Full Transcript
https://www.youtube.com/watch?v=95oHy-i1ex8
[00:00] Hari ini kita ngobrol lagi bersama
[00:01] Hari ini kita ngobrol lagi bersama dokter Gia seorang dokter IGD dan HD.
[00:04] dokter Gia seorang dokter IGD dan HD.
[00:04] Terima kasih sudah mampir ke sini lagi
[00:06] Terima kasih sudah mampir ke sini lagi Bang Radit.
[00:07] Bang Radit.
[00:07] Setelah huru hara. [tertawa]
[00:09] Setelah huru hara.
[00:10] Setelah huruhara.
[00:12] Setelah huru hara.
[00:12] Masyaallah luar biasa.
[00:14] Masyaallah luar biasa.
[00:14] Kita bahas yang kemarin dulu kali ya
[00:16] Kita bahas yang kemarin dulu kali ya karena lagi ramai
[00:18] karena lagi ramai sebelum kita ngobrol-ngobrol lebih
[00:19] sebelum kita ngobrol-ngobrol lebih lanjut.
[00:20] lanjut. Setuju. [tertawa] Setuju Bang.
[00:21] Setuju. [tertawa] Setuju Bang.
[00:21] Jadi apa yang terjadi tuh dokter Gia?
[00:22] Jadi apa yang terjadi tuh dokter Gia?
[00:22] Karena pas ee potongan podcast itu ramai
[00:27] Karena pas ee potongan podcast itu ramai dari 30 menit tuh yang dipotong cuma 3
[00:29] dari 30 menit tuh yang dipotong cuma 3 menit itu ramai.
[00:30] menit itu ramai.
[00:30] Iya. Yang cuma 3 menit itu saya tuh
[00:31] Iya. Yang cuma 3 menit itu saya tuh enggak ngelihat tuh.
[00:33] enggak ngelihat tuh. Saya enggak tahu
[00:33] Saya enggak tahu itu rame.
[00:33] Iya. Itu benar.
[00:34] Iya. Itu benar.
[00:34] Saya tuh baru hanya rameai karena ada
[00:37] Saya tuh baru hanya rameai karena ada yang ngasih tahu ada yang ngasih tahu
[00:39] yang ngasih tahu ada yang ngasih tahu bahwa ee dibahas di Twitter kalau enggak
[00:42] bahwa ee dibahas di Twitter kalau enggak salah
[00:43] salah trad juga
[00:43] trad juga trad ya segala macam.
[00:45] trad ya segala macam.
[00:45] Nah, pas ee
[00:46] Nah, pas ee TikTok juga ya [tertawa]
[00:48] TikTok juga ya [tertawa] ngelihat lagi gue yang yang bahas siapa
[00:50] ngelihat lagi gue yang yang bahas siapa aja. Terus begitu begitu ditinggal kan
[00:52] aja. Terus begitu begitu ditinggal kan lagi sibuk juga tuh begitu ditinggal
[00:54] lagi sibuk juga tuh begitu ditinggal rameai-ramai pada minta maaf minta maaf.
[00:56] rameai-ramai pada minta maaf minta maaf. Jadi awalnya heboh terus kayak maaf ya
[00:58] Jadi awalnya heboh terus kayak maaf ya maaf lah ini gimana sih ceritanya habis
[01:00] maaf lah ini gimana sih ceritanya habis itu saya lanjut kerja lagi tuh gitu ya.
[01:03] itu saya lanjut kerja lagi tuh gitu ya.
[01:05] Nah itu gimana tuh sebenarnya ada apa sih?
[01:05] Iya sebenarnya gini Bang aduh waktu juga minta maaf buat teman-teman senjawat
[01:07] minta maaf buat teman-teman senjawat karena kemarin waktunya emang sebentar
[01:10] sekali jadi udah pasti secara kronologis siap akan banyak pertanyaan.
[01:12] siap akan banyak pertanyaan. Oke.
[01:15] Jadi sebenarnya pesan utama saya itu buat para Genzet itu enggak perlu
[01:17] buat para Genzet itu enggak perlu khawatir karena kan ada yang jadi takut
[01:20] khawatir karena kan ada yang jadi takut hamil gitu.
[01:21] hamil gitu. Bukan itu poinnya.
[01:23] poinnya. Justru teman-teman kita tuh bersyukur tinggal di Indonesia karena
[01:25] bersyukur tinggal di Indonesia karena kita memiliki dokter-dokter objin yang
[01:28] kita memiliki dokter-dokter objin yang salah satu terbaik di dunia ini, Bang.
[01:30] salah satu terbaik di dunia ini, Bang.
[01:32] Karena jam terbangnya luar biasa.
[01:34] Karena jam terbangnya luar biasa.
[01:35] Enggak banyak loh, Bang, negara yang jumlah kelahiran dan kehamilannya itu 4
[01:37] jumlah kelahiran dan kehamilannya itu 4 sampai 5 juta setahun.
[01:39] sampai 5 juta setahun. Oke. Oke.
[01:39] Oke. Oke. Jumlah dokter Objin cuma 5.000-an.
[01:41] Jumlah dokter Objin cuma 5.000-an. Bayangin berarti jam terbangnya, Bang.
[01:44] Bayangin berarti jam terbangnya, Bang.
[01:46] Udah gitu dokter Objin itu dokter yang terbiasa bertanggung jawab kepada dua
[01:49] terbiasa bertanggung jawab kepada dua nyawa sekaligus, ibu dan janin
[01:51] nyawa sekaligus, ibu dan janin gitu.
[01:51] gitu. I
[01:52] I jadi buat teman-teman Genzet jangan ragu
[01:54] jadi buat teman-teman Genzet jangan ragu untuk periksakan kehamilanmu ke
[01:55] untuk periksakan kehamilanmu ke dokter-dokter objin terdekat pilihanmu,
[01:58] dokter-dokter objin terdekat pilihanmu, gitu.
[01:59] gitu. Golsnya itu sebenarnya
[02:01] Golsnya itu sebenarnya jangan malah jadi takut kan inti inti
[02:04] jangan malah jadi takut kan inti inti ceritanya juga bukan soal nakutin orang
[02:06] ceritanya juga bukan soal nakutin orang bukan.
[02:09] Justru karena salah penanganan jadi gitu.
[02:11] Kalau benar mah periksa kehamilannya benar, kelahirannya benar,
[02:14] itu akan kamu akan memiliki kehamilan yang tenang gitu.
[02:15] Pulang happy, bawa bayi gitu.
[02:17] bayi gitu.
[02:18] Benar, benar, benar, benar.
[02:20] Dan memang kalau lihat di negara-negara lain,
[02:22] tingkat kelahiran paling tinggi kan juga di enggak enggak banyak ya, karena
[02:25] negara Eropa, Jepang itu kan pada turun
[02:27] semua kan berade-nya.
[02:29] Siap, siap.
[02:30] Ah, kita udah lewat itu tuh persoalan huruara itu sudah lewat.
[02:33] Saya ee mau bahas soal ini nih, cerita dari dokter Gia karena ada yang menarik nih.
[02:36] ee mau bahas soal ini nih, cerita dari dokter Gia karena ada yang menarik nih.
[02:38] Seorang pasien datang ke IGD muntah-muntah.
[02:41] [tertawa] I ya.
[02:42] Terus apa nih? Kok jadi cacing nih?
[02:45] Gimana ceritanya?
[02:45] Enggak.
[02:47] Itu harusnya di terakhirnya.
[02:48] Di terakhirnya itu.
[02:50] Jadi kalau kita pikir ni, Bang, mulut kita, kita nelon makanan ke lambung,
[02:51] habis lambung ke usus.
[02:53] Usus kecil, usus besar, terus anus.
[02:56] Berarti sebenarnya tengah kita itu kan
[03:01] Berarti sebenarnya tengah kita itu kan bolong.
[03:03] Kita tuh sebenarnya donat yang bolong.
[03:05] Kita tuh sebenarnya donat yang panjang kan, Bang Radit.
[03:05] Oke.
[03:07] Jadi kalau kita masukin apapun ke mulut pilihannya cuma dua.
[03:09] Keserap ke pembuluh darah atau kebuang lewat poop.
[03:11] Oke,
[03:12] udah enggak ada opsi lain.
[03:13] Iya.
[03:13] Nah, kalau ada pasien muntah-muntah apapun yang dia masukin keluar lagi dan
[03:18] enggak bisa pup dan kentut, berarti kan ada yang nyumbat di situ kan, Bang.
[03:21] Oke.
[03:22] Either ususnya berbelit namanya volvulus atau invaginasi ya, usus makan usus gitu atau ada something di situ yang ganjel.
[03:30] Oke.
[03:31] Nah, pada kasus itu pas dibuka cacing kok.
[03:36] Pas dibuka maksudnya pas dibuka dioperasi.
[03:37] Pas dioperasi cacing.
[03:39] Cacingnya banyak.
[03:41] Banyak banget.
[03:42] Dan itu diambilnya tuh kayak ngambil pakai kayak ngambil pakai capit gitu tuh kayak ngambil spagetti.
[03:48] Bangat.
[03:50] Oh my God.
[03:50] Geli banget sumpah.
[03:52] Nanti aku postingin ya videonya ya.
[03:53] Video cacing dikeluarin.
[03:53] Heeh.
[03:56] Aku posting, aku posting.
[03:56] Itu pas dokter Gia ee rame kemarin yang soal Rahim copot itu kan rame banget tuh.
[04:00] Terus gua penasaran cek si dokter G
[04:03] Terus gua penasaran cek si dokter G ngpost apa enggak ya pas gua post, "Nah, ini testis ya.
[04:05] Testis adalah [tertawa] ini testis ya.
[04:08] Testis adalah [tertawa] ini adalah buah zakar."
[04:10] Aku bilang gitu.
[04:11] Oh, buah zakar ya.
[04:11] Ini adalah buah zakar.
[04:14] Buah zakar ini gini.
[04:14] Ya Allah, dia [tertawa] malah megang-megang buah zakar
[04:17] samaver ya itu ya.
[04:18] Itu cadaver.
[04:21] Kad gitu.
[04:21] tu.
[04:21] Oke.
[04:21] Oke.
[04:23] Jadi, Bang, aku tuh sebenarnya selain yang kasus-kasus IGD itu, kenapa aku
[04:25] ceritain terus tentang kenapa buah zakar
[04:27] atau anatomi tubuh manusia secara in general gitu, Bang.
[04:29] Karena aku tuh punya visi misi,
[04:31] visi misi hidup aku itu Bang,
[04:33] ingin mencegah 1 juta orang Indonesia
[04:34] terkena serangan jantung dan stroke.
[04:37] Jadi, apapun yang aku posting, buku
[04:39] apapun yang aku tulis tuh sebenarnya muarannya ke situ gitu.
[04:41] Karena ya angka serangan jantung sama
[04:43] stroke cukup tinggi dan kalau kena pun
[04:45] sembuh daya pompa jantungnya berkurang.
[04:47] Stroke walaupun sembuh fase akutnya
[04:50] tetap lumpuh.
[04:53] Produktivitas jauh berkurang.
[04:55] Berarti gimana kalau kita cegah aja
[04:57] jangan sampai terjadi gitu.
[04:58] Nah, dokter G goalsnya itu kenapa aku terjun ke medsos
[05:05] goalsnya itu kenapa aku terjun ke medsos enggak cuma di rumah sakit.
[05:06] enggak cuma di rumah sakit.
[05:08] Tapi dokter Gia ini kan sehari-harinya jaga IGD kan kepala IGD berarti ya atau apa tuh di situ ya di kepala IGD.
[05:15] Nah, seberapa banyak yang itu yang stroke atau jantung di loh banyak itu one of the one of the kan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia adalah serangan jantung dan stroke.
[05:25] stroke. Oke.
[05:26] Dan lucunya Bang Radit pasti bingung, "Dok, ada enggak sih persamaan serangan jantung sama stroke? Bukan itu dua organ yang berbeda. Serangan jantung ke jantung, stroke itu ke otak."
[05:35] Otak. Iya. Ternyata ada persamaannya, Bang.
[05:37] Masalahnya sama-sama di pembuluh darahnya. Oke.
[05:41] Namanya pembuluh darah arteri. Heeh.
[05:44] Arteri itu yang dari jantung ke seluruh organ tubuh itu namanya arteri. Dinding dalam pembuluh darah arteri itu, Bang, lembut banget. Namanya endotel. Makanya darah kita bisa ngalir dengan lancarnya.
[05:54] Nah, ada res faktor-faktor resiko yang bikin dinding pembular itu rusak, Bang.
[05:59] Oke. Jadi kayak wallpaper robek gitu. Nah, makanya kolesterol berlebih atau gula dar itu nempel semua di situ. Jadi
[06:05] dar itu nempel semua di situ.
[06:05] Jadi sumbatan.
[06:06] sumbatan.
[06:06] Oke.
[06:07] Oke.
[06:07] Kalau yang nyumbat di jantung namanya
[06:08] Kalau yang nyumbat di jantung namanya serangan jantung.
[06:10] serangan jantung.
[06:10] Kalau yang nyumbat di otak namanya stroke gitu.
[06:13] otak namanya stroke gitu.
[06:13] Nah, kalau misalnya dia tersumbat itu otomatis ada
[06:17] misalnya dia tersumbat itu otomatis ada serangan jantung atau dia harus robek
[06:18] serangan jantung atau dia harus robek dulu?
[06:18] dulu?
[06:18] 100% 100%.
[06:22] Kalau 100% sumbat itu serangan jantung, Bang.
[06:23] serangan jantung, Bang.
[06:23] Oke.
[06:23] Oke.
[06:23] Nah, awalnya dari robek dulu numpuk
[06:25] Nah, awalnya dari robek dulu numpuk numbuk numpuk.
[06:26] numbuk numpuk.
[06:26] Nah, makanya butuh tahunan kan enggak bisa langsung
[06:28] tahunan kan enggak bisa langsung seketika.
[06:28] Dari 0 sampai 80 mungkin butuh tahunan.
[06:31] tahunan.
[06:31] Tapi dari 80 ke 100 bisa tuh, Bang.
[06:33] Tapi dari 80 ke 100 bisa tuh, Bang.
[06:33] Cep tiba-tiba 100%.
[06:35] Bang.
[06:35] Cep tiba-tiba 100%.
[06:37] Berarti mendingan kita City jantung tiap berapa tahun?
[06:39] berapa tahun?
[06:39] jantung pernah, Bang?
[06:40] Udah pernah pakai yang kontras enggak
[06:41] pakai yang kontras enggak pakai?
[06:42] pakai?
[06:42] Oh, i keren.
[06:43] Oh, i keren.
[06:43] Itu 3 tahun yang lalu bersih.
[06:45] Itu 3 tahun yang lalu bersih.
[06:45] Wih, keren.
[06:45] Kita Bang Radit harus jagain itu seumur hidup Bang Radit nol itu se e
[06:47] itu seumur hidup Bang Radit nol itu se e ngulangnya kapan saya?
[06:50] ngulangnya kapan saya?
[06:51] Ah, kayaknya Bang Radit kan sekarang masih 30 kan ya, Bang?
[06:53] masih 30 kan ya, Bang?
[06:54] Eh, [tertawa]
[06:57] 40 sih.
[06:59] 40 sih.
[06:59] 5 tahun lagi bisa.
[07:00] 5 tahun lagi bisa.
[07:00] Ah, masih oke.
[07:00] Masih oke.
[07:02] Nanti kalau 50 tahun bolehlah setahun sekali tuh kalau ada keluhan.
[07:04] tahun bolehlah setahun sekali tuh kalau ada keluhan.
[07:04] ada keluhan.
[07:04] Saya sudah scan otak juga sih.
[07:06] Saya sudah scan otak juga sih.
[07:06] Aman juga, bersih, aman juga, bersih, keranjang isinya.
[07:07] Iya.
[07:09] keranjang isinya.
[07:09] Iya.
[07:12] Oh itu mata ya?
[07:12] Itu mata jadi otak.
[07:14] Otak keranjang mata keranjang.
[07:14] Aduh jangan salah.
[07:15] Oke.
[07:18] Ee berarti sering banget e berarti kita harus jagain apa sih kira-kira yang bisa ngerusak dinding dalam itu kan Bang?
[07:22] Apa aja tuh faktor resikonya?
[07:24] He.
[07:25] Nah, salah satu yang terbanyak dan angkanya terus meningkat adalah diabetes.
[07:29] Hm.
[07:29] Gula darah yang meningkat.
[07:33] Bang Radit pernah enggak cek gula setiap tahun?
[07:34] Ah, itu angkanya berapa?
[07:36] Oh, gula darah puasa ya.
[07:37] Eh, enggak gula.
[07:37] Oh, ya.
[07:38] Gud darah puasa di boleh godar puasa itu 89 sampai 95 cakep karena kan yang normal antara 80 sampai 120 tuh Bang.
[07:48] itu ada satuannya milgram dil.
[07:49] Heeh.
[07:50] Aku ambil tengah-tengah dar 100.
[07:51] He.
[07:54] 100 mg/dl.
[07:54] Sekarang aku rubah miligram jadi gram desciliter jadi liter.
[07:56] Artinya dalam satu liter darah Bang Radit hanya boleh ada gula 1 gram.
[08:00] Hah?
[08:02] Bang Radit punya 5 liter darah berarti hanya boleh ada gula 5 gr.
[08:04] Pertanyaannya berapa gram gula yang Bang Radit masukkan setiap harinya?
[08:07] masukkan setiap harinya? Wah, itu kalau dibungkus [tertawa]
[08:09] Wah, itu kalau dibungkus [tertawa] itu kan udah banyak.
[08:11] banyak.
[08:11] Satu porsi tuh bisa 12 gr, ada yang 7
[08:13] Satu porsi tuh bisa 12 gr, ada yang 7 30, ada yang 30.
[08:15] 30, ada yang 30.
[08:15] Nah, kok bisa Bang Radit hajar terus
[08:18] Nah, kok bisa Bang Radit hajar terus gula gitu tapi kok gula darah tetap
[08:19] gula gitu tapi kok gula darah tetap stabil? Itu organ mana Bang yang kerja
[08:21] stabil? Itu organ mana Bang yang kerja keras?
[08:22] keras? Pankreas.
[08:23] Pankreas.
[08:23] Betul. Itu organ yang bentuknya mirip
[08:25] Betul. Itu organ yang bentuknya mirip daun letaknya ada di bawah lambung kita.
[08:27] daun letaknya ada di bawah lambung kita. Dia menghasilkan insulin.
[08:29] Dia menghasilkan insulin. Oke.
[08:29] Oke. Nah, insulin dia ngapain? dia keluar
[08:31] Nah, insulin dia ngapain? dia keluar untuk nangkapin gula-gula darah berlebih
[08:33] untuk nangkapin gula-gula darah berlebih untuk segera keluar dari pembuluh darah.
[08:35] untuk segera keluar dari pembuluh darah. Nah, organ tubuh yang ditawarin sama
[08:37] Nah, organ tubuh yang ditawarin sama insulin pertama kali adalah otot.
[08:39] insulin pertama kali adalah otot. Otot, kamu mau enggak gula?
[08:42] Otot, kamu mau enggak gula? Kata otot,
[08:42] "Enggak, aku lagi rebahan, lagi nonton
[08:43] "Enggak, aku lagi rebahan, lagi nonton Dracore season 6."
[08:45] Dracore season 6." Panjang juga season.
[08:46] Panjang juga season.
[08:46] Panjang juga season 6
[08:47] Panjang juga season 6 rajin [tertawa] juga.
[08:48] rajin [tertawa] juga. Iya. Terus dia kasih ke otak, "Otak,
[08:50] Iya. Terus dia kasih ke otak, "Otak, kamu mau enggak gula?"
[08:52] kamu mau enggak gula?" Kata otak,
[08:52] "Enggak, aku lagi enggak mikir." Terus
[08:54] "Enggak, aku lagi enggak mikir." Terus ditaruh di mana dong, Bang? kan harus
[08:56] ditaruh di mana dong, Bang? kan harus segera keluar dari pembuluh darah sama
[08:58] segera keluar dari pembuluh darah sama insulin ditaruhlah di tempat yang enggak
[09:00] insulin ditaruhlah di tempat yang enggak ada kuotanya yaitu lemak yang di bawah
[09:03] ada kuotanya yaitu lemak yang di bawah kulit
[09:04] kulit jadilah lemak makanya insulin disebut
[09:06] jadilah lemak makanya insulin disebut fat storing hormon hormon yang
[09:08] fat storing hormon hormon yang numpuk-numpukin lemak gitu
[09:10] numpuk-numpukin lemak gitu oke
[09:10] oke jadi selama pankreas kita masih cinta
[09:13] jadi selama pankreas kita masih cinta sama kita, masih mau kerja keras buat kita, kita enggak bakal kena diabetes.
[09:17] kita, kita enggak bakal kena diabetes. Kita hanya akan menggemuk.
[09:19] Kita hanya akan menggemuk. Nah, kok bisa jadi diabetes?
[09:20] Nah, kok bisa jadi diabetes? Masalahnya kita enggak tahu kapan
[09:22] pankreas menyerah. Oh,
[09:24] kata Pakres, "Kamu enggak sayang sama aku, aku juga enggak sayang sama kamu."
[09:27] Akhirnya dia bikin insulinnya ngacau-ngacau, bentuknya juga aneh-aneh.
[09:30] ngacau-ngacau, bentuknya juga aneh-aneh. Selisten sama insulin kebanyakan. Air
[09:34] Selisten sama insulin kebanyakan. Air gula darahnya naik, Bang.
[09:36] gula darahnya naik, Bang. Karena insulin yang diproduksi udah
[09:38] enggak mencukupi.
[09:39] Udah enggak akhirnya harus suntik-suntik dari luar.
[09:42] I see.
[09:42] Nah, itu yang mahal kan pen-pen insulin itu.
[09:45] Kenapa kalau kita masuk IGD yang ditanyain tuh ada diabetes apa enggak?
[09:50] Itu sering banget ditanya.
[09:51] Betul. Makanya aku selalu sering bahas
[09:53] tentang ini juga karena once itu heat ya di atas 200 mg itu kan diagnosisnya masuk tuh diabetes
[09:59] itu akan jadi induk dari berbagai macam komplikasi. Makanya mother of theasis
[10:04] itu wow kebutaan, gagal ginjal, gagal hati,
[10:08] wow kebutaan, gagal ginjal, gagal hati, gagal berhubungan seksual, impotensi itu
[10:11] gagal berhubungan seksual, impotensi itu gara-gara gula darah yang berlebih tadi
[10:13] gara-gara gula darah yang berlebih tadi gitu.
[10:14] gitu. Ngejaganya cukup dengan tidak konsumsi
[10:17] Ngejaganya cukup dengan tidak konsumsi gula berlebih.
[10:18] gula berlebih. Memang pangkres kita enggak selemah itu,
[10:19] Memang pangkres kita enggak selemah itu, Bang. He
[10:20] Bang. He dia masih mampulah kerja. Tapi jangan di
[10:22] dia masih mampulah kerja. Tapi jangan di dari WHO, dari e ke Mkes juga usahain di
[10:25] dari WHO, dari e ke Mkes juga usahain di bawah 50 gr aja per hari. Masih aman
[10:27] bawah 50 gr aja per hari. Masih aman gula.
[10:28] gula. Heeh.
[10:29] Heeh. Artinya ngejaganya cukup itu. Sementara
[10:31] Artinya ngejaganya cukup itu. Sementara selama konsumsi gula kita enggak gede
[10:34] selama konsumsi gula kita enggak gede aman.
[10:34] aman. Iya. Di bawah 50 plus ayo naikin masa
[10:38] Iya. Di bawah 50 plus ayo naikin masa ototnya.
[10:39] ototnya. Oh
[10:40] Oh otot itu segalanya Bang. Bang Radit
[10:42] otot itu segalanya Bang. Bang Radit kalau di rumah ada olahraga itu yang
[10:45] kalau di rumah ada olahraga itu yang diprotes sendiri. Oke, oke, oke. Muscle
[10:47] diprotes sendiri. Oke, oke, oke. Muscle mes, muscle mes. Karena dia masuk kan ke
[10:49] mes, muscle mes. Karena dia masuk kan ke dalam otot-otot kita si gula-gula itu.
[10:51] dalam otot-otot kita si gula-gula itu. Bisa. Oke. Jadi, e respon terhadap
[10:52] Bisa. Oke. Jadi, e respon terhadap insulinnya lebih bagus. Heeh. Keserap
[10:55] insulinnya lebih bagus. Heeh. Keserap kan.
[10:55] kan. Mungkin enggak orang kalau udah makin
[10:58] Mungkin enggak orang kalau udah makin tua pankreasnya makin susah ngeluarin
[11:02] tua pankreasnya makin susah ngeluarin insulin gitu mungkin enggak sih?
[11:04] insulin gitu mungkin enggak sih? Iya. S-sel juga resistance sel-sel organ
[11:06] Iya. S-sel juga resistance sel-sel organ tubuh lain kan.
[11:07] tubuh lain kan. Hanya karena penuaan.
[11:08] Hanya karena penuaan. Penuaan juga bisa. Tapi ya kebanyakan
[11:10] Penuaan juga bisa.
[11:12] Tapi ya kebanyakan sih kebanyakan kebanyakan makan gulanya itu yang bikin dia enggak oke.
[11:16] Nah, Bang kalau misalkan gula kan 200 sudah diabetes.
[11:22] Aku pernah terima pasien yang udah komplikasi.
[11:27] Komplikasinya bentuknya ee ini ee gangren.
[11:28] Bang Radit pernah dengar gangren engak sih?
[11:32] Iya. Baunya tuh kan dahsyat sekali.
[11:36] J aku sama perawatku lagi duduk terus lagi nulis kita kayak ke hirup kita lihat-lihatan.
[11:39] Dok, bau ini. Iya. Ini bau apa? Dari mana sumber?
[11:47] Terus kita lihat ada orang datang kita cowok-cowok kira-kira seumurlah gitu.
[11:51] Berdua berdua. He, "Dok, tolongin, Dok. Dok, ini lemas, Dok."
[11:53] Uh, mukanya udah pucet anyep.
[11:57] Ayo masuk, masuk, masuk.
[11:59] Ditaruh di betnya dicek tensinya tinggi pas dicek gulanya 500-an lah kira-kira.
[12:03] Buset. 500, Dok. Itu, Dok.
[12:07] Kaki jempol. Oh iya. Aku buka dia
[12:11] Kaki jempol.
[12:11] Oh iya.
[12:11] Aku buka dia nutupin pakai kayak kain.
[12:14] Kain nutupin pakai kayak kain.
[12:14] Kain apa sih?
[12:16] Kain kain biasa lag gitu.
[12:16] Aku buka.
[12:18] Aku buka.
[12:18] Mana jempolnya?
[12:20] Mana jempolnya?
[12:21] Hah?
[12:21] Jempolnya enggak ada.
[12:21] Jempolnya copot.
[12:23] Jempolnya enggak ada.
[12:23] Jempolnya copot.
[12:25] Kalau ke sekarang [tertawa] jempol sekarang jempol copot.
[12:27] sekarang jempol copot.
[12:27] Eh kamu tadi lihat ada jempol enggak?
[12:29] Eh kamu tadi lihat ada jempol enggak?
[12:29] Jempol copot.
[12:30] Jempol copot.
[12:31] Jempolnya [tertawa] jempolnya geng.
[12:33] jempolnya geng.
[12:33] Jempolnya copot.
[12:33] Enggak ada di situ.
[12:35] Jempolnya copot.
[12:35] Enggak ada di situ.
[12:36] Enggak ada di IG.
[12:36] Di kakinya di kaki.
[12:38] Di kakinya di kaki.
[12:38] Makanya udah cari cari cari.
[12:40] cari cari.
[12:40] [tertawa] Eh, enggak boleh ketawa sih.
[12:43] Eh, enggak boleh ketawa sih.
[12:43] Dikasihan.
[12:43] Aku fokus aku fokus aku fokus.
[12:45] Aku fokus aku fokus aku fokus.
[12:45] Goals aku tetap stabilin tanda-tanda vitalnya dulu gitu.
[12:47] Goals aku tetap stabilin tanda-tanda vitalnya dulu gitu.
[12:47] Tapi jempolnya mana?
[12:49] vitalnya dulu gitu.
[12:49] Tapi jempolnya mana?
[12:49] [tertawa] Iya ya boleh mana?
[12:50] Iya ya boleh mana?
[12:50] Ya itu juga pertanyaanku.
[12:52] Ya itu juga pertanyaanku.
[12:52] Jempolnya mana?
[12:54] mana?
[12:54] Jempolnya mana?
[12:56] Jempolnya mana?
[12:56] Ya udah aku minta peratku untuk cari kali dia waktu jalan
[12:58] peratku untuk cari kali dia waktu jalan jalan jatuh gitu.
[13:01] jalan jatuh gitu.
[13:01] Lalu lalu lalu udah urusin cari-cari dulu udah aku
[13:03] udah urusin cari-cari dulu udah aku urusin dia.
[13:03] Wah, itu kan harus itu dehidrasi berat kan, Mang?
[13:05] dehidrasi berat kan, Mang?
[13:05] Kalau kalau gula sampai setinggi itu tuh pasti
[13:07] Kalau kalau gula sampai setinggi itu tuh pasti dehidrasi.
[13:08] dehidrasi.
[13:08] Karena kan ginjal berusaha ngeluarin gula dari urin,
[13:10] Karena kan ginjal berusaha ngeluarin gula dari urin,
[13:13] ngeluarin gula dari urin, makanya disebut kencing manis.
[13:14] Itu makanya disebut kencing manis.
[13:16] Itu kencingnya itu dirubung semut tuh, Bang.
[13:17] Kalau kalau ada semut
[13:19] kalau ada semut dihidrasi berat aku langsung masukin
[13:21] dihidrasi berat aku langsung masukin dulu infusan dua sampai tiga kantong aku
[13:23] masukin udah beres, udah mulai stabil,
[13:25] udah mulai aduh ada senyamnya lagi gitu.
[13:27] Pak, Bapak gimana ceritanya? Iya, Dok.
[13:30] Saya tuh merantau. Nah, kasus-kasus
[13:32] Saya tuh merantau. Nah, kasus-kasus merantau sendirian tuh makin lama makin
[13:34] banyak deh, Bang. Aku lihat
[13:35] he
[13:35] laki-laki merantau, enggak ada keluarga,
[13:37] enggak ada siapa-siapa. Jadi dia dikosan
[13:39] sendirian.
[13:40] Heeh.
[13:40] Dan dia itu tetangga kosan ternyata
[13:42] bukan keluarga yang tadi nemenin itu.
[13:44] Oke.
[13:45] Dia kecium bau juga. Dia samperin
[13:47] diketok-ketok. Pak, Bapak kenapa aku
[13:50] lemas banget? Lemas banget. Dibawa dan
[13:52] dia baru tahu gulanya segitu. Setelah
[13:54] dia luka dan lain-lak urus sendiri diri
[13:57] sendiri.
[13:58] Enggak enggak enggak. Gimana yang ya
[14:01] mungkin susah kali gimana
[14:03] enggak ada ngingetin juga kali enggak
[14:05] enggak ada yang ngecekin enggak ada yang
[14:06] minta dia ke dokter begitu datang ke IGD
[14:08] ini GD dong pasti jempolnya udah enggak
[14:10] ada jempol kaki.
[14:11] Iya emang si telapak juga menghitam kan.
[14:14] Iya emang si telapak juga menghitam kan.
[14:17] Oke. Pas tanya ke dia berarti udah copot.
[14:19] di ini masih misteri jempol di mana jempol itu ternyata pada prinsipnya udah kamu dirawat dulu ya.
[14:23] prinsipnya udah kamu dirawat dulu ya. Karena kenapa sih bisa copot?
[14:25] Karena kenapa sih bisa copot? Heeh. Karena misalkan dia luka tuh, Bang, yang gula darah tinggi itu gula itu kan makanannya bakteri.
[14:29] makanannya bakteri. Makanannya bakteri itu bukan lemper, bukan [tertawa] makan itu kan gula kan.
[14:33] Jadi dia punya energi buat membelah diri. Satu jadi dua, dua jadi empat p jadi gerogotin semua sel-sel di kakinya itu jadilah teramputasi.
[14:39] sel-sel di kakinya itu jadilah teramputasi. Enggak ngeren dengan bau kayak gitu gitu. Jadi kayak membusuk.
[14:47] kayak gitu gitu. Jadi kayak membusuk. Heeh. Berarti kan aku harus masukin antibiotik.
[14:50] antibiotik. Heeh. Dehidrasinya harus diberesin sama gula darahnya diturunin sedemikian rupa.
[14:55] gula darahnya diturunin sedemikian rupa. Oke. Mau dirawat.
[14:58] Mau dirawat. Pas masuk lagi sih yang nemenin tadi, "Mas, ini harus dirawat."
[15:02] Oke. Oke. Dok rawat aja daripada di kosan kita juga bingung gitu.
[15:06] bingung gitu. Oke. Oke. Ya udah nih urus kamar dulu. Oh ya, Dok.
[15:09] Ya udah nih urus kamar dulu. Oh ya, Dok. Ini, Dok. Bentar, Dok.
[15:11] Heh. Ini tadi jempolnya ada di kosan
[15:16] di dalam kantong kresek yang 2 kiloan
[15:18] di dalam kantong kresek yang 2 kiloan itu loh, Bang.
[15:20] Jadi, jadi copotnya di kosan ternyata diambil sama si teman kosannya itu dimasuk.
[15:23] Dokter butuh enggak, Dok?
[15:28] [tertawa] Ya butuh sih, tapi
[15:30] ya butuh sih.
[15:33] Ternyata enggak bisa dipasang juga.
[15:35] Jadi paling ya di deb demen kita deb demang
[15:37] itu dibersihin jaringan-jaringan yang udah matinya itu.
[15:39] Jadi enggak bisa disatuin lagi.
[15:41] Ternyata udah ini banget.
[15:43] Oke. Oke.
[15:44] Berarti diabetes tidak terkontrol ujungnya bisa gangren.
[15:46] Iya.
[15:48] Itu salah satu komplikasi.
[15:50] Tapi ya bisa juga serangan jantung dan stroke kan.
[15:50] Oke.
[15:51] Karena itu mother of the tadi induk dari berbagai macam penyakit
[15:53] itu mengerikan banget sih diabetes itu
[15:55] mengerikan banget sih.
[15:56] Tapi dia tentu enggak langsung jempol copot kan dia ada
[15:59] pasti menghitam dulu.
[16:01] Dia kan pertama mati rasa dulu.
[16:02] Itu yang bikin dia luka tidak kerasa.
[16:04] Oh
[16:07] dia tuh mati rasa, Bang.
[16:08] Makanya jempol cepat di mana pun dia enggak akan
[16:10] kerasa.
[16:11] Mati rasa.
[16:13] Neuropati kita sebut.
[16:14] Heeh.
[16:14] Nah, jadi dia ketusuk misalkan kan pakai alas
[16:16] jadi dia ketusuk misalkan kan pakai alas kaki kena aja kesenggol berdarah bakteri
[16:19] kaki kena aja kesenggol berdarah bakteri masuk
[16:21] masuk gerogotin gerogotin gerogotin gitu.
[16:23] gerogotin gerogotin gerogotin gitu. Begitu berarti penanganannya apa?
[16:25] Begitu berarti penanganannya apa? Diamputasiah?
[16:26] Diamputasiah? Eh, dibersihin jaringan matinya terus ya
[16:28] Eh, dibersihin jaringan matinya terus ya tadi kasih antibiotik, turunin gulanya
[16:31] tadi kasih antibiotik, turunin gulanya terus ya
[16:33] terus ya stabil lah gitu dehidrasinya.
[16:35] stabil lah gitu dehidrasinya. Kalau udah 500 bisa normal enggak?
[16:39] Kalau udah 500 bisa normal enggak? Bisa. Bisa. Bisa. Bisa.
[16:40] Bisa. Bisa. Bisa. Bisa. Tanpa obat?
[16:41] Tanpa obat? Enggak. Enggak. Enggak harus pakai
[16:42] Enggak. Enggak. Enggak harus pakai bantuin obat. Insulin. Insulin. Pakai
[16:44] bantuin obat. Insulin. Insulin. Pakai insulin
[16:45] insulin udah karena pankreasnya udah enggak
[16:46] udah karena pankreasnya udah enggak kayak dulu lagi tuh.
[16:47] kayak dulu lagi tuh. Heeh. Kurang. Kurang. Jadi harus
[16:49] Heeh. Kurang. Kurang. Jadi harus tambahin insulin dari luar.
[16:50] tambahin insulin dari luar. Berarti kalau kalau kita udah
[16:52] Berarti kalau kalau kita udah prediabetes, mendingan langsung ubah
[16:54] prediabetes, mendingan langsung ubah gaya hidup sekalian aja ya
[16:56] gaya hidup sekalian aja ya wajib. Itu pondasi pertama adalah
[16:58] wajib. Itu pondasi pertama adalah perubahan pola makan dan gaya hidup
[16:59] perubahan pola makan dan gaya hidup gitu.
[17:01] gitu. Dia enggak bisa lagi sembarangan makan.
[17:03] Dia enggak bisa lagi sembarangan makan. Hitung tuh gulanya berapa, sanggup
[17:05] Hitung tuh gulanya berapa, sanggupenggak gitu. Terus tentang nasi juga
[17:07] enggak gitu. Terus tentang nasi juga sama.
[17:07] sama. Heeh.
[17:08] Heeh. Dulu kalau kita makan nasi kebanyakan, Bang.
[17:10] Dulu kalau kita makan nasi kebanyakan, Bang. Heeh.
[17:11] Heeh. Apa kata orang tua kita?
[17:13] Apa kata orang tua kita? Habisin, Nak. Nanti nasinya nangis.
[17:15] Habisin, Nak. Nanti nasinya nangis. Bukan
[17:15] Bukan nangis. Iya.
[17:16] nangis. Iya. Padahal biarin aja nangis biar di
[17:18] Padahal biarin aja nangis biar di ngelola emosinya dia sendiri bukan.
[17:19] ngelola emosinya dia sendiri bukan.
[17:23] Biarin aja.
[17:25] Biarin aja.
[17:25] Emang kenapa, Bang?
[17:26] Emang kenapa, Bang?
[17:26] Emang kenapa?
[17:28] Emang kenapa?
[17:28] Lu mau nangis-nangis aja lu belajar regulasi emosi.
[17:30] lu belajar regulasi emosi.
[17:30] Iya silakan aja.
[17:32] Iya silakan aja.
[17:32] Oke.
[17:32] Karena karena itu endingnya juga kan kalau
[17:34] karena itu endingnya juga kan kalau kebanyakan nasi juga enggak oke kan.
[17:36] kebanyakan nasi juga enggak oke kan.
[17:36] Berarti nasi itu juga salah satu
[17:37] pencetus diabetes.
[17:39] Bukan nasi yang kelebihan tadi.
[17:40] Oh nasi yang berlebihan bisa.
[17:41] Jangan sampai mentung gitu loh, Bang.
[17:43] Yang jadi kayak gunung
[17:44] berarti e kalau porsinya cukup aman.
[17:47] Iya.
[17:47] Semua kan sesuai dosis aja.
[17:49] Kalau kita aja nih nasi putih kita kunyah lama
[17:51] aja manis kan.
[17:53] Iya sih.
[17:53] Iya sih.
[17:55] Itu gula ya, Bang.
[17:55] Faktor resiko ada lagi satu lagi
[17:57] apa tuh?
[17:58] apa tuh?
[17:59] Tekanan darah tinggi.
[18:00] Oh iya.
[18:01] Itu juga ngerusak pembuluh darah kita.
[18:03] Iya tuh.
[18:03] Iya.
[18:04] Kalau istriku pernah nanya, "Say,
[18:06] sebenarnya tekanan darah tuh maksudnya gimana sih? Kok tekanan darah?"
[18:08] Oh, iya.
[18:11] Aku senang banget kalau istriku nanya.
[18:12] Aku tuh paling senang kalau dia nanya
[18:13] terus aku jelasin gitu.
[18:15] Karena istri bukan dokter ya,
[18:16] bukan.
[18:16] Dia tuh sarjana sains di bidang
[18:17] kimia, Bang.
[18:17] Jadi ahlinya melarutkan
[18:19] kimia, Bang. Jadi ahlinya melarutkan hati dan perasaan. Aduh du du duh.
[18:22] hati dan perasaan. Aduh du du duh.
[18:25] Terus terus aku bilang ke dia, "Say,
[18:28] Terus terus aku bilang ke dia, "Say, coba kamu bayangkan atau kita semua deh
[18:30] coba kamu bayangkan atau kita semua deh di ruangan ini sekarang kita bayangkan
[18:31] di ruangan ini sekarang kita bayangkan kan tekanan darah.
[18:32] kan tekanan darah. Sekarang Bang Radit adalah darah, aku
[18:34] Sekarang Bang Radit adalah darah, aku adalah darah, Gilang adalah darah, semua
[18:36] adalah darah, Gilang adalah darah, semua kameraman juga adalah darah."
[18:38] Oke. Kerasa enggak di ada penekanan di badan?
[18:40] Kerasa enggak di ada penekanan di badan? Enggak. Enggak ada yang nyentuh kan?
[18:41] Enggak. Enggak ada yang nyentuh kan? Enggak ada yang nyentuh. Enggak kerasa
[18:42] Enggak ada yang nyentuh. Enggak kerasa tekanannya.
[18:44] Heh. Heeh.
[18:44] Tapi coba lihat sekitar kita nih dinding ini. Ini adalah pembuluh darah. Nah,
[18:48] ini. Ini adalah pembuluh darah. Nah, mulai kerasa. Oh iya ya. Darah itu
[18:50] mulai kerasa. Oh iya ya. Darah itu ternyata bergerak di ruang tertutup. Kan
[18:52] ternyata bergerak di ruang tertutup. Kan prinsip darah itu selalu ada di pemudara
[18:53] prinsip darah itu selalu ada di pemudara enggak bisa keluar.
[18:54] Oke. Dia hanya jalan dan bergerak di ruang
[18:56] Dia hanya jalan dan bergerak di ruang tertutup.
[18:57] Oke. Oke. Sekarang bayangkan seluruh komika
[18:59] Oke. Sekarang bayangkan seluruh komika yang Bang Radit kenal masuk dari pintu
[19:02] yang Bang Radit kenal masuk dari pintu itu. Bang, sudah mulai kerasa belum
[19:03] itu. Bang, sudah mulai kerasa belum tekanannya?
[19:08] Masuk masuk masuk masuk. Wah. Terasa tuh Bang Panji semuanya masuk mulai kan
[19:10] Masuk masuk masuk masuk. Wah. Terasa tuh Bang Panji semuanya masuk mulai kan tekanan mulai berasa tekanan darahnya
[19:13] tekanan mulai berasa tekanan darahnya naik karena volumenya naik ya terus ah
[19:20] naik karena volumenya naik ya terus ah gitu apa yang terjadi kalau ruangannya
[19:22] gitu apa yang terjadi kalau ruangannya mengecil wah
[19:23] mengecil wah tekanan juga berasa pembularan kan bisa
[19:25] tekanan juga berasa pembularan kan bisa mengecil jadi penyebab tekanan darah
[19:27] mengecil jadi penyebab tekanan darah tinggi itu bisa karena volumenya nambah
[19:30] tinggi itu bisa karena volumenya nambah atau lemaknya nambah kita bawa pad bawa
[19:32] atau lemaknya nambah kita bawa pad bawa koper masing-masing gitu ya juga tuh
[19:34] koper masing-masing gitu ya juga tuh tekanannya nambah kan atau ruangannya
[19:36] tekanannya nambah kan atau ruangannya mengecil itu tekanan darahnya nambah nah
[19:38] mengecil itu tekanan darahnya nambah nah kalau kita ditekan terus Terus kan kita
[19:40] kalau kita ditekan terus Terus kan kita pasti berontak kan, Bang? Wah,
[19:41] pasti berontak kan, Bang? Wah, garuk-garuk
[19:43] garuk-garuk dinding lah, jebolin pintu lah, pokoknya
[19:45] dinding lah, jebolin pintu lah, pokoknya kita pasti berontak.
[19:47] kita pasti berontak. Begitu pula di tekanan darah, di kepala
[19:50] Begitu pula di tekanan darah, di kepala tensin normal 120/80 ya, Bang.
[19:52] tensin normal 120/80 ya, Bang. Tiba-tiba dia monyengin PLN 220 PLN
[19:56] Tiba-tiba dia monyengin PLN 220 PLN ya pecah kan pembudara kan kayak balon
[19:58] ya pecah kan pembudara kan kayak balon ditiup terus ya pecah. Kalau pecah di
[20:00] ditiup terus ya pecah. Kalau pecah di otak itu namanya stroke perdarahan bukan
[20:02] otak itu namanya stroke perdarahan bukan stroke penyumbatan gitu.
[20:04] stroke penyumbatan gitu. Berarti artinya stroke itu bukan karena
[20:06] Berarti artinya stroke itu bukan karena dia nyumbat, tapi bisa juga pecah karena
[20:08] dia nyumbat, tapi bisa juga pecah karena tekanan. Iya, tekanan darahnya tinggi,
[20:12] tekanan. Iya, tekanan darahnya tinggi, breakout dia, Bang.
[20:14] breakout dia, Bang. Karena selama ini saya pikir orang
[20:15] Karena selama ini saya pikir orang stroke. Oh, mungkin tersumbat. Tapi
[20:16] stroke. Oh, mungkin tersumbat. Tapi ternyata enggak selamanya tersumbat.
[20:17] ternyata enggak selamanya tersumbat. 85% tersumbat, 15% kasus stroke itu
[20:20] 85% tersumbat, 15% kasus stroke itu perdarahan pecah.
[20:21] perdarahan pecah. Kok bisa yang perdarahan bisa lebih
[20:23] Kok bisa yang perdarahan bisa lebih kecil?
[20:24] kecil? Eh, lebih jarang karena pembul darahnya
[20:27] Eh, lebih jarang karena pembul darahnya lebih berusaha banget itu sebenarnya
[20:29] lebih berusaha banget itu sebenarnya pembuluh darah kita itu bertahan. Apakah
[20:31] pembuluh darah kita itu bertahan. Apakah itu yang disebut apa? Aneorisme.
[20:34] itu yang disebut apa? Aneorisme. Ah, aneorisme dia pembularannya udah
[20:36] Ah, aneorisme dia pembularannya udah jendol, udah udah lunak gitu. dia bisa
[20:39] jendol, udah udah lunak gitu. dia bisa anorisme
[20:40] anorisme dan dia breakout hanya karena tekanan
[20:42] dan dia breakout hanya karena tekanan darah
[20:43] darah dia e tekanan darahnya harus harus
[20:45] dia e tekanan darahnya harus harus karena tekanan darah
[20:46] karena tekanan darah karena itu kasus yang sering saya dengar
[20:47] karena itu kasus yang sering saya dengar juga loh akhir-akhir ini.
[20:48] juga loh akhir-akhir ini. Iya. Heeh.
[20:49] Iya. Heeh. Tiba-tiba orang meninggal
[20:50] Tiba-tiba orang meninggal gara-gara makanya Bang Rad jadi pengin
[20:53] gara-gara makanya Bang Rad jadi pengin city scan juga kan.
[20:54] city scan juga kan. Iya waktu city scan jantung saya juga
[20:56] Iya waktu city scan jantung saya juga city scan otak
[20:57] city scan otak dan enggak ada kan
[20:58] dan enggak ada kan enggak ada sih.
[20:58] enggak ada sih. Iya iya iya aman aman aman.
[20:59] Iya iya iya aman aman aman. Aduh seram banget deh itu. Orang
[21:01] Aduh seram banget deh itu. Orang benar-benar langsung meninggal jatuh
[21:03] benar-benar langsung meninggal jatuh gitu. Iya, makanya, makanya asli-asli
[21:05] gitu. Iya, makanya, makanya asli-asli tuh tekanan darah, Bang. Itu kalau
[21:07] tuh tekanan darah, Bang. Itu kalau tekanan darahnya tinggi. Nah, sekarang
[21:09] tekanan darahnya tinggi. Nah, sekarang apa yang bikin volumenya tiba-tiba naik?
[21:11] apa yang bikin volumenya tiba-tiba naik? Ada kisah cinta antara air sama garam,
[21:13] Ada kisah cinta antara air sama garam, Bang. Air akan pergi ke mana pun garam
[21:16] Bang. Air akan pergi ke mana pun garam berada. Misalkan itu kali cilung deh
[21:19] berada. Misalkan itu kali cilung deh udah datar, Bang. Tapi kok tetap gerak
[21:21] udah datar, Bang. Tapi kok tetap gerak ke laut? Karena di laut ada garam, jadi
[21:22] ke laut? Karena di laut ada garam, jadi tetap ngalir ke laut.
[21:24] tetap ngalir ke laut. Terus pemerintah mau bikin hujan buatan.
[21:26] Terus pemerintah mau bikin hujan buatan. Apa yang dilemparin tuh Bangkawan?
[21:27] Apa yang dilemparin tuh Bangkawan? Garam. Ini hujan kan. Begitu tubuh kita.
[21:30] Garam. Ini hujan kan. Begitu tubuh kita. Kalau Bang Radit sering ngemil yang
[21:33] Kalau Bang Radit sering ngemil yang asin-asin, pembuluh darah kita tuh penuh
[21:35] asin-asin, pembuluh darah kita tuh penuh sama garam, air enggak mau keluar.
[21:37] sama garam, air enggak mau keluar. Oke.
[21:37] Oke. Pembuluh darahnya volumenya banyak,
[21:39] Pembuluh darahnya volumenya banyak, tekanan darahnya naik.
[21:41] tekanan darahnya naik. Berarti konsumsi garam juga harus
[21:42] Berarti konsumsi garam juga harus diperhatiin.
[21:43] diperhatiin. Iya. Berarti batasin gula jangan
[21:45] Iya. Berarti batasin gula jangan berlebih, garam juga jangan berlebih.
[21:48] berlebih, garam juga jangan berlebih. Gitu memang nasibnya.
[21:49] Gitu memang nasibnya. Kita makan apa dong? [tertawa]
[21:50] Kita makan apa dong? [tertawa] Asli
[21:52] Asli garam enggak boleh, gula enggak boleh.
[21:54] garam enggak boleh, gula enggak boleh. Udah gitu pasien gua bilang, "Dokter,
[21:56] Udah gitu pasien gua bilang, "Dokter, aku tuh enggak pernah makan garam-garam
[21:58] aku tuh enggak pernah makan garam-garam loh,
[21:58] loh, tapi aku makan telur asin, ikan asin ya
[22:01] tapi aku makan telur asin, ikan asin ya itu sama. Makanya aja
[22:03] itu sama. Makanya aja enak lagi itu.
[22:04] enak lagi itu. Enggak apa-apa, Bang, selama masih dalam
[22:05] Enggak apa-apa, Bang, selama masih dalam batas ini, ini kan
[22:07] batas ini, ini kan ee kan sudah banyak dokter datang ke
[22:09] ee kan sudah banyak dokter datang ke sini juga, banyak cerita soal gaya hidup
[22:11] sini juga, banyak cerita soal gaya hidup segala macam.
[22:12] segala macam. Ada yang masuk enggak sih, yuk ke lu
[22:13] Ada yang masuk enggak sih, yuk ke lu yuk? Ada enggak?
[22:15] yuk? Ada enggak? Hah? [tertawa] Lu ngurangin makanan?
[22:17] Hah? [tertawa] Lu ngurangin makanan? Hah?
[22:17] Hah? Weh, keren. Keren.
[22:18] Weh, keren. Keren. Udah enggak makan malam?
[22:19] Udah enggak makan malam? Iya. Oh,
[22:20] Iya. Oh, cuman beberapa hari kemarin ada yang
[22:22] cuman beberapa hari kemarin ada yang Nah, [tertawa]
[22:24] Nah, [tertawa] gua udah enggak makan malam. Nah, cuman
[22:26] gua udah enggak makan malam. Nah, cuman gimana gimana gimana?
[22:27] gimana gimana gimana? Berasil seminggu.
[22:29] Berasil seminggu. Seminggu enggak makan malam.
[22:29] Seminggu enggak makan malam. Seminggu enggak makan malam.
[22:31] Seminggu enggak makan malam. Oh, ngaruh berarti ya.
[22:32] Oh, ngaruh berarti ya. Ngaruh.
[22:32] Ngaruh. Takut enggak sih lu? Ada stroke lah. Ada
[22:34] Takut enggak sih lu? Ada stroke lah. Ada ini.
[22:34] ini. Takut, takut, takut. Tapi gua udah
[22:35] Takut, takut, takut. Tapi gua udah enggak minum manis.
[22:36] enggak minum manis. Nah, cakep cakep cakep. Air putih. Air
[22:38] Nah, cakep cakep cakep. Air putih. Air putih juaranya.
[22:39] putih juaranya. Cuma dia minum asin sekarang [tertawa]
[22:43] dia enggak minum manis tapi dia minum
[22:45] dia enggak minum manis tapi dia minum asin.
[22:46] asin. Iya. [tertawa] atau asem semuanya asem.
[22:49] Iya. [tertawa] atau asem semuanya asem. Berarti ee dokter kalau misalnya ada
[22:52] Berarti ee dokter kalau misalnya ada yang misalnya pasien stroke nih
[22:55] yang misalnya pasien stroke nih iya
[22:55] iya ee masuklah ke IGD yang dokter Gia
[22:57] ee masuklah ke IGD yang dokter Gia bertugas.
[22:58] bertugas. Iya.
[22:58] Iya. Katanya kan ada wind ada golden period
[23:00] Katanya kan ada wind ada golden period ya.
[23:01] ya. Iya benar di bawah 6 jam lah.
[23:03] Iya benar di bawah 6 jam lah. Oh itu
[23:03] Oh itu itu kita coba sedemikian karena kan aku
[23:05] itu kita coba sedemikian karena kan aku sebutnya kalau jantung time is muscle
[23:08] sebutnya kalau jantung time is muscle setiap detik itu satu sel jantung yang
[23:09] setiap detik itu satu sel jantung yang rusak. Kalau di otak juga sama kan harus
[23:13] rusak. Kalau di otak juga sama kan harus segera bangetlah itu di tangannya harus
[23:15] segera bangetlah itu di tangannya harus segera dibuka.
[23:16] segera dibuka. Berarti kalau misalnya telat apa yang
[23:17] Berarti kalau misalnya telat apa yang terjadi? Dia enggak bisa balik.
[23:19] terjadi? Dia enggak bisa balik. Kerusakannya kan jadi lebih besar. Jadi
[23:21] Kerusakannya kan jadi lebih besar. Jadi mungkin tangannya lemah nilainya bisa
[23:24] mungkin tangannya lemah nilainya bisa tiga gitu tapi nol banget gitu. Jadi
[23:26] tiga gitu tapi nol banget gitu. Jadi enggak bisa enggak bisa gerak banget kan
[23:29] enggak bisa enggak bisa gerak banget kan kita tangan Bang Radu gerak-gerak gini
[23:31] kita tangan Bang Radu gerak-gerak gini kan bukan gerak sendiri itu kan disuruh
[23:32] kan bukan gerak sendiri itu kan disuruh terus ada listrik.
[23:34] terus ada listrik. Bayangin otot ini kayak lampu. Lampu ini
[23:36] Bayangin otot ini kayak lampu. Lampu ini kan enggak nyala sendiri ada listriknya.
[23:38] kan enggak nyala sendiri ada listriknya. Listriknya dari kabel. Nah, sak otak
[23:40] Listriknya dari kabel. Nah, sak otak tuh, Bang.
[23:41] tuh, Bang. Nah, listrik di otaknya loh enggak ada
[23:43] Nah, listrik di otaknya loh enggak ada ini. Walaupun bagus bagus aja enggak
[23:45] ini. Walaupun bagus bagus aja enggak putus enggak bakal nyala
[23:47] putus enggak bakal nyala karena enggak ada listriknya di sana. Di
[23:50] karena enggak ada listriknya di sana. Di stroke juga sama. Enggak ada listriknya
[23:51] stroke juga sama. Enggak ada listriknya di sini, Bang. Jadi enggak bisa gerak.
[23:53] di sini, Bang. Jadi enggak bisa gerak. Tapi 6 jam ya, 6 jam tuh lumayan lumay.
[23:56] Tapi 6 jam ya, 6 jam tuh lumayan lumay. Oke, Debus. Nanti bisa fisioterapi,
[23:58] Oke, Debus. Nanti bisa fisioterapi, fisioterapi hasilnya oke, gitu.
[24:00] fisioterapi hasilnya oke, gitu. Oke. Oke.
[24:01] Oke. Oke. Itu stroke sama jantung yang dari
[24:03] Itu stroke sama jantung yang dari tekanan darah sama gula darah
[24:06] tekanan darah sama gula darah itu yang paling banyaklah ya
[24:07] itu yang paling banyaklah ya di IGD. Kalau aku minta Bang Radit satu
[24:10] di IGD. Kalau aku minta Bang Radit satu lagi Bang yang menurut Abang jadi faktor
[24:12] lagi Bang yang menurut Abang jadi faktor resiko serangan jantung dan strok
[24:13] resiko serangan jantung dan strok kira-kira apa, Bang? Selain gula darah
[24:15] kira-kira apa, Bang? Selain gula darah sama tekanan darah?
[24:16] sama tekanan darah? Gula darah, tekanan darah apaagi ya?
[24:19] Gula darah, tekanan darah apaagi ya? Bawaan mungkin enggak
[24:20] Bawaan mungkin enggak kolesterol yang tinggi. Heeh. Kolesterol
[24:23] kolesterol yang tinggi. Heeh. Kolesterol tinggi juga cek.
[24:25] tinggi juga cek. Iya, tapi LDL saya dari tahun ke tahun
[24:27] Iya, tapi LDL saya dari tahun ke tahun selalu tinggi.
[24:28] selalu tinggi. Ah, tapi HDL-nya yang penting.
[24:30] Ah, tapi HDL-nya yang penting. HDL juga lumayan sih, lumayan bagus lah.
[24:33] HDL juga lumayan sih, lumayan bagus lah. Karena kan yang cara ngitungnya
[24:34] Karena kan yang cara ngitungnya sebenarnya kolesterol total Bang Radit
[24:35] sebenarnya kolesterol total Bang Radit bagi sama HDL. pembagian itu harus
[24:37] bagi sama HDL. pembagian itu harus kurang dari angka 4.
[24:38] kurang dari angka 4. Misalkan temanku ketahuan dia ketakutan
[24:41] Misalkan temanku ketahuan dia ketakutan 240 totalnya enggak tahunya hadirnya 80
[24:44] 240 totalnya enggak tahunya hadirnya 80 240 dibagi 80 kan tiga, Bang. Masih di
[24:46] 240 dibagi 80 kan tiga, Bang. Masih di bawah empat. Cakep tuh masih aman.
[24:48] bawah empat. Cakep tuh masih aman. Berarti LDL tinggi pun juga enggak usah
[24:49] Berarti LDL tinggi pun juga enggak usah terlalu panik dulu.
[24:50] terlalu panik dulu. Eh coba lihat HDL-nya, kolesterol
[24:52] Eh coba lihat HDL-nya, kolesterol baiknya. Kolesterol baik itu yang bawa
[24:54] baiknya. Kolesterol baik itu yang bawa kolesterol jahat tadi LDL balik ke hati
[24:56] kolesterol jahat tadi LDL balik ke hati untuk di metabolisme gitu.
[24:58] untuk di metabolisme gitu. Oke. Ya, itu kolesterol tinggi karena
[25:00] Oke. Ya, itu kolesterol tinggi karena kolesterol tinggi jadi plak itu ya.
[25:01] kolesterol tinggi jadi plak itu ya. Iya. Iya. Kan nyumbat-nyombat itu kan si
[25:03] Iya. Iya. Kan nyumbat-nyombat itu kan si kolesterolnya. Yang berikutnya, Bang.
[25:05] kolesterolnya. Yang berikutnya, Bang. Faktor resiko berikutnya. Nah, cuma
[25:07] Faktor resiko berikutnya. Nah, cuma repot banget nih aku sebutin ini nih.
[25:09] repot banget nih aku sebutin ini nih. Tapi enggak apa-apa aku sebutin aja deh,
[25:11] Tapi enggak apa-apa aku sebutin aja deh, ya. Rokok, Bang.
[25:12] ya. Rokok, Bang. Gitu. Tu
[25:13] Gitu. Tu repotnya. Kenapa repot? Repot
[25:14] repotnya. Kenapa repot? Repot berhentinya.
[25:15] berhentinya. Heem. Karena Indonesia memang jumlah
[25:17] Heem. Karena Indonesia memang jumlah laki-laki terbanyak perokoknya. Belum
[25:20] laki-laki terbanyak perokoknya. Belum ada negara lain yang jumlah perokok
[25:21] ada negara lain yang jumlah perokok terbanyak sebenarnya kita, Bang.
[25:22] terbanyak sebenarnya kita, Bang. Oh, kita paling gede.
[25:23] Oh, kita paling gede. Nomor satu.
[25:24] Nomor satu. Wow.
[25:25] Wow. 71% laki-laki Indonesia tuh merokok.
[25:28] 71% laki-laki Indonesia tuh merokok. Padahal kita jumlah penduduknya 280/ 2
[25:30] Padahal kita jumlah penduduknya 280/ 2 140 laki-laki kan.
[25:32] 140 laki-laki kan. 70%.
[25:33] 70%. Iya. Dengar lain enggak segitu.
[25:36] Iya. Dengar lain enggak segitu. Yang kedua aja jauh di bawah kita kok.
[25:37] Yang kedua aja jauh di bawah kita kok. Tapi kenapa masih ada beberapa dokter
[25:39] Tapi kenapa masih ada beberapa dokter yang ngerokok ya?
[25:40] yang ngerokok ya? Ya itu dia. Masih banyak juga dokter
[25:41] Ya itu dia. Masih banyak juga dokter yang gemuk. Masih banyak juga [tertawa]
[25:45] yang gemuk. Masih banyak juga [tertawa] masih ya itu kan masalah kebiasaan
[25:47] masih ya itu kan masalah kebiasaan karena enggak enggak gampang berhentiin
[25:49] karena enggak enggak gampang berhentiin rokok itu, Bang. Aku sudah lihat contoh
[25:51] rokok itu, Bang. Aku sudah lihat contoh kasusnya banyak. Jadi kayak candunya itu
[25:53] kasusnya banyak. Jadi kayak candunya itu kan dahsyat banget ya. Bahkan kata
[25:55] kan dahsyat banget ya. Bahkan kata profesor aku, "Hanya orang jagoah yang
[25:56] profesor aku, "Hanya orang jagoah yang bisa berhenti rokok." Karena emang
[25:59] bisa berhenti rokok." Karena emang candunya itu loh dahsyat. Dokter Ria
[26:01] candunya itu loh dahsyat. Dokter Ria enggak pernah ngerokok seumur hidup?
[26:02] enggak pernah ngerokok seumur hidup? Belum. Belum. Belum. seumur hidup.
[26:04] Belum. Belum. Belum. seumur hidup. Seumur hidup. Semumur hidup.
[26:05] Seumur hidup. Semumur hidup. Belum. Belum.
[26:06] Belum. Belum. Jadi enggak tahu. Enggak tahu perjuangan
[26:08] Jadi enggak tahu. Enggak tahu perjuangan mereka. Makanya aku enggak pernah
[26:10] mereka. Makanya aku enggak pernah ngecilin, enggak pernah ngenyek, enggak
[26:13] ngecilin, enggak pernah ngenyek, enggak pernah karena enggak tahu orang yang
[26:15] pernah karena enggak tahu orang yang udah nyoba usaha berhentinya tuh kayak
[26:17] udah nyoba usaha berhentinya tuh kayak apa. Pasti kan berat banget itu.
[26:19] apa. Pasti kan berat banget itu. Ee faktor resikonya itu bisa lari ke
[26:21] Ee faktor resikonya itu bisa lari ke jantung dan stroke. Berarti rokoknya.
[26:23] jantung dan stroke. Berarti rokoknya. Iya. Heeh. Udah gitu bukan dia doang
[26:24] Iya. Heeh. Udah gitu bukan dia doang lagi ke istri sama anaknya juga kan.
[26:26] lagi ke istri sama anaknya juga kan. Karena second hand-nya.
[26:27] Karena second hand-nya. Iya. Heeh. Proko pasif kita sebut ya.
[26:30] Iya. Heeh. Proko pasif kita sebut ya. Oh. Kalau vape berarti, nah vape itu kan
[26:33] Oh. Kalau vape berarti, nah vape itu kan uap air bukan asap rokok kan. Itu apa
[26:36] uap air bukan asap rokok kan. Itu apa isinya? Itu kan kimia yang nikotin.
[26:39] isinya? Itu kan kimia yang nikotin. Jadi nikotinnya mah sama.
[26:41] Jadi nikotinnya mah sama. Nikotin itu lucu ya. Itu kayak ee licik
[26:44] Nikotin itu lucu ya. Itu kayak ee licik banget dia tuh. Dia nyekek otak bilang
[26:47] banget dia tuh. Dia nyekek otak bilang kamu tuh rileks-rileks aja. Padahal
[26:48] kamu tuh rileks-rileks aja. Padahal otaknya enggak rileks. Tapi dia kayak
[26:50] otaknya enggak rileks. Tapi dia kayak maksa otak untuk bikin dia rileks gitu.
[26:53] maksa otak untuk bikin dia rileks gitu. Itu sih mungkin yang bikin susah. Terus
[26:55] Itu sih mungkin yang bikin susah. Terus ada cerita tentang perempuan muda datang
[26:58] ada cerita tentang perempuan muda datang ke IGD dengan napas sesak.
[27:01] ke IGD dengan napas sesak. Oh, itu itu juga itu juga.
[27:03] Oh, itu itu juga itu juga. Cuma gini, ada lagi yang lebih seru.
[27:05] Cuma gini, ada lagi yang lebih seru. Heeh.
[27:05] Heeh. Kalau di IGD itu, Bang, ada ee
[27:08] Kalau di IGD itu, Bang, ada ee benda-benda asing yang harus aku
[27:09] benda-benda asing yang harus aku keluarin.
[27:10] keluarin. Oke.
[27:11] Oke. Benda asingnya apa aja? Ada yang benda
[27:13] Benda asingnya apa aja? Ada yang benda mati, ada yang benda hidup. [tertawa]
[27:15] mati, ada yang benda hidup. [tertawa] Tuh, tu tuh.
[27:16] Tuh, tu tuh. Benda asing tuh kalau bahasa
[27:17] Benda asing tuh kalau bahasa kedokterannya ee diagnosisnya itu corpus
[27:20] kedokterannya ee diagnosisnya itu corpus alienum. Benda asing
[27:21] alienum. Benda asing masuk ke badan.
[27:22] masuk ke badan. Iya. Yang harus aku keluarin.
[27:23] Iya. Yang harus aku keluarin. Jadi, dokter IGD harus ngeluarin benda
[27:25] Jadi, dokter IGD harus ngeluarin benda itu dari badan. Oke. Lalu lalu
[27:27] itu dari badan. Oke. Lalu lalu ada yang anak kecil balita nih perkara
[27:31] ada yang anak kecil balita nih perkara balita nih. Banyak banget balita tuh
[27:32] balita nih. Banyak banget balita tuh masuk-masukin kan tangan balita itu
[27:33] masuk-masukin kan tangan balita itu tangan kecepatan tertinggi kan Bang Su.
[27:36] tangan kecepatan tertinggi kan Bang Su. Pernah punya balita pasti tahu ya, Bang.
[27:38] Pernah punya balita pasti tahu ya, Bang. Iya
[27:39] Iya cepat banget itu tangan itu kayak lebih
[27:42] cepat banget itu tangan itu kayak lebih cepat daripada kecepatan cahaya itu,
[27:43] cepat daripada kecepatan cahaya itu, Bang. Setet [tertawa] gitu.
[27:45] Bang. Setet [tertawa] gitu. Iya benar. Kita kita udah jagain tetap
[27:47] Iya benar. Kita kita udah jagain tetap aja kena tuh. Nah ini datang suami istri
[27:50] aja kena tuh. Nah ini datang suami istri panik. Dok, Dok, ini sih Dedek, Dok.
[27:53] panik. Dok, Dok, ini sih Dedek, Dok. Dok, kenapa, Pak? Kenapa? Tadi kita tuh
[27:56] Dok, kenapa, Pak? Kenapa? Tadi kita tuh habis dari Indomart belanja ada
[27:58] habis dari Indomart belanja ada kembalian 1500 koin 1500
[28:02] kembalian 1500 koin 1500 tapi kok sisa 500ya ke mana
[28:07] tapi kok sisa 500ya ke mana 1000ya saya enggak tahu 1000ya ke mana.
[28:10] 1000ya saya enggak tahu 1000ya ke mana. Heeh
[28:10] Heeh Dok ini Dok kayaknya di dia nelen de Dok
[28:13] Dok ini Dok kayaknya di dia nelen de Dok dia nih nelen ini anak ini nelen. Dia
[28:15] dia nih nelen ini anak ini nelen. Dia senyum-senyum
[28:16] senyum-senyum si anaknya.
[28:17] si anaknya. He [tertawa]
[28:19] He [tertawa] wit dia gitu dibilang duit maksudnya. Ya
[28:22] wit dia gitu dibilang duit maksudnya. Ya Allah, sempat-sempat lu Uit
[28:24] Allah, sempat-sempat lu Uit terus terus Nak, benar kamu telen Uit di
[28:28] terus terus Nak, benar kamu telen Uit di tetap aja gitu UIT.
[28:30] tetap aja gitu UIT. Heeh.
[28:30] Heeh. Coba-coba a ya udah enggak ada di
[28:32] Coba-coba a ya udah enggak ada di mulutnya kan
[28:33] mulutnya kan dicek. Enggak ada
[28:34] dicek. Enggak ada enggak ada. Oke. Enggak ada.
[28:35] enggak ada. Oke. Enggak ada. Ronsen ya, Bu. Ronsen ya, Pak. Oke. Oke.
[28:38] Ronsen ya, Bu. Ronsen ya, Pak. Oke. Oke. Ronsen. Ronsen. Aku mau tunjukin
[28:40] Ronsen. Ronsen. Aku mau tunjukin ronsennya ke Bang Radit. Boleh enggak,
[28:41] ronsennya ke Bang Radit. Boleh enggak, Bang?
[28:41] Bang? Boleh dong. Boleh dong. [tertawa]
[28:43] Boleh dong. Boleh dong. [tertawa] Ron ni ronsen setelah-wit
[28:46] Ron ni ronsen setelah-wit iya. Ada di mana, Bang Radit Uitnya?
[28:49] iya. Ada di mana, Bang Radit Uitnya? Ah, yang benar aja, Dok. Dok, yang benar
[28:52] Ah, yang benar aja, Dok. Dok, yang benar aja, Dok. Di leher, Bro.
[28:54] aja, Dok. Di leher, Bro. Wah,
[28:56] Wah, udah ketelan, udah ketelan itu, Bang.
[28:59] udah ketelan, udah ketelan itu, Bang. Yang bener aja, Dok. [tertawa]
[29:00] Yang bener aja, Dok. [tertawa] Dok, ini gila sih. Hah?
[29:02] Dok, ini gila sih. Hah? Pas dia. Enggak sesek, enggak apa,
[29:05] Pas dia. Enggak sesek, enggak apa, enggak kekek gitu.
[29:06] enggak kekek gitu. Nah, Bang, makanya, Bang, lucu deh.
[29:08] Nah, Bang, makanya, Bang, lucu deh. Teman-teman juga pasti pada pada enggak
[29:10] Teman-teman juga pasti pada pada enggak sadar leher itu kelihatannya kayak satu
[29:12] sadar leher itu kelihatannya kayak satu saluran kan. Padahal kan ada dua saluran
[29:14] saluran kan. Padahal kan ada dua saluran nih di leher kita. Satu ke paru-paru,
[29:16] nih di leher kita. Satu ke paru-paru, satu ke lambung. Nah, di paru-paru yang
[29:18] satu ke lambung. Nah, di paru-paru yang pintu masuk paru-paru itu ada pintu
[29:20] pintu masuk paru-paru itu ada pintu otomatis, Bang. Yang namanya epiglotis.
[29:21] otomatis, Bang. Yang namanya epiglotis. Heeh.
[29:22] Heeh. Itu yang bikin Bang Radit nelen minum
[29:24] Itu yang bikin Bang Radit nelen minum atau makanan. Dia nutup otomatis
[29:26] atau makanan. Dia nutup otomatis sehingga apapun yang kita telan tidak
[29:28] sehingga apapun yang kita telan tidak masuk ke paru-paru.
[29:29] masuk ke paru-paru. Oke.
[29:30] Oke. Tuh kerasa tuh pintu itu tuh pintu nel
[29:33] Tuh kerasa tuh pintu itu tuh pintu nel itu kerasa nelen tuh semuanya nih.
[29:35] itu kerasa nelen tuh semuanya nih. Makanya teman-teman kalau lagi makan
[29:37] Makanya teman-teman kalau lagi makan jangan sambil ngomong si pintunya
[29:40] jangan sambil ngomong si pintunya bingung ini tuh kan saya tuh harus
[29:42] bingung ini tuh kan saya tuh harus ngebuka, harus nutup kan kalau ngomong
[29:44] ngebuka, harus nutup kan kalau ngomong harus kebuka. Oke.
[29:45] harus kebuka. Oke. Kalau harus nutup. Akhirnya pada keselek
[29:48] Kalau harus nutup. Akhirnya pada keselek nasinya keluar lewat hidung biasanya
[29:50] nasinya keluar lewat hidung biasanya tuh.
[29:51] tuh. Oh, keselek tuh gara-gara itu.
[29:52] Oh, keselek tuh gara-gara itu. Iya sih pintunya pintu otomatisnya
[29:54] Iya sih pintunya pintu otomatisnya bingung.
[29:54] bingung. Oke. Oke.
[29:55] Oke. Oke. Dia tuh mau buka atau mau nutup gitu.
[29:57] Dia tuh mau buka atau mau nutup gitu. Oke.
[29:58] Oke. Nah, untuk anak ini dia enggak ada
[30:01] Nah, untuk anak ini dia enggak ada keselek sama sekali karena kan ada
[30:03] keselek sama sekali karena kan ada reflek batuk harusnya.
[30:04] reflek batuk harusnya. Heeh.
[30:05] Heeh. Dia
[30:07] Dia [tertawa]
[30:08] [tertawa] masih bisa ngomong nih. Suara masih
[30:10] masih bisa ngomong nih. Suara masih keluar.
[30:12] keluar. Berarti kan bukan di bukan di jalur
[30:14] Berarti kan bukan di bukan di jalur paru-paru, berarti dia jalur esofagus.
[30:17] paru-paru, berarti dia jalur esofagus. Oke.
[30:18] Oke. Aku hafal banget karena aku cinta
[30:20] Aku hafal banget karena aku cinta struktur anatomi. Aku bisa perkirain
[30:21] struktur anatomi. Aku bisa perkirain kira-kira diameter dari esofagus berapa
[30:25] kira-kira diameter dari esofagus berapa milimeternya itu. Aku search yang di
[30:27] milimeternya itu. Aku search yang di Google diameternya uang 1000 koin itu
[30:31] Google diameternya uang 1000 koin itu berapa.
[30:31] berapa. Oke.
[30:32] Oke. Ah, fix nyangkut ini. Nyangkut karena
[30:35] Ah, fix nyangkut ini. Nyangkut karena aku tahu ukuran esofagus berapa, koin
[30:37] aku tahu ukuran esofagus berapa, koin ukurannya berapa. Enggak mungkin. Enggak
[30:39] ukurannya berapa. Enggak mungkin. Enggak mungkin masuk sampai lambung. Oke.
[30:40] mungkin masuk sampai lambung. Oke. Pasti nyangkut di situ. Heeh. Soalnya
[30:42] Pasti nyangkut di situ. Heeh. Soalnya soalnya enggak enggak muat maksudnya
[30:44] soalnya enggak enggak muat maksudnya gitu ya.
[30:44] gitu ya. Enggak muat. Enggak muat. Nyangkut.
[30:45] Enggak muat. Enggak muat. Nyangkut. Nyangkut di situ. Terus bentar itu kan
[30:48] Nyangkut di situ. Terus bentar itu kan hari Minggu, Bang. Poli lagi tutup kan.
[30:51] hari Minggu, Bang. Poli lagi tutup kan. Poli THT juga lagi tutup dokter THT juga
[30:53] Poli THT juga lagi tutup dokter THT juga lagi enggak ada.
[30:56] lagi enggak ada. Kalau k biarin kasihan juga ya kan.
[30:58] Kalau k biarin kasihan juga ya kan. Tiba-tiba perawatku punya ide brilian.
[31:01] Tiba-tiba perawatku punya ide brilian. Dok, ada alat yang bisa kita masukin,
[31:04] Dok, ada alat yang bisa kita masukin, Dok untuk ngambil itu koin. Apa? Keter
[31:08] Dok untuk ngambil itu koin. Apa? Keter urin, Dok.
[31:10] urin, Dok. Bang R tahu kata terurin enggak, Bang?
[31:11] Bang R tahu kata terurin enggak, Bang? Tahu. [tertawa]
[31:12] Tahu. [tertawa] Iya.
[31:13] Iya. Selang dimasukin ke itu kan.
[31:15] Selang dimasukin ke itu kan. Iya. Itu kan ada balonnya. Benar enggak
[31:17] Iya. Itu kan ada balonnya. Benar enggak ada? Enggak tahu sih.
[31:18] ada? Enggak tahu sih. Jadi kalau kita masukin, kenapa dia bisa
[31:20] Jadi kalau kita masukin, kenapa dia bisa enggak keluar lagi? Karena ada ganjelan
[31:22] enggak keluar lagi? Karena ada ganjelan balon kita. Kita masukin
[31:24] balon kita. Kita masukin udara ke e cairan ke dalam balon itu.
[31:27] udara ke e cairan ke dalam balon itu. Oke oke oke.
[31:27] Oke oke oke. Nyangkutlah dia. Si kateter enggak bisa
[31:29] Nyangkutlah dia. Si kateter enggak bisa dikeluarin lagi. Oke.
[31:31] dikeluarin lagi. Oke. Heeh.
[31:32] Heeh. Ide brilian. Aku bilang gitu ke
[31:33] Ide brilian. Aku bilang gitu ke perawatku.
[31:34] perawatku. Ide brilian. Oke.
[31:35] Ide brilian. Oke. Ide brilan. Bu, kita coba keluarin ya.
[31:38] Ide brilan. Bu, kita coba keluarin ya. Eh, koinnya gimana caranya, Bu? Bantuin
[31:41] Eh, koinnya gimana caranya, Bu? Bantuin ya, Ibu. Bantuin pegangin kepalanya,
[31:44] ya, Ibu. Bantuin pegangin kepalanya, pegangin badannya. Aku nanti mau masukin
[31:46] pegangin badannya. Aku nanti mau masukin karet ini ke dalam mulutnya dia. Dia
[31:48] karet ini ke dalam mulutnya dia. Dia bantuin telan ya, Dek. Bantuin telan ya.
[31:51] bantuin telan ya, Dek. Bantuin telan ya. Udah, Bang. Tiduran aku bulan pakai kain
[31:53] Udah, Bang. Tiduran aku bulan pakai kain gitu dianya.
[31:55] gitu dianya. Nak, bentar ya, Nak.
[31:58] Nak, bentar ya, Nak. Ini telan ya, Nak. Ini karet karet
[32:00] Ini telan ya, Nak. Ini karet karet karet. Anggap aja permen. Yuk, telan yuk
[32:02] karet. Anggap aja permen. Yuk, telan yuk yuk telan. Weh, udah lumayan nih. Udah
[32:05] yuk telan. Weh, udah lumayan nih. Udah set masuk. Nah, si balon yang ada di
[32:07] set masuk. Nah, si balon yang ada di sini aku masukin udaranya. Set, set,
[32:10] sini aku masukin udaranya. Set, set, set.
[32:10] set. I gede tuh.
[32:11] I gede tuh. Su kira-kira diameter persis sama
[32:13] Su kira-kira diameter persis sama esofagus.
[32:14] esofagus. Heeh.
[32:14] Heeh. Bro, tarik, Bro. Tarik tarik tarik tarik
[32:17] Bro, tarik, Bro. Tarik tarik tarik tarik tarik. Koinnya kerasa Dok, Dok,
[32:21] tarik. Koinnya kerasa Dok, Dok, ambilambil kayak mancing banget
[32:23] ambilambil kayak mancing banget [tertawa]
[32:25] [tertawa] anaknya digendong. Enggak mancingak
[32:27] anaknya digendong. Enggak mancingak tiduran.
[32:27] tiduran. Mancing mania kan gitu. Kalau mancing
[32:29] Mancing mania kan gitu. Kalau mancing [tertawa] mania tiduran ambil.
[32:30] [tertawa] mania tiduran ambil. Tunggu tunggu tunggu tunggu. Jadi, jadi
[32:32] Tunggu tunggu tunggu tunggu. Jadi, jadi kateter itu dilewatin dulu sampai sini.
[32:35] kateter itu dilewatin dulu sampai sini. Ini nih. Eh, set. Nah, lewat
[32:37] Ini nih. Eh, set. Nah, lewat lewat dulu
[32:39] lewat dulu dipompa, Bang. Zp
[32:41] dipompa, Bang. Zp baru dia narik barengan.
[32:42] baru dia narik barengan. Iya, pint.
[32:43] Iya, pint. Wah, jenius itu.
[32:44] Wah, jenius itu. Iya, betul.
[32:45] Iya, betul. Pecah sih.
[32:46] Pecah sih. Dan apa yang terjadi, Bang?
[32:48] Dan apa yang terjadi, Bang? Terus, terus terus terus.
[32:49] Terus, terus terus terus. Ini kateter, nih kateter urin yang aku
[32:51] Ini kateter, nih kateter urin yang aku pakai bentuknya balon gitu tuh.
[32:53] pakai bentuknya balon gitu tuh. Eh, ini kateter urinnya dipakai.
[32:55] Eh, ini kateter urinnya dipakai. [tertawa]
[32:55] [tertawa] Oh, ini.
[32:56] Oh, ini. Karena dia ee koinnya nyangkut di
[32:58] Karena dia ee koinnya nyangkut di kateternya kan.
[32:59] kateternya kan. Iya. Heeh. Set. Berhasillah itu keluar
[33:02] Iya. Heeh. Set. Berhasillah itu keluar si
[33:03] si koin.
[33:04] koin. Koin aku tunjukin abang ya.
[33:07] Koin aku tunjukin abang ya. Harus harus kreatif juga ternyata ya di
[33:09] Harus harus kreatif juga ternyata ya di IGD itu. Oh ini duitnya.
[33:11] IGD itu. Oh ini duitnya. Iya
[33:14] Iya gitu.
[33:15] gitu. Wah wah w
[33:15] Wah wah w berhasil keluar ye. Happy semuanya
[33:18] berhasil keluar ye. Happy semuanya happy. Orang tuanya happy. Terus aku
[33:21] happy. Orang tuanya happy. Terus aku bilang ke anaknya ee Nak udah ya Nak.
[33:25] bilang ke anaknya ee Nak udah ya Nak. Uit itu buat ditabung ya Nak. Bukan buat
[33:27] Uit itu buat ditabung ya Nak. Bukan buat ditelan [tertawa] gitu,
[33:30] ditelan [tertawa] gitu, Dok. Yang bener aja, Dok. Dipancing
[33:32] Dok. Yang bener aja, Dok. Dipancing gitu, Dok.
[33:33] gitu, Dok. Iya.
[33:33] Iya. Sebenarnya tapi sebenar-benarnya kalau
[33:36] Sebenarnya tapi sebenar-benarnya kalau di hari itu enggak hari libur ya,
[33:38] di hari itu enggak hari libur ya, komplit ya.
[33:38] komplit ya. Ya udah tuh normaln normal. Endoskopi
[33:41] Ya udah tuh normaln normal. Endoskopi endoskopi. Endoskopi endoskopi harus
[33:43] endoskopi. Endoskopi endoskopi harus pakai endoskopi. Dendoskopi itu berarti
[33:44] pakai endoskopi. Dendoskopi itu berarti dimasukin selang.
[33:45] dimasukin selang. Masukin selang gitu
[33:46] Masukin selang gitu terus dipancing ke atas
[33:47] terus dipancing ke atas ya. Sama juga sih ya prinsipnya begitu.
[33:50] ya. Sama juga sih ya prinsipnya begitu. Sama ya. Gila, Dok. Gokil. [tertawa]
[33:52] Sama ya. Gila, Dok. Gokil. [tertawa] Sumpah gokil. Keren
[33:53] Sumpah gokil. Keren gitu. Terus pas tapi kok yang aneh si
[33:56] gitu. Terus pas tapi kok yang aneh si anak itu enggak kerasa apa-apa ya? Emang
[33:58] anak itu enggak kerasa apa-apa ya? Emang kanan anak kecil aja kali ya.
[33:59] kanan anak kecil aja kali ya. Kenyal lentur kan itu.
[34:01] Kenyal lentur kan itu. Oh di sini.
[34:02] Oh di sini. Heeh. Aman itu mah. Si anaknya juga
[34:04] Heeh. Aman itu mah. Si anaknya juga happy senyum-senyum kayak enggak ada
[34:06] happy senyum-senyum kayak enggak ada apa-apa Bang. [tertawa]
[34:08] apa-apa Bang. [tertawa] Mungkin dia juga udah lupa ya sekarang.
[34:10] Mungkin dia juga udah lupa ya sekarang. Sumpah aneh banget Dokd gua ngerasain
[34:12] Sumpah aneh banget Dokd gua ngerasain kayak anjir koin. Habis itu keluar
[34:15] kayak anjir koin. Habis itu keluar cardis time zone enggak dari [tertawa]
[34:19] terus itu kan benda asing yang ee ini
[34:22] terus itu kan benda asing yang ee ini mati. Benda mati. Ada juga sih benda
[34:24] mati. Benda mati. Ada juga sih benda asing mati juga, Bang Radi. Aku kan
[34:26] asing mati juga, Bang Radi. Aku kan pernah e ini sunatan massal. Jadi buat
[34:29] pernah e ini sunatan massal. Jadi buat rame-rame gitu sunatan massal. Aku
[34:31] rame-rame gitu sunatan massal. Aku bilang kalau mau kontrol nanti ke IGD
[34:34] bilang kalau mau kontrol nanti ke IGD aja ya gitu. Nah, salah satu anak yang
[34:36] aja ya gitu. Nah, salah satu anak yang aku sunatan masal itu kontrol kontrol si
[34:40] aku sunatan masal itu kontrol kontrol si kasarnya nempel lengket di ee si
[34:43] kasarnya nempel lengket di ee si kecilnya dia itu.
[34:45] kecilnya dia itu. Iya. Heeh.
[34:46] Iya. Heeh. Aku harus untuk berusaha untuk
[34:48] Aku harus untuk berusaha untuk ngelepasin itu kan, Bang.
[34:49] ngelepasin itu kan, Bang. Oke.
[34:50] Oke. Cuma emang lengket banget. Enggak tahu
[34:52] Cuma emang lengket banget. Enggak tahu nih anak ngapain gitu loh. Aku mungkin
[34:54] nih anak ngapain gitu loh. Aku mungkin keringetan atau apa gitu. Lengket
[34:56] keringetan atau apa gitu. Lengket banget.
[34:56] banget. Ya udah yuk yuk yuk. Itu mukanya yakuza
[34:59] Ya udah yuk yuk yuk. Itu mukanya yakuza banget. Itu anak mah SD. Anak SD tapi
[35:02] banget. Itu anak mah SD. Anak SD tapi anak petantang-petenteng gitu loh.
[35:04] anak petantang-petenteng gitu loh. Oh anak bandel nih.
[35:05] Oh anak bandel nih. Iya iya.
[35:08] Iya iya. Dok Dok ngapain Dok? Ngapain Dok?
[35:10] Dok Dok ngapain Dok? Ngapain Dok? [tertawa] Anak kita enggak Om dokter
[35:12] [tertawa] Anak kita enggak Om dokter cuma pengin lihat. Lihat doang. Ya, Dok.
[35:14] cuma pengin lihat. Lihat doang. Ya, Dok. Benar ya? Lihat doang. Iya lihat doang.
[35:17] Benar ya? Lihat doang. Iya lihat doang. Terus aku mau coba pegang pakai kasa. De
[35:19] Terus aku mau coba pegang pakai kasa. De deh. Enggak usah dipegang, Dok. Cucci
[35:22] deh. Enggak usah dipegang, Dok. Cucci [tertawa] banget bocah SD, Bang.
[35:25] [tertawa] banget bocah SD, Bang. Pengin pengin noyor, Bang.
[35:27] Pengin pengin noyor, Bang. Itu kayak anakku. Anakku juga gitu
[35:29] Itu kayak anakku. Anakku juga gitu kalau ke dokter gitu. Enggak disuntik
[35:30] kalau ke dokter gitu. Enggak disuntik kan? Enggak disuntik kan? Gitu
[35:32] kan? Enggak disuntik kan? Gitu terus tapi tiba-tiba enggak enggak aku
[35:35] terus tapi tiba-tiba enggak enggak aku harus copotin pegang aku tuang-tuangin
[35:38] harus copotin pegang aku tuang-tuangin NaCl biar lunak.
[35:41] NaCl biar lunak. Wah itu semua kata-kata kasar yang
[35:43] Wah itu semua kata-kata kasar yang enggak masuk di kepala aku dulu kali ya
[35:45] enggak masuk di kepala aku dulu kali ya keluar semua dari mulutnya dia gitu.
[35:48] keluar semua dari mulutnya dia gitu. Bang sebutin apa coba ya? Anj, bang K
[35:52] Bang sebutin apa coba ya? Anj, bang K semuanya. [tertawa]
[35:53] semuanya. [tertawa] Makasih sudah disensor ya. Sensor
[35:56] Makasih sudah disensor ya. Sensor manual.
[35:56] manual. Sensor sensor manual banget ya.
[35:58] Sensor sensor manual banget ya. Iya.
[35:58] Iya. Pokoknya keluar semua.
[35:59] Pokoknya keluar semua. Semua keluarlah Bang itu asli.
[36:01] Semua keluarlah Bang itu asli. Buset ibunya menurut Abang ini enggak
[36:05] Buset ibunya menurut Abang ini enggak nyentil diaak. Enggak.
[36:06] nyentil diaak. Enggak. Narahin dong aturan
[36:07] Narahin dong aturan ketawa-ketawa aja. Ya Allah.
[36:09] ketawa-ketawa aja. Ya Allah. Masyaallah. Dan tiba-tiba, Bang di
[36:11] Masyaallah. Dan tiba-tiba, Bang di antara semua jeritannya dia itu, dia
[36:14] antara semua jeritannya dia itu, dia teriak kencang lihat mukaku. Dokter sih
[36:17] teriak kencang lihat mukaku. Dokter sih enak, Cina, enggak perlu disunat.
[36:20] enak, Cina, enggak perlu disunat. [tertawa]
[36:23] Perasaan kurang Sunda apa mukaku ini?
[36:26] Perasaan kurang Sunda apa mukaku ini? Tasik ini. Tasik papa mama Tasik.
[36:29] Tasik ini. Tasik papa mama Tasik. [tertawa]
[36:30] [tertawa] Kenapa itu keluar dari mulut dia juga?
[36:33] Kenapa itu keluar dari mulut dia juga? Ya Allah
[36:34] Ya Allah tahu dari mana dia Cina enggak perlu
[36:36] tahu dari mana dia Cina enggak perlu sunat coba [tertawa]
[36:38] sunat coba [tertawa] obrolan apa yang terjadi ya di antara
[36:40] obrolan apa yang terjadi ya di antara pertemanannya dia itu apa sih Bang gitu
[36:42] pertemanannya dia itu apa sih Bang gitu loh.
[36:43] loh. Dia kan butuh masukan kan untuk bisa
[36:45] Dia kan butuh masukan kan untuk bisa keluar kan butuh input kan. Berarti
[36:47] keluar kan butuh input kan. Berarti inputnya kan dahsyat banget. Tapi emang
[36:49] inputnya kan dahsyat banget. Tapi emang enggak pernah kesel, Dok, kalau kayak
[36:50] enggak pernah kesel, Dok, kalau kayak gitu ketemu pasien yang ngeyel atau apa?
[36:53] gitu ketemu pasien yang ngeyel atau apa? Ini ini sih. Oh, lucu. Perawatku tu kan
[36:56] Ini ini sih. Oh, lucu. Perawatku tu kan cowok dua, cewek satu, Bang.
[36:58] cowok dua, cewek satu, Bang. Dia tuh pengin bantuin aku, dia ngelihat
[37:01] Dia tuh pengin bantuin aku, dia ngelihat perawatku yang dia ngapain kerudung. Eh,
[37:03] perawatku yang dia ngapain kerudung. Eh, ini ngapain si? Si ngapain ini
[37:05] ini ngapain si? Si ngapain ini dekat-dekat si
[37:06] dekat-dekat si si
[37:07] si perawatnya bilang si Zuka.
[37:09] perawatnya bilang si Zuka. Terus teman perawatku yang rada gendut,
[37:11] Terus teman perawatku yang rada gendut, "Ini juga giant ini ngapain giant?"
[37:12] "Ini juga giant ini ngapain giant?" [tertawa]
[37:14] [tertawa] Terus
[37:15] Terus enggak itu emang bandel aja atau
[37:16] enggak itu emang bandel aja atau bandel? Ada perawatku yang memang suka
[37:18] bandel? Ada perawatku yang memang suka cemberut gitu. Datang lagi nyamperin
[37:20] cemberut gitu. Datang lagi nyamperin lagi. Ini juga Sneo.
[37:22] lagi. Ini juga Sneo. Iya.
[37:22] Iya. Jadi aku dikelilingin sama Giant si
[37:25] Jadi aku dikelilingin sama Giant si Sukesuno. [tertawa] Aku lihat cermin
[37:28] Sukesuno. [tertawa] Aku lihat cermin nobita.
[37:30] nobita. Akhirnya aku panggil ibunya untuk ya aku
[37:33] Akhirnya aku panggil ibunya untuk ya aku cerita lah. Dub hati-hati Bu. Enggak
[37:35] cerita lah. Dub hati-hati Bu. Enggak semua orang se soalnya perut aku udah
[37:38] semua orang se soalnya perut aku udah emosi gitu. Sedangkan aku kan tipikal
[37:40] emosi gitu. Sedangkan aku kan tipikal enggak bisa marah ya Bang. Aku boro-boro
[37:42] enggak bisa marah ya Bang. Aku boro-boro bisa marah sama sekali gitu.
[37:44] bisa marah sama sekali gitu. Iya. Nah yang benda hidup apa? Benda
[37:45] Iya. Nah yang benda hidup apa? Benda hidup.
[37:46] hidup. Iya. Nah, itu benda hidup sama balita
[37:47] Iya. Nah, itu benda hidup sama balita juga. Cuma dia nangis terus sambil
[37:49] juga. Cuma dia nangis terus sambil megang-megangin kuping.
[37:51] megang-megangin kuping. Heeh.
[37:51] Heeh. Oh, nangis. Heeh. Gitu. Terus kenapa,
[37:54] Oh, nangis. Heeh. Gitu. Terus kenapa, Nak? Kenapa, Nak? Megang-megangin
[37:56] Nak? Kenapa, Nak? Megang-megangin megang-megangin kuping.
[37:58] megang-megangin kuping. Heeh.
[37:58] Heeh. Coba-coba Om Dokter lihat. Ambil alat
[38:02] Coba-coba Om Dokter lihat. Ambil alat kita sebutnya otoskop ya. Buat
[38:04] kita sebutnya otoskop ya. Buat ngelihatin isi dari lingang liang
[38:06] ngelihatin isi dari lingang liang telinga kita, Bang.
[38:08] telinga kita, Bang. Yuk, Nak. Nak lihat dulu nak. Yuk. Yuk.
[38:11] Yuk, Nak. Nak lihat dulu nak. Yuk. Yuk. Bentar. Kaget aku Bang. Ada dua mata
[38:15] Bentar. Kaget aku Bang. Ada dua mata ngelihatin aku, Bang.
[38:16] ngelihatin aku, Bang. Apagi, Dok. Dok, apaagi sih, Dok? Lalut
[38:20] Apagi, Dok. Dok, apaagi sih, Dok? Lalut hijau. [tertawa]
[38:21] hijau. [tertawa] Hah?
[38:23] Hah? Lalut hijau. Gede banget matanya, Bang.
[38:25] Lalut hijau. Gede banget matanya, Bang. Jadi di parkir mundur. [tertawa]
[38:30] Hijjau, parkir mundur masuk ke kuping
[38:33] Hijjau, parkir mundur masuk ke kuping orang, set. [tertawa] Jadi aku lihat
[38:36] orang, set. [tertawa] Jadi aku lihat matanya jadi adep-adepan. Aku
[38:37] matanya jadi adep-adepan. Aku tatap-tatapan sama dia.
[38:39] tatap-tatapan sama dia. Kepalat hijau. Anjir. Dia enggak bisa
[38:42] Kepalat hijau. Anjir. Dia enggak bisa keluar itu
[38:42] keluar itu ya. Gimana? Kan padat kan padat padat
[38:45] ya. Gimana? Kan padat kan padat padat kan dia kecil kan telinga anak tuh kan
[38:47] kan dia kecil kan telinga anak tuh kan kecil kan.
[38:48] kecil kan. Aduh lucu banget lagi. [tertawa]
[38:49] Aduh lucu banget lagi. [tertawa] Aduh lucu banget. Terus apa yang
[38:50] Aduh lucu banget. Terus apa yang terjadi?
[38:51] terjadi? Ya udah enggak aku tetesin NCL terus aku
[38:54] Ya udah enggak aku tetesin NCL terus aku coba slipin pakai pinset gitu sepadannya
[38:57] coba slipin pakai pinset gitu sepadannya dulu dapat kan ses w terbang apaang.
[39:00] dulu dapat kan ses w terbang apaang. [tertawa]
[39:01] [tertawa] Udah gitu hijau lagi lalatnya.
[39:03] Udah gitu hijau lagi lalatnya. Iya tahu kan lalat hijau yang gendut
[39:04] Iya tahu kan lalat hijau yang gendut itu. Iya iya iya. Yang yang enggak jelas
[39:06] itu. Iya iya iya. Yang yang enggak jelas itu kan.
[39:07] itu kan. Asli asli asli.
[39:08] Asli asli asli. Wah Dok itu cerita-cerita IGD-nya emang
[39:11] Wah Dok itu cerita-cerita IGD-nya emang luar biasa. Luar biasa semua ya.
[39:13] luar biasa. Luar biasa semua ya. Iya, itu korpus alienum kita sebut
[39:16] Iya, itu korpus alienum kita sebut korpus alenium.
[39:17] korpus alenium. Nah, ini dari YouTube member kita ada
[39:19] Nah, ini dari YouTube member kita ada banyak pertanyaan juga nih.
[39:21] banyak pertanyaan juga nih. Wih, YouTube member boleh nanya ya? I ke
[39:24] Wih, YouTube member boleh nanya ya? I ke dokter Gia
[39:25] dokter Gia kita tanyain ya.
[39:26] kita tanyain ya. Heeh.
[39:27] Heeh. Izin tanya dokter Gia. Dok, pernah
[39:28] Izin tanya dokter Gia. Dok, pernah enggak malam-malam waktu di IGD
[39:30] enggak malam-malam waktu di IGD tiba-tiba kursi gerak sendiri atau suara
[39:32] tiba-tiba kursi gerak sendiri atau suara cewek nangis dari arah karmaat atau
[39:34] cewek nangis dari arah karmaat atau fenomena yang enggak masuk akal lainnya?
[39:36] fenomena yang enggak masuk akal lainnya? Pokoknya kisah horor gitu. Pernah
[39:37] Pokoknya kisah horor gitu. Pernah enggak?
[39:38] enggak? Ya ampun. Untungnya sih aku ya enggak
[39:40] Ya ampun. Untungnya sih aku ya enggak pernah ngalamin untungnya, Bang. Jadi,
[39:42] pernah ngalamin untungnya, Bang. Jadi, oke kayaknya lebih horor yang tidak itu
[39:44] oke kayaknya lebih horor yang tidak itu deh. [tertawa]
[39:46] deh. [tertawa] Lebih horor yang dilihat mata lalat ya.
[39:49] Lebih horor yang dilihat mata lalat ya. Aku
[39:50] Aku lebih punya banyak cerita horor yang
[39:52] lebih punya banyak cerita horor yang mencekam karena
[39:54] mencekam karena nyawa-nyawa tipis gitu.
[39:56] nyawa-nyawa tipis gitu. Oh,
[39:57] Oh, daripada yang horor hantu. Iya. I
[39:59] daripada yang horor hantu. Iya. I ya. Makhluk gaib kan. Gaib kan berarti
[40:00] ya. Makhluk gaib kan. Gaib kan berarti enggak kelihatan sama mata. Ya,
[40:02] enggak kelihatan sama mata. Ya, berarti itu mitos aja ya kalau rumah
[40:03] berarti itu mitos aja ya kalau rumah sakit itu angkem. Mungkin mungkin
[40:05] sakit itu angkem. Mungkin mungkin mungkin
[40:05] mungkin karena orang enggak tahu kali.
[40:07] karena orang enggak tahu kali. Ada yang bilang paling menakutkan itu
[40:08] Ada yang bilang paling menakutkan itu kamar jenazah. Cuma banyak pasienku
[40:10] kamar jenazah. Cuma banyak pasienku sekarang yang bilang, "Bang, tahu
[40:12] sekarang yang bilang, "Bang, tahu enggak, Dok, ada ruangan yang lebih
[40:13] enggak, Dok, ada ruangan yang lebih menakutkan di rumah sakit
[40:15] menakutkan di rumah sakit apa?
[40:15] apa? Bukan ruang jenazah, Dok, kasir. Kasir
[40:18] Bukan ruang jenazah, Dok, kasir. Kasir [tertawa] rumah sakit itu menakutkan
[40:21] [tertawa] rumah sakit itu menakutkan banget." Iya. Iya, Pak.
[40:23] banget." Iya. Iya, Pak. Iya juga sih.
[40:24] Iya juga sih. Iya. Lagi. Iya. Lagi. [tertawa]
[40:25] Iya. Lagi. Iya. Lagi. [tertawa] Terus dari Rain. B, Dokter Gia mau tanya
[40:29] Terus dari Rain. B, Dokter Gia mau tanya dong. Saya belum menikah. Emang benar ya
[40:31] dong. Saya belum menikah. Emang benar ya kalau istri mau melahirkan bakal sepanik
[40:33] kalau istri mau melahirkan bakal sepanik itu? Apakah enggak bisa santai aja gitu,
[40:36] itu? Apakah enggak bisa santai aja gitu, Dok? Enggak bisa santai aja gitu. Batas
[40:38] Dok? Enggak bisa santai aja gitu. Batas waktunya berapa menit? Biasanya sampai
[40:39] waktunya berapa menit? Biasanya sampai bayi keluar sendiri. Takut panik, Dok.
[40:41] bayi keluar sendiri. Takut panik, Dok. Saya pas handle kayak gitu dia belum
[40:43] Saya pas handle kayak gitu dia belum nikah udah mikirin loh istrinya.
[40:44] nikah udah mikirin loh istrinya. Coba coba coba coba overthinkingnya.
[40:47] Coba coba coba coba overthinkingnya. Tapi gimana tuh biasanya gimana?
[40:49] Tapi gimana tuh biasanya gimana? Enggak buat yang nanya tadi aku mau
[40:51] Enggak buat yang nanya tadi aku mau bilang kamu berhak atas kehamilan yang
[40:53] bilang kamu berhak atas kehamilan yang tenang.
[40:54] tenang. Kehamilan yang tenang itu dijaganya
[40:56] Kehamilan yang tenang itu dijaganya sebelum hamil. Jadi kamu siapin dirimu
[40:59] sebelum hamil. Jadi kamu siapin dirimu tidak anemia, tekanan darahnya normal,
[41:01] tidak anemia, tekanan darahnya normal, gula darahmu normal, baru rencanain
[41:03] gula darahmu normal, baru rencanain kehamilan terus hamil terus diperiksa
[41:05] kehamilan terus hamil terus diperiksa tiap 3 bulan ante Natal ya, ante Natal
[41:08] tiap 3 bulan ante Natal ya, ante Natal care. Maka pas udah bulan kees9 itu kan
[41:11] care. Maka pas udah bulan kees9 itu kan udah proses lama, maka itu tinggal
[41:14] udah proses lama, maka itu tinggal senyam-senyam aja kamu ke rumah sakit
[41:16] senyam-senyam aja kamu ke rumah sakit mungkin perlu caesar atau boleh lahiran
[41:18] mungkin perlu caesar atau boleh lahiran normal, tiba-tiba lahir aja kamu pulang
[41:20] normal, tiba-tiba lahir aja kamu pulang bawa bayi happy gitu. Kalau IGD sendiri
[41:24] bawa bayi happy gitu. Kalau IGD sendiri ee lumayan sering juga enggak lahiran di
[41:26] ee lumayan sering juga enggak lahiran di IGD? Iya, lazim itu,
[41:28] IGD? Iya, lazim itu, Bang. Tentang cerita lahiran. Ada lagi
[41:31] Bang. Tentang cerita lahiran. Ada lagi nih ceritanya. Enggak habis-habis ya.
[41:32] nih ceritanya. Enggak habis-habis ya. [tertawa]
[41:33] [tertawa] Ini banyak banget ceritanya.
[41:35] Ini banyak banget ceritanya. Kan lama banget sih ya.
[41:36] Kan lama banget sih ya. I, Bang. Ada tiga ibu-ibu datang ke aku,
[41:39] I, Bang. Ada tiga ibu-ibu datang ke aku, tapi ditemenin sama cowok satu.
[41:42] tapi ditemenin sama cowok satu. Ini ibu kira-kira umur 18-an lah. Ini
[41:45] Ini ibu kira-kira umur 18-an lah. Ini kira-kira ya ibunya dia, Bang. Ini
[41:49] kira-kira ya ibunya dia, Bang. Ini neneknya dia gitu. Kebayang enggak? Ini
[41:51] neneknya dia gitu. Kebayang enggak? Ini lagi hamil 9 bulan.
[41:53] lagi hamil 9 bulan. Ini enggak pernah periksain kehamilan
[41:54] Ini enggak pernah periksain kehamilan kayak tadi itu.
[41:55] kayak tadi itu. Oke.
[41:56] Oke. Datang mulus-mulus udah keluar udah air
[41:58] Datang mulus-mulus udah keluar udah air ketubannya udah pecah.
[41:59] ketubannya udah pecah. Oke.
[42:00] Oke. Blor depan aku lagi, Bang. Pecah
[42:02] Blor depan aku lagi, Bang. Pecah ketubannya itu.
[42:02] ketubannya itu. H.
[42:03] H. Coba-coba sama bidan IGD dulu diperiksa
[42:06] Coba-coba sama bidan IGD dulu diperiksa Dok, pembukaannya lengkap gitu.
[42:08] Dok, pembukaannya lengkap gitu. Oke.
[42:08] Oke. Bentar daftarin dulu. Daftarin dulu,
[42:10] Bentar daftarin dulu. Daftarin dulu, gitu, Pak. Bapak daftarin, dulu, Pak.
[42:13] gitu, Pak. Bapak daftarin, dulu, Pak. Maaf, saya cuma tukang ini apa? Ee apa
[42:17] Maaf, saya cuma tukang ini apa? Ee apa tuh, Bang? Roda tiga tuh. Apa sih, Bang?
[42:18] tuh, Bang? Roda tiga tuh. Apa sih, Bang? Bajay
[42:19] Bajay bukan beca. Eh, aku c aku cuma tukang
[42:22] bukan beca. Eh, aku c aku cuma tukang beca. Maaf ya. Aku cuma ngantterin pergi
[42:24] beca. Maaf ya. Aku cuma ngantterin pergi aja ya. Cuma tiga ibu ini kan. He.
[42:26] aja ya. Cuma tiga ibu ini kan. He. Ya udah, Ibu yang daftarin ya. Iya. Aku
[42:29] Ya udah, Ibu yang daftarin ya. Iya. Aku beresin siapin untuk persalinan si anak
[42:33] beresin siapin untuk persalinan si anak muda ini. Aduh, masih
[42:36] muda ini. Aduh, masih paha.
[42:36] paha. Paha siap pimpin bareng sama bidan.
[42:39] Paha siap pimpin bareng sama bidan. Bidan yang ee ini stimulasi puting, Bang
[42:42] Bidan yang ee ini stimulasi puting, Bang Radit. Tahu enggak ya? stimul puting.
[42:43] Radit. Tahu enggak ya? stimul puting. Jadi kayak stimul puting itu membantu
[42:45] Jadi kayak stimul puting itu membantu banget buat bantu elastisitas vagina dan
[42:48] banget buat bantu elastisitas vagina dan lain-lain. Jadi itu bidan yang urusin oe
[42:51] lain-lain. Jadi itu bidan yang urusin oe oe lahir. Pas lahir pas ibu dua tadi
[42:54] oe lahir. Pas lahir pas ibu dua tadi datang lahir cewek, Bang. Bayinya
[42:56] datang lahir cewek, Bang. Bayinya perempuan lucu banget. Aduh aku happy
[42:59] perempuan lucu banget. Aduh aku happy banget lihat bayi itu. Ah yuk yuk. Pas
[43:03] banget lihat bayi itu. Ah yuk yuk. Pas lihat bayinya cewek dua ibu beda usia
[43:06] lihat bayinya cewek dua ibu beda usia ini jerit.
[43:08] ini jerit. Wow, cewek cewek mau. Loh, loh, loh,
[43:12] Wow, cewek cewek mau. Loh, loh, loh, loh. Kenapa nangis ke jerah? Kita
[43:15] loh. Kenapa nangis ke jerah? Kita terkutuk. Kita terkutuk. [tertawa]
[43:17] terkutuk. Kita terkutuk. [tertawa] Terkutuk.
[43:19] Terkutuk. Bukan. Ada apa. Entar aku taruh dulu kan
[43:21] Bukan. Ada apa. Entar aku taruh dulu kan si bayinya. Ada apa? Entar yuk keluar
[43:24] si bayinya. Ada apa? Entar yuk keluar dulu. Keluar dulu. Kan enggak enak kan.
[43:25] dulu. Keluar dulu. Kan enggak enak kan. Kasihan ni baru ngelahirin tiba-tiba
[43:27] Kasihan ni baru ngelahirin tiba-tiba ngelihat ibu dan neneknya jerit-jerit
[43:29] ngelihat ibu dan neneknya jerit-jerit kayak gitu.
[43:30] kayak gitu. Iya.
[43:30] Iya. Ibu bentar. Ada apa?
[43:32] Ibu bentar. Ada apa? Kita keluarga kayak dia terkutuk dong.
[43:34] Kita keluarga kayak dia terkutuk dong. Anak saya itu lahir tanpa suami, enggak
[43:38] Anak saya itu lahir tanpa suami, enggak ada suami. Saya yang ngelahirin anakku,
[43:40] ada suami. Saya yang ngelahirin anakku, saya juga enggak punya suami. Saya
[43:41] saya juga enggak punya suami. Saya dilahirin sama ibuku juga tanpa suami.
[43:44] dilahirin sama ibuku juga tanpa suami. Dan sekarang bayinya perempuan, Dok. Aku
[43:47] Dan sekarang bayinya perempuan, Dok. Aku takut itu perempuan itu juga terkuteh,
[43:49] takut itu perempuan itu juga terkuteh, Dok.
[43:49] Dok. Hah?
[43:50] Hah? Allahu Akbar, Bang.
[43:52] Allahu Akbar, Bang. Hah?
[43:53] Hah? Aku dalam hati, "Bu, bentar, Bu. Saya
[43:56] Aku dalam hati, "Bu, bentar, Bu. Saya saya pribadi tidak percaya ada bayi yang
[43:58] saya pribadi tidak percaya ada bayi yang terkutuk gitu sama sekali."
[44:01] terkutuk gitu sama sekali." "Enggak dong, kami terkutuk."
[44:03] "Enggak dong, kami terkutuk." Aduh, enggak bisa kan udah belief sistem
[44:05] Aduh, enggak bisa kan udah belief sistem orang kan aku enggak bisa bantah. Oke,
[44:09] orang kan aku enggak bisa bantah. Oke, Bu, boleh enggak aku bantu memutus
[44:11] Bu, boleh enggak aku bantu memutus kutukan itu, Bu?
[44:13] kutukan itu, Bu? Gimana caranya, Dok? Izinin aku
[44:15] Gimana caranya, Dok? Izinin aku melakukan hal yang belum dilakukan sama
[44:17] melakukan hal yang belum dilakukan sama ibu dan ibu. Apa itu, Dok? Izinkan saya
[44:20] ibu dan ibu. Apa itu, Dok? Izinkan saya mengazankan bayinya.
[44:22] mengazankan bayinya. Dia langsung mikir, oh ya, silakan, Dok.
[44:25] Dia langsung mikir, oh ya, silakan, Dok. Akhirnya aku azanin itu, Bang, bayinya.
[44:29] Akhirnya aku azanin itu, Bang, bayinya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Ya Allah,
[44:32] Allahu Akbar. Allahu Akbar. Ya Allah, itu azan terkhidmat yang pernah aku
[44:33] itu azan terkhidmat yang pernah aku lakukan, Bang. Asli, karena aku percaya
[44:35] lakukan, Bang. Asli, karena aku percaya ini anak suci gitu.
[44:38] ini anak suci gitu. Tapi, tapi kok bisa ibunya enggak punya
[44:41] Tapi, tapi kok bisa ibunya enggak punya suami hamil, ibunya lagi enggak punya
[44:44] suami hamil, ibunya lagi enggak punya suami hamil.
[44:44] suami hamil. Gimana dia punya belief system bahwa
[44:46] Gimana dia punya belief system bahwa terkutuk?
[44:47] terkutuk? Wah, wah, wah, wah, w
[44:48] Wah, wah, wah, wah, w gitu. Jadi, wah, ibunya ngelihat bayinya
[44:51] gitu. Jadi, wah, ibunya ngelihat bayinya diazanin, wah langsung cerah banget gitu
[44:53] diazanin, wah langsung cerah banget gitu sih ibunya ya.
[44:55] sih ibunya ya. Iya. I
[44:55] Iya. I ya. Pulang dengan happy gitu ya. Aku sih
[44:58] ya. Pulang dengan happy gitu ya. Aku sih enggak tahu ya, Bang, nasib bayi itu ke
[45:00] enggak tahu ya, Bang, nasib bayi itu ke depannya gimana. Tapi ya harapan sih
[45:02] depannya gimana. Tapi ya harapan sih enggak lah. Jauhlah dari terkutuk.
[45:05] enggak lah. Jauhlah dari terkutuk. Iya. Berarti berarti memang macam-macam
[45:06] Iya. Berarti berarti memang macam-macam ya orang yang datang ke IGD dengan
[45:08] ya orang yang datang ke IGD dengan beraneka ragam.
[45:09] beraneka ragam. Beraneka ragam
[45:10] Beraneka ragam apa yang di kepala mereka kan juga bisa
[45:12] apa yang di kepala mereka kan juga bisa macam-macam juga kan.
[45:13] macam-macam juga kan. Iya makanya
[45:14] Iya makanya pernah enggak ada yang menolak ee
[45:16] pernah enggak ada yang menolak ee pengobatan atau perawatan hanya karena
[45:17] pengobatan atau perawatan hanya karena enggak percaya sama obat, enggak percaya
[45:19] enggak percaya sama obat, enggak percaya sama dokter. Ah lucu,
[45:21] sama dokter. Ah lucu, Dok. Datang malam-malam lagi,
[45:24] Dok. Datang malam-malam lagi, Dok. Saya ingin ketemu dokter paling
[45:26] Dok. Saya ingin ketemu dokter paling sakti di sini.
[45:28] sakti di sini. Kok cuma ada aku yang jago cuma aku
[45:30] Kok cuma ada aku yang jago cuma aku sendiri.
[45:30] sendiri. Udah ajak duel apa gimana,
[45:32] Udah ajak duel apa gimana, Dok? Nih
[45:35] Dok? Nih saya udah pakai ini. Apa ini?
[45:39] saya udah pakai ini. Apa ini? Ada aneh-aneh banget, Bang, bentuknya
[45:41] Ada aneh-aneh banget, Bang, bentuknya kayak ada rambut kuda. Ada
[45:43] kayak ada rambut kuda. Ada kayak jimat gitu.
[45:44] kayak jimat gitu. Iya, jimat-jimat gitu. Paket anti santet
[45:47] Iya, jimat-jimat gitu. Paket anti santet katanya. [tertawa]
[45:48] katanya. [tertawa] Bentar. Kok paket anti santet dibawa ke
[45:51] Bentar. Kok paket anti santet dibawa ke sini?
[45:51] sini? He. Terus mau buat apa?
[45:53] He. Terus mau buat apa? Aku nih rasanya lemas nih. Aku kayaknya
[45:55] Aku nih rasanya lemas nih. Aku kayaknya disantet ini, Dok.
[45:56] disantet ini, Dok. Iya. Bentar cobacoba lemesnya berapa
[45:59] Iya. Bentar cobacoba lemesnya berapa lama aku diagnosis lah dia gini dong
[46:02] lama aku diagnosis lah dia gini dong gitu ya aku periksa.
[46:05] gitu ya aku periksa. Oh ternyata aku tahu bahwa ini hepatitis
[46:09] Oh ternyata aku tahu bahwa ini hepatitis A gitu.
[46:09] A gitu. Oh penyakit hati ya.
[46:10] Oh penyakit hati ya. Heeh. Hepatitis A coronavirus bukan
[46:13] Heeh. Hepatitis A coronavirus bukan karena santet.
[46:14] karena santet. Oh pas dijelasin
[46:16] Oh pas dijelasin untung kamu bukan hepatitis B itu lebih
[46:19] untung kamu bukan hepatitis B itu lebih berat. Tapi ini hepatitis kamu pasti
[46:20] berat. Tapi ini hepatitis kamu pasti bisa sembuh.
[46:21] bisa sembuh. Hm.
[46:22] Hm. Dan aku akan kasih kamu obat. itu anti
[46:26] Dan aku akan kasih kamu obat. itu anti santet sesungguhnya. [tertawa]
[46:30] Nah, yang itu buang aja buang. Jadi aku
[46:32] Nah, yang itu buang aja buang. Jadi aku ini ini percuma dong percuma enggak
[46:34] ini ini percuma dong percuma enggak dibeli.
[46:35] dibeli. Jadi dia hatinya sakit sakit perutnya
[46:38] Jadi dia hatinya sakit sakit perutnya mungkin daerah perut kali ya mual dia
[46:40] mungkin daerah perut kali ya mual dia pikir santai rada kuning kan
[46:43] pikir santai rada kuning kan mukanya gitu dia pikir santai tahunya
[46:46] mukanya gitu dia pikir santai tahunya hepatitis A.
[46:48] hepatitis A. Apa cerita lagi? Ayo ayo.
[46:49] Apa cerita lagi? Ayo ayo. Jadi Bang malam-malam aku kedatangan
[46:52] Jadi Bang malam-malam aku kedatangan empat anak laki-laki.
[46:54] empat anak laki-laki. Heeh. Cowok cowok cowok cok cok. Mukanya
[46:57] Heeh. Cowok cowok cowok cok cok. Mukanya panik semua. Tapi lucunya empat anak
[46:59] panik semua. Tapi lucunya empat anak laki ini paniknya tuh berirama gitu.
[47:02] laki ini paniknya tuh berirama gitu. Dok, tolongin, Dok. Terus cowok kedua
[47:03] Dok, tolongin, Dok. Terus cowok kedua bilang, "Ini Dok, tetanggaku, Dok. Dok,
[47:06] bilang, "Ini Dok, tetanggaku, Dok. Dok, itu lehernya, Dok, Dok, asli, Dok. Kita
[47:09] itu lehernya, Dok, Dok, asli, Dok. Kita stres, Dok. Apa sih kalian kayak lagi
[47:12] stres, Dok. Apa sih kalian kayak lagi main rapper gitu? Ini, Dok, dia
[47:14] main rapper gitu? Ini, Dok, dia empat-empatnya narik ke depan
[47:16] empat-empatnya narik ke depan dia bawa perempuan yang berh gitu.
[47:20] dia bawa perempuan yang berh gitu. Ini, Dok, ini ditolongin, Dok.
[47:21] Ini, Dok, ini ditolongin, Dok. Nak, kamu kenapa? Dia dengar, "Bang,
[47:24] Nak, kamu kenapa? Dia dengar, "Bang, cewek berhudi itu hoodinya mirip lagi.
[47:27] cewek berhudi itu hoodinya mirip lagi. [tertawa]
[47:29] [tertawa] Hudinya mirip gini, Bang. Bang, coba
[47:31] Hudinya mirip gini, Bang. Bang, coba deh, Bang. Bang, Bang Radi tutupin terus
[47:33] deh, Bang. Bang, Bang Radi tutupin terus nunduk
[47:34] nunduk kan."
[47:34] kan." Nah, terus Bang Radit dengak
[47:36] Nah, terus Bang Radit dengak dengar
[47:37] dengar lehernya ikut dengak, Bang. Leher senyum
[47:40] lehernya ikut dengak, Bang. Leher senyum sama aku kebuka.
[47:41] sama aku kebuka. Kenapa gua disamain [tertawa]
[47:43] Kenapa gua disamain [tertawa] sama orang? Lehernya jeroa
[47:47] sama orang? Lehernya jeroa yang benar Dok. Dok, yang benar aja,
[47:49] yang benar Dok. Dok, yang benar aja, Dok. Dia begini lehernya kebuka. Leher
[47:51] Dok. Dia begini lehernya kebuka. Leher senyum sama aku, Bang.
[47:53] senyum sama aku, Bang. Itu mataku segede piring langsung, Bang.
[47:56] Itu mataku segede piring langsung, Bang. What?
[47:58] What? N udah cepetan masuk ke ruang tindakan.
[48:00] N udah cepetan masuk ke ruang tindakan. Masukmasuk masuk ke ruang tindakan. Ini
[48:03] Masukmasuk masuk ke ruang tindakan. Ini gimana ceritanya dia si empat ini cerita
[48:05] gimana ceritanya dia si empat ini cerita lagi, "Tadi kami lagi main lagi mabar,
[48:08] lagi, "Tadi kami lagi main lagi mabar, Dok. Tiba-tiba di jendela ada yang
[48:10] Dok. Tiba-tiba di jendela ada yang bilang, "Bang, tolongin aku, Bang."
[48:12] bilang, "Bang, tolongin aku, Bang." [tertawa]
[48:13] [tertawa] Aduh, ketawa lagi
[48:14] Aduh, ketawa lagi pas lihat di jendela. Ya gitu, Dok, ya.
[48:17] pas lihat di jendela. Ya gitu, Dok, ya. Kami juga ngelihat lehernya gitu.
[48:19] Kami juga ngelihat lehernya gitu. Terus itu kira-kira apa? Dia sendiri,
[48:21] Terus itu kira-kira apa? Dia sendiri, Dok. Dia sendiri itu di CCTV kita sudah
[48:23] Dok. Dia sendiri itu di CCTV kita sudah lihat enggak ada orang lain itu sendiri
[48:24] lihat enggak ada orang lain itu sendiri tuh, Dok. Tuh cutter itu. Tu cutter itu
[48:26] tuh, Dok. Tuh cutter itu. Tu cutter itu cutter kata si abang-abang.
[48:28] cutter kata si abang-abang. Oh, dia berusaha ini.
[48:29] Oh, dia berusaha ini. Heeh.
[48:30] Heeh. Ya, ya udah udah daftarin dulu aja gitu.
[48:32] Ya, ya udah udah daftarin dulu aja gitu. Aku urusinlah. Dan yang keren, Bang.
[48:35] Aku urusinlah. Dan yang keren, Bang. Ketiadaan rasa sakit
[48:38] Ketiadaan rasa sakit leher kebuka gitu kan.
[48:41] leher kebuka gitu kan. Uh, itu adrenalin dahsyat banget ya.
[48:42] Uh, itu adrenalin dahsyat banget ya. Iya. Uh, nutupin sakit ya. I
[48:44] Iya. Uh, nutupin sakit ya. I lagi keluar banget tuh adrenal lagi
[48:45] lagi keluar banget tuh adrenal lagi tinggi-tingginya itu.
[48:46] tinggi-tingginya itu. Oke, terus
[48:47] Oke, terus tiduran kamu kenapa nak? Gitu. Aku masih
[48:51] tiduran kamu kenapa nak? Gitu. Aku masih muda soalnya kan untungnya pas aku cek
[48:54] muda soalnya kan untungnya pas aku cek ternyata kulit
[48:55] ternyata kulit jadi enggak sampai enggak sampai otot.
[48:57] jadi enggak sampai enggak sampai otot. Memang kalau diterusin dalamnya dikit
[48:59] Memang kalau diterusin dalamnya dikit beberapa mili lagi itu pembuluh darah
[49:01] beberapa mili lagi itu pembuluh darah pasti kena.
[49:02] pasti kena. Berarti itu ngangya karena darah tuh
[49:04] Berarti itu ngangya karena darah tuh bukan darah kapiler aja. Kapiler enggak
[49:06] bukan darah kapiler aja. Kapiler enggak darah pinggiran dibuka vena-vena aja
[49:09] darah pinggiran dibuka vena-vena aja si kulitnya jatuh gitu loh.
[49:11] si kulitnya jatuh gitu loh. Oh my God. kebuka. Kamu kenapa, Nak?
[49:14] Oh my God. kebuka. Kamu kenapa, Nak? Gitu. Dia diam aja,
[49:17] Gitu. Dia diam aja, "Dok, aku ini enggak punya bapak. Terus
[49:21] "Dok, aku ini enggak punya bapak. Terus ibuku baru aja meninggal. Strok stroke
[49:23] ibuku baru aja meninggal. Strok stroke lagi kan."
[49:24] lagi kan." H
[49:25] H stroke, Dok. Gitu, Dok. Aku tuh bingung
[49:27] stroke, Dok. Gitu, Dok. Aku tuh bingung deh, Dok. Aku lihat sekitar aku tuh pada
[49:31] deh, Dok. Aku lihat sekitar aku tuh pada happy semua kayaknya. Pada jago-jago
[49:33] happy semua kayaknya. Pada jago-jago banget mainin perannya. Kalau dunia ini
[49:36] banget mainin perannya. Kalau dunia ini panggung sandiwara, kapan pembagian
[49:38] panggung sandiwara, kapan pembagian skripnya sih, Dok? Kata dia gitu dia
[49:41] skripnya sih, Dok? Kata dia gitu dia lagi tapi keren ya, Bang. dia habis
[49:42] lagi tapi keren ya, Bang. dia habis melakukan itu, dia masih bisa
[49:44] melakukan itu, dia masih bisa mengutarakan isi hatinya gitu.
[49:46] mengutarakan isi hatinya gitu. Oke. Dia merasa enggak punya peran gitu
[49:48] Oke. Dia merasa enggak punya peran gitu atau
[49:48] atau iya. Kayak aku kayak dunia hiruk pikuk
[49:51] iya. Kayak aku kayak dunia hiruk pikuk itu kayak aku kayak duduk di pojok kan
[49:53] itu kayak aku kayak duduk di pojok kan enggak tahu mau ngapain dong.
[49:55] enggak tahu mau ngapain dong. Dan aku pikir dunia itu indah, ternyata
[49:57] Dan aku pikir dunia itu indah, ternyata keindahan itu ditutupi sama ibuku. Saat
[49:59] keindahan itu ditutupi sama ibuku. Saat ibuku enggak ada, nyatalah wajah dunia
[50:02] ibuku enggak ada, nyatalah wajah dunia sesungguhnya yang kejam, dingin, keji
[50:04] sesungguhnya yang kejam, dingin, keji gitu dia cerita.
[50:06] gitu dia cerita. Terus dia diam, "Berti nunggu aku jawab
[50:08] Terus dia diam, "Berti nunggu aku jawab kan?" Hm.
[50:09] kan?" Hm. Nak, percayalah, Nak. Pembagian script
[50:12] Nak, percayalah, Nak. Pembagian script itu enggak pernah ada. Enggak ada yang
[50:14] itu enggak pernah ada. Enggak ada yang pernah. Enggak ada pembagian skrip itu.
[50:17] pernah. Enggak ada pembagian skrip itu. Kita yang nulis skrip kita sendiri.
[50:19] Kita yang nulis skrip kita sendiri. Benar enggak, Bang?
[50:19] Benar enggak, Bang? Benar. Benar, benar.
[50:20] Benar. Benar, benar. Kita yang nulis skrip kita sendiri.
[50:22] Kita yang nulis skrip kita sendiri. Jadi, enggak apa-apa kalau kamu ngerasa
[50:25] Jadi, enggak apa-apa kalau kamu ngerasa bingung. Sama semua orang terhebat pun
[50:28] bingung. Sama semua orang terhebat pun di muka bumi punya fase bingung dan ini
[50:30] di muka bumi punya fase bingung dan ini lagi fase kamu. Dan untung kamu ke sini
[50:33] lagi fase kamu. Dan untung kamu ke sini enggak apa-apa. Ini Om dokter bantu
[50:35] enggak apa-apa. Ini Om dokter bantu jahit ya? Iya, Dok. Udah aku jahit
[50:38] jahit ya? Iya, Dok. Udah aku jahit pelan-pelan sambil ngobrol, Bang. One by
[50:40] pelan-pelan sambil ngobrol, Bang. One by one. Terus sampai terakhir. Kamu tahu
[50:42] one. Terus sampai terakhir. Kamu tahu enggak kupu-kupu itu enggak bisa
[50:45] enggak kupu-kupu itu enggak bisa ngelihat kehindaan dirinya, tapi orang
[50:46] ngelihat kehindaan dirinya, tapi orang lain bisa. Nah, kamu tuh kayak gitu.
[50:49] lain bisa. Nah, kamu tuh kayak gitu. Hm.
[50:50] Hm. Kamu cuma enggak bisa ngelihat potensi
[50:52] Kamu cuma enggak bisa ngelihat potensi kamu aja. Pasti orang lain bisa lihat
[50:54] kamu aja. Pasti orang lain bisa lihat potensi kamu gitu. Jadi, apapun yang
[50:57] potensi kamu gitu. Jadi, apapun yang kamu lakukan, keep going aja, keep
[50:59] kamu lakukan, keep going aja, keep flying. Aku bil.
[51:00] flying. Aku bil. Oke.
[51:00] Oke. Terus air matanya netes, Bang.
[51:02] Terus air matanya netes, Bang. Mudah-mudahan tuh air mata harapan ya.
[51:04] Mudah-mudahan tuh air mata harapan ya. He.
[51:04] He. Terus ya udah dia pulang. Harusnya sih
[51:08] Terus ya udah dia pulang. Harusnya sih dia oke sih sekarang aku belum cek lagi
[51:09] dia oke sih sekarang aku belum cek lagi sih.
[51:10] sih. Belum ketemu dia lagi. Mungkin kalau dia
[51:12] Belum ketemu dia lagi. Mungkin kalau dia nonton podcast ini bisa kontak dokter
[51:14] nonton podcast ini bisa kontak dokter Gia ya.
[51:15] Gia ya. Heeh. Ayo.
[51:15] Heeh. Ayo. Tahun berapa tuh?
[51:16] Tahun berapa tuh? Wah beberapa tahun lalu lagi.
[51:18] Wah beberapa tahun lalu lagi. Berapa tahun lalu ya?
[51:19] Berapa tahun lalu ya? Nah tadi kan yang berhasil-berhasil. Ini
[51:21] Nah tadi kan yang berhasil-berhasil. Ini terakhir ya, Bang. Ni cerita terakhir.
[51:23] terakhir ya, Bang. Ni cerita terakhir. Aku gagal ini. Aku gagal.
[51:24] Aku gagal ini. Aku gagal. Oke. Wah.
[51:25] Oke. Wah. Gagal. Suami istri datang. Si per si
[51:29] Gagal. Suami istri datang. Si per si ibunya ini kurus banget, Bang. Udah
[51:31] ibunya ini kurus banget, Bang. Udah celong banget gini. Aku tahu dia waktu
[51:33] celong banget gini. Aku tahu dia waktu versi gemuknya. Jadi aku masih hafal.
[51:35] versi gemuknya. Jadi aku masih hafal. Ibu apa kabar? Ternyata dia udah
[51:37] Ibu apa kabar? Ternyata dia udah bolak-balik ke Darmais. Dia tuh kanker
[51:39] bolak-balik ke Darmais. Dia tuh kanker kanker paru-paru. Jadi udah bolak-balik
[51:42] kanker paru-paru. Jadi udah bolak-balik semua cara udah dilakukan kemo,
[51:45] semua cara udah dilakukan kemo, radioterapi, semuanya dah. Tapi dia
[51:47] radioterapi, semuanya dah. Tapi dia datang ke aku itu hanya karena kesakitan
[51:49] datang ke aku itu hanya karena kesakitan banget gitu. Sakit banget. Sakit banget.
[51:52] banget gitu. Sakit banget. Sakit banget. Masih ada gelang U. Gelang U itu gelang
[51:54] Masih ada gelang U. Gelang U itu gelang DNR. Do not resuscitate gitu.
[51:55] DNR. Do not resuscitate gitu. Ah iya yang jangan di ditolong buat ini
[51:58] Ah iya yang jangan di ditolong buat ini ya.
[51:58] ya. Heeh. Do not resusate. Yuk yuk masuk
[52:01] Heeh. Do not resusate. Yuk yuk masuk masuk. Aku cek saturasi oksigen. Bang
[52:03] masuk. Aku cek saturasi oksigen. Bang Radi tahu saturasi kan? Saturasi itu
[52:06] Radi tahu saturasi kan? Saturasi itu berapa persen oksigen yang kita hirup
[52:08] berapa persen oksigen yang kita hirup dari udara yang berhasil masuk ke dalam
[52:09] dari udara yang berhasil masuk ke dalam darah. Harusnya misalkan kita masukin 1
[52:11] darah. Harusnya misalkan kita masukin 1 liter itu keserap 95% ke atas lah gitu.
[52:15] liter itu keserap 95% ke atas lah gitu. Ini udah ambles banget udah 70-an.
[52:18] Ini udah ambles banget udah 70-an. Hm.
[52:18] Hm. Ya udah mulai lenglengan lenglengan
[52:20] Ya udah mulai lenglengan lenglengan gitu. Aku siapin lari ngoskop. Lari
[52:22] gitu. Aku siapin lari ngoskop. Lari ngoskop itu, Bang, alat buat masangin
[52:24] ngoskop itu, Bang, alat buat masangin intubasi. Jadi masukin selang nafas
[52:25] intubasi. Jadi masukin selang nafas langsung ke paru-paru, masukin ke
[52:27] langsung ke paru-paru, masukin ke ventilator, ke mesin gitu. Karena
[52:29] ventilator, ke mesin gitu. Karena saturasinya turun terus itu harus segera
[52:31] saturasinya turun terus itu harus segera dinaikin. Pas aku pegang lari ngoskop
[52:33] dinaikin. Pas aku pegang lari ngoskop bentuknya kayak sekop gitu bapaknya
[52:35] bentuknya kayak sekop gitu bapaknya langsung ngi lihat aku. Dokter, dokter
[52:37] langsung ngi lihat aku. Dokter, dokter mau ngapain? Dokter mau ngapain? Pak,
[52:40] mau ngapain? Dokter mau ngapain? Pak, saya izin mau pasang selang nafas buat
[52:42] saya izin mau pasang selang nafas buat alat B. Enggak dong, enggak dong.
[52:44] alat B. Enggak dong, enggak dong. Enggak. Udah cukup cuk. Dokter jangan
[52:45] Enggak. Udah cukup cuk. Dokter jangan jahatin istri saya, Dok. Jangan sakitin
[52:47] jahatin istri saya, Dok. Jangan sakitin istri saya lagi. Aduh, boro-boro pengin
[52:48] istri saya lagi. Aduh, boro-boro pengin nyakitin kan, Bang.
[52:50] nyakitin kan, Bang. Enggak, Dok. Udah, udah, udah, udah.
[52:52] Enggak, Dok. Udah, udah, udah, udah. Istri saya udah habis-habisan, Dok. Aku
[52:54] Istri saya udah habis-habisan, Dok. Aku juga dia udah ditusukin semua badannya.
[52:56] juga dia udah ditusukin semua badannya. Dia sudah ditusuk, Dok, dari sini, dari
[52:59] Dia sudah ditusuk, Dok, dari sini, dari semangat buat ngelarin cairan. Udah,
[53:00] semangat buat ngelarin cairan. Udah, Dok, jangan siksa istri saya, Dok. Pak,
[53:03] Dok, jangan siksa istri saya, Dok. Pak, tapi udah, Dok. Dia tunjukin gelang ungu
[53:06] tapi udah, Dok. Dia tunjukin gelang ungu tadi. Aku telun dulu, Bang.
[53:08] tadi. Aku telun dulu, Bang. Hm.
[53:09] Hm. Itu kan monitor nyala terus. Ninininit
[53:11] Itu kan monitor nyala terus. Ninininit ninit nininit ninit.
[53:13] ninit nininit ninit. Iya.
[53:13] Iya. Istrinya sudah mulai lemas-lemas gitu.
[53:15] Istrinya sudah mulai lemas-lemas gitu. Suaminya meluk turun. Nadinya 80, 70,
[53:20] Suaminya meluk turun. Nadinya 80, 70, 60, 40, 20. Saturasi juga mulai turun
[53:24] 60, 40, 20. Saturasi juga mulai turun lagi 20 10.
[53:27] lagi 20 10. Maafin aku istriku. Maafin aku istriku.
[53:29] Maafin aku istriku. Maafin aku istriku. Nit, tunggu aku istriku. Tunggu aku.
[53:32] Nit, tunggu aku istriku. Tunggu aku. Beh, Bang, itu aku gemeteran maring
[53:35] Beh, Bang, itu aku gemeteran maring ngoskop itu
[53:37] ngoskop itu nit gitu.
[53:40] nit gitu. Meninggal, meninggal
[53:43] Meninggal, meninggal meninggal. Wah, suaminya nangis-nangis.
[53:45] meninggal. Wah, suaminya nangis-nangis. Tunggu aku cintaku, tunggu aku cintaku,
[53:48] Tunggu aku cintaku, tunggu aku cintaku, tunggu aku cintaku. Gitu. Beh, itu pedih
[53:52] tunggu aku cintaku. Gitu. Beh, itu pedih banget, Bang. Asli. Berarti dia memang
[53:55] banget, Bang. Asli. Berarti dia memang udah capek kali ya.
[53:57] udah capek kali ya. Ternyata kan enggak semuanya bagus hasil
[53:59] Ternyata kan enggak semuanya bagus hasil kemo juga kan enggak semuanya oke gitu.
[54:01] kemo juga kan enggak semuanya oke gitu. Iya.
[54:02] Iya. Tapi sebagai dokter menghadapi kematian
[54:05] Tapi sebagai dokter menghadapi kematian di IGD
[54:06] di IGD Iya. Everyday
[54:07] Iya. Everyday itu setiap hampir tiap hari ada enggak?
[54:08] itu setiap hampir tiap hari ada enggak? Iya
[54:09] Iya pasti ya. Ini bagus banget buat
[54:11] pasti ya. Ini bagus banget buat dimasukin di ending sih. Jadi
[54:13] dimasukin di ending sih. Jadi sebagai dokter IG deh, Bang. Setelah
[54:15] sebagai dokter IG deh, Bang. Setelah melihat ratusan kematian ya dengan
[54:17] melihat ratusan kematian ya dengan segala rentang usia ya, bayi yang
[54:19] segala rentang usia ya, bayi yang meninggal, balita, anak remaja,
[54:23] meninggal, balita, anak remaja, juara kelas tiba-tiba ketimpa tembok
[54:26] juara kelas tiba-tiba ketimpa tembok meninggal gitu aja. Pasangan suami
[54:28] meninggal gitu aja. Pasangan suami istri, laki-laki yang potensinya luar
[54:31] istri, laki-laki yang potensinya luar biasa, kecelakaan, motor, meninggal.
[54:35] biasa, kecelakaan, motor, meninggal. Jadi aku lihat, Bang,
[54:38] Jadi aku lihat, Bang, kematian itu membuat kehidupan jadi
[54:41] kematian itu membuat kehidupan jadi lebih berharga.
[54:43] lebih berharga. Karena kita tahu kita pasti meninggal
[54:45] Karena kita tahu kita pasti meninggal dan kita masalahnya enggak tahu kapan
[54:47] dan kita masalahnya enggak tahu kapan dan gimana kita bisa meninggal itu. Iya.
[54:50] dan gimana kita bisa meninggal itu. Iya. I
[54:50] I sehingga apun yang kita lagi jalani
[54:52] sehingga apun yang kita lagi jalani sekarang jadi berharga banget tiap
[54:55] sekarang jadi berharga banget tiap detiknya itu. Aku bersyukur ketum Bang
[54:57] detiknya itu. Aku bersyukur ketum Bang Radit di sini sama teman-teman semua itu
[54:59] Radit di sini sama teman-teman semua itu akan saya
[55:01] akan saya salah satu momen terbaik di hidup saya
[55:03] salah satu momen terbaik di hidup saya bisa ketemu Bang Rad sini.
[55:06] bisa ketemu Bang Rad sini. Jadi justru karena kematian itu pasti
[55:08] Jadi justru karena kematian itu pasti Bang dan kita enggak tahu kapan
[55:10] Bang dan kita enggak tahu kapan justru jadi makin berharga gitu.
[55:13] justru jadi makin berharga gitu. Wah gila dokter Gia terima kasih sudah
[55:15] Wah gila dokter Gia terima kasih sudah mampir ke sini lagi. Seru banget
[55:17] mampir ke sini lagi. Seru banget cerita-ceritanya. Kalau ada yang mau ee
[55:19] cerita-ceritanya. Kalau ada yang mau ee lihat-lihat sosial media dokter Gia bisa
[55:20] lihat-lihat sosial media dokter Gia bisa ke mana?
[55:21] ke mana? Iya. Gia Pratama MD.
[55:22] Iya. Gia Pratama MD. Gia Pratama MD. Sukses buat semuanya ya,
[55:25] Gia Pratama MD. Sukses buat semuanya ya, Dok ya. Dengan senang hati, Bang Radi.
[55:26] Dok ya. Dengan senang hati, Bang Radi. Thank you. Siap. Yeah.