# DM Ind 2: Essential Components And Channels In Modern Digital Marketing

https://www.youtube.com/watch?v=gkT_0RMA2Jo
Translation: en

[01:04] Oke, halo semuanya.
  Okay, hello everyone.

[01:08] Selamat pagi.
  Good morning.

[01:08] Semoga tidak patah semangatnya ya.
  Hopefully you won't lose your spirit.

[01:13] Tetap semangat ya hari ini ya, Teman-teman.
  Stay spirited today, friends.

[01:16] Oke, kenalin saya Ira.
  Okay, let me introduce myself, I'm Ira.

[01:18] Jadi, hari ini yang akan menjadi moderatornya adalah saya.
  So, today the moderator will be me.

[01:21] Dan di sini kita sudah kedatangan tamu yaitu dari Kak Rickandar.
  And here we have a guest, Kak Rickandar.

[01:24] Halo, Kak R.
  Hello, Kak R.

[01:27] Halo.
  Hello.

[01:27] Kak Ira selamat siang.
  Good afternoon, Kak Ira.

[01:31] Pagilah tetap masih pagi ini biar tetap selalu semangat pagi.
  It's still morning, let's keep the morning spirit.

[01:36] Iya.
  Yes.

[01:37] Oke, jadi hari ini Kak Ricky eh seorang digital marketer.
  Okay, so today Kak Ricky is a digital marketer.

[01:40] Jadi nanti akan membawakan topik terkait dengan essential component and channel in modern digital marketing.
  So today he will present a topic related to essential components and channels in modern digital marketing.

[01:46] Jadi terkait dengan komponen kemudian channel-nya apa aja sih yang sekarang dilakukan di proses digital marketing.
  So, regarding the components and channels, what is currently being done in the digital marketing process?

[01:53] Jadi biar teman-teman bisa lebih tahu nih, oh aku nanti mau di digital marketing butuh channel yang mana nih?
  So that friends can know more, oh, if I want to go into digital marketing, which channel do I need?

[02:02] Jadi nanti akan dijelaskan oleh Kak Ridbi.
  So it will be explained by Kak Ridbi.

[02:04] Nanti setelah itu silakan kalian kalau mau ada yang
  After that, please, if you have any

[02:06] tanya boleh tulis di chat atau bisa resen.
  You can write in the chat or respond.

[02:11] Oke.
  Okay.

[02:11] Nah, kebetulan di sini juga ada anak-anak yang non SIS ya.
  Well, coincidentally, there are also children here who are non-SIS.

[02:13] Jadi kalau anak non SIS silakan kalian juga boleh untuk bertanya ee langsung juga di situ.
  So if you are a non-SIS child, please feel free to ask directly there as well.

[02:23] Nanti akan ada form Eval yang akan di-share oleh ee di akhir acara oleh Kak Farhan.
  Later there will be an Eval form that will be shared at the end of the event by Kak Farhan.

[02:29] Jadi nanti teman-teman bisa langsung ee isi untuk nanti terkait dengan attendance.
  So later, friends, you can directly fill it out for attendance.

[02:35] Nah, buat teman-teman yang SS jangan lupa absen di taman belajar ya seperti biasa.
  Now, for friends who are SS, don't forget to check in at the learning garden as usual.

[02:40] Oke, tanpa perlu lama-lama lagi silakan Kak Ricky.
  Okay, without further ado, please Kak Ricky.

[02:53] Masih mute Rik.
  Still muted, Rik.

[02:56] jelas ya, Bu?
  Is it clear, Ma'am?

[02:58] Iya, terima kasih, Kak Ira.
  Yes, thank you, Kak Ira.

[02:58] Maaf tadi masih mute.
  Sorry, I was still muted.

[03:01] Ee selamat pagi teman-teman semuanya.
  Good morning, everyone.

[03:03] Semoga masih bisa [berdehem] semangat ya karena ini
  Hopefully, you can still [clears throat] be enthusiastic because this

[03:08] mendekati jam makan siang.
  Approaching lunchtime.

[03:10] Tapi semoga masih bisa produktif nih teman-teman.
  But hopefully, we can still be productive, friends.

[03:12] kita diskusi bareng ee tentang hari ini.
  Let's discuss together about today.

[03:15] saya dapat tugas nih dari Kak IRT mau diskusi tentang channel-channel.
  I got a task from Kak IRT to discuss channels.

[03:21] essential componen and channels in the modern digital marketing.
  Essential components and channels in modern digital marketing.

[03:24] Nanti kita bisa sambil ini ya sambil eh diskusi.
  Later, we can discuss this while we're at it.

[03:29] kalau misalkan ada pertanyaan, ada interaksi silakan drop di komen aja kita nanti bisa discuss.
  If there are any questions or interactions, please drop them in the comments, and we can discuss them later.

[03:36] Saya coba share screen.
  I'll try to share my screen.

[03:39] Screen-nya sudah oke ya.
  The screen is okay, right?

[03:50] ya.
  Yes.

[03:54] Ee jadi kalau saya di apa ya diundang sama teman-teman BINUS itu selalu senang gitu kan karena ee banyak banget bisa belajar hal baru.
  So, when I'm invited by the BINUS friends, I'm always happy because I can learn many new things.

[04:00] Pal gitu topik-topiknya juga menarik banget.
  The topics are also very interesting.

[04:03] Jadi ee semoga kita bisa banyak diskusi di hari ini.
  So, hopefully, we can have a good discussion today.

[04:07] Hari ini kita akan bahas tentang tadi yang saya sampaikan.
  Today, we will discuss what I just mentioned.

[04:09] essential components and channels in modern digital marketing.
  essential components and channels in modern digital marketing.

[04:11] Kita lebih dalam lagi masuk ke topiknya.
  We go deeper into the topic.

[04:16] Jadi bagaimana sih nanti kita akan membahas tentang modern brands itu bisa ee memenangkan hati konsumen gitu di era AI.
  So, how will we discuss how modern brands can win consumers' hearts in the AI era?

[04:25] Kan sekarang kan udah eranya AI banget ya.
  It's really the AI era now, isn't it?

[04:27] Semuanya semuaemua brand tuh mereka berlomba-lomba main di AI.
  All brands are competing to play in AI.

[04:33] Nah, mungkin kita akan polling dulu ya.
  Now, maybe we'll do a poll first.

[04:36] Berapa kali sih teman-teman di sini membuka Instagram, TikTok, YouTube gitu.
  How many times do you all here open Instagram, TikTok, YouTube?

[04:41] Coba isi polling deh di komentar gitu kan.
  Try filling out the poll in the comments, right?

[04:44] Coba isi polling kira-kira berapa kali buka sosial media hari ini.
  Try filling out the poll, approximately how many times did you open social media today?

[04:49] Oke, kita lihat dulu silakan.
  Okay, let's take a look first, please.

[04:54] Ayo kita warm up dulu sambil mainkan jempolnya netizen.
  Let's warm up first while playing with the netizens' thumbs.

[04:57] Para netizen mana nih netizen?
  Where are the netizens, netizens?

[05:10] 6 sampai 10 kali.
  6 to 10 times.

[05:13] Kakira mantap nih.
  Kakira is great.

[05:15] Baru pagi masih sudah banyak kali ya.
  It's still morning, and it's already many times, huh?

[05:18] Lebih dari 20 kali ada yang jawab D.
  More than 20 times, there are those who answered D.

[05:21] Wah, satu sampai 5 kali tuh ya.
  Wow, one to 5 times, huh?

[05:24] Bangunnya pasti agak siang-siang nih.
  They must wake up quite late.

[05:26] Atau mereka pagi-pagi sudah produktif kali ya yang jawab A.
  Or maybe they are very productive in the morning, those who answered A.

[05:30] Oke.
  Okay.

[05:34] Iya, banyak yang jawab A ya.
  Yes, many answered A, huh?

[05:43] Oke, ya.
  Okay, yes.

[05:46] Menarik banget ya.
  Very interesting, huh?

[05:49] Jadi yang jawab lebih dari lima kali juga ada beberapa gitu.
  So, there are also several who answered more than five times.

[05:52] Ternyata banyak juga ya.
  Turns out there are quite a lot, huh?

[05:57] Ee artinya ini sangat menarik nih.
  Uh, this means it's very interesting.

[06:00] Ee ternyata ada apa ya, ada teman-teman di sini tuh banyak dari setiap pagi tuh udah udah nongkrong di sosial media gitu.
  Uh, it turns out there are, what is it, many friends here who have been hanging out on social media every morning.

[06:06] Yang jawab lebih dari lima kali itu ee pasti udah ini banget ya istilahnya apa.
  Those who answered more than five times, uh, must have been really, what's the term.

[06:12] ya eh
  Yeah, uh.

[06:14] my social media is everyday gitu.
  My social media is like that every day.

[06:18] Jadi kenapa saya tanya ini?
  So why am I asking this?

[06:20] Jadi ternyata tuh perhatian kita sekarang jadi aset yang paling paling mahal buat brand gitu kan.
  So it turns out our attention now has become the most, most expensive asset for brands, right?

[06:25] Karena kita setiap bangun pagi juga ee udah udah buka handphone terus buka sosial media gitu.
  Because every morning when we wake up, we, uh, we open our phones and then open social media.

[06:32] Semua brand di dunia juga mereka juga akhirnya berebut perhatian teman-teman nih gitu.
  All brands in the world, they also end up competing for your attention.

[06:37] Ee berebut perhatian yang sama.
  Uh, competing for the same attention.

[06:40] Dan lanjut ke pertanyaannya, kenapa ada konten yang kalau setiap kita buka di sosial media ituh entah di TikTok, di Instagram itu ada yang kita skip gitu kan.
  And moving on to the question, why is it that when we open social media, whether it's on TikTok or Instagram, there's content that we skip?

[06:51] Nah, itu kan artinya ee investasi ataupun konten-konten yang dibuat oleh brand itu enggak ini ya enggak enggak enggak works gitu kan yang masuk di kita gitu.
  Well, that means, uh, the investment or the content created by brands isn't, you know, isn't, isn't working, right? It doesn't resonate with us.

[06:59] Tapi di satu sisi ada konten-konten di sosial media yang kita membuat kita tuh berhenti untuk stop scrolling gitu loh.
  But on the other hand, there's content on social media that makes us stop scrolling.

[07:11] Terus kita bisa nonton sampai selesai gitu kan.
  Then we can watch it until the end, right?

[07:12] Bahkan kita juga punya apa ya
  We even have, what do you call it,

[07:16] namanya tergerak untuk bisa share gitu.
  It's driven to be able to share, right?

[07:17] bisa komen dan lain sebagainya gitu.
  Be able to comment and so on.

[07:19] Nah, nanti kita akan bahas kenapa ya.
  Well, we will discuss why later.

[07:25] Nah, jadi ini juga realita sekarang ya, Teman-teman.
  Well, this is also the reality now, friends.

[07:28] Itu kita semuanya udah udah di 360, udah di era digital semuanya.
  We are all already in 360, already in the digital era.

[07:36] Kita berhubungan dengan TikTok, dengan Instagram, dengan YouTube.
  We interact with TikTok, with Instagram, with YouTube.

[07:38] Terus kita juga follow influencer yang banyak.
  Then we also follow many influencers.

[07:40] Kita setiap hari searching di chat GBT, di Google dan lain sebagainya gitu.
  Every day we search on ChatGPT, on Google, and so on.

[07:44] Kalau dulu kita ee gimana cara kita untuk tahu sebuah produk itu bagus atau kita mau beli produk kan kita ee lihat iklannya dulu ya, iklan di TV gitu kan.
  If in the past, how did we know if a product was good or if we wanted to buy a product? We would look at the advertisement first, right? Advertisements on TV.

[07:55] Tuh itu mungkin zaman saya sama Kak Ira nih gitu kan.
  That was probably the era for me and Ira, right?

[07:57] Kita lihat iklan di TV terus kita baru tertarik untuk membeli produk.
  We saw ads on TV and then became interested in buying the product.

[08:01] Nah, kalau itu kalau dulu gitu jadi kan agak ribet ya.
  Well, if that was the case in the past, it was a bit complicated.

[08:05] Nah, kalau sekarang kita gampang nih tinggal cari aja review produk di TikTok gitu kan.
  Well, now it's easy, we just need to search for product reviews on TikTok, right?

[08:09] Produknya apa?
  What is the product?

[08:11] Misalkan kita mau beli skincare gitu, skincare dengan kandungan apa gitu.
  For example, if we want to buy skincare, skincare with what ingredients.

[08:16] yang cocok untuk kulit kita gitu kan.
  which is suitable for our skin, right?

[08:18] Cari aja di TikTok atau kita cari di
  Just look on TikTok or we can look on

[08:21] kalau misalkan mau lebih niat lagi cari
  if you want to be more serious, look for

[08:23] referensinya di chat GPT gitu kan.
  references on ChatGPT, right?

[08:26] Di Google juga sekarang udah jawabannya
  On Google too, the answers now are

[08:28] juga udah sangat customized bisa AI
  also very customized, generative AI

[08:30] generatif gitu kan.
  can do, right?

[08:33] Nah, itu juga kita bisa lebih enak lagi tuh ee referensinya
  Well, with that, we can also have a much better experience, the references

[08:37] bisa lebih banyak karena kita juga di
  can be more numerous because we also on

[08:39] sosial media baca komentarnya terus
  social media read the comments, then

[08:41] tanya teman, bandingkan harga dan lain
  ask friends, compare prices, and so on

[08:43] sebagainya gitu terus kemudian baru beli
  like that, then buy

[08:45] kayak gitu kan.
  like that, right?

[08:48] Setuju enggak?
  Do you agree?

[08:48] Biasanya begitu ya gitu.
  Usually it's like that, right?

[08:51] Nah, ternyata keputusan pembelian sekarang itu enggak terjadi
  Well, it turns out that purchasing decisions now don't happen

[08:53] karena kita nonton iklan aja, tapi
  just because we watch an ad, but

[08:55] karena ada banyak touch point yang kita
  because there are many touchpoints that we

[08:59] bisa percaya ke produk itu tuh bahwa
  can trust regarding the product, that

[09:00] produk itu tuh memang yakin yang kita
  the product is indeed what we are sure

[09:02] mau beli gitu.
  we want to buy, right?

[09:06] Nah, bedanya apa?
  So, what's the difference?

[09:06] Kalau tadi ya zaman dulu kita beli produk
  If before, in the past, we bought a product

[09:08] karena iklannya bagus nih dan iklannya
  because the ad was good, and the ad

[09:10] bagus jadi kita pengin beli produk.
  was good, so we wanted to buy the product.

[09:12] Nah, kalau sekarang tuh enggak cuman iklan
  Well, now it's not just the ad

[09:14] doang, tapi lebih ke bagaimana eh
  alone, but more about how, uh

[09:16] brand-brand itu masuk ke kita gitu kan.
  Those brands enter our space, right?

[09:18] touch point-nya bagus semakin sering
  The touchpoint is good, the more often

[09:20] terus kita baru decide untuk beli produknya.
  then we decide to buy the product.

[09:22] Nah, itu sih kenapa akhirnya channel-channel digital marketing itu penting.
  So, that's why digital marketing channels are important.

[09:28] Nah, selanjutnya adalah kenapa sih ee digital marketing itu tuh bisa apa ya menjadi satu drive yang sekarang ini utama untuk para brand-brand itu menjual produk-produknya.
  Now, next is why digital marketing can be, what is it, a primary driver for brands to sell their products.

[09:41] ee banyak orang yang masih berpikir kalau digital marketing itu cuman bikin konten konten di sosial media aja gitu atau pasang iklan.
  Many people still think that digital marketing is just about creating content on social media or placing ads.

[09:49] Padahal enggak sesederhana itu sih.
  But it's not that simple.

[09:52] Jadi, eh digital marketing itu sebenarnya juga gabungan dari ini ya dari ada empat goals ini.
  So, digital marketing is actually a combination of these four goals.

[09:57] Ada track, ada engage, ada terus kemudian ada conversion, terus kemudian yang terakhir adalah bagaimana cara mempertahankan si eh user itu untuk tetap bisa ee berada bareng sama kita gitu.
  There's track, there's engage, then there's conversion, and finally, how to retain the user so they can stay with us.

[10:11] emm memahami perilaku para audiens,
  understanding audience behavior,

[10:16] terus kemudian memahami kebutuhan mereka, lalu menggunakan teknologi dengan digital channel yang tepat untuk membangun hubungan dengan mereka.
  Then understand their needs, then use technology with the right digital channel to build relationships with them.

[10:27] Nah, itu semua golnya itu kan akhirnya bukan bukan cuman ini ya, bukan cuman likes, seberapa besar likes-nya, seberapa besar dapat followers-nya, tapi juga bisnis resourch-nya tuh seperti apa gitu.
  Well, the goal of all that is ultimately not just this, not just likes, how big the likes are, how many followers are gained, but also what the business resources are like.

[10:40] karena tujuan akhirnya ya bagaimana itu ee konten-konten itu bisa dikonversi dari menjadi sebuah revenue, terus kemudian setelah revenue juga bagaimana cara mempertahankannya gitu.
  Because the ultimate goal is how those contents can be converted into revenue, and then after revenue, how to maintain it.

[10:52] Jadi mungkin di di tuh masih banyak ee yang salah ya tentang goals digital marketing itu hanya berhenti sampai di-engage gitu, Pak.
  So maybe there are still many who are wrong about the goals of digital marketing, that it only stops at engagement, sir.

[11:03] Eh, sedangkan goals-nya digital marketing itu ya namanya marketing dan juga apa ya lebih besarnya ke sales juga harusnya ee ada impact-nya ke bisnis gitu kan, enggak cuman ke eh performance-nya aja.
  Uh, whereas the goals of digital marketing, which is called marketing and also what, more broadly, to sales, should also have an impact on the business, right, not just on the performance.

[11:18] Nah, ini mungkin ini juga teori yang teman-teman juga sudah sering dengar di kampus-kampus ya, terutama untuk teman-teman di marketing atau di komunikasi ataupun di bisnis gitu kan.
  Well, this is perhaps a theory that friends have often heard on campuses, especially for friends in marketing or communication or business.

[11:30] tentang customer jurn.
  about customer journey.

[11:30] Nah, sekarang aku mau ee ngajak nih teman-teman flashback dikit tentang apa sih yang dibeli terakhir di platform online gitu kan di apa di TikTok atau di Shopee gitu.
  Now, I want to invite friends to flashback a little about what was last bought on online platforms, like on TikTok or Shopee.

[11:43] Mungkin bisa skincare, mungkin bisa sepatu atau mungkin tiket konser gitu kan yang baru-baru ini kan sekarang juga masih ada word juga gitu.
  Maybe it's skincare, maybe it's shoes, or maybe concert tickets, which recently are still trending.

[11:52] Nah, ee yang saya mau tanyakan adalah apakah teman-teman ini beli langsung produknya gitu kan biasanya kan enggak kan.
  Now, what I want to ask is whether friends buy the product directly, usually not, right?

[12:01] Jadi kita biasanya akan melewati beberapa tahap dulu.
  So we usually go through several stages first.

[12:04] Yang pertama ada awareness.
  The first is awareness.

[12:08] Jadi kita menyadari keberadaan produknya itu produknya ada dan kita juga butuh yang produk seperti itu gitu.
  So we realize the existence of the product, that the product exists, and we also need such a product.

[12:13] Terus kemudian yang kedua adalah considerations.
  Then the second is considerations.

[12:15] Jadi menimbang pilihan dulu nih ee ada
  So we weigh the options first, uh, there are

[12:20] Beberapa produknya gitu kan.
  Some of its products, you know.

[12:22] Terus kita cari review-nya macam-macam gitu kan.
  Then we look for various reviews, you know.

[12:24] Nah, terus setelah itu kita baru ee memberanikan diri untuk membeli action.
  Well, then after that, we finally dare to buy action.

[12:29] Untuk ee membeli melakukan pembelian pertama kali namanya conversion gitu ya.
  To, uh, buy, make the first purchase, it's called conversion, right?

[12:35] Lalu setelah itu setelah kita puas sama produknya, step selanjutnya adalah ya kita puas terus kita beli lagi gitu kan.
  Then after that, after we are satisfied with the product, the next step is, yes, we are satisfied, then we buy again, you know.

[12:42] Kalau skincare ya kita akan beli lagi produknya gitu kan.
  If it's skincare, we will buy the product again, you know.

[12:47] Terus yang terakhir ee ini yang paling eng-gu.
  Then the last one, uh, this is the most anticipated.

[12:50] Dinanti-nanti sama diharapkan sama perusahaan ya advokasi.
  It is awaited and hoped for by the company, advocacy.

[12:52] Bagaimana para konsumen itu tuh bisa menjadi advokate atau bisa menjadi apa ya namanya ya ee brand ambasador lah istilahnya sekarang.
  How can consumers become advocates or become, what's its name, uh, brand ambassadors, as it's called now.

[13:00] Itu yang tidak dibayar tapi juga selalu bisa ee membela produk kita, bisa selalu apa ya namanya ya membuat nama brand kita tuh menjadi bagus gitu kan dan juga menyebarkan ke teman-temannya.
  That is, they are not paid but can always, uh, defend our product, can always, what's its name, make our brand name good, you know, and also spread it to their friends.

[13:14] Nah, inilah tujuan dari dari para brand.
  Well, this is the goal of the brands.

[13:16] Kenapa mereka juga ee menggunakan digital marketing dengan channel-channel yang bagus tuh tujuannya juga seperti.
  Why they also, uh, use digital marketing with good channels, the goal is also like this.

[13:22] Dan menaliknya semua dari brand besar di dunia itu juga mendesain strategi marketing mereka itu mengikuti perjalanan ini ya.
  And all of them from the big brands in the world also design their marketing strategies to follow this journey.

[13:29] Jadi enggak hanya enggak hanya sampai ke penjualan aja, tapi ee kita juga harus ingat bahwa kita berjualan itu atau brand-brand berjualan itu juga tujuannya adalah untuk retensi dan juga membuat eh para pelanggan kita itu likes sama produk kita sehingga mereka juga bisa jadi brand ambassador kita gitu kan gitu.
  So it's not just, it's not just about sales, but we also have to remember that we sell, or brands sell, the goal is also for retention and also to make our customers like our products so that they can also become our brand ambassadors.

[13:53] Makanya enggak enggak enggak heran kalau ada beberapa beberapa brand besar gitu kan di sosial media juga mereka selain banyak ee influencer-nya ada beberapa yang memang secara review produknya juga ee sifatnya organik gitu kan seperti itu.
  That's why it's not surprising that there are several, several big brands on social media, besides having many influencers, there are some whose product reviews are also organic in nature.

[14:12] Oke, ini juga kita kembali ke teori lagi namanya PU framework dan channel-channel
  Okay, we're also going back to the theory called the PU framework and channels.

[14:22] Di digital marketing.
  In digital marketing.

[14:24] Nanti kita akan bahas satu-satu.
  Later we will discuss them one by one.

[14:27] Yang pertama ada paid.
  The first one is paid.

[14:27] Pid-nya itu paid.
  Its PID is paid.

[14:30] Paid itu iklan ya.
  Paid means advertising, right?

[14:30] Jadi bentuknya tuh bisa iklan, bisa media buying, bisa digital ads dan lain sebagainya gitu.
  So its form can be advertisements, media buying, digital ads, and so on.

[14:37] Jadi ini semuanya berbayar ee channel-channel yang berbayar.
  So these are all paid, uh, paid channels.

[14:39] Terus kemudian ada earn.
  Then there is earn.

[14:41] Earn itu bisa liputan media atau tadi konten-konten apa namanya ee dari sosial media user generated content yang mer-review produk-produk kita.
  Earn can be media coverage or, as mentioned earlier, content, what's its name, uh, from social media user-generated content that reviews our products.

[14:52] Nah, itu tuh e masuknya ke channel yang earn.
  Well, that falls into the earn channel.

[14:55] Terus kemudian shared itu konten-konten yang dibagikan ke eh pengguna gitu.
  Then shared refers to content that is shared with, uh, users.

[15:01] Bedanya gini, kalau kalau earn yang earn itu kan konten-konten yang yang mempunyai value misalkan kayak di-share sama influener tapi kita enggak bayar dan sebagainya gitu kan.
  The difference is like this: for earn, the content has value, for example, it's shared by an influencer, but we don't pay, and so on, right?

[15:11] Nah, kita dapat value dari situ gitu ataupun yang kalau zaman dulu ya berarti ya liputan media gitu kan, media coverage-nya seperti apa.
  Well, we get value from that, or if it's from the old days, it means media coverage, right, what the media coverage is like.

[15:16] Kalau SHF itu user generate content biasa yang eh mereka review penggunaan produk dari kita ee tapi dibagikan ke
  If it's SHF, it's ordinary user-generated content where, uh, they review the use of our products, but it's shared with

[15:25] Sosial medianya gitu.
  Social media is like that.

[15:27] Nah, meskipun value-nya enggak enggak enggak enggak besar tapi juga itu bagian dari ee digital channel yang cukup lumayan juga untuk bisa bantu brand kita naik.
  Well, even though the value isn't big, it's also part of the digital channel that's quite good for helping our brand grow.

[15:37] Terus yang terakhir itu on on ya website-website-nya ini salah nih TPO di case tadi.
  Then the last one is on, on, yes, the websites, this is wrong, TPO in the case earlier.

[15:39] Jadi website ataupun sosial media channel kita ada Instagram, ada TikTok, ada YouTube dan lain sebagainya itu masuk ke our own our own channel.
  So our website or social media channels, we have Instagram, TikTok, YouTube, and so on, that goes into our own, our own channel.

[15:53] Jadi kalau disederhanakan brand yang sukses enggak cuman ngandalin ee iklan aja ya, tapi mereka juga bikin ekosistem channel-channelnya nih.
  So if simplified, successful brands don't just rely on ads, but they also create an ecosystem of channels.

[16:03] Misalkan kayak teman-temannya nanti juga apa namanya ee melihat dari liputan media, dari review-review yang bagus dari influencer gitu kan.
  For example, your friends will later, what's its name, see from media coverage, from good reviews from influencers, right?

[16:12] Terus em apa kita juga buka website dari si brand itu, terus juga kita juga lihat postingan dari teman-teman kita yang mer-review produk itu gitu kan, menggunakan produk itu gitu.
  Then, um, we also open the website of the brand, then we also look at posts from our friends who review that product, right, using that product.

[16:22] Jadi semua saling nyambut.
  So everything welcomes each other.

[16:24] Makanya ini channel-channel ee digital itu
  That's why these digital channels...

[16:27] Semuanya memang harus 360 ya.
  Everything really has to be 360.

[16:29] Semuanya harus di di dikejar semuanya.
  Everything has to be chased after.

[16:32] Supaya pada saat ee produknya ada di customer tuh mereka tuh bisa tahu ee bahwa oh ternyata produk ini tuh it's everywhere gitu kan.
  So that when the product is with the customer, they know that oh, it turns out this product is everywhere, right?

[16:40] Dan dan banyak yang menggunakan dan review-nya bagus sampai akhirnya mereka bisa beli dan berjuang akhirnya tadi untuk retensi.
  And many are using it and the reviews are good until finally they can buy and strive for retention.

[16:50] Nah, tadi digital channel digital marketing bukan hanya satu channel aja.
  Now, earlier digital channel digital marketing is not just one channel.

[16:52] Tapi digital marketing itu adalah ekosistem.
  But digital marketing is an ecosystem.

[16:55] Semua ekosistem channel di dalamnya harus dikerjakan semua oleh company.
  All ecosystem channels within it must be worked on by the company.

[17:02] Ini juga teori lama juga nih, segmentation, targeting, positioning.
  This is also an old theory, segmentation, targeting, positioning.

[17:06] Mungkin teman-teman yang di marketing atau di bisnis itu sudah tahu semua ya.
  Maybe friends in marketing or business already know all of this.

[17:12] Jadi sebelum kita bikin ee apapun itu konten untuk pasang iklan, untuk ee apa campaign dan lain sebagainya, kita juga harus mendefinisikan dengan clear dulu nih segmentasi kita siapa, target kita siapa, positioning kita tuh bagaimana gitu.
  So before we create any content for advertising, for campaigns, and so on, we also need to clearly define who our segmentation is, who our target is, and how our positioning is.

[17:27] Karena kalau semua orang jadi
  Because if everyone becomes

[17:30] target market ya biasanya enggak ada
  the target market, usually there isn't one

[17:32] yang benar-benar akhirnya benar-benar
  that truly, eventually, truly

[17:34] jadi target market gitu, benar enggak?
  becomes the target market, right?

[17:36] Jadi kalau target market terlalu luas ya
  So if the target market is too broad, yes

[17:38] target marketnya harnya enggak ada gitu
  the target market, there isn't really one

[17:40] kan ujung-ujungnya gitu. Jadi memang
  that's how it ends up. So indeed

[17:41] harus harus ee clear dulu di STP
  it must, it must be clear first in the STP

[17:45] framework-nya ini seperti apa gitu. Nah,
  framework, what it's like. Now,

[17:47] ini teman-teman nanti bisa flashback
  you all can later flashback

[17:50] lagi, maksudnya bisa study ulang lagi
  again, meaning you can study again

[17:52] tentang STP framework ini ee pentingnya
  about this STP framework, its importance

[17:54] tuh seperti apa sih gitu.
  is what it's like.

[17:58] Oke. Nah, kalau digital marketing itu
  Okay. Now, if digital marketing is

[18:03] mobil, nah ibaratnya jadi konten itu
  a car, then metaphorically, content is

[18:06] adalah bensinnya. Tanpa konten enggak
  its fuel. Without content, there's nothing

[18:08] ada yang bisa didistusikan, gitu kan.
  that can be distributed, right?

[18:11] Jadi enggak ada yang bisa dicari juga
  So there's nothing that can be found either

[18:13] gitu di sosial media di TikTok dan lain
  on social media, on TikTok, and so on

[18:16] sebagainya di Google gitu kan. Enggak
  on Google, right? Nothing

[18:17] enggak ada yang bisa dibagikan di
  can be shared on

[18:20] Instagram, di TikTok gitu. Nah, kemudian
  Instagram, on TikTok. Now, then

[18:23] yang jadi pertanyaan adalah
  the question is

[18:25] konten-konten apa sih yang sering
  what kind of content often

[18:29] bikin teman-teman itu stop scrolling
  makes you all stop scrolling?

[18:32] gitu kan di sesi-sesi yang sebelumnya mungkin udah udah banyak dibahas ya konten-konten yang bikin stop scrolling kayak misalkan konten yang ee viral, konten yang mem-nya bagus, konten yang apa namanya autentik dan lain sebagainya gitu kan.
  So in previous sessions, content that makes people stop scrolling has probably been discussed a lot, like viral content, content with good memes, content that's authentic, and so on.

[18:46] Nah, itu konten-konten yang yang bagus nih gitu.
  So, those are good content types.

[18:48] Nah, jadi ee itu adalah salah satu dari em apa ya namanya ya?
  So, that is one of the, what do you call it?

[18:53] Ee bahan bakar untuk para brand.
  Fuel for brands.

[19:02] Nah, kemudian channel yang selanjutnya adalah search engine optimation dan juga search engine eh marketing.
  Next, the following channel is search engine optimization and also search engine marketing.

[19:10] Eh sebenarnya ada tiga nih.
  Actually, there are three.

[19:13] Satu lagi ada eh GEO ya, Generative engine marketing gitu.
  There's one more, GEO, Generative Engine Marketing.

[19:17] Nah, ini tiga-tiganya juga penting sih.
  These three are also important.

[19:19] Jadi, kalau saya mau misalkan nih, Teman-teman, mau beli sebuah produk gitu ya, mau beli skinc gitu.
  So, if I want, for example, friends, to buy a product, like skincare.

[19:27] Kalau mau beli skincare tuh biasanya kan search dulu ya
  When buying skincare, you usually search first.

[19:33] di TikTok yang eh skincare apa yang bagus untuk kulit saya gitu kan yang mengandung misalkan mengandung eh peptide gitu dan lain sebagainya gitu kan.
  On TikTok, what skincare is good for my skin, you know, that contains, for example, contains peptide and so on, right?

[19:41] Bisa cari di TikTok biasanya bisa cari di Google.
  You can search on TikTok, usually you can search on Google.

[19:43] Nah, inilah bagian dari search engine ee SEO dan SE bekerja.
  Now, this is part of how search engines, SEO, and SE work.

[19:49] Kalau SEO ya pasti organik gitu kan, terus jangka panjang gitu kan.
  If it's SEO, it's definitely organic, right, and long-term, right?

[19:53] Kalau ya berbayar tapi hasilnya juga lebih cepat gitu.
  If it's paid, the results are also faster.

[19:56] Nah, dua-duanya ini harus dikombine sama teman-teman dan mungkin satu lagi sih saya lupa nambahin di sini yaitu ee ya eh generative gene optimis apa namanya eh optimization.
  Now, these two must be combined by friends, and maybe one more thing, I forgot to add here, which is, uh, yes, uh, generative gene optimistic, what's its name, uh, optimization.

[20:12] Jadi itu juga kal karena teman-teman sekarang ee saya juga dan juga banyak orang tuh kan nyari referensi dari CGBT kan kadang-kadang kan.
  So that's also because friends now, uh, I also, and many people, are looking for references from ChatGPT, right, sometimes, right?

[20:20] Jadi semakin banyaknya semakin banyak bagus itu bisa masuk ke referensi dari eh AI generatif gitu.
  So the more there is, the better it is, it can be included in the references of, uh, generative AI.

[20:30] Nah, ada tiga hal itu sih tiga pilar di search marketing itu yang jadi
  Now, there are those three things, the three pillars in search marketing that are

[20:36] channel untuk era sekarang gitu.
  channel for the current era.

[20:38] Jadi teman-teman juga harus bisa belajar semua nih tiga-tiganya, tiga pilar ini.
  So friends also have to be able to learn all three of these, these three pillars.

[20:42] SEO, SE sama itu.
  SEO, SE and that.

[20:50] Nah, ini salah satu apa ya namanya ya?
  Now, this is one of, what's its name?

[20:56] Ee contoh ya, contoh kalau ini mungkin generasi zaman ding ya, base laptop for students gitu carinya di Google gitu kan.
  Uh, for example, for example, if this is perhaps a past generation, base laptop for students, they search for it on Google, right?

[21:03] Terus yang muncul tuh apa gitu ya?
  Then what appears?

[21:06] Munculnya ini ternyata gitu.
  It turns out this is what appears.

[21:09] Yang muncul rekomendasi pertama adalah Apple MacBook A5.
  The first recommendation that appears is the Apple MacBook A5.

[21:11] Nah, kenapa sih website tertentu ataupun produk-produk tertentu muncul di halaman gitu.
  Now, why do certain websites or certain products appear on the page?

[21:16] Nah, itulah fungsi peran dari ee tadi search marketing itu salah satunya di sini gitu.
  Well, that's the function and role of, uh, that search marketing, one of them is here.

[21:24] Sedangkan kan ada yang lain ya, ini Google juga sekarang sudah pakai generatif marketing juga kan, pakai generatif AI juga untuk bisa menjawab pertanyaan dari user gitu.
  Whereas there are others, right? Google is also now using generative marketing, right? Using generative AI as well to be able to answer user questions.

[21:32] Dan ini juga menarik, teman-teman juga ee sebaiknya
  And this is also interesting, friends should also, uh, preferably

[21:38] menguasai ketiganya ini. Ee paling utama

[21:42] adalah tadi search marketing.

[21:48] Terus ini untuk sosial medianya. Tadi

[21:51] kita sudah belajar tentang search

[21:52] marketing, diskusi tentang search

[21:53] marketing, sekarang kita belajar diskusi

[21:56] tentang eh sosial media marketing. Nah,

[21:58] ini kan ada banyak sosial media nih ya.

[22:00] Saya bagi yang berdasarkan dari ee empat

[22:03] utama yang paling besar aja gitu kan.

[22:05] Kalau Linkin itu ee apa ee kuat untuk

[22:10] membangun jaringan, terus koneksi dengan

[22:12] industri, terus juga akses kemantauan

[22:14] dan karir gitu kan. terus Instagram

[22:16] lebih ke portofolio, terus bikin

[22:19] komunitas, membangun komunitas terus

[22:20] memberandalkan brand dengan algoritis

[22:23] baru gitu kan. Kalau TikTok gitu kan.

[22:25] Terus itu bisa lebih ke menampilkan

[22:27] keahlian secara kreatif tutorial gitu

[22:30] terus juga menyampaikan pengetahuan

[22:31] secara singkat bisa juga menjangkau ee

[22:34] audiens secara global. Terus Bang

[22:37] YouTube itu membangun apa ya ee

[22:40] kredibility yang jangka panjang

[22:41] terkoneksi dengan komunitas yang lebih

[22:43] loyal. terus juga akses pelajaran yang

[22:46] lebih mendalam gitu kan. Nah, ini sifat

[22:50] dari setiap sosial media kan beda-beda

[22:53] ya. Jadi ee artinya jangan tempatkan

[22:58] satu konten itu di konten yang sama itu

[23:02] di semua sosial media gitu kan. Jadi

[23:04] sesuaikan juga nih dengan sifat dari

[23:07] sosial medianya. Terus bikin kontennya

[23:09] juga harus berdasarkan dari sifat-sifat

[23:11] di sosial media masing-masing gitu. Nah,

[23:14] itulah akhirnya juga banyak kesalahan

[23:16] yang sering dilakukan oleh brand itu

[23:18] memperlakukan semua sosial media ini tuh

[23:20] sama. Padahal ya jelas Linkin juga bukan

[23:23] TikTok gitu. TikTok juga bukan YouTube,

[23:26] YouTube juga bukan Instagram. Apalagi

[23:27] sekarang kan sudahudah ada trip juga

[23:29] besar juga kan. Jadi masing-masing tuh

[23:31] punya budaya sendiri. Makanya kalau

[23:33] sekarang banyak yang komen nih, "Wah ini

[23:34] nih gini nih kalau mauk ke trad gitu kan

[23:38] contohnya gitu gitu." Nah, itu

[23:40] kadang-kadang kan bikin ya apa lucu gitu

[23:44] ya hal yang lucu. Tapi ee apa ee itu

[23:49] yang harus dihindari juga sama brand

[23:51] gitu dan brand-brand sekarang juga

[23:54] rata-rata juga banyak ya yang

[23:56] akhir-akhir ini itu mereka juga mencoba

[23:58] untuk menjadi persona jenzy gitu kan,

[24:01] tapi juga menyamakan semua. Mereka masuk

[24:03] ke Linkin, Instagram, TikTok dengan

[24:05] personal jzi tapi dengan bahasa yang

[24:07] sama. Eh, padahal ininya tuh beda-beda

[24:10] gitu. Kalau di Linkin kan harusnya lebih

[24:12] lebih profesional ya, lebih corporate

[24:15] yang secara kayak gitu kan contohnya

[24:17] gitu. Nah, itu yang yang teman-teman

[24:21] juga harus hati-hati sih ee meskipun

[24:24] terlihat menyenangkan tapi baik-baik

[24:28] pahami tentang setiap channel-channel

[24:30] yang ada dan perbedaannya.

[24:32] Oke.

[24:33] Nah, selanjutnya adalah ee tentang

[24:37] influencer marketing ya mungkin ya. Jadi

[24:39] siapa sih yang biasanya mempengaruhi

[24:42] keputusan pembelian kita nih saat kita

[24:44] beli itu yang paling mempengaruhi nih

[24:48] apa ada selebrity kah atau influencer

[24:51] kah atau teman-temanah atau review

[24:52] online gitu. Mungkin teman-teman bisa

[24:55] bisa kasih komen nih, drop the comments.

[24:58] Kira-kira kira-kira siapa ya yang paling

[25:00] mempengaruhi teman-teman kalau mau beli

[25:03] sesuatu?

[25:09] Nah, oke.

[25:12] Ada yang

[25:15] masih nunggu nih

[25:21] influencer. Oke,

[25:24] makasih Kak Ira. Ada lagi enggak yang

[25:28] influencer?

[25:32] Oke,

[25:34] ada lagi enggak, Teman-teman? Kira-kira

[25:36] kalau beli sebuah produk nih, contohnya

[25:39] mau beli sepatu gitu, sepatu lari,

[25:42] sepatu lari culture itu mau ee biasanya

[25:46] tuh lihat

[25:49] gimana sih nyari referensinya gitu,

[25:51] review. Oke.

[25:58] Iya. Review. Oke. Nah,

[26:04] itu ini juga salah satu yang membuktikan

[26:05] ya bahwa ee apa namanya? Iklan itu juga

[26:10] enggak enggak terlalu banyak berpengaruh

[26:12] sekarang kan. Jadi ee kita juga lebih

[26:15] percaya sama keempat hal ini ya,

[26:17] Librility, ada influencer, ada teman,

[26:19] ada review online gitu kan.

[26:21] Nah, inilah alasannya kenapa salah satu

[26:24] channel ini juga penting ya, influencer

[26:26] marketing itu bisa berkembang cepat

[26:28] juga. Karena kita sekarang

[26:32] ee setiap kali ngelihat produk itu kita

[26:35] ee percaya bahwa itu kalau itu legit tuh

[26:40] dari review-nya bagus gitu.

[26:41] Kadang-kadang kan kita mau datang ke

[26:43] restoran nih contohnya ya, kita mau

[26:44] makan mesan malam gitu terus kita lihat

[26:46] dulu kan di Google Map review-nya berapa

[26:48] gitu. Terus biasanya kita short dulu

[26:50] dari dari review yang jelek bet-nya tuh

[26:52] apa gitu kan. Nah, itu saking saking apa

[26:57] ya namanya ya? Influencer marketingnya

[26:58] tuh saking pentingnya itu. Jadi ya

[27:02] teman-teman yang punya brand juga harus

[27:03] memperhatikan ini juga channel yang satu

[27:05] ini penting gitu mengkombinasikan

[27:08] semuanya, belajar semuanya tentang

[27:09] bagaimana kita harus bisa menggunakan ee

[27:12] channel-channel ini ya. kapan harus

[27:14] kerja sama sama ee selebriti sama seleb

[27:18] selgram selep dan sebagainya gitu kan.

[27:20] Kapan kita harus menggunakan influencer

[27:22] itu kapan kita harus ee apa namanya ee

[27:25] meminta ee orang-orang untuk yang apa ya

[27:29] namanya ya e user kita untuk bisa review

[27:31] produk kita gitu kan.

[27:33] ee apa namanya? Kita harus bisa

[27:36] mengelola seluruh akun review-review

[27:40] kita gitu, baik di Google, baik di ee

[27:43] apa namanya? Di e-commerce gitu kan.

[27:46] Nah, itu juga sangat penting bagaimana

[27:49] cara mengelolanya

[27:50] channel ini. Nah, terus channel yang

[27:54] selanjutnya adalah email marketing nih.

[27:57] Ini email marketing yang satu hal yang

[27:59] menarik nih. Email kan kayak satu hal

[28:02] yang udah jadul banget ya, klasik banget

[28:04] ya. Mungkin di sini juga enggak semua

[28:06] orang tuh pasti buka email karena

[28:08] informasi ads-nya juga agak agak

[28:11] kadang-kadang agak sampah dan

[28:12] menyebalkan ya. Enggak semua orang buka

[28:15] email tiap hari gitu. Biasanya juga

[28:17] dikit ya enggak sih gitu. Tapi yang

[28:19] menarik yang ee banyak mungkin yang

[28:24] bilang ya bahwa email sudah mati gitu.

[28:26] Faktanya juga email tuh masih jadi salah

[28:28] satu channel dengan konversi yang

[28:32] tertinggi.

[28:33] Faktanya sih seperti itu gitu untuk

[28:36] produk-produk tertentu ya. Jadi

[28:37] kadang-kadang channel yang terlihat

[28:39] membosankan itu justru menghasilkan uang

[28:41] paling banyak gitu kan. ada di beberapa

[28:43] brand gitu kan. Contohnya kalau

[28:45] produk-produk yang mereka sudah punya

[28:47] customer yang loyal gitu kan, itu untuk

[28:51] email marketing dengan CRM tuh CRM tuh

[28:53] mereka akan lebih lebih

[28:56] eh efektif untuk bisa mendatangkan

[28:59] revenue gitu. Sifatnya untuk email ya

[29:02] pasti ya ada ada tiga hal ini ya eh lead

[29:05] nurturing, terus customer retention,

[29:07] customer loyalty gitu. Eh inilah tujuan

[29:10] dari CM. Jadi jangan dilupakan juga

[29:12] kalau misalkan teman-teman nanti sudah

[29:14] punya brand ee diusahakan juga belajar

[29:18] tentang email marketing dan CRM gitu

[29:20] kan. Bagaimana bisa me-repensi

[29:24] para pelanggan kita yang mungkin sudah

[29:26] lama enggak milih terus yang mungkin

[29:28] juga apa ya beli baru sekali itu kan

[29:31] dikasih email-email itu supaya mereka

[29:33] juga bisa rebound ke kita juga.

[29:39] Oke. Nah. Nah, ini ya ee kita tuh di

[29:44] digital marketer mungkin juga selalu

[29:48] terjebak ke

[29:51] cuman apa ya ee saya sebutnya itu sih ke

[29:55] vanity matrix ya kayak likes, views,

[29:58] terus followers, reach dan lain

[30:01] sebagainya gitu. Padahal di luar itu

[30:04] semua tuh ada hal yang

[30:07] apa ya ee bisa harusnya tuh bisa lebih

[30:10] mendalam gitu loh yang yang secara

[30:12] bisnis tuh ee lebih penting lagi atau

[30:15] bahkan kadang-kadang ditanyakan sama ee

[30:19] CEO atau brand ownernya gitu.

[30:23] Jadi ee ketika kita sudah apa namanya

[30:26] mendapatkan ini semua nih ee apa namanya

[30:30] good matrix, pertanyaan selanjutnya

[30:32] adalah di mana duitnya gitu kan,

[30:34] revenue-nya mana, sales-nya mana gitu.

[30:36] Nah, itulah yang paling penting. Makanya

[30:39] nih ee menguasai ini semua bagus dan

[30:43] penting, tapi juga kita juga harus bisa

[30:45] menguasai data-data yang dari sini

[30:48] supaya data-data ini ya vanity ee ee apa

[30:52] namanya ee matriks ini untuk bisa diolah

[30:55] menjadi selanjutnya seperti apa kita

[30:58] bagaimana mengkapitalisasikannya.

[31:01] Ini bagian yang kadang-kadang sering

[31:03] dilupakan kalau kita tuh hanya fokus di

[31:08] matriks yang standar saja gitu. Jadi

[31:09] kita juga jangan lupa mengukur hasilnya.

[31:14] Terus habis dari itu kita bikin strategi

[31:18] sales-nya seperti apa gitu kan. Jangan

[31:21] hanya fokus ke tadi ke engagement-nya

[31:24] terus ke rich-nya ke leads-nya aja tapi

[31:26] juga yang paling penting adalah eh

[31:29] conversion dan revenue. Itu kan yang

[31:32] esensi dari bisnis kan ini ya conversion

[31:35] dan revenue sustainability-nya seperti

[31:37] apa gitu.

[31:40] Oke. Nah, selanjutnya adalah ini yang

[31:43] lebih mendalam lagi dengan yang sekarang

[31:46] ee kita ee digital marketing dengan

[31:50] menggunakan AI. Apakah AI akan

[31:52] menggantikan marketer gitu.

[31:56] Oke, mungkin nih apa ya pertanyaan yang

[31:59] teman-teman bisa bisa jawab ya. Apakah

[32:02] kira-kira II bisa mengun menggantikan

[32:04] kita nih menggantikan digital marketer

[32:06] kira-kira gimana?

[32:13] Menurut teman-teman gimana?

[32:19] Karena AI sudah bisa melakukan riset

[32:21] pasar, bikin konten, jadi customer

[32:24] service, jadi analis data, terus

[32:27] personalisasi

[32:29] customer, personalisasi user, gitu.

[32:32] Kalau menurut teman-teman gimana?

[32:35] Apakah AI bisa menggantikan marketer?

[32:39] Nah, mungkin di sini kita sudah pakai

[32:43] CGBT ya tiap hari ya gitu kan. Dengan

[32:46] pertanyaan ini kira-kira

[32:49] kira

[32:53] mungkin ya. Makasih Farid mungkin lebih

[32:55] ke brainstorming aja. Oke.

[33:00] Betul. Kenapa tuh hanya ke

[33:02] brainstorming? Jadi kalau untuk yang

[33:04] keputusan-keputusan atau misalkan kayak

[33:06] lebih ke

[33:08] oke

[33:10] lebih ke apa ya namanya ya eksekusinya

[33:12] gitu kan eh decision-nya terus strategi

[33:16] untuk go to marketnya seperti apa gitu

[33:18] kan.

[33:22] Ahah dengan itu bisa digantikan dengan

[33:25] AI gitu kan.

[33:29] Iya, betul. Makasih, Kak Ira. Cuman

[33:32] perlu diadjust juga finalisasinya

[33:34] decision-nya tetap di kita ya. Jadi,

[33:36] decision-nya tetap di kita sebagai

[33:39] digital marketer yang punya ini.

[33:45] Oke. Nah, ini juga Kaila juga. Makasih

[33:48] ya chat di DM nih. Betul. seorang

[33:51] marketer ee di samping dari AI, kemajuan

[33:54] AI yang semakin cepat tapi juga ee untuk

[33:57] kreativitas dan keputusan itu enggak

[33:59] bisa digantikan. Betul. AI cuman bisa

[34:02] mengoperage ya, AI cuman bisa

[34:04] merekomendasikan gitu kan. Dan

[34:06] rekomendasinya kadang-kadang juga salah

[34:07] nih hati-hati gitu ya kalau bikin riset

[34:10] pasar gitu hati-hati sekali dengan AI

[34:14] gitu kan. Kadang-kadang datanya salah

[34:16] dan ngawur. Mereka asgun AI-nya sampai

[34:18] ke mana-mana gitu kan. Datanya salah

[34:20] semua. Ngambil data yang dari hipotesis

[34:23] yang enggak jelas dari mana gitu kan.

[34:25] Nah, itulah top decis dari kita.

[34:30] Oke, terima kasih semuanya. Jadi yang

[34:34] benar ya ee

[34:36] AI juga sangat membantu nih di beberapa

[34:39] tahun terakhir nih, di 3 tahun terakhir

[34:41] tuh perkembangannya sangat sangat oke

[34:44] banget. sangat pesat banget ya ee AI

[34:46] memang bisa membantu kita nih untuk

[34:49] melakukan riset, menulis konten,

[34:51] analisis data, brainstorming ide sampai

[34:53] hal-hal yang apa ya yang kita tidak bisa

[34:56] bayangkan pun itu masih bisa dilakukan

[34:58] sama. Tapi benar nih yang tadi kita

[35:01] diskusikan dan juga teman-teman sudah

[35:02] kasih feedback juga untuk menghasilkan

[35:05] satu strategi yang bagus itu kan

[35:07] diperlukan eh apa analytical thinking

[35:11] yang sangat kuat dan juga keputusan ya

[35:13] decision yang sangat kuat juga. Makanya

[35:16] e AI itu bisa mempercepat produktivitas

[35:18] kita, tapi jangan sampai bisa digunakan

[35:20] untuk ya udah mentah-mentah aja untuk

[35:23] bikin keputusan gitu kan. Nah, itulah

[35:26] yang yang perlu diingat adalah ya bisa

[35:28] menghasilkan apapun yang kita minta.

[35:31] Tapi untuk ide yang bagus, keputusan

[35:33] yang bagus itu tetap ada di tangan kita

[35:35] eksekusinya.

[35:38] Oke. Nah, ini ee

[35:41] selanjutnya adalah tentang data-data

[35:44] penemuan terbaru, ya. Temuan terbaru.

[35:47] Bahwa penelitian terbaru itu menunjukkan

[35:49] bahwa beberapa hal. Yang pertama adalah

[35:51] mayoritas anggaran pemasaran sekarang

[35:52] dialokasikan ke channel digital. ini

[35:55] pasti sih ee dulu mungkin ke tradisional

[35:59] gitu kan ke media buying, ke iklan TV,

[36:02] iklan radio, iklan koran gitu kan. Terus

[36:05] sekarang ke digital yang digital tuh

[36:07] banyak ya pemba

[36:11] enggak cuman di satu channel doang gitu

[36:13] kan tadi yang sudah kita diskusikan gitu

[36:15] ada beberapa channel digital yang bisa

[36:17] dimanfaatkan.

[36:20] Sori. Yang kedua, kreator juga semakin

[36:23] dipercaya dibanding brandnya, gitu kan.

[36:25] Nah, itulah makanya juga channel-channel

[36:29] yang eh apa namanya kita sebut sebagai

[36:32] tadi user generated content juga sangat

[36:34] penting gitu kan. Nah, ini satu hal yang

[36:38] yang baru yang enggak terlalu baru sih,

[36:40] tapi juga kita harus bisa belajar dari

[36:42] situ bagaimana kita bisa meningkatkan

[36:44] user content. Yang ketiga, EI juga

[36:47] semakin terintegrasi dengan aktivitas

[36:49] marketing. Jadi, banyak banget

[36:51] tools-toolsnya. Sekarang kita bisa

[36:53] integrate AI di mana aja, eh integrate

[36:55] apa eh tools marketing di mana aja kan

[36:58] bisa connect integrate.

[37:01] Ada eh tools marketing, ada Cam, ada apa

[37:05] namanya, ada sales force, ada. Terus

[37:08] kemudian ada apa namanya? Eh,

[37:11] tools-tools marketing eh marketing

[37:13] lainnya ya. digital marketing itu bisa

[37:14] diconnect dengan CGBT, dengan Claudi

[37:17] gitu kan. Nah, itu juga satu hal yang

[37:19] menarik. Yang keempat adalah strategi

[37:23] Channel nih. Jadi kanal multikanal

[37:27] yang ee kita sudah pelajari tadi tuh ada

[37:30] banyak banget kanal-kanal digital dan

[37:33] juga konvensional yang harus kita kuasai

[37:35] semua gitu. Kenapa penting? Karena ini

[37:38] juga harus ee bisa selain kita bisa

[37:40] kuasai ini juga tujuannya adalah

[37:42] menghasilkan performa yang lebih baik

[37:44] dibandingkan dengan satu ee channel gitu

[37:48] kan gitu. Nah, tantangannya sekarang

[37:51] mungkin enggak ee

[37:53] apa untuk men-handle semua tuh lebih

[37:56] berat ya gitu kan. Tapi ya sebenarnya

[37:58] juga dulu juga berat kan karena kalau

[38:00] dulu kan ee

[38:03] punya anggaran iklan besar tapi juga ee

[38:07] apa namanya juga agak-agak mengerikan

[38:10] juga gitu kan ketika ketika besar

[38:12] anggarannya gitu terus kita enggak bisa

[38:14] stop karena kalau udah dirilis gitu

[38:15] sudah dirilis nih budgetnya gitu kan

[38:17] untuk spending di TV spending kita kanak

[38:20] enggak tahu ya apakah itu works atau

[38:21] enggak. Nah, kalau sekarang kan enaknya

[38:23] channel-nya makin banyak, anggarannya

[38:25] juga mungkin sama atau anggarannya lebih

[38:28] besar gitu kan. Tapi kita bisa monitor

[38:29] satu nih mana yang enggak work, kita

[38:31] bisa ganti strategelinnya lebih cepat

[38:33] gitu kan seperti itu.

[38:38] Oke. Nah, kalau pertanyaan lagi nih,

[38:41] skill mana sih yang menurut teman-teman

[38:43] paling penting sekarang nih?

[38:46] Oke,

[38:52] yuk.

[38:55] Enggak hanya ini ya, tapi kenapa gitu?

[38:58] Kenapa nomor satu? Kenapa nomor dua?

[39:01] Kenapa nomor 3, 4 5 gitu.

[39:12] Oke, yuk silakan silakan. Siapa yang

[39:14] bergabar?

[39:16] Kak Ira storytelling AI prompting.

[39:19] Kenapa tuh, Kak? Sekarang jadi yang

[39:22] paling penting

[39:31] 1, 2, dan 5. Gisel. Kenapa Gisel? Satu

[39:35] strategic thinking, storytelling, sama

[39:38] creativity.

[39:43] Kenapa tuh? Kenapa memilih itu?

[39:55] Skill mana? Atau ada ada skill lain lagi

[39:58] nih kalau menurut teman-teman gitu yang

[40:00] yang

[40:01] kira-kira

[40:04] now days

[40:06] masa kini ini

[40:09] in this economy

[40:11] sangat penting paling penting gitu.

[40:15] semuanya, Kak. Tapi strategik ini adalah

[40:18] yang paling penting agar kita tidak

[40:21] mengatakan tetap gitu aja. Oke, Agnes.

[40:24] Terima kasih, Agnes. Storytelling sama

[40:26] creativity. Oke, terima kasih Adel.

[40:31] Kenapa nih? Kenapa

[40:34] penting? Oke. Nah, mungkin itu ya,

[40:36] Teman-teman ya. Jadi skill-skill ee ini

[40:39] skill-skill yang terbaru nih yang yang

[40:42] di generasi saya sebenarnya generasi

[40:44] saya waktu saya kuliah tuh enggak pernah

[40:46] ada sebenarnya. Mungkin baru ada

[40:48] beberapa kayak strategic strategic

[40:50] thinking, storytelling gitu kan data

[40:51] literasi gitu. E creativity ya baru baru

[40:55] muncul gitu kan. Nah tapi sekarang sudah

[40:57] ditambah dengan ya juga ini semuanya

[41:00] penting ya. Mau dari zaman dulu juga

[41:02] secara music thinking juga sangat

[41:04] penting. Critical thinking itu masih

[41:06] penting dan masih relevan sampai

[41:08] sekarang gitu. Nah, ee terima kasih

[41:11] semuanya sudah jawab. Jadi semuanya

[41:13] memang kombinasi yang bagus gitu kan ee

[41:16] semuanya juga penting gitu. Jadi ee

[41:19] sebagai apa ya namanya ya? Ee bahan

[41:22] diskusi adalah platform itu kan akan

[41:24] berubah ya seiring dengan perkembangan

[41:27] zaman gitu. platform dulu ee TikTok

[41:30] enggak sebesar sekarang gitu kan.

[41:31] Mungkin nanti TikTok juga akan

[41:32] digantikan gitu. Dulu Twitter ee besar

[41:36] terus kemudian turun lagi, sekarang juga

[41:38] besar lagi, terus sekarang pelan-pelan

[41:40] digantikan sama trade gitu kan. Nah, itu

[41:42] platform juga akan berubah, algoritm

[41:45] selalu akan berubah gitu kan. Kita udah

[41:47] mungkin yang sudah biasa dengan ee

[41:50] praktik digital marketing udah menguasai

[41:53] ini semuah gitu. algoritma berubah-rubah

[41:55] gitu kan sampai kita pusing ee udah

[41:57] spending segini, udah bikin konten

[42:00] segini gitu kan harus algoritmnya

[42:01] berubah-ubah gitu. tools dial marketing

[42:05] juga pasti akan berubah. Tapi skill yang

[42:09] e dibutuhkan

[42:14] ditambah dengan skillnya yaal [berdehem]

[42:17] thinking terus kemudian literasi

[42:20] creativity sama yang terakhir iterasi.

[42:24] Karena kalau tools tuh bisa dipelajari

[42:27] ya, misalkan kayak tools menggunakan

[42:28] CCBT, menggunakan cloudi dan lain

[42:30] sebagainya itu bisa dipelajari. Tapi

[42:32] bagaimana cara kita menggunakannya itu

[42:35] dengan

[42:37] dan akurat? Kita menggunakannya dengan

[42:39] strategic thinking. Kita eh

[42:42] menggenerate-nya dengan bahasa

[42:43] storytelling yang bagus. Kita

[42:45] menggunakan data itu dimasukkan ke

[42:49] tools-tools supaya kita bisa mengolah

[42:50] data yang lebih bagus dan lebih cepat

[42:52] gitu kan. Nah, seperti itu. Karena kalau

[42:55] tools kan bisa dipelajari, tapi cara

[42:56] berpikir itu yang jauh lebih sulit untuk

[43:00] digantikan.

[43:03] Oke.

[43:05] Nah, ini ee salah satu case tadi

[43:10] dari penggunaan channel

[43:14] dikombinasikan dengan AI.

[43:16] Oke. Oke.

[43:21] [musik]

[44:55] Oke. Nah, ini campaign yang ee

[44:59] siapa yang enggak tahu sih Coca-Cola

[45:00] gitu? Hampir semuanya tahu ya, gitu.

[45:02] Jadi ee kayaknya ini campaign sekitar 3

[45:06] tahun yang lalu deh 2023, 2024 gitu

[45:10] ketika AI baru pertama kali muncul gitu

[45:12] kan. ee ya sangat ini aja sih ee lucu

[45:18] aja sih dan juga oke gitu kan

[45:19] eksekusinya karena enggak waktu itu juga

[45:22] enggak bisa dibayangkan kalau brand yang

[45:26] sudah terkenal seluruh dunia semua orang

[45:28] tahu gitu kan masih masih

[45:31] perlu untuk berinovasi gitu kan dari

[45:34] sisi brandingnya dari sisi dari sisi

[45:36] packaging dan lain sebagainya gitu

[45:38] makanya mereka muncul dengan ee kampaign

[45:42] namanya really the magic dan ini juga

[45:44] impressing-nya juga bagus ya. Jadi di

[45:45] seluruh dunia mereka bisa berinovasi,

[45:48] bisa berkreativitas

[45:51] bikin ee tat sesuai dengan imajinasi

[45:55] mereka tuh seperti apa gitu kan. Jadi

[45:57] this campaign is works dan juga dapat

[45:59] user generated content dan juga di di

[46:02] apa ya para influencer juga ikut juga

[46:04] gitu kan untuk untuk join ini gitu.

[46:08] Oke.

[46:12] Nah,

[46:14] kenapa yang menarik gitu? Yang pertama

[46:16] adalah mereka kolaborasi dengan CGBT

[46:18] dengan open AI gitu. Terus yang kedua eh

[46:21] pemanfaatan generatif AI. Jadi e apa

[46:25] namanya? Orang-orang itu juga jadinya

[46:27] kan jadi kayak kompetisi ya. Orang-orang

[46:29] yang punya form yang bagus nih mereka

[46:31] juga akan hasilnya akan bagus gitu kan.

[46:33] Nah, itu kan jadi satu hal yang yang

[46:34] dibanggakan gitu kan oleh ee para brand

[46:37] avocates-nya Coca-Cola gitu kan. Terus

[46:39] kemudian

[46:41] ee konsumennya user juga bisa membuat

[46:45] karya mereka dengan menggunakan aset

[46:46] dari Coca-Cola gitu kan yang akhirnya

[46:48] Coca-Cola bisa dapetin aset yang

[46:51] yang banyak juga dan mereka bisa gunakan

[46:53] untuk menjadi konten-konten mereka gitu

[46:55] kan. That works. Terus kenapa sih konten

[46:59] ini e campaign ini tuh e berhasil dan

[47:02] bekerja dengan baik tadi dengan

[47:04] kombinasi channel-channel itu ya

[47:07] customer journeynya jalan, terus

[47:09] kemudian framework-nya tadi jalan juga

[47:12] empat elemen itu. Terus yang ketiga

[47:15] adalah user generated contentnya juga

[47:18] dapat juga terus ditambah dengan equip

[47:21] dengan experience.

[47:24] Nah, itulah gitu. Jadi ini satu hal yang

[47:26] menarik ee bahwa mereka tuh Coca-Cola

[47:28] enggak cuman bikin iklan doang, tapi

[47:30] juga ngajakin kita nih sebagai konsumen

[47:32] untuk ikut membuat konten juga. Dan

[47:36] ee jadi audiens-nya tuh enggak enggak

[47:38] cuman pasif aja ya, tapi juga

[47:39] audiens-nya juga aktif untuk jadi

[47:41] kreator gitu kan dan juga sangat relevan

[47:43] dengan perilaku eh kita nih terutama

[47:47] generasi yang sekarang untuk untuk bisa

[47:49] bikin personalize

[47:51] personalized things dan juga apa namanya

[47:54] muncul dengan ide-ide baru yang kita

[47:56] pengin coba juga

[47:59] gitu.

[48:02] Oke. Nah, ini ee mana yang salah, mana

[48:05] yang

[48:07] kurang gitu kan dari hasil evaluasi

[48:09] campaign-nya gitu. Apa yang yang menarik

[48:12] yang benar itu ya tadi kita dapetin sisi

[48:15] inovatifnya Coca-Cola terus mendapatkan

[48:16] perhatian global kan ee mungkin brand

[48:20] consumer pertama yang bisa

[48:23] me-launching campaign AI secara global

[48:26] gitu kan. terus juga bisa meningkatkan

[48:27] engagement-nya, terus bisa memperkuat

[48:29] positioning ee sebagai brand modern

[48:31] gitu. Nah, tantangannya seperti apa sih

[48:34] gitu? Jadi sebagai konsumen tuh ada

[48:38] banyak konsumen yang merasa juga bahwa

[48:39] itu kurang kurang autentik juga gitu

[48:42] kan. Terus karena ee campaign-nya tuh ya

[48:47] kenapa Coca-Cola sebagai autentic brand

[48:50] itu mereka investasi ke AI dan pada saat

[48:53] itu AI kan dianggap sebagai ini ya bukan

[48:57] sebagai hal ee apa yang tantangan untuk

[49:01] di kreativitas tapi juga sebagai

[49:04] pemicu banyaknya eh hal-hal palsu ya

[49:08] fake fake picture terus juga false

[49:11] information dan lain sebagainya kan AI

[49:13] waktu itu diap dianggapnya seperti itu

[49:15] gitu loh. Dan yang kedua adalah AI juga

[49:18] dianggap mengurangi sentuhan emosional

[49:22] gitu kan. Jadi ee yang biasanya iklan

[49:25] mereka itu lebih cenderung ke apa

[49:29] kehangatan temanan keluarga dan lain

[49:32] sebagainya gitu kan. dan terus sesuai

[49:34] dengan kok mereka masuk ke AI gitu kan

[49:36] dengan hal yang sangat sederhana seperti

[49:38] itu gitu loh. Nah, itu sih itu yang

[49:41] perdebatannya. Tapi di luar dari itu

[49:43] semua kan apa ya untuk menjadi brand

[49:46] yang pertama masuk ke ke generati AI dan

[49:49] semua orang bisa ikutan tuh juga sangat

[49:51] satu hal yang sangat diapresiasi gitu

[49:53] idenya gitu kan. Oke, kalau kalau

[49:59] menurut teman-teman kira-kira penggunaan

[50:02] AI itu dapat meningkatkan kreativitas

[50:04] atau bisa mengurangi keaslian sebuah

[50:06] brand gitu kan. Nah, ini kan yang di

[50:09] bisa di menjadi diskursus ya, bisa

[50:11] menjadi diskusi lebih lanjut lagi

[50:13] sebagai seorang digital marketer gitu.

[50:16] Jadi kalau menurut saya sih ya EA ya

[50:20] bagus gitu, tapi kita enggak harus tahu

[50:22] bagaimana cara bisa memanfaatkannya

[50:25] gitu. Mungkin sekarang penggunaan AI

[50:27] juga enggak enggak se apa ya namanya ya

[50:30] penerimaannya akan lebih sekarang lebih

[50:32] bagus ya teman-teman ya. Enggak, enggak

[50:34] sejelek zaman dulu kan dulu AI rasanya

[50:38] kok kurang diterima gitu untuk jadi

[50:41] salah satu channel digital gitu. Kalau

[50:45] sekarang orang juga sudah mulai bisa

[50:47] mulai menerima itu.

[50:54] Oke,

[50:56] ini

[50:58] ya ee ya contoh penggunaan EA ya

[51:01] sekarang ya. Kalau ee

[51:06] mungkin ini tadi ke-copy juga sih kalau

[51:10] ada hal yang mungkin bisa jadi catatan

[51:12] untuk kita diskusi kita hari ini adalah

[51:15] mungkin ada berapa hal yang teman-teman

[51:18] bisa bisa gunakan gitu. Yang pertama

[51:21] adalah riset pasar, riset pelanggan gitu

[51:25] kan. Jadi pahami pelanggan, pahami siapa

[51:28] user dari teman-teman gitu. Kalau punya

[51:31] brand ataupun teman-teman jadi

[51:32] influencer, pahami riset besarnya,

[51:34] pahami pelanggannya siapa, pahami

[51:35] usernya siapa, gitu. Terus kemudian yang

[51:37] kedua adalah bikin konten yang relevan

[51:39] gitu. Konten yang relevan ke mereka ke

[51:42] target audiens-nya tuh tadi ya. Balik

[51:44] lagi ya target audiens-nya siapa? Kita

[51:46] ingat yang ke STP framework tadi bikin

[51:49] yang konten-konten yang relevan ke STP

[51:51] kita itu seperti apa gitu. Terus

[51:53] kemudian yang ketiga adalah ee pilih

[51:55] channel yang tepat gitu kan. Sekarang

[51:57] ada omni channel-nya banyak banget, tapi

[51:59] jangan semua channel dibabat gitu kan.

[52:02] It's ok gitu. Enggak punya, enggak

[52:04] perfect punya semua channel tapi kita

[52:05] juga bisa fokus di satu di beberapa

[52:08] channel aja di channel-channel yang itu

[52:10] tapi kita bisa dapetin ee apa namanya?

[52:14] Bisnis dari situ gitu kan. Itu enggak

[52:16] apa-apa gitu. Terus

[52:18] gunakan juga data untuk mengambil

[52:20] keputusan gitu. Jadi ee apa ya mungkin

[52:24] yang sekarang tuh orang sudah terbiasa

[52:27] dimanjain dengan AI ya, tapi juga data

[52:29] itu juga penting juga, data juga penting

[52:32] juga. Jadi jangan semuanya ngambil

[52:34] keputusan based on ee yang AI

[52:37] rekomendasikan, tapi juga data-data yang

[52:39] kita punya, data-data valid yang dari

[52:41] user kita, kita juga harus bisa olah

[52:44] yang kita bisa gunakan untuk keputusan

[52:47] gitu.

[52:49] Terus ya gunakan AI untuk memperkuat

[52:53] kreativitas bukan hanya untuk apa ya

[52:56] namanya ya ee

[52:58] sekedar untuk rekomendasi aja tapi juga

[53:01] ee mempertajam kreativitas kita gitu.

[53:05] Dan eh pada akhirnya ya digital

[53:08] marketing bukan hanya soal em

[53:11] performance matrics yang vanity tadi,

[53:14] tapi juga eh ada soal

[53:18] apa namanya ee

[53:21] hal-hal yang di luar itu kita bisa

[53:24] pelajari semua begitu kan. Ada ada

[53:27] banyak hal termasuk tadi adalah

[53:28] penggunaan platformnya, terus cara kita

[53:32] menggunakan AI seperti apa gitu kan.

[53:34] Terus juga bagaimana kita berinteraksi

[53:36] dengan manusia gitu.

[53:41] Oke, mungkin itu aja teman-teman. Terima

[53:45] kasih sudah hadir hari ini. Kita mungkin

[53:49] masih ada Oh, masih waktunya masih

[53:51] panjang nih. Kita bisa discuss

[53:58] kalau teman-teman ada di sini yang

[54:00] sedang membuat platform atau punya

[54:04] startup atau punya usaha kecil-kecilan

[54:06] gitu kan ya semoga semangat gitu. Jadi

[54:10] pahami tadi channel digital marketing

[54:13] apa yang mau teman-teman pilih gitu.

[54:16] Oke.

[54:17] Oke,

[54:18] terima kasih banyak. Saya kembalikan ke

[54:21] Oke, terima kasih Kak Ricky. Oke, jadi

[54:24] menarik banget ya. Bahkan Coca-Cola aja

[54:26] dia melakukan menggunakan EA ya untuk ee

[54:30] sebagai salah satu marketingnya gitu.

[54:33] Nah, kalau misalnya

[54:35] sebenarnya tuh sekarang itu tuh banyak

[54:38] enggak sih brand-brand ee yang

[54:40] benar-benar kayak ee mereka itu

[54:44] benar-benar menggunakan mengoptimalisasi

[54:47] digital marketing atau sebenarnya mereka

[54:48] hanya kayak sebatasnya yang penting gua

[54:51] aktif di sosmate awareness-nya kebangun

[54:53] gitu.

[54:55] Kalau menurut pandangan Kak Riki gimana

[54:57] Kak?

[54:58] Oke ya, makasih Kakira. Kalau sekarang

[55:00] sih udah ini banget ya, mereka udah

[55:03] masif banget ya ke digital marketing

[55:05] gitu. Brand-brandnya tuh udah udah

[55:08] semasif itu gitu kan. Bahkan brand-brand

[55:11] yang ee ini pun juga mereka juga udah

[55:16] mau masuk ke digital marketing-nya juga

[55:18] masif gitu kan. Kalau apa ya namanya ya?

[55:22] Eh, sekarang review deh brand-brand yang

[55:24] yang lama gitu yang yang mungkin yang

[55:27] dulu enggak pernah kedengaran lagi tuh

[55:29] udah mulai revive lagi kan ke ke apa

[55:33] namanya ke digital marketing. Nah, itu

[55:34] itu yang yang sekarang sangat menarik.

[55:36] Mungkin kalau zaman dulu tuh kan setiap

[55:38] brand itu kan punya punya budget punya

[55:41] budget ini ya, punya budget marketing

[55:42] ya. Nah, tantangannya sekarang adalah

[55:45] bagaimana cara

[55:47] apa sih namanya tuh mentransisikan

[55:51] budget marketing yang konvensional atau

[55:53] eh budget marketing yang digital

[55:54] marketing gitu. Karena kan sekarang kan

[55:59] banyak banget eh channel-channel-nya

[56:02] tadi, omni channels-nya tadi seperti apa

[56:03] gitu. Enggak semuanya juga bisa works

[56:07] gitu kan. Tapi juga ada

[56:10] apa namanya? ada beberapa brand yang

[56:13] memang berhasil gitu di di digital

[56:17] marketing. Kalau mungkin ya sekarang ya

[56:19] skincare produk tuh yang yang paling

[56:22] masif di digital marketing karena kan

[56:24] review online itu kan sekarang

[56:29] luar biasa ya wow banget ya gitu.

[56:31] Makanya sekarang banyak banyak skincare

[56:33] produk yang larinya ke sana gitu dan

[56:35] orang-orang dan pemilik skincare produk

[56:37] yang bisa manfaatkan digital

[56:40] marketingnya dengan baik kan sekarang

[56:42] yang jadi pemenang gitu kan. Sekarang

[56:43] kita lihatlah gitu ada produk-produk

[56:45] yang top 10 gitu kan di laris di

[56:48] Indonesia ada ada skinic ada ada apa

[56:52] namanya go to glow dan lain sebagainya

[56:53] gitu. Kalau kita lihat ee cara mereka

[56:57] main di digital marketing juga sangat

[57:00] oke juga gitu kan. Terus

[57:03] ee produk-produk yang jadul pun yang

[57:07] consumer goods juga udah mulai banyak

[57:10] masif gitu kan. Kayak kita lihat McD

[57:13] mereka udah udah mulai pakai AI dan lain

[57:16] sebagainya gitu kan. Terus experience di

[57:18] tokonya juga mereka juga udah

[57:21] all eh about digital. Terus ee apa

[57:24] namanya? Iklan iklannya juga sekarang

[57:25] tuh mereka enggak cuman iklan di apa

[57:29] namanya di ee

[57:32] kalau dulu kan SMS ya digital ya,

[57:34] sekarang kan sudah mulai iklan di Grab,

[57:36] iklan di mana-mana gitu kan. Bahkan

[57:38] mereka juga ee iklannya tuh tiba-tiba

[57:41] bisa muncul di aplikasi kita terus udah

[57:45] macam-macam deh gitu kan. Nah, itulah

[57:49] ken-kemin juga bagus gitu gitu Kak Ira.

[57:54] Oke. Iya sih sekarang tuh kalau aku

[57:56] lihat-lihat skinc ya khususnya ya

[57:58] pokoknya begitu kita ee IG itu skinc

[58:02] terus terakhir produk-produk yang

[58:05] sebelumnya enggak pernah laku gitu.

[58:07] gara-gara dia suka e review tadi kan

[58:10] kalau enggak salah salah satu partnya

[58:12] itu ada review ya. Jadi gara-gara review

[58:14] akhirnya ee produk itu jadi laku gitu

[58:18] ya. Aku ikat tuh gara-gara apa ya? Oh

[58:21] itu kue sus dalamnya coklat yang ee

[58:25] biasanya enggak pernah ada terus

[58:27] tiba-tiba jadi booming gitu. Itu kemarin

[58:30] enggak sengaja lihat di TikTok sih. Jadi

[58:32] begitu. Maaf ya teman-teman. itu bukan

[58:34] soal makanan sih, tapi emang tiba-tiba

[58:35] muncul aja di apa TikTok aku gitu.

[58:41] Terus dan tadi ee Mas Ricky juga sempat

[58:44] sempat menjelaskan ee tentang

[58:47] channel-nya strategi gitu ya. Nah, kalau

[58:50] menurut Mas Ricky nih, kalau misalnya

[58:52] sebuah brand ee kapan sih dia tahu bahwa

[58:57] ini harus eh kan ada yang owed atau paid

[59:02] sama earn rate media gitu. Nah, kapan

[59:04] sih kita sebagai brand itu kita tahu

[59:07] harus memprioritaskan yang mana dulu

[59:09] nih, Mas?

[59:13] Ya, makasih Kak Ira. Ee dari peso model

[59:16] tadi ya, mana yang kita harus

[59:18] prioritaskan gitu kan.

[59:19] Heeh. Heeh. Nah, itu itu pertanyaan yang

[59:21] yang sangat seru ya. Karena ketika kita

[59:23] propose ke pimpinan, kita propose ke ke

[59:26] apa ya, ke direktur atau ke CEO pasti

[59:28] akan ditanya nih mana yang mau

[59:29] diprioritaskan dulu gitu kan dari dari

[59:33] empat channel itu yang budgetnya bisa

[59:35] keluar dulu kan. Nah, kadang-kadang kan

[59:37] begitu gitu. Ee sebenarnya jawabannya

[59:40] adalah ini tergantung sih tergantung

[59:42] dari prioritasnya brandnya masing-masing

[59:45] gitu. Jadi setiap setiap brand mungkin

[59:47] enggak bisa disamakan ya. harus

[59:49] tergantung. Jadi, makanya tadi riset

[59:51] pasar juga sangat penting gitu. Kapan

[59:53] kita harus bisa merilis iklan ee iklan

[59:56] yang kita paid gitu kan. Kapan kita eh

[59:59] mulai jalan dengan generated content,

[01:00:01] kapan kita eh apa namanya berjalan

[01:00:04] dengan para influencer itu untuk bisa

[01:00:06] dapetin ear media gitu kan.

[01:00:08] Heeh.

[01:00:08] Ee tapi keempatnya tuh seharusnya bisa

[01:00:11] berjalan bersamaan. Jadi ketika user

[01:00:14] search itu tuh ee empat-empatnya tuh ada

[01:00:18] gitu kan. iklannya kita dapat nih setiap

[01:00:20] hari kita dapat iklan gitu kan. Terus

[01:00:21] ketika kita search, kita masuk ke

[01:00:24] website-nya gitu kan. Ee apa namanya?

[01:00:27] Makanya kan kalau sekarang di kita

[01:00:29] search kan pasti kan akan ng-refer ee

[01:00:32] apa yang channel yang paling validate

[01:00:36] ya. Channel yang paling validate kan

[01:00:38] dari website-nya ya gitu kan. Channel

[01:00:40] yang paling legit lah gitu dari

[01:00:41] website-nya. Terus kemudian ee di

[01:00:44] misalkan nih kita cari di Instagram gitu

[01:00:46] kan, kita geser ke bagian ee tag konten

[01:00:50] gitu kan, terus kita cari

[01:00:51] review-review-nya gitu kan. Nah, ee mana

[01:00:55] yang mungkin mungkin pertanyaannya mana

[01:00:57] yang harusnya bisa lebih menjadi

[01:00:59] prioritas untuk bisa mengeluarkan uang

[01:01:01] gitu kan.

[01:01:03] Nah, itu itu tergantung dari setiap

[01:01:05] perusahaannya masing-masing dan

[01:01:06] strateginya seperti apa. Ada kalanya

[01:01:09] memang ee budget iklannya lagi tinggi

[01:01:11] nih. Jadi ee untuk yang lain-lain juga

[01:01:13] mungkin di enggak terlalu tinggi gitu.

[01:01:15] Tapi setidaknya semuanya tuh harus harus

[01:01:17] bisa di ini semua berjalan ee saling

[01:01:21] melengkapi gitu, Kak Ira.

[01:01:24] Oke. Jadi ee kita harus ngelihat dulu

[01:01:28] pangsa pasarnya juga ya berarti ya

[01:01:30] dengan kata lain ya.

[01:01:31] Betul. Betul. Betul.

[01:01:33] Oke. Apakah ada yang mau ditanyakan

[01:01:36] teman-teman nih? Kalau belum ada yang

[01:01:37] nanya entar malah jadinya aku yang

[01:01:38] pintar sendiri loh. N

[01:01:39] Heeh. [tertawa]

[01:01:42] Enggak sih? Mungkin mereka pada nanya,

[01:01:43] pada dengerin kali ya. Nah, kalau

[01:01:45] misalnya nih ee apa sih namanya?

[01:01:50] Aku jadi ee ngelihat yang tadi Mas Ri

[01:01:55] share ya, yang soal ee video tadi gitu

[01:01:58] yang muncul. Ee aku tuh lihat bahwa

[01:02:03] sebenarnya banyak enggak sih brand-brand

[01:02:05] tuh yang akhirnya mereka tuh kayak, "Oh,

[01:02:08] aku posting di Instagram, aku posting di

[01:02:10] TikTok gitu." Terus ee mereka tuh kadang

[01:02:14] kalanya tuh kayak mereka posting aja

[01:02:16] tapi mereka enggak ngelihat apakah ini

[01:02:18] benar-beneran ee efektif atau memang

[01:02:20] mereka hanya cuma ikut-ikutan aja tanpa

[01:02:22] ada strategi. Benar. Kerasa enggak sih,

[01:02:24] Mas Ricky ngelihatnya gitu? [berdehem]

[01:02:27] Jadi kalau menurut pendapat Mas Kiki

[01:02:29] sendiri nih ee sebenarnya kalau sebuah

[01:02:31] brand itu misalnya ee kita kan ngelihat

[01:02:34] ee mungkin teman-teman di sini ada yang

[01:02:36] baru punya usaha gitu ya, terus kayak ee

[01:02:40] apa gimana caranya untuk bisa ngebangun

[01:02:42] awareness-nya buat dari sisi konsumen?

[01:02:45] Ee sebenarnya paling pas tuh di

[01:02:47] Instagram atau di TikTok sih, Mas?

[01:02:50] Oke, ya. Makasih, Kak Ira. Eh, tadi

[01:02:54] banyak memang benar ya, sekarang kan

[01:02:55] banyak brand-brand yang hanya FOMO aja

[01:02:57] ya kan.

[01:02:58] Iya. Iya, benarbenar publish aja gitu,

[01:03:00] posting aja di Instagram atau di TikTok

[01:03:02] gitu. Tapi

[01:03:03] iya

[01:03:04] kayak enggak ngelihat ada aku enggak

[01:03:06] enggak ngerasa ada strateginya gitu.

[01:03:08] Ah, benar benar benar. Nah, itu kan

[01:03:10] kadang-kadang juga ee banyak yang

[01:03:12] akhirnya di dihujat netizen juga ya

[01:03:14] akhirnya ya karena cuman FOMO aja gitu

[01:03:16] kan.

[01:03:18] ee kan ada cerita tuh beberapa minggu

[01:03:21] lalu ya kayaknya ada

[01:03:24] brand eh ada institusi pemerintah yang

[01:03:27] kemudian masuk ke trade terus kemudian

[01:03:30] dia mempersonakan menjadi jen terus

[01:03:32] akhirnya dihujat sama netizen gitu kan.

[01:03:35] Nah, itu kan mungkin juga sama ya, ada

[01:03:37] brand-brand yang mereka juga mencoba

[01:03:39] untuk menjadi cool personanya tuh

[01:03:41] mencoba untuk menjadi humaniz gitu kan.

[01:03:43] Jadi jadi ala genzy tapi enggak enggak

[01:03:46] cocok gitu kan kayak terlihat apa sih

[01:03:49] kayak cringchy banget gitu kan. Nah, itu

[01:03:51] sih itu itu banyak terjadi ya karena itu

[01:03:54] tadi yang pertama Kak Ira risetnya

[01:03:57] kurang kurang mendalam gitu terus yang

[01:03:59] kedua juga strateginya strateginya

[01:04:02] kurang mendalam juga sehingga pada saat

[01:04:03] decisions mereka mau ke mana juga

[01:04:05] jadinya berantakan jadi kayak cuman

[01:04:08] asbun aja gitu loh. Eh, ini sebenarnya

[01:04:10] banyak terjadi ya di teman-teman. Kalau

[01:04:12] saya juga apa namanya dulu juga ngikutin

[01:04:14] juga nih teman-teman yang pernah magang

[01:04:16] di company-kany sebelumnya di tempat

[01:04:17] saya gitu kan atau saya juga mentoring

[01:04:20] ke ke teman-teman mahasiswa gitu.

[01:04:22] Yang sering terjadi adalah mereka tuh

[01:04:24] research-nya enggak terlalu mendalam

[01:04:25] gitu ya. Jadi hanya research berdasarkan

[01:04:27] apa yang ditemukan di

[01:04:29] di halaman pertama chat GPT mereka gitu.

[01:04:31] Nah, tapi lupa nih untuk memvalidasi

[01:04:33] gitu. Jadi teman-teman harus ingat nih,

[01:04:36] AI itu tadi ya bagus banget untuk bisa

[01:04:37] kita menunjang untuk mempercepat

[01:04:39] research kita. Tapi AI itu kan asbunnya

[01:04:42] banyak ya gitu. A kalau

[01:04:44] kalau ditanya tentang apa ya namanya ya?

[01:04:48] Ee misalkan ee apa sih namanya? Ee

[01:04:53] produk contohnya apa ya? Ee brand ini

[01:04:57] deh brand sepatu culture gitu kan yang

[01:05:00] paling paling disukai anak muda gitu

[01:05:03] kan. Terus kan nanti muncul

[01:05:04] rekomendasinya gitu. Tapi kita kan

[01:05:06] kadang-kadang kalau kita berhenti sampai

[01:05:07] situ kan kita enggak enggak punya

[01:05:08] pertanyaan kritis ya. Masa iya itu yang

[01:05:10] di data yang disampaikan valid atau

[01:05:12] enggak gitu. Mungkin aja dia ngambilnya

[01:05:14] dari mana nanti kalau ditanyain

[01:05:15] satu-satu kenapa kenapa sih kamu bisa

[01:05:17] ngambil data itu gitu kan. Tanyakan

[01:05:19] balik ke AI gitu. Terus dia dia akan

[01:05:22] refer ke datanya. Iya. Ngambil dari ee

[01:05:25] apa namanya? Website-website yang ee

[01:05:27] entah enggak tahu apa tapi muncul dia

[01:05:30] bisa generate di situ. Jadi kayak

[01:05:31] misalkan website dari cuman apa namanya

[01:05:35] dari blog apa gitulah contohnya gitu kan

[01:05:38] yang tidak tervalidasi gitu kan. Nah

[01:05:42] itulah jadi contohnya banyak banget yang

[01:05:45] mereka teman-teman ee apa namanya di

[01:05:49] Jenzy itu berhentinya sampai di situ

[01:05:50] gitu. Nah, ini maksudnya bukan bukan

[01:05:52] menjelekkan ya, tapi itu Jen itu

[01:05:55] teman-teman tuh kita bagus banget nih

[01:05:57] untuk research apa segala macam tuh

[01:05:59] productivity-nya oke banget. Tapi juga

[01:06:01] jangan lupa kita harus harus kritik juga

[01:06:04] critical thinking-nya kita harus jalan

[01:06:05] juga ketika menggunakan AI eh

[01:06:08] teman-teman juga harus bisa

[01:06:10] men-challenge AI itu untuk bisa validate

[01:06:12] data-datanya valid atau enggak gitu kan.

[01:06:15] data-data kalau valid atau enggak kan

[01:06:17] kita bisa membuat strateginya jadi lebih

[01:06:19] lebih bagus ya. Setelah strategi juga

[01:06:21] decisions-nya juga akan lebih tepat nih

[01:06:23] gitu kan dan eksekusinya lebih tepat

[01:06:25] gitu. Nah, kadang-kadang tuh yang

[01:06:27] terjadi tuh di awal udah salah Kak Ira

[01:06:29] gitu rarch-nya enggak ini jadi yang

[01:06:32] keluar asbun gitu kan ya hasil

[01:06:34] rekomendasinya dan juga eksekusinya jadi

[01:06:36] asbun gitu kan. Nah itu makanya yang

[01:06:39] sering dihujat sama netizen tuh itu

[01:06:40] gitu.

[01:06:42] Hm. Hm. Oke. Jadi kalaupun kita pakai

[01:06:44] AI, kita harus bikin lebih pintar

[01:06:47] daripada AI ya.

[01:06:49] Iya betul, betul banget.

[01:06:51] Tapi itu sangat membantu loh. Tuh, aku

[01:06:53] sih ngerasa gitu ya, Mas Rick ya. Jadi

[01:06:55] kayak misalnya kita ee mau cari ide gitu

[01:06:59] ya, mau bikin konten apa ya, tanya ke AI

[01:07:02] gitu dan dengan membangun persona kita

[01:07:05] gitu. Jadi biasanya mereka akan

[01:07:07] menampilkan itu cuma biasanya akan lebih

[01:07:10] de lagi sih gitu.

[01:07:12] Nah, kalau misalnya tadi kan ee

[01:07:14] teman-teman di sini mungkin ada yang ee

[01:07:16] otomatis misalnya dia brand lokal gitu

[01:07:19] ya atau UMKM gitu, budgetnya kan

[01:07:21] biasanya terbatas ya Mas Ricky ya. Heeh.

[01:07:23] Kalau misalnya dari semua channel yang

[01:07:26] tadi Mas Ricky sudah sebutin nih, kalau

[01:07:28] dari menurut Mas Ricky sendiri, kalau

[01:07:31] apa sih channel yang mana yang bakal

[01:07:33] dipilih untuk 3 bulan pertama dan

[01:07:36] ee kenapa gitu, kenapa pilih channel

[01:07:39] itu.

[01:07:40] Oke, ya. Makasih Kak Era. Ee balik lagi

[01:07:43] harus disesuaikan sama ini ya, sama

[01:07:47] produknya itu apa, sama brandnya itu apa

[01:07:49] ya. tadi ke kita harus kembali ke STP

[01:07:51] tadi eh apa namanya segmentation

[01:07:53] targeting positioning-nya siapa gitu kan

[01:07:56] dan kita dari dari STP framework itu

[01:07:58] kita tahu mana eh market share yang

[01:08:02] lebih banyak gitu kan kalau misalkan

[01:08:04] targetnya nanti ada misalkan nih

[01:08:06] targetnya milenial gitu kan nah eh

[01:08:09] market share-nya tuh lebih banyak ke

[01:08:10] mana gitu kalau milenial kan pasti kan

[01:08:11] ke ke ini ya ke Instagram ya gitu kan

[01:08:14] Instagram treade gitu kan nah mau

[01:08:16] menyesarnya ke situ gitu kalau misalkan

[01:08:17] ke Jenzi ya lebih ke TikTok gitu kan.

[01:08:20] Terus ee apa namanya channel-channel

[01:08:23] yang relevan ke situ gitu kan. Nah ee

[01:08:27] balik lagi sih STP framework itu penting

[01:08:30] buat teman-teman yang sedang mempunyai

[01:08:33] bisnis atau membesarkan bisnisnya gitu

[01:08:36] kan. Bikin ee marketnya harus tahu dulu

[01:08:41] seperti apa gitu kan. Terus do the

[01:08:43] market research di mana base

[01:08:45] pelanggannya itu banyak gitu kan. Nah,

[01:08:48] itulah ke sosial media yang teman-teman

[01:08:51] ee bisa prioritaskan meskipun sekarang

[01:08:54] tuh memang benar ya kita harus

[01:08:57] eksistensi kita, brand presence kita tuh

[01:09:00] memang sebaiknya ada di semua sosial

[01:09:02] media. Jadi ketika nanti user akan cari

[01:09:05] kan gini target market itu STP itu pasti

[01:09:08] akan kita plot di situ. Tapi kan ada

[01:09:10] yang sifat namanya tuh mungkin ada yang

[01:09:13] generasi yang lebih ee muda atau

[01:09:15] generasi yang lebih tua ataupun nanti

[01:09:17] ada ada apa ya namanya kan pasar kan

[01:09:19] bisa naik bisa ke kiri ke kanan gitu kan

[01:09:22] sifatnya kan kayak begitu gitu. Nah,

[01:09:24] itulah kenapa pentingnya menguasai

[01:09:26] sosial media semuanya itu ee penting

[01:09:29] tadi itu karena market itu bisa kiri ke

[01:09:31] kanan bisa melebar bisa naik turun gitu

[01:09:33] kan. Semuanya penting untuk di pununya

[01:09:37] eksistensinya apa namanya presence-nya.

[01:09:40] Tapi ketika mengelola itu dan

[01:09:43] teman-teman sudah tahu nih rumus STP

[01:09:45] framework-nya, teman-teman bisa

[01:09:47] memprioritaskan

[01:09:48] channel apa, platform-platform mana yang

[01:09:51] kira-kira tuh punya banyak ee market

[01:09:55] share-nya di situ. Gitu sih.

[01:09:58] Hm. Oke, berarti harus sebelum memilih

[01:10:01] channel-nya kita harus tahu dulu ya

[01:10:03] untuk STP-nya. Oke, ini ada pertanyaan

[01:10:05] nih

[01:10:06] dari Agnes. Agnes tanya. Oke, selamat

[01:10:10] siang, Kak. Izin bertanya, apakah Etis

[01:10:12] menggunakan AI untuk membuat konten yang

[01:10:14] terlihat seolah-olah sepenuhnya dibuat

[01:10:16] oleh manusia tanpa memberitahu audiens

[01:10:19] bahwa AI terlibat dalam proses

[01:10:21] pembuatannya. Seperti sekarang ini

[01:10:23] banyak sekali konten AI yang sangat

[01:10:26] realistis, tidak hanya untuk digital

[01:10:27] marketing untuk menyebarkan hoak

[01:10:30] mengambil keuntungan semata. Oke,

[01:10:32] terkait dengan etika nih, Mas Ricky.

[01:10:35] I pertanyaan bagus nih, Agnes nih. Betul

[01:10:38] memang ee etiks ya di di AI gitu kan ee

[01:10:42] yang mereka tuh seolah-olah kayak

[01:10:44] kontennya tuh dibuat kayak semacam kayak

[01:10:47] kayak nyata banget ya. Padahal itu AI

[01:10:49] gitu kan.

[01:10:51] Sebenarnya kalau di ee langkah

[01:10:53] antisipasinya kan di semua hampir di

[01:10:56] semua platform itu kan mereka sudah bisa

[01:10:58] menandai ya AI infonya kan kelihatan

[01:11:01] gitu ee apa konten yang menggunakan AI

[01:11:05] sama konten yang ee murni autentik itu

[01:11:07] kan pasti ada ada labelnya gitu kan

[01:11:10] secara meskipun kita enggak pilih label

[01:11:11] itu kan tapi akan secara otomatis tuh

[01:11:14] tergenerate. Nah, itu kan langkah dari

[01:11:16] si para pemilik platform dan itu kan

[01:11:20] aturan dari US juga ya memang aturan

[01:11:22] dari US yang memang harus harus setiap

[01:11:25] ee konten yang terdeteksi AI itu

[01:11:28] otomatis dilabelin sebagai AI gitu kan.

[01:11:31] Nah, so far sih memang sekarang eh

[01:11:34] justru banyak konten-konten autentik

[01:11:35] yang kemudian di di ini jadi AI gitu

[01:11:37] kan. Tapi kalau konten yang AI ya terus

[01:11:38] kemudian di di apa namanya diabel

[01:11:42] sebagai autentic tuh sangat jarang

[01:11:43] banget karena kan lebih ya namanya robot

[01:11:46] tuh bisa bisa belajarnya lebih lebih

[01:11:47] cepat dan mereka tahu ee robot sesama

[01:11:50] robot ya gitu. ee cuman kan ini lebih ke

[01:11:54] ini ya kayak misalkan konten-konten yang

[01:11:57] akhirnya tidak didistribusikan di

[01:11:59] platform ee media sosial kayak misalkan

[01:12:02] di di-share di ee

[01:12:05] WhatsApp gitu kan terus ke grup chat dan

[01:12:07] lain sebagainya gitu kan. Kita kan

[01:12:09] enggak bisa memverifikasi itu AI atau

[01:12:11] enggak gitu kan. Zaman dulu waktu Instag

[01:12:13] waktu WhatsApp awal-awal tuh ada ininya

[01:12:16] tuh ada warning-nya tuh kalau ini tuh AI

[01:12:19] gitu kan. Nah, mungkin kayak sekarang

[01:12:20] tuh udah udah hampir kayak enggak

[01:12:22] terlalu ini banget di di

[01:12:25] WhatsApp gitu ya. Nah, itu yang harus

[01:12:26] dihati-hatikan.

[01:12:28] Ee balik lagi ke sisi etiks. Jadi kalau

[01:12:33] ada kasus seperti itu ya sebaiknya

[01:12:35] memang kita kan namanya ee berusaha apa

[01:12:39] namanya punya usaha itu kan harusnya

[01:12:41] menjunjung tinggi etiks ya. Dan

[01:12:43] teman-teman di sini juga kuliah gitu eh

[01:12:46] berpendidikan gitu kan eh sebaiknya

[01:12:49] memang etics tuh harus satu hal yang ada

[01:12:51] di atas segalanya on top of everything

[01:12:54] etic should be number one gitu kan. Nah

[01:12:56] itulah dasarnya seperti itu gitu.

[01:13:00] Pada kenyataannya ya ee banyak

[01:13:02] orang-orang yang akhirnya memanfaatkan

[01:13:04] AI untuk bisa mendapatkan keuntungan

[01:13:06] tertentu ataupun menyebarkan tadi hoa

[01:13:09] dan lain sebagainya gitu kan ya. itu

[01:13:11] emang emang banyak. Tapi ee kalau saya

[01:13:15] melihatnya ya

[01:13:17] tantangan sih akhirnya tantangan buat

[01:13:20] buat teman-teman sekarang gitu. Ee kita

[01:13:24] juga harus bisa bertanggung jawab ya

[01:13:27] teman-teman ya di banyak kayak begini

[01:13:30] tapi bagaimana kita bisa mempertahankan

[01:13:34] princiipel kita. Etics adalah segalanya

[01:13:37] dan ee jangan terhasut dan jangan apa ya

[01:13:41] namanya? Karena nanti kalau teman-teman

[01:13:43] sudah bekerja kan mungkin akan ini ya

[01:13:46] cari jalan singkatnya. Wah iya nih untuk

[01:13:48] bisa dapatin rich apa segala macam dapat

[01:13:49] rich bit dan lain sebagainya kita bisa

[01:13:51] menggunakan AI atau bisa menggunakan ee

[01:13:53] hal-hal yang itu gitu kan. Kreativitas

[01:13:57] itu kan tanpa batas ya teman-teman ya.

[01:13:59] Jadi di luar itu semua gitu, otak kita

[01:14:03] harus bisa ee berpikir dengan lebih

[01:14:06] keras bagaimana kita bisa mereplace itu

[01:14:08] semua yang tak tergantikan oleh AI, tapi

[01:14:11] kita bisa dapetin satu hal yang dapat

[01:14:13] performance eh results yang lebih bagus

[01:14:16] tanpa harus bisa eh ke arah untuk bisa

[01:14:20] apa namanya ya ee mencederai etiks gitu

[01:14:23] sih Kak Ira Agnes. Oke. Jadi ee semua

[01:14:28] balik lagi ke diri kita masing-masing ya

[01:14:30] sebenarnya ya. Ee cuma kalau biasanya

[01:14:33] tuh kalau ee kita pakai AI biasanya kita

[01:14:36] state tuh emang emang perlu kita stage

[01:14:39] jadi kayak misalnya eh desainnya by AI

[01:14:42] gitu. Itu sih better diate ya. Jadi

[01:14:44] kayak misalnya karena kan ee karena

[01:14:48] kalau misalnya kita enggak stage mungkin

[01:14:51] akan ngiranya bahwa ini beneran

[01:14:52] desainnya kita gitu. Padahal mungkin

[01:14:55] kita tinggal pintar-pintarnya kita bikin

[01:14:57] prom sebenarnya ya.

[01:15:00] W. Tapi tuh seingat aku tuh waktu itu

[01:15:02] pernah ada ee ada ee drama yang dibuat

[01:15:06] dari AI itu tuh kalau enggak salah

[01:15:08] kalian masih ingat enggak kalau di

[01:15:10] Instagram itu kan suka ada cerita-cerita

[01:15:12] rakyat yang ee itu dibuat dari AI. Nah,

[01:15:16] itu tuh itu tuh ternyata dia tuh bilang

[01:15:19] bahwa dengan adanya EAI itu jadi ee

[01:15:22] konten cerita tetap dari kita maksudnya

[01:15:25] as the humannya kita tetap kita yang

[01:15:27] buat sama ee AI-nya itu yang membuat ee

[01:15:31] biaya promosi eh biaya produksi itu

[01:15:34] menjadi lebih murah gitu. Jadi itu Mas

[01:15:36] Rizki. Jadi kayak misalnya tuh ee

[01:15:39] apalagi yang namanya legenda, cerita

[01:15:40] legenda ya. yang namanya cerita legenda

[01:15:42] kan kita tahu ya ngebangun eh [berdehem]

[01:15:45] desain apa sih namanya backdrop dengan

[01:15:48] kolosal seperti itu, baju dress cod dan

[01:15:51] sebagainya itu kan lumayan mahal ya tapi

[01:15:53] dengan adanya AI jadinya ee budget itu

[01:15:56] bisa di zerokan gitu bisa dibikin lebih

[01:16:00] di murah banget gitu yang enggak perlu

[01:16:04] pakai ada orang banyak enggak perlu

[01:16:06] sampai ada kacau bahkan sampai ada

[01:16:07] darah-darah gitu kan kayaknya enggak

[01:16:09] perlu gitu itu ee itu pengakuan dari

[01:16:12] orang yang kreator yang membuat film ee

[01:16:16] kolosal ya teman-teman ya. Jadi

[01:16:19] itu itu kalau itu sudah film. Nah, kalau

[01:16:21] misalnya kalau misalnya ee film yang

[01:16:24] diposting short di Instagram mungkin

[01:16:27] kalau teman-teman nanti searching ya.

[01:16:29] Cuma itu sering banget sih cerita cerita

[01:16:31] rakyat yang ee ditampilkan apa diangkat

[01:16:35] lagi gitu tapi dibuat lebih masa kini

[01:16:38] kekinian gitu. Jadi kayak keong mas

[01:16:41] terus timun timun. Timun mas gitu. Kayak

[01:16:46] kayaknya mungkin Mas Rik pernah nonton

[01:16:47] kali ya sengaja kalau di Instagram.

[01:16:49] Nah terus ee cuma lucunya yang ketika

[01:16:53] itu saya lihat ee saya juga sempat tanya

[01:16:55] sama yang yang apa namanya yang produksi

[01:16:58] dia ee mendapatkan

[01:17:01] ini ee sponsor teman-teman. Jadi ada

[01:17:05] brand yang akhirnya masuk di film itu

[01:17:08] untuk ditampilkan. Jadi kalau

[01:17:09] teman-teman kebayang yang namanya

[01:17:12] snack-snackan kebayang enggak muncul di

[01:17:15] tahun kolosal tersebut gitu.

[01:17:18] Itu agak lucu ya sebenarnya tapi ya

[01:17:20] itulah yang terjadi gitu. Jadi memang ee

[01:17:23] ya memang brand itu memang

[01:17:25] ee sponsor untuk mau ini ditampilkan di

[01:17:28] film kolosal tersebut gitu. Jadi kalau

[01:17:31] aku bilang ya itu sebagai salah satu

[01:17:34] model strategi ya strategi dari satu

[01:17:37] brand tersebut ya yang memang ee mau

[01:17:40] tampilnya di situ walaupun sebenarnya

[01:17:42] secara cerita itu agak kurang match ya

[01:17:44] karena kan tahun tersebut dengan snack

[01:17:48] tersebut kayaknya agak kurang matching

[01:17:50] ya sebenarnya

[01:17:51] itu contohnya aja sih teman-teman. He.

[01:17:53] Nah, terus kalau misalnya nih ee aku

[01:17:57] jadi mikir juga tadi kan kalau enggak

[01:17:58] salah salah satu channelnya itu eh

[01:18:01] marketing email marketing ya Mas Ricky

[01:18:03] ya.

[01:18:03] Heeh. Heeh.

[01:18:04] Kalau menurut Mas Ricky sendiri nih anak

[01:18:06] sekarang itu kan jarang banget buka

[01:18:08] email.

[01:18:09] Kenapa sih para brand tersebut itu tetap

[01:18:12] pakai email marketing

[01:18:16] kalau Mari?

[01:18:18] Iya. Kenapa ya? Aku jadi mikir itu juga

[01:18:20] loh. Kenapa? Padahal dikit-dikit email

[01:18:22] gitu, dikit-dikit Facebook email, terus

[01:18:25] ee brand apa kita pakai brand sesuatu,

[01:18:28] terus email juga gitu. Kenapa brand

[01:18:31] tersebut tetap pakai gitu.

[01:18:33] Betul. I heeh. Makasih banyak ee

[01:18:35] pertanyaan Kak Ira. ini juga menarik ya,

[01:18:37] kenapa kenapa brand-brand besar tuh

[01:18:38] masih mereka masih menggunakan email

[01:18:40] gitu kan untuk campaign-kampaign

[01:18:43] tertentu. Nah, menariknya tuh kan karena

[01:18:46] email itu kan bisa

[01:18:48] ini ya bisa ee dikirim langsung ya

[01:18:51] direct gitu kan. Kalau kalau ee misalkan

[01:18:53] konten atau ads kan user kan harus

[01:18:55] nunggu untuk membuka dulu gitu kan.

[01:18:57] Kalau misalkan konten itu FYP ya

[01:19:00] syukur gitu kan. Tapi kalau kontennya

[01:19:02] FYP kan ee apa konten dari brand mungkin

[01:19:05] enggak akan muncul gitu kan gitu atau

[01:19:07] kecuali mereka follow dari brand itu

[01:19:09] gitu. Nah, kelemahannya di konten-konten

[01:19:11] yang ada di platform itu kan itu ya tadi

[01:19:13] ya kita enggak bisa enggak bisa dapetin

[01:19:15] langsung gitu kecuali kita follow atau

[01:19:17] eh kontennya itu FGP. Tapi kalau kalau

[01:19:20] email marketing kan mereka bisa langsung

[01:19:21] nih masuk ke emailnya gitu kan. Opsi

[01:19:24] untuk customernya mau membuka atau

[01:19:26] enggak kan depends on eh user gitu kan

[01:19:28] depends on kita gitu mau membuka atau

[01:19:30] enggak. Nah, ee kekuatan di email tuh

[01:19:34] itu sih, Kak Ira. Jadi, bisa direct

[01:19:36] langsung ke ke kita sebagai user. Nah,

[01:19:39] sekarang kan tantangannya adalah

[01:19:40] bagaimana kita bisa membuat ee email

[01:19:43] yang secara subjek aja tuh bisa engaging

[01:19:47] dan kita pengin buka gitu loh. Nah, ee

[01:19:49] itu yang pertama. Terus yang kedua pada

[01:19:51] saat kita buka ee bagaimana tantangannya

[01:19:54] bisa membuat email tuh yang langsung

[01:19:56] secara sama deh kayak kita scroll TikTok

[01:19:59] gitu kan atau ee Instagram gitu. Kalau

[01:20:01] scroll kan kita scroll terus kita

[01:20:03] berhenti gitu kan. Nah, bagaimana cara

[01:20:04] membuat email pada saat dibuka tuh

[01:20:06] mereka enggak skip atau enggak langsung

[01:20:08] hapus emailnya gitu kan. Baca duluah

[01:20:10] setidaknya ada kamp segala macam gitu

[01:20:12] kan.

[01:20:13] Nah, itulah ee kenapa email marketing

[01:20:15] masih dipakai sama brand-brand gitu. ee

[01:20:19] mereka juga masih percaya sih dari dari

[01:20:22] sekian email yang dikirimkan

[01:20:25] ke direct ke customer, ke user itu masih

[01:20:28] ada revenue-nya sih gitu kan. Entah itu

[01:20:30] nanti ee secara sederhana gini,

[01:20:33] rata-rata brand itu kan kirim kan ada

[01:20:35] kadang-kadang tuh ee menginformasikan

[01:20:38] ada voucher ya atau ada campaign baru

[01:20:39] gitu kan atau launching produk baru lah

[01:20:42] gitu kan. Contohnya S seperti itu gitu.

[01:20:45] ee kayak misalkan apa ya? Ketika ada

[01:20:48] misalkan kayak birthday birthday

[01:20:50] campaign gitu kan, setiap eh kita ulang

[01:20:53] tahun kan pasti kita dikirimin voucher

[01:20:55] nih gitu. Dan itu kan works ya,

[01:20:57] kadang-kadang kita juga mau beli gitu

[01:20:58] karena kita dapat voucher itu gitu kan.

[01:21:01] Atau kayak misalkan launching produk

[01:21:04] baru deh gitu. Contohnya kayak misalkan

[01:21:06] eh

[01:21:08] Popmart gitu ya. Popmart mereka tuh

[01:21:10] punya banyak database user gitu kan yang

[01:21:13] dikirimin email. Dan ketika mereka ee

[01:21:17] apa launching satu karakter baru nih

[01:21:19] contohnya gitu kan satu ini baru, satu

[01:21:22] IT baru, mereka ya akan ini dulu ke

[01:21:27] informasi ke ini dulu gitu kan lewat

[01:21:29] email marketing gitu dan itu juga bisa

[01:21:31] ke usernya secara langsung dan lebih

[01:21:34] efektif gitu kan dan dari situ nanti eh

[01:21:37] mereka juga dapat penawaran eksklusif ya

[01:21:39] biasanya kan gitu kan kayak misalkan eh

[01:21:42] apa namanya as you are our subscriber

[01:21:44] gitu kan. You will get the chance to get

[01:21:47] the the first misalkan the first eh

[01:21:51] thousand items that will be launch gitu

[01:21:54] kan in eh 1 of July kan bisa begitu.

[01:21:59] Nah, itulah kenapa ini Kak Ira

[01:22:01] brand-brand juga masih pakai itu

[01:22:04] tergantung ya teman-teman ya, tergantung

[01:22:06] ee kampinnya seperti apa. Tapi ketika

[01:22:09] menggunakan email marketing juga enggak

[01:22:11] hanya kirim email istilahnya email

[01:22:13] sampah aja kan kita kan selalu anggap

[01:22:16] bahwa ah kap sih dikirimin email sampah

[01:22:18] gitu dari

[01:22:19] dari brand gitu. Tapi bagaimana

[01:22:21] tantangannya si digital marketer ini ee

[01:22:25] bisa

[01:22:27] dapat formulasi yang bagus ketika kirim

[01:22:30] email kayak ini. Makanya dulu tuh banyak

[01:22:33] banget namanya CM spesialis gitu kan.

[01:22:36] Mereka sudah terlatih biasa untuk bikin

[01:22:38] email-email e marketing yang

[01:22:39] bagus-bagus.

[01:22:42] Oke menarik ya. Iya. Tapi emang benar

[01:22:45] sih ee nganggap apa ya email dari produk

[01:22:49] brand tertentu tuh pasti ih diemailin

[01:22:52] mulu gitu. Terus

[01:22:53] dan untungnya tuh di kita bisa

[01:22:56] unsubscribe ya unsubscribe email

[01:22:58] tersebut gitu. Jadi kalau misalnya kita

[01:23:00] sudah ngerasa annoying ya unsubscribe

[01:23:02] aja gitu ya.

[01:23:04] Tapi kalau kita masih pakai produknya ya

[01:23:06] dipak ya jangan diunsubscribe karena

[01:23:08] kadang suka dapat promo ya benar kalau

[01:23:10] kata Mas Ricky

[01:23:11] suka dapat promo terus kadang kalau kita

[01:23:13] ulang tahun dapat hadiah jadi cuma

[01:23:16] sekedar diinfoin gitu. Nah, terus

[01:23:18] sekarang aku balik lagi nanya kalau

[01:23:19] misalnya nih konten viral gitu, apakah

[01:23:23] selalu konten viral itu artinya digital

[01:23:25] marketingnya sukses, Mas Ri?

[01:23:28] Ya, konten viral apakah selalu digital

[01:23:31] marketingnya sukses gitu? Mungkin secara

[01:23:33] apakah mengindikasikan mengindikasikan

[01:23:34] digital marketing itu sukses gitu.

[01:23:36] He

[01:23:38] tadi ya, vanity matrix mungkin akan

[01:23:40] sukses ya, Kak Ira ya

[01:23:41] secara vanity matrix-nya aja ya. Jadi

[01:23:43] dapat reach, dapat views, dapat

[01:23:44] engagement yang bagus gitu. Tapi mungkin

[01:23:46] secara secara goals marketing

[01:23:48] keseluruhan, nah itu tadi success-nya

[01:23:51] mungkin enggak dapat gitu ya, success

[01:23:52] rate-nya enggak dapat karena bisa jadi

[01:23:55] bisa jadi kontennya hanya bagus tapi

[01:23:57] kontennya tuh ternyata enggak driving

[01:24:00] customer, enggak driving user tuh untuk

[01:24:03] ee apa namanya? Jadi untuk beli

[01:24:06] produknya lah gitu. Nah, itu sih kan itu

[01:24:09] bisa diukur ya nanti ya bisa ada ada

[01:24:11] matriksnya kan dari konten itu. Terus

[01:24:14] kemudian misalkan konten itu dirilis

[01:24:15] gitu kan seberapa banyak sih akhirnya

[01:24:17] yang bisa beli produk itu di apa namanya

[01:24:20] dalam rentang waktu misalkan kayak 1

[01:24:23] bulan setelah konten itu dirilis apakah

[01:24:24] ada peningkatan atau enggak gitu. Kalau

[01:24:27] enggak ada peningkatan ya cuman ya

[01:24:29] konten viral doang nih tapi enggak dapat

[01:24:31] apa-apa gitu kan gitu. Nah, itulah

[01:24:34] tantangan kreativitasnya buat kita

[01:24:36] digital marketer sekarang. Enggak hanya

[01:24:38] bikin konten yang bisa datangin

[01:24:40] eh matriks yang bagus gitu ya, vanity

[01:24:42] matrix yang bagus doang gitu, tapi juga

[01:24:45] tantangannya bagaimana bisa dapetin eh

[01:24:49] angka numbers gitu dari situ gitu kan.

[01:24:51] Revenue-nya seperti apa.

[01:24:53] Tapi ujung-ujungnya pasti balik ke

[01:24:55] revenue ya.

[01:24:57] Heeh.

[01:24:57] Karena yang namanya brand pasti akan

[01:24:59] semuanya ujungnya ke sana teman-teman.

[01:25:01] Jadi kalau misalnya ibaratnya kontennya

[01:25:04] viral tapi revenue-nya enggak ada ya

[01:25:06] enggak bisa dibilang sukses juga ya

[01:25:08] berarti benar ya kalau

[01:25:09] betul. Jadi mungkin ini perdebatan ini

[01:25:11] ya nanti kalau teman-teman sudah bekerja

[01:25:13] tuh mungkin akan debat ke manajer atau

[01:25:16] ke supervisornya kan gini kan ee apa

[01:25:18] namanya kan performance kita kan hanya

[01:25:20] ini Kak hanya apa namanya yang matriks

[01:25:22] tadi likes, viewers, terus followers

[01:25:24] kita nambah dan sebagainya gitu

[01:25:26] teman-teman. Jangan lupa ya teman-teman

[01:25:27] eh company itu expense digital

[01:25:31] marketing, higher digital marketer,

[01:25:33] higher tim apa sosial media apa segala

[01:25:35] macam kan tujuannya untuk boosting sales

[01:25:38] ya gitu untuk boosting revenue lah gitu

[01:25:41] gitu kan revenue secara tidak langsung,

[01:25:42] revenue secara langsung gitu. Nah,

[01:25:44] itulah yang esensi dari bisnis yang

[01:25:46] teman-teman jangan sampai lupa nih.

[01:25:48] Jadi, meskipun teman-teman ada di sosial

[01:25:49] media spesialis apa segala macam gitu,

[01:25:51] tapi kalau enggak menguasai sampai ilmu

[01:25:53] bagaimana bisa closing, bisa dapetin

[01:25:56] revenue, bisa dapetin numbers yang bagus

[01:25:57] ya ya agak agak hati-hati gitu loh gitu.

[01:26:02] Oke. Oke. Kalau misalnya ini ee Mas

[01:26:07] Ricky pernah enggak sih ee kayak

[01:26:11] tiba-tiba tuh pas lagi ngelihat satu

[01:26:13] iklan di ee Instagram misalnya ya gitu

[01:26:16] ya atau di TikTok gitu terus tiba-tiba

[01:26:19] kayak di stok gitu loh kayak di stalking

[01:26:24] ya bukan stalking ya tapi kayak

[01:26:25] tiba-tiba tuh kita akan lihat itu muncul

[01:26:27] lagi muncul lagi gitu pernah enggak

[01:26:30] kayak gitu

[01:26:31] Iya sering banget

[01:26:32] Heeh jadi kayak misalnya pas tiba

[01:26:34] tiba-tiba kamu lagi searching terus

[01:26:36] tiba-tiba muncul lagi iklan itu. Nah,

[01:26:38] kalau misalnya menurut Kak Riki sendiri

[01:26:40] nih iklan-iklan yang model kayak gitu

[01:26:42] tuh sebenarnya ee efektif enggak sih

[01:26:45] atau sebenarnya tuh kayak agak annoying

[01:26:47] gitu?

[01:26:48] I itu ee saya enggak tahu nama

[01:26:51] istilahnya sekarang apa ya. Kalau dulu

[01:26:53] kan namanya programatic advertising ya.

[01:26:55] Jadi ketika kita tuh

[01:26:56] selalu dapat iklan yang sama terus

[01:26:58] berarti memang kita tuh target marketnya

[01:27:00] si brand ini gitu kan. He [berdehem]

[01:27:03] brand ini tu pengin pengin kita tuh

[01:27:05] untuk

[01:27:07] apa namanya ee ee bisa spending di

[01:27:10] situlah gitu. Jadi ketika ketika

[01:27:13] programatic advertising itu dilakukan

[01:27:16] kan mereka tuh akan coba untuk apa ya me

[01:27:21] menarget kita terus nih gitu supaya kita

[01:27:23] tuh ada apa namanya bisa bisa dapetin

[01:27:27] misalkan kayak bisa bisa next step-nya

[01:27:29] lah mau mau tujuannya itu mau sign up

[01:27:31] mau follow atau mau apa segala macam

[01:27:33] gitu kan. Nah, sebelum mereka dapetin

[01:27:36] goals-nya tuh mereka pasti akan ngejar

[01:27:38] kita terus sih gitu kan. Dan

[01:27:42] nah itulah ee ininya apa namanya?

[01:27:45] Fungsinya dari programatik eh

[01:27:47] programmatick marketing, programmatic

[01:27:49] advertising ya. Teman-teman nanti bisa

[01:27:50] belajar belajar lebih dalam sih tentang

[01:27:52] programatik itu seperti apa gitu kan. di

[01:27:54] dalamnya kan ada ada

[01:27:57] ilmu-ilmu yang misalkan kayak kita punya

[01:27:58] budget nih, punya budget sekian gitu

[01:28:00] kan, terus kita mau launching, mau mau

[01:28:02] mau eksekusi iklannya di mana gitu.

[01:28:03] Contohnya mau iklannya di Metaads, di

[01:28:06] Instagram gitu ya, di Instagram, di apa

[01:28:08] di WhatsApp gitu. Terus ee mereka si

[01:28:11] meta ini akan kasih rekomendasi ini

[01:28:14] adalah ee apa namanya? Target marketnya

[01:28:16] tuh umur sekians-sekian segala macam

[01:28:18] gitu kan. Nah, terus mereka akan launch

[01:28:20] ads-nya seperti ini. Nah, terus setelah

[01:28:22] setelah ads-nya di-launch itu nanti akan

[01:28:25] keluar hasil performance result-nya

[01:28:27] bahwa ini yang udah ini tuh views-nya

[01:28:29] sekian segala segala macam gitu kan. ada

[01:28:31] berapa orang yang views segala macam,

[01:28:33] terus apakah kamu mau ee retargeting

[01:28:35] lagi ataupun kamu mau mau target ulang

[01:28:38] lagi sih orang ini supaya ee ke tahap

[01:28:40] selanjutnya gitu kan atau nanti ee si

[01:28:44] programatik ini nanti ngasih ngasih

[01:28:46] rekomendasi yang lain lagi kayak

[01:28:47] misalkan mencari orang yang lain gitu

[01:28:49] kayak misalkan ee apa namanya pada saat

[01:28:54] first impression gitu iklannya tuh 1

[01:28:56] detik langsung di langsung dikip gitu

[01:28:58] kan. Noh, itu berarti udah udah false

[01:29:00] tuh. Udah, udah enggak ini lagi gitu

[01:29:02] kan. Tapi kalau kita kadang-kadang kita

[01:29:03] ngelihat iklan tuh kayak iklan bentar

[01:29:05] gitu kan, terus kayak agak lama gitu

[01:29:07] lebih dari 3 detik, 5 detik mungkin akan

[01:29:09] jadi kita akan ditarget ulang lagi gitu

[01:29:11] kan. Nah,

[01:29:13] itu namanya performance eh apa namanya?

[01:29:15] programmatik advertising dan menarik sih

[01:29:18] itu juga salah satu profesi yang cukup

[01:29:22] menjanjikan juga bekerja di program

[01:29:25] matik

[01:29:28] ini termasuk ya cuma ee ya kayaknya aku

[01:29:32] sih ngerasa gitu ya jadi kayaknya aku

[01:29:34] udah pernah skip tidak tertarik gitu

[01:29:36] tapi itu kayak tiba-tiba masuk lagi gitu

[01:29:39] itu tuh kayaknya pernah kejadian waktu

[01:29:40] di TikTok deh kalau di Instagram tuh

[01:29:43] begitu kita enggak tertarik langsung dia

[01:29:44] akan secara algoritma tuh langsung

[01:29:47] enggak akan muncul lagi gitu.

[01:29:49] Heeh.

[01:29:49] Nanti muncul laginya tuh mungkin kayak

[01:29:51] bulan depan gitu, itu baru gitu. Tapi

[01:29:53] kalau dalam waktu dekat tuh kayaknya

[01:29:55] biasanya enggak. Aku aku enggak tahu ya.

[01:29:56] Mungkin

[01:29:57] mungkin Instagram berbeda-beda kali ya

[01:29:59] atau TikTok juga beda-beda gitu karena

[01:30:00] algoribatnya beda.

[01:30:02] Itu biasanya gini Kaira, jadi mereka

[01:30:04] targetnya tuh saking ee apa ya? Budget

[01:30:06] spend iklannya tuh gede banget ya. Jadi

[01:30:08] kayak

[01:30:08] mereka tuh maksain supaya iklannya tuh

[01:30:10] di dilihat ditonton gitu loh sama Kak

[01:30:13] Ira gitu kan. Nah, makanya muncul-muncul

[01:30:15] terus nih sampai dipush sampai ya

[01:30:17] namanya kayak sales kan juga gitu ya,

[01:30:19] namanya sales offline juga kan nge-push

[01:30:21] terus kan gitu kan sampai akhirnya

[01:30:23] targetnya kecapai gitu kan. Nah, itu

[01:30:27] antara budget iklannya gede ataupun dia

[01:30:29] tuh targetnya bikin targetnya tuh sangat

[01:30:31] nich banget yang memang targetnya wah

[01:30:33] ini targetku tuh memang Kak Ira gitu loh

[01:30:35] yang sama seperti Kak Ira gitu makanya

[01:30:37] ditargetin terus.

[01:30:39] Oh, oke.

[01:30:42] Oke. Oke. Jadi kebayang. Oke. Mungkin

[01:30:45] teman-teman lain juga nanti kebayang ya

[01:30:46] kalau misalnya itu terjadi sama

[01:30:48] teman-teman.

[01:30:49] Nah, aku malah balik nanya ee sebenarnya

[01:30:51] kan teman-teman di sini kan ee rata-rata

[01:30:54] pengin berkecimpung di industri digital

[01:30:57] marketing nih, Mas. Jadi kalau misalnya

[01:30:59] menurut Mas Ricky sendiri nih sebenarnya

[01:31:02] apa sih skill spesifik yang paling

[01:31:05] dicari oleh eh digital sebagai digital

[01:31:09] marketing gitu ya, sebagai digital

[01:31:11] marketer gitu tapi sebenarnya tuh jarang

[01:31:13] diajarin di kampus gitu. Jadi skill ini

[01:31:16] penting tapi tuh ternyata di kampus tuh

[01:31:17] sebenarnya jarang diajarin gitu.

[01:31:19] Heeh. Oke. Kalau saya saya enggak

[01:31:23] ngikutin sekarang dunia kampus kayak

[01:31:24] gimana ya. Tapi yang ee terjadi pada

[01:31:28] saat teman-teman itu apa ya? Kayaknya

[01:31:31] misalkan fres fresh graduate ya, fres gr

[01:31:33] terus kemudian masuk ke ini gitu kan

[01:31:35] eh

[01:31:37] analytical sama critical thinking-nya

[01:31:38] yang yang masih harus di ini sih mungkin

[01:31:41] itu karena jam terbang ya analytical

[01:31:43] sama critical thinking gitu kan. Kalau

[01:31:45] mungkin kalau di saya enggak tahu, kalau

[01:31:47] dulu di kampus juga enggak terlalu

[01:31:48] banyak di diajarin itu karena terbatas

[01:31:51] aja kan kita hanya belajar teori terus

[01:31:53] kemudian kita mengakses teori itu

[01:31:54] mengimplementasikannya seperti apa gitu

[01:31:56] kan. Tapi enggak enggak mendalam soal

[01:31:58] analytical dan critical thinking-nya

[01:32:00] seperti apa gitu. misalkan kayak ee

[01:32:03] sesederhana

[01:32:05] ketika teman-teman masuk ke dunia kerja

[01:32:07] gitu terus mendapatkan satu tas gitu kan

[01:32:10] tapi tidak menanyakan lebih dalam bahwa

[01:32:14] ee tas ini ee gul-nya seperti apa. Terus

[01:32:17] kemudian misalkan nih kalau baru kan ini

[01:32:20] ya mau ee cara memecahkan tas ini tuh

[01:32:23] dengan metode apa gitu kan. Terus ee

[01:32:26] waktunya saya dikasih waktu berapa lama

[01:32:30] time frame-nya gitu kan. Terus harus

[01:32:31] dikumpulkan kapan gitu terus stakeholder

[01:32:35] siapa aja yang bisa saya tanyai untuk

[01:32:37] ini gitu. Nah, itu kan part of

[01:32:39] analytical and critical thinking ketika

[01:32:41] teman-teman dapat tas ya gitu kan. Jadi

[01:32:43] kayak misalkan eh sesederhannya

[01:32:45] pertanyaan tolong dong buatkan ee apa

[01:32:48] namanya e cont gitu kan selama 1 bulan

[01:32:52] gitu kan. Nah, hasilnya kan beda ketika

[01:32:55] teman-teman lebih dalam lagi menanyakan

[01:32:57] dengan critical thinking-nya seperti itu

[01:33:00] gitu kan. Ketimbang hanya kayak misalkan

[01:33:02] mentah-mentah dapat terus bikin gitu

[01:33:03] kan. ee ya udah bikin sesuai dengan

[01:33:06] asumsi teman-teman aja

[01:33:08] itu sih.

[01:33:10] Tapi emang benar sih Mas Rigi, aku

[01:33:12] menambahkan bahwa yang namanya critical

[01:33:14] sama analytical thinking tuh ee bukannya

[01:33:18] enggak ada, tapi emang kurang untuk dari

[01:33:21] sisi industrinya gitu. ee ya terlepas

[01:33:24] dari proses kita belajar ya, kita

[01:33:27] ngerasain terus-terusan gitu. Tapi

[01:33:30] ternyata itu berdampak dari AI juga.

[01:33:33] Tanpa kita sadarin AI itu membuat kita

[01:33:35] agak terlena gitu. Jadi

[01:33:37] makanya ee

[01:33:39] kita kalau ke AI itu harus kita yang

[01:33:42] nge-treat AI itu bagaimana. Apakah si AI

[01:33:45] itu ee apa namanya? Ya sudah kita terima

[01:33:48] mentah-mentah atau kita kritisi AI-nya.

[01:33:51] Biasanya kalau dari situ tuh akan

[01:33:53] menjadi membuat kita membantu kita untuk

[01:33:55] bisa menjadi lebih kritikal sih. Aku sih

[01:33:57] ngerasanya gitu ya.

[01:33:58] Mungkin dari hal yang kita enggak tahu

[01:33:59] jadi kita tahu gitu. Oh, tapi benar

[01:34:01] enggak sih kayak gini? Jadi kita cek

[01:34:03] lagi sumbernya benar enggak gitu. Jadi

[01:34:05] ee gak 100% percaya sama AI gitu. Bahkan

[01:34:07] ketika kita

[01:34:09] ee apa ya nanya brainstorming ya tadi

[01:34:11] kan kalau enggak salah teman-teman juga

[01:34:12] nanya penggunaannya AI apa untuk

[01:34:14] brainstorming gitu. Eh, ketika dalam hal

[01:34:16] pembuatan konten pun juga aku biasanya

[01:34:19] selalu menanyakan Kak Ai em ini akan

[01:34:23] seperti apa, endingnya kayak gimana.

[01:34:25] Jadi minta dia tuh membayangkan sebagai

[01:34:27] seorang digital marketer itu harusnya

[01:34:29] seperti apa gitu kali ya, Mas Y.

[01:34:31] Betul, betul, betul. Heeh.

[01:34:34] Heeh.

[01:34:34] Untuk mempersingkat ini dan

[01:34:36] produktivitas emang enak banget sih. A

[01:34:38] lebih

[01:34:40] membantu banget.

[01:34:42] Iya. Termasuk juga analisa loh,

[01:34:43] Teman-teman. ee bukan berarti kita kasih

[01:34:45] langsung 100% ke sana ya, tapi ibaratnya

[01:34:48] kayak data-data yang begitu banyak aja

[01:34:51] itu tuh bisa langsung di ee cek oleh si

[01:34:54] AI gitu. Jadi teman-teman juga bisa tahu

[01:34:58] bahwa oh ternyata analisa ini bisa

[01:35:00] seperti ini. Mungkin kita ngelihatnya

[01:35:02] analisanya secara biasa tapi ternyata

[01:35:03] sama dia dilihat lebih deep lagi gitu.

[01:35:06] Heeh. Betul. Betul.

[01:35:08] Jadi bisa ini sih teman-teman bisa akses

[01:35:10] juga bisa praktis juga ya. Praktis

[01:35:13] menggunakan AI.

[01:35:14] ee apa semakin sering gitu kan. Terus

[01:35:17] kalau misalkan mau analisis juga jadi

[01:35:19] kan teman-teman bisa belajar dua ilmu

[01:35:21] nih. Belajar technical things-nya yang

[01:35:23] teman-teman pelajari sama belajar metode

[01:35:26] analisisnya gitu kan. Jadi e selain tadi

[01:35:29] eh technical skills-nya dipelajari tapi

[01:35:31] juga teman-teman coba untuk mempelajari

[01:35:33] beberapa metode analisis nih. Kan ada

[01:35:35] banyak nih metode analisisnya seperti

[01:35:37] apa gitu kan. Itu juga belajar juga ee

[01:35:40] metode analisisnya. Jadi jangan hanya

[01:35:41] pakai metode analisis yang satu sisi

[01:35:44] doang yang dipakai sama AI ya, tapi

[01:35:46] teman-teman bisa akses gitu. Jadi

[01:35:47] misalkan kayak kebayang kalau misalkan

[01:35:49] ee

[01:35:51] technical results-nya yang dari

[01:35:53] teman-teman punya terus kemudian

[01:35:54] dikombinasikan sama beberapa namanya eh

[01:35:58] metode analisis yang udah ada nih yang

[01:36:00] sudah proven gitu kan dikombine jadi

[01:36:02] satu itu hasilnya akan lebih bagus sih

[01:36:05] gitu. Terus bisa lagi kayak kasih prom

[01:36:06] kayak misalkan ee

[01:36:09] S ee apa ya misalkan kayak S CEO dan ee

[01:36:13] ketika membuat keputusannya gitu kan eh

[01:36:15] terus

[01:36:17] need di apa kayak misalkan butuh butuh

[01:36:20] decisions yang seperti apa gitu kan

[01:36:22] terus carikan point of view-nya seperti

[01:36:26] apa. Terus kayak misalkan bisa challenge

[01:36:27] juga kayak challenge this ideas gitu kan

[01:36:29] kayak gimana apa yang kurang lucking

[01:36:31] dari this ideas itu bisa pakai pakai I

[01:36:35] sih.

[01:36:36] Oke. Kalau ini enggak ngerasa ya

[01:36:39] tiba-tiba udah mau jam .00. Mas Ricky

[01:36:42] closing nih statement nih Mas Ricky buat

[01:36:44] teman-teman, buat teman-teman yang di

[01:36:46] digital marketing gitu kira-kira ee biar

[01:36:50] mereka bisa lebih yakin untuk

[01:36:52] berkecimpung di bidang ini nih Mas

[01:36:54] Ricky.

[01:36:55] Silakan Mas Ricky.

[01:36:56] Oke. Ee

[01:36:58] teman-teman yang ada di digital

[01:37:00] marketing dan masih baru di digital

[01:37:03] marketing tadi jangan lupa teori-teori

[01:37:05] lama itu tuh masih relevan gitu ya. tadi

[01:37:08] kayak ada peso, ada ee STP dan lain

[01:37:11] sebagainya itu di direvisit lagi gitu

[01:37:13] kan. Jadi jangan sampai lupa. Terus

[01:37:14] kemudian

[01:37:16] ee karena sekarang sudah ada AI jadi ee

[01:37:20] jangan terlalu dependen semua sama AI.

[01:37:22] Memang bagus kita mempelajari AI, tapi

[01:37:24] kita juga harus update nih upgrade ee

[01:37:28] cara belajar kita dengan AI seperti apa.

[01:37:30] Kita harus bisa menyesuaikan gitu.

[01:37:32] Jangan semuanya tuh mentah-mentah yang

[01:37:35] dari AI, rekomendasi dari AI yang banyak

[01:37:38] salah kita terima terus kita

[01:37:39] implementasikan di situ, gitu kan. Terus

[01:37:42] kemudian banyak diskusi dengan ee

[01:37:47] orang-orang lain untuk memvalidasi

[01:37:50] apapun yang kita lakukan ya, ide-ide

[01:37:51] kita terus kita punya strategi apa

[01:37:53] divalidasi sama orang lain. Jadi sebelum

[01:37:56] sebelum itu kita ini ee putuskan, tanya

[01:37:59] dulu deh ke kiri ke kanan apa segala

[01:38:01] macam gitu kan ke teman-teman, ke

[01:38:03] supervisor ke misalkan kayak nanti beda

[01:38:06] kantor ya tanya aja ke ke teman sini

[01:38:08] yang teman-teman yang satu angkatan sini

[01:38:10] tapi kerja beda kantor biar biar dapat

[01:38:13] POV yang lebih banyak gitu kan. Terus eh

[01:38:15] post and cost-nya seperti apa gitu. Itu

[01:38:18] sih yang paling penting karena sampai

[01:38:19] sekarang saya juga masih masih melakukan

[01:38:21] hal yang sama sih. Misalkan

[01:38:23] ee apa ya melakukan sesuatu gitu terus

[01:38:26] kadang masih tanya sih ke teman-teman ya

[01:38:28] selain validasi pasti diri sendiri kan

[01:38:31] ke AI cari research apa segala macam

[01:38:33] gitu kan cari market research dan lain

[01:38:35] sebagainya gitu. Challenge ideas. Yang

[01:38:37] paling penting juga tanya ke teman-teman

[01:38:39] sih, kan orang-orang itu kan semua

[01:38:41] manusia ya dan mereka juga bisa

[01:38:43] merasakan dan mungkin punya pengalaman

[01:38:46] sesuatu tentang apa ide kita yang pernah

[01:38:48] yang mau kita bikin tapi mereka pernah

[01:38:50] merasakan sebelumnya. Nah, nah itu jadi

[01:38:54] masukan yang bagus. Kayak mereka juga

[01:38:55] bisa bilang, "Oh, ya pernah ingat nih

[01:38:57] ada begini begini, tapi waktu itu jelek

[01:38:59] karena begini begini begini." Nah, itu

[01:39:00] kan jadi insight yang baru buat kita

[01:39:02] supaya kita bisa ini. Itu aja sih, Kak

[01:39:05] Ira. Semoga teman-teman semangat di

[01:39:07] sini. Nanti kalau misalkan ada yang mau

[01:39:09] tanya-tanya lagi bisa connect ke Linkin

[01:39:11] saya. Ee bisa diskusi ngobrol di situ.

[01:39:17] Oke, nanti bisa langsung cari ya di

[01:39:19] search Ricky Iskandar teman-teman. Jadi

[01:39:22] teman-teman bisa langsung connect

[01:39:24] langsung sama Kak Ricky. Oke, tadi ini

[01:39:27] ee thank you banget Kak Ricky. Jadi ee

[01:39:31] sharing kita hari ini cukup lumayan apa

[01:39:35] bukan cukup ya sangat banget insightful

[01:39:38] gitu ya. bahkan ee aku yang termasuk

[01:39:40] yang baru belajar digital marketing

[01:39:42] jadinya aku juga jadi belajar banget

[01:39:44] gitu, Mas Ricky. Ee digital marketing

[01:39:47] tuh ilmu yang menurut aku ee termasuk

[01:39:50] aplikatif banget ya, Teman-teman. Bisa

[01:39:52] Teman-teman pakai untuk brand atau

[01:39:54] bahkan mungkin tanpa brand gitu ya. Jadi

[01:39:56] teman-teman membangun personal

[01:39:58] brandingnya dari teman-teman sendiri itu

[01:40:00] bisa banget pakai ilmu ini. Karena ee

[01:40:03] aku sih ngerasa bahwa dengan kita

[01:40:05] belajar ini bukan berarti kita menjadi

[01:40:07] sales ya gitu, tapi lebih karena kita

[01:40:09] ngebangun personal banding-nya kita

[01:40:11] gitu. Nah, thank you banget Kak Riki

[01:40:14] atas sharing-nya hari ini. Jangan

[01:40:16] bosan-bosan ya untuk sharing ke

[01:40:19] teman-teman BINUS gitu ya. Mungkin

[01:40:20] teman-teman juga sudah sering lihat Kak

[01:40:22] Ricky ya beberapa kali, tapi it's oke

[01:40:24] gitu dengan pengalaman Mas Ricky di

[01:40:26] bidang market apa digital marketing itu

[01:40:28] cukup lumayan eh sangat membantu kita

[01:40:31] semua loh teman-teman. Jadi kita dapat

[01:40:32] insightful yang eh sungguh sangat luar

[01:40:34] biasa. Terima kasih Mariki. Eh di sini

[01:40:38] nanti akan di-share oleh si Farhan oleh

[01:40:41] Pak Farhan silakan untuk ee di-share

[01:40:45] link evaluasinya.

[01:40:46] Jadi teman-teman silakan untuk isi link

[01:40:48] evaluasinya.

[01:40:50] Jangan sampai ee lupa untuk diisi. Oke,

[01:40:54] sudah di-share. Terima kasih Farhan.

[01:40:56] Jadi, Teman-teman silakan share. Ee kita

[01:40:58] ketemu lagi di sesi selanjutnya. Sampai

[01:41:01] ketemu. Dadah. Thank you. K. Terima

[01:41:04] kasih, Teman-teman.

[01:43:32] Normally catal

[01:52:00] Enggak

[01:52:22] ada ini

[01:52:25] belum?
