, yang mana nih tiga-tiganya.
  He recalled again, maybe first, he and his friends lacked worship there, then second, he had taken shells from the sea, and third, he violated the prohibition against dressing up when entering the field, all three of these.

[17:47] Yang mana yang salah besar, aku sampai kukus rupan nih ada banyak pikiran dan pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya si Winda waktu itu, tua tapi lagi-lagi dia mencoba menepisnya karena toh ya udahlah santailah sebentar lagi aku juga udah mau balik ke rumah kok.
  Which one was the big mistake, I even steamed, there were many thoughts and questions raging in Winda's mind at that time, old but again she tried to dismiss them because well, just relax, soon I'll be going back home anyway.

[17:58] Gitu dah tuh, sebelum pulang Winda sama kawan-kawannya pun menyempatkan diri untuk berpamitan dan juga berterima kasih pada Bu Elmi karena sudah berkenan menampung mereka tuh selama ada di sana, ya kan.
  That's it, before going home, Winda and her friends took the time to say goodbye and also thank Mrs. Elmi for kindly accommodating them while they were there, right.

[18:11] Tapi wa- lagi baru saja Winda ini mau melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Bu Elmi, tiba-tiba Winda terjatuh lagi lemas tak sadarkan diri pingsan.
  But just as Winda was about to step into Mrs. Elmi's house, suddenly Winda fell again, weak, unconscious, fainted.

[18:18] Di momen itu untuk kedua kalinya Dinda merasa sedang digiring menuju ke kerajaan megah yang tengok semalam tuh.
  At that moment, for the second time, Dinda felt she was being led to the magnificent kingdom she had seen last night.

[18:24] Di sana Winda kembali lagi menolak ajakan si ratu itu dan dia berusaha untuk balik lagi ke raganya.
  There, Winda again refused the queen's invitation and tried to return to her body.

[18:30] Nah pasti Winda udah sadar ternyata di sebelahnya udah ada Pak Gio ternyata pada saat si Winda yang kesurupan teman-teman yang meminta bantuan Pak Gio untuk menyadarkan si Winda dan di momen itu jugalah Winda akhirnya tahu kalau ternyata Pak Gio ini adalah Kuncen atau juru kunci di desa tersebut.
  Well, surely Winda had already realized that beside her was Mr. Gio, because when Winda was possessed, her friends asked Mr. Gio for help to bring her back to consciousness, and at that moment Winda finally learned that Mr. Gio was the Kuncen or caretaker of that village.

[18:48] Pak Gio bilanglah ke si Winda, "Kan nanti pada saat kamu sudah keluar dari pintu masuk desa ini semuanya akan otomatis terlepas kok, Nak, kamu enggak usah khawatir, kamu akan pulang dengan selamat.
  Mr. Gio said to Winda, "Later, when you have exited the entrance to this village, everything will automatically come off, child, don't worry, you will return home safely.

[18:58] Tapi nanti kalau ada apa-apa hubungi Bapak ya," kata Pak Gio.
  But later, if anything happens, call me, okay," said Mr. Gio.

[19:00] Dan apa yang disampaikan sama Pak Gio itu Pak kebetulan terjadi di perjalanan pulang ketika Winda sama rombongannya sampai di pintu desa tuh.
  And what Mr. Gio said happened to occur on the way home when Winda and her group arrived at the village gate.

[19:08] Enggak lama kemudian dia sadar pingsannya dan di momen itu juga dia merasa semuanya sudah kembali normal.
  Not long after, she regained consciousness from her fainting, and at that moment she felt everything had returned to normal.

[19:14] Tapi tahan dulu, ceritanya enggak selesai sampai di sini aja tanpa disangka-sangka.
  But hold on, the story doesn't end here, unexpectedly.

[19:19] Gangguan mistis yang Winda alami selama kemah itu terulang kembali.
  The mystical disturbance that Winda experienced during the camp recurred.

[19:24] Setelah dia balik, nah jadi ceritanya, Wak, beberapa bulan setelah Winda ini pulang kemah, dia mulai merasa ada yang aneh dengan diri aku dan dia.
  After she returned, well so the story goes, Wak, a few months after Winda came back from camp, she began to feel something strange about myself and her.

[19:33] Sampai suatu hari ketika si Winda sekolah, tiba-tiba saya dia jadi pucat dan tubuhnya lemas.
  Until one day when Winda was at school, suddenly she turned pale and her body went limp.

[19:36] Nah teman-teman yang khawatir dengan kondisi Winda langsunglah membawa si Winda ke UKS.
  Well, friends who were worried about Winda's condition immediately took her to the school health unit.

[19:40] Tapi sesampainya di UKS, wa ternyata Winda jadi nggak sakit lagi, langsung sembuh.
  But upon arriving at the UKS, it turned out Winda was no longer sick, she recovered instantly.

[19:44] Enggak juga di momen itu, untuk kesekian kalinya Winda kesurupan lagi, wah.
  Not even at that moment, for the umpteenth time Winda was possessed again, wow.

[19:49] Dan setiap kali dia kesurupan, Wak, lagi-lagi si Winda ini merasa sedang digiring ke istana gaib itu lagi, padahal udah balik rumah tuh.
  And every time she was possessed, Wak, again and again Winda felt she was being led to that mystical palace again, even though she had already returned home.

[19:56] Segala upaya yang dilakukan sama teman-temannya, akhirnya Winda berhasil disadarkan kembali.
  All efforts made by her friends, finally Winda was successfully revived.

[20:01] Tapi buat sejak kejadian itu, si Winda ini jadi sering kesurupan itu loh.
  But since that incident, Winda became frequently possessed, you know.

[20:05] Winda juga jadi sering linglung dan bahkan suka nangis sendiri.
  Winda also often became dazed and even liked to cry alone.

[20:09] Nah karena kondisinya belum juga membaik, Wah, orang tua Winda pun memutuskan membawa Winda ke salah satu Kia yang memang terkenal di sana untuk ruqyah.
  Well, because her condition still hadn't improved, Wah, Winda's parents decided to take her to one of the Kiai who was indeed famous there for ruqyah.

[20:13] Nah pas di ruqyah, ternyata ada banyak kali sosok-sosok yang merasuki si Winda, sampai ada siluman ular, Nadia, Pak.
  Well, during the ruqyah, it turned out there were many entities possessing Winda, including a snake demon, Nadia, Sir.

[20:21] Kyai pun terus membaca doa dan berusaha

[20:23] mengeluarkan tersebut di momen itu Pak

[20:26] Kyai memindahkan mereka-mereka ini ke

[20:27] tempat lain Wa dan membuat perjanjian

[20:29] agar mereka mau berhenti mengganggu si

[20:32] Winda sampai akhirnya setelah beliau

[20:34] yakin udah nggak ada lagi nih sosok yang

[20:36] tersisa di badan si Winda Winda pun

[20:37] diminta untuk mandi dengan menggunakan

[20:39] air garam dan setelah melewati proses

[20:41] Ruqyah yang begitu panjang dan

[20:43] melelahkan itu Winda pun nanya lah ini

[20:45] ke Pak Kyai Pak Sebenarnya saya ini

[20:48] kenapa Pak Kenapa tiba-tiba jadi sering

[20:50] kesurupan saya nih mendengar pertanyaan

[20:52] Winda Pak Kiai pun menjawabnya Dengan

[20:54] mengatakan sesuatu yang membuat Winda

[20:58] shock kali Wa beliau bilang Sebenarnya

[21:00] kamu bukan nggak sengaja kesurupan Nah

[21:03] ada orang yang memang sengaja membuka

[21:06] mata batin kamu dia lagi cari perhatian

[21:09] pengennya dia jadi pahlawan dengan

[21:11] pura-pura nolongin kamu tapi ternyata

[21:13] ilmu yang dia punya ini tidak sebanding

[21:16] dengan makhluk-makhluk yang ada di

[21:17] tempat kemah kemarin Itulah kenapa kamu

[21:20] bisa jadi separah ini nah jadi ternyata

[21:22] ada orang ini orang dibuka pintu apa ya

[21:26] si Winda Nila sampai sosok masuk nanti

[21:28] dia yang datang mau menyelamat Ti si

[21:31] Winda tapi ternyata ilmunya belum

[21:32] apa-apa kayak gitulah kurang lebih nanya

[21:35] lah Indonesia

[21:37] bapak nggak bisa sebutin tapi Bapak

[21:40] yakin kamu pasti udah bisa nebak dia

[21:41] siapa

[21:42] setelah mendengar ceritanya Pak Kyai kan

[21:45] Wa Winda berusahalah gitu mengingat

[21:46] kembali kejadian-kejadian yang memang

[21:48] dialami selama di perkemahan lalu Winda

[21:51] pun sadar bahwa selama di sana ada dua

[21:53] teman laki-lakinya yang suka nolongin

[21:55] dia sehingga kan kita masih Bagas yang

[21:57] kedua si Reza Winda ingat waktu itu si

[22:00] Bagas pernah bilang katanya dia sempat

[22:01] melihat Reza membakar dupa di lapangan

[22:04] desa sebelum acara dimulai ya kan dan

[22:06] Selain itu dia juga ingat bahwa pada

[22:08] saat dia pertama kali kesurupan Reza lah

[22:11] yang sempat menatapnya tanpa berkedip

[22:14] dengan Gelaga aneh pastikan kalau sudah

[22:18] dari situ Winda yakin kalau Reza lah

[22:21] dalang di balik ini semua tapi lagi-lagi

[22:25] karena dia nggak mau ngambil pusing ya

[22:26] Yang penting aku udah di ruqyah udah

[22:28] nggak bisa juga aku ketemu sama si Reza

[22:29] kok Nadia sosok-sosok Ya udah

[22:30] dilepaskanlah ya udahlah cukup tau aja

[22:33] aku kata si Winda wa Nah setelah

[22:34] dirukinda pun melanjutkan hari-harinya

[22:36] seperti biasa dan dia semakin menjadi

[22:38] rajin beribadah tapi Wak tepat ketika

[22:41] dia mulai merasa kalau segala sesuatunya

[22:44] sudah kembali normal dengan segera wines

[22:46] sadar bahwa dugaan aku salah nih Kenapa

[22:48] karena setiap kali si Winda ini salat wa

[22:50] dia selalu merasa seperti ada yang

[22:52] mengawasi dia gitu hati aku jadi enggak

[22:55] pernah tenang nah dia aku juga jadi

[22:56] sering Murung Jadinya balik lagi aku

[22:58] tiba-tiba nangis sendiri dan yang paling

[23:00] janggal adalah Winda ini secara otomatis

[23:02] menolak setiap ada laki-laki yang

[23:05] mendekatinya karena udah ngerasa ada

[23:07] yang enggak beres nih Winda cerita lagi

[23:08] lah ke orang tuanya kan pakainya masih

[23:10] ada yang enggak beres nih pak dalam diri

[23:12] aku belum terlepas semua enggak payah

[23:14] karena khawatir orang tuanya si Winda

[23:15] ini pun kembali membawa Winda ke Pak

[23:17] Kiai tadi untuk kuliah lagi Wah Nah di

[23:21] ruqyah yang kedua ini akhirnya ke lahir

[23:24] semua wa ternyata ada nih satu sosok

[23:26] yang masih mengikuti si Winda beliau

[23:28] mengaku beliau kesulitan dalam

[23:30] melepaskan si sosok ini Pak Kyai bilang

[23:32] Wak kalau kesurupannya Winda ini nggak

[23:34] biasa selain dirasuki ama banyak makhluk

[23:36] sepertinya ada satu sosok yang terlanjur

[23:39] suka sama si Winda dan sosok inilah yang

[23:42] masih menempel sama kamu Winda kata Pak

[23:45] Kyai mendengar ucapan beliau seketika

[23:47] Winda sama orang tuanya jadi terkejut

[23:48] lagi kalau memang betul Ada sosok yang

[23:50] suka sama si Winda kemungkinan besar

[23:53] sosok itulah yang sudah membuat Winda

[23:55] ini selalu menolak setiap kali ada

[23:56] laki-laki yang deketin dia ya kan Nah

[23:58] untuk mengetahui hal tersebut Pak Kyai

[24:00] pun meminta Winda untuk menceritakan

[24:02] dengan detail apa saja yang sudah

[24:03] terjadi selama di perkemahan dan setelah

[24:07] Winda selesai bercerita Pak Kyai barulah

[24:09] bilang sepertinya ada yang harus

[24:11] diselesaikan di sana saya sarankan

[24:13] kalian kembali lagi ke tempat itu

[24:15] secepatnya kata Pak Kyai disuruh balik

[24:18] lagi ke tempat Desa build itu udah tua

[24:21] setelah mendapatkan saran dari Pak Kyai

[24:22] tersebut tanpa lama-lama lagi Mereka pun

[24:25] langsung menuju ke desa tempat Winda

[24:27] kemah kemarin tuha dan untungnya Winda

[24:29] kan masih menyimpan nomor HP Pak Gio tuh

[24:31] dia pun langsung hubungi beliau dan

[24:32] mengabarkan bahwa Bapak saya beserta

[24:34] keluarga lagi OTW perjalanan ke desa Pak

[24:36] ya katanya Oh iya nak Kami tunggu

[24:38] Sesampai di rumahnya Pak yowinda dan

[24:40] keluarga pun langsung dipersilakan masuk

[24:42] dan seolah sudah paham dengan apa yang

[24:45] sedang terjadi wa Pak Gio pun segera

[24:48] menceritakan sesuatu yang lagi-lagi

[24:50] membuat mereka semua terkejut Pak Nah

[24:53] ini nih ini part yang aku bilang plotis

[24:56] di akhir cerita kalian tahu di momen itu

[24:59] Pak Gio bilang nak Winda Maaf Bapak baru

[25:02] bilang sekarang bapak kira setelah kamu

[25:05] pulang kamu bakal baik-baik aja Ada

[25:07] sesuatu yang harus kamu tahu nah sesuatu

[25:09] apa Pak Ada apa ini sebenarnya kamu

[25:11] ingat waktu kamu ke pantai kamu bilang

[25:12] kalau ada yang ngejar kamu dari belakang

[25:14] iya pak Ingat siapa tuh dia dia bukan

[25:16] Pembina kamu Dia memang sosok yang udah

[25:19] lama ada di sana dulu nak di pantai itu

[25:23] laki-laki yang meninggal karena

[25:26] tenggelam pada saat mancing dan

[25:28] laki-laki itu adalah anak dari orang

[25:31] yang rumahnya kamu tempati pada saat

[25:34] kemah di sini hah Bu Elmi Pak itu

[25:37] anaknya Bu Elmi yang meninggal Iya betul

[25:39] tapi laki-laki itu meninggalnya nggak

[25:42] wajar nak bukan kecelakaan tapi karena

[25:44] disengaja kata Pak Gio nah mendengar

[25:46] ucapan Pak Yo Winda dan keluarga jadi

[25:48] makin tercengang lagi dengan panik

[25:50] Mereka pun nanya balik Pak meninggal

[25:52] enggak wajar gimana nih pak maksudnya

[25:53] meninggal disengaja lalu dengan nafas

[25:55] berat Pak Gio pun melanjutkan ceritanya

[25:57] udah jadi rahasia umum Nah Bu Elmi

[26:00] sebenarnya pakai pesugihan anak

[26:02] laki-laki yang tenggelam itu adalah

[26:04] tumbalnya dia korban dari ibunya sendiri

[26:07] dan setelah kejadian itu biar kamu tahu

[26:09] ya Bu Elmi ini menikah lagi lalu pindah

[26:11] dia keluar Pulau kami juga enggak tahu

[26:13] kenapa tiba-tiba sekarang Bu elu balik

[26:15] lagi ke desa ini untuk menempati rumah

[26:17] itu lagi ih ya allah Pak jadi yang

[26:19] ngejar saya kemarin itu anak ya Bu Yani

[26:21] tapi kenapa saya dikejar sama dia Pak

[26:23] sosok itu sepertinya udah ngerasa cocok

[26:25] sama kamu Winda dia ngerasa terpanggil

[26:27] waktu kamu ngambil kerang di pantai itu

[26:29] Nah pas dia ngikutin kamu Ternyata kamu

[26:31] tinggal di rumah ibunya yang dulu juga

[26:33] jadi rumahnya dia Dan satu hal lagi

[26:36] bapak tahu kamu tidur di kamar belakang

[26:37] kan itu dulunya kamar si anak ini nak

[26:40] Kata siapa pagi apa yang disampaikan

[26:42] sama Pak Gio itu bagaikan petir di siang

[26:44] bolong Nadia aku sama keluargaku kaget

[26:46] kaget-kagetnya Winda pun segera meminta

[26:48] tolong pagi untuk membantunya melepaskan

[26:50] sosok itu sebagai kuncian Bapak Gio Tahu

[26:53] betul Bagaimana cara membersihkan Winda

[26:55] dan untungnya juga setiap kali si Winda

[26:59] ini kesurupan dia kan selalu menolak itu

[27:01] pada saat digiring ke istana gaib itu

[27:03] kan Makanya itulah jiwanya Si Wina ini

[27:05] sepenuhnya masih ada di sana eh di sana

[27:07] tuh masuk di winda-nya sehingga lebih

[27:09] mudah untuk dibersihkan nanti kalau

[27:11] misalnya jiwa kuda tertahan di istana

[27:13] tuh yang bakal susah kali aku udah

[27:14] bersihkan Nah ada tuh singgah cerita Pak

[27:16] Gio pun membantu Winda agar bisa

[27:18] terlepas dari sosok laki-laki anaknya bu

[27:20] El ni ini Pak giyo pun membuat

[27:21] perjanjian dengan sosok tersebut

[27:23] tersebut dan memintanya untuk tidak lagi

[27:25] mengganggu Winda dan setelah melewati

[27:27] proses negosiasi yang begitu alot

[27:30] alhamdulillahnya sosok itu mau menerima

[27:32] Wah dan dia juga berjanji untuk tidak

[27:34] lagi mengikuti Winda akhirnya baru nih

[27:38] Winda pun dapat melanjutkan hidup

[27:39] seperti biasa Alhamdulillah Oke Pak jadi

[27:43] itu tadi kisah tentang Winda yang

[27:44] mendapatkan gangguan mistis pada saat

[27:46] kemah jujur menurut aku kisah ini Serem

[27:49] kali Wa Winda nggak hanya dirasuki oleh

[27:51] sosok-sosok yang ada di istana gaib tapi

[27:54] ternyata dia ini juga disukai oleh

[27:55] korban tumbal yang tak lain tak bukan

[27:58] Adalah anaknya Bu Elmi ya kan dan kata

[27:59] Winda sosok anak Bu Elmi ini sebenarnya

[28:02] pernah muncul lagi nah dia ini aku kasih

[28:03] tambahan sedikit lah ya jadi dulu Pak

[28:05] Winda sama keluarganya pernah dipelet

[28:06] gitulah sama seorang laki-laki yang

[28:08] ingin menikahi si Winda semua

[28:10] keluarganya kena Tapi anehnya cuma Winda

[28:12] aja enggak mempan atau kalian nah konon

[28:14] katanya Winda ini enggak mempan di pelet

[28:16] karena ternyata dia dilindungi sama

[28:18] sosok anak Bu Elmi itu masih lekat juga

[28:20] mungkin enggak pernah menampakan diri

[28:22] apa kayak gimana Dia ada bedanya kali

[28:24] ini dia datang untuk menjaga si Winda

[28:25] bukan mengganggu dan kata Winda Wa kalau

[28:27] Winda mau betul-betul lepas dari sosok

[28:29] itu Winda ini harus menjaga kesuciannya

[28:32] sampai dia menikah dan betul aja 7 tahun

[28:34] kemudian Winda pun akhirnya menikah dan

[28:36] tepat setelah ijab qobul Dia merasa

[28:39] bahwa dia tidak lagi peka dengan hal-hal

[28:41] Goib Winda akhirnya kebetulan terlepas

[28:43] dari teror mistis yang selalu

[28:45] menghantuinya dan dia bisa melanjutkan

[28:46] hidup dengan tenang kita doakan semoga

[28:49] Winda dan keluarganya selalu berada

[28:51] dalam lindungan Allah Subhanahu Wa

[28:52] Ta'ala wa ya amin ya robbal alamin Oke

[28:54] Pak jadi Sekian dulu videonya Terima

[28:56] kasih banyak yang sudah menonton kalau

[28:57] kalian suka video ini klik like-nya

[28:59] jangan lupa komen di bawah untuk video

[29:00] dan saran-saran untuk video selanjutnya

[29:01] jangan lupa nyalain notifikasinya supaya

[29:03] kalian tahu kalau upload video baru and

[29:05] always Jangan lupa untuk Klik tombol

[29:06] subscribe supaya kalian sama-sama tahu

[29:08] informasi menarik dan menegangkan dari

[29:10] channel aku See you next video bye

[29:16] [Musik]
