# DM Ind 5: Unleashing The Power Of Social Media Marketing In Today'S Landscape

https://www.youtube.com/watch?v=urK3bl6SUL0
Translation: en

[00:20] Selamat siang anak-anak.

[00:25] Selamat siang semuanya.

[00:30] kita ketemu lagi pagi hari eh siang hari

[00:34] ini ya. [berdehem]

[00:35] Siang hari ini kita ketemu lagi pada

[00:38] sesi ee

[00:40] dengan ee pembicaranya dengan ee

[00:44] praktisi dari industri

[00:46] ya ee

[00:50] dengan Mas Samsul ya, dengan Mas Samsul,

[00:53] Mas Syamsul ee Arifin ya.

[00:57] Jadi, Masul Arifin akan ee kembali ya

[01:01] kembali akan memberikan ee sharing-nya

[01:05] ee pada siang hari ini ya. Tentunya

[01:08] silakan buka notes sekalian ya. Silakan

[01:12] ee perhatikan sekiranya ada yang baru

[01:16] itu ya ada hal-hal yang baru, silakan

[01:19] kalian catat ya untuk masukan buat

[01:22] kalian nantinya gitu ya. Jadi pada siang

[01:25] hari ini ee Mas Samsul akan memberikan

[01:28] lagi tips-tips ya yang bisa kita jadikan

[01:33] ee apa ee jadikan ee landasan ya ketika

[01:38] kita nanti ee melakukannya ee ee apa

[01:41] namanya di dalam ee praktikal kita entah

[01:46] nanti kalian sebagai ee apa entrepreneur

[01:50] ataupun nanti di perusahaan gitu ya.

[01:52] Oke, selamat siang Mas Samsul Arifin.

[01:55] Terima kasih sudah hadir kembali ee di

[01:58] tengah-tengah kita pada siang hari ini.

[02:01] Siang, Pak Martin

[02:03] ya. Untuk supaya tidak ee berlama-lama

[02:06] lagi ee waktu dan tempat ee kami

[02:09] persilakan. Silakan, Mas Samsul.

[02:12] Baik, terima kasih Pak Martin

[02:17] bertemu kembali dengan Pak Martin dan I

[02:20] dan juga teman-teman Binusian

[02:25] ya. Ee mungkin ada yang mungkin sesi

[02:28] sebelumnya

[02:30] belum pernah jumpa dengan saya di kelas

[02:35] ini ya

[02:37] boleh. Nanti saya akan

[02:41] share langsung untuk

[02:43] screen-nya.

[02:56] Iya.

[02:57] Oke,

[03:00] perkenalkan sebelumnya saya Samsul

[03:02] Arifin biasa dipanggil Cucul Cucul ee

[03:07] oleh teman-teman saya. Ee untuk yang

[03:10] belum

[03:12] pernah jumpa secara online dengan saya,

[03:16] saya adalah seorang bisa dibilang

[03:19] digital marketer.

[03:21] Sekarang saya sedang ee

[03:25] bekerja di salah satu perusahaan di

[03:27] Cakrawala Hatulistiwa Raya. Saya sebagai

[03:33] em

[03:35] memang untuk saat ini industri saya

[03:37] lebih di

[03:40] eh hospitality dan juga

[03:43] eh ya lebih lebih

[03:46] komplitnya ada hospitality. Namun juga

[03:49] saya juga punya satu channel di YouTube

[03:53] ee namanya adalah Lintang Media.

[03:56] Em, di situ saya

[03:59] memuat video animasi lagu anak-anak

[04:03] Indonesia. Jadi, Teman-teman kalau

[04:07] ada yang mau kepo dengan channel YouTube

[04:11] saya boleh. Ee sebenarnya ini juga salah

[04:14] satu channel YouTube saya. Saya em masih

[04:18] ada dua lagi, namun dengan industri yang

[04:20] sama yaitu lagu Anak Indonesia.

[04:25] Iya.

[04:27] Oke, mungkin ee untuk

[04:31] siang kali ini kita akan membahas

[04:33] tentang ee lebih ke sosial media

[04:36] marketing.

[04:37] Jadi,

[04:39] sekarang ini sosial media marketing itu

[04:43] seperti apa sih?

[04:45] Dan ee mungkin di sini saya akan

[04:49] membawakannya

[04:51] enggak terlalu teori enggak teori banget

[04:54] ya. Karena mungkin teman-teman di sini

[04:57] juga udah banyak ee mendapatkan teori

[05:00] tentang sosial media marketing dan

[05:01] digital marketing secara ee keseluruhan

[05:04] ya. Jadi mungkin

[05:07] ee nanti akan kita sama-sama berbincang

[05:11] tentang

[05:12] ee

[05:14] experience saya selama beberapa tahun ke

[05:17] belakang ee tentang sosial media

[05:20] marketing dan mungkin sekarang ini ee

[05:23] lagi ada apa sih siswa di sosial media

[05:26] marketing ya.

[05:28] Dan ee mungkin untuk mengawali ya, mm

[05:32] mungkin teman-teman sudah ee paham

[05:36] sekali ya tentang sosial media marketing

[05:38] ini. Khususnya sendiri adalah sosial

[05:41] media. Saya yakin teman-teman di sini

[05:43] sudah memakai ee bahkan kesehariannya

[05:47] itu tuh tidak jauh dari penggunaan

[05:50] sosial media

[05:53] dan em saya juga

[05:57] ee apa namanya punya pikiran bahwa

[06:01] teman-teman mungkin di ee salah satu

[06:03] atau di antara dari teman-teman ada yang

[06:06] menggunakan sosial media juga untuk em

[06:09] sudah mulai ee menggunakannya nya secara

[06:11] profesional ya. Mungkin teman-teman ada

[06:13] yang sudah menggunakannya untuk ee

[06:17] mempromosikan

[06:19] ee produknya atau brandnya ee atau

[06:22] membantu seseorang atau sudah ada ee

[06:28] hassle job dan ee lain sebagainya.

[06:32] Nah, di sini saya akan eeem apa ya?

[06:37] menambahkan sebenarnya menambahkan ada

[06:40] apa aja sih di sosial media marketing

[06:45] ya. Sebenarnya kalau kita membahas

[06:49] secara keseluruhan sebenarnya sosial

[06:51] media marketing itu apa sih?

[06:53] Emm kalau boleh saya rangkum dan em

[06:57] kalau teman-teman juga misal tanya di

[07:01] chat GPT AI atau ada modul buku panduan

[07:05] sebenarnya sosial media marketing itu

[07:07] adalah em

[07:10] kita mengoptimalkan platform sosial

[07:12] media untuk ee meningkatkan

[07:16] goal dari apa yang kita mau. Jadi misal

[07:19] kita punya brand, punya produk, kita mau

[07:22] ada leads, ada ee transaksi purchase,

[07:27] itulah eh social media marketing. Dan

[07:31] dari berbagai macam platform yang ada

[07:34] itu nanti akan ee sama-sama kita bahas,

[07:36] kita bedah juga ee sosial media

[07:40] marketing itu seperti apa. Jadi intinya

[07:42] adalah em untuk mengoptimalkan sosial

[07:45] media itu sendiri. Namun kalau saya

[07:49] boleh ee cerita sedikit ya ee dalam

[07:52] artian sosial media sekarang dan sosial

[07:56] media mungkin era tahun

[08:00] start from 2011 itu sangat berbeda

[08:04] sekali penggunaannya dan mungkin

[08:08] karakternya bisa dibilang juga berbeda.

[08:11] Jadi, Teman-teman kalau sekarang em

[08:14] sudah mengenal sosial media itu sebagai

[08:17] ee teman-teman jadikan alat sebagai apa

[08:19] ya maksudnya?

[08:21] Mencari hiburan, mencari informasi,

[08:24] kemudian emm

[08:27] mendapatkan

[08:30] apa yang kita inginkan. Dalam artian

[08:32] misal begini ya, kita lagi cari ee alat

[08:37] pembersih

[08:39] ee baju kotor gitu yang noda membundel,

[08:42] kita bisa tahu itu tuh dari ee media

[08:46] sosial.

[08:48] Nah, kalau zaman dulu bisa dibilang

[08:51] awal-awal sosial media itu tuh lagi ee

[08:55] sedang ee apa ya bisa dibilang tercipta

[08:59] ee ekosistemnya, komunitasnya

[09:02] itu kisaran dari mungkin sebenarnya

[09:04] mulai dari 2006

[09:07] 2007 seperti ada Twitter waktu itu,

[09:10] terus Facebook emm kemudian Instagram

[09:14] mungkin setelah 2010 itu eh booming.

[09:18] Jadi dulu ee dulu waktu awal-awal sosial

[09:21] media itu sebenarnya hanya dipakai

[09:24] em secara personal

[09:28] itu untuk ee apa ya sebagai ajang

[09:31] eksistensi. Jadi ee kita sebagai

[09:34] personal, sebagai individu menggunakan

[09:37] sosial media itu untuk pertama k ee

[09:40] seperti kayak em

[09:44] kalau dulu pernah dengar ada namanya Pet

[09:46] Pat itu sangat-sangat personal banget.

[09:51] Jadi di situ kita bisa live update kita

[09:54] sedang di mana, kita mendengarkan musik

[09:57] apa dan interest kita apa. Itu awal-awal

[10:01] sosial media. Bahkan dulu Facebook

[10:05] ee saat sedang em muncul

[10:09] sebelumnya itu ada namanya Friendster

[10:11] dan mungkin ada MySpace kalau

[10:13] teman-teman pernah dengar ya.

[10:16] Facebook itu sendiri pun bahkan pas awal

[10:20] awal ee terbentuk itu kita registrasi

[10:24] akun yang pertama kali ditanya adalah

[10:26] interest kita. Jadi kita interest

[10:29] tentang apakah sepak bola, musik, film,

[10:31] apapun itu. Jadi di awal sosial media

[10:34] itu sangat personal banget, sangat em

[10:39] dekat dengan emm individu ke individu

[10:43] lainnya dan bahkan pada akhirnya sosial

[10:47] media itu digunakan selain untuk

[10:50] eksistensi,

[10:51] kemudian adalah baru komunikasi. Jadi

[10:54] interaksi mungkin bertemu dengan

[10:57] temannya yang sudah lama tidak bertemu

[10:59] enggak ee

[11:01] udah lama banget bertahun-tahun akhirnya

[11:04] jumpa secara online di platform tersebut

[11:07] akhirnya emm

[11:10] menjalin komunikasi. Nah, sosial media

[11:14] itu sendiri awalnya seperti itu. Namun

[11:17] sekarang sosial media beranjak jadi

[11:20] sosial media marketing dan itu adalah

[11:22] salah satu kaki-kaki yang ada di dalam

[11:26] digital marketing itu sendiri.

[11:30] Nah, kalau boleh saya ee cerita lagi

[11:33] tentang point of view saya tentang

[11:35] sosial media.

[11:37] Di sini saya menuliskan kalau sosial

[11:40] media itu sebenarnya ada e bukan tools,

[11:43] bukan juga megafone atau kayak corong,

[11:47] tapi sebenarnya sosial media ini adalah

[11:49] eh relationship engine. Jadi

[11:54] di sini kita kalau konteksnya adalah ee

[11:57] membahas sosial media digunakan oleh

[12:00] sebuah brand atau produk

[12:03] itu untuk ee membangun relationship

[12:07] antara produk brand dengan customer yang

[12:12] mungkin dulu sebenarnya

[12:15] sosial media itu sendiri juga memang

[12:18] digunakannya untuk eh relationship ya

[12:21] bahkan kan relationship secara literally

[12:24] gitu ya. Karena banyak juga teman-teman

[12:27] di sekitar saya itu ee mereka

[12:31] mendapatkan atau membangun relationship,

[12:34] mendapatkan partner ee itu dari sosial

[12:38] media. Jadi berkenalan secara online ee

[12:42] kirim pesan, DM, kemudian bisa ketemu

[12:45] cocok, akhirnya mereka menikah. Dan

[12:48] memang itulah e bisa disebut sebagai

[12:51] relationship

[12:52] engine gitu ya. Nah, kalau untuk brand

[12:56] atau produk itu sendiri

[12:58] sebenarnya em

[13:01] sosial media itu dulu dan sekarang juga

[13:05] bisa kita ceritakan berbeda juga.

[13:09] Karena dulu banget saat eh brand mulai

[13:12] ee melirik sosial media digunakan

[13:15] sebagai alat komunikasi dan promosi itu

[13:19] hanya sebatas semacam portofolio dari

[13:22] produk dan ee brand itu sendiri. Jadi

[13:26] seperti robot posting emm gambar, video

[13:31] apa macam-macam

[13:33] itu sosial media ee awal-awal brand

[13:36] menggunakannya ya. Jadi memang bisa

[13:38] dibilang ee nanti kita akan bahas adalah

[13:43] sosial media dulunya adalah ibaratnya

[13:48] tidak bernyawa.

[13:50] Sekarang sosial media itu harus diberi

[13:53] nyawa. Jadi sosial media itu harus bisa

[13:57] saling berinteraksi. Jadi relationship

[13:59] engine itu ee seperti itulah. kita bisa

[14:02] berinteraksi menyapa menyapa customer

[14:06] ee mengajak diskusi. Kemudian kita bisa

[14:09] tahu tren dari customer itu seperti apa.

[14:13] Kita bisa tahu ee apa yang diinginkan

[14:16] oleh customer itu sendiri seperti apa.

[14:19] Nah, ini sebenarnya ada di dalam sosial

[14:21] media marketing itu sendiri. Jadi,

[14:23] marketing tidak bisa terpisahkan dari

[14:26] sosial medianya ya sebagai ee maksudnya

[14:28] katanya. Jadi marketing bukan hanya

[14:31] pemasarannya saja, tapi menjadi satu

[14:34] keseluruhan nih sosial media marketing

[14:36] yang ee intinya adalah sosial media ini

[14:40] digunakan ee sebagai platform untuk

[14:43] mencapai goal-goal tertentu yang ee

[14:46] diinginkan oleh produk atau brand. Nah,

[14:51] kalau kita bahas secara karakteristik

[14:53] sebenarnya ee tadi saya bilang banyak

[14:57] tentang e relationship engine-nya adalah

[14:59] berinteraksi ya. Jadi bukan sekadar

[15:01] tempat berinteraksi ya sosial media itu,

[15:04] tapi sekarang ee bisa apa ya dijadikan

[15:09] ee wadah atau platform pemasaran yang

[15:12] sekarang itu sangat berpengaruh banget

[15:14] di dunia digital

[15:16] yang secara karakteristiknya

[15:19] saya bisa menyebutkan ada tiga. Yang

[15:21] pertama adalah massive fr eh real time

[15:24] engagement kemudian eh powerful

[15:27] influence. Jadi ee masif ini tuh bisa

[15:32] dibilangnya begini.

[15:34] Saat dulu zaman dulu marketing itu ee

[15:37] belum kenal adanya digital,

[15:40] cara paling hebat untuk memasarkan

[15:42] sebuah produk atau brand itu adalah dari

[15:44] mulut ke telinga.

[15:47] Mungkin ee kita biasanya adalah dari

[15:50] mulut ke mulut ya. Tapi kalau dari mulut

[15:53] ke mulut sepertinya kok janggal gitu ya.

[15:56] Karena kan kita dari mulut memang kita

[15:58] mendengarnya ke telinga ya. Jadi saya

[16:00] menyebutnya dari mulut ke telinga. Jadi

[16:03] produk itu akan ee ee apa ya?

[16:08] disuarakan, di disarankan, disugest oleh

[16:12] orang-orang dari mulut ke telinga. Misal

[16:15] contoh emm dulu ada kisahnya tentang ee

[16:20] Bob Sadino yang jual telur ayam. Mungkin

[16:23] kalau salah ee salah satu dari

[16:25] teman-teman atau teman-teman ada yang

[16:26] pernah mendengar cerita ini. Jadi,

[16:30] Bob Sadino mau menjual

[16:33] em satu pack telur ayam yang mungkin isi

[16:37] 10 atau 20 gitu ya.

[16:40] Nah,

[16:42] Bob Sadino

[16:44] ee berpikir bagaimana caranya menjual

[16:48] telur ayam ini secara cepat. Karena

[16:52] ayam itu bisa dibilang salah satu ee

[16:58] hewan yang ee bisa bertelurnya itu tuh

[17:01] durasinya bisa cepat banget ya. Nah,

[17:03] jadi ee Bob Sadino itu mau bagaimana

[17:07] penjualan ayamnya itu bisa secara cepat.

[17:10] Jadi, a ee telur ayamnya bisa cepat

[17:12] habis. Singkat cerita, Bob Sadino

[17:16] sengaja

[17:18] menempatkan satu telur busuk itu di

[17:21] dalam satu kumpulan

[17:24] ee telur-telur yang akan dijual. Jadi

[17:27] misal ada 10 telur ayam, Bobsadino

[17:30] secara sengaja

[17:32] ee

[17:35] me

[17:37] ganti satu telur yang ee normal itu

[17:40] dengan satu telur busuk.

[17:43] Nah, singkat cerita kemudian ada orang

[17:46] membeli telur satu pek.

[17:50] Kemudian ketika sampai rumah dan mulai

[17:53] memasak, ternyata menemukan ada satu

[17:56] telur busuk di dalam satu pek itu.

[17:59] Kemudian orang itu komplain dong ke

[18:02] tempat jualnya. Ini gimana kok ada satu

[18:06] telur busuk nih? Saya kecewa sekali.

[18:10] dari 10 ada satu telur busuk dan ee saya

[18:14] sudah membayar ee seharga 10 telur ayam

[18:18] nih, tapi saya dapat yang busuk satu.

[18:21] Saya pokoknya minta ganti rugi.

[18:25] Lalu ee

[18:27] dari penjual itu

[18:30] me apa ya

[18:33] sebutannya?

[18:35] Kris manajemennya bagus. Jadi sebenarnya

[18:37] memang awalnya adalah sengaja ee

[18:40] menggantikan telur dengan telur yang

[18:43] sudah busuk itu adalah salah satu

[18:45] strateginya. Jadi setelah ee customer

[18:49] komplain,

[18:51] penjual mengatakan, "Oke, mohon maaf.

[18:53] Baik, Ibu ee Bapak ee itu murni

[18:57] kesalahan kami. Ada satu telur busuk,

[19:00] kami akan menggantikannya dengan satu

[19:03] pek utuh telur ayam seperti itu.

[19:07] Nah, kemudian customer tersebut membawa

[19:11] pulang satu pack ayam utuh ee full 10

[19:17] lagi. Jadi bisa dibilang ee customer

[19:20] tersebut beli telur ayam tadi 10 tapi

[19:24] busuk satu tapi digantikan dengan satu

[19:28] pack lagi. Jadi ee kalau orang bilang,

[19:31] "Eh, kok malah jadi untung gitu ya."

[19:34] Akhirnya customer ini ee menceritakan

[19:37] pengalamannya ke orang-orangnya, ke

[19:39] tetangganya, ke saudaranya. Hei,

[19:42] aku tadi beli telur kemudian ada satu

[19:45] telur busuk, ternyata diganti nih satu

[19:47] pack dan ee dapat banyak akhirnya.

[19:51] Kemudian orang-orang yang dengar

[19:52] ceritanya akhirnya berbondong-bondong

[19:55] untuk mencoba

[19:57] agar

[19:59] siapa tahu dapat telur busuk yang

[20:01] kemudian dia akan ngeklaim dan

[20:04] mendapatkan gantinya.

[20:06] Namun dari penjual kan sudah tahu ya,

[20:09] enggak akan ada lagi telur busuk di

[20:11] dalam satu pek telur itu. Jadi orang

[20:14] akan malah akan berlomba-lomba

[20:17] beli dari tempat itu semua. Berharap ada

[20:20] yang busuk ternyata enggak ada. Jadi

[20:22] mereka akan coba lagi saat sudah habis

[20:23] beli lagi, beli lagi. Nah, itu salah

[20:26] satu ee cerita tentang ee dari mulut ke

[20:30] telinga. Jadi belum ada sosial media,

[20:33] belum ada digital. Nah, kenapa tadi saya

[20:36] menggabungkannya tentang masih fridge

[20:38] itu adalah begini. Kalau zaman dulu

[20:41] mungkin prosesnya ee pemasarannya dari

[20:44] mulut ke telinga itu tuh sangat lambat

[20:46] dan bahkan kayak man to man, person to

[20:49] person itu bisa sampai berhari-hari,

[20:51] berminggu-minggu, berbulan-bulan.

[20:53] Mungkin cerita yang tadi saya ceritakan

[20:54] saat itu terjadi itu tidak yang hari ini

[20:58] terjadi terus besoknya langsung viral.

[21:00] Itu enggak ya. Karena zaman dulu itu ee

[21:05] masih sangat konvensional. Nah, sosial

[21:07] media marketing sekarang karena sudah

[21:09] digital itu sebutannya adalah masih fr.

[21:11] Jadi, saat kita membuat konten ee di

[21:15] sosial media,

[21:17] saat yang nonton itu ee tertarik, bisa

[21:20] saja udah langsung diserbu atau ditonton

[21:25] 1.000 orang, 2.000 orang, 100.000 orang,

[21:28] dan bahkan bisa lebih lagi gitu ya. Nah,

[21:31] itu sebetulnya masih fridge dan real

[21:33] time engagement. Jadi, real time itu

[21:35] emang memang beneran saat kita eh

[21:38] membuat konten eh di-upload,

[21:40] ditayangkan.

[21:42] Saat itu juga ketika kita mendapatkan

[21:45] engagement dari customer. Beda dengan ee

[21:48] cerita yang saya sampaikan tadi. Itu

[21:51] dia. Jadi, mungkin impact-nya itu

[21:54] setelah seminggu, 1 bulan, atau bahkan

[21:56] setahun kemudian gitu ya.

[21:59] Kemudian ada powerful eh influence.

[22:01] Jadi, mm digital lebih ke sosial media

[22:06] itu memang bisa dibilang sangat powerful

[22:08] untuk memberikan eh influence ya. Jadi

[22:12] em

[22:14] hal kecil pun itu bisa sangat powerful.

[22:18] Ee misal contoh emm

[22:22] seperti tadi ya hampir sama ada orang

[22:25] komplain kemudian

[22:28] em dia memberikan review buruk. Nah, itu

[22:32] bisa jadi influence juga dan sangat

[22:34] powerful di media sosial

[22:38] itu sering terjadi juga. Emm apalagi

[22:42] khususnya saat ada masa-masa

[22:45] em

[22:47] politik ya atau sedang ada pemilihan

[22:51] presiden atau apapun itu yang politik.

[22:56] em hal kecil itu bisa sangat besar hanya

[22:58] dengan em

[23:00] influence dari entah seseorang atau

[23:03] apapun itu. Jadi memang sangat-sangat

[23:06] bisa berbahaya ya sebenarnya kalau

[23:10] sosial media itu tidak digunakan dengan

[23:12] baik-baik

[23:14] seperti itu. Nah, mengapa sepenting itu

[23:19] sih sebenarnya sosial media marketing em

[23:22] ada di dalam digital marketing? Yang

[23:24] pertama saya bisa bilang sebenarnya ini

[23:26] ada banyak banget teman-teman ya. Tapi

[23:29] saya menyebutkannya sebenarnya lebih ke

[23:32] dua hal. Yang pertama biaya lebih

[23:34] efisien. Kemudian

[23:38] kedua adalah komunikasi dua arah. Jadi

[23:40] memang lebih efisien karena sosial media

[23:43] ya kita enggak berbayar, kita bikin

[23:46] account ee gratis, platform gratis,

[23:51] kita bisa ngapain aja di situ posting

[23:54] apapun itu. Kemudian komunikasi dua

[23:56] arah. komunikasi dua arah yang dimaksud

[23:58] di sini pun kita bisa langsung dapat

[24:01] engagement, dapat eh conversation dari

[24:04] eh netizen, dari customer gitu ya. Dan

[24:07] dua hal ini menurut saya yang paling em

[24:10] utama ada di sosial media marketing.

[24:13] Sebenarnya kalau untuk bahasnya biaya

[24:16] itu kan sekarang em

[24:20] kita bisa beli ya yang verified atau

[24:22] sebutannya centang biru em dan sebagai

[24:28] ee sebagainya juga kayak ee di X mungkin

[24:32] beli yang premium

[24:34] atau apapun itu ya. Jadi, account kita

[24:37] bisa diverifikasi dan itu jadi account

[24:40] official itu berbayar. Namun eh

[24:43] default-nya kan sosial media itu sendiri

[24:45] platformnya gratis. Kemudian balik lagi

[24:48] tentang komunikasi dua arah. Jadi kita

[24:50] bisa langsung tahu nih ee orang suka

[24:53] enggak sih sama konten kita. Itu juga

[24:55] penting banget.

[24:58] Nah, lalu kemudian

[25:00] sebenarnya apa sih yang dikejar em

[25:04] saat kita menggunakan sosial media untuk

[25:06] ee pemasaran?

[25:08] Ee jadi saya menggambarkannya ada tiga

[25:11] sebenarnya dikejar ee banget pastinya

[25:16] setiap produk atau brand itu adalah

[25:18] transaksi atau purchase. Tapi sebelum

[25:21] itu ada apa sih? Kalau saya bisa bilang

[25:23] menyebutnya pertama adalah eksistensi.

[25:25] Jadi

[25:27] em sosial media itu dipakai ee sebagai

[25:30] media untuk menunjukkan bahwa brand kita

[25:32] itu memiliki nyawa. Kita hidup, kita

[25:34] bisa bicara, kita bisa berpikir, kita

[25:38] bisa mengutarakan

[25:40] ee aspirasi kita,

[25:44] kita bisa marah, kita bisa sedih. Nah,

[25:47] itulah eksistensi di sini. Jadi ee

[25:50] mungkin pertemuan sebelumnya saya juga

[25:52] ee sempat ee memberikan tips ee tentang

[25:57] sosial media digital marketing itu

[25:59] tentang emm brand produk itu alangkah

[26:03] baiknya kalau

[26:06] di em dikemasnya sebagai yang

[26:09] memanusiakan manusia. Jadi dari situlah

[26:13] muncul interaksi dengan customer.

[26:16] Ee kemudian selanjutnya adalah

[26:19] verifikasi. Nah, di sini sendiri adalah

[26:23] netizen atau customer itu mulai emm

[26:26] menganalisa jadi produk atau brand ini

[26:28] tuh betulan enggak sih atau cuman ee

[26:32] akun-akun bikin-bikinan

[26:34] palsu aja gitu. Nah, di sini eh netizen

[26:39] mulai memberikan verifikasi. Jadi, brand

[26:41] dianggap sebagai penyedia jasa atau

[26:43] produk yang terpercaya atau enggak sih

[26:45] gitu. Dan setelah ee proses verifikasi

[26:48] tersebut baru deh ee customer atau

[26:51] netizen itu akan melakukan ee proses

[26:54] transaksi atau purchase

[26:57] yang eh endpint-nya itu ada banyak

[26:59] banget macam-macamnya.

[27:01] ada misal booking atau kalau sekarang

[27:04] adalah orang nonton di TikTok udah

[27:06] langsung klik keranjang kuning itu

[27:08] adalah transaksinya ada di situ semua

[27:10] dan dari situ kan sebenarnya kita bisa

[27:13] kayak melihat lagi kita enggak semudah

[27:15] itu juga kok langsung klik keranjang

[27:18] kuning kita ngelihat dulu nih kontennya

[27:20] videonya ee terpercaya atau enggak terus

[27:23] kita kepoin akunya akunya memang sering

[27:26] kok bikin konten-konten seperti ini gitu

[27:29] ya.

[27:30] Nah, baru dari situ orang percaya ee dan

[27:34] kalaupun belum percaya dia masih ragu

[27:38] ada karena adanya eksistensi konten itu

[27:41] ada terus, ada terus, ada terus akhirnya

[27:43] oke aku mau deh, aku mau beli. Nah, itu

[27:45] adalah ee apa yang dikejar dari sosial

[27:48] media marketing itu sendiri. Jadi, ada

[27:50] tiga tahap ee kita membuat produk kita

[27:54] atau brand kita itu eksis terlebih

[27:56] dahulu supaya bisa diverifikasi oleh ee

[28:01] customer. Jadi, kayak autentifikasi gitu

[28:03] loh, kayak ini beneran otentik enggak

[28:06] sih gitu. Baru terjadi adanya transaksi.

[28:11] Nah,

[28:13] ini bisa dibilang em saya share tentang

[28:17] ini pernah terjadi dan sering banget

[28:20] terjadi di industri ee agensi

[28:24] perahensian. Kalau teman-teman agensi

[28:28] ahensi gitu ya nyebutnya. Jadi

[28:31] ada yang pernah ee bilangnya begini.

[28:36] Jadi ada ada

[28:39] calon klien yang dia mau pakai agensi

[28:42] tapi terus ee iya kalau enggak salah ada

[28:46] klien e calon klien dia mau pakai agensi

[28:48] terus dia bilang ee aduh kayaknya aku

[28:50] enggak jadi beli deh ee enggak jadi

[28:52] pakai deh soalnya ee agensinya itu

[28:55] terakhir posting

[28:58] ee tahun 2003 eh 2023 which is mungkin 2

[29:02] tahun atau 3 tahun yang lalu gitu. Nah,

[29:06] dari sini emm itu jadi meluas nih ee apa

[29:11] yang bisa kita analisa. Jadi, impact-nya

[29:13] adalah ee orang yang tadinya sudah kayak

[29:17] tinggal purchase atau transaksi ternyata

[29:19] enggak jadi. Karena waktu melihat

[29:22] postingan di Instagram atau di platform

[29:24] sosial media lainnya itu terakhir

[29:27] posting udah lama banget. Jadi kayak

[29:29] dianggap akun jualannya udah enggak

[29:32] aktif lagi nih. Jadi ini juga bisa jadi

[29:36] salah satu hal ee orang menentukan deal

[29:40] atau enggak gitu.

[29:44] Nah, ini real-nya ada salah satu

[29:46] contohnya juga kayak gini. Lebih nyesek

[29:48] mana sama klien yang batal dealing cuman

[29:50] karena lihat akun sosmet kontraktornya

[29:53] terakhir pos Maret 2023. Nah, ini saya

[29:57] ee ngambil dari trades ya. Ada salah

[30:01] satu salah satu netizen bilang kayak

[30:03] gini. Nah, bisa kita jadikan pelajaran

[30:07] bersama bahwa sekarang sosial media

[30:09] memang sangat dibutuhkan eksistensinya

[30:12] ya. Jadi

[30:15] jangan sampai kita enggak posting atau

[30:17] kayak 1 minggu atau 1 bulan bahkan bisa

[30:21] bertahun-tahun enggak posting.

[30:23] Emm

[30:25] meskipun ya emm

[30:28] ada beberapa produk yang udah legend dan

[30:31] kayak enggak peduli di online itu kayak

[30:33] gimana. Alangkah baiknya digital

[30:36] aset-nya tetap diupdate

[30:39] di segala macam platformnya itu em tetap

[30:43] di eh handle di-maintain karena

[30:47] kita melihat behavior dari user sekarang

[30:51] saat contohnya begini ya teman-teman eh

[30:54] saat Teman-teman main ke contoh salah

[30:57] satu kota di Bandung atau di Yogyakarta.

[31:01] di Yogyakarta deh yang paling mudah ya.

[31:04] Misal teman-teman

[31:06] mm cari

[31:08] ee lagi cari gudek yang paling enak di

[31:12] Yogyakarta. Nah, saat teman-teman lagi

[31:15] searching, nah itu biasanya yang muncul

[31:19] itu tuh di mana? Misal carinya di media

[31:21] sosial atau di Google.

[31:24] saat tidak muncul ee

[31:28] apa yang kita mau, kita kan akan mencoba

[31:30] lagi cari cari cari lagi. Nah, misal ada

[31:33] gudek yang sudah legend entah namanya

[31:35] Yujum, Wijilan atau manapun itu. Saat

[31:38] mereka tidak mengoptimalkan digital

[31:40] asetnya mereka tidak akan muncul di

[31:44] hasil pencarian. Ini relate banget

[31:46] dengan search engine optimization ya.

[31:49] Tapi ini erat kaitannya dengan ee sosial

[31:53] media marketing juga. Nah, biasanya yang

[31:57] muncul di ee

[31:59] hasil pencarian itu adalah brand-brand

[32:01] yang baru yang atau brand lama atau yang

[32:05] udah legend tapi memang digital asetnya

[32:07] masih tetap di-update.

[32:10] Nah, itu ee bisa berbahaya. Em,

[32:13] contohnya juga kalau beberapa

[32:17] brand atau produk legend mereka tidak

[32:21] mengoptimalkan digital asetnya, orang

[32:23] bisa lupa atau bahkan enggak beli lagi,

[32:26] enggak ada transaksi lagi di situ.

[32:29] Pernah juga saya cerita ya di pertemuan

[32:32] sebelumnya tentang kenapa sih brand

[32:34] Indomie Aqua itu masih bikin iklan,

[32:38] bikin ee digital video komersil gitu.

[32:42] itu

[32:44] untuk menjadikan e reminder atau

[32:47] pengingat ke orang-orang kalau brand ini

[32:51] itu masih ada loh, masih eksis loh. Itu

[32:54] yang ingin di ee tuju oleh brand-brand

[32:58] eh legend gitu ya.

[33:01] Karena kita sama-sama tahu brand baru,

[33:06] mm brand-brand yang dikelola anak muda

[33:10] itu sangat banyak sekali sekarang.

[33:14] Misal kita bahasnya adalah ee Aqua, air

[33:18] kemasan. Sekarang udah banyak banget air

[33:22] kemasan yang mungkin bahkan lebih murah

[33:24] dan lebih lebih mudah di ee jangkau.

[33:28] Bisa beli di mana, mudah banget. Aqua

[33:31] bisa aja kalah saing nih, gitu ya. Nah,

[33:35] ini ee salah satu pentingnya eksistensi.

[33:38] Jadi

[33:40] untuk mencapai eksistensi salah satunya

[33:42] adalah kita bisa konsisten posting, kita

[33:45] konsisten menyapa customer seperti itu.

[33:48] Lalu juga ini salah satu ee bentuknya

[33:51] eksistensi. Saat ee produk kita itu ada

[33:55] akun di media sosial, kita juga harus

[33:58] fast respons. Jadi saat ada DM tanya

[34:02] tapi kok baru dijawab 5 hari kemudian. A

[34:05] itu tandanya ee brandnya enggak tanda

[34:09] kutip enggak niat gitu ya. Jadi emm

[34:13] mungkin orang sudah beralih ke brand

[34:15] yang lain gitu. Jangan sampai itu

[34:18] terjadi. Nah, ada lagi gini. Aduh enggak

[34:22] jadi order deh soalnya kontennya enggak

[34:23] meyakinkan. Nah, enggak meyakinkan ini

[34:26] juga bisa

[34:28] jadi salah satu hal yang

[34:31] em customer beralih ke brand lain.

[34:35] Enggak meyakinkan tuh bisa jadi

[34:37] postingannya. Misal biasanya

[34:41] ee mempromosikan

[34:43] apa namanya? Contoh makanan.

[34:46] Kemudian kok lama-lama

[34:49] kontennya membahas tentang komedi yang

[34:52] wah enggak jelas nih. Terus ternyata kok

[34:54] membahas tentang politik kayak gitu.

[34:57] Meskipun kita politik juga perlu gitu

[34:58] ya, tapi enggak relevan nih dengan

[35:01] akunnya. Ini beneran atau enggak sih?

[35:03] Atau bahkan ee suka ng-repost-ngerepost

[35:07] konten-konten yang bertolak belakang

[35:10] dengan jualannya, dengan brandnya atau

[35:12] produknya. Nah, ini juga jadi enggak

[35:14] aduh enggak meyakinkan. enggak jadi

[35:16] order deh kayak gitu. Itu juga bisa saja

[35:19] terjadi.

[35:21] Nah, kita beranjak ke

[35:24] keberagaman platform ya. Jadi kalau kita

[35:26] sama-sama ee melihat lagi jadi di

[35:31] ee khususnya di Indonesia

[35:33] platform-platform yang ee saya sebutkan

[35:36] ini sangat common ya, Teman-teman. Juga

[35:40] saya yakin sudah pernah menggunakannya.

[35:43] Jadi ada X, Instagram, Facebook, Trades,

[35:46] eh

[35:49] dan juga ada TikTok ya.

[35:53] Jadi menurut saya dari kelima ini pun

[35:57] ini beda-beda karakternya. Mungkin kalau

[35:59] kita boleh nambahin ada juga Linkin ya,

[36:03] tapi bisa dibilang Linkin ini sangat

[36:06] berbeda sendiri nih dari sosial media

[36:09] kelima ini. Karena kalau Linkin itu mm

[36:13] sangat profesional ya dan kalangannya di

[36:17] ee memang ya betul profesionalitas kerja

[36:20] lah ya. Sedangkan untuk kelima platform

[36:24] ini, ini masih ee tergolong sangat

[36:27] personal.

[36:28] bangetnya itu masih ada entertain, masih

[36:31] ada ee macam-macam lah kayak gitu. Cuman

[36:34] dari lima ini pun ternyata punya

[36:36] karakter ee masing-masing ya. Kalau kita

[36:39] ngelihat di X, kalau teman-teman

[36:41] emm suka melihat timeline-nya X

[36:46] itu sekarang memang sangat bergantung

[36:48] dengan ee interest kita di X. Kalau kita

[36:51] suka ee

[36:54] berinteraksi dengan postingan politik ee

[36:57] komedi, munculnya akan politik dan

[36:59] komedi. Tapi kalau kita sering

[37:02] berinteraksi dengan content entertain,

[37:05] em gosip selebrity dapatnya juga kayak

[37:07] gitu. Cuman secara eh overall sebenarnya

[37:10] X ini tuh kan awalnya Twitter ya, ini

[37:13] sebutannya adalah microblogging.

[37:17] Di sini orang ee dengan sangat bebas

[37:19] bisa menulis apapun itu dalam bentuk

[37:22] teks untuk menyampaikan apa yang ada di

[37:25] kepala kita. Nah, kalau untuk brand

[37:27] produk dulu, mm pakai e masih Twitter

[37:32] itu ee ramai juga e brand menggunakan

[37:36] Twitter sebagai platform sosial media

[37:38] marketing.

[37:40] Dan

[37:42] terakhir kalau saya enggak salah, mm

[37:45] kalau di X itu ada fenomena

[37:49] ee yang tadi saya sampaikan

[37:52] tentang brand atau produk itu mulai

[37:55] memanusiakan manusia, jadi juga

[37:57] memanusiakan akunnya itu sendiri. Jadi

[38:00] sempat ada fenomena kalau teman-teman

[38:02] pernah ngikutin

[38:05] ada akun Brownies Amanda kemudian ada mm

[38:10] apalagi ya waktu itu sampai ada kayak

[38:13] Tokopedia, Shopee dan lain-lain emm

[38:16] Toshiba gitu ya. mereka saling

[38:19] berinteraksi sesama

[38:22] ee akun official ini. Saling ngobrol,

[38:24] saling melempar candaan, melempar meme

[38:28] atau mereka kerja sama ya kolaborasi.

[38:31] Nah, dari sini sebenarnya X sudah

[38:35] beranjak juga

[38:38] ee mulai dari mikroblogging

[38:41] jadi seperti mengutarakan ee ekspresi

[38:45] gitu loh. Jadi mau itu cuman singkat

[38:48] tapi bisa kayak ngasih tahu nih, oh emm

[38:51] produk ini, brand ini itu lagi ada

[38:55] campaign apa nih kayak gitu. Jadi enggak

[38:57] yang harus iklan banget terus poster

[39:00] gede gitu, enggak juga. Dengan kita

[39:03] interaksi ngobrol itu kita juga bisa kok

[39:05] nyampein campaign kita. Lalu Instagram.

[39:08] Kalau Instagram memang kita akan sangat

[39:10] dimanjakkan dengan visual meskipun

[39:12] sekarang

[39:14] video-video eh short itu tuh udah masuk

[39:17] juga di Instagram yang ada di rails ya.

[39:20] Jadi menurut saya Instagram sudah sangat

[39:23] beragam.

[39:24] ee informasi dari situ juga bisa banyak

[39:27] banget, tapi juga hampir sama juga

[39:31] seperti Xuai dengan mm interest kita

[39:36] gitu ya. Jadi kalau kita suka otomotif

[39:39] ee bisa aja tuh di explore kita

[39:42] munculnya mobil, motor dan lain

[39:44] sebagainya.

[39:46] Ee tapi di sini kebanyakan yang namanya

[39:49] Instagram karena dulu awal mulanya

[39:51] Instagram itu adalah orang yang suka

[39:54] foto fotografi.

[39:57] Jadi kesannya yang ada di Instagram itu

[40:00] adalah foto-foto cantik, video-video

[40:02] cantik. Maksudnya cantik tuh estetik,

[40:05] bagus-bagus.

[40:07] Beda dengan Facebook. Kalau Facebook itu

[40:10] meskipun ada video itu Facebook itu

[40:13] kayak videonya ngasal.

[40:16] Bahkan saking ngasalnya kita malah jadi

[40:19] penasaran gitu. Kadang ya

[40:21] relate dengan em ngasalnya tersebut

[40:25] karena sangat dekat dengan kita banget.

[40:28] Kalau Instagram kan seakan kayak banyak

[40:31] khayalan lah di situ. Kayak

[40:34] orang pakai skincare apa udah langsung

[40:37] kelihatan cantik, kelihatan em berkilau

[40:42] apalah kayak gitu-kayak gitu ya

[40:44] kelihatan mewah gitu. Nah, kalau di

[40:47] Facebook ini kebalikannya kadang malah

[40:49] sangat apa adanya itu malah lebih relate

[40:52] dengan ee netizen ya. Kemudian sekarang

[40:56] yang lagi naik down itu trades. Eh, jadi

[41:00] memang meta

[41:02] enggak cuman punya Facebook, enggak

[41:04] cuman punya Instagram, tapi juga punya

[41:07] trades. Trades ini bisa dibilang eh head

[41:10] to head-nya dengan X. Di situ juga

[41:13] microblogging.

[41:15] Eh, sangat menariknya di trade sendiri

[41:17] sekarang orang sangat mudah sekali untuk

[41:21] saling berinteraksi. Jadi bertukar

[41:24] pikiran atau hanya sesederhana bercanda

[41:29] atau kalau sekarang sedang banyaknya

[41:32] adalah orang bertanya rekomendasi sebuah

[41:35] produk atau opportunity. Jadi contohnya

[41:38] banyak di trades yang mereka tuh ee

[41:41] bilang,

[41:43] "Saya mau main ke Bandung. kasih

[41:44] rekomendasi dong coffee shop yang

[41:46] menurut kalian layak untuk saya

[41:49] kunjungi. Wah, nanti orang akan ke sini,

[41:52] ke sini, ke sini, ke sini. Nah, biasanya

[41:54] brand akan nempel di situ kayak ee boleh

[41:58] ya kalau mau main ke daerah Lembang

[42:00] nanti boleh mampir ke coffee shopku ya

[42:03] di sini, sini sini gitu. Nah, trades eh

[42:06] sudah mulai beranjak ee seperti itu

[42:09] penggunaannya oleh brand dan em sosial

[42:12] media marketing-nya seperti itu.

[42:15] Dan kemudian tentunya TikTok kalau K ini

[42:19] sangat masif ee pada awal TikTok Boom

[42:24] ya.

[42:25] Segala macam video ada di TikTok.

[42:29] Namun sekarang kalau saya melihatnya

[42:33] TikTok yang tadinya adalah musik

[42:35] joget-joget sekarang udah mulai beralih

[42:38] meskipun masih banyak juga konten ee

[42:42] musik joget-joget tapi TikTok udah mulai

[42:45] beragam bahkan sampai ee banyak sekali

[42:50] teman-teman afiliator yang emm jadi

[42:54] contonten kreator di situ.

[42:56] bikin video review, kemudian ee

[43:00] mempromosikan produknya ada semua ada di

[43:03] TikTok ee seperti review coffee shop,

[43:06] review eh hotel, tempat menginap, apapun

[43:09] itu atau nge-vlog. Yang tadinya nge-vlog

[43:12] itu biasanya

[43:15] menggunakan platformnya YouTube,

[43:16] sekarang ada di TikTok dan banyak sekali

[43:19] TikTok. Namun TikTok eh lebih ke video

[43:23] ya, memang short video em apa namanya

[43:26] formatnya. Jadi bahkan sangat singkat

[43:29] banget. Kalau bisa

[43:32] 5 detik deh informasi yang kita ee apa

[43:38] ya sebetulnya hook videonya itu tuh 5

[43:41] detik. Bahkan kalau bisa lebih cepat

[43:43] lagi 2 detik. Kalau orang udah bosan

[43:46] pasti scroll e videonya gitu ya. Nah,

[43:48] ini sangat ee singkat banget. Kita harus

[43:53] dapat atensi dari mm usernya TikTok.

[43:59] Kemudian lanjut ya. Di sini saya akan

[44:02] cerita tentang ee

[44:04] konten yang efektif itu tuh seperti apa

[44:07] sih?

[44:08] Emm

[44:10] bisa dibilang

[44:13] saya membaginya ketiga. Jadi ada

[44:15] entertain, edukatif, dan juga

[44:17] inspiratif. Emm

[44:20] konten efektif ini sebenarnya saya juga

[44:23] tidak bisa menjadikan ini patokan

[44:27] kontennya akan laku. Maksudnya laku tuh

[44:29] banyak yang nonton, banyak yang ee

[44:32] melihat gitu. Enggak juga. Tapi ini

[44:34] sebagai ee guideline. Jadi apa aja sih

[44:38] biasanya konten-konten yang emm punya

[44:42] possibility untuk mendapatkan traffic

[44:45] lebih banyak, eh engagement lebih

[44:47] banyak, reach lebih luas gitu ya. Kalau

[44:50] untuk di entertain biasanya ada mem,

[44:53] kemudian video challenge, eh juga ada

[44:56] tren-tren viral,

[44:59] kemudian prank.

[45:01] Mm. Tapi biasanya ya, Teman-teman, kalau

[45:04] saya juga ee melihat tren viral, saya

[45:09] ada menyayangkannya adalah orang-orang

[45:12] yang ee memviralkan

[45:15] tren-tren yang menurut saya itu tuh

[45:17] kurang pantas untuk diviralkan. Salah

[45:20] satu contohnya sempat ada viral emak

[45:24] mocking atau mengolok-olok teman-teman

[45:27] disabilitas gitu ya. itu sangat

[45:30] enggak sopan, enggak punya etika juga

[45:33] ya. Dan jangan sampai ee apa namanya?

[45:38] hal-hal

[45:40] seperti itu bisa viral gitu loh.

[45:44] Dan ee apa namanya?

[45:47] Kita sebagai user juga bisa apa ya

[45:49] namanya? nge-filter gitu loh. Jangan

[45:52] sampai ee maksudnya jangan asal viral

[45:55] kita ikutin gitu karena

[45:58] memang ada rule-nya juga. Ee apalagi

[46:01] kalau kita membahasnya adalah social

[46:04] media marketing, jangan sampai juga kita

[46:06] sebagai brand atau produk latah FOMO,

[46:10] ikut-ikutan tren yang lagi viral.

[46:13] ternyata itu bisa jadi ee

[46:16] senjata makan tuang atau boomerang buat

[46:19] ee produk atau brand kita. Entar malah

[46:21] brand kita bisa dihujat kayak gitu.

[46:25] Kemudian kayak prank juga ada banyak

[46:27] sekali saya menemukan

[46:29] prank-prank yang malah bukannya

[46:31] menghibur tapi malah

[46:34] em

[46:35] apa ya merugikan ee orang yang di-prank

[46:39] gitu jangan sampai ya. Jadi, entertain

[46:41] pure itu adalah menghibur orang yang

[46:45] nonton jadi happy, ee terhiburlah ya,

[46:49] entertain itu lebih ke situ. Kemudian

[46:52] yang selanjutnya ada edukatif. itu

[46:55] biasanya ada tips, tutorial, how to ya,

[46:57] fakta menarik,

[47:00] edukatif tips tuh misal contohnya

[47:04] em

[47:06] cara menghemat bensin

[47:10] ee karena sekarang pertama ee harganya

[47:13] naik misal seperti itu, itu bisa banget

[47:17] ee punya posibilitas

[47:21] untuk dapat banyak traffic ya di situ

[47:23] ya.

[47:25] Tapi juga jangan kasih tips atau

[47:27] tutorial yang e fake juga. Jangan kasih

[47:31] yang mm apa namanya? Ee zong juga ya.

[47:36] Itu nanti kita juga enggak baik nih si

[47:38] brand kayak gitu. Fakta menarik misal

[47:41] contohnya

[47:43] em

[47:46] contohnya apa ya?

[47:48] ee barang-barang

[47:50] barang-barang yang ada di tok ee

[47:52] barang-barang yang ada di aku nyebut

[47:54] merek ya, barang-barang yang ada di

[47:57] Indomaret atau Alfamart ternyata itu

[48:00] buatan ee lokal loh kayak gitu. Nah, apa

[48:04] aja tuh barangnya disebutin. Nah, itu

[48:08] fakta yang menarik atau fakta-fakta lain

[48:10] yang lebih ee menarik lagi itu juga bisa

[48:13] jadi konten yang punya eh possibility

[48:17] dapat traffic gitu ya. Kemudian

[48:19] inspiratif.

[48:20] Inspiratif itu

[48:23] em biasanya ya storyting tuh inspiratif.

[48:26] Jadi ada kisah sukses, motivasi-motivasi

[48:29] gitu.

[48:31] Kemudian em

[48:33] seperti gini kayak dulu berat badanku

[48:36] sekian. Setelah setelah aku mm ee

[48:41] olahraga,

[48:42] menjaga pola makan, bla bla bla bla,

[48:45] akhirnya aku bisa mendapatkan berat

[48:47] badan tubuh yang ideal. Nah, itu ee

[48:50] kisah sukses e untuk memotivasi itu

[48:53] sangat inspiratif. Nah,

[48:56] efektif content ini sebenarnya kalau

[48:58] bisa dirangkum sebenarnya menurut saya

[49:02] ini adalah konten-konten yang sharaable.

[49:04] Jadi, sekalinya teman-teman itu membuat

[49:07] konten yang sharaable itu ee akan

[49:12] mendapatkan traffic yang lebih daripada

[49:14] konten yang biasa aja gitu. Nah, jadi di

[49:17] sini saya juga akan nyebut eh konten

[49:19] yang share itu suatu keharusan ya kalau

[49:22] untuk di sebuah brand atau produk.

[49:25] Apapun itu tuh bisa dibuat jadiin

[49:29] sharable content.

[49:31] Ee sesederhananya ada ini yang sering

[49:34] sekali dipakai oleh berbagai macam

[49:36] brand.

[49:37] mau itu brand industrinya otomotif, Fnb,

[49:41] eh

[49:43] apapun itu ya segala macam ya, tapi

[49:47] biasanya punya pola yang sama itu saat

[49:52] mau berganti tahun, misal bulan Desember

[49:55] akhir atau awal tahun, konten konten

[49:59] yang ada di timeline kita adalah

[50:03] berikut daftar long weekend selama sama

[50:07] tahun 2027 misal kayak gitu.

[50:11] Itu

[50:13] banyak banget ee brand yang pasti pakai

[50:17] ee pola itu. Jadi

[50:20] itu adalah hal ee hal yang mudah untuk

[50:23] dijadikan sharable content. Jadi orang

[50:26] akan iya nih orang-orang harus banyak

[50:28] tahu nih kalau di 2027 long weekend-nya

[50:31] ada kapan aja, tanggal berapa aja, bulan

[50:33] apa aja gitu. Jadi langsung share share.

[50:36] share ke grup WhatsApp, share ke DM

[50:39] Instagram, share ke mana, ke mana, ke

[50:40] mana. Nah, dari situ trafficnya naik,

[50:43] engagement reach, impression naik,

[50:45] semuanya

[50:47] eh dapat gitu ya.

[50:49] Nah, dari situ em shareable content itu

[50:54] kemudian bisa eh mendongkrak

[50:57] konten-konten yang sebelumnya sudah ada

[51:00] gitu. Nah, dari sini brand eh mulai

[51:04] dapat tambahan exposure, dapat awareness

[51:07] lagi kayak gitu. Mungkin teman-teman emm

[51:12] bisa kalau pas lagi brainstorm itu

[51:14] banyak banget ya sharable content dan

[51:16] memang kita harus lebih kreatif lagi

[51:20] untuk eh gimana caranya dapat sharable

[51:23] content karena itu satu-satunya cara

[51:26] paling murah dan mudah untuk kita

[51:29] mendapatkan traffic.

[51:31] kita enggak harus melulu promosi terus

[51:33] kok kontennya di ee media sosialnya

[51:37] brand kita atau produk kita. sesekali

[51:40] konten-konten tadi itu ya eh yang

[51:43] edukatif, inspiratif, kemudian entertain

[51:45] itu yang intinya eh lebih lagi kalau

[51:49] memang sharable content itu lebih ee

[51:52] keren lagi.

[51:55] Ee keren dalam artian ee punya

[51:58] possibility yang ee baik untuk

[52:00] mendapatkan lebih banyak traffic gitu

[52:02] ya.

[52:04] Nah, lalu em saya akan menyampaikan

[52:08] tentang strategi efektifnya di ee sosial

[52:12] media marketing itu apa sih?

[52:15] Jadi yang pertama ada identifikasi,

[52:18] kemudian konsistensi, ada evaluasi,

[52:21] kemudian solusi. Jadi, kita akan bedah

[52:24] satu-satu. Yang pertama itu ada

[52:27] identifikasi. Sebenarnya identifikasi

[52:29] apa? yang ee yang pastinya adalah

[52:32] identifikasi audiens. Jadi,

[52:35] sosial media marketing itu kita harus

[52:38] mengawali mengawalinya dengan kita harus

[52:41] tahu

[52:43] ke siapa kita akan ee

[52:46] apa ya menyuarakan atau mm kita menuju

[52:51] ke siapa sih target konsumen kita gitu.

[52:56] Identifikasi audience. Jadi mulai dari

[53:00] lokasi, umur, ee gender

[53:03] ee itu semuanya harus diidentifikasi

[53:05] bahkan interest ya kayak orang-orang

[53:07] yang suka apa nih itu namanya

[53:09] identifikasi. Fungsinya adalah biar kita

[53:12] tepat sasaran. Jangan sampai ee

[53:16] itu ya kita salah target.

[53:19] Karena kalau salah target em

[53:22] ya kita pastinya akan mengulang lagi

[53:25] caranya dan itu ee apa namanya?

[53:30] Jadi double-dobble ya effort kita. Jadi

[53:34] jadi apa? Makan waktu juga,

[53:38] wasing time juga lah intinya. Terus

[53:41] budget juga pasti akan

[53:43] ee berkurang gitu. Kemudian konsistensi.

[53:47] Kembali lagi seperti konsistensi yang

[53:49] tadi saya sempat ceritakan.

[53:52] Em ada banyak hal yang bisa kita capai

[53:55] untuk mencapai konsistensi. Kalau tadi

[53:58] saya cerita tentang mm rajin posting.

[54:02] Ee

[54:04] di sisi lain konsistensi ini sebenarnya

[54:07] adalah upaya untuk ee kita mencapai yang

[54:11] namanya discoverability.

[54:14] discoverability. Jadi, em

[54:18] orang dengan akan mudah langsung

[54:21] ee menemukan brand atau produk kita saat

[54:24] mereka mencari atau bahkan saat mereka

[54:27] tidak mencari pun langsung dapat eh

[54:31] suggestion produk atau brand kita. Itu

[54:35] adalah eh the power of eh dari kita

[54:39] melakukan konsistensi.

[54:41] Nanti saya akan cerita tentang

[54:43] konsistensi lebih ee lanjut, ya.

[54:46] Kemudian ada evaluasi. Evaluasi itu

[54:49] boleh dibilang saya ini penting banget

[54:51] di sosial media marketing. Jadi saat

[54:55] kita sudah pernah melakukan campaign A,

[54:57] campaign B, kita evaluasi nih hasilnya

[55:00] seperti apa. Ee apakah ada komplain,

[55:04] apakah ada masukan dari atau ada saran

[55:08] dari customer kita evaluasi.

[55:11] Dari situ kita kasih solusi untuk ee

[55:15] mereka. Jadi saat misal mereka ada

[55:18] ngeluh sesuatu, kita kasih solusi gitu.

[55:21] Jadi solusi itu memberikan mm enggak

[55:25] semuanya kita harus kasih ya solusinya.

[55:27] Jadi apa yang bisa kita lakukan dan itu

[55:30] ee make sense untuk dilakukan dan tanpa

[55:33] ee tanpa merusak brand kita perlu ee

[55:37] kasih solusi. Jadi empat hal ini ada

[55:40] identifikasi, konsistensi, evaluasi,

[55:42] solusi.

[55:44] Jadi, empat hal ini menurut saya

[55:47] ini eh perlu dilakukan dalam sosial

[55:50] media marketing.

[55:52] Em karena banyak case em apa namanya?

[55:57] kejadian-kejadian yang biasanya terjadi

[56:01] itu brand ee misal collaps atau brandnya

[56:06] enggak laku itu karena

[56:10] melewatkan salah satu empat hal ini.

[56:14] Misal dia enggak ada di evaluasi. Ini

[56:18] bahaya banget juga.

[56:21] E banyak sekali orang kasih review

[56:23] jelek, tapi ini brand kita enggak mau

[56:26] evaluasi nih. Ya, lama-lama kita hancur

[56:29] juga karena kita enggak mau mendengarkan

[56:32] apa kata customer gitu. Misal eh salah

[56:36] identifikasi audiens itu juga berbahaya

[56:38] banget karena kita salah target nih.

[56:42] That's why kok enggak ada purchase,

[56:44] enggak ada transaksi kayak gitu. Karena

[56:47] ternyata kita salah identifikasi gitu

[56:48] ya.

[56:50] Nah, ini tentang evaluasi. Jadi, em

[56:58] salah satu review di

[57:02] ee apa namanya? Salah satu restauran.

[57:07] Tapi sebenarnya restoran ini tuh masih

[57:10] laku banget dan sekarang jadi bagus

[57:13] banget.

[57:14] Di sini saya mau menyampaikannya adalah

[57:17] meskipun 3 tahun yang lalu dapat bintang

[57:19] satu dan review-nya itu jelek banget,

[57:25] tapi sebagai brand atau pemilik

[57:27] restauran tersebut perlu adanya

[57:30] evaluasi.

[57:32] dari komen-komen atau review yang ada di

[57:35] Google, harusnya owner atau tim

[57:38] manajemen dari sebuah restauran itu bisa

[57:41] ee menjadikannya adalah

[57:45] kesempatan untuk memperbaiki diri. Dari

[57:48] situ restoran bisa ee evaluasi

[57:53] ee memperbaiki kesalahan,

[57:56] lalu mencoba menjadi

[57:59] ee restauran yang disukai oleh customer.

[58:03] Bagaimana caranya? Nah, ini kan 3 tahun

[58:06] yang lalu. Sekarang restoran ini ramai

[58:09] dan pengunjungnya banyak. Ee jadi loyal.

[58:13] Dari situ ee saya menyimpulkan kalau

[58:16] yang namanya evaluasi itu sangat penting

[58:18] juga untuk keberlangsungan hidup dari

[58:21] brand itu sendiri. Mungkin 3 tahun yang

[58:23] lalu restoran ini hampir collaps, hampir

[58:27] tutup karena banyak banget hujatan. Dan

[58:30] ini enggak cuman satu dua orang hampir

[58:33] ee mungkin setiap pengunjung itu tuh ee

[58:36] memberikan review yang sama gitu.

[58:40] Nah, itu the power of evaluasi itu tadi.

[58:45] Nah, beranjak ke personal branding. Nah,

[58:49] ini saya sebenarnya di akhir-akhir ee

[58:52] saya menyampaikan ee pengalaman saya di

[58:54] sosial media marketing.

[58:57] Emm, ada satu cerita yang baru-baru ini

[58:59] sedang terjadi. Kalau teman-teman pernah

[59:02] dengar eh brand namanya Tinudi Atire itu

[59:06] sebuah

[59:08] ee apa ya? produk baju

[59:13] ternyata em sedang bermasalah.

[59:16] Sebenarnya internal sih, tapi impact-nya

[59:20] sangat ee berpengaruh banget ee untuk

[59:24] keberlangsungan brand itu sendiri. Jadi

[59:28] singkat cerita brand ini adalah sebuah

[59:31] brand baju yang menggunakan

[59:34] sosok orang sebagai em

[59:38] perwujudan dari brand itu sendiri.

[59:41] Kalau di sini sebutannya ada namanya Mas

[59:44] Rahman ini ya. Nah, Mas Rahman ini di

[59:47] setiap kontennya TU di Atire ini tuh

[59:49] selalu ada. Jadi muka dia selalu ada.

[59:53] Jadi orang langsung ber merekam gitu ya.

[59:58] Ya, Tinudi Atira atau TDT ini itu ya Mas

[01:00:01] Rahman ini gitu. Bahkan kalau Mas Rahman

[01:00:06] ke mana udah langsung oh ini Mas-mas

[01:00:08] Tenudi Atire gitu. Nah, ini yang saya

[01:00:12] sebut tentang personal branding. Brand

[01:00:15] itu sudah sangat melekat dengan sosok

[01:00:17] seseorang dan sosok seseorang ini sudah

[01:00:21] melekat dengan brand.

[01:00:23] ini biasanya dipakai di brand-brand eh

[01:00:26] kalau mereka itu tuh emm apa ya ee

[01:00:32] brand-brand besar yang mereka nyebutnya

[01:00:33] adalah brand ambassador. Jadi misal

[01:00:36] contoh dulu sempat kalau enggak salah

[01:00:39] Shopee pakai Tukul Arwana kemudian ada

[01:00:43] Cristiano Ronaldo. Itu sebutannya brand

[01:00:45] Ambassador. Sebenarnya sisi lain ee

[01:00:48] untuk mendongkrak mm awareness. Jadi

[01:00:52] pasti yang namanya brand ambassador ini

[01:00:54] kan sudah punya fans. Misal contohnya

[01:00:58] Cristiano Ronaldo sudah punya banyak

[01:01:00] fans. Akhirnya dia mempromosikan Shopee.

[01:01:03] Orang fans-nya Cristiano Ronaldo jadi ee

[01:01:07] lebih tahu tentang Shopee gitu. Lalu

[01:01:12] banyak banget ee brand-brand menggunakan

[01:01:15] brand Ambassador ya. Nah, tapi kalau

[01:01:17] Tenude Atire ini dia menggunakan ee

[01:01:21] sosok orang yang orang belum banyak

[01:01:24] kenal dia siapa, tapi karena dia selalu

[01:01:27] muncul terus, eksistensi itu dibangun,

[01:01:32] akhirnya Mas Rahman ini sangat ee

[01:01:36] melekat banget dengan brand Tenu di

[01:01:39] Atire ini gitu. Nah, kasusnya bukan

[01:01:42] kasus ya, ee isu-isu dari brand ini

[01:01:46] mulai muncul saat Mas Rahman ini katanya

[01:01:50] itu ee resign ya. Jadi ee enggak kerja

[01:01:55] lagi nih di Tenu di Atire. Jadi dari

[01:01:58] pihak brand kemudian take down

[01:02:00] video-video yang ada sosoknya Mas Rahman

[01:02:03] ini karena mau rebranding dengan

[01:02:06] ee sosok person lainnya. Tapi ternyata

[01:02:11] Mas Rahman kecewa gitu loh. Kayak yah

[01:02:13] kenapa sih kok di-take down? Padahal itu

[01:02:15] kan pencapaian juga ya. Dan orangor

[01:02:19] netizen juga mendukung Mas Rahman.

[01:02:21] Kenapa kok Brand jadi mentake down eh

[01:02:24] video-videonya yang ada mukanya Mas

[01:02:26] Rahman kayak gitu. Nah, tapi sisi lain

[01:02:30] kalau kita ee

[01:02:32] ini bisa banyak banget point of view ya.

[01:02:36] Kalau dari sisi brand pastinya kalau

[01:02:39] brand ambasador kita sudah enggak

[01:02:42] bekerja sama dengan brand lagi, otomatis

[01:02:45] kan kita enggak bisa dong mengandalkan

[01:02:47] ke sosok ini. Akhirnya kita perlu

[01:02:50] replace seseorang yang baru dan kita

[01:02:53] perlu membangun itu lagi dari awal.

[01:02:55] Akhirnya kan brand ambasador lama memang

[01:02:58] harus ditinggalkan gitu mau enggak mau

[01:03:01] gitu.

[01:03:02] Dan kalau kasus ini tenude etre ini pada

[01:03:06] akhirnya ee bisa berdamai, bisa di ee

[01:03:11] secara kekeluargaan lah gitu.

[01:03:14] Tapi ini bisa jadi salah satu bahan em

[01:03:19] focus group discussion atau apapun itu

[01:03:22] eh tentang brand ambasador atau sosok

[01:03:25] yang sudah melekat dengan brand dan

[01:03:27] brand yang sangat tergantung dengan

[01:03:30] sosok seseorang. Nah, ini bisa positif

[01:03:34] dan bisa negatif. Dan mungkin ada banyak

[01:03:37] banget brand yang ee kita enggak tahu

[01:03:41] brandnya apa, tapi kita kenal nih dengan

[01:03:44] orangnya itu banyak banget.

[01:03:46] Em apa ya? Kalau misal kita ee cari-cari

[01:03:51] lagi

[01:03:54] ee misal kalau zaman dulu tuh

[01:04:00] ee ada iklan dari produk namanya tolak

[01:04:04] angin.

[01:04:06] Mungkin orang

[01:04:09] ee enggak banyak ingat produknya namanya

[01:04:12] tolak angin, tapi mereka akan mengingat

[01:04:15] namanya

[01:04:17] ee Basuki. Karena

[01:04:21] zaman dulu saat tolak angin itu bikin

[01:04:24] iklan menggunakan ee talentnya adalah

[01:04:28] Mas Basuki almarhum ya. Jadi ee di situ

[01:04:33] ada slogannya wes weswes bablas angine

[01:04:36] kayak gitu. Jadi orang itu sudah sangat

[01:04:39] melekat

[01:04:40] ee produknya tolak angin itu mm wesw

[01:04:43] sewwes bablas anginnya basuki gitu.

[01:04:46] Sedangkan nama tolak anginnya itu

[01:04:48] terlupakan. Nah, itu bisa positif dan

[01:04:51] bisa negatif juga. Dan banyak ee

[01:04:53] brand-brand baru sekarang yang ee juga

[01:04:57] melekat ke seseorang gitu ya.

[01:05:00] Nah, lalu tentang reputasi. Mungkin

[01:05:02] reputasi juga kita bisa melihatnya

[01:05:05] seperti tadi saya sampaikan tentang em

[01:05:08] siapa?

[01:05:10] Tentang cerita resta itu

[01:05:13] ee saat kita enggak memperbaiki reputasi

[01:05:17] yang buruk itu bisa makin buruk. Tapi

[01:05:20] kalau kita memperbaiki reputasi kita

[01:05:22] bisa kembali lagi jadi baik. Tapi di

[01:05:25] sini saya ee menyampaikannya reputasi

[01:05:28] yang berbeda lagi nih. Mungkin

[01:05:31] teman-teman pernah ngelihat

[01:05:33] akun KFC Indonesia ada di mana-mana. Di

[01:05:36] Trade ada di X ada di Instagram juga ada

[01:05:39] di Facebook mungkin ada. Jadi akun KFC

[01:05:42] Indonesia ini dia selalu komen

[01:05:45] video-video viral, video-video yang ee

[01:05:49] banyak ditonton orang dan dia komentar

[01:05:52] yang sangat manusiawi gitu ya. Maksudnya

[01:05:56] manusiawi itu ya komen seperti manusia

[01:06:00] lainnya, bukan komen yang isinya promosi

[01:06:03] gitu. Nah, ini menurut saya jadi salah

[01:06:07] satu fenomena ee sebenarnya bukan

[01:06:09] fenomena juga ya.

[01:06:12] Mungkin beberapa brand sudah memahami,

[01:06:14] oh begini caranya bisa lebih dekat

[01:06:16] dengan customer yang ee sebutannya tadi

[01:06:20] saya sempat menyampaikan tentang

[01:06:21] discoverability. Jadi kita ada di

[01:06:24] mana-mana itu sebutannya reputasi kita

[01:06:27] membangunnya di situ. Nah, emm KFC ini

[01:06:31] dia komen dengan bahkan lebih kekadang

[01:06:34] bercandaan ya kalimatnya itu membuat

[01:06:38] orang-orang menganggap KFC ini seru ee

[01:06:42] teman yang asik.

[01:06:44] Jadi bisa berbalas-balasan ee komen dan

[01:06:49] harapannya mungkin ya suatu saat ee

[01:06:52] netizen saat di jalan lapar tiba-tiba ah

[01:06:54] KFC aja deh. Nah, itu yang ee jadi

[01:06:58] goalnya KFC ya mungkin ya meskipun saya

[01:07:01] juga tidak ada di dalam bagian KFC tapi

[01:07:04] saya yakin beberapa brand lain pun

[01:07:07] menggunakan cara ini untuk

[01:07:10] ee berusaha berupaya

[01:07:13] supaya orang orang-orang itu ee

[01:07:16] memasukkan brand tersebut ke top of

[01:07:19] m-nya orang-orang gitu.

[01:07:21] Misal ini KFC ya, ya pokoknya itu tadi

[01:07:23] top of manku lapar KFC gitu seperti itu.

[01:07:27] Atau ee banyak selain KFC juga banyak

[01:07:30] kok. Saya sering nemu em

[01:07:32] banyak banget ee akun-akun kayak gini

[01:07:34] dan enggak masalah juga untuk dilakukan

[01:07:38] karena ini hal-hal yang wajar aja gitu.

[01:07:42] Em,

[01:07:43] teman-teman juga bisa menggunakan cara

[01:07:45] ini. Dan cara paling ee mudah ya, hanya

[01:07:48] saja ee KSI ini juga kemarin sempat

[01:07:53] kalau enggak salah kena isu juga. Jadi,

[01:07:56] ada orang komplain

[01:07:59] ee dia pesan di KFC

[01:08:02] sudah purchase, sudah bayar ternyata

[01:08:06] ayamnya habis gitu.

[01:08:10] Ee

[01:08:11] dari situ emm

[01:08:15] orang-orang langsung mana nih adminnya

[01:08:18] KFC nih kok ee konten komplainnya enggak

[01:08:23] dibalas gitu. Di mana dia di setiap

[01:08:26] video viral itu dia selalu ada. Nah, ini

[01:08:29] jadi positif negatif tapi menurut saya

[01:08:33] lebih banyak positifnya ya.

[01:08:37] Nah, biasanya contohnya video-video yang

[01:08:40] komentarnya bisa sampai belasan,

[01:08:43] ribu-ribuan,

[01:08:45] dipost berkali-kali sama banyak orang,

[01:08:49] itu biasanya ada tuh ee admin KFC nongol

[01:08:52] di situ dan admin-admin ee brand lainnya

[01:08:55] ada di situ.

[01:08:58] Nah, mungkin ini em sedikit ee agak

[01:09:03] teori tapi mungkin saya share

[01:09:05] pengalaman. Jadi, ada hal-hal em

[01:09:09] yang mungkin baiknya teman-teman

[01:09:12] memahami istilah-istilah ini di sosial

[01:09:16] media marketing atau di dalam digital

[01:09:19] marketing itu sendiri. Jadi, ada

[01:09:21] sebutannya konten pilar. Kalau

[01:09:22] teman-teman nanti akan mendengar,

[01:09:25] bikinin ini dong, konten pilar. Nah,

[01:09:28] konten pilar itu apa sih sebenarnya? Ee

[01:09:32] bisa dibilang konten pilar itu adalah

[01:09:36] ee guideline atau acuan brand

[01:09:40] itu mau membuat pos tentang apa saja.

[01:09:44] Nah, contohnya begini. ada restor emm

[01:09:48] ganti deh emm

[01:09:51] ada tempat misal hotel gitu ya ada hotel

[01:09:57] produk ee brandnya adalah hotel. Nah,

[01:09:58] konten pilarnya tuh ada apa aja? Misal

[01:10:01] kita bagi menjadi empat deh gitu ya.

[01:10:05] Jadi yang pertama konten pilar pertama

[01:10:10] hotel akan membuat konten tentang

[01:10:13] ee

[01:10:15] rekomendasi kuliner yang ada di

[01:10:17] sekitaran hotel tersebut. Kemudian yang

[01:10:20] kedua adalah em

[01:10:26] rekomendasi tempat wisata yang ada di

[01:10:28] sekitar hotel. Kemudian yang ketiga

[01:10:32] ee akan membahas tentang

[01:10:35] ee

[01:10:38] apa namanya tadi? Tentang hal-hal

[01:10:41] inspiratif atau kisah-kisah motivasi.

[01:10:45] baru yang terakhir adalah konten eh

[01:10:48] product knowledge atau promosi. Jadi

[01:10:51] konten pilarnya ada empat yang akan

[01:10:53] dibuat itu tuh masing-masingnya tadi

[01:10:55] itu. Jadi setiap minggunya atau ya

[01:10:58] biasanya setiap minggunya akan posting

[01:11:01] empat konten pilar ini gitu.

[01:11:04] membahas kuliner, ada, bahas tempat

[01:11:06] wisata, ada, bahas kisah inspirasi, ada,

[01:11:12] ee bahas produk knowledge dari hotel itu

[01:11:14] sendiri pun ada dan promosinya. Jadi

[01:11:17] enggak enggak akan lepas juga nih orang

[01:11:20] juga perlu tahu produk kita itu hotel ee

[01:11:23] lokasinya di mana, punya kamar berapa,

[01:11:27] harganya berapa, itu ada dan ditambah

[01:11:30] dengan ee konten-konten lain. Jadi ini

[01:11:33] sebutannya konten pilar. Ee bisa aja

[01:11:37] brand membuat konten pilarnya lima atau

[01:11:39] bahkan tujuh. Misal dalam 1 minggu

[01:11:41] setiap hari ada pos baru dengan konten

[01:11:45] pilar yang ee jenis yang berbeda-beda.

[01:11:48] Nah, konten pilar ini sendiri biasanya

[01:11:51] digabungkan ke dalam satu kalender

[01:11:53] besar. Jadi, kalender itu bentuk tabel

[01:11:58] untuk 1 bulan ke depan. Nah, biasanya

[01:12:00] misal ini Juni ee orang-orang atau

[01:12:04] teman-teman agensi yang pegang brand

[01:12:07] biasanya sudah membuat konten em ee

[01:12:10] melengkapi konten pilarnya ke dalam

[01:12:12] sebuah kalender untuk bulan Juli, untuk

[01:12:14] bulan depan.

[01:12:16] Nah, itu udah kepikiran kalau di bulan

[01:12:20] Juli ada hari libur apa, perayaan apa,

[01:12:23] akan bikin konten apa, atau udah bikin

[01:12:26] ee kalendernya di bulan Agustus. Oh iya,

[01:12:29] jangan lupa ya bikin konten perayaan 17

[01:12:33] Agustus seperti itu dan ee

[01:12:37] brand yang ee apa namanya bisa dibilang

[01:12:41] ee profesional gitu ya. Bahkan biasanya

[01:12:44] bisa membuat konten pilar kalendernya

[01:12:46] itu selama 1 tahun ke depan. Itu lebih

[01:12:50] keren banget. Biasanya SDM-nya banyak

[01:12:53] juga sih gitu

[01:12:55] ya. Kemudian bergeser ke UGC, user

[01:12:58] generated content. Nah, Teman-teman

[01:13:00] kalau

[01:13:02] ada yang cerita tentang UGC itu apa, nah

[01:13:04] ini sangat menarik.

[01:13:07] Brand yang bisa sampai tercipta UGC itu

[01:13:10] tuh keren banget. Emm,

[01:13:13] contohnya gini.

[01:13:17] Em

[01:13:19] misal ya ada sebuah saya pernah nemu

[01:13:22] sebuah produk ee

[01:13:25] penghilang jamur di kaca mobil

[01:13:28] saya nyebut merek ya. Ada namanya

[01:13:30] nanoteknologi itu. Itu saya sering lihat

[01:13:34] di TikTok dan ternyata banyak banget ee

[01:13:38] orang yang bikin video untuk jualan

[01:13:41] produk tersebut.

[01:13:43] Meskipun ini ujung-ujungnya adalah

[01:13:44] affiliate, orang dapat komisi dengan

[01:13:47] jualan produk tersebut, tapi saya bisa

[01:13:50] menyimpulkan kalau ini adalah UGC user

[01:13:53] generated content. Banyak juga orang

[01:13:56] yang nge-review produk tersebut tapi

[01:13:58] enggak jualan. Itu pure karena produk

[01:14:01] tersebut bagus ee hasilnya memuaskan.

[01:14:04] Jadi banyak orang dengan ee apa ya?

[01:14:09] dengan sukarela bikin konten untuk

[01:14:12] me-review bagus produk-produk tertentu

[01:14:15] gitu. Itu sebutannya UGC user generated

[01:14:18] content. Dan ada bentuk lain lagi

[01:14:21] tentang user generated content itu

[01:14:22] sendiri ya. Em jadi adalah konten-konten

[01:14:26] yang dibikin oleh ee netizen secara

[01:14:31] organik itu sebutannya UGC.

[01:14:34] emm itu bisa jadi salah satu alat sosial

[01:14:39] media marketing yang bagus banget karena

[01:14:42] kita less budget. Kita enggak harus ee

[01:14:46] bayar bayar siapapun karena orang-orang

[01:14:49] dengan sukarela mempromosikan produk

[01:14:52] kita. Lalu selanjutnya ada influencer

[01:14:54] marketing baru. Di sini kita menggunakan

[01:14:57] budget untuk menggunakan influencer

[01:15:00] untuk mempromosikan produk atau brand

[01:15:02] kita.

[01:15:03] biasanya ada kayak nano influencer,

[01:15:07] mikro,

[01:15:08] makro, kemudian biasanya sebetulnya mega

[01:15:12] ee mega influencer gitu ya kalau

[01:15:15] followernya udah puluhan juta gitu.

[01:15:19] Tapi sekarang yang menariknya itu yang

[01:15:22] mm nano influencer itu sendiri yang

[01:15:25] mungkin followernya juga cuman 500, 1000

[01:15:30] itu bisa jadi nanoinluencer.

[01:15:33] Kalau saya menyebutnya selain

[01:15:35] nanoinluencer itu adalah

[01:15:37] eh troopers. Jadi kalau ada

[01:15:41] teman-teman pernah ngelihat Star Wars

[01:15:43] itu kan ada trom trom trooper gitu kan.

[01:15:46] Nah, ee

[01:15:49] troopers ini adalah kayak pasukan. Jadi,

[01:15:51] pasukan yang ee dia bisa bergeril ya

[01:15:57] untuk memasarkan produk gitu. Karena

[01:16:01] setiap orang misal nih saya followernya

[01:16:04] cuma R500.000 Ibu di Instagram, tapi kan

[01:16:08] saya punya banyak teman-teman secara

[01:16:10] offline. Nah, saat

[01:16:12] saya em posting review video yang saya

[01:16:17] upload di Instagram dengan follower saya

[01:16:19] 500 itu yang nonton itu bisa jadi 90%

[01:16:23] 500 follower saya, teman-teman saya itu

[01:16:26] akan nonton dan akan lebih ee percaya

[01:16:30] karena sangat personal banget nih ee apa

[01:16:34] yang disampaikan gitu. Beda dengan mm

[01:16:38] mungkin mega influencer yang saat dia

[01:16:39] mempromosikan suatu barang ya pasti

[01:16:42] fans-nya ada ya dan mau ikut membeli

[01:16:45] produk tersebut tapi

[01:16:47] enggak juga sampai berjuta-juta fans-nya

[01:16:51] itu akan membeli produk yang sama dan

[01:16:54] orang-orang udah banyak yang tahu gitu

[01:16:56] kan. Oh ini pasti jualan nih kalau

[01:16:59] influencer yang followernya berjuta-juta

[01:17:01] gitu.

[01:17:02] Kemudian eh social commerce. Jadi yang

[01:17:05] kita sebut eh affiliator itu dia bisa

[01:17:10] mempromosikan produknya di video TikTok.

[01:17:13] keranjang kuning itu sebutannya social

[01:17:15] commerce karena itu adalah endp atau

[01:17:20] journy-nya yang ingin dicapai ee dari

[01:17:23] kreator atau brand agar orang purchase

[01:17:27] itu klik itu. Nah, social commerce

[01:17:29] inilah yang ee menjembatani antara brand

[01:17:34] dan juga content creator untuk sama-sama

[01:17:37] mendapatkan ee hasil produk brand atau

[01:17:42] produk itu berhasil menjual produknya.

[01:17:47] Kemudian

[01:17:49] afiliator atau content creator juga

[01:17:51] berhasil mendapatkan komisi gitu. Itu

[01:17:53] namanya social commerce.

[01:17:56] Dan yang paling penting menurut saya di

[01:17:58] sosial media marketing itu adalah

[01:18:00] Nosara. Jadi enggak boleh menurut saya

[01:18:03] sangat ini wajib banget. Kita harus bisa

[01:18:06] kontrol. Enggak boleh kita mengulas

[01:18:09] atau membenturkan kepentingan antar

[01:18:11] golongan, ras, agama, dan suku gitu ya.

[01:18:15] Karena di Indonesia itu sangat sensitif

[01:18:17] banget

[01:18:19] kalau ada konten-konten yang berbau

[01:18:21] tentang SARA gitu.

[01:18:24] Jangan juga kita ee gampang membuat

[01:18:27] konten

[01:18:29] karena itu tadi tren ee viral juga

[01:18:33] supaya biar kita tidak ee mudah

[01:18:36] memprovokasi. Jangan sampai brand kita

[01:18:39] itu memprovokasi orang ya. Karena itu

[01:18:41] bahaya banget

[01:18:43] menurutku. Ini pegangan e guidelines

[01:18:48] untuk di sosial media meskipun ada hal

[01:18:51] yang lainnya ya.

[01:18:53] Tapi saya enggak masukin ke sini. Tapi

[01:18:55] ini menurut saya sama-sama penting juga.

[01:18:57] Jangan sampai juga kita menggunakan

[01:19:00] sosial media marketing itu untuk eh

[01:19:02] bukan untuk ya, tapi menggunakan

[01:19:06] ee cara ini untuk mempromosikan brand

[01:19:09] kita, yaitu menggunakan ee caranya

[01:19:12] adalah pornografi. Jangan menurutku ya,

[01:19:15] jangan sekali-kali

[01:19:18] kita menggunakan unsur pornografi untuk

[01:19:20] menjual produk kita. Karena

[01:19:23] ya mungkin ee itu adalah cara yang

[01:19:27] sangat cepat untuk mendapatkan traffic,

[01:19:31] tapi menurutku itu tidak etis ee enggak

[01:19:33] sopan karena ya orang akan melihat

[01:19:37] produknya bukan real secara produknya

[01:19:40] itu kualitasnya bagus atau berguna tapi

[01:19:43] ke hal yang lain gitu. Jadi jangan kita

[01:19:47] jadikan dekoi atau apa ya kamuflase gitu

[01:19:51] ya. Karena saya banyak sekali melihat di

[01:19:55] media sosial

[01:19:57] emm

[01:19:59] influencer itu menggunakan ee

[01:20:03] apa ya bahasanya kamuflase-kamuflase itu

[01:20:06] tuh untuk jualan. Misal

[01:20:10] gini ya, Teman-teman. Gampangnya adalah

[01:20:13] misal ada produk mm sabun mandi, sabun

[01:20:17] cair

[01:20:18] itu kan kita bisa ya mengemasnya menjual

[01:20:21] sabun mandi dengan cara yang lebih

[01:20:23] bijak. Jangan kita posting video kita

[01:20:27] lagi mandi di-soyot dari belakang.

[01:20:29] Jangan juga kayak gitu ya. Karena

[01:20:31] menurut saya itu enggak etis aja.

[01:20:34] Meskipun ee dulu banyak juga iklan di

[01:20:37] televisi ee memperlihatkan gitu ada

[01:20:41] orang sedang mandi karena itu produknya

[01:20:43] ee sabun mandi. Tapi menurut saya ada

[01:20:46] banyak hal-hal kreatif lainnya kok yang

[01:20:48] bisa kita buat untuk mempromosikan

[01:20:51] produk-produk tertentu yang memang itu

[01:20:54] sangat

[01:20:56] personal, sangat sensitif gitu.

[01:20:59] Nah, itu tentang ee apa aja yang ada di

[01:21:03] sosial media yang perlu kita tahu. Mm

[01:21:06] lalu, selanjutnya

[01:21:08] udah langsung ke pro tips dari saya. Ini

[01:21:11] ending dari ee cerita pengalaman saya di

[01:21:15] sosial media marketing. Jadi untuk di

[01:21:18] sosial media marketing menurut saya kita

[01:21:20] perlu ee membangun hubungan dengan

[01:21:22] audiens itu paling utama.

[01:21:26] kita perlu juga menciptakan kepercayaan.

[01:21:28] Dari situ kita akan mengubah

[01:21:30] perhatiannya menjadi ee hasil yang nyata

[01:21:34] gitu ya, baik itu penjualan, leads,

[01:21:36] maupun ke loyalitas pelanggan. Jadi,

[01:21:40] sosial media marketing secara

[01:21:41] keseluruhan tadi saya ceritakan

[01:21:43] pengalamannya ujung-ujungnya

[01:21:46] kita ee pengin mendapatkan pelanggan

[01:21:50] yang loyal. Karena saat kita sudah

[01:21:53] mendapatkan pelanggan yang loyal,

[01:21:57] kita less effort, kita less budget, gitu

[01:22:00] ya. Kita enggak perlu lagi ee budget

[01:22:04] kita terbuang di ee search engine

[01:22:09] marketing, di sosial media marketing

[01:22:13] atau ke influencer. Karena kita sudah

[01:22:17] dapat pelanggan yang loyal. kita hanya

[01:22:20] perlu menggunakan budget kita untuk ee

[01:22:25] promosikan produk kita untuk regenerasi

[01:22:28] customer karena

[01:22:30] customer loyal kita yang sudah lama

[01:22:33] pasti akan

[01:22:36] regenerasi gitu. Jadi kita perlu untuk

[01:22:39] ee membuat campaign-kampaign regenerasi

[01:22:41] customer.

[01:22:43] Jadi itu tadi ya saya ee kembali

[01:22:46] mengulas lagi tentang membuat hubungan

[01:22:48] yang baik dengan audiens ya. menggunakan

[01:22:50] sosial media

[01:22:52] bikin kepercayaan. Kita ciptakan

[01:22:53] kepercayaan ee supaya orang-orang tuh

[01:22:57] percaya dan mau pakai produk kita. Lalu

[01:23:00] kita ubah nih emm saat kita ke notice

[01:23:04] kita em konversi jadi penjualan

[01:23:08] transaksi leads atau tadi ya loyalitas

[01:23:12] pelanggan.

[01:23:14] Oke dari saya cukup sekian teman-teman.

[01:23:18] Kalau dari teman-teman ada yang mau

[01:23:21] bertanya, boleh banget tentang sosial

[01:23:25] media marketing atau

[01:23:27] teman-teman kemarin mendapatkan

[01:23:30] ee apa ya? Mungkin aku penasaran deh

[01:23:33] kenapa brand ini, produk ini kok bisa

[01:23:36] laku banget ya atau apapun itu nanti

[01:23:39] bisa kita ee diskusikan bersama.

[01:23:44] Oke, mungkin saya kembalikan ke

[01:23:46] moderator atau ke Pak Martin dulu kali

[01:23:49] ya.

[01:23:51] Oke, terima kasih. Terima kasih Mas

[01:23:54] Samsul. Ee di applause dulu kepada Mas

[01:23:58] Samsul untuk materinya ya. Saya saya

[01:24:02] dapat catatan-catatan tadi tuh ya. Nah,

[01:24:05] silakan bertanya anak-anak ya. Anak-anak

[01:24:08] kepada ee Mas Samsul. kita ada masih

[01:24:11] masih ada sedikit ya sedikit ee mungkin

[01:24:14] satu dua dari kalian. Nah, sambil nih

[01:24:16] nunggu kalian boleh ya boleh seperti ya

[01:24:19] seperti biasanya kalau emang memang

[01:24:21] tidak bisa open mic bisa tulis di di

[01:24:25] kolom chat ya apa aja ya yang ada

[01:24:28] unek-uneknya mungkin yang sedang sudah

[01:24:30] coba lagi coba-coba. Nah, nah itu bisa

[01:24:33] ee kalian ee apa namanya ee coba

[01:24:36] tanyakan ya. Nah, sambil nunggu nih, Mas

[01:24:38] Samsul.

[01:24:39] Iya,

[01:24:39] tadi aku ada catatan sedikit nih. Ee

[01:24:43] tadi kan ee Mas Samsul menunjukkan ee

[01:24:48] proses ee yang bertahap tentang tren

[01:24:54] live shopping ya yang terjadi saat ini.

[01:24:57] Lalu kemudian ada kaitannya saya kaitkan

[01:24:59] dengan impulsif e buyingnya gitu ya.

[01:25:03] Nah, bagaimana cara supaya brand

[01:25:09] bisa membangun

[01:25:11] tahap apa ya? Tahap diverifikasi itu ya

[01:25:15] ya untuk membangun trust itu ya.

[01:25:20] Ee iya

[01:25:21] bisa enggak kita bangun itu dalam

[01:25:24] dalam hitungan

[01:25:26] apa ya hitungan menit kali atau detik

[01:25:28] [tertawa] kali bisa enggak sih dari di

[01:25:31] di zaman sekarang itu

[01:25:32] maksudnya bukan hitungan detik atau

[01:25:35] menit ya maksudnya

[01:25:37] ada enggak tips dan trik Mas Samsul

[01:25:40] supaya

[01:25:42] kita bisa cepat nih

[01:25:43] nah kan namanya media sosial itu kan

[01:25:46] apalagi ini apalagi

[01:25:49] Ee banyak teman-teman tuh yang bilang,

[01:25:52] "Pak Martin

[01:25:54] kalau udah agak gede itu justru agak

[01:25:56] susah bangun terust itu." Nah, gitu.

[01:25:59] Coba ee bisa enggak,

[01:26:01] Mas Samsul? Silakan, Masul.

[01:26:03] I. Oke, Pak Martin. Kalau dari saya ya,

[01:26:07] em

[01:26:10] terkadang mungkin

[01:26:12] saya punya pikiran itu tuh ee kayak

[01:26:17] terlalu

[01:26:19] apa ya? Terlalu liar gitu. Dalam artian

[01:26:21] liar tuh begini.

[01:26:24] meskipun ya ee mungkin dari beberapa

[01:26:27] kelas kemarin

[01:26:29] itu yang kita bahas adalah sesinya

[01:26:31] tentang digital marketing.

[01:26:34] Tapi dari pertanyaan Pak Martin tadi itu

[01:26:37] ee apa ya? Ini akan

[01:26:41] memunculkan ee

[01:26:44] ide-ide liar saya yang itu tuh

[01:26:46] sebenarnya udah dari lama banget saat

[01:26:49] saya ada di digital marketing pun

[01:26:51] sebenarnya begini. meskipun nih digital

[01:26:53] marketing, tapi menurut saya em ada

[01:26:57] beberapa cara yang harus dilakukannya

[01:27:00] secara offline. Jadi tidak tidak

[01:27:03] menggunakan ee secara digital ya. Tadi

[01:27:06] Pak Martin kan

[01:27:08] ee bertanyanya tentang ada enggak sih

[01:27:10] cara yang mungkin cara

[01:27:14] gitu yang cara paling cepat, cara yang

[01:27:17] paling pokoknya paling

[01:27:20] sesingkat-singkatnya deh kita bisa

[01:27:22] mendapatkan attention dari orang,

[01:27:25] dapatkan perhatian dan kepercayaan dari

[01:27:27] orang. Nah, menurut saya kalau saya ada

[01:27:31] brand ee yang mau seperti itu, saya akan

[01:27:35] mencoba cara offline. Cara offline tuh

[01:27:39] begini contohnya.

[01:27:41] Misal kita harus tentukan dulu campaign

[01:27:43] kita tuh apa, produk kita itu value-nya

[01:27:47] apa,

[01:27:49] ee yang cuma kita yang punya, brand lain

[01:27:54] itu enggak punya. Jadi, value unic

[01:27:56] selling point-nya itu apa?

[01:27:58] Nah, baru kita buat ee

[01:28:01] campaign-kampaign-nya secara offline,

[01:28:04] kita bikin sedemikian rupa secara

[01:28:06] kreatifnya itu bagaimana. Biasanya kita

[01:28:09] ee bisa kok dibantu dengan agensi atau

[01:28:12] apapun itu. Nah,

[01:28:16] dari offline ini biasanya akan ee dibawa

[01:28:19] ke online-nya.

[01:28:21] ee jurninya itu begini, Pak Martin. Jadi

[01:28:25] mungkin kalau dulu pernah ada beberapa

[01:28:27] brand ee

[01:28:30] misal contohnya ya

[01:28:33] ee ada brand sunblock atau skin apa

[01:28:38] namanya lotion atau apapun itu gitu ya.

[01:28:41] Pernah saya mendapatkan satu momen

[01:28:43] brainstorming tapi eh saya enggak tahu

[01:28:48] itu tuh terealisasi atau enggak. Jadi

[01:28:51] gini, ini cara-cara ekstrem. Jadi ada

[01:28:54] produk dari sunblock atau sunscreen

[01:28:57] gitu, dia tuh langsung terjun ke

[01:29:00] lapangan.

[01:29:02] Ada orang-orang dari brand tersebut

[01:29:05] membagi-bagikannya secara gratis ke ee

[01:29:08] Bapak-bapak ojek online.

[01:29:11] Karena Bapak-bapak ojek online ini tuh

[01:29:14] kan yang sering sekali terpapar langsung

[01:29:17] matahari tuh. Bahkan mereka bawa motor

[01:29:20] enggak pakai sarung tangan. Ada tuh e

[01:29:23] bapak-bapak ojel yang tangannya itu

[01:29:25] sampai terbakar. Terbakarnya itu

[01:29:28] kulitnya bisa gelap gitu loh. Gelapnya

[01:29:31] itu bukan gelap karena kulitnya hitam

[01:29:33] tuh bukan, tapi memang terbakar gitu ya.

[01:29:36] Nah, dari situ campaign ee mulai

[01:29:40] digerakkan tuh bagaimana kita bisa dapat

[01:29:43] eh live experience dari Bapak-bapak Ojol

[01:29:46] menggunakan sunscreen sunblock. sunblock

[01:29:49] secara konsisten selama beberapa hari ke

[01:29:52] depan. Nah, dari situ memunculkan ee

[01:29:55] impact-nya seperti apa nih, Bapak-bapak

[01:29:58] Ojol. Dari situ orang ee brand ee

[01:30:02] menggunakan itu sebagai konten. Jadi,

[01:30:06] pengalamannya Bapak-bapak Ojol selama

[01:30:08] pakai produk tersebut bagaimana

[01:30:10] impact-nya seperti apa, lalu itu di

[01:30:13] digital di digitalkan, maksudnya

[01:30:15] di-shoot, di video apa macam-macam. Nah,

[01:30:17] itu yang ee apa ya menurut saya untuk

[01:30:23] menumbuhkan kepercayaan itu kita perlu

[01:30:26] adanya

[01:30:28] ee live experience review dari orang

[01:30:31] yang memang menggunakan produk atau jasa

[01:30:34] tersebut. Jadi kita enggak bisa melulu

[01:30:37] cuman campa-nya online tanpa kita e

[01:30:41] menyentuh bagian offline-nya lagi.

[01:30:43] Karena menurut saya kembali lagi mau itu

[01:30:47] digital

[01:30:48] kan kita hidup secara offline gitu. Ee

[01:30:52] online hanya sebatas media aja, platform

[01:30:55] aja ee medium cara aja ya. Tapi kita

[01:30:59] harus benar-benar bisa merasakan

[01:31:01] offline-nya itu tuh seperti apa. Eh, itu

[01:31:04] yang menurut saya cara paling jitu,

[01:31:07] paling cepat untuk mendapatkan ee trust

[01:31:11] verifikasi dari ee customer. Contohnya

[01:31:14] kalau dari kejadian tadi dari e

[01:31:17] bapak-bapak ojol itu bercerita kemudian

[01:31:20] kan orang-orang akan melihat oh iya ya

[01:31:23] bapak-bapak ojol aja dengan menggunakan

[01:31:25] sunscreen atau sunblock ternyata ee

[01:31:29] mengurangi dampak dari paparan radiasi

[01:31:33] atau apa macam-macam dan kulitnya mulai

[01:31:36] cerah lagi enggak lagi terbakar enggak

[01:31:39] lagi keriput kulitnya lebih moist dan

[01:31:42] segala macam kayak kayak gitu. Nah,

[01:31:45] menurut saya em life experience itu yang

[01:31:50] ee bisa jadi salah satu cara untuk

[01:31:53] otorisasi atau verifikasi orang percaya

[01:31:57] gitu. Beda halnya dengan ee

[01:32:01] konten-konten digital yang apa ya? Misal

[01:32:04] nih, contoh dulu ya, Pak Martin kalau

[01:32:07] pernah ee dapat iklan

[01:32:11] produk namanya

[01:32:13] Cevuk atau Mastin gitu, dia kan eh

[01:32:17] mastin good, Mastin good. Orang eh hanya

[01:32:22] terngiang-ngiang oleh slogannya saja.

[01:32:24] Tapi kan kita tuh jarang banget dapat ee

[01:32:28] informasi tentang sebenarnya mastin

[01:32:30] beneran bagus enggak sih? cevuk beneran

[01:32:33] bagus enggak sih? Atau ee katakanlah

[01:32:37] Nivea beneran bagus enggak sih atau

[01:32:40] Biore beneran bagus enggak sih gitu.

[01:32:42] Tapi ee

[01:32:45] kita beda kalau beneran dapat cerita

[01:32:49] dari orang yang dari life experience itu

[01:32:51] dan enggak dibuat-buat gitu. itu menurut

[01:32:53] saya cara yang paling ee meskipun kalau

[01:32:58] kalau kita lihat secara budget pasti

[01:33:00] akan banyak mengeluarkan budget ya, Pak

[01:33:03] Martin kalau untuk di marketingnya. Tapi

[01:33:06] menurut saya tetap meskipun online

[01:33:08] digital, kita harus menggeser dulu

[01:33:12] sejenak ke offline. Karena dari offline

[01:33:15] itu kita bisa berinteraksi langsung

[01:33:17] dengan calon customer dan dari situ kita

[01:33:21] bisa menganalisa dan memberikan solusi

[01:33:24] ke ee customer secara ee enggak secara

[01:33:28] langsung tapi kita beneran tepat

[01:33:30] memberikan solusi ke customer gitu.

[01:33:33] He

[01:33:33] ya. Begitulah ya, Pak. Mas, Pak Marti.

[01:33:36] Jadi eh Oke. Jadi berarti menurut Mas

[01:33:38] Samsul

[01:33:39] Heeh.

[01:33:40] masih penting ya untuk kita apa embet

[01:33:44] online kita ke dengan offline ya?

[01:33:48] Betul. Saya bahkan masih ee percaya

[01:33:53] offline itu

[01:33:55] masih ee apa ya? masih punya bagian di

[01:33:59] dalam digital marketing.

[01:34:01] Karena karena kita kalau ngelihat

[01:34:04] beberapa brand besar pun mereka masih

[01:34:07] kok

[01:34:07] mengadakan apa namanya event

[01:34:11] la lari race lari kemudian mereka masih

[01:34:15] ada

[01:34:16] ee aktivasi event di mall atau di public

[01:34:20] space

[01:34:21] itu menurut saya salah satu cara untuk

[01:34:24] mendapatkan trust juga gitu karena

[01:34:27] meskipun digital itu masif tapi memang

[01:34:30] Memang itu masih random banget meskipun

[01:34:34] kita targeted audiens-nya tapi itu

[01:34:37] ee masih random. Jadi kita perlu yang

[01:34:39] namanya

[01:34:40] mm pendekatan secara offline juga.

[01:34:43] Iya. Saya saya kalau enggak salah eh

[01:34:46] correct me if I'm wrong ya. Kalau enggak

[01:34:48] salah itu something gitu juga.

[01:34:51] Betul. seingat saya seperti itu dia. Dia

[01:34:54] ee awal-awal banyak di online, tapi

[01:34:57] kemudian setelah mulai agak sedikit

[01:34:59] besar, dia langsung kayak ambil momen

[01:35:02] he

[01:35:02] untuk memperkuat dengan ee bikin-bikin

[01:35:05] kegiatan offline sih, masuk-masuk kampus

[01:35:09] ee lalu bikin-bikin

[01:35:10] betul

[01:35:11] ikut-ikut di apa e pameran seperti itu

[01:35:13] sih sampai sekarang ya sampai sekarang

[01:35:15] sudah jadi big gitu ya.

[01:35:17] Betul. Dan saya juga mempelajari ada

[01:35:20] salah satu eh holding company besar eh

[01:35:23] dari Paragon Group itu Paragon Corp yang

[01:35:27] produknya itu ee salah satunya ada CAF,

[01:35:30] ada Wardah dan lain sebagainya. mereka

[01:35:34] masih menggunakan ee marketing offline

[01:35:37] untuk dijadikan alat mendong apa bukan

[01:35:41] mendongkrak ya sebagai awalan supaya di

[01:35:44] online-nya itu tuh ee lebih cepat untuk

[01:35:47] mendapatkan eh awareness dan atensi dari

[01:35:51] ee orang gitu ya, Pak.

[01:35:54] Karena memang

[01:35:56] produk-produk tersebut kan memang harus

[01:35:59] apa ya, harus kadang tuh orang ee gini

[01:36:03] juga, kita enggak bisa merasakan produk

[01:36:06] itu kan secara online ya, Pak. Misal

[01:36:08] contoh parfum nih, gitu. kita enggak

[01:36:10] bisa mencium parfum gitu secara online.

[01:36:13] He.

[01:36:14] Kita buat iklannya sedemikian rupa. Ada

[01:36:18] di pegunungan, ada bunga-bunga, tapi

[01:36:20] kita enggak bisa merasakan

[01:36:22] kesegaran itu, wanginya itu. Nah,

[01:36:25] offline ini tuh masih [berdehem]

[01:36:26] masih memang perlu. Jadi,

[01:36:29] ee

[01:36:30] online digital itu penting, offline juga

[01:36:34] masih tidak kalah penting untuk zaman

[01:36:36] sekarang.

[01:36:37] I. Nah, satu dari saya lagi nih, Mas

[01:36:39] boleh. Tadi Mas kan sempat bilang ee

[01:36:42] mikro dan nano itu ya.

[01:36:44] Yes.

[01:36:45] Nah, itu itu juga memang dari

[01:36:48] kajian-kajian itu udah

[01:36:52] ee sudah mulai sering banget. Bahkan

[01:36:56] perusahaan besar pun pakai nano nano

[01:36:58] influencer

[01:36:59] yang cuman 1.000 lah, cuman 500 lah,

[01:37:03] cuman 2.000 gitu ya.

[01:37:06] Betul

[01:37:06] ya. ee dan hasil kajian sih memang

[01:37:10] sebelum mereka menggunakan itu mereka

[01:37:12] menganalisa nih bahwa si

[01:37:16] profile ini memang ee dia aktif dan dia

[01:37:20] memang engage lah gitu ya.

[01:37:22] Betul.

[01:37:22] Jadi ee dia berinteraksi, sering

[01:37:24] berinteraksi gitu. Nah,

[01:37:27] tapi di beberapa sisi ini ada sedikit ee

[01:37:32] mulai ada ya bisa dibilang fenomena gitu

[01:37:36] ya. Bisa di fenomena di

[01:37:40] ee

[01:37:42] di grassroot ini, di masyarakat ini.

[01:37:44] Heeh.

[01:37:45] Itu ada beberapa ya melihat gini,

[01:37:49] "Oh, kok sudah jualan ya si ini?" gitu.

[01:37:53] Heeh. Heeh. He.

[01:37:53] Nah, gitu. Ya sudah promo-promo dialah

[01:37:56] sudah apa ada kayak

[01:37:59] ada kayak ee apa ya ee sinis sinis ya

[01:38:03] sinis sinis ya sudah mulai jualan dan

[01:38:06] waktu dilihat wah ngiklan semua nih gitu

[01:38:10] iya iya iya

[01:38:11] nah dulunya kan dia kan bikin konten

[01:38:12] bikin kontennya itu contohnya contohlah

[01:38:15] inilah contohnya kayak

[01:38:16] ee gimana sih ee apa namanya ee

[01:38:21] fitness yang bagus nah gitu ya fitness

[01:38:23] rumahan

[01:38:24] gitu-gitu kan.

[01:38:25] Iya.

[01:38:25] Tapi seiring waktu

[01:38:27] kok sudah mulai banyak ngiklan. Nah,

[01:38:30] gitu. Akhirnya jadi kayak iritasi tuh.

[01:38:33] Ha. Iya, betul.

[01:38:34] Nah, mulai iritasi tuh e ininya

[01:38:36] audiens-nya itu. He

[01:38:37] heeh heeh heh.

[01:38:38] Yang jadi pertanyaan adalah

[01:38:41] kalau kita nih mau mau pakai mau pakai

[01:38:44] nano nih ya.

[01:38:45] Ya. Mau pakai nano ataupun dari sisi

[01:38:47] kita nih orang mau mau jadi nano gitu

[01:38:49] ya.

[01:38:50] ee gimana caranya supaya enggak kena

[01:38:54] iritasi itu ke audiens gitu. Intinya kan

[01:38:57] audiens jangan sampai iritasi. Ada

[01:38:59] ada ada ini enggak ada apa tips and trik

[01:39:02] enggak gitu.

[01:39:02] Nah, saya setuju, Pak. Ee pemikiran itu

[01:39:06] ya. Jadi

[01:39:07] Iya. karena gini Mas

[01:39:10] beberapa teman saya juga yang memang

[01:39:12] jadi nano ya.

[01:39:13] Iya.

[01:39:14] Itu udah banyak banget. Udah, aku aja

[01:39:16] udah eliklan

[01:39:21] terus nih gitu. Iya iya iya.

[01:39:23] Jadi kayak konten yang dulunya dia itu

[01:39:26] konten organiknya dia tuh jadi kayak

[01:39:28] kelihatan jarangJ. Bukan jarang-jarang

[01:39:30] sih, kayak sudah kayak sudah kayak ini

[01:39:32] Mas kayak ee orang kan kalau melihat

[01:39:35] televisi kalau banyak iklannya kan juga

[01:39:38] jadi

[01:39:38] betul.

[01:39:39] Jadi ini sekarang filmnya sudah banyak

[01:39:41] iklannya. [tertawa] Nah, ini karena

[01:39:43] sudah

[01:39:44] ya seperti itu biasanya kan kalau

[01:39:46] televisi apa acara televisi semakin

[01:39:49] banyak pemirsa gitu kan pasti akan mahal

[01:39:53] banyak yang ngiklan di situ kan. Nah,

[01:39:55] itu gimana Mas? Kalau menurut saya ini,

[01:39:57] Pak. Em pertama untuk untuk si Nano itu

[01:40:02] ya pertama

[01:40:05] pertama memang ee kalau saya melihatnya

[01:40:09] harus benar-benar memilih NIS-nya itu

[01:40:11] tuh apa.

[01:40:13] Jadi

[01:40:14] misal tadi Pak Martin menyebutkan

[01:40:16] tentang e healthiness gitu ya ee

[01:40:18] kesehatan atau sport gitu ya, olahraga

[01:40:21] di situ aja terus gitu

[01:40:23] menurut saya ya. Karena misal

[01:40:26] mempertahankan value-nya ya.

[01:40:27] Iya. Value-nya di situ. Jangan sampai

[01:40:30] terus dia mempromosikan alat-alat

[01:40:33] olahraga, suplemen ee olahraga

[01:40:36] kesehatan. Terus tiba-tiba ee besoknya

[01:40:39] atau minggu depannya mulai jualan oli

[01:40:42] samping, jualan kompor, apa macam. Nah,

[01:40:45] itu tuh mulai

[01:40:47] apa namanya? Eh, itu tadi Pak Martin

[01:40:50] iritasi ya kita iritasi karena

[01:40:53] mungkin sebenarnya banyak yang follow eh

[01:40:57] akun Nano tersebut karena memang sangat

[01:41:01] ee insightful tentang rekomendasi

[01:41:03] alat-alat olahraga yang begini begini

[01:41:05] begini begitu.

[01:41:06] Hm.

[01:41:07] Pertama itu harus mempertahankan

[01:41:09] nich-nya. Jadi mempertahankan

[01:41:12] ee satu kategori aja. Nah, yang

[01:41:14] selanjutnya itu memang harus sebagai ee

[01:41:18] kreator memang kembali lagi, Pak, emang

[01:41:20] harus beneran kreatif banget.

[01:41:23] Hm.

[01:41:23] Bagaimana caranya mengemas ee iklan jadi

[01:41:27] enggak seperti iklan kayak gitu.

[01:41:30] Nah, itu yang ee dijadikan

[01:41:33] beberapa content creator itu challenge.

[01:41:35] Jadi memang isu-isu tadi Pak Marti

[01:41:39] nyebut iritasi itu memang banyak banget

[01:41:41] dijumpai. banyak orang unfollow itu

[01:41:44] karena

[01:41:45] sudah terlalu jenuh dengan iklan lagi,

[01:41:48] iklan lagi, jualan lagi gitu ya, Pak.

[01:41:50] Nah, menurut saya ee dua hal itu dan

[01:41:54] yang pastinya tadi yang kreatif itu

[01:41:57] memang caranya menurut saya jadinya kita

[01:42:01] perlu nontonin konten orang lain, kita

[01:42:04] perlu juga

[01:42:06] mempelajari ee behavior-nya user. Jadi

[01:42:09] kayak pada akhirnya banyak ee saya me

[01:42:14] apa me apa ya melihatlah beberapa

[01:42:19] influencer nano itu ini Pak mereka

[01:42:23] me apa ya menampilkan

[01:42:27] ee aktivitas keseharian mereka yang

[01:42:30] mungkin normal-normal aja baru di

[01:42:33] tengahnya ada sisipan apa kayak gitu.

[01:42:35] Jadi memang harus beneran kreatif banget

[01:42:38] gitu loh, Pak. pertama tadi harus nis

[01:42:41] satu kategori aja, enggak boleh

[01:42:42] loncat-loncat. Yang kedua memang beneran

[01:42:44] harus lebih kreatif lagi. Jangan sampai

[01:42:47] jualan kita langsung ganggu gitu. Ya,

[01:42:51] siap siap ya. Betul. Oke. Oke. Ee sudah

[01:42:56] mau selesai ya. Thank you untuk ee

[01:43:00] paparannya Mas Samsul. Jadi kayaknya

[01:43:03] anak-anak juga ee mungkin masih meresapi

[01:43:07] ya.

[01:43:09] ya mungkin masih meresapi. Jadi karena

[01:43:11] memang sosial media ini kan berubah

[01:43:13] terus ya

[01:43:15] terus

[01:43:16] ya dinamis terus gitu ya. Oke kalau

[01:43:18] begitu ee eh anak-anak sekali lagi kita

[01:43:23] eh give a big applause, warm applause to

[01:43:26] Masul.

[01:43:27] Terima kasih.

[01:43:28] E sebelum kita mengakhiri ee yuk kita

[01:43:32] open cam kita akan dokumentasiin

[01:43:39] sebentar ya saya buat galeri dulu.

[01:43:43] Oke, silakan open mic, open cam-nya.

[01:43:51] Kalista, Farel, Fadil,

[01:43:55] Dinda, Gilbert.

[01:44:01] Oke, siapa lagi? Eh, Kenan Sultan,

[01:44:07] Ozi, Antoni Gunawan. Yuk, silakan open

[01:44:11] mic-nya.

[01:44:15] Oke, kita akan dokumentasikan ya.

[01:44:18] Yang terbuka ini ada

[01:44:21] ya. Silakan Farel. Mana Farel? Havit.

[01:44:25] Tomy. Nah, Rei. Rei, Samanta,

[01:44:30] Gisella. Naswa,

[01:44:33] Arisa Rama.

[01:44:36] Oke.

[01:44:40] Saya ambil 1 2 3. Ini yang pertama.

[01:44:47] Oke. Saya ambil 1 2 3. Ini yang pertama.

[01:44:48] Sebentar saya paste dulu.

[01:44:52] Yang kedua.

[01:44:55] 1 2 3.

[01:45:02] Oke, ya. Sekali lagi terima kasih Mas

[01:45:04] Samsul untuk materi pada siang hari ini.

[01:45:07] Mudah-mudahan kita bertemu lagi di lain

[01:45:09] kesempatan yang lebih baik lagi.

[01:45:10] Oke, makasih Masul.

[01:45:12] Terima kasih. Sampai jumpa Pak Martin

[01:45:14] dan teman-teman.

[01:45:16] Thank you anak-anak. Bye bye. I

[01:45:17] bye.

[01:45:18] Makasih, Pak.

[01:45:19] Sama-sama

[01:45:21] ya. Jangan lupa ya anak-anak ya untuk ee

[01:45:24] di chat ya. di chat ada

[01:45:27] ee

[01:45:32] ya absensi ya absensi jangan lupa. Nah,

[01:45:35] ini ya. Oke

[01:45:38] silakan kalau sudah ya link evaluasi ya

[01:45:41] silakan isi ya. Ini isi bagian dari

[01:45:43] evalu ee dari absensi kalian ya.

[01:45:51] Ya, silakan diisi dulu. yang sudah isi

[01:45:54] silakan ee boleh lanjut ya.

[01:45:58] Eh William. William

[01:46:01] ada yang mau ditanyakan?

[01:46:04] Enggak ada, ya?

[01:46:05] Tidak ada, Pak.

[01:46:07] Oke. Oke.

[01:46:11] Sekali lagi silakan diisi. Setelah

[01:46:13] Oke. Sekali lagi silakan diisi. Setelah

[01:46:13] diisi boleh silakan lanjut, ya. Boleh

[01:46:15] silakan lift dan lanjut.

[01:46:19] Oke, sampai ketemu di sesi berikutnya

[01:46:23] ya, anak-anak.

[01:46:25] Sampai jumpa. Terima kasih, Pak.
