# HARAPAN DITENGAH PROSES YANG SULIT- PART1

https://www.youtube.com/watch?v=9b2VISsDWc8
Translation: en

[00:00] Ya, ya karena mau belajar konseling ya sudah pasti itu ya.
  Yes, yes, because I want to learn counseling, that is certainly it.

[00:05] Mungkin juga ada yang jawab ya karena saya kepengin jadi konselor yang baik.
  Maybe there are also those who answer, yes, because I want to be a good counselor.

[00:10] Mungkin juga ada yang jawab ya karena saya kepengin menolong orang lain.
  Maybe there are also those who answer, yes, because I want to help other people.

[00:16] Tapi saya percaya jawaban Tuhan mungkin berbeda.
  But I believe God's answer might be different.

[00:23] Ya, kita tadi sudah jawab masing-masing dalam hati ya.
  Yes, we have already answered each in our hearts.

[00:25] Tapi kurang lebih 2 tahun saya bersama keluarga wisdom.
  But for more or less 2 years, I have been with the Wisdom family.

[00:31] Ini yang saya rasakan ya jawaban Tuhan.
  This is what I feel is God's answer.

[00:35] Dulu dulu saya berpikir waktu saya awal masuk, duh rasanya saya pengin belajar apa sih itu ilmu konseling?
  In the past, I thought when I first joined, oh, I felt like I wanted to learn what counseling science is.

[00:43] Rasanya saya kok enggak mampu ya memberikan feedback atau respon.
  I felt like I wasn't capable of giving feedback or a response.

[00:48] Saya pengin belajar lebih dalam lagi.
  I want to learn more deeply.

[00:51] Saya berpikir saya bisa menyembuhkan orang lain barangkali.
  I thought I could perhaps heal other people.

[00:56] Tapi ternyata 2 tahun berlalu dan saya belajar banyak hal di sini.
  But it turns out 2 years have passed and I have learned many things here.

[01:01] Saya menemukan jawaban Tuhan seperti ini dalam hidup saya.
  I found God's answer like this in my life.

[01:06] Ya, aku mempertemukanmu di sini bukan pertama-tama supaya engkau mampu menyembuhkan orang lain, tetapi supaya aku lebih dahulu menyembuhkan hatimu.
  Yes, I brought you here not primarily so that you are able to heal others, but so that I first heal your heart.

[01:20] Ayat yang mau saya sharing hari ini saya ambil dari Amsal 27 ayat 17.
  The verse I want to share today I take from Proverbs 27 verse 17.

[01:26] Berbunyi demikian.
  It reads as follows.

[01:26] Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.
  Iron sharpens iron, one person sharpens another.

[01:34] Bapak, Ibu tahu bahwa proses menajamkan besi itu bukan proses yang mudah ya, bukan proses yang lembut, bukan proses yang gampang ya.
  Ladies and gentlemen, you know that the process of sharpening iron is not an easy process, not a gentle process, not a simple process.

[01:42] Besi ketemu besi ya.
  Iron meets iron.

[01:45] Tajam, keras ketemu keras.
  Sharp, hard meets hard.

[01:45] Ada gesekan, ada pukulan, ada panas, ada suara yang keras, ada percikan bahkannya percikan api.
  There is friction, there are blows, there is heat, there is a loud sound, there are sparks, even sparks of fire.

[01:55] Tapi justru proses itu yang membuat besi menjadi tajam.
  But it is precisely that process that makes the iron become sharp.

[02:02] Inilah gambaran hubungan manusia menurut Tuhan.
  This is the picture of human relationships according to God.

[02:05] Ya, inilah yang terjadi di dalam komunitas.
  Yes, this is what happens within a community.

[02:12] Kadang Tuhan itu memakai kritik ya, perbedaan karakter ya.
  Sometimes God uses criticism, yes, differences in character, yes.

[02:20] Dalam komunitas pasti ada konflik ya, ada konflik, ada juga masukan yang enggak nyaman bahkan ada komen yang tajam ya.
  In a community there must be conflict, yes, there is conflict, there is also input that is uncomfortable, and even sharp comments, yes.

[02:29] Perbedaan sudut pandang ini kan friksi-friksi ini tidak bukan proses yang enak ya.
  These differences in perspective, these frictions, are not a pleasant process, right.

[02:37] Ini proses yang tidak nyaman.
  This is an uncomfortable process.

[02:40] Tapi kalau kita menyikapinya dengan kerendahan hati, kita mau belajar, saya percaya semua itu Tuhan pakai gitu ya untuk menjadi alat menajamkan karakter kita, menajamkan empati kita, dan juga menambah hikmat kita sebagai seorang konselor.
  But if we respond to it with humility, we want to learn, I believe God uses all of that to become a tool to sharpen our character, sharpen our empathy, and also increase our wisdom as a counselor.

[03:06] Satu ayat yang saya mau sharing juga di sini adalah dari Ibrani 10 ayat 24 sampai 25.
  One verse that I also want to share here is from Hebrews 10 verses 24 to 25.

[03:16] Di sini penulis Ibrani itu tidak hanya berkata rajinlah berkumpul, tapi ia berkata supaya kita saling memperhatikan.
  Here, the author of Hebrews does not just say to be diligent in gathering, but he says that we should pay attention to one another.

[03:27] Artinya apa?
  What does that mean?

[03:27] Memperhatikan di sini kan kata kerja ya, melihat tapi bukan sekedar melihat tapi bagaimana kita mengamati kehidupan orang lain.
  Paying attention here is a verb, right? It means to see, but not just to see, but how we observe the lives of others.

[03:39] Bukan sekedar hadir, bukan sekedar mengisi absensi, tapi bagaimana kita bisa hadir dengan hati gitu ya.
  It's not just about being present, not just about filling out an attendance sheet, but how we can be present with our hearts.

[03:48] Bagaimana kita pakai tubuh kita ini, mata kita untuk mengamati, telinga kita untuk mendengar, hati kita juga untuk bisa meresponi konseli atau orang atau klien yang datang ke kita.
  How we use our bodies, our eyes to observe, our ears to listen, and our hearts to respond to the counselee or person or client who comes to us.

[04:05] Bukankah itu juga bagian?
  Isn't that also a part of it?

[04:08] Dari inti konseling?
  From the core of counseling?

[04:10] Dan di dalam komunitas inilah bagaimana Tuhan melatih kita untuk kita bisa hadir.
  And it is within this community that God trains us so that we can be present.

[04:18] Di sinilah saya pribadi juga belajar berelasi ya dengan teman-teman semua.
  This is where I personally also learn to relate, yes, with all my friends.

[04:29] Saya percaya selama kita belajar di komunitas Wisdom ini itu banyak karakter yang dibentuk ya.
  I believe that as long as we learn in this Wisdom community, many characters are formed, yes.

[04:38] Karena dengan kita berelasi dengan tadi ya banyak proses yang kita lalui itu kita akan menajamkan karakter kita masing-masing gitu ya.
  Because by relating with others, as mentioned earlier, through the many processes we go through, we will sharpen our respective characters, you know.

[04:46] Karena karakter itu enggak pernah dibentuk dalam kesendirian.
  Because character is never formed in solitude.

[04:51] Sama seperti kesabaran.
  Just like patience.

[04:54] Kesabaran itu baru terlihat kalau kita ketemu dengan orang yang berbeda.
  Patience is only visible when we meet different people.

[05:00] Kasih.
  Love.

[05:00] Kasih itu juga baru nyata ketika ada orang yang sulit dikasihi.
  Love is also only real when there is someone who is difficult to love.

[05:06] Bahkan pengampunan itu juga baru terasa.
  Even forgiveness is only felt then.

[05:08] Hidup kalau kita itu terluka.
  Life, if we are wounded.

[05:14] Kalau kita hidupnya hanya sendiri atau selalu sendiri tanpa ada proses tadi yang kita lalui, pembentukan tadi ya mungkin aja nyaman dan mungkin aja kita merasa kita oh udah dewasa gitu ya.
  If we live only alone or are always alone without going through the process mentioned earlier, that formation might be comfortable and we might feel that, oh, we are already mature.

[05:29] Padahal karena kita belum diuji saja.
  Whereas it is just because we haven't been tested yet.

[05:36] Dalam komunitas juga di sini ego kita dikikis.
  In a community, our ego is also eroded here.

[05:45] Konselor yang tidak baik itu menurut saya itu bukan konselor yang hanya jago apa ya bercakap-cakap saja ya hanya pandai berbicara tapi bagaimana mereka mau belajar terus.
  A bad counselor, in my opinion, is not a counselor who is only good at, what is it, just chatting or only good at talking, but how they want to keep learning.

[06:10] Bagaimana mereka tetap mau bertumbuh terus?
  How do they still want to keep growing?

[06:15] Dalam komunitas ini, ego itu dikikis dengan cara apa?
  In this community, how is the ego eroded?

[06:21] Ya, kita kadang menerima masukan, kadang kita juga dikoreksi.
  Yes, sometimes we receive input, sometimes we are also corrected.

[06:26] Dengan perbedaan pendapat juga kita diuji ya, kesabaran kita diuji.
  With differences of opinion, we are also tested, our patience is tested.

[06:32] Kita juga bisa mengakui bahwa oh tadi aku salah ya.
  We can also admit that, oh, I was wrong earlier.

[06:35] Kita mau mengakui kesalahan kita.
  We are willing to admit our mistakes.

[06:37] Padahal karakter kita aslinya sebenarnya gengsian.
  Even though our original character is actually prideful.

[06:42] Aduh, enggak suka deh dikritik.
  Oh, I really don't like being criticized.

[06:45] Karakter kita itu aslinya enggak gitu-gitu ya.
  Our character isn't really like that.

[06:47] Kita kebetulan aja memang banyak berkomunikasi melalui Zoom ya.
  It just so happens that we communicate a lot via Zoom.

[06:53] Jadi mungkin banyak ekspresi-ekspresi atau komunikasi yang terbatas.
  So perhaps there are many expressions or communications that are limited.

[06:58] Tapi pasti dalam hati kita, aduh sebenarnya kita enggak setuju nih sama si ini, si A.
  But surely in our hearts, oh, we actually don't agree with this person, person A.

[07:01] Aduh, aku enggak suka nih sama pendapatnya dia.
  Oh, I don't like their opinion.

[07:04] Aduh, enggak pas banget tuh omongannya dia.
  Oh, what they said really isn't appropriate.

[07:09] Tapi kalau Bapak, Ibu mau lagi merenungkan selama...
  But if you, ladies and gentlemen, want to reflect further while...

[07:12] Kita belajar 2 tahun sini, saya percaya sekali ya walaupun kita hanya melalui media ini ya ee Zoom ini, tapi di sini tuh Tuhan benar-benar bagaimana memproses kita, membentuk hati kita untuk kita bisa memahami satu dengan yang lain.
  We have been studying here for 2 years, and I truly believe that even though we only go through this medium, this Zoom, here God is truly processing us, shaping our hearts so that we can understand one another.

[07:30] Menurut saya, seorang konselor yang baik itu tidak hanya diukur dari berapa banyak teori yang ia kuasai, tapi bagaimana dia terus mau dibentuk, bagaimana terus dia mau belajar, baik mau menerima koreksi ataupun juga masukan.
  In my opinion, a good counselor is not only measured by how many theories they have mastered, but by how they continue to want to be shaped, how they continue to want to learn, whether by accepting corrections or input.

[07:50] Di komunitas juga merupakan tempat untuk bertumbuh, bukan hanya tempat untuk tampil.
  Community is also a place to grow, not just a place to perform.

[07:57] Kita tidak dipanggil untuk sebagai manusia yang tanpa luka, tapi kita dipanggil menjadi pribadi yang terus dipulihkan.
  We are not called to be humans without wounds, but we are called to be individuals who are continuously being restored.

[08:09] Ya, komunitas menurut saya memberi ruang.
  Yes, in my opinion, community provides space.

[08:12] Untuk gagal, untuk jujur, untuk belajar, untuk bangkit kembali.
  To fail, to be honest, to learn, to rise back up.

[08:18] Di sini saya merasa bersama Bapak Ibu saya lebih apa ya bebas bercerita tanpa menutupi pergumulan ya.
  Here, I feel that with you all, I am more, what should I say, free to tell stories without hiding my struggles.

[08:27] Ini ruang aman buat saya berbagi dengan Bapak Ibu.
  This is a safe space for me to share with you all.

[08:34] Jadi komunitas ini kita jadikan tempat aman sebelum kita konselor ini menjadi tempat aman.
  So, let us make this community a safe place before we, as counselors, become a safe place.

[08:50] Saya percaya Tuhan tidak mempertemukan kita itu secara kebetulan.
  I believe God did not bring us together by coincidence.

[08:57] Kita datang dari latar belakang yang berbeda.
  We come from different backgrounds.

[08:59] Usia kita berbeda, profesi kita berbeda, kepribadian kita pun berbeda.
  Our ages are different, our professions are different, and our personalities are also different.

[09:08] Tapi satu hal yang ee saya rasakan selama 2 tahun ini Tuhan.
  But one thing that, uh, I have felt during these 2 years is God.

[09:14] Itu mengerjakan satu hal yang sama, yaitu membentuk hati kita.
  It does one same thing, which is shaping our hearts.

[09:20] Tuhan tidak hanya sedang mempersiapkan kita menjadi konselor yang kompeten.
  God is not only preparing us to become competent counselors.

[09:25] Tuhan sedang membentuk kita menjadi manusia yang semakin menyerupai Kristus.
  God is shaping us into human beings who increasingly resemble Christ.

[09:31] Sebab dunia tidak hanya membutuhkan konselor yang pandai bicara.
  Because the world does not only need counselors who are good at talking.

[09:35] Dunia membutuhkan hati yang telah lebih dahulu disentuh oleh kasih Tuhan.
  The world needs hearts that have first been touched by God's love.

[09:44] Demikianlah sharing firman Tuhan yang bisa saya bagikan hari ini.
  That is the sharing of God's word that I can share today.

[09:46] Tuhan memberkati kita.
  May God bless us.

[09:49] Saya akan tutup dengan doa sebelum kita mulai pembelajaran.
  I will close with a prayer before we begin the lesson.

[09:51] Mari kita satukan hati kita berdoa.
  Let us unite our hearts in prayer.

[09:58] Terima kasih Tuhan buat renungan singkat sore hari ini.
  Thank you God for this short reflection this afternoon.

[10:05] Kami mengucap syukur buat penyertaan Tuhan dalam komunitas Wisdom.
  We give thanks for God's presence in the Wisdom community.

[10:10] 2 tahun ini kami bersama Tuhan di sini.
  For these 2 years, we have been with God here.

[10:14] Menyatukan hati kami dengan berbagai banyak perbedaan yang ada di dalam kami.
  Uniting our hearts with the many differences that exist within us.

[10:21] Tapi kami percaya kami tidak kebetulan bertemu dan Tuhan mengumpulkan kami dalam satu komunitas ini.
  But we believe we did not meet by accident and God gathered us into this one community.

[10:29] Tuhan punya rencana indah bagi kami pribadi lepas pribadi, Tuhan.
  God has a beautiful plan for us individually, Lord.

[10:33] Kami belum selesai diproses, tapi kami percaya Tuhan bersama rekan-rekan kami di keluarga Wisdom ini, kami akan terus dibentuk semakin baik menjadi pribadi yang tangguh, pribadi yang penuh kasih yang mau saling menolong, saling menguatkan, saling support dan kami kelak akan menjadi konselor yang juga bisa memberi hati kami untuk sesama kami.
  We are not finished being processed, but we believe that with our colleagues in this Wisdom family, we will continue to be shaped into better, resilient individuals, individuals full of love who are willing to help each other, strengthen each other, support each other, and we will eventually become counselors who can also give our hearts to our fellow human beings.

[10:59] Terima kasih Tuhan, terus bekerja dalam hidup kami, terus berkarya ya Tuhan.
  Thank you God, continue to work in our lives, continue to do Your work, O God.

[11:04] Kami siap untuk Kau bentuk seturut kehendak-Mu.
  We are ready for You to shape us according to Your will.

[11:07] Terima kasih Tuhan Yesus.
  Thank you Lord Jesus.

[11:09] Terpujilah Engkau kekal selamanya.
  Praise be to You forever and ever.

[11:12] Amin.
  Amen.

[11:12] Oke, saya serahkan ke.
  Okay, I hand it over to.

[11:15] Bu Lina ya.
  Ms. Lina, yes.

[11:19] Salam konseling untuk Bu Rita.
  Counseling greetings to Ms. Rita.

[11:22] Terima kasih ya yang sudah berbagi, tentunya mendapatkan kesan yang mendalam ya.
  Thank you for sharing, it certainly left a deep impression.

[11:28] 2 tahun bukan waktu yang sebentar ya.
  Two years is not a short time.

[11:31] Saya kenal salah satu dengan murid di tempat ini ya, Kak Ana dari Malang ya.
  I know one of the students here, Kak Ana from Malang.

[11:37] Saya baru teringat waktu itu baru pertama kali Kak Ana bilang mau ikut kelas konseling.
  I just remembered when Kak Ana first said she wanted to join the counseling class.

[11:41] Eh ternyata sekarang kelas wisdom ini sudah 2 tahun ya dan ternyata banyak hal yang sudah dilalui bersama, banyak cerita-cerita.
  Eh, it turns out this wisdom class has been going on for 2 years now, and it turns out many things have been gone through together, many stories.

[11:50] Mari kita maknai satu bulan terakhir ini dengan belajar bersama-sama dan terus bertumbuh.
  Let us give meaning to this last month by learning together and continuing to grow.

[11:55] Iya, Bu Lina.
  Yes, Ms. Lina.

[11:58] Maaf, Bu.
  Excuse me, Ma'am.

[11:58] Kita mau foto bersama dulu boleh?
  May we take a group photo first?

[12:01] Oke.
  Okay.

[12:01] Iya, silakan.
  Yes, please.

[12:02] Yuk, silakan teman-teman yang foto.
  Come on, please, friends, let's take the photo.

[12:06] Oke, kita aku remove spotlight dulu ya.
  Okay, I will remove the spotlight first.

[12:08] Oke.
  Okay.

[12:08] Iya, boleh.
  Yes, sure.

[12:10] Oke.
  Okay.

[12:10] Angka satu.
  Number one.

[12:11] Iya, angkanya angka satu ya teman-teman ya.
  Yes, the number is one, friends.

[12:14] Tangan di dada ya.
  Hands on the chest, okay.

[12:16] Oke.
  Okay.

[12:16] Satu.
  One.

[12:16] Nyalakan kamera semua.
  Turn on your cameras, everyone.

[12:16] 1 2 3.
  1 2 3.

[12:21] Saya ketahan satu lagi.
  I'm held up by one more.

[12:24] 1 2.
  1 2.

[12:27] Oke, sudah terima kasih ya.
  Okay, that's it, thank you.

[12:29] Silakan Bu Lina.
  Please go ahead, Mrs. Lina.

[12:29] Terima kasih banyak teman-teman.
  Thank you very much, friends.

[12:34] Iya, tadi baru tampak semua juga ada Kak Priska ya dari Bandung ya.
  Yes, earlier everyone just appeared, and there is also Kak Priska from Bandung.

[12:36] Ya, yang mungkin sudah pernah bertemu dan salam kenal untuk semua teman-teman yang mungkin baru bertemu ee bertemu ya.
  Yes, for those who might have met before, and nice to meet you to all the friends who might be meeting for the first time.

[12:47] Saat ini saya akan berbagi mengenai parenting.
  Right now I will share about parenting.

[12:51] Kita punya tema yang besarnya adalah harapan di tengah proses parenting yang sulit.
  Our big theme is hope in the midst of a difficult parenting process.

[12:57] Kita akan membahas mengenai kasus-kasus remaja.
  We will discuss adolescent cases.

[13:04] Parenting itu adalah sesuatu yang mungkin bukan sesuatu yang mudah ya untuk kita jalani.
  Parenting is something that might not be easy for us to go through.

[13:11] Mungkin kita memiliki banyak tantangan, tapi ya kita ingin.
  Maybe we have many challenges, but we want to.

[13:17] Tahu apa sih yang bisa kita lakukan untuk kita pribadi dulu ya.
  Do you know what we can do for ourselves personally first?

[13:23] Sebelum kita bergerak lebih besar ruang lingkupnya, kita pun akan mulai melihat ke dalam diri kita apa sih yang sudah kita lakukan atau mungkin kita menemui kesulitan apa di dalam proses parenting.
  Before we move to a larger scope, we will also start looking inside ourselves at what we have done or perhaps what difficulties we have encountered in the parenting process.

[13:38] Nah, saya akan coba share dulu ya.
  Well, I will try to share [my screen] first.

[13:42] Sudah terlihat ya semua ya.
  It is already visible to everyone, right?

[13:45] Nah, bagaimana kita akan sama-sama belajar di empat pertemuan ini.
  So, how we will learn together in these four meetings.

[13:49] Nanti tolong pengurus kelas bisa mengingatkan saya kalau misalkan waktunya sudah mendekati istirahat.
  Later, please, the class administrator can remind me if the time is approaching the break.

[13:57] Kalau di catatan saya ini hingga pukul 19.30 ya.
  According to my notes, this is until 19:30.

[14:00] Sama.
  Same.

[14:00] Oke ya.
  Okay.

[14:04] Oke, saya ingin memperkenalkan diri.
  Okay, I would like to introduce myself.

[14:07] Saya dari Bandung sebagai konselor di LK3 itu yang memiliki sertifikasi BNSP kemudian membantu di.
  I am from Bandung as a counselor at LK3 who has BNSP certification and then helps at...

[14:18] Rumah konseling sekarang namanya itu Sah Selalu Ada Harapan LK3 Jawa Barat.
  The counseling house is now called Sah Selalu Ada Harapan LK3 West Java.

[14:23] Kemudian juga sebagai konselor anak remaja kesehatan mental di gereja lokal di Bandung.
  Then also as a child and adolescent mental health counselor at a local church in Bandung.

[14:27] Membantu sebagai asesor, kemudian supervisor dan fasilitator juga konselor untuk para pembelajar LK3.
  Helping as an assessor, then supervisor and facilitator, as well as a counselor for LK3 learners.

[14:36] Saya juga belajar lagi mendalami karena bidang saya di anak dan remaja.
  I am also studying further because my field is in children and adolescents.

[14:40] Saya mengambil sertifikasi untuk bisa membantu anak-anak di dalam isu kesehatan mental sebagai practitioner in therapeutic play skill play therapist di Bright Beging Developmental Center di Bandung.
  I took a certification to be able to help children with mental health issues as a practitioner in therapeutic play skill play therapist at Bright Beginning Developmental Center in Bandung.

[14:54] Itu sekilas mengenai saya dan kita akan cari tahu apa yang akan kita pelajari di empat pertemuan nanti ya di bulan Juli itu.
  That is a glimpse about me and we will find out what we will learn in the four upcoming meetings in July.

[15:04] Tujuan pembelajarannya kita akan belajar bagaimana dinamika perkembangan remaja dan tantangan parenting masa kini.
  The learning objective is that we will learn about the dynamics of adolescent development and current parenting challenges.

[15:12] Mengapa sampai disebut sebagai harapan di tengah proses parenting yang?
  Why is it called hope in the midst of the parenting process?

[15:19] Sulit?
  Difficult?

[15:19] Nah, kita akan menggali dan mungkin teman-teman bisa memberikan informasi kepada saya dan kita akan saling belajar kira-kira tantangan parenting masa kini di area mana.
  Well, we will dig deeper and perhaps you all can provide information to me, and we will learn from each other about where the challenges of modern parenting lie.

[15:33] Sebegitu sulitkah atau mungkin kita mungkin sudah tidak berdaya atau mungkin sesuatu yang baru yang belum pernah kita temui dan lain sebagainya.
  Is it that difficult, or perhaps we are already helpless, or maybe it is something new that we have never encountered before, and so on.

[15:41] Kita akan berdiskusi di area itu.
  We will discuss that area.

[15:46] Kemudian bagaimana kita memiliki kemampuan menemukan akar masalah di dalam kasus-kasus remaja sehingga kita memahami penyebab perilaku dan kebutuhan emosional remaja.
  Then, how do we have the ability to find the root cause in adolescent cases so that we understand the causes of behavior and the emotional needs of adolescents.

[15:57] Mungkin kalau kita bisa mendefinisikan kesulitannya di mana, apa yang kita pikirkan mengenai isu itu.
  Perhaps if we can define where the difficulty lies, what do we think about that issue.

[16:05] Sudah tepatkah kita memahami akar masalahnya?
  Have we understood the root cause correctly?

[16:09] Atau sudah tepatkah mungkin teman-teman ada yang terjun di dalam bidang konseling, anak, remaja atau kesehatan mental, di dalam parenting.
  Or is it accurate, perhaps some of you are involved in the field of counseling, children, adolescents, or mental health, within parenting.

[16:16] Nah, itu.
  Well, that's it.

[16:19] Pengalaman yang seperti apa?
  What kind of experience?

[16:21] Kemudian memiliki harapan dan strategi yang lebih tepat dan adaptif di dalam proses parenting.
  Then have more precise and adaptive hopes and strategies in the parenting process.

[16:25] Tentunya sebelum kita membantu orang, kita mungkin bisa melihat ke dalam keluarga inti kita dulu masing-masing.
  Surely before we help others, we might be able to look into our own nuclear families first.

[16:32] Bagaimana kita melihat ada harapan atau bagaimana kita merubah pola-pola atau meningkatkan hal-hal yang sudah baik yang kita memang sudah berikan di dalam keluarga kita berkenaan dengan isu parenting.
  How we see there is hope or how we change patterns or improve things that are already good that we have indeed provided in our family regarding parenting issues.

[16:48] Kalau sekarang saya lemparkan ya pertanyaan ini untuk teman-teman boleh menjawab ya di chatbox.
  If I throw this question out now, friends, you may answer in the chatbox.

[16:54] Apakah tujuan utama di dalam parenting sebenarnya?
  What is the main goal in parenting actually?

[17:00] Mengapa banyak orang tua atau mungkin kita ya rajin sekali ikut di dalam seminar-seminar parenting atau mungkin membaca buku-buku parenting?
  Why are many parents, or perhaps us, very diligent in participating in parenting seminars or perhaps reading parenting books?

[17:11] Kemudian juga kita selalu update tema-tema parenting dan lain sebagainya.
  Then we also always update parenting themes and so on.

[17:17] Kira-kira apa sih tujuan utama di dalam parenting?
  What exactly is the main goal in parenting?

[17:19] Kita?
  Us?

[17:22] Boleh teman-teman open mic-nya, bisa langsung menjawab, bisa juga di chatbox, silakan.
  Friends, you may open your mics, you can answer directly, or you can also use the chatbox, please go ahead.

[17:36] Tujuannya agar orang tua mengetahui bagaimana mengasuh anak dengan baik.
  The goal is for parents to know how to raise children well.

[17:40] Kita belajar parenting supaya kita mengetahui bagaimana mengasuh anak dengan baik.
  We learn parenting so that we know how to raise children well.

[17:48] Menarik ya.
  Interesting, isn't it.

[17:49] Ada lagi mungkin yang lain?
  Is there anyone else perhaps?

[17:58] Baik, Bu.
  Alright, Ma'am.

[17:59] Iya, silakan.
  Yes, please go ahead.

[18:02] Itu ee biasanya ada kesenjangan itu dari orang tua sama remaja ini, gimana menjembatani kesenjangan itu?
  Usually there is a gap between parents and teenagers; how do we bridge that gap?

[18:12] Oke, tadi yang...
  Okay, the one who earlier...

[18:15] Iya, iya.
  Yes, yes.

[18:15] Tadi yang open mic siapa ya?
  Who was it that opened their mic earlier?

[18:17] Saya.
  Me.

[18:18] Oh, ya.
  Oh, yes.

[18:19] Oke, oke, oke ya, Pak.
  Okay, okay, okay, Sir.

[18:20] Pak Kus.
  Mr. Kus.

[18:21] Ya, oke.
  Yes, okay.

[18:21] Ada kesenjangan bagaimana menjembatani.
  There is a gap in how to bridge it.

[18:25] I.
  I.

[18:25] Oke, mungkin ada lagi update dengan skill parenting baru.
  Okay, maybe there is another update with new parenting skills.

[18:30] Karena mungkin sekarang sudah ini ya generasi yang baru mungkin ya.
  Because maybe now it is a new generation, perhaps.

[18:36] Ada generasi baru tantangannya juga baru.
  There is a new generation, and the challenges are also new.

[18:38] Kemudian membesarkan anak dengan benar.
  Then, raising children correctly.

[18:40] Bagaimana membesarkan anak dengan benar supaya orang tua dan anak-anak sama-sama bertumbuh dengan baik.
  How to raise children correctly so that parents and children both grow well.

[18:45] Orang tua menjadi gambaran bapak bagi anak-anaknya sehingga anak-anak bisa punya iman yang benar.
  Parents become a reflection of the father for their children so that the children can have the right faith.

[18:51] Oke.
  Okay.

[18:56] Nah, tentunya mungkin ini pendapat-pendapat dari teman-teman ini didasarkan pada pengalaman nih.
  Well, surely these opinions from our friends are based on experience.

[19:02] Coba ya kalau misalkan bisa berbagi ya Pak Hendra atau Pak Pontius kemudian Bu Yuli mungkin ya.
  Let's try if you could share, Mr. Hendra or Mr. Pontius, then maybe Mrs. Yuli.

[19:09] Kemudian Bu Narita nih gimana kenapa memiliki satu kerinduan bagaimana kita bisa mengasuh anak dengan baik itu didasari dari pengalaman apa biasanya atau mungkin.
  Then Mrs. Narita, how come you have a longing for how we can raise children well; what is that usually based on, experience or perhaps something else?

[19:21] Tersirat apa sih dengan pola asuh yang kita dapatkan atau mungkin dengan apa yang kita lihat di sekeliling, boleh dibagikan.
  What is implied by the parenting style we received or perhaps by what we see around us, may it be shared?

[19:31] Iya, Ibu Lina.
  Yes, Mrs. Lina.

[19:35] Kalau saya lihat ya, bagaimana anak itu mengenal orang tuanya itu akan mempengaruhi bagaimana anak itu bisa mengenal Bapak di surga.
  If I look at it, how a child knows their parents will influence how that child can know the Father in heaven.

[19:45] Misalkan ya, Bu, misalkan punya Bapak ini pecandu narkoba, pemabuk, hobi judi, pulang ke rumah ngantemi mamnya, nendangi anaknya.
  For example, Ma'am, suppose a father is a drug addict, a drunkard, a gambling addict, who comes home and beats his wife and kicks his children.

[19:55] Lalu di gereja si anak ini dengar khotbah bahwa Allah itu mengasihi kita seperti Bapak mengasihi anak-anaknya.
  Then at church, this child hears a sermon that God loves us like a father loves his children.

[20:06] Waduh.
  Oh my.

[20:09] Ya, kalau papahnya aja model kayak gitu, Pak Pendeta bilang Allah itu seperti bapak sayang anak-anaknya, ya bagaimana gambaran dia untuk bisa kenal Tuhan, kan gitu.
  Well, if his father is like that, and the pastor says God is like a father who loves his children, then how can he have an image to know God, right?

[20:19] Sebaliknya ketika orang tua ini membesarkan dengan benar, dengan baik.
  Conversely, when parents raise [their children] correctly and well.

[20:24] dengan kasih, dengan kedewasaan,

[20:26] kebijaksanaan,

[20:27] bisa membuat dia punya gambar diri yang

[20:30] baik, maka ketika ee dia diperkenalkan

[20:33] pada iman kepada Tuhan dan berkata bahwa

[20:36] Bapak itu sayang sama

[20:39] anaknya, Allah sama kita seperti itu,

[20:42] dia kan lebih punya gambaran dalam

[20:44] imannya, oh itu seperti ini toh. Bapak

[20:48] itu seperti ini. Makanya ketika apa

[20:51] namanya yang temporari ee ada seorang ee

[20:55] pendeta di Cirebon sini anak tunggalnya

[20:59] meninggal dan dia sangat berdukaita. Di

[21:02] situ dalam kesaksiannya dia bilang,

[21:04] "Beginilah saya sebagai orang tua

[21:06] kehilangan anak-anak, saya jadi bisa ee

[21:09] punya gambaran ketika Bapak di surga

[21:11] menyerahkan Yesus Kristus sebagai korban

[21:14] bagi kita itu sakitnya seperti apa hati

[21:17] Bapak di surga." Jadi ee ketika

[21:20] parenting diterapkan dengan baik, bukan

[21:22] hanya sekedar anak itu bertumbuh dengan

[21:24] baik, tetapi di dalam pengenalannya akan

[21:26] Tuhan itu pun turut dibangun. Begitu,

[21:28] Ibu. Terima kasih.

[21:29] Ya, terima kasih, Pak Hendra. Jadi,

[21:31] memang bagaimana kita sebagai orang tua

[21:33] itu ternyata mempengaruhi bagaimana cara

[21:36] anak melihat figur Bapak di surga. Ya,

[21:39] seperti itu ya tadi Pak Hendra ya. Jadi

[21:41] ada kerinduan apakah kita sebagai orang

[21:42] tua sudah menjadi figur yang baik tuh

[21:45] yang seperti apa sih gitu ya. supaya

[21:47] kita mewariskan sesuatu yang baik

[21:50] tentang ee bagaimana mereka bisa

[21:53] menerima figur Bapak gitu. Oke, thank

[21:56] you ya Pak Hendra. Mungkin yang lain

[21:58] bisa menjelaskan tadi yang sudah

[22:00] memberikan pendapatnya

[22:03] ya. Ini pengalaman saya Bu ya.

[22:05] Saya pun

[22:06] pengalaman saya ini. Jadi pengalaman

[22:08] saya bukan pengalaman orang.

[22:11] Saya punya anak tiga dan dalam

[22:13] perjalanan karir saya, saya tidak pernah

[22:15] menetap di suatu kota lebih 23 tahun.

[22:20] Saya pernah di Balikpapan, saya pernah

[22:22] di Abu Dhabi, saya pernah di Qatar, saya

[22:25] pernah di Bahrin. Dan sekarang kembali

[22:28] lagi ke Prancis dan saya punya anak tiga

[22:32] yang paling kecil itu paling suka main

[22:34] game.

[22:36] Jadi ibunya merasa was-was. ini anak

[22:40] kecanduan game. Kalau diberitahu dia

[22:43] marah,

[22:45] tapi di sekolah dia nilainya bagus

[22:47] terus. Jadi enggak ada apa namanya

[22:50] siasat dari ibunya untuk memaksa dia

[22:52] supaya belajar itu enggak mempan.

[22:56] Kemudian anak saya yang nomor dua yang

[22:58] perempuan karena pindah-pindah

[23:02] dan mungkin itu kesalahan saya juga ya.

[23:04] Kalau cari salah mudahlah. Artinya ee

[23:09] kita tidak menyiapkan perpindahan itu

[23:11] dengan baik. Anak saya yang perempuan

[23:13] tuh protes karena pada remajanya dia

[23:15] punya ada teman dekat yang dia sudah

[23:19] mulai dekat, kita pindah gitu. Jadi

[23:21] seolah-olah dicabut itu dari tempat dia

[23:24] berteman.

[23:25] Yang nomor satu karena kita

[23:27] pindah-pindah itu dia merasa saya enggak

[23:31] cocok di lingkungan ini dan saya tidak

[23:33] suka pelajaran eksakta sains. Saya

[23:36] enggak suka. Saya suka musik, saya suka

[23:38] belajar yang talintanya di situ. Tapi

[23:40] kita orang tua enggak ngerti. Saya

[23:43] selalu ribut dengan istri saya. Apakah

[23:45] sekolah yang beradaptasi sama anak-anak

[23:48] atau anak-anak yang beradaptasi dengan

[23:50] sekolah gitu. Jadi setiap kali pindah

[23:53] kita cari sekolah yang bisa menerima

[23:56] anak-anak itu. Jadi seolah-olah kita

[23:58] yang mengelola sekolah supaya cocok sama

[24:01] anak-anak. Itulah yang terjadi di

[24:03] pengalaman saya selama mereka remaja.

[24:05] Kalau sekarang sudah besar-besar sudah

[24:07] tinggal dari rumah. Sekarang ibunya itu

[24:09] yang mengalami emptiness karena

[24:11] anak-anaknya pergi semua dari rumah. Ya,

[24:14] itulah kompleksitas. Itu contoh

[24:16] pengalaman saya bahwa parenting itu

[24:18] bukan hanya anak-anak ya. di kita juga

[24:20] perlu ada parenting baru dengan apa pos

[24:23] remaja ya istilahnya begitulah itu Bu

[24:26] yang saya makasih Pak Ponsius ya menarik

[24:29] ya jadi ini menceritakan pengalaman tapi

[24:33] memang itu pengalaman yang berkesan dan

[24:35] harapan Bapak nih Pak harapan Bapak ya

[24:37] di masa sekarang gitu ya kalau misalkan

[24:39] ini kan sudah berlalu nih anak-anak

[24:41] sudah besar ya dengan yang sudah

[24:43] dilakukan dan diberikan kira-kira pada

[24:46] saat belajar parenting apa nih yang mau

[24:48] Bapak Pak terapkan atau untuk ke

[24:50] depannya seperti apa? Terbersit seperti

[24:53] apa tuh, Pak?

[24:55] Kehadiran. Jadi, orang tua itu harus

[24:57] hadir.

[24:58] Sama seperti tadi ya dari Ibu Rita ya

[25:01] bilang kehadiran dengan hati. Jadi bukan

[25:04] cuman kehadiran karena kita repot

[25:06] bekerja, repot ngurus anak separuh hati

[25:09] menjawab. Kadang-kadang kita harus duduk

[25:11] dengarin itu anak-anak itu mengom

[25:13] dengarin itu menurut saya penting yang

[25:16] harus mulai dari situ. Hadir dengan hati

[25:19] itu Bu.

[25:20] Iya. Iya. Jadi walaupun anak-anak sudah

[25:22] besar, sudah dewasa, itu bukan alasan

[25:25] bahwa kita berhenti tugas kita sebagai

[25:29] orang tua, tapi kita tetap memberikan

[25:31] teladan, tetap hadir untuk kita tetap

[25:34] meneruskan pola parenting kita dan

[25:36] teladan-teladan ya. parenting kita yang

[25:38] seperti apa untuk anak-anak kita. Ya,

[25:40] seperti itu ya, Pak Fonsius ya. Oke,

[25:43] terima kasih. Tadi ada Ibu-ibu boleh

[25:46] coba ini Bapak-bapak aktif ya hari ini

[25:48] ya. Nah, coba boleh Ibu-ibu boleh

[25:50] silakan. Ayo bisa kasih pendapatnya juga

[25:54] bisa kasih penjelasan silakan.

[26:00] Baik, mungkin saya Bu

[26:02] I boleh. Silakan. Saya percaya bahwa

[26:05] anak itu adalah milik Tuhan yang

[26:07] dititipkan ke kami orang tua sebagai

[26:10] wakil Allah di dunia. Tapi ee saya saya

[26:15] percaya bahwa kita butuh

[26:16] pengetahuan-pengetahuan

[26:18] lewat seminar parenting, baca buku

[26:20] parenting untuk bisa menambah pemahaman

[26:24] untuk bagaimana nih mengasuh mendidik ee

[26:28] milik Allah ini dengan baik. Begitu.

[26:30] Karena kalau tidak seperti itu, belajar

[26:34] dari pola parenting dari orang tua

[26:36] sebelumnya mereka tidak kenal ee tentang

[26:40] seminar parenting karena zaman mereka

[26:42] tidak ada itu dan mereka ya belajar dari

[26:45] orang tua mereka juga lagi. Jadi gini

[26:47] saya lihat kesalahan itu yang saya

[26:49] buatbuat di awal-awal. Jadi pola dari

[26:51] orang tua sebelumnya saya jadikan

[26:53] sebagai pola yang benar untuk mendidik

[26:55] anak-anak di rumah. Ternyata

[26:58] salah sih Bu. Jadi untuk mau tahu

[27:02] bagaimana yang benar harus ditambahkan

[27:04] pengetahuan-pengetahuan. Selain paling

[27:06] utama baca firman tapi

[27:08] pengetahuan-pengetan oleh orang yang

[27:09] berkompeten supaya saya bisa, saya dan

[27:12] suami bisa mengerti bagaimana ee

[27:15] mengasuh anak dengan baik. Begitu sih,

[27:16] Bu. Terima kasih.

[27:17] Iya, terima kasih, Bu Narita. Ibu Narita

[27:20] tidak sendirian ya. saya pun seperti

[27:22] itu. Jadi, kita memang sama-sama belajar

[27:24] karena kita mengadopsi pola-pola yang

[27:26] kurang tepat karena ketidaktahuan ya.

[27:29] Pada pada saat kita belajar konseling,

[27:31] kita mulai bisa menerapkan satu persatu

[27:33] dan tadi Ibu Narita ee katakan ya kita

[27:36] memutuskan ya ikatan-ikatan kemudian

[27:39] kita juga memutuskan atau memperbaharui

[27:41] memperbaharui siklus yang memang tidak

[27:44] tepat gitu ya. Oke, terima kasih

[27:46] teman-teman ya untuk jawabannya, untuk

[27:48] penjelasannya. Nah, sedikit banyak kita

[27:50] sudah satu ini satu suara berarti ya,

[27:54] bahwa tujuan parenting adalah bagaimana

[27:56] kita menjadi orang tua yang bertumbuh,

[27:59] berkembang semakin baik. Bagaimana kita

[28:01] mengenali pola-pola yang mungkin tidak

[28:03] tepat dan itu butuh waktu karena banyak

[28:06] sekali dan sudah terjadi bertahun-tahun.

[28:09] Bahkan kalau misalkan anak-anak kita

[28:10] sudah dewasa 20 tahun, 25 tahun atau

[28:12] mungkin yang anaknya sudah ee

[28:15] berkeluarga 30 tahun, kita orang tua

[28:17] yang memang e senior begitu ya, kita

[28:19] mungkin banyak dan terkejut melihat

[28:22] waduh selama ini ternyata kita

[28:25] memberikan pola-pola yang salah dan kita

[28:28] mewariskan pola-pola itu kepada generasi

[28:30] kita di bawah. Jadi memang tujuannya

[28:33] adalah bagaimana kita memutuskan siklus

[28:36] yang tidak tepat. berapapun usia kita

[28:39] ya, selama kita menjadi orang tua, maka

[28:42] proses parenting itu masih berjalan.

[28:44] Tapi mungkin perlu dibedakan ya proses

[28:47] parentingnya yang seperti apa yang masih

[28:49] terus berjalan. Kalau kita misalkan

[28:51] memiliki anak-anak yang sudah besar,

[28:52] yang sudah dewasa, kita jadi teladan

[28:54] bagaimana mereka belajar menjadi seorang

[28:57] ayah, bagaimana mereka belajar menjadi

[28:59] seorang ibu. Atau misalkan kita sudah

[29:02] memiliki cucu, nanti mereka terus

[29:04] belajar lagi dari proses kehidupan kita.

[29:06] bagaimana menjadi seorang kakek,

[29:08] bagaimana menjadi seorang nenek. Tidak

[29:10] ada yang terhenti proses belajar dari

[29:13] seorang anak dan proses parenting ini

[29:15] bisa terus dijalankan pada saat kita

[29:17] membesarkan anak-anak di dalam rumah

[29:20] kita yang menjadikan kita memiliki satu

[29:25] istilahnya ya kehausan untuk belajar dan

[29:27] keinginan untuk terus belajar lagi

[29:28] adalah supaya kita bisa membentuk

[29:30] karakter yang baik di dalam diri seorang

[29:32] anak ya. karakter Kristus. Kalau kita

[29:35] misalkan berbicara tentang iman ee

[29:38] kekristenan kita, apa sih yang disebut

[29:40] dengan karakter? Ternyata karakter itu

[29:43] adalah kualitas yang teguh dan khusus

[29:45] yang dibangun dalam kehidupan seseorang

[29:47] yang menentukan respon tanpa dipengaruhi

[29:49] kondisi yang ada. Jadi, sesuatu yang

[29:52] sudah melekat, yang dibangun dalam waktu

[29:54] yang lama

[29:56] itu menjadi sesuatu yang

[30:00] disebutkan sebagai sesuatu yang

[30:01] berkualitas. Karena dibangunnya ee

[30:04] menjadikan seseorang itu punya respon,

[30:08] menjadikan seseorang itu punya satu

[30:10] prinsip kehidupan. Dia bisa memiliki

[30:13] prinsip tanpa dipengaruhi kondisi yang

[30:15] ada. Itu disebutkan dengan karakter,

[30:18] kualitas yang teguh dan khusus yang

[30:20] dibangun dalam kehidupan seseorang.

[30:22] Kalau kita melihat di sini seperti

[30:24] seseorang yang sedang memahat batu. batu

[30:27] yang tadinya hanya satu bongkahan saja,

[30:29] tapi sekarang karena dipahat ya

[30:32] perlahan-lahan si pemahat itu punya pola

[30:34] di dalam pikirannya. Kemudian pola di

[30:36] dalam pikirannya itu dia tuangkan ke

[30:39] dalam karya pahatannya. Maka di dalam

[30:43] batu itu nanti lama-kelamaan akan

[30:45] terbentuk suatu pola. Nah, seperti ini

[30:48] kira-kira ya kalau ingin dibentuk satu

[30:51] pola yang berurutan yang berulang. Nah,

[30:53] proses pendidikan, proses parenting yang

[30:56] kita jalankan ternyata adalah proses

[30:58] seperti kita memahat batu yang tadinya

[31:02] bongkahan yang tidak yang tidak ada

[31:04] bentuknya sehingga sekarang batu itu

[31:06] memiliki bentuk tertentu. Nah,

[31:09] pertanyaannya pada saat kita tidak

[31:12] menginginkan pola yang sudah terbentuk

[31:15] di dalam satu batu ini, akan mudahkah

[31:18] kita merubahnya?

[31:20] Ya, kalau misalkan nanti suatu waktu

[31:22] polanya sudah terbentuk kemudian

[31:24] ternyata kita tidak suka dengan polanya

[31:27] entah karena satu dan lain alasan,

[31:31] akankah kita bisa mudah merubah pola

[31:34] yang sudah terbentuk di atas batu?

[31:37] Tentunya tidak mudah ya untuk kita

[31:40] membentuk. Makanya orang tua perlu

[31:43] belajar dan perlu punya keinginan atau

[31:47] kerinduan terus belajar. Untuk apa?

[31:48] untuk kita bisa membentuk pola-pola yang

[31:52] tepat dan memang kalau karena ini kelas

[31:55] ee pastoral ya sesuai dengan kebenaran

[31:58] firman Tuhan. Karasin ya bahasa asli di

[32:01] dalam karakter proses membentuk

[32:04] bagaimana dalam proses parenting itu

[32:07] bukan hanya teladan contoh cara makan ya

[32:11] memilih makanan yang sehat, cara

[32:13] berolahraga,

[32:14] cara belajar, cara duduk. Tapi bagaimana

[32:18] itu membentuk kepribadian melalui

[32:21] nilai-nilai yang diwariskan? Keimanan

[32:24] ya, kepercayaan, nilai-nilai bagaimana

[32:26] memandang kehidupan ini, bagaimana pada

[32:29] saat diperhadapkan pada kegagalan, pada

[32:32] saat diberikan keberhasilan. Nah, itu

[32:35] adalah pembentukan kepribadian,

[32:37] nilai-nilai yang kita wariskan. Nah,

[32:40] kemudian karakter itu juga dipengaruhi

[32:43] oleh lingkungan dan pengalaman

[32:46] traumatik. Jadi, banyak sekali yang

[32:49] bersumbangsih di dalam pembentukan

[32:51] karakter ya. Ada yang tadinya pola asuh,

[32:55] kemudian tipe kepribadian, kemudian

[32:57] nilai-nilai dari lingkungan, nilai-nilai

[33:00] dari keluarga, dan juga ada pengalaman

[33:02] yang traumatik.

[33:03] Kita mungkin pernah mendengar ya,

[33:05] seorang anak yang dikunci di dalam kamar

[33:08] mandi dalam ruangan yang gelap. Dia

[33:10] menjadi anak yang penakut. Kemudian

[33:13] seorang anak yang susah atau sulit makan

[33:17] kemudian ditakut-takuti oleh ayahnya

[33:19] atau ibunya atau pengasuhnya bagaimana

[33:23] kalau dia tidak mau makan dia dibawa ke

[33:24] dokter disuntik. Nah, itu akan menjadi

[33:27] nilai-nilai yang mereka percayai

[33:29] sehingga nanti pada saat anak itu

[33:31] dewasa, dia akan takut kepada tempat

[33:34] yang gelap, dia akan takut kepada

[33:37] dokter, ya, dia akan takut kepada

[33:39] polisi, satpam, dan lain sebagainya.

[33:41] Tergantung siapa yang kita pakai, tokoh

[33:45] yang mana yang kita pakai untuk

[33:47] menakut-nakuti anak itu. Nah, itu adalah

[33:49] unsur-unsur pembentukan karakter.

[33:52] Pernahkah ya Bapak Ibu mungkin ya ada

[33:55] adakah nilai-nilai yang sampai sekarang

[33:58] itu sangat melekat dan itu

[34:02] dari pola asuh?

[34:04] Boleh kalau ada yang ingin berbagi

[34:07] mungkin diingatkan ya dari contoh-contoh

[34:08] yang saya tadi ungkapkan mungkin ada

[34:12] contoh-contoh yang relate dengan Bapak

[34:13] Ibu dan seberapa kuatnya nilai-nilai itu

[34:18] melekat di dalam diri atau kehidupan

[34:21] Bapak Ibu dan mungkin Bapak Ibu juga

[34:23] tidak sadar mewariskan juga. Apakah ada

[34:26] pengalaman di area ini?

[34:31] Silakan kalau ada yang ingin berbagi.

[34:33] Kalau diingatkan tentang satu

[34:35] pengalaman.

[34:43] Ditakut-takuti mungkin ya. Ada lagi yang

[34:46] dikunci

[34:48] di ruangan gelap kemudian dibohongi

[34:53] gitu. Mungkin ada di antara kita yang

[34:56] pernah punya pengalaman ini.

[34:59] Silakan kalau ingin berbagi.

[35:06] Sebetulnya pengalaman banyak sih, Bu.

[35:08] Cuman semakin gede semakin bisa

[35:10] menetralkan. Contoh dulu itu kalau apa

[35:14] namanya enggak nurut sama orang tua itu

[35:18] nanti di diancam nanti Tuhan marah loh

[35:21] nanti kamu dihukum loh sama Tuhan gitu

[35:23] kan. Tapi kan semakin kenal apa Tuhan

[35:26] seperti apa kan itu itu sudah gak lagi

[35:28] menjadi false belief yang dipegang. Trol

[35:31] dulu kalau apa nakal selalu dibilang

[35:33] nanti dipanggil Pak Polisi loh ya nanti

[35:37] dibawa sama Pak Polisi loh. Lah akhirnya

[35:40] kan sama polisi. Terus tentang suntikan

[35:43] dokter kamu kalau nakal nanti dibawa ke

[35:46] dokter kamu disuntik loh. Lah kan apa

[35:51] gitu-gitu kan membentuk itu rasa takut

[35:53] ya Bu. Cuman makin gede kan makin enggak

[35:57] gitu.

[35:58] Heeh. Heeh. Iya.

[36:02] Iya. Iya. Jadi memang pengalaman itu

[36:03] memang nyata ya, Pak ya. Pernah dialami

[36:05] ya. Tiga-tiganya malahan ya. Polisi

[36:07] pernah, dokter pernah gitu ya.

[36:09] Pernah

[36:10] dan Tuhan marah juga pernah gitu ya.

[36:12] Heeh. Heeh. Heeh. Dan dan itu bagaimana

[36:15] rasanya Pak hidup dalam mungkin apa ya

[36:18] false belief tadi yang Bapak katakan

[36:21] kalau Bapak ingat gitu ya. Heeh.

[36:23] Ya, dulu itu kalau lihat ada polisi itu

[36:27] takut ya.

[36:29] takut apalagi kan ee apa ya keluarga

[36:33] kami merasa sebagai minoritas

[36:36] kalau sudah didatangi polisi

[36:40] itu tuh sudah langsung teratapan Bu

[36:41] terapan tuh bahasa Indonesianya apa ya

[36:44] itulah

[36:44] gemetar mungkin ya

[36:46] nah itu jadi itu ketakutan it takut

[36:49] polisi bukan teman saya papah saya itu

[36:51] juga takutnya luar biasa sama polisi.

[36:55] Iya iya iya iya. Ternyata itu ya itu

[36:58] pola yang memang dari cerita yang

[37:00] sederhana dari Pak Hendra itu adalah

[37:02] pola yang diwariskan dan diteruskan ya

[37:05] dari generasi ke generasi. Nah, itu

[37:07] hanya sekedar contoh ya bagaimana

[37:09] ternyata memang kita perlu belajar itu

[37:12] hal-hal yang kecil ya, hal tentang ee

[37:15] disuntik kalau misalkan tidak mau makan

[37:17] atau nakal kemudian ditangkap polisi

[37:20] atau mungkin ditakut-takuti Tuhan marah.

[37:22] Dan itu hanya tiga dari sekian banyaknya

[37:25] false belief yang mungkin tanpa sadar

[37:26] kita wariskan kepada anak-anak kita. Ya,

[37:29] untuk itu kita perlu ee meresponi dan

[37:32] belajar terus mana nih pola-pola yang

[37:35] ternyata saya sudah salah, saya sudah

[37:37] teruskan. Adakah Pak Hendra yang memang

[37:40] Bapak teruskan juga sama anak-anak tanpa

[37:43] sadar?

[37:44] Nah, ee kalau untuk saat ini kami belum

[37:49] punya anak, Ibu meskipun sudah sekian

[37:51] tahun ya, cuman ee apa ya terus terang

[37:54] dari kuliah LK3 ini semakin kebongkar

[37:57] Bu. Banyak hal yang salah yang kemudian

[38:01] ee saya berproses sendiri untuk untuk

[38:04] lepas. Salah satunya itu tentang

[38:06] emotional and spiritual abuse. Saya itu

[38:09] baru menyadari bahwa selama pernikahan

[38:12] kami, saya itu sering sekali melakukan

[38:14] cas lighting kepada istri. Dan itu saya

[38:17] kaget sekali ketika diterangkan cas

[38:20] lighting itu seperti apa. Wah, itu

[38:23] tiba-tiba langsung kerasa gila ternyata

[38:25] monster ya dalam pernikahanku ya. Nah,

[38:28] yang yang gitu-gitu Bu. Jadi semakin apa

[38:30] namanya ee ke sini makin belajar makin

[38:33] mengenali oh ini ini yang aku harus

[38:36] harus berproses untuk stop untuk aku

[38:38] perlu dipulihkan untuk begini untuk

[38:40] begitu. Demikian Ibu

[38:41] Iya terima kasih Pak Hendra. Jadi ada

[38:43] pengalaman yang memang bisa diterapkan

[38:44] ilmu-ilmu yang dipelajari itu ternyata

[38:46] praktis ya bisa diterapkan dalam

[38:48] kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini ee

[38:51] dalam berumah tangga, Pak Hendra

[38:53] memahami, oh ternyata ini loh bisa

[38:55] terdefinisi ya gas lighting. Kemudian

[38:58] ciri-cirinya seperti itu dan

[38:59] memperbaiki. Itu sesuatu yang bagus ya,

[39:02] Pak ya, untuk di untuk diteruskan,

[39:04] ditingkatkan karena kita semua sama ya,

[39:07] belajar konseling itu tadi ya seperti

[39:10] yang Ibu bagikan ya di awal tadi

[39:13] renungan. Kita berpikir bahwa untuk

[39:14] menolong orang lain. Padahal Tuhan ingin

[39:16] menolong kita dulu. Pada saat kita sudah

[39:19] pulih, pada saat kita sudah memiliki

[39:21] pola pikir yang baru, baru kita bisa

[39:24] melihat hubungan itu dengan kacamatanya

[39:27] Tuhan. Nah, demikian juga hubungan kita

[39:29] dengan anak-anak ya. kita perlu

[39:32] menyadari bahwa ternyata ya ada sesuatu

[39:36] yang sedang kita pahat di dalam diri

[39:38] atau kehidupan anak-anak kita, karakter

[39:41] dan itu sudah jadi pola. Kalau kita mau

[39:43] mengubah mereka maka itu bukan sesuatu

[39:46] yang mudah. Nah, seringki orang tua

[39:49] menyadari ada sesuatu yang berjalan

[39:52] tidak semestinya atau mungkin ada

[39:54] sesuatu yang tidak sesuai harapan ingin

[39:56] anaknya yang berubah

[39:59] tanpa menyadari bahwa ternyata ini

[40:02] adalah pola-pola yang kita berikan. Ini

[40:05] adalah ee sesuatu yang kita pahat di

[40:07] dalam kehidupan mereka. Maka pada saat

[40:09] kita belajar akan baik sekali untuk kita

[40:13] bisa menyadari bahwa ya orang tua

[40:16] bertumbuh, kemudian anak-anak juga

[40:18] bertumbuh. Nah, unsur-unsur pembentukan

[40:20] karakter dalam diri seorang anak, unsur

[40:24] keturunan. Unsur keturunan adalah

[40:26] hal-hal yang kita turunkan, ya. Unsur

[40:28] keturunan adalah hal-hal yang kita

[40:30] wariskan tadi false belief-nya.

[40:33] Bagaimana seorang anak memandang bapak

[40:35] di surga? Bagaimana seorang anak

[40:37] memandang dokter atau bagaimana seorang

[40:39] anak memandang polisi. Nah, itu kan

[40:42] kalau misalkan dia mengalami trauma

[40:44] ditakut-takuti, maka ini sesuatu yang

[40:46] perlu kita perbaiki.

[40:49] Apakah unsur keturunan itu sama dengan

[40:52] kutu keturunan?

[40:55] Ya. Jadi kalau misalkan kita berhadapan

[40:57] dengan ee jemaat di dalam gereja

[41:01] itu akan terbentur di sini

[41:04] ya berkali-kali atau berulang kali

[41:07] didoakan ya tapi mereka masih terus

[41:11] merasa tidak mampu karena ada sesuatu

[41:14] yang mengikat, ada sesuatu yang

[41:18] membelenggu. ada sesuatu yang perlu

[41:21] diusir atau ditengking misalkan seperti

[41:24] itu. Boleh kalau ada yang punya

[41:26] pendapat.

[41:31] Unsur keturunan

[41:33] itu apakah sama dengan kutuk keturunan?

[41:37] Kayaknya kok beda ya, Bu. Kalau unsur

[41:38] keturunan kan lebih ke genetik ya

[41:43] atau genetik atau mungkin bisa terkait

[41:45] dengan tradisi budaya dari satu suku

[41:49] tertentu yang membentuk. Tapi kalau

[41:51] sudah kekutuk keturunan kok saya

[41:53] ngelihat ee beda konteks barangkali ya

[41:56] Bu ya.

[41:58] Iya sama-sama keturunannya hanya beda

[42:01] konteks ya. Mungkin ada pendapat yang

[42:03] lain. Terima kasih Pak Hendra. Silakan

[42:05] kalau ada pendapat yang lain.

[42:12] Saya coba jawab Bu Lina

[42:13] ya. Silakan.

[42:15] Menurut saya berbeda ee antara unsur

[42:18] keturunan dengan kutuk keturunan. Kalau

[42:21] unsur keturunan itu seperti kalau kita

[42:23] belajar genogram itu terlihat karakter

[42:27] awal dari let's say keturunan dari kelas

[42:30] ee dari levelnya nenek lah nenek kakek

[42:34] gari pihak ayah maupun ibu mempunyai

[42:37] karakter-karakter yang seperti apa

[42:39] kemudian menurun ke ee ayah dan ibunya

[42:46] kemudian menurun lagi ke anaknya. Jadi,

[42:49] bagi saya itu yang disebut ee unsur

[42:51] keturunan. Selain dari ee menurut saya

[42:55] itu cariernya itu kalau untuk karakter

[42:58] anak itu dari tiga tiga unsur ya. Jadi

[43:01] dari anak itu sendiri sebagai seorang

[43:04] pribadi yang baru, dia juga membawa

[43:06] karakter yang baru, yang unik. Karakter

[43:09] dari ayah yang merupakan juga turunan

[43:12] dari karakter kakeknya, dari pihak

[43:14] kakek, lalu ke bawah-bawahnya. Kemudian

[43:18] karakter dari pihak nenek ke ibu sampai

[43:21] ke bawahnya. Jadi menurut saya ya itu

[43:23] tiga tiga unsur ee karakter yang muncul

[43:27] di satu anak sebagai pribadi yang baru.

[43:29] Begitu Bu.

[43:30] Iya. Terima kasih Bu Emelda. Berarti Bu

[43:32] Emelda kemudian Pak Hendra juga setuju

[43:34] ya bahwa unsur keturunan itu berbeda

[43:36] dengan kutu keturunan. Tapi pada saat

[43:39] kita mungkin nanti menangani kasus-kasus

[43:42] atau berbincang dengan orang tua-orang

[43:45] tua yang punya masalah di dalam

[43:47] parenting, nah seringki ini muncul ya.

[43:50] Mereka mengatakan bahwa ini adalah kutuk

[43:53] keturunan. Jadi pola-pola yang salah ini

[43:57] jadi karena itu kutuk dari nenek moyang

[44:00] dan mereka tidak tahu bagaimana caranya

[44:02] selain berdoa dipatahkan, dilepaskan ya.

[44:07] Nah, nah kita sekarang ee mau membedakan

[44:10] kalau di di Alkitab Galatia 13 ayat 13

[44:15] sampai 14 di situ dikatakan bahwa

[44:19] terkutuklah orang yang tergantung di

[44:21] kayu salib. Ya, jadi Galatia 3 itu

[44:23] dikatakan bahwa Yesus sudah menanggung

[44:26] semua kutuk kita ya. Jadi semua kutuk

[44:29] itu sudah dipatahkan. Nah, tapi ada

[44:32] hal-hal yang perlu diperbaiki. Roma 12

[44:34] ayat yang kedua di situ mengatakan kita

[44:36] perlu mengalami yang namanya pembaharuan

[44:38] budi. Kemudian Efesus 4:23 juga kita

[44:42] diperbarui di dalam roh dan pikiran

[44:44] kita. Nah, pikiran, pikiran, dan pikiran

[44:47] itu adalah hal-hal yang mungkin tidak

[44:50] sesuai dengan kebenaran yang masih kita

[44:52] percayai, hal-hal yang memang kita ee

[44:56] wariskan dari turuntemurun. tadi yang

[44:58] sudah kita bahas ya di contoh-contoh

[45:01] kalau misalkan istilahnya

[45:04] ee anak laki-laki misalkan ya lebih

[45:08] penting atau lebih utama lebih lebih

[45:11] bernilai atau lebih berharga daripada

[45:12] anak perempuan. Nah, itu adalah

[45:16] false belief gitu ya yang kita memang

[45:18] bisa wariskan. Nah, kita percaya bahwa

[45:20] semua kutuk itu sudah dipatahkan. Tidak

[45:23] ada lagi yang bisa istilahnya ee

[45:26] merampas ya kehidupan kita. karena

[45:27] kehidupan kita sudah di tangan Kristus

[45:29] yang menebus kita. Tapi ada hal-hal yang

[45:32] perlu kita perbaharui pola pikir kita.

[45:35] Nah, ini adalah bagian bagaimana manusia

[45:39] itu berespon dan bertumbuh. unsur

[45:41] keturunan tadi setuju ya, bahwa segala

[45:44] sesuatu yang kita teruskan dari

[45:47] keturunan ke keturunan, cara berkonflik,

[45:51] kemudian cara berkomunikasi,

[45:54] cara meregulasi emosi, ya kemudian kita

[45:58] ee sopan santun dan lain sebagainya.

[46:00] Nah, itu yang kita wariskan.

[46:03] Kemudian apalagi yang membentuk karakter

[46:04] anak, urutan kelahiran di dalam

[46:06] keluarga. ada anak yang sulung, anak

[46:10] yang tengah, anak yang bungsu atau anak

[46:12] tunggal itu pasti berbeda. Karena

[46:15] mungkin lingkungan atau sekitarnya untuk

[46:17] anak yang tunggal itu begitu

[46:19] memperhatikan.

[46:20] Kalau misalkan orang tua tidak punya

[46:22] batasan, yang jelas memberikan semua

[46:25] yang anaknya itu minta. Karena mungkin

[46:28] anak ini juga anak yang ditunggu-tunggu

[46:29] sekian lama dalam pernikahan, ya. Maka

[46:32] itu juga berpengaruh terhadap karakter

[46:35] si anak. mungkin dia akan manja, mungkin

[46:37] dia akan akan lebih apa ya mengabaikan

[46:41] peraturan dan lain sebagainya. Ada lagi

[46:43] pengaruh lingkungan dan tadi ya

[46:45] pengalaman traumatik.

[46:46] Pengalaman-pengalaman apa yang pernah

[46:48] kita temui? Trauma. Trauma-trauma itu

[46:51] mungkin bukan hanya polisi dokter saja

[46:54] ya, tapi juga trauma kehilangan. Trauma

[46:57] kehilangan. Kehilangan bisa kehilangan

[47:00] apapun. kehilangan keluarga, kehilangan

[47:04] benda-benda yang memiliki memori

[47:06] tertentu, kehilangan teman karena

[47:10] berpindah-pindah. Nah, tadi kan ada

[47:11] kasus tuh ya ee keluarga Paponsius ya

[47:14] yang berpindah dari satu tempat ke satu

[47:16] tempat yang lain. Mungkin itu

[47:17] berpengaruh dalam kehidupan diri

[47:19] anak-anak di dalam keluarga. pengalaman

[47:22] traumatik mungkin baru menetap kemudian

[47:25] baru punya teman baru nyaman sudah

[47:28] pindah lagi. Nah, kalau

[47:29] pengalaman-pengalaman ini tidak

[47:31] diselesaikan yang traumatis seperti ini,

[47:33] maka itu akan menjadi

[47:36] mempengaruhi karakter seorang anak.

[47:38] Mungkin dia jadi sulit untuk percaya

[47:42] karena dia tahu nanti sebentar pada saat

[47:44] saya mulai mempercayakan diri saya pada

[47:46] satu hubungan pertemanan dan lain

[47:47] sebagainya mungkin itu akan hilang dan

[47:50] lain sebagainya ya. Pengalaman traumatik

[47:52] pengalaman traumatik tadi kehilangan

[47:55] kemudian pengalaman traumatik tadi

[47:57] mengalami mungkin pelecehan,

[48:00] mungkin ditakut-takuti dan lain

[48:02] sebagainya. Nah, nah itu adalah sesuatu

[48:04] yang kita perlu

[48:07] refleksi hari ini, ya. Jadi, kita sambil

[48:09] belajar, kita sambil catat nih. Karena

[48:12] modul ini bukan berbicara tentang kita

[48:15] menolong orang lain dulu, tapi lebih

[48:18] banyak untuk kita refleksi dulu baru

[48:20] setelah itu kita bisa melihat ya diri

[48:23] kita. Kemudian kalau kita sudah

[48:25] menemukan ya berbagai macam ee

[48:28] titik-titik yang mungkin sekarang masih

[48:30] tersebar puzzel-puzelnya

[48:32] sekarang sudah bisa mulai disatukan,

[48:34] sudah mulai terlihat gambarannya

[48:37] ternyata pola parenting yang seperti apa

[48:39] yang ingin kita tingkatkan, yang ingin

[48:41] kita ee tumbuh kembangkan ya, respon

[48:44] yang seperti apa yang ingin kita

[48:45] hadirkan dalam keluarga, maka di situ

[48:48] akan mudah juga bagi kita melihat

[48:51] atau kalau pada saat kita mungkin

[48:53] dilihat libatkan di dalam komunitas dan

[48:55] lain sebagainya untuk kita mendampingi

[48:57] orang-orang yang memiliki masalah atau

[49:00] isu di dalam parenting. Ya, saya melihat

[49:02] ada tangan yang terangkat. Silakan Kak

[49:05] Narita.

[49:06] Iya, Bu. Ee saya mau nanya

[49:09] tadi unsur keturunan itu, Ibu misalnya

[49:11] kayak anak saya ya, Bu ya. Ee suami saya

[49:14] tuh kan punya kebiasaan kalau tidur itu

[49:16] kakinya itu harus ditendes bantal.

[49:19] Bantal atau kain panas eh selimut

[49:22] pokoknya. tinggi tinggi tinggi di tenis

[49:24] dia lebih dia akan tidurnya kalau

[49:26] seperti itu. Nah, waktu itu anak saya 2

[49:29] tahun dan oh iya di dan di bawah bantal

[49:31] yang di tende di tendes itu dia selalu

[49:33] gosok apa gosok ee kakinya di bawah

[49:36] bantal. Tapi anak saya yang 2 tahun, Ibu

[49:39] kan dia kan tidak belum pintar belajar

[49:41] ya tentang itu, tapi dia secara tidak

[49:44] apa ya secara tidak otomatis secara

[49:47] otomatis itu melakukan hal tersebut.

[49:50] Atau mungkin ada beberapa pola lain yang

[49:52] maksudnya kita belum ajar dan menurut

[49:55] kami ee belum dia belum punya kemampuan

[49:58] untuk meniru tapi kok bisa buat sama ya

[50:02] Bu ya? Apakah itu bisa kebiasaannya bisa

[50:05] mirip ya? Apakah itu unsur keturunan

[50:07] juga?

[50:08] Terima kasih, Bu.

[50:09] Iya. Iya. Nah, itu adalah sesuatu yang

[50:11] dipelajari karena anak-anak walaupun

[50:13] mereka belum bisa berbicara secara

[50:15] verbal, tapi mereka kan menyerap

[50:18] lewat panca indra yang lainnya, lewat

[50:20] sensoris mereka gitu. Jadi mereka bisa

[50:23] sampai walaupun mereka belum bisa bicara

[50:25] tapi mereka tahu kalau misalkan ayah

[50:27] ibunya bertengkar dengan suara-suara

[50:30] keras yang ada dengan benda-benda yang

[50:33] mungkin ya ee pecah yang ada di ee rumah

[50:37] itu. Walaupun dia tidak menyaksikan

[50:40] langsung, tapi dia bisa mendengar. Dan

[50:42] anak-anak itu adalah pribadi yang

[50:44] menyerap seperti spons. Mereka akan

[50:46] serap semua yang ada di dalam sekeliling

[50:50] mereka. itu adalah bagaimana proses

[50:51] mereka belajar. Jadi walaupun tadi 2

[50:53] tahun ya mereka akan melihat melihat

[50:58] melihat mereka mulai menirukan. Nah,

[51:00] anak-anak itu kan 2 tahun itu mulai

[51:03] ingin berbicara mereka menirukan dari

[51:04] apa yang mereka dengar. Panca indranya

[51:07] itu aktif sekali. Matanya juga sama.

[51:09] Walaupun kita tidak ajarkan, tapi mereka

[51:11] melihat. Dari situ mulai mereka ingin

[51:13] meniru. Mungkin salah-salah tapi nanti

[51:16] mereka bisa ee ketemu tuh cara yang

[51:19] tepatnya sehingga kaget ya kita loh kok

[51:22] anak ini tiba-tiba bisa gitu ya. Jadi

[51:24] itu adalah sesuatu yang mereka ee lihat

[51:27] dari kebiasaan orang tuanya gitu ya.

[51:31] Jadi kebiasaan-kebiasaan yang memang

[51:32] diperlihatkan jadi itu sesuatu yang

[51:34] menetap dan itu ya jadi sama dengan

[51:37] orang tuanya gitu ya. Kita memberikan

[51:39] teladan dan contoh seperti itu ya. Bu

[51:42] Narita. Iya, mungkin ada yang ingin

[51:44] bertanya lagi? Silakan kalau ada sebelum

[51:46] saya melanjutkan.

[51:49] Kalau tidak ada saya lanjutkan.

[51:53] Iya.

[51:54] Nah, kemudian kita akan melihat bahwa

[51:57] ini adalah yang memang ada atau terakses

[52:02] ke dalam anak-anak kita ya, ke dalam

[52:05] generasi kita, anak-anak muda ya zaman

[52:07] sekarang. Nah, kalau kita melihat ya

[52:09] bagaimana pergumulan anak-anak zaman

[52:12] sekarang ya, kita

[52:14] mungkin bisa dari Gensi C ya, kemudian

[52:17] genen alpha lah itu ya usia 13 28 tahun

[52:21] mungkin anak-anak yang dari Bapak, Ibu

[52:24] Saudara tuh mewakiliah ada di sini ya.

[52:26] Kalau di bawah dari Gensi itu Gen Alfa

[52:28] 13 tahun ke bawah. Nah, karakter utama

[52:32] mereka ya adalah anak-anak yang memang

[52:35] dibesarkan di dalam

[52:37] ini apa ee perkembangan digital yang

[52:40] hebat, digital natif malah dibilang ya.

[52:42] Kalau kita misalkan di dalam di dalam

[52:43] satu sekolah ada guru bahasa Inggris

[52:46] yang benar-benar orang bule kita

[52:48] bilangnya itu kan natif, orang asli gitu

[52:49] loh dari sana gitu ya, dari dari luar

[52:52] negeri yang akan mengajarkan kita

[52:54] belajar bahasa Inggris. Nah, anak-anak

[52:56] kita pun juga ternyata mereka natif di

[52:58] dalam teknologi digital.

[53:00] orang yang anak-anak yang cepat,

[53:02] kemudian anak-anak yang memang visualnya

[53:04] kuat sekali, anak-anak yang otentik.

[53:07] Jensy itu adalah anak-anak yang senang

[53:09] dengan keterbukaan. Jensy adalah

[53:13] anak-anak orang ee remaja, dewasa muda

[53:17] yang menghargai kejujuran, otentik asli.

[53:21] Mereka akan menolak kalau ya sesuatu itu

[53:25] terlihat palsu, tidak tulus,

[53:28] dibuat-buat. Ya, makanya sekarang kan

[53:31] pergumulan mengapa Jensi hilang dari

[53:33] gereja. Nah, itu kan yang seringkiali

[53:35] ada di medsos atau mungkin di gereja

[53:37] kita. Karena mereka adalah orang yang di

[53:40] satu sisi mereka memang teknologinya,

[53:44] perkembangan teknologi semakin tinggi

[53:46] mereka bisa menguasai, tapi mereka

[53:48] adalah orang yang teliti atau cermat.

[53:51] Mereka akan bisa atau merasakan atau

[53:54] butuh orang-orang yang memang jujur apa

[53:57] adanya. Nah, seringki orang tua tidak

[53:59] memahami ini. Orang tua ingin terlihat

[54:03] kuat, ingin terlihat hebat, tidak bisa

[54:06] meminta maaf. Akhirnya apa? Pola

[54:08] parentingnya keras

[54:10] karena tidak tidak mengizinkan dirinya

[54:12] terlihat lemah. Untuk orang tua Jen X ya

[54:16] di atasnya Jen Z itu ada dua generasi di

[54:19] atasnya tuh. Jen X itu adalah orang tua

[54:23] yang dibesarkan oleh

[54:26] baby boomers. misalkan ya di atasnya

[54:28] lagi itu kan kita enggak punya tuh

[54:30] pola-pola untuk jujur apa adanya.

[54:34] Jangan terlihat lemah. Kan yang kita

[54:36] diajarkan seperti itu. Kita diajarkan

[54:38] oleh orang tua kita jangan berikan

[54:41] istilahnya kesempatan untuk orang lain

[54:43] melihat kita lemah. Harus kuat, harus

[54:46] bisa. Bahkan di gereja pun mereka

[54:48] mendengarkan kata-kata seperti itu.

[54:50] Tidak ada waktu untuk kita mungkin bisa

[54:53] curhat atau berkeluk kesah atau bisa

[54:56] menyampaikan pikiran atau pendapat.

[54:59] Tapi terima saja, terima saja. Harus

[55:01] kuat ya, harus harus setuju. Nah, itu

[55:06] akan sulit untuk Jen bisa menerima.

[55:10] Mereka adalah generasi yang berani

[55:11] bersuara, mandiri tapi rapuh.

[55:15] Karakteristik utamanya orang-orang yang

[55:17] sangat ahli di medsos. Apa-apa mereka

[55:19] cari medsos. Bahkan saya punya satu

[55:21] klien 17 tahun ya sebelum sesi konseling

[55:25] dia sudah tanya dulu, "Miss Lina itu

[55:29] background-nya apa?" Nah, ya seperti itu

[55:32] ya. Ditanya dicek dulu di mana saya

[55:34] belajarnya, ambil kelas di mana, sudah

[55:37] menguasa gitu ya. Karena mereka tahu

[55:40] nih, ternyata kalau saya konseling itu

[55:43] harus pergi ke orang yang tepat, harus

[55:46] pergi ke orang yang kompeten, harus

[55:49] pergi ke orang yang bisa

[55:50] dipertanggungjawabkan. Nah, kita harus

[55:52] siap untuk menangani geni atau anak-anak

[55:55] kita yang punya pikiran yang kritis

[55:57] seperti ini. Kemudian

[56:01] klien saya ini cenderung overthinking

[56:04] dan pada saat cerita dia bilang seperti

[56:06] ini ya. Seringkiali saya overthinking

[56:08] pikiran saya pada saat saya tidur tuh

[56:10] berjalan-jalan

[56:11] ee seperti spiral effect kata dia

[56:14] seperti itu ya. Kemudian dia

[56:15] memperhatikan muka saya. Miss Lina tahu

[56:18] apa yang dinamakan dengan spiral effect.

[56:20] Nah, ya. seperti itu. Mereka tuh ingin

[56:23] jawaban yang jujur. Untung saya tahu,

[56:25] Bapak, Ibu, Saudara ya. Jadi, saya

[56:27] kemukakan apa pendapat saya. Ini

[56:29] pendapat dari Miss Lina. Kemudian

[56:31] pendapat kamu yang seperti apa? Oh, ya

[56:34] sama Miss. Sama. Nah, tapi kalau kita

[56:37] tidak tahu, mereka akan sangat

[56:39] menghargai kalau kita jujur. Kalau kita

[56:43] pura-pura tahu atau sok tahu ya mereka

[56:45] padahal mereka tahu jawaban yang

[56:47] sebenarnya, maka kita dianggap sebagai

[56:50] orang yang tidak otentik.

[56:53] Nah, itu adalah generasi yang kita

[56:55] hadapi sekarang saat ini mungkin

[56:57] anak-anak kita.

[56:59] Kemudian mereka

[57:01] mengenal yang namanya budaya viral and

[57:04] cancel culture. ya istilahnya kalau ada

[57:07] seseorang yang mungkin

[57:10] em seseorang public figure tapi ternyata

[57:13] dia diselidiki di latar belakangnya

[57:16] melakukan perundungan atau bullying atau

[57:19] punya hal-hal yang tidak bisa diterima

[57:21] di dalam sosial maka mereka

[57:25] langsung bisa berpikir bahwa orang ini

[57:27] kena yang namanya cancel culture.

[57:29] Makanya kita juga perlu belajar

[57:31] istilah-istilah mereka gitu ya.

[57:33] globalisasi mereka punya yang namanya

[57:36] beban tekanan perfeksionisme di dalam

[57:39] digital. Bagaimana standar diri mereka

[57:41] itu ditentukan oleh medsos. Bagaimana

[57:44] standar diri mereka, citra diri,

[57:47] keberhargaan diri mereka itu bergantung

[57:51] kepada standar yang memang ada di media

[57:53] sosial. Entah itu perempuan, entah itu

[57:56] laki-laki sama semuanya ya. Mereka punya

[57:59] tekanan yang sama. bagaimana mereka

[58:01] merasa dirinya tidak berharga, mereka

[58:03] merasa dirinya kok ee sangat tidak

[58:06] beruntung. Sedangkan yang di medsos itu

[58:08] wara-wiri seliweran, orang-orang yang

[58:10] hidupnya beruntung. Ya. Nah, di sini

[58:13] kita perlu memahami, kita perlu memahami

[58:16] apa sih yang mereka rasakan, apa sih

[58:18] yang mereka inginkan, dukungan yang

[58:21] seperti apa. Kalau kita sebagai orang

[58:24] tua atau orang dewasa yang ada atau

[58:27] mendampingi mereka, kita tidak mengerti.

[58:29] Kemudian kita pakai pola pikir kita

[58:31] bahwa kamu kurang bersyukur, kamu sudah

[58:34] untung, kamu ada seperti ini. Kamu coba

[58:37] lihat kepada yang lebih kurang daripada

[58:39] kamu. Nah, itu ada sesuatu yang mungkin

[58:42] akan menjadi blok komunikasi yang

[58:44] ngeblok dengan anak-anak Jens. Mereka

[58:47] perlu kejujuran kita. Mereka perlu

[58:51] divalidasi perasaannya ya, nilai-nilai

[58:54] mereka. Be yourself. Be yourself ya.

[58:57] mereka ingin tampil, mereka ingin ee

[59:01] diakui. Jadi mereka akan pakai segala

[59:04] cara. Mungkin kalau mereka punya pola

[59:06] pikir yang kurang tepat pada saat kita

[59:08] membesarkan mereka, mungkin mereka pakai

[59:11] cara instan. Mereka tidak tahu yang

[59:13] namanya berjuang. Kalau kita mungkin

[59:15] memberikan segala sesuatunya itu

[59:18] mencukupi bahkan melimpahi mereka, tapi

[59:22] kita mengecilkan arti mendidik atau

[59:25] memberi kesempatan mereka untuk gagal,

[59:28] memberi kesempatan untuk mereka

[59:29] bertanggung jawab. Nah, mereka akan

[59:32] sangat memakai cara-cara yang instan ya.

[59:36] Kemudian ee anak-anak yang inklusif ya

[59:39] menerima perbedaan berbeda itu oke.

[59:41] Sehingga mereka bisa bergaul dengan

[59:43] siapa saja di dunia maya.

[59:45] Mereka bisa terkoneksi dengan siapa saja

[59:48] di dunia maya. Kalau Bapak Ibu

[59:50] perhatikan

[59:52] berdiskusi sama anak-anak ya, apakah

[59:55] mereka mengenal orang-orang yang ada

[59:56] satu grup di dalam game mereka?

[01:00:00] Mereka bisa kenal bisa enggak. Dan kalau

[01:00:03] mereka kenal siapa orang-orang itu? Ya,

[01:00:06] kalau di kelas ini kan ada dari berbagai

[01:00:08] kota sampai berbeda negara juga ya. Di

[01:00:10] game juga sama, tapi bagaimana mereka

[01:00:13] bisa sama-sama walaupun mereka berbeda

[01:00:16] kota, berbeda latar belakang, berbeda

[01:00:18] usia, berbeda negara, tapi mereka bisa

[01:00:21] sama-sama saling mendukung di dalam

[01:00:23] game, bisa saling membutuhkan, bisa

[01:00:25] saling mencari satu dengan yang lain di

[01:00:27] dalam game. Nah, itu mereka

[01:00:31] tidak masalah bagi mereka. Walaupun

[01:00:33] mungkin orang-orang itu tidak beragama,

[01:00:37] walaupun mungkin orang-orang itu mereka

[01:00:39] tidak tahu bagaimana latar kehidupannya,

[01:00:43] memiliki istilahnya ya kecenderungan

[01:00:46] seksual yang seperti apa mereka tidak

[01:00:48] peduli. Yang penting mereka punya satu

[01:00:52] nilai yang sama main game dan main

[01:00:55] game-nya itu mengasikkan. Saling dukung,

[01:00:57] saling support. Nah, kemudian mereka

[01:01:00] sangat peduli terhadap yang namanya

[01:01:01] mental health.

[01:01:03] Dari mana kita tahu mereka sangat

[01:01:05] peduli? Karena pada saat mereka

[01:01:06] konseling atau mereka berdiskusi,

[01:01:10] kebanyakan anak-anak Jensy itu mencari

[01:01:11] tahu loh tentang apa yang mereka alami.

[01:01:15] Mereka tahu istilah NPD, G lighting juga

[01:01:18] mereka tahu ya. mental health yang

[01:01:21] gejala-gejalanya mereka juga tahu,

[01:01:24] disorder-disorder gitu mereka tahu. Tapi

[01:01:26] kecenderungan ini pada saat tidak

[01:01:28] didampingi oleh profesional maka akan

[01:01:31] menjadi sesuatu yang tidak tepat. Mereka

[01:01:34] jadinya selfiagnos. Mereka jadi

[01:01:36] mendiagnosa diri mereka. banyak yang

[01:01:39] datang ke dalam ruang konseling, mereka

[01:01:43] sudah ya istilahnya yakin 50% ke atas

[01:01:47] eating disorder dengan bahasa-bahasa

[01:01:49] yang ilmiah ya. Kemudian ini apa? Eh,

[01:01:53] borderline, personality katanya gitu ya.

[01:01:56] Ada beberapa juga yang bilang bipolar.

[01:01:59] Waduh. Ya, untuk istilah-istilah yang

[01:02:01] seperti itu kita jangan ragu-ragu untuk

[01:02:04] menyarankan mereka mencari tahu lebih

[01:02:07] lagi. Dan memang untuk yang tadi

[01:02:09] istilah-istilah yang disebutkan itu ada

[01:02:11] orang khusus yang bisa membantu kita

[01:02:14] jangan ikut-ikutan sebagai orang dewasa

[01:02:16] yang men-judge atau kita jadi langsung

[01:02:18] panik atau cemas. Tapi kita ini satu

[01:02:20] ruang untuk diskusi dengan mereka, satu

[01:02:23] ruang untuk kita terhubung dengan

[01:02:24] mereka. Ya, mungkin ini bukan kita

[01:02:27] dapatkan di ruang konseling, tapi kita

[01:02:29] dapatkan ciri-ciri ini atau diskusi atau

[01:02:32] topik-topik ini di rumah kita. Nah,

[01:02:35] bagaimana cara kita meresponi? Ya, ada

[01:02:38] orang tua yang memang mengecilkan arti

[01:02:40] atau pendapat dari anak-anaknya. Hah,

[01:02:43] kamu ya

[01:02:46] jangan sok tahu. Mungkin seperti itu.

[01:02:49] Kamu jangan jangan pikir kebanyakan.

[01:02:53] Nah, mereka Jens anak-anak zaman

[01:02:56] sekarang ya salah satu tantangan

[01:02:58] parenting kita adalah mereka ingin

[01:03:00] didengarkan tapi adakah telinga yang

[01:03:03] ingin mendengarkan mereka? Itu adalah

[01:03:05] pertanyaannya ya. Jensy ini ada

[01:03:08] perbedaan dengan orang tuanya. Jenseny

[01:03:11] itu ada perbedaan dengan generasi di

[01:03:12] atas-atasnya.

[01:03:14] Jens itu memiliki keinginan

[01:03:17] mereka berlomba-lomba ingin tampil tadi

[01:03:20] kan be yourself ingin menjadi dirinya

[01:03:22] sendiri menampilkan apa yang menurut

[01:03:24] mereka baik. Makanya kita akan melihat

[01:03:27] ya konten segala macam rupa kan. konten

[01:03:30] joget-joget, konten nyanyi, konten iklan

[01:03:33] apa ya dari barang-barang keperluan

[01:03:36] sehari-hari hingga dustter itu memang

[01:03:38] Jensy. Apa aja dia pengin promosiin

[01:03:42] mungkin kita orang-orang orang-orang di

[01:03:44] atas itu yang tidak mengerti mereka,

[01:03:45] aduh yang begini aja dipromosiin, yang

[01:03:49] gini aja ya di dibuat konten. Tapi ada

[01:03:54] kebutuhan di dalam diri anak-anak kita

[01:03:56] untuk menjadi content creator. mereka

[01:03:59] ingin bekerja di dalam industri kreatif

[01:04:01] digital. Nah, tapi orang tuanya

[01:04:03] menganggap itu pekerjaan yang tidak

[01:04:05] stabil, tidak nyata, tidak baik. Ya,

[01:04:07] makanya itu menjadi satu kendala untuk

[01:04:10] kita berkomunikasi dengan gensy.

[01:04:13] Kemudian hambatan lagi, hambatan gap

[01:04:15] apaagi antara kita dengan anak-anak

[01:04:18] kita? Tantangan di dalam parenting.

[01:04:20] Jensy itu lebih terbuka terhadap isu

[01:04:22] sosial. Misalnya kesetaraan gender,

[01:04:25] laki-laki dan perempuan sama saja.

[01:04:27] mereka akan kritis terhadap isu ini.

[01:04:30] Mungkin mereka melihat di dalam ee

[01:04:32] rumahnya ya, bagaimana peran ayah atau

[01:04:35] peran ibu itu tidak sesuai dengan

[01:04:38] fungsinya. Mereka akan menjadi

[01:04:40] orang-orang yang kritis. Kemudian mereka

[01:04:43] juga sangat peduli kepada kesehatan

[01:04:46] mental atau hak minoritas. Jadi pada

[01:04:49] saat kita ya mendengar mereka ingin

[01:04:52] berbicara tentang kesehatan mental, maka

[01:04:56] alangkah baiknya kita sebagai orang tua

[01:04:58] yang mau mendengarkan. Kalau kita tidak

[01:05:00] tahu, kita cari waktu dan kita otentik

[01:05:02] jujur bahwa ini adalah sesuatu yang baru

[01:05:05] untuk kita. Kita perlu cari tahu atau

[01:05:07] mungkin kita mendengarkan apa pendapat

[01:05:09] dari dia. Kemudian kita cari tahu,

[01:05:11] kemudian kita siap untuk berdiskusi

[01:05:13] lagi. Nah, orang tua itu tidak mendukung

[01:05:15] dengan pandangannya yang kolot.

[01:05:19] ya. Apa sih mental head? Mental head

[01:05:20] zaman papa mama enggak ada mental head.

[01:05:22] Buktinya papa mama bisa sukses. Nah, itu

[01:05:25] yang seringkiali kita dengarkan ya.

[01:05:28] Mereka itu merasa dikecilkan, mereka

[01:05:30] merasa tidak dianggap, mereka merasa

[01:05:32] tidak didengar kalau kita sebagai orang

[01:05:34] tua itu menganggap remeh isu yang

[01:05:37] penting untuk mereka.

[01:05:39] Nah, kemudian Jens itu adalah kelompok

[01:05:43] yang merasa butuh ruang privacy,

[01:05:46] termasuk privacy di dalam bidang

[01:05:49] digital. Nah, kalau orang tua menemukan

[01:05:52] anak-anaknya misalkan HP-nya,

[01:05:55] handphone-nya di password, kemudian ee

[01:05:58] laptopnya ee komputernya juga di

[01:06:01] password main rahasia-rahasiaan. Mereka

[01:06:03] enggak enggak mau cerita lagi. Berbeda

[01:06:05] dengan pada saat mereka masih kecil.

[01:06:08] Nah, mulai tuh orang tuanya punya satu

[01:06:12] ketidaksukaan menilai anaknya. Kenapa ya

[01:06:15] kamu semenjak main dengan si A, si B, si

[01:06:18] C jadi menutup diri? Kenapa ya? Kamu

[01:06:21] mulai usia menginjak usia 17 tahun kamu

[01:06:25] mulai memberontak dan lain sebagainya.

[01:06:27] Padahal yang Jensy mau ungkapkan adalah

[01:06:30] mereka butuh ruang privacy sebenarnya

[01:06:33] ya. Gensi juga terbiasa mengekspresikan

[01:06:36] emosi secara langsung. Mereka tahu bahwa

[01:06:41] ada yang namanya emosi. Emosi positif,

[01:06:43] emosi negatif. Mereka lebih tahu dari

[01:06:45] kita orang tuanya ya. Dan mereka ingin

[01:06:48] menerapkan kalau kita mengalami

[01:06:50] kemarahan journaling. Nah, mereka kan

[01:06:51] beli tuh buku-buku journaling,

[01:06:53] stiker-stiker yang lucu-lucu. Kemudian

[01:06:55] apa? Pensil warna crayon spidol beraneka

[01:06:58] warna. Untuk apa? untuk mereka terapkan

[01:07:01] karena mereka membaca medsos, mereka

[01:07:04] baca atau mengikuti medsos, mereka

[01:07:06] membaca konten-konten dari psikolog,

[01:07:09] psikolog, remaja, dan lain sebagainya.

[01:07:12] Sedangkan pada saat berbincang dengan

[01:07:13] orang tuanya kok tidak nyambung. Nah,

[01:07:15] ini akan menjadi isu

[01:07:18] orang tua dengan anak. Orang tua

[01:07:20] menganggap bahwa anaknya itu berlebihan.

[01:07:23] Nah, padahal di zaman kita mungkin tidak

[01:07:26] ada tuh yang namanya dikit-dikit

[01:07:27] psikolog, dikit-dikit konseling, ya,

[01:07:29] dikit-dikit ee mental health, tapi

[01:07:31] anak-anak sekarang tuh kenapa ya

[01:07:32] dikit-dikit kayaknya lebay gitu ya atau

[01:07:35] kurang bersyukur. Nah, hal-hal seperti

[01:07:37] ini yang perlu kita jembatani karena ini

[01:07:41] menjadi isu kita parenting itu kenapa

[01:07:44] sih jadi sulit? Karena kita enggak kenal

[01:07:46] anak-anak kita. Parenting itu menjadi

[01:07:48] sesuatu yang melelahkan karena kita

[01:07:50] tidak tahu siapa yang kita hadapi, apa

[01:07:52] kesukaannya, apa pikirannya, apa

[01:07:56] kecenderungannya, apa kebutuhannya. Nah,

[01:07:58] kalau misalkan terjadi isu-isu atau ee

[01:08:02] gap yang semakin besar, maka ya hal-hal

[01:08:07] ini akan menjadi sesuatu yang serius di

[01:08:09] dalam diri anak remaja kita. Padahal

[01:08:11] kita berpikir mungkin santai saja, gitu

[01:08:14] aja kok. Jadi sesuatu yang serius ya.

[01:08:17] Padahal mereka mengalami ini sesuatu

[01:08:20] yang menekan. Metsos menekan orang tua

[01:08:23] menekan keinginan mereka untuk eksis

[01:08:25] keinginan untuk mereka untuk tidak

[01:08:27] ketinggalan zaman. FOMO ya, fear of

[01:08:30] missing object. Kalau mereka tidak tahu

[01:08:32] tentang satu hal itu menjadi satu

[01:08:34] kecemasan atau kekhawatiran. Ada lagi

[01:08:36] yang berkembang sekarang foo fear of

[01:08:39] people opinion. Bagaimana pandangan

[01:08:41] orang tuanya? Ya, itu bukan sesuatu yang

[01:08:44] penting pandangan orang tuanya. Tapi

[01:08:45] bagi mereka pandangan teman-teman,

[01:08:48] lingkungan, komunitas, bagaimana likes

[01:08:51] di medsos itu yang penting bagi mereka.

[01:08:54] Jadi mereka dalam situasi yang sulit

[01:08:58] sebenarnya.

[01:08:59] Nah, kemudian mereka juga melihat bahwa

[01:09:02] dunia tidak lebih baik. zaman mereka

[01:09:05] hidup sekarang walaupun mereka punya

[01:09:08] kemudahan akses digital tapi mereka

[01:09:11] melihat kok semakin kacau, kok ee

[01:09:15] peperangan ini semakin menakutkan.

[01:09:19] Kemudian mereka hidup ya zaman-zaman

[01:09:21] sekarang hidup di kurs dolar yang tinggi

[01:09:25] ya. Bagaimana mereka juga menyerap

[01:09:27] kecemasan dari orang tuanya di mana-mana

[01:09:30] dibahas tentang ya rupiah yang semakin

[01:09:33] melemah. Kemudian daya beli masyarakat

[01:09:36] yang semakin melemah. Bagaimana mereka

[01:09:38] bisa belajar, bagaimana mereka bisa

[01:09:40] melanjutkan pendidikan nanti di masa

[01:09:42] mendatang. Kemudian mereka juga punya

[01:09:44] satu ketakutan atau kecemasan bagaimana

[01:09:47] kalau nantinya teknologi semakin

[01:09:49] berkembang, maka fungsi manusia itu,

[01:09:51] peran manusia itu digantikan oleh

[01:09:53] teknologi. Itu salah satu ketakutan. Ya,

[01:09:56] saya berdiskusi dengan anak-anak saya

[01:09:58] yang sudah bekerja. Saya memiliki tiga

[01:10:00] orang anak. dua orang anak sudah

[01:10:02] bekerja, satu masih kuliah tingkat akhir

[01:10:05] dan mereka menyatakan rasa takutnya atau

[01:10:10] cemasnya ya, yang satu di IT, satu lagi

[01:10:13] di bidang desain grafis ya mereka emm

[01:10:18] melihat ada kemungkinan bahwa teknologi

[01:10:20] itu nanti akan menggantikan manusia ya.

[01:10:23] Saya sebagai ibu dan ayahnya nanti ya,

[01:10:26] ayahnya juga ada. Kami berdiskusi dan

[01:10:28] membuka ruang untuk mereka mencurahkan

[01:10:31] ketakutan dan kecemasannya. Sekalipun

[01:10:34] kami adalah orang-orang yang melayani di

[01:10:36] gereja ya, yang mengetahui firman Tuhan,

[01:10:38] tapi kami memberikan ruang untuk mereka

[01:10:41] mencurahkan unek-uneknya karena mereka

[01:10:43] tahu kebenaran firman Tuhan. Tapi yang

[01:10:45] namanya emosi, respon otomatis itu ya

[01:10:50] mereka enggak bisa

[01:10:52] tekan ya. Mereka butuh untuk

[01:10:55] mencurahkan, mereka butuh untuk

[01:10:56] menumpahkan unek-uneknya. Nah, apakah

[01:10:59] kita orang tua memberikan ruang untuk

[01:11:01] itu? Ya, sebelum belajar konseling terus

[01:11:03] serang. Saya pun orang tua yang kayaknya

[01:11:06] tambah pusing kalau anak-anaknya bawa

[01:11:08] isu macam-macam gitu ya. kita aja pusing

[01:11:10] dengan pekerjaan, dengan pelayanan ya,

[01:11:12] dengan urusan kita masing-masing, dengan

[01:11:13] pergumulan kita masing-masing. Ini lagi

[01:11:16] anak-anak masih kecil punya kekhawatiran

[01:11:19] yang kayaknya enggak perlu dipikirkan di

[01:11:22] usia itu. Tapi bagaimana pembelajaran di

[01:11:25] dalam kelas-kelas konsuling itu

[01:11:27] memberikan satu wawasan bahwa kita perlu

[01:11:30] menerima mereka, kita perlu mendengarkan

[01:11:34] mereka karena sesuatu yang mereka

[01:11:35] rasakan itu adalah sesuatu yang valid.

[01:11:37] emosi yang mereka rasakan sesuatu yang

[01:11:40] valid. Menerima itu tidak berarti kita

[01:11:43] menyetujui, tapi bagaimana kita mau

[01:11:45] hadir di sana ya. Bagaimana kita mau ada

[01:11:50] membersamai mereka, bagaimana kita mau

[01:11:53] mendampingi mereka di masa-masa sulit

[01:11:55] mereka. Nah, kalau kita menjadi orang

[01:11:58] tua yang tidak mau mendukung, tidak mau

[01:11:59] mendengarkan, tidak mau mendampingi,

[01:12:01] maka gap generasi akan semakin lebar.

[01:12:06] Ya, di sini isu mental head itu semakin

[01:12:09] hari semakin tinggi ada survei. Satu

[01:12:12] dari tujuh remaja di dunia mengalami

[01:12:14] gangguan mental. Itu serius ya, dari

[01:12:17] menengah sampai serius. Kemudian 40%

[01:12:21] remaja merasa cemas atau depresi serius

[01:12:25] setelah pandemi 2021. Kemudian 0,1%

[01:12:30] remaja usia di atas 15 tahun mengalami

[01:12:32] masalah mental emosional. Geni memiliki

[01:12:35] prevalansi depresi tertinggi

[01:12:37] dibandingkan rata-rata usia yang

[01:12:39] lainnya, Gen. Makanya saya memberikan

[01:12:42] contoh Jensi gitu ya. Karena

[01:12:45] itu ternyata walaupun 0,1% kalau memang

[01:12:49] dijadikan

[01:12:50] ee dari populasi manusia di Indonesia

[01:12:53] itu besar sekali jumlahnya ya. Jadi ee

[01:12:57] ini adalah kondisi yang serius yang

[01:12:59] memang kita hadapi sekarang isu

[01:13:01] parenting mungkin di area ini yang tadi

[01:13:03] sudah disebutkan gap generasi ya. Ada

[01:13:05] satu buku yang ditulis oleh Jonathan

[01:13:07] Hate ya itu melalui penelitian kurang

[01:13:10] lebih 20 tahun dan bukunya baru keluar

[01:13:13] kemarin 2024. The ancientious generation

[01:13:16] ada di dalam bahasa Indonesia juga.

[01:13:19] Bagaimana

[01:13:21] hubungan anak-anak kita Jen C, Gen Alfa

[01:13:26] dengan teknologi, dengan dunia itu

[01:13:28] ternyata meningkatkan kecemasan mereka.

[01:13:30] Sehingga ya Jonathan Head itu

[01:13:32] menyebutkan generasi anak-anak kita

[01:13:34] sekarang Alfa dan Jensy adalah the anest

[01:13:37] generation, generasi yang cemas ya,

[01:13:40] generasi yang

[01:13:42] memang sangat terdampak oleh isu

[01:13:45] kesehatan mental.

[01:13:47] Di sini ada himbauan ya. We have

[01:13:49] overprotected children in the real

[01:13:51] world. Kita benar-benar overprotected.

[01:13:55] Ya, kita memproteksi pergaulan anak-anak

[01:13:58] kita. Kalau misalkan kita melihat ya dia

[01:14:00] main bersama dengan teman dan temannya

[01:14:02] dibawa ke rumah, kita akan tanya

[01:14:04] asal-usulnya ya. Bobot bibit bebet

[01:14:06] mungkin ya. Siapa dia? Papa mamanya di

[01:14:09] mana, kemudian gerejanya di mana ya,

[01:14:12] kerjaannya apa dan lain sebagainya. Tapi

[01:14:14] ternyata ya kita masa bodoh dengan

[01:14:18] pergaulan anak-anak kita secara online.

[01:14:21] Dan ternyata kemasa bodohan ini ya kita

[01:14:24] tidak mengenali mereka apa kebutuhannya,

[01:14:26] apa apa pergumulannya. Ternyata ini yang

[01:14:29] membuat anak-anak kita menjadi generasi

[01:14:32] yang penuh dengan kecemasan.

[01:14:36] Ini adalah sesuatu yang serius ya. Itu

[01:14:40] adalah tantangan parenting di zaman now.

[01:14:43] Lonjakan kecemasan, kemudian depresi,

[01:14:46] self har. Anak-anak yang self dan

[01:14:48] depresi itu bukan anak-anak yang

[01:14:51] ee istilahnya

[01:14:53] terbatas secara ekonomi. Enggak ya. Ini

[01:14:56] bisa terjadi pada semua kalangan. Entah

[01:15:00] itu anak-anak dari keluarga yang

[01:15:02] melayani Tuhan, hamba Tuhan. Ya, saya

[01:15:05] menemukan beberapa kasus. Kemudian

[01:15:07] anak-anak yang memang tidak mengenal

[01:15:09] Tuhan itu juga ada kasus seperti itu ya.

[01:15:12] Anak-anak dari keluarga misalkan

[01:15:15] minoritas, mayoritas sama peluangnya.

[01:15:18] Anak-anak dari keluarga, ekonomi atas,

[01:15:20] ekonomi menengah atau ekonomi yang bawah

[01:15:24] minim gitu ya. Sama kemungkinannya

[01:15:27] karena ini sudah menjadi isu yang

[01:15:28] global.

[01:15:30] Kemudian

[01:15:31] anak-anak juga disebutkan di dalam buku

[01:15:33] ini bukan hanya kecemasan, depresi atau

[01:15:36] self har, kemudian juga fokusnya itu

[01:15:39] menurun, kemudian tidak punya empati,

[01:15:42] tidak mau interaksi secara sosial. Ya,

[01:15:44] bagaimana tidak mereka fokus menurun

[01:15:46] karena dari kecil kan mereka disebut

[01:15:48] sebagai generasi digital native ya.

[01:15:51] Mereka sangat menguasai teknologi adalah

[01:15:53] bahasa utama mereka.

[01:15:56] Jadi kalau misalkan kita bertemu dengan

[01:15:58] anak-anak usia di bawah 1 tahun mereka

[01:16:01] sudah bisa mengoperasikan tab ya itu

[01:16:05] kenyataan

[01:16:07] dan mungkin itu menjadi sesuatu yang

[01:16:09] bisa dibanggakan oleh opa-omanya ya.

[01:16:11] Padahal itu sangat berbahaya ya screen

[01:16:14] time yang sangat-sangat ee cepat

[01:16:17] gambar-gambar atau suara. Apalagi

[01:16:20] sekarang banyak yang model-model video

[01:16:22] short gitu ya. Cepat cepat cepat. Nah,

[01:16:25] itu kan membuat otak kita tidak bisa

[01:16:28] mencerna, otak kita tidak bisa

[01:16:30] mengendapkan informasi, kemudian

[01:16:32] mengolah informasi itu, memikirkannya,

[01:16:35] kemudian menimbang, itu enggak bisa.

[01:16:37] Karena dari kecil pun kita sudah

[01:16:38] disuguhi oleh sesuatu yang bergerak

[01:16:40] dengan sangat cepat. Suara cepat,

[01:16:42] gambar-gambar cepat, ada sinarnya.

[01:16:44] Ternyata itu mempengaruhi ya bagaimana

[01:16:47] otak bekerja sehingga anak-anak sekarang

[01:16:50] banyak isu tidak bisa fokus.

[01:16:54] Kemudian anak-anak juga tidak punya

[01:16:56] kesempatan untuk punya ketahanan mental

[01:16:59] yang alami ya. Karena mereka

[01:17:02] terdistraksi oleh apa yang ditampilkan

[01:17:04] oleh medsos. Mereka ingin seperti

[01:17:06] sesuatu yang memang disuguhkan di

[01:17:08] medsos. Kemudian orang tua juga tidak

[01:17:10] memberikan pendidikan yang benar atau

[01:17:12] yang baik. Dan itulah keadaan dari

[01:17:15] anak-anak kita di zaman sekarang. Nah,

[01:17:17] ini ada beberapa kasus yang memang ee

[01:17:20] nyata ya sudah ada di media juga. yang

[01:17:23] memang booming itu bagaimana

[01:17:26] kegelisahan itu tidak dituangkan dalam

[01:17:29] diskusi bersama dengan orang tuanya.

[01:17:32] Tapi bagaimana anak-anak juga sakin

[01:17:35] tertutupnya, sakin tidak percaya atau

[01:17:37] gap generasi yang semakin lebar antara

[01:17:39] orang tua dengan anak, maka mengandalkan

[01:17:43] chatbot AI untuk menjadi orang

[01:17:47] kepercayaan terdekatnya ya. Jadi

[01:17:49] mengambil keputusan juga sama karena

[01:17:51] menyesuaikan dengan saran dari CCPT

[01:17:55] ya.

[01:17:56] Mendengarkan saran-saran dari dari ee

[01:18:01] mesin-mesin ya AI begitu ya. Ini adalah

[01:18:04] keadaan anak-anak kita gensy.

[01:18:09] Nah, kemudian ada juga ya yang dinamakan

[01:18:11] dengan atelopovia. Jadi depresi

[01:18:16] yang jenisnya

[01:18:18] sangat-sangat terpapar gitu ya oleh

[01:18:20] medsos, informasi, kemudian media. Jadi

[01:18:24] depresi, tapi depresinya itu ini gejala

[01:18:27] baru ya menjadi bukannya tadi ya

[01:18:31] istilahnya kecanduan game atau kecanduan

[01:18:34] pertemanan di di medsos, tapi menjadi

[01:18:36] menunda-nunda pekerjaan.

[01:18:38] Ya, ini bukan orang-orang yang

[01:18:42] terbatas. kemampuan kognitifnya. Tapi

[01:18:44] ini adalah orang-orang yang pintar

[01:18:45] biasanya ya. Jadi enggak mau lakukan

[01:18:48] segala sesuatu tepat waktu,

[01:18:50] menunda-nunda, menarik diri dari

[01:18:52] pergaulan, kemudian juga enggak punya

[01:18:55] hubungan dengan manusia, enggak punya

[01:18:58] kemampuan mengambil keputusan karena

[01:19:03] otaknya mengalami satu masalah, Bapak,

[01:19:06] Ibu, Saudara ya. Jadi ee tidak bekerja

[01:19:09] secara semestinya, tidak puas. marah,

[01:19:13] frustasi. Nah, ini adalah gejala depresi

[01:19:15] yang baru nih di dalam anak-anak muda

[01:19:17] zaman sekarang. Maka kita perlu melihat

[01:19:21] kalau kita menghadapi ya tantangan

[01:19:23] parenting yang sedemikian rupa, apa yang

[01:19:25] perlu kita lakukan sebagai orang tua,

[01:19:27] sebagai orang dewasa? Ya, mungkin ada

[01:19:30] pertanyaan sebelum kita beristirahat.

[01:19:32] Silakan kalau ada pertanyaan.

[01:19:40] Ya, silakan Pak Ponsius. Kemudian

[01:19:43] Ibu Jessi ya nanti ya kalau waktunya

[01:19:45] mencukupi. Silakan Pak.

[01:19:48] Saya masih rancu tadi Ibu bilang remaja,

[01:19:51] ada bilang anak dewasa. Itu aturan

[01:19:54] umurnya yang mana yang dipakaiin untuk

[01:19:56] entah itu Z atau alfa. Iya. Iya.

[01:19:59] Karena saya juga lagi

[01:20:02] melihat proses kedewasaannya itu

[01:20:04] bagaimana itu dengan digital itu.

[01:20:06] Makasih.

[01:20:06] I I terima kasih. Jadi memang rentangnya

[01:20:10] kalau geni itu 13 sampai 28 tahun itu

[01:20:13] rentang antara remaja, remaja awal

[01:20:16] kemudian remaja akhir sampai dewasa

[01:20:18] muda. Nah, seperti itu ya. Tapi kalau

[01:20:20] misalkan pembagian usia itu nanti kita

[01:20:22] akan bahas di dalam tahap perkembangan

[01:20:25] Eriksen, Pak. Hanya ini tadi kalau

[01:20:27] pengelompokan gitu ya, dewasa muda dari

[01:20:30] remaja itu geni dari remaja kemudian

[01:20:33] sampai ke dewasa muda karena rentang

[01:20:34] usianya 13 hingga 28 tahun.

[01:20:38] Semoga menjawab ya, Pak Ponsius ya,

[01:20:41] Bu. Terima kasih, Bu.

[01:20:42] Iya.

[01:20:44] Oke. Kemudian ini sekarang masih ada

[01:20:46] wakukah? Ini sekarang pukul

[01:20:49] 29 ya. Mungkin nanti ya setelah

[01:20:51] istirahat ya Bu Jessi.

[01:20:52] Istirahat saja. Makasih.

[01:20:53] Iya. Iya. Silakan kepada pengurus kelas

[01:20:56] mungkin ada pengumuman atau sesuatu yang

[01:20:58] ingin disampaikan.

[01:20:59] Iya. Iya Bu ee Ibu ee untuk bahan ee

[01:21:03] kuliahnya apakah akan dikirimkan ke

[01:21:06] kami? Jadi kami bisa baca-baca atau

[01:21:10] nanti dikirim melalui

[01:21:11] I iya. Ee materi untuk pertemuan 1 2 34

[01:21:14] sudah saya kirimkan ke akademik nanti

[01:21:16] bisa ditanyakan ya. Oke. Baik, Bu.

[01:21:18] Terima kasih, Bu. Ee teman-teman kita

[01:21:21] lanjut istirahat aja ya Bu ya.

[01:21:24] Iya silakan.

[01:21:24] Saya langsung istirahat aja ee 15 menit

[01:21:28] 7.30 sampai 7.45 nanti kita kembali lagi

[01:21:32] pada jam 07.45. Oke ya teman-teman. Oke,

[01:21:36] selamat beristirahat semua. Selamat

[01:21:37] istirahat, Ibu Lina.

[01:23:10] Morning light is breaking through.

[01:23:15] Soft and gold and fresh and new

[01:23:20] cup of coffee in my hand. I feel your

[01:23:26] peace I understand

[01:23:31] in the silence you are near.

[01:23:37] Every doubt just disappears.

[01:23:41] Be still my soul.

[01:23:45] Don't rush today.

[01:23:48] Hear his voice

[01:23:51] and gents.

[01:23:54] In every breath

[01:23:56] inquiet

[01:23:59] I find my strength with you my king.

[01:24:05] Coffee wants but you restore

[01:24:11] every heart. that's been unsure.
