youtube-transcript.ai

Cerita (lagi) dari Ruang IGD

Watch with subtitles, summary & AI chat
Add the free Subkun extension — works directly on YouTube.
  • Watch
  • Subtitles
  • Summary
  • Ask AI
Try free →

Dr. Gia, an ER doctor, discusses the importance of proactive health, especially regarding heart disease and stroke, emphasizing lifestyle changes like managing sugar and blood pressure. She also shares dramatic and sometimes humorous stories from her ER experiences, including a case of intestinal obstruction caused by a massive worm ball and a child who swallowed a coin, highlighting the resourcefulness needed in emergency medicine.

Full Transcript (Bilingual)

https://www.youtube.com/watch?v=95oHy-i1ex8
Translation: en

[00:00] Hari ini kita ngobrol lagi bersama
Today we are chatting again with

[00:01] Hari ini kita ngobrol lagi bersama dokter Gia seorang dokter IGD dan HD.
Today we are chatting again with Dr. Gia, an ER and HD doctor.

[00:04] dokter Gia seorang dokter IGD dan HD.
Dr. Gia is an ER and HD doctor.

[00:04] Terima kasih sudah mampir ke sini lagi
Thank you for stopping by here again

[00:06] Terima kasih sudah mampir ke sini lagi Bang Radit.
Thank you for stopping by here again, Bang Radit.

[00:07] Bang Radit.
Bang Radit.

[00:07] Setelah huru hara. [tertawa]
After the chaos. [laughter]

[00:09] Setelah huru hara.
After the chaos.

[00:10] Setelah huruhara.
After the chaos.

[00:12] Setelah huru hara.
After the chaos.

[00:12] Masyaallah luar biasa.
Mashallah, amazing.

[00:14] Masyaallah luar biasa.
Mashallah, amazing.

[00:14] Kita bahas yang kemarin dulu kali ya
Let's discuss yesterday's topic first, shall we?

[00:16] Kita bahas yang kemarin dulu kali ya karena lagi ramai
Let's discuss yesterday's topic first, shall we, because it's trending?

[00:18] karena lagi ramai sebelum kita ngobrol-ngobrol lebih
because it's trending before we chat more

[00:19] sebelum kita ngobrol-ngobrol lebih lanjut.
before we chat more.

[00:20] lanjut. Setuju. [tertawa] Setuju Bang.
further. Agreed. [laughter] Agreed, Bang.

[00:21] Setuju. [tertawa] Setuju Bang.
Agreed. [laughter] Agreed, Bang.

[00:21] Jadi apa yang terjadi tuh dokter Gia?
So what happened, Dr. Gia?

[00:22] Jadi apa yang terjadi tuh dokter Gia?
So what happened, Dr. Gia?

[00:22] Karena pas ee potongan podcast itu ramai
Because when that podcast clip was trending

[00:27] Karena pas ee potongan podcast itu ramai dari 30 menit tuh yang dipotong cuma 3
Because when that podcast clip was trending, out of 30 minutes, only 3

[00:29] dari 30 menit tuh yang dipotong cuma 3 menit itu ramai.
out of 30 minutes, only 3 minutes were cut, it was trending.

[00:30] menit itu ramai.
minutes were trending.

[00:30] Iya. Yang cuma 3 menit itu saya tuh
Yes. Those only 3 minutes, I

[00:31] Iya. Yang cuma 3 menit itu saya tuh enggak ngelihat tuh.
Yes. Those only 3 minutes, I didn't see it.

[00:33] enggak ngelihat tuh. Saya enggak tahu
didn't see it. I didn't know

[00:33] Saya enggak tahu itu rame.
I didn't know it was trending.

[00:33] Iya. Itu benar.
Yes. That's true.

[00:34] Iya. Itu benar.
Yes. That's true.

[00:34] Saya tuh baru hanya rameai karena ada
I only found out it was trending because someone

[00:37] Saya tuh baru hanya rameai karena ada yang ngasih tahu ada yang ngasih tahu
I only found out it was trending because someone told me, someone told me

[00:39] yang ngasih tahu ada yang ngasih tahu bahwa ee dibahas di Twitter kalau enggak
told me, someone told me that it was discussed on Twitter, if I'm not mistaken

[00:42] bahwa ee dibahas di Twitter kalau enggak salah
that it was discussed on Twitter, if I'm not mistaken

[00:43] salah trad juga
also trad

[00:43] trad juga trad ya segala macam.
also trad, trad, all sorts of things.

[00:45] trad ya segala macam.
all sorts of things.

[00:45] Nah, pas ee
So, when

[00:46] Nah, pas ee TikTok juga ya [tertawa]
So, when TikTok also [laughter]

[00:48] TikTok juga ya [tertawa] ngelihat lagi gue yang yang bahas siapa
TikTok also [laughter] I looked again at who was discussing it

[00:50] ngelihat lagi gue yang yang bahas siapa aja. Terus begitu begitu ditinggal kan
who was discussing it. Then, when I left

[00:52] aja. Terus begitu begitu ditinggal kan lagi sibuk juga tuh begitu ditinggal
anyone. Then, when I left, I was also busy, when I left

[00:54] lagi sibuk juga tuh begitu ditinggal rameai-ramai pada minta maaf minta maaf.
I was also busy, when I left, everyone was apologizing, apologizing.

[00:56] rameai-ramai pada minta maaf minta maaf. Jadi awalnya heboh terus kayak maaf ya
everyone was apologizing, apologizing. So initially it was a stir, then like, sorry

[00:58] Jadi awalnya heboh terus kayak maaf ya maaf lah ini gimana sih ceritanya habis
So initially it was a stir, then like, sorry, sorry, what's the story here, after

[01:00] maaf lah ini gimana sih ceritanya habis itu saya lanjut kerja lagi tuh gitu ya.
Sorry, how is this story? After that, I continued working again, like that.

[01:03] itu saya lanjut kerja lagi tuh gitu ya.
I continued working again, like that.

[01:05] Nah itu gimana tuh sebenarnya ada apa sih?
So how is that, what's actually going on?

[01:05] Iya sebenarnya gini Bang aduh waktu juga minta maaf buat teman-teman senjawat
Yes, actually it's like this, Bang. Oh, time also, apologies to fellow colleagues

[01:07] minta maaf buat teman-teman senjawat karena kemarin waktunya emang sebentar
apologies to fellow colleagues because yesterday the time was indeed short

[01:10] sekali jadi udah pasti secara kronologis siap akan banyak pertanyaan.
very much, so it's certain that chronologically there will be many questions.

[01:12] siap akan banyak pertanyaan. Oke.
there will be many questions. Okay.

[01:15] Jadi sebenarnya pesan utama saya itu buat para Genzet itu enggak perlu
So actually, my main message to the Gen Z is that there's no need

[01:17] buat para Genzet itu enggak perlu khawatir karena kan ada yang jadi takut
for Gen Z to worry, because some are afraid

[01:20] khawatir karena kan ada yang jadi takut hamil gitu.
to worry, because some are afraid of getting pregnant.

[01:21] hamil gitu. Bukan itu poinnya.
getting pregnant. That's not the point.

[01:23] poinnya. Justru teman-teman kita tuh bersyukur tinggal di Indonesia karena
the point. On the contrary, our friends should be grateful to live in Indonesia because

[01:25] bersyukur tinggal di Indonesia karena kita memiliki dokter-dokter objin yang
grateful to live in Indonesia because we have OB-GYN doctors who are

[01:28] kita memiliki dokter-dokter objin yang salah satu terbaik di dunia ini, Bang.
we have OB-GYN doctors who are among the best in this world, Bang.

[01:30] salah satu terbaik di dunia ini, Bang.
among the best in this world, Bang.

[01:32] Karena jam terbangnya luar biasa.
Because their flight hours are extraordinary.

[01:34] Karena jam terbangnya luar biasa.
Because their flight hours are extraordinary.

[01:35] Enggak banyak loh, Bang, negara yang jumlah kelahiran dan kehamilannya itu 4
There aren't many, Bang, countries where the number of births and pregnancies is 4

[01:37] jumlah kelahiran dan kehamilannya itu 4 sampai 5 juta setahun.
4 to 5 million a year.

[01:39] sampai 5 juta setahun. Oke. Oke.
to 5 million a year. Okay. Okay.

[01:39] Oke. Oke. Jumlah dokter Objin cuma 5.000-an.
Okay. Okay. The number of OB-GYN doctors is only around 5,000.

[01:41] Jumlah dokter Objin cuma 5.000-an. Bayangin berarti jam terbangnya, Bang.
The number of OB-GYN doctors is only around 5,000. Imagine their flight hours, Bang.

[01:44] Bayangin berarti jam terbangnya, Bang.
Imagine their flight hours, Bang.

[01:46] Udah gitu dokter Objin itu dokter yang terbiasa bertanggung jawab kepada dua
Moreover, OB-GYN doctors are doctors who are accustomed to being responsible for two

[01:49] terbiasa bertanggung jawab kepada dua nyawa sekaligus, ibu dan janin
lives simultaneously, the mother and the fetus

[01:51] nyawa sekaligus, ibu dan janin gitu.
lives simultaneously, the mother and the fetus, like that.

[01:51] gitu. I
like that. I

[01:52] I jadi buat teman-teman Genzet jangan ragu
I, so for Gen Z friends, don't hesitate

[01:54] jadi buat teman-teman Genzet jangan ragu untuk periksakan kehamilanmu ke
so for Gen Z friends, don't hesitate to check your pregnancy with

[01:55] untuk periksakan kehamilanmu ke dokter-dokter objin terdekat pilihanmu,
to the nearest OB-GYN doctors of your choice,

[01:58] dokter-dokter objin terdekat pilihanmu, gitu.
the nearest OB-GYN doctors of your choice, like that.

[01:59] gitu. Golsnya itu sebenarnya
like that. The goal is actually

[02:01] Golsnya itu sebenarnya jangan malah jadi takut kan inti inti
The goal is actually not to be afraid, right? The core, the core

[02:04] jangan malah jadi takut kan inti inti ceritanya juga bukan soal nakutin orang
Don't be afraid, right? The core, the core of the story is not about scaring people.

[02:06] ceritanya juga bukan soal nakutin orang bukan.
The story is not about scaring people, no.

[02:09] Justru karena salah penanganan jadi gitu.
Precisely because of mismanagement, it becomes like that.

[02:11] Kalau benar mah periksa kehamilannya benar, kelahirannya benar,
If it's done correctly, check the pregnancy correctly, the birth correctly,

[02:14] itu akan kamu akan memiliki kehamilan yang tenang gitu.
you will have a calm pregnancy, like that.

[02:15] Pulang happy, bawa bayi gitu.
Go home happy, bring the baby, like that.

[02:17] bayi gitu.
the baby, like that.

[02:18] Benar, benar, benar, benar.
Correct, correct, correct, correct.

[02:20] Dan memang kalau lihat di negara-negara lain,
And indeed, if you look at other countries,

[02:22] tingkat kelahiran paling tinggi kan juga di enggak enggak banyak ya, karena
the highest birth rate is also not very high, because

[02:25] negara Eropa, Jepang itu kan pada turun
European countries, Japan, their birth rates are falling,

[02:27] semua kan berade-nya.
all of them, right?

[02:29] Siap, siap.
Ready, ready.

[02:30] Ah, kita udah lewat itu tuh persoalan huruara itu sudah lewat.
Ah, we've passed that, that issue of chaos has passed.

[02:33] Saya ee mau bahas soal ini nih, cerita dari dokter Gia karena ada yang menarik nih.
I, uh, want to discuss this, the story from Dr. Gia, because there's something interesting here.

[02:36] ee mau bahas soal ini nih, cerita dari dokter Gia karena ada yang menarik nih.
uh, want to discuss this, the story from Dr. Gia, because there's something interesting here.

[02:38] Seorang pasien datang ke IGD muntah-muntah.
A patient came to the ER vomiting.

[02:41] [tertawa] I ya.
[laughter] Yes.

[02:42] Terus apa nih? Kok jadi cacing nih?
Then what? How did it become worms?

[02:45] Gimana ceritanya?
How is that possible?

[02:45] Enggak.
No.

[02:47] Itu harusnya di terakhirnya.
That should be at the end.

[02:48] Di terakhirnya itu.
At the end.

[02:50] Jadi kalau kita pikir ni, Bang, mulut kita, kita nelon makanan ke lambung,
So if we think about it, man, our mouth, we swallow food into the stomach,

[02:51] habis lambung ke usus.
after the stomach, it goes to the intestines.

[02:53] Usus kecil, usus besar, terus anus.
Small intestine, large intestine, then the anus.

[02:56] Berarti sebenarnya tengah kita itu kan
So actually, our middle part is

[03:01] Berarti sebenarnya tengah kita itu kan bolong.
So actually, our middle is hollow.

[03:03] Kita tuh sebenarnya donat yang bolong.
We are actually a hollow donut.

[03:05] Kita tuh sebenarnya donat yang panjang kan, Bang Radit.
We are actually a long donut, right, Bang Radit.

[03:05] Oke.
Okay.

[03:07] Jadi kalau kita masukin apapun ke mulut pilihannya cuma dua.
So if we put anything into our mouths, there are only two options.

[03:09] Keserap ke pembuluh darah atau kebuang lewat poop.
It's absorbed into the bloodstream or expelled through poop.

[03:11] Oke,
Okay,

[03:12] udah enggak ada opsi lain.
there are no other options.

[03:13] Iya.
Yes.

[03:13] Nah, kalau ada pasien muntah-muntah apapun yang dia masukin keluar lagi dan
Now, if a patient is vomiting, whatever they ingest comes back out and

[03:18] enggak bisa pup dan kentut, berarti kan ada yang nyumbat di situ kan, Bang.
they can't poop or fart, it means something is blocking it, right, Bang.

[03:21] Oke.
Okay.

[03:22] Either ususnya berbelit namanya volvulus atau invaginasi ya, usus makan usus gitu atau ada something di situ yang ganjel.
Either the intestine is twisted, called volvulus, or intussusception, where the intestine slides into itself, or there's something stuck there.

[03:30] Oke.
Okay.

[03:31] Nah, pada kasus itu pas dibuka cacing kok.
Now, in that case, when it was opened, worms, huh.

[03:36] Pas dibuka maksudnya pas dibuka dioperasi.
When it was opened, I mean, when it was operated on.

[03:37] Pas dioperasi cacing.
During the operation, worms.

[03:39] Cacingnya banyak.
There were many worms.

[03:41] Banyak banget.
So many.

[03:42] Dan itu diambilnya tuh kayak ngambil pakai kayak ngambil pakai capit gitu tuh kayak ngambil spagetti.
And they were taken out using something like tongs, like picking up spaghetti.

[03:48] Bangat.
Wow.

[03:50] Oh my God.
Oh my God.

[03:50] Geli banget sumpah.
It's so gross, I swear.

[03:52] Nanti aku postingin ya videonya ya.
I'll post the video later, okay.

[03:53] Video cacing dikeluarin.
The video of the worms being removed.

[03:53] Heeh.
Uh-huh.

[03:56] Aku posting, aku posting.
I'll post it, I'll post it.

[03:56] Itu pas dokter Gia ee rame kemarin yang soal Rahim copot itu kan rame banget tuh.
That was when Dr. Gia was trending yesterday about the uterus removal, it was trending a lot.

[04:00] Terus gua penasaran cek si dokter G
Then I got curious and checked Dr. G

[04:03] Terus gua penasaran cek si dokter G ngpost apa enggak ya pas gua post, "Nah, ini testis ya.
So I was curious if Dr. G posted anything when I posted, "Well, this is a testicle.

[04:05] Testis adalah [tertawa] ini testis ya.
A testicle is [laughter] this is a testicle.

[04:08] Testis adalah [tertawa] ini adalah buah zakar."
A testicle is [laughter] this is a scrotum."

[04:10] Aku bilang gitu.
I said that.

[04:11] Oh, buah zakar ya.
Oh, a scrotum.

[04:11] Ini adalah buah zakar.
This is a scrotum.

[04:14] Buah zakar ini gini.
This scrotum is like this.

[04:14] Ya Allah, dia [tertawa] malah megang-megang buah zakar
Oh my God, he [laughter] is touching the scrotum

[04:17] samaver ya itu ya.
and cadaver, that's it.

[04:18] Itu cadaver.
That's a cadaver.

[04:21] Kad gitu.
Like that.

[04:21] tu.
It.

[04:21] Oke.
Okay.

[04:21] Oke.
Okay.

[04:23] Jadi, Bang, aku tuh sebenarnya selain yang kasus-kasus IGD itu, kenapa aku
So, bro, actually besides the ER cases, why do I

[04:25] ceritain terus tentang kenapa buah zakar
keep talking about why testicles

[04:27] atau anatomi tubuh manusia secara in general gitu, Bang.
or human anatomy in general, bro.

[04:29] Karena aku tuh punya visi misi,
Because I have a mission statement,

[04:31] visi misi hidup aku itu Bang,
my life mission, bro,

[04:33] ingin mencegah 1 juta orang Indonesia
is to prevent 1 million Indonesians

[04:34] terkena serangan jantung dan stroke.
from having heart attacks and strokes.

[04:37] Jadi, apapun yang aku posting, buku
So, whatever I post, any book

[04:39] apapun yang aku tulis tuh sebenarnya muarannya ke situ gitu.
I write is essentially aimed at that.

[04:41] Karena ya angka serangan jantung sama
Because the rates of heart attacks and

[04:43] stroke cukup tinggi dan kalau kena pun
strokes are quite high, and if you get one,

[04:45] sembuh daya pompa jantungnya berkurang.
even if you recover, your heart's pumping ability is reduced.

[04:47] Stroke walaupun sembuh fase akutnya
With a stroke, even if you recover from the acute phase,

[04:50] tetap lumpuh.
you remain paralyzed.

[04:53] Produktivitas jauh berkurang.
Productivity is greatly reduced.

[04:55] Berarti gimana kalau kita cegah aja
So, how about we just prevent it

[04:57] jangan sampai terjadi gitu.
so it doesn't happen.

[04:58] Nah, dokter G goalsnya itu kenapa aku terjun ke medsos
Well, Dr. G's goal, that's why I jumped into social media

[05:05] goalsnya itu kenapa aku terjun ke medsos enggak cuma di rumah sakit.
The goal is why I jumped into social media, not just in the hospital.

[05:06] enggak cuma di rumah sakit.
Not just in the hospital.

[05:08] Tapi dokter Gia ini kan sehari-harinya jaga IGD kan kepala IGD berarti ya atau apa tuh di situ ya di kepala IGD.
But Dr. Gia, in her daily life, she works in the ER, right? Head of the ER, or what is it there, at the head of the ER.

[05:15] Nah, seberapa banyak yang itu yang stroke atau jantung di loh banyak itu one of the one of the kan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia adalah serangan jantung dan stroke.
So, how many of those stroke or heart cases? Oh, there are many, one of the, one of the main causes of death in Indonesia is heart attack and stroke.

[05:25] stroke. Oke.
Stroke. Okay.

[05:26] Dan lucunya Bang Radit pasti bingung, "Dok, ada enggak sih persamaan serangan jantung sama stroke? Bukan itu dua organ yang berbeda. Serangan jantung ke jantung, stroke itu ke otak."
And the funny thing is, Bang Radit must be confused, 'Doc, is there any similarity between a heart attack and a stroke? Aren't they two different organs? A heart attack affects the heart, a stroke affects the brain.'

[05:35] Otak. Iya. Ternyata ada persamaannya, Bang.
The brain. Yes. It turns out there are similarities, Bang.

[05:37] Masalahnya sama-sama di pembuluh darahnya. Oke.
The problem is, it's both in the blood vessels. Okay.

[05:41] Namanya pembuluh darah arteri. Heeh.
It's called an artery. Uh-huh.

[05:44] Arteri itu yang dari jantung ke seluruh organ tubuh itu namanya arteri. Dinding dalam pembuluh darah arteri itu, Bang, lembut banget. Namanya endotel. Makanya darah kita bisa ngalir dengan lancarnya.
An artery is what carries blood from the heart to all organs of the body, that's called an artery. The inner wall of the artery, Bang, is very smooth. It's called the endothelium. That's why our blood can flow smoothly.

[05:54] Nah, ada res faktor-faktor resiko yang bikin dinding pembular itu rusak, Bang.
Now, there are risk factors that damage the walls of the blood vessels, Bang.

[05:59] Oke. Jadi kayak wallpaper robek gitu. Nah, makanya kolesterol berlebih atau gula dar itu nempel semua di situ. Jadi
Okay. So it's like a torn wallpaper. So, that's why excess cholesterol or blood sugar sticks all over there. So

[06:05] dar itu nempel semua di situ.
It all sticks there.

[06:05] Jadi sumbatan.
So it's a blockage.

[06:06] sumbatan.
Blockage.

[06:06] Oke.
Okay.

[06:07] Oke.
Okay.

[06:07] Kalau yang nyumbat di jantung namanya
If what clogs the heart is called

[06:08] Kalau yang nyumbat di jantung namanya serangan jantung.
If what clogs the heart is called a heart attack.

[06:10] serangan jantung.
heart attack.

[06:10] Kalau yang nyumbat di otak namanya stroke gitu.
If what clogs the brain is called a stroke.

[06:13] otak namanya stroke gitu.
the brain is called a stroke.

[06:13] Nah, kalau misalnya dia tersumbat itu otomatis ada
Now, if it gets blocked, it automatically causes

[06:17] misalnya dia tersumbat itu otomatis ada serangan jantung atau dia harus robek
for example, if it gets blocked, it automatically causes a heart attack or does it have to tear

[06:18] serangan jantung atau dia harus robek dulu?
a heart attack or does it have to tear first?

[06:18] dulu?
first?

[06:18] 100% 100%.
100% 100%.

[06:22] Kalau 100% sumbat itu serangan jantung, Bang.
If it's 100% blocked, it's a heart attack, bro.

[06:23] serangan jantung, Bang.
a heart attack, bro.

[06:23] Oke.
Okay.

[06:23] Oke.
Okay.

[06:23] Nah, awalnya dari robek dulu numpuk
Now, it starts from tearing first, accumulating

[06:25] Nah, awalnya dari robek dulu numpuk numbuk numpuk.
Now, it starts from tearing first, accumulating, accumulating, accumulating.

[06:26] numbuk numpuk.
accumulating, accumulating.

[06:26] Nah, makanya butuh tahunan kan enggak bisa langsung
So, it takes years, it can't happen instantly.

[06:28] tahunan kan enggak bisa langsung seketika.
years, it can't happen instantly.

[06:28] Dari 0 sampai 80 mungkin butuh tahunan.
From 0 to 80 might take years.

[06:31] tahunan.
years.

[06:31] Tapi dari 80 ke 100 bisa tuh, Bang.
But from 80 to 100 can happen quickly, bro.

[06:33] Tapi dari 80 ke 100 bisa tuh, Bang.
But from 80 to 100 can happen quickly, bro.

[06:33] Cep tiba-tiba 100%.
Suddenly it's 100%.

[06:35] Bang.
bro.

[06:35] Cep tiba-tiba 100%.
Suddenly it's 100%.

[06:37] Berarti mendingan kita City jantung tiap berapa tahun?
So it's better if we do a heart scan every few years?

[06:39] berapa tahun?
few years?

[06:39] jantung pernah, Bang?
Have you had a heart scan before, bro?

[06:40] Udah pernah pakai yang kontras enggak
Have you used the one with contrast before?

[06:41] pakai yang kontras enggak pakai?
used the one with contrast?

[06:42] pakai?
used?

[06:42] Oh, i keren.
Oh, I see, cool.

[06:43] Oh, i keren.
Oh, I see, cool.

[06:43] Itu 3 tahun yang lalu bersih.
That was 3 years ago, it was clear.

[06:45] Itu 3 tahun yang lalu bersih.
That was 3 years ago, it was clear.

[06:45] Wih, keren.
Wow, cool.

[06:45] Kita Bang Radit harus jagain itu seumur hidup Bang Radit nol itu se e
We, Bang Radit, have to maintain that for a lifetime, Bang Radit, zero, it's like

[06:47] itu seumur hidup Bang Radit nol itu se e ngulangnya kapan saya?
that for a lifetime, Bang Radit, zero, it's like when do I repeat it?

[06:50] ngulangnya kapan saya?
when do I repeat it?

[06:51] Ah, kayaknya Bang Radit kan sekarang masih 30 kan ya, Bang?
Ah, it seems Bang Radit is still 30 now, right, bro?

[06:53] masih 30 kan ya, Bang?
still 30 now, right, bro?

[06:54] Eh, [tertawa]
Uh, [laughter]

[06:57] 40 sih.
40, actually.

[06:59] 40 sih.
40, actually.

[06:59] 5 tahun lagi bisa.
In 5 more years, it's possible.

[07:00] 5 tahun lagi bisa.
In 5 more years, it's possible.

[07:00] Ah, masih oke.
Ah, still okay.

[07:00] Masih oke.
Still okay.

[07:02] Nanti kalau 50 tahun bolehlah setahun sekali tuh kalau ada keluhan.
Later, when you're 50, maybe once a year if there are any complaints.

[07:04] tahun bolehlah setahun sekali tuh kalau ada keluhan.
years old, maybe once a year if there are any complaints.

[07:04] ada keluhan.
any complaints.

[07:04] Saya sudah scan otak juga sih.
I've had my brain scanned too.

[07:06] Saya sudah scan otak juga sih.
I have also scanned my brain.

[07:06] Aman juga, bersih, aman juga, bersih, keranjang isinya.
It's safe too, clean, it's safe too, clean, the basket is full.

[07:07] Iya.
Yes.

[07:09] keranjang isinya.
the basket is full.

[07:09] Iya.
Yes.

[07:12] Oh itu mata ya?
Oh, that's the eye?

[07:12] Itu mata jadi otak.
That's the eye becoming the brain.

[07:14] Otak keranjang mata keranjang.
Brain basket eye basket.

[07:14] Aduh jangan salah.
Oh, don't be mistaken.

[07:15] Oke.
Okay.

[07:18] Ee berarti sering banget e berarti kita harus jagain apa sih kira-kira yang bisa ngerusak dinding dalam itu kan Bang?
So it means very often, it means what should we protect, what could possibly damage the inner walls, right, Bang?

[07:22] Apa aja tuh faktor resikonya?
What are the risk factors?

[07:24] He.
Heh.

[07:25] Nah, salah satu yang terbanyak dan angkanya terus meningkat adalah diabetes.
Well, one of the most common and the numbers continue to increase is diabetes.

[07:29] Hm.
Hm.

[07:29] Gula darah yang meningkat.
Increased blood sugar.

[07:33] Bang Radit pernah enggak cek gula setiap tahun?
Has Bang Radit ever checked his sugar every year?

[07:34] Ah, itu angkanya berapa?
Ah, what is that number?

[07:36] Oh, gula darah puasa ya.
Oh, fasting blood sugar, right.

[07:37] Eh, enggak gula.
Uh, not sugar.

[07:37] Oh, ya.
Oh, yes.

[07:38] Gud darah puasa di boleh godar puasa itu 89 sampai 95 cakep karena kan yang normal antara 80 sampai 120 tuh Bang.
Fasting blood sugar is allowed, fasting blood sugar is 89 to 95, that's good because the normal range is between 80 to 120, Bang.

[07:48] itu ada satuannya milgram dil.
there is a unit, milligrams per deciliter.

[07:49] Heeh.
Heeh.

[07:50] Aku ambil tengah-tengah dar 100.
I'll take the average of 100.

[07:51] He.
He.

[07:54] 100 mg/dl.
100 mg/dl.

[07:54] Sekarang aku rubah miligram jadi gram desciliter jadi liter.
Now I'll change milligrams to grams per deciliter to per liter.

[07:56] Artinya dalam satu liter darah Bang Radit hanya boleh ada gula 1 gram.
Meaning, in one liter of Bang Radit's blood, there should only be 1 gram of sugar.

[08:00] Hah?
Huh?

[08:02] Bang Radit punya 5 liter darah berarti hanya boleh ada gula 5 gr.
Bang Radit has 5 liters of blood, meaning there can only be 5 grams of sugar.

[08:04] Pertanyaannya berapa gram gula yang Bang Radit masukkan setiap harinya?
The question is, how many grams of sugar does Bang Radit consume every day?

[08:07] masukkan setiap harinya? Wah, itu kalau dibungkus [tertawa]
Put it in every day? Wow, if it's wrapped [laughter]

[08:09] Wah, itu kalau dibungkus [tertawa] itu kan udah banyak.
Wow, if it's wrapped [laughter], that's already a lot.

[08:11] banyak.
A lot.

[08:11] Satu porsi tuh bisa 12 gr, ada yang 7
One portion can be 12 grams, some are 7

[08:13] Satu porsi tuh bisa 12 gr, ada yang 7 30, ada yang 30.
One portion can be 12 grams, some are 7 30, some are 30.

[08:15] 30, ada yang 30.
30, some are 30.

[08:15] Nah, kok bisa Bang Radit hajar terus
So, how can Bang Radit keep consuming

[08:18] Nah, kok bisa Bang Radit hajar terus gula gitu tapi kok gula darah tetap
So, how can Bang Radit keep consuming sugar like that but blood sugar remains

[08:19] gula gitu tapi kok gula darah tetap stabil? Itu organ mana Bang yang kerja
sugar like that but blood sugar remains stable? Which organ, Bang, is working hard?

[08:21] stabil? Itu organ mana Bang yang kerja keras?
stable? Which organ, Bang, is working hard?

[08:22] keras? Pankreas.
hard? The pancreas.

[08:23] Pankreas.
The pancreas.

[08:23] Betul. Itu organ yang bentuknya mirip
Correct. It's an organ shaped like

[08:25] Betul. Itu organ yang bentuknya mirip daun letaknya ada di bawah lambung kita.
Correct. It's an organ shaped like a leaf, located below our stomach.

[08:27] daun letaknya ada di bawah lambung kita. Dia menghasilkan insulin.
a leaf, located below our stomach. It produces insulin.

[08:29] Dia menghasilkan insulin. Oke.
It produces insulin. Okay.

[08:29] Oke. Nah, insulin dia ngapain? dia keluar
Okay. So, what does insulin do? It comes out

[08:31] Nah, insulin dia ngapain? dia keluar untuk nangkapin gula-gula darah berlebih
So, what does insulin do? It comes out to capture excess blood sugar

[08:33] untuk nangkapin gula-gula darah berlebih untuk segera keluar dari pembuluh darah.
to capture excess blood sugar to quickly exit the bloodstream.

[08:35] untuk segera keluar dari pembuluh darah. Nah, organ tubuh yang ditawarin sama
to quickly exit the bloodstream. So, the body organ that is offered by

[08:37] Nah, organ tubuh yang ditawarin sama insulin pertama kali adalah otot.
So, the body organ that is offered by insulin first is muscle.

[08:39] insulin pertama kali adalah otot. Otot, kamu mau enggak gula?
insulin first is muscle. Muscle, do you want sugar?

[08:42] Otot, kamu mau enggak gula? Kata otot,
Muscle, do you want sugar? The muscle said,

[08:42] "Enggak, aku lagi rebahan, lagi nonton
"No, I'm lounging, watching

[08:43] "Enggak, aku lagi rebahan, lagi nonton Dracore season 6."
"No, I'm lounging, watching Dracore season 6."

[08:45] Dracore season 6." Panjang juga season.
Dracore season 6." That's a long season.

[08:46] Panjang juga season.
That's a long season.

[08:46] Panjang juga season 6
That's a long season 6

[08:47] Panjang juga season 6 rajin [tertawa] juga.
That's a long season 6, diligent [laughter] too.

[08:48] rajin [tertawa] juga. Iya. Terus dia kasih ke otak, "Otak,
diligent [laughter] too. Yes. Then it's given to the brain, "Brain,

[08:50] Iya. Terus dia kasih ke otak, "Otak, kamu mau enggak gula?"
Yes. Then it's given to the brain, "Brain, do you want sugar?"

[08:52] kamu mau enggak gula?" Kata otak,
do you want sugar?" The brain said,

[08:52] "Enggak, aku lagi enggak mikir." Terus
"No, I'm not thinking right now." Then

[08:54] "Enggak, aku lagi enggak mikir." Terus ditaruh di mana dong, Bang? kan harus
"No, I'm not thinking right now." Then where should it be put, Bang? It has to

[08:56] ditaruh di mana dong, Bang? kan harus segera keluar dari pembuluh darah sama
be put somewhere, Bang? It has to quickly exit the bloodstream with

[08:58] segera keluar dari pembuluh darah sama insulin ditaruhlah di tempat yang enggak
quickly exit the bloodstream with insulin, it's put in a place that doesn't have

[09:00] insulin ditaruhlah di tempat yang enggak ada kuotanya yaitu lemak yang di bawah
insulin, it's put in a place that doesn't have a quota, which is the fat under

[09:03] ada kuotanya yaitu lemak yang di bawah kulit
a quota, which is the fat under the skin

[09:04] kulit jadilah lemak makanya insulin disebut
skin, becoming fat. That's why insulin is called

[09:06] jadilah lemak makanya insulin disebut fat storing hormon hormon yang
becoming fat. That's why insulin is called the fat-storing hormone, the hormone that

[09:08] fat storing hormon hormon yang numpuk-numpukin lemak gitu
Fat-storing hormone, a hormone that accumulates fat like that.

[09:10] numpuk-numpukin lemak gitu oke
Accumulates fat like that, okay.

[09:10] oke jadi selama pankreas kita masih cinta
Okay, so as long as our pancreas still loves us,

[09:13] jadi selama pankreas kita masih cinta sama kita, masih mau kerja keras buat kita, kita enggak bakal kena diabetes.
So as long as our pancreas still loves us, still wants to work hard for us, we won't get diabetes.

[09:17] kita, kita enggak bakal kena diabetes. Kita hanya akan menggemuk.
We won't get diabetes. We will only get fat.

[09:19] Kita hanya akan menggemuk. Nah, kok bisa jadi diabetes?
We will only get fat. Now, how can it become diabetes?

[09:20] Nah, kok bisa jadi diabetes? Masalahnya kita enggak tahu kapan
Now, how can it become diabetes? The problem is we don't know when

[09:22] pankreas menyerah. Oh,
the pancreas gives up. Oh,

[09:24] kata Pakres, "Kamu enggak sayang sama aku, aku juga enggak sayang sama kamu."
The pancreas says, 'You don't love me, so I don't love you either.'

[09:27] Akhirnya dia bikin insulinnya ngacau-ngacau, bentuknya juga aneh-aneh.
Finally, it makes its insulin go haywire, and the forms are also strange.

[09:30] ngacau-ngacau, bentuknya juga aneh-aneh. Selisten sama insulin kebanyakan. Air
Haywire, and the forms are also strange. Too much insulin. Water

[09:34] Selisten sama insulin kebanyakan. Air gula darahnya naik, Bang.
Too much insulin. The blood sugar rises, bro.

[09:36] gula darahnya naik, Bang. Karena insulin yang diproduksi udah
The blood sugar rises, bro. Because the insulin produced is already

[09:38] enggak mencukupi.
insufficient.

[09:39] Udah enggak akhirnya harus suntik-suntik dari luar.
It's no longer enough, so you have to inject from the outside.

[09:42] I see.
I see.

[09:42] Nah, itu yang mahal kan pen-pen insulin itu.
Now, those insulin pens are expensive, right?

[09:45] Kenapa kalau kita masuk IGD yang ditanyain tuh ada diabetes apa enggak?
Why is it that when we go to the ER, the first thing they ask is if you have diabetes or not?

[09:50] Itu sering banget ditanya.
That's asked very often.

[09:51] Betul. Makanya aku selalu sering bahas
Correct. That's why I always often discuss

[09:53] tentang ini juga karena once itu heat ya di atas 200 mg itu kan diagnosisnya masuk tuh diabetes
this too because once it hits, you know, above 200 mg, the diagnosis is diabetes.

[09:59] itu akan jadi induk dari berbagai macam komplikasi. Makanya mother of theasis
it will become the parent of various complications. That's why the mother of all diseases

[10:04] itu wow kebutaan, gagal ginjal, gagal hati,
is, wow, blindness, kidney failure, liver failure,

[10:08] wow kebutaan, gagal ginjal, gagal hati, gagal berhubungan seksual, impotensi itu
Wow, blindness, kidney failure, liver failure, failure to have sex, impotence, that's

[10:11] gagal berhubungan seksual, impotensi itu gara-gara gula darah yang berlebih tadi
failure to have sex, impotence, it's because of excess blood sugar earlier.

[10:13] gara-gara gula darah yang berlebih tadi gitu.
It's because of excess blood sugar earlier.

[10:14] gitu. Ngejaganya cukup dengan tidak konsumsi
That's it. Maintaining it is enough by not consuming

[10:17] Ngejaganya cukup dengan tidak konsumsi gula berlebih.
Maintaining it is enough by not consuming excess sugar.

[10:18] gula berlebih. Memang pangkres kita enggak selemah itu,
Excess sugar. Our pancreas isn't that weak,

[10:19] Memang pangkres kita enggak selemah itu, Bang. He
Our pancreas isn't that weak, bro. He

[10:20] Bang. He dia masih mampulah kerja. Tapi jangan di
Bro. He it's still capable of working. But don't

[10:22] dia masih mampulah kerja. Tapi jangan di dari WHO, dari e ke Mkes juga usahain di
it's still capable of working. But don't, from WHO, from the Ministry of Health too, try to keep it

[10:25] dari WHO, dari e ke Mkes juga usahain di bawah 50 gr aja per hari. Masih aman
from WHO, from the Ministry of Health too, try to keep it below 50 grams per day. It's still safe

[10:27] bawah 50 gr aja per hari. Masih aman gula.
below 50 grams per day. Sugar is still safe.

[10:28] gula. Heeh.
Sugar. Uh-huh.

[10:29] Heeh. Artinya ngejaganya cukup itu. Sementara
Uh-huh. That means maintaining it is enough. Meanwhile,

[10:31] Artinya ngejaganya cukup itu. Sementara selama konsumsi gula kita enggak gede
That means maintaining it is enough. Meanwhile, as long as our sugar consumption isn't high,

[10:34] selama konsumsi gula kita enggak gede aman.
as long as our sugar consumption isn't high, it's safe.

[10:34] aman. Iya. Di bawah 50 plus ayo naikin masa
Safe. Yes. Below 50, let's increase muscle

[10:38] Iya. Di bawah 50 plus ayo naikin masa ototnya.
Yes. Below 50, let's increase muscle mass.

[10:39] ototnya. Oh
Mass. Oh

[10:40] Oh otot itu segalanya Bang. Bang Radit
Oh, muscle is everything, bro. Bro Radit

[10:42] otot itu segalanya Bang. Bang Radit kalau di rumah ada olahraga itu yang
muscle is everything, bro. Bro Radit, if at home there's exercise, that's what

[10:45] kalau di rumah ada olahraga itu yang diprotes sendiri. Oke, oke, oke. Muscle
if at home there's exercise, that's what you protest yourself. Okay, okay, okay. Muscle

[10:47] diprotes sendiri. Oke, oke, oke. Muscle mes, muscle mes. Karena dia masuk kan ke
protest yourself. Okay, okay, okay. Muscle mass, muscle mass. Because it enters

[10:49] mes, muscle mes. Karena dia masuk kan ke dalam otot-otot kita si gula-gula itu.
mass, muscle mass. Because it enters our muscles, that sugar.

[10:51] dalam otot-otot kita si gula-gula itu. Bisa. Oke. Jadi, e respon terhadap
our muscles, that sugar. Possible. Okay. So, uh, the response to

[10:52] Bisa. Oke. Jadi, e respon terhadap insulinnya lebih bagus. Heeh. Keserap
Possible. Okay. So, uh, the response to insulin is better. Uh-huh. Absorbed

[10:55] insulinnya lebih bagus. Heeh. Keserap kan.
is better. Uh-huh. Absorbed, right?

[10:55] kan. Mungkin enggak orang kalau udah makin
Right? Isn't it possible that as people get

[10:58] Mungkin enggak orang kalau udah makin tua pankreasnya makin susah ngeluarin
Isn't it possible that as people get older, their pancreas has more difficulty releasing

[11:02] tua pankreasnya makin susah ngeluarin insulin gitu mungkin enggak sih?
older, their pancreas has more difficulty releasing insulin?

[11:04] insulin gitu mungkin enggak sih? Iya. S-sel juga resistance sel-sel organ
insulin? Yes. Cells also have resistance, other organ cells

[11:06] Iya. S-sel juga resistance sel-sel organ tubuh lain kan.
Yes. Other organ cells also have resistance, right?

[11:07] tubuh lain kan. Hanya karena penuaan.
right? Just because of aging.

[11:08] Hanya karena penuaan. Penuaan juga bisa. Tapi ya kebanyakan
Just because of aging. Aging can also be a factor. But mostly

[11:10] Penuaan juga bisa.
Aging can also happen.

[11:12] Tapi ya kebanyakan sih kebanyakan kebanyakan makan gulanya itu yang bikin dia enggak oke.
But yeah, mostly, mostly, mostly eating sugar is what makes him not okay.

[11:16] Nah, Bang kalau misalkan gula kan 200 sudah diabetes.
Well, bro, if, for example, sugar is 200, it's already diabetes.

[11:22] Aku pernah terima pasien yang udah komplikasi.
I once received a patient who had complications.

[11:27] Komplikasinya bentuknya ee ini ee gangren.
The complication was in the form of, uh, this, uh, gangrene.

[11:28] Bang Radit pernah dengar gangren engak sih?
Have you ever heard of gangrene, Bro Radit?

[11:32] Iya. Baunya tuh kan dahsyat sekali.
Yes. The smell is really tremendous.

[11:36] J aku sama perawatku lagi duduk terus lagi nulis kita kayak ke hirup kita lihat-lihatan.
I was sitting with my nurse, writing, and we seemed to smell it and looked at each other.

[11:39] Dok, bau ini. Iya. Ini bau apa? Dari mana sumber?
Doctor, this smell. Yes. What is this smell? Where is the source?

[11:47] Terus kita lihat ada orang datang kita cowok-cowok kira-kira seumurlah gitu.
Then we saw someone coming, guys, around the same age, like that.

[11:51] Berdua berdua. He, "Dok, tolongin, Dok. Dok, ini lemas, Dok."
Two of them. He said, "Doctor, help, Doctor. Doctor, I'm weak, Doctor."

[11:53] Uh, mukanya udah pucet anyep.
Uh, his face was pale and clammy.

[11:57] Ayo masuk, masuk, masuk.
Come in, come in, come in.

[11:59] Ditaruh di betnya dicek tensinya tinggi pas dicek gulanya 500-an lah kira-kira.
Put him on the bed, checked his blood pressure, it was high, and when checked, his sugar was around 500.

[12:03] Buset. 500, Dok. Itu, Dok.
Wow. 500, Doctor. That's it, Doctor.

[12:07] Kaki jempol. Oh iya. Aku buka dia
Big toe. Oh, yes. I opened his

[12:11] Kaki jempol.
Thumb foot.

[12:11] Oh iya.
Oh, right.

[12:11] Aku buka dia nutupin pakai kayak kain.
I opened it, it was covered with something like cloth.

[12:14] Kain nutupin pakai kayak kain.
Cloth covering with something like cloth.

[12:14] Kain apa sih?
What kind of cloth is it?

[12:16] Kain kain biasa lag gitu.
Just ordinary cloth again.

[12:16] Aku buka.
I opened it.

[12:18] Aku buka.
I opened it.

[12:18] Mana jempolnya?
Where is the thumb?

[12:20] Mana jempolnya?
Where is the thumb?

[12:21] Hah?
Huh?

[12:21] Jempolnya enggak ada.
The thumb is not there.

[12:21] Jempolnya copot.
The thumb came off.

[12:23] Jempolnya enggak ada.
The thumb is not there.

[12:23] Jempolnya copot.
The thumb came off.

[12:25] Kalau ke sekarang [tertawa] jempol sekarang jempol copot.
If it's now [laughter] the thumb, now the thumb came off.

[12:27] sekarang jempol copot.
now the thumb came off.

[12:27] Eh kamu tadi lihat ada jempol enggak?
Hey, did you see a thumb earlier?

[12:29] Eh kamu tadi lihat ada jempol enggak?
Hey, did you see a thumb earlier?

[12:29] Jempol copot.
The thumb came off.

[12:30] Jempol copot.
The thumb came off.

[12:31] Jempolnya [tertawa] jempolnya geng.
The thumb [laughter] the thumb, dude.

[12:33] jempolnya geng.
the thumb, dude.

[12:33] Jempolnya copot.
The thumb came off.

[12:33] Enggak ada di situ.
It's not there.

[12:35] Jempolnya copot.
The thumb came off.

[12:35] Enggak ada di situ.
It's not there.

[12:36] Enggak ada di IG.
It's not on IG.

[12:36] Di kakinya di kaki.
On its foot, on the foot.

[12:38] Di kakinya di kaki.
On its foot, on the foot.

[12:38] Makanya udah cari cari cari.
That's why I've been searching and searching and searching.

[12:40] cari cari.
searching and searching.

[12:40] [tertawa] Eh, enggak boleh ketawa sih.
[laughter] Hey, you shouldn't laugh.

[12:43] Eh, enggak boleh ketawa sih.
Hey, you shouldn't laugh.

[12:43] Dikasihan.
Poor thing.

[12:43] Aku fokus aku fokus aku fokus.
I'm focusing, I'm focusing, I'm focusing.

[12:45] Aku fokus aku fokus aku fokus.
I'm focusing, I'm focusing, I'm focusing.

[12:45] Goals aku tetap stabilin tanda-tanda vitalnya dulu gitu.
My goal is to stabilize the vital signs first.

[12:47] Goals aku tetap stabilin tanda-tanda vitalnya dulu gitu.
My goal is to stabilize the vital signs first.

[12:47] Tapi jempolnya mana?
But where is the thumb?

[12:49] vitalnya dulu gitu.
the vital signs first.

[12:49] Tapi jempolnya mana?
But where is the thumb?

[12:49] [tertawa] Iya ya boleh mana?
[laughter] Yeah, okay, where?

[12:50] Iya ya boleh mana?
Yeah, okay, where?

[12:50] Ya itu juga pertanyaanku.
That's also my question.

[12:52] Ya itu juga pertanyaanku.
That's also my question.

[12:52] Jempolnya mana?
Where is the thumb?

[12:54] mana?
where?

[12:54] Jempolnya mana?
Where is the thumb?

[12:56] Jempolnya mana?
Where is the thumb?

[12:56] Ya udah aku minta peratku untuk cari kali dia waktu jalan
Alright, I asked my friend to look for it, maybe when it was walking

[12:58] peratku untuk cari kali dia waktu jalan jalan jatuh gitu.
my friend to look for it, maybe when it was walking, it fell.

[13:01] jalan jatuh gitu.
it fell.

[13:01] Lalu lalu lalu udah urusin cari-cari dulu udah aku
Then, then, then, after dealing with searching first, I

[13:03] udah urusin cari-cari dulu udah aku urusin dia.
after dealing with searching first, I took care of it.

[13:03] Wah, itu kan harus itu dehidrasi berat kan, Mang?
Wow, that must be severe dehydration, right, Mang?

[13:05] dehidrasi berat kan, Mang?
severe dehydration, right, Mang?

[13:05] Kalau kalau gula sampai setinggi itu tuh pasti
If the sugar gets that high, it must cause

[13:07] Kalau kalau gula sampai setinggi itu tuh pasti dehidrasi.
If the sugar gets that high, it must cause dehydration.

[13:08] dehidrasi.
dehydration.

[13:08] Karena kan ginjal berusaha ngeluarin gula dari urin,
Because the kidneys try to excrete sugar from the urine,

[13:10] Karena kan ginjal berusaha ngeluarin gula dari urin,
Because the kidneys try to excrete sugar from the urine,

[13:13] ngeluarin gula dari urin, makanya disebut kencing manis.
It removes sugar from urine, that's why it's called sweet urine.

[13:14] Itu makanya disebut kencing manis.
That's why it's called sweet urine.

[13:16] Itu kencingnya itu dirubung semut tuh, Bang.
That urine is swarmed by ants, Bang.

[13:17] Kalau kalau ada semut
If if there are ants

[13:19] kalau ada semut dihidrasi berat aku langsung masukin
if there are ants with severe dehydration I immediately give

[13:21] dihidrasi berat aku langsung masukin dulu infusan dua sampai tiga kantong aku
severe dehydration I immediately give first infusion two to three bags I

[13:23] masukin udah beres, udah mulai stabil,
give it's done, it's starting to stabilize,

[13:25] udah mulai aduh ada senyamnya lagi gitu.
it's starting to oh there's a twitch again like that.

[13:27] Pak, Bapak gimana ceritanya? Iya, Dok.
Sir, Sir, what's your story? Yes, Doctor.

[13:30] Saya tuh merantau. Nah, kasus-kasus
I was migrating. Now, cases

[13:32] Saya tuh merantau. Nah, kasus-kasus merantau sendirian tuh makin lama makin
I was migrating. Now, cases of migrating alone are becoming more and more

[13:34] banyak deh, Bang. Aku lihat
numerous, Bang. I see

[13:35] he
he

[13:35] laki-laki merantau, enggak ada keluarga,
men migrating, no family,

[13:37] enggak ada siapa-siapa. Jadi dia dikosan
no one. So he in his boarding house

[13:39] sendirian.
alone.

[13:40] Heeh.
Heeh.

[13:40] Dan dia itu tetangga kosan ternyata
And he, it turns out the boarding house neighbor

[13:42] bukan keluarga yang tadi nemenin itu.
was not the family who accompanied him earlier.

[13:44] Oke.
Okay.

[13:45] Dia kecium bau juga. Dia samperin
He smelled it too. He went over

[13:47] diketok-ketok. Pak, Bapak kenapa aku
knocked. Sir, Sir, why am I

[13:50] lemas banget? Lemas banget. Dibawa dan
so weak? So weak. He was taken and

[13:52] dia baru tahu gulanya segitu. Setelah
he only then found out his sugar was that high. After

[13:54] dia luka dan lain-lak urus sendiri diri
he got wounds and other things, he took care of himself by himself.

[13:57] sendiri.
himself.

[13:58] Enggak enggak enggak. Gimana yang ya
No, no, no. How, well

[14:01] mungkin susah kali gimana
it might be difficult, how

[14:03] enggak ada ngingetin juga kali enggak
there's no one to remind him, perhaps, no

[14:05] enggak ada yang ngecekin enggak ada yang
no one to check on him, no one

[14:06] minta dia ke dokter begitu datang ke IGD
asked him to go to the doctor, upon arriving at the ER

[14:08] ini GD dong pasti jempolnya udah enggak
this ER, surely his thumb is already gone

[14:10] ada jempol kaki.
no toe thumb.

[14:11] Iya emang si telapak juga menghitam kan.
Yes, the sole of his foot also turned black, right.

[14:14] Iya emang si telapak juga menghitam kan.
Yes, the sole also turned black, right?

[14:17] Oke. Pas tanya ke dia berarti udah copot.
Okay. When asked him, it means it had already come off.

[14:19] di ini masih misteri jempol di mana jempol itu ternyata pada prinsipnya udah kamu dirawat dulu ya.
This thumb is still a mystery, where the thumb is, it turns out that in principle, you should be treated first, okay?

[14:23] prinsipnya udah kamu dirawat dulu ya. Karena kenapa sih bisa copot?
In principle, you should be treated first, okay? Because why did it come off?

[14:25] Karena kenapa sih bisa copot? Heeh. Karena misalkan dia luka tuh, Bang, yang gula darah tinggi itu gula itu kan makanannya bakteri.
Because why did it come off? Uh-huh. Because, for example, if he has a wound, bro, that high blood sugar, that sugar is food for bacteria.

[14:29] makanannya bakteri. Makanannya bakteri itu bukan lemper, bukan [tertawa] makan itu kan gula kan.
Food for bacteria. Food for bacteria is not lemper, not [laughter] food, it's sugar, right?

[14:33] Jadi dia punya energi buat membelah diri. Satu jadi dua, dua jadi empat p jadi gerogotin semua sel-sel di kakinya itu jadilah teramputasi.
So it has energy to divide itself. One becomes two, two becomes four, then it eats away at all the cells in his leg, resulting in amputation.

[14:39] sel-sel di kakinya itu jadilah teramputasi. Enggak ngeren dengan bau kayak gitu gitu. Jadi kayak membusuk.
The cells in his leg became amputated. It doesn't matter with a smell like that. So it's like rotting.

[14:47] kayak gitu gitu. Jadi kayak membusuk. Heeh. Berarti kan aku harus masukin antibiotik.
Like that. So it's like rotting. Uh-huh. That means I have to give antibiotics.

[14:50] antibiotik. Heeh. Dehidrasinya harus diberesin sama gula darahnya diturunin sedemikian rupa.
Antibiotics. Uh-huh. The dehydration must be resolved and the blood sugar lowered accordingly.

[14:55] gula darahnya diturunin sedemikian rupa. Oke. Mau dirawat.
The blood sugar is lowered accordingly. Okay. Want to be treated.

[14:58] Mau dirawat. Pas masuk lagi sih yang nemenin tadi, "Mas, ini harus dirawat."
Want to be treated. When he came in again, the one accompanying him said, "Mas, this needs to be treated."

[15:02] Oke. Oke. Dok rawat aja daripada di kosan kita juga bingung gitu.
Okay. Okay. Doctor, just treat it, because at the boarding house we would also be confused.

[15:06] bingung gitu. Oke. Oke. Ya udah nih urus kamar dulu. Oh ya, Dok.
Confused. Okay. Okay. Alright, I'll take care of the room first. Oh yes, Doctor.

[15:09] Ya udah nih urus kamar dulu. Oh ya, Dok. Ini, Dok. Bentar, Dok.
Alright, I'll take care of the room first. Oh yes, Doctor. Here, Doctor. Wait, Doctor.

[15:11] Heh. Ini tadi jempolnya ada di kosan
Heh. This thumb was at the boarding house earlier.

[15:16] di dalam kantong kresek yang 2 kiloan
inside a 2-kilo plastic bag

[15:18] di dalam kantong kresek yang 2 kiloan itu loh, Bang.
inside that 2-kilo plastic bag, bro.

[15:20] Jadi, jadi copotnya di kosan ternyata diambil sama si teman kosannya itu dimasuk.
So, so it was removed at the boarding house, it turned out it was taken by the roommate and put in.

[15:23] Dokter butuh enggak, Dok?
Does the doctor need it, Doc?

[15:28] [tertawa] Ya butuh sih, tapi
[laughter] Yes, I need it, but

[15:30] ya butuh sih.
yes, I need it.

[15:33] Ternyata enggak bisa dipasang juga.
It turns out it can't be installed either.

[15:35] Jadi paling ya di deb demen kita deb demang
So at most, we'll just clean the dead tissues.

[15:37] itu dibersihin jaringan-jaringan yang udah matinya itu.
those dead tissues will be cleaned.

[15:39] Jadi enggak bisa disatuin lagi.
So they can't be reattached.

[15:41] Ternyata udah ini banget.
It turns out it's really bad.

[15:43] Oke. Oke.
Okay. Okay.

[15:44] Berarti diabetes tidak terkontrol ujungnya bisa gangren.
So uncontrolled diabetes can lead to gangrene.

[15:46] Iya.
Yes.

[15:48] Itu salah satu komplikasi.
That's one of the complications.

[15:50] Tapi ya bisa juga serangan jantung dan stroke kan.
But it can also cause heart attack and stroke, right?

[15:50] Oke.
Okay.

[15:51] Karena itu mother of the tadi induk dari berbagai macam penyakit
Because it's the mother of, the origin of various diseases

[15:53] itu mengerikan banget sih diabetes itu
diabetes is really terrifying.

[15:55] mengerikan banget sih.
It's really terrifying.

[15:56] Tapi dia tentu enggak langsung jempol copot kan dia ada
But of course, it doesn't immediately result in a lost thumb, does it? There's a process.

[15:59] pasti menghitam dulu.
It definitely turns black first.

[16:01] Dia kan pertama mati rasa dulu.
First, it causes numbness.

[16:02] Itu yang bikin dia luka tidak kerasa.
That's what makes the wound unfelt.

[16:04] Oh
Oh

[16:07] dia tuh mati rasa, Bang.
it causes numbness, bro.

[16:08] Makanya jempol cepat di mana pun dia enggak akan
That's why no matter where the thumb gets injured, it won't be felt.

[16:10] kerasa.
felt.

[16:11] Mati rasa.
Numbness.

[16:13] Neuropati kita sebut.
We call it neuropathy.

[16:14] Heeh.
Uh-huh.

[16:14] Nah, jadi dia ketusuk misalkan kan pakai alas
So, if it gets pricked, for example, using footwear

[16:16] jadi dia ketusuk misalkan kan pakai alas kaki kena aja kesenggol berdarah bakteri
So he gets stabbed, for example, wearing footwear, it just gets hit, grazed, bleeding, bacteria

[16:19] kaki kena aja kesenggol berdarah bakteri masuk
the foot just gets hit, grazed, bleeding, bacteria enters

[16:21] masuk gerogotin gerogotin gerogotin gitu.
enters, gnawing, gnawing, gnawing like that.

[16:23] gerogotin gerogotin gerogotin gitu. Begitu berarti penanganannya apa?
gnawing, gnawing, gnawing like that. So, what's the treatment?

[16:25] Begitu berarti penanganannya apa? Diamputasiah?
So, what's the treatment? Amputation?

[16:26] Diamputasiah? Eh, dibersihin jaringan matinya terus ya
Amputation? Uh, clean out the dead tissue, then

[16:28] Eh, dibersihin jaringan matinya terus ya tadi kasih antibiotik, turunin gulanya
Uh, clean out the dead tissue, then give antibiotics, lower the sugar

[16:31] tadi kasih antibiotik, turunin gulanya terus ya
then give antibiotics, lower the sugar, then

[16:33] terus ya stabil lah gitu dehidrasinya.
then, stabilize the dehydration.

[16:35] stabil lah gitu dehidrasinya. Kalau udah 500 bisa normal enggak?
stabilize the dehydration. If it's already 500, can it become normal?

[16:39] Kalau udah 500 bisa normal enggak? Bisa. Bisa. Bisa. Bisa.
If it's already 500, can it become normal? Yes. Yes. Yes. Yes.

[16:40] Bisa. Bisa. Bisa. Bisa. Tanpa obat?
Yes. Yes. Yes. Yes. Without medication?

[16:41] Tanpa obat? Enggak. Enggak. Enggak harus pakai
Without medication? No. No. It must use

[16:42] Enggak. Enggak. Enggak harus pakai bantuin obat. Insulin. Insulin. Pakai
No. No. It must use medication assistance. Insulin. Insulin. Use

[16:44] bantuin obat. Insulin. Insulin. Pakai insulin
medication assistance. Insulin. Insulin. Use insulin

[16:45] insulin udah karena pankreasnya udah enggak
insulin already because the pancreas is no longer

[16:46] udah karena pankreasnya udah enggak kayak dulu lagi tuh.
is no longer like it used to be.

[16:47] kayak dulu lagi tuh. Heeh. Kurang. Kurang. Jadi harus
like it used to be. Yes. Insufficient. Insufficient. So must

[16:49] Heeh. Kurang. Kurang. Jadi harus tambahin insulin dari luar.
Yes. Insufficient. Insufficient. So must add insulin from outside.

[16:50] tambahin insulin dari luar. Berarti kalau kalau kita udah
add insulin from outside. So if we have already

[16:52] Berarti kalau kalau kita udah prediabetes, mendingan langsung ubah
So if we have already prediabetes, it's better to immediately change

[16:54] prediabetes, mendingan langsung ubah gaya hidup sekalian aja ya
prediabetes, it's better to immediately change lifestyle all at once, right?

[16:56] gaya hidup sekalian aja ya wajib. Itu pondasi pertama adalah
lifestyle all at once, right? Mandatory. The first foundation is

[16:58] wajib. Itu pondasi pertama adalah perubahan pola makan dan gaya hidup
mandatory. The first foundation is a change in diet and lifestyle

[16:59] perubahan pola makan dan gaya hidup gitu.
change in diet and lifestyle, like that.

[17:01] gitu. Dia enggak bisa lagi sembarangan makan.
like that. He can no longer eat carelessly.

[17:03] Dia enggak bisa lagi sembarangan makan. Hitung tuh gulanya berapa, sanggup
He can no longer eat carelessly. Calculate how much sugar there is, can he

[17:05] Hitung tuh gulanya berapa, sanggupenggak gitu. Terus tentang nasi juga
Calculate how much sugar there is, can he or not, like that. Then about rice too

[17:07] enggak gitu. Terus tentang nasi juga sama.
or not, like that. Then about rice too, the same.

[17:07] sama. Heeh.
the same. Yes.

[17:08] Heeh. Dulu kalau kita makan nasi kebanyakan, Bang.
Yes. Before, if we ate too much rice, Bro.

[17:10] Dulu kalau kita makan nasi kebanyakan, Bang. Heeh.
Before, if we ate too much rice, Bro. Yes.

[17:11] Heeh. Apa kata orang tua kita?
Yes. What did our parents say?

[17:13] Apa kata orang tua kita? Habisin, Nak. Nanti nasinya nangis.
What did our parents say? Finish it, child. The rice will cry later.

[17:15] Habisin, Nak. Nanti nasinya nangis. Bukan
Finish it, child. The rice will cry later. Not

[17:15] Bukan nangis. Iya.
Not crying. Yes.

[17:16] nangis. Iya. Padahal biarin aja nangis biar di
crying. Yes. Even though it's better to let it cry so that

[17:18] Padahal biarin aja nangis biar di ngelola emosinya dia sendiri bukan.
But just let them cry so they can manage their own emotions, right?

[17:19] ngelola emosinya dia sendiri bukan.
manage their own emotions, right?

[17:23] Biarin aja.
Just let it be.

[17:25] Biarin aja.
Just let it be.

[17:25] Emang kenapa, Bang?
Why is that, bro?

[17:26] Emang kenapa, Bang?
Why is that, bro?

[17:26] Emang kenapa?
Why is that?

[17:28] Emang kenapa?
Why is that?

[17:28] Lu mau nangis-nangis aja lu belajar regulasi emosi.
You want to cry, just learn emotional regulation.

[17:30] lu belajar regulasi emosi.
learn emotional regulation.

[17:30] Iya silakan aja.
Yes, please do.

[17:32] Iya silakan aja.
Yes, please do.

[17:32] Oke.
Okay.

[17:32] Karena karena itu endingnya juga kan kalau
Because, because that's the end result too, if

[17:34] karena itu endingnya juga kan kalau kebanyakan nasi juga enggak oke kan.
because that's the end result too, if too much rice isn't good either, right?

[17:36] kebanyakan nasi juga enggak oke kan.
too much rice isn't good either, right?

[17:36] Berarti nasi itu juga salah satu
So rice is also one of the

[17:37] pencetus diabetes.
triggers for diabetes.

[17:39] Bukan nasi yang kelebihan tadi.
Not the excess rice from earlier.

[17:40] Oh nasi yang berlebihan bisa.
Oh, excessive rice can.

[17:41] Jangan sampai mentung gitu loh, Bang.
Don't let it get to that point, bro.

[17:43] Yang jadi kayak gunung
Which becomes like a mountain

[17:44] berarti e kalau porsinya cukup aman.
so if the portion is enough, it's safe.

[17:47] Iya.
Yes.

[17:47] Semua kan sesuai dosis aja.
Everything is just according to the dose.

[17:49] Kalau kita aja nih nasi putih kita kunyah lama
If we just chew white rice for a long time

[17:51] aja manis kan.
it becomes sweet, right?

[17:53] Iya sih.
Yeah, true.

[17:53] Iya sih.
Yeah, true.

[17:55] Itu gula ya, Bang.
That's sugar, bro.

[17:55] Faktor resiko ada lagi satu lagi
Risk factors, there's one more

[17:57] apa tuh?
what is it?

[17:58] apa tuh?
what is it?

[17:59] Tekanan darah tinggi.
High blood pressure.

[18:00] Oh iya.
Oh, yes.

[18:01] Itu juga ngerusak pembuluh darah kita.
That also damages our blood vessels.

[18:03] Iya tuh.
Yeah, that's right.

[18:03] Iya.
Yes.

[18:04] Kalau istriku pernah nanya, "Say,
My wife once asked, "Honey,

[18:06] sebenarnya tekanan darah tuh maksudnya gimana sih? Kok tekanan darah?"
what does blood pressure actually mean? Why blood pressure?"

[18:08] Oh, iya.
Oh, yes.

[18:11] Aku senang banget kalau istriku nanya.
I'm so happy when my wife asks.

[18:12] Aku tuh paling senang kalau dia nanya
I'm happiest when she asks

[18:13] terus aku jelasin gitu.
and then I explain it.

[18:15] Karena istri bukan dokter ya,
Because my wife isn't a doctor, right?

[18:16] bukan.
No.

[18:16] Dia tuh sarjana sains di bidang
She's a science graduate in the field of

[18:17] kimia, Bang.
chemistry, bro.

[18:17] Jadi ahlinya melarutkan
So she's an expert in dissolving

[18:19] kimia, Bang. Jadi ahlinya melarutkan hati dan perasaan. Aduh du du duh.
Chemistry, Bang. So the expert at dissolving hearts and feelings. Oh my goodness.

[18:22] hati dan perasaan. Aduh du du duh.
Hearts and feelings. Oh my goodness.

[18:25] Terus terus aku bilang ke dia, "Say,
So I kept telling him, "Say,

[18:28] Terus terus aku bilang ke dia, "Say, coba kamu bayangkan atau kita semua deh
So I kept telling him, "Say, try to imagine or let's all

[18:30] coba kamu bayangkan atau kita semua deh di ruangan ini sekarang kita bayangkan
try to imagine or let's all in this room right now imagine

[18:31] di ruangan ini sekarang kita bayangkan kan tekanan darah.
in this room right now imagine the blood pressure.

[18:32] kan tekanan darah. Sekarang Bang Radit adalah darah, aku
the blood pressure. Now Bang Radit is blood, I

[18:34] Sekarang Bang Radit adalah darah, aku adalah darah, Gilang adalah darah, semua
Now Bang Radit is blood, I am blood, Gilang is blood, all

[18:36] adalah darah, Gilang adalah darah, semua kameraman juga adalah darah."
are blood, Gilang is blood, all the cameramen are also blood."

[18:38] Oke. Kerasa enggak di ada penekanan di badan?
Okay. Do you feel any pressure on your body?

[18:40] Kerasa enggak di ada penekanan di badan? Enggak. Enggak ada yang nyentuh kan?
Do you feel any pressure on your body? No. No one touched you, right?

[18:41] Enggak. Enggak ada yang nyentuh kan? Enggak ada yang nyentuh. Enggak kerasa
No. No one touched you, right? No one touched you. I don't feel

[18:42] Enggak ada yang nyentuh. Enggak kerasa tekanannya.
No one touched you. I don't feel the pressure.

[18:44] Heh. Heeh.
Heh. Heh.

[18:44] Tapi coba lihat sekitar kita nih dinding ini. Ini adalah pembuluh darah. Nah,
But try to look around us, this wall. This is a blood vessel. Now,

[18:48] ini. Ini adalah pembuluh darah. Nah, mulai kerasa. Oh iya ya. Darah itu
this. This is a blood vessel. Now, I'm starting to feel it. Oh yeah. Blood

[18:50] mulai kerasa. Oh iya ya. Darah itu ternyata bergerak di ruang tertutup. Kan
I'm starting to feel it. Oh yeah. Blood actually moves in a confined space. Right?

[18:52] ternyata bergerak di ruang tertutup. Kan prinsip darah itu selalu ada di pemudara
moves in a confined space. Right? The principle of blood is that it's always in the blood vessels

[18:53] prinsip darah itu selalu ada di pemudara enggak bisa keluar.
is that it's always in the blood vessels and cannot get out.

[18:54] Oke. Dia hanya jalan dan bergerak di ruang
Okay. It just travels and moves in a space

[18:56] Dia hanya jalan dan bergerak di ruang tertutup.
It just travels and moves in a confined space.

[18:57] Oke. Oke. Sekarang bayangkan seluruh komika
Okay. Okay. Now imagine all the comedians

[18:59] Oke. Sekarang bayangkan seluruh komika yang Bang Radit kenal masuk dari pintu
Okay. Now imagine all the comedians Bang Radit knows entering through the door

[19:02] yang Bang Radit kenal masuk dari pintu itu. Bang, sudah mulai kerasa belum
that Bang Radit knows entering through that door. Bang, are you starting to feel it yet

[19:03] itu. Bang, sudah mulai kerasa belum tekanannya?
that door. Bang, are you starting to feel the pressure yet?

[19:08] Masuk masuk masuk masuk. Wah. Terasa tuh Bang Panji semuanya masuk mulai kan
Come in, come in, come in, come in. Wow. You can feel it, Bang Panji, everyone is coming in, starting to feel

[19:10] Masuk masuk masuk masuk. Wah. Terasa tuh Bang Panji semuanya masuk mulai kan tekanan mulai berasa tekanan darahnya
Come in, come in, come in, come in. Wow. You can feel it, Bang Panji, everyone is coming in, starting to feel the pressure, your blood pressure

[19:13] tekanan mulai berasa tekanan darahnya naik karena volumenya naik ya terus ah
the pressure is starting to be felt, your blood pressure is rising because the volume is increasing, right? then ah

[19:20] naik karena volumenya naik ya terus ah gitu apa yang terjadi kalau ruangannya
because the volume increases, right, and then ah, what happens if the room

[19:22] gitu apa yang terjadi kalau ruangannya mengecil wah
is like that, what happens if the room shrinks, wow

[19:23] mengecil wah tekanan juga berasa pembularan kan bisa
shrinks, wow, the pressure is also felt, circulation, right, it can

[19:25] tekanan juga berasa pembularan kan bisa mengecil jadi penyebab tekanan darah
the pressure is also felt, circulation, right, it can shrink, so the cause of blood pressure

[19:27] mengecil jadi penyebab tekanan darah tinggi itu bisa karena volumenya nambah
shrinking, so the cause of high blood pressure can be because the volume increases

[19:30] tinggi itu bisa karena volumenya nambah atau lemaknya nambah kita bawa pad bawa
high can be because the volume increases or the fat increases, we carry our own pads, carry

[19:32] atau lemaknya nambah kita bawa pad bawa koper masing-masing gitu ya juga tuh
or the fat increases, we carry our own pads, carry our own suitcases, like that, also there

[19:34] koper masing-masing gitu ya juga tuh tekanannya nambah kan atau ruangannya
suitcases, like that, also there, the pressure increases, right, or the room

[19:36] tekanannya nambah kan atau ruangannya mengecil itu tekanan darahnya nambah nah
the pressure increases, right, or the room shrinks, the blood pressure increases, now

[19:38] mengecil itu tekanan darahnya nambah nah kalau kita ditekan terus Terus kan kita
shrinks, the blood pressure increases, now if we are constantly pressured, we

[19:40] kalau kita ditekan terus Terus kan kita pasti berontak kan, Bang? Wah,
if we are constantly pressured, we will definitely rebel, right, bro? Wow,

[19:41] pasti berontak kan, Bang? Wah, garuk-garuk
will definitely rebel, right, bro? Wow, scratching

[19:43] garuk-garuk dinding lah, jebolin pintu lah, pokoknya
scratching the walls, breaking down the doors, basically

[19:45] dinding lah, jebolin pintu lah, pokoknya kita pasti berontak.
the walls, breaking down the doors, basically we will definitely rebel.

[19:47] kita pasti berontak. Begitu pula di tekanan darah, di kepala
we will definitely rebel. The same goes for blood pressure, in the head

[19:50] Begitu pula di tekanan darah, di kepala tensin normal 120/80 ya, Bang.
The same goes for blood pressure, in the head, normal tension is 120/80, right, bro.

[19:52] tensin normal 120/80 ya, Bang. Tiba-tiba dia monyengin PLN 220 PLN
normal tension is 120/80, right, bro. Suddenly it's like the PLN 220 PLN

[19:56] Tiba-tiba dia monyengin PLN 220 PLN ya pecah kan pembudara kan kayak balon
Suddenly it's like the PLN 220 PLN, it bursts, right, the circulation, like a balloon

[19:58] ya pecah kan pembudara kan kayak balon ditiup terus ya pecah. Kalau pecah di
it bursts, right, the circulation, like a balloon being blown up continuously, it bursts. If it bursts in

[20:00] ditiup terus ya pecah. Kalau pecah di otak itu namanya stroke perdarahan bukan
being blown up continuously, it bursts. If it bursts in the brain, it's called hemorrhagic stroke, not

[20:02] otak itu namanya stroke perdarahan bukan stroke penyumbatan gitu.
brain, it's called hemorrhagic stroke, not obstructive stroke.

[20:04] stroke penyumbatan gitu. Berarti artinya stroke itu bukan karena
obstructive stroke. So it means stroke is not because

[20:06] Berarti artinya stroke itu bukan karena dia nyumbat, tapi bisa juga pecah karena
So it means stroke is not because it's blocked, but it can also burst because of

[20:08] dia nyumbat, tapi bisa juga pecah karena tekanan. Iya, tekanan darahnya tinggi,
it's blocked, but it can also burst because of pressure. Yes, the blood pressure is high,

[20:12] tekanan. Iya, tekanan darahnya tinggi, breakout dia, Bang.
pressure. Yes, the blood pressure is high, it breaks out, bro.

[20:14] breakout dia, Bang. Karena selama ini saya pikir orang
it breaks out, bro. Because all this time I thought people with

[20:15] Karena selama ini saya pikir orang stroke. Oh, mungkin tersumbat. Tapi
stroke. Oh, maybe it's blocked. But

[20:16] stroke. Oh, mungkin tersumbat. Tapi ternyata enggak selamanya tersumbat.
it's blocked. But it turns out it's not always blocked.

[20:17] ternyata enggak selamanya tersumbat. 85% tersumbat, 15% kasus stroke itu
it's not always blocked. 85% are blocked, 15% of stroke cases are

[20:20] 85% tersumbat, 15% kasus stroke itu perdarahan pecah.
85% are blocked, 15% of stroke cases are hemorrhagic rupture.

[20:21] perdarahan pecah. Kok bisa yang perdarahan bisa lebih

[20:23] Kok bisa yang perdarahan bisa lebih kecil?

[20:24] kecil? Eh, lebih jarang karena pembul darahnya

[20:27] Eh, lebih jarang karena pembul darahnya lebih berusaha banget itu sebenarnya

[20:29] lebih berusaha banget itu sebenarnya pembuluh darah kita itu bertahan. Apakah

[20:31] pembuluh darah kita itu bertahan. Apakah itu yang disebut apa? Aneorisme.

[20:34] itu yang disebut apa? Aneorisme. Ah, aneorisme dia pembularannya udah

[20:36] Ah, aneorisme dia pembularannya udah jendol, udah udah lunak gitu. dia bisa

[20:39] jendol, udah udah lunak gitu. dia bisa anorisme

[20:40] anorisme dan dia breakout hanya karena tekanan

[20:42] dan dia breakout hanya karena tekanan darah

[20:43] darah dia e tekanan darahnya harus harus

[20:45] dia e tekanan darahnya harus harus karena tekanan darah

[20:46] karena tekanan darah karena itu kasus yang sering saya dengar

[20:47] karena itu kasus yang sering saya dengar juga loh akhir-akhir ini.

[20:48] juga loh akhir-akhir ini. Iya. Heeh.

[20:49] Iya. Heeh. Tiba-tiba orang meninggal

[20:50] Tiba-tiba orang meninggal gara-gara makanya Bang Rad jadi pengin

[20:53] gara-gara makanya Bang Rad jadi pengin city scan juga kan.

[20:54] city scan juga kan. Iya waktu city scan jantung saya juga

[20:56] Iya waktu city scan jantung saya juga city scan otak

[20:57] city scan otak dan enggak ada kan

[20:58] dan enggak ada kan enggak ada sih.

[20:58] enggak ada sih. Iya iya iya aman aman aman.

[20:59] Iya iya iya aman aman aman. Aduh seram banget deh itu. Orang

[21:01] Aduh seram banget deh itu. Orang benar-benar langsung meninggal jatuh

[21:03] benar-benar langsung meninggal jatuh gitu. Iya, makanya, makanya asli-asli

[21:05] gitu. Iya, makanya, makanya asli-asli tuh tekanan darah, Bang. Itu kalau

[21:07] tuh tekanan darah, Bang. Itu kalau tekanan darahnya tinggi. Nah, sekarang

[21:09] tekanan darahnya tinggi. Nah, sekarang apa yang bikin volumenya tiba-tiba naik?

[21:11] apa yang bikin volumenya tiba-tiba naik? Ada kisah cinta antara air sama garam,

[21:13] Ada kisah cinta antara air sama garam, Bang. Air akan pergi ke mana pun garam

[21:16] Bang. Air akan pergi ke mana pun garam berada. Misalkan itu kali cilung deh

[21:19] berada. Misalkan itu kali cilung deh udah datar, Bang. Tapi kok tetap gerak

[21:21] udah datar, Bang. Tapi kok tetap gerak ke laut? Karena di laut ada garam, jadi

[21:22] ke laut? Karena di laut ada garam, jadi tetap ngalir ke laut.

[21:24] tetap ngalir ke laut. Terus pemerintah mau bikin hujan buatan.

[21:26] Terus pemerintah mau bikin hujan buatan. Apa yang dilemparin tuh Bangkawan?

[21:27] Apa yang dilemparin tuh Bangkawan? Garam. Ini hujan kan. Begitu tubuh kita.

[21:30] Garam. Ini hujan kan. Begitu tubuh kita. Kalau Bang Radit sering ngemil yang

[21:33] Kalau Bang Radit sering ngemil yang asin-asin, pembuluh darah kita tuh penuh

[21:35] asin-asin, pembuluh darah kita tuh penuh sama garam, air enggak mau keluar.

[21:37] sama garam, air enggak mau keluar. Oke.

[21:37] Oke. Pembuluh darahnya volumenya banyak,

[21:39] Pembuluh darahnya volumenya banyak, tekanan darahnya naik.

[21:41] tekanan darahnya naik. Berarti konsumsi garam juga harus

[21:42] Berarti konsumsi garam juga harus diperhatiin.

[21:43] diperhatiin. Iya. Berarti batasin gula jangan

[21:45] Iya. Berarti batasin gula jangan berlebih, garam juga jangan berlebih.

[21:48] berlebih, garam juga jangan berlebih. Gitu memang nasibnya.

[21:49] Gitu memang nasibnya. Kita makan apa dong? [tertawa]

[21:50] Kita makan apa dong? [tertawa] Asli

[21:52] Asli garam enggak boleh, gula enggak boleh.

[21:54] garam enggak boleh, gula enggak boleh. Udah gitu pasien gua bilang, "Dokter,

[21:56] Udah gitu pasien gua bilang, "Dokter, aku tuh enggak pernah makan garam-garam

[21:58] aku tuh enggak pernah makan garam-garam loh,

[21:58] loh, tapi aku makan telur asin, ikan asin ya

[22:01] tapi aku makan telur asin, ikan asin ya itu sama. Makanya aja

[22:03] itu sama. Makanya aja enak lagi itu.

[22:04] enak lagi itu. Enggak apa-apa, Bang, selama masih dalam

[22:05] Enggak apa-apa, Bang, selama masih dalam batas ini, ini kan

[22:07] batas ini, ini kan ee kan sudah banyak dokter datang ke

[22:09] ee kan sudah banyak dokter datang ke sini juga, banyak cerita soal gaya hidup

[22:11] sini juga, banyak cerita soal gaya hidup segala macam.

[22:12] segala macam. Ada yang masuk enggak sih, yuk ke lu

[22:13] Ada yang masuk enggak sih, yuk ke lu yuk? Ada enggak?

[22:15] yuk? Ada enggak? Hah? [tertawa] Lu ngurangin makanan?

[22:17] Hah? [tertawa] Lu ngurangin makanan? Hah?

[22:17] Hah? Weh, keren. Keren.

[22:18] Weh, keren. Keren. Udah enggak makan malam?

[22:19] Udah enggak makan malam? Iya. Oh,

[22:20] Iya. Oh, cuman beberapa hari kemarin ada yang

[22:22] cuman beberapa hari kemarin ada yang Nah, [tertawa]

[22:24] Nah, [tertawa] gua udah enggak makan malam. Nah, cuman

[22:26] gua udah enggak makan malam. Nah, cuman gimana gimana gimana?

[22:27] gimana gimana gimana? Berasil seminggu.

[22:29] Berasil seminggu. Seminggu enggak makan malam.

[22:29] Seminggu enggak makan malam. Seminggu enggak makan malam.

[22:31] Seminggu enggak makan malam. Oh, ngaruh berarti ya.

[22:32] Oh, ngaruh berarti ya. Ngaruh.

[22:32] Ngaruh. Takut enggak sih lu? Ada stroke lah. Ada

[22:34] Takut enggak sih lu? Ada stroke lah. Ada ini.

[22:34] ini. Takut, takut, takut. Tapi gua udah

[22:35] Takut, takut, takut. Tapi gua udah enggak minum manis.

[22:36] enggak minum manis. Nah, cakep cakep cakep. Air putih. Air

[22:38] Nah, cakep cakep cakep. Air putih. Air putih juaranya.

[22:39] putih juaranya. Cuma dia minum asin sekarang [tertawa]

[22:43] dia enggak minum manis tapi dia minum

[22:45] dia enggak minum manis tapi dia minum asin.

[22:46] asin. Iya. [tertawa] atau asem semuanya asem.

[22:49] Iya. [tertawa] atau asem semuanya asem. Berarti ee dokter kalau misalnya ada

[22:52] Berarti ee dokter kalau misalnya ada yang misalnya pasien stroke nih

[22:55] yang misalnya pasien stroke nih iya

[22:55] iya ee masuklah ke IGD yang dokter Gia

[22:57] ee masuklah ke IGD yang dokter Gia bertugas.

[22:58] bertugas. Iya.

[22:58] Iya. Katanya kan ada wind ada golden period

[23:00] Katanya kan ada wind ada golden period ya.

[23:01] ya. Iya benar di bawah 6 jam lah.

[23:03] Iya benar di bawah 6 jam lah. Oh itu

[23:03] Oh itu itu kita coba sedemikian karena kan aku

[23:05] itu kita coba sedemikian karena kan aku sebutnya kalau jantung time is muscle

[23:08] sebutnya kalau jantung time is muscle setiap detik itu satu sel jantung yang

[23:09] setiap detik itu satu sel jantung yang rusak. Kalau di otak juga sama kan harus

[23:13] rusak. Kalau di otak juga sama kan harus segera bangetlah itu di tangannya harus

[23:15] segera bangetlah itu di tangannya harus segera dibuka.

[23:16] segera dibuka. Berarti kalau misalnya telat apa yang

[23:17] Berarti kalau misalnya telat apa yang terjadi? Dia enggak bisa balik.

[23:19] terjadi? Dia enggak bisa balik. Kerusakannya kan jadi lebih besar. Jadi

[23:21] Kerusakannya kan jadi lebih besar. Jadi mungkin tangannya lemah nilainya bisa

[23:24] mungkin tangannya lemah nilainya bisa tiga gitu tapi nol banget gitu. Jadi

[23:26] tiga gitu tapi nol banget gitu. Jadi enggak bisa enggak bisa gerak banget kan

[23:29] enggak bisa enggak bisa gerak banget kan kita tangan Bang Radu gerak-gerak gini

[23:31] kita tangan Bang Radu gerak-gerak gini kan bukan gerak sendiri itu kan disuruh

[23:32] kan bukan gerak sendiri itu kan disuruh terus ada listrik.

[23:34] terus ada listrik. Bayangin otot ini kayak lampu. Lampu ini

[23:36] Bayangin otot ini kayak lampu. Lampu ini kan enggak nyala sendiri ada listriknya.

[23:38] kan enggak nyala sendiri ada listriknya. Listriknya dari kabel. Nah, sak otak

[23:40] Listriknya dari kabel. Nah, sak otak tuh, Bang.

[23:41] tuh, Bang. Nah, listrik di otaknya loh enggak ada

[23:43] Nah, listrik di otaknya loh enggak ada ini. Walaupun bagus bagus aja enggak

[23:45] ini. Walaupun bagus bagus aja enggak putus enggak bakal nyala

[23:47] putus enggak bakal nyala karena enggak ada listriknya di sana. Di

[23:50] karena enggak ada listriknya di sana. Di stroke juga sama. Enggak ada listriknya

[23:51] stroke juga sama. Enggak ada listriknya di sini, Bang. Jadi enggak bisa gerak.

[23:53] di sini, Bang. Jadi enggak bisa gerak. Tapi 6 jam ya, 6 jam tuh lumayan lumay.

[23:56] Tapi 6 jam ya, 6 jam tuh lumayan lumay. Oke, Debus. Nanti bisa fisioterapi,

[23:58] Oke, Debus. Nanti bisa fisioterapi, fisioterapi hasilnya oke, gitu.

[24:00] fisioterapi hasilnya oke, gitu. Oke. Oke.

[24:01] Oke. Oke. Itu stroke sama jantung yang dari

[24:03] Itu stroke sama jantung yang dari tekanan darah sama gula darah

[24:06] tekanan darah sama gula darah itu yang paling banyaklah ya

[24:07] itu yang paling banyaklah ya di IGD. Kalau aku minta Bang Radit satu

[24:10] di IGD. Kalau aku minta Bang Radit satu lagi Bang yang menurut Abang jadi faktor

[24:12] lagi Bang yang menurut Abang jadi faktor resiko serangan jantung dan strok

[24:13] resiko serangan jantung dan strok kira-kira apa, Bang? Selain gula darah

[24:15] kira-kira apa, Bang? Selain gula darah sama tekanan darah?

[24:16] sama tekanan darah? Gula darah, tekanan darah apaagi ya?

[24:19] Gula darah, tekanan darah apaagi ya? Bawaan mungkin enggak

[24:20] Bawaan mungkin enggak kolesterol yang tinggi. Heeh. Kolesterol

[24:23] kolesterol yang tinggi. Heeh. Kolesterol tinggi juga cek.

[24:25] tinggi juga cek. Iya, tapi LDL saya dari tahun ke tahun

[24:27] Iya, tapi LDL saya dari tahun ke tahun selalu tinggi.

[24:28] selalu tinggi. Ah, tapi HDL-nya yang penting.

[24:30] Ah, tapi HDL-nya yang penting. HDL juga lumayan sih, lumayan bagus lah.

[24:33] HDL juga lumayan sih, lumayan bagus lah. Karena kan yang cara ngitungnya

[24:34] Karena kan yang cara ngitungnya sebenarnya kolesterol total Bang Radit

[24:35] sebenarnya kolesterol total Bang Radit bagi sama HDL. pembagian itu harus

[24:37] bagi sama HDL. pembagian itu harus kurang dari angka 4.

[24:38] kurang dari angka 4. Misalkan temanku ketahuan dia ketakutan

[24:41] Misalkan temanku ketahuan dia ketakutan 240 totalnya enggak tahunya hadirnya 80

[24:44] 240 totalnya enggak tahunya hadirnya 80 240 dibagi 80 kan tiga, Bang. Masih di

[24:46] 240 dibagi 80 kan tiga, Bang. Masih di bawah empat. Cakep tuh masih aman.

[24:48] bawah empat. Cakep tuh masih aman. Berarti LDL tinggi pun juga enggak usah

[24:49] Berarti LDL tinggi pun juga enggak usah terlalu panik dulu.

[24:50] terlalu panik dulu. Eh coba lihat HDL-nya, kolesterol

[24:52] Eh coba lihat HDL-nya, kolesterol baiknya. Kolesterol baik itu yang bawa

[24:54] baiknya. Kolesterol baik itu yang bawa kolesterol jahat tadi LDL balik ke hati

[24:56] kolesterol jahat tadi LDL balik ke hati untuk di metabolisme gitu.

[24:58] untuk di metabolisme gitu. Oke. Ya, itu kolesterol tinggi karena

[25:00] Oke. Ya, itu kolesterol tinggi karena kolesterol tinggi jadi plak itu ya.

[25:01] kolesterol tinggi jadi plak itu ya. Iya. Iya. Kan nyumbat-nyombat itu kan si

[25:03] Iya. Iya. Kan nyumbat-nyombat itu kan si kolesterolnya. Yang berikutnya, Bang.

[25:05] kolesterolnya. Yang berikutnya, Bang. Faktor resiko berikutnya. Nah, cuma

[25:07] Faktor resiko berikutnya. Nah, cuma repot banget nih aku sebutin ini nih.

[25:09] repot banget nih aku sebutin ini nih. Tapi enggak apa-apa aku sebutin aja deh,

[25:11] Tapi enggak apa-apa aku sebutin aja deh, ya. Rokok, Bang.

[25:12] ya. Rokok, Bang. Gitu. Tu

[25:13] Gitu. Tu repotnya. Kenapa repot? Repot

[25:14] repotnya. Kenapa repot? Repot berhentinya.

[25:15] berhentinya. Heem. Karena Indonesia memang jumlah

[25:17] Heem. Karena Indonesia memang jumlah laki-laki terbanyak perokoknya. Belum

[25:20] laki-laki terbanyak perokoknya. Belum ada negara lain yang jumlah perokok

[25:21] ada negara lain yang jumlah perokok terbanyak sebenarnya kita, Bang.

[25:22] terbanyak sebenarnya kita, Bang. Oh, kita paling gede.

[25:23] Oh, kita paling gede. Nomor satu.

[25:24] Nomor satu. Wow.

[25:25] Wow. 71% laki-laki Indonesia tuh merokok.

[25:28] 71% laki-laki Indonesia tuh merokok. Padahal kita jumlah penduduknya 280/ 2

[25:30] Padahal kita jumlah penduduknya 280/ 2 140 laki-laki kan.

[25:32] 140 laki-laki kan. 70%.

[25:33] 70%. Iya. Dengar lain enggak segitu.

[25:36] Iya. Dengar lain enggak segitu. Yang kedua aja jauh di bawah kita kok.

[25:37] Yang kedua aja jauh di bawah kita kok. Tapi kenapa masih ada beberapa dokter

[25:39] Tapi kenapa masih ada beberapa dokter yang ngerokok ya?

[25:40] yang ngerokok ya? Ya itu dia. Masih banyak juga dokter

[25:41] Ya itu dia. Masih banyak juga dokter yang gemuk. Masih banyak juga [tertawa]

[25:45] yang gemuk. Masih banyak juga [tertawa] masih ya itu kan masalah kebiasaan

[25:47] masih ya itu kan masalah kebiasaan karena enggak enggak gampang berhentiin

[25:49] karena enggak enggak gampang berhentiin rokok itu, Bang. Aku sudah lihat contoh

[25:51] rokok itu, Bang. Aku sudah lihat contoh kasusnya banyak. Jadi kayak candunya itu

[25:53] kasusnya banyak. Jadi kayak candunya itu kan dahsyat banget ya. Bahkan kata

[25:55] kan dahsyat banget ya. Bahkan kata profesor aku, "Hanya orang jagoah yang

[25:56] profesor aku, "Hanya orang jagoah yang bisa berhenti rokok." Karena emang

[25:59] bisa berhenti rokok." Karena emang candunya itu loh dahsyat. Dokter Ria

[26:01] candunya itu loh dahsyat. Dokter Ria enggak pernah ngerokok seumur hidup?

[26:02] enggak pernah ngerokok seumur hidup? Belum. Belum. Belum. seumur hidup.

[26:04] Belum. Belum. Belum. seumur hidup. Seumur hidup. Semumur hidup.

[26:05] Seumur hidup. Semumur hidup. Belum. Belum.

[26:06] Belum. Belum. Jadi enggak tahu. Enggak tahu perjuangan

[26:08] Jadi enggak tahu. Enggak tahu perjuangan mereka. Makanya aku enggak pernah

[26:10] mereka. Makanya aku enggak pernah ngecilin, enggak pernah ngenyek, enggak

[26:13] ngecilin, enggak pernah ngenyek, enggak pernah karena enggak tahu orang yang

[26:15] pernah karena enggak tahu orang yang udah nyoba usaha berhentinya tuh kayak

[26:17] udah nyoba usaha berhentinya tuh kayak apa. Pasti kan berat banget itu.

[26:19] apa. Pasti kan berat banget itu. Ee faktor resikonya itu bisa lari ke

[26:21] Ee faktor resikonya itu bisa lari ke jantung dan stroke. Berarti rokoknya.

[26:23] jantung dan stroke. Berarti rokoknya. Iya. Heeh. Udah gitu bukan dia doang

[26:24] Iya. Heeh. Udah gitu bukan dia doang lagi ke istri sama anaknya juga kan.

[26:26] lagi ke istri sama anaknya juga kan. Karena second hand-nya.

[26:27] Karena second hand-nya. Iya. Heeh. Proko pasif kita sebut ya.

[26:30] Iya. Heeh. Proko pasif kita sebut ya. Oh. Kalau vape berarti, nah vape itu kan

[26:33] Oh. Kalau vape berarti, nah vape itu kan uap air bukan asap rokok kan. Itu apa

[26:36] uap air bukan asap rokok kan. Itu apa isinya? Itu kan kimia yang nikotin.

[26:39] isinya? Itu kan kimia yang nikotin. Jadi nikotinnya mah sama.

[26:41] Jadi nikotinnya mah sama. Nikotin itu lucu ya. Itu kayak ee licik

[26:44] Nikotin itu lucu ya. Itu kayak ee licik banget dia tuh. Dia nyekek otak bilang

[26:47] banget dia tuh. Dia nyekek otak bilang kamu tuh rileks-rileks aja. Padahal

[26:48] kamu tuh rileks-rileks aja. Padahal otaknya enggak rileks. Tapi dia kayak

[26:50] otaknya enggak rileks. Tapi dia kayak maksa otak untuk bikin dia rileks gitu.

[26:53] maksa otak untuk bikin dia rileks gitu. Itu sih mungkin yang bikin susah. Terus

[26:55] Itu sih mungkin yang bikin susah. Terus ada cerita tentang perempuan muda datang

[26:58] ada cerita tentang perempuan muda datang ke IGD dengan napas sesak.

[27:01] ke IGD dengan napas sesak. Oh, itu itu juga itu juga.

[27:03] Oh, itu itu juga itu juga. Cuma gini, ada lagi yang lebih seru.

[27:05] Cuma gini, ada lagi yang lebih seru. Heeh.

[27:05] Heeh. Kalau di IGD itu, Bang, ada ee

[27:08] Kalau di IGD itu, Bang, ada ee benda-benda asing yang harus aku

[27:09] benda-benda asing yang harus aku keluarin.

[27:10] keluarin. Oke.

[27:11] Oke. Benda asingnya apa aja? Ada yang benda

[27:13] Benda asingnya apa aja? Ada yang benda mati, ada yang benda hidup. [tertawa]

[27:15] mati, ada yang benda hidup. [tertawa] Tuh, tu tuh.

[27:16] Tuh, tu tuh. Benda asing tuh kalau bahasa

[27:17] Benda asing tuh kalau bahasa kedokterannya ee diagnosisnya itu corpus

[27:20] kedokterannya ee diagnosisnya itu corpus alienum. Benda asing

[27:21] alienum. Benda asing masuk ke badan.

[27:22] masuk ke badan. Iya. Yang harus aku keluarin.

[27:23] Iya. Yang harus aku keluarin. Jadi, dokter IGD harus ngeluarin benda

[27:25] Jadi, dokter IGD harus ngeluarin benda itu dari badan. Oke. Lalu lalu

[27:27] itu dari badan. Oke. Lalu lalu ada yang anak kecil balita nih perkara

[27:31] ada yang anak kecil balita nih perkara balita nih. Banyak banget balita tuh

[27:32] balita nih. Banyak banget balita tuh masuk-masukin kan tangan balita itu

[27:33] masuk-masukin kan tangan balita itu tangan kecepatan tertinggi kan Bang Su.

[27:36] tangan kecepatan tertinggi kan Bang Su. Pernah punya balita pasti tahu ya, Bang.

[27:38] Pernah punya balita pasti tahu ya, Bang. Iya

[27:39] Iya cepat banget itu tangan itu kayak lebih

[27:42] cepat banget itu tangan itu kayak lebih cepat daripada kecepatan cahaya itu,

[27:43] cepat daripada kecepatan cahaya itu, Bang. Setet [tertawa] gitu.

[27:45] Bang. Setet [tertawa] gitu. Iya benar. Kita kita udah jagain tetap

[27:47] Iya benar. Kita kita udah jagain tetap aja kena tuh. Nah ini datang suami istri

[27:50] aja kena tuh. Nah ini datang suami istri panik. Dok, Dok, ini sih Dedek, Dok.

[27:53] panik. Dok, Dok, ini sih Dedek, Dok. Dok, kenapa, Pak? Kenapa? Tadi kita tuh

[27:56] Dok, kenapa, Pak? Kenapa? Tadi kita tuh habis dari Indomart belanja ada

[27:58] habis dari Indomart belanja ada kembalian 1500 koin 1500

[28:02] kembalian 1500 koin 1500 tapi kok sisa 500ya ke mana

[28:07] tapi kok sisa 500ya ke mana 1000ya saya enggak tahu 1000ya ke mana.

[28:10] 1000ya saya enggak tahu 1000ya ke mana. Heeh

[28:10] Heeh Dok ini Dok kayaknya di dia nelen de Dok

[28:13] Dok ini Dok kayaknya di dia nelen de Dok dia nih nelen ini anak ini nelen. Dia

[28:15] dia nih nelen ini anak ini nelen. Dia senyum-senyum

[28:16] senyum-senyum si anaknya.

[28:17] si anaknya. He [tertawa]

[28:19] He [tertawa] wit dia gitu dibilang duit maksudnya. Ya

[28:22] wit dia gitu dibilang duit maksudnya. Ya Allah, sempat-sempat lu Uit

[28:24] Allah, sempat-sempat lu Uit terus terus Nak, benar kamu telen Uit di

[28:28] terus terus Nak, benar kamu telen Uit di tetap aja gitu UIT.

[28:30] tetap aja gitu UIT. Heeh.

[28:30] Heeh. Coba-coba a ya udah enggak ada di

[28:32] Coba-coba a ya udah enggak ada di mulutnya kan

[28:33] mulutnya kan dicek. Enggak ada

[28:34] dicek. Enggak ada enggak ada. Oke. Enggak ada.

[28:35] enggak ada. Oke. Enggak ada. Ronsen ya, Bu. Ronsen ya, Pak. Oke. Oke.

[28:38] Ronsen ya, Bu. Ronsen ya, Pak. Oke. Oke. Ronsen. Ronsen. Aku mau tunjukin

[28:40] Ronsen. Ronsen. Aku mau tunjukin ronsennya ke Bang Radit. Boleh enggak,

[28:41] ronsennya ke Bang Radit. Boleh enggak, Bang?

[28:41] Bang? Boleh dong. Boleh dong. [tertawa]

[28:43] Boleh dong. Boleh dong. [tertawa] Ron ni ronsen setelah-wit

[28:46] Ron ni ronsen setelah-wit iya. Ada di mana, Bang Radit Uitnya?

[28:49] iya. Ada di mana, Bang Radit Uitnya? Ah, yang benar aja, Dok. Dok, yang benar

[28:52] Ah, yang benar aja, Dok. Dok, yang benar aja, Dok. Di leher, Bro.

[28:54] aja, Dok. Di leher, Bro. Wah,

[28:56] Wah, udah ketelan, udah ketelan itu, Bang.

[28:59] udah ketelan, udah ketelan itu, Bang. Yang bener aja, Dok. [tertawa]

[29:00] Yang bener aja, Dok. [tertawa] Dok, ini gila sih. Hah?

[29:02] Dok, ini gila sih. Hah? Pas dia. Enggak sesek, enggak apa,

[29:05] Pas dia. Enggak sesek, enggak apa, enggak kekek gitu.

[29:06] enggak kekek gitu. Nah, Bang, makanya, Bang, lucu deh.

[29:08] Nah, Bang, makanya, Bang, lucu deh. Teman-teman juga pasti pada pada enggak

[29:10] Teman-teman juga pasti pada pada enggak sadar leher itu kelihatannya kayak satu

[29:12] sadar leher itu kelihatannya kayak satu saluran kan. Padahal kan ada dua saluran

[29:14] saluran kan. Padahal kan ada dua saluran nih di leher kita. Satu ke paru-paru,

[29:16] nih di leher kita. Satu ke paru-paru, satu ke lambung. Nah, di paru-paru yang

[29:18] satu ke lambung. Nah, di paru-paru yang pintu masuk paru-paru itu ada pintu

[29:20] pintu masuk paru-paru itu ada pintu otomatis, Bang. Yang namanya epiglotis.

[29:21] otomatis, Bang. Yang namanya epiglotis. Heeh.

[29:22] Heeh. Itu yang bikin Bang Radit nelen minum

[29:24] Itu yang bikin Bang Radit nelen minum atau makanan. Dia nutup otomatis

[29:26] atau makanan. Dia nutup otomatis sehingga apapun yang kita telan tidak

[29:28] sehingga apapun yang kita telan tidak masuk ke paru-paru.

[29:29] masuk ke paru-paru. Oke.

[29:30] Oke. Tuh kerasa tuh pintu itu tuh pintu nel

[29:33] Tuh kerasa tuh pintu itu tuh pintu nel itu kerasa nelen tuh semuanya nih.

[29:35] itu kerasa nelen tuh semuanya nih. Makanya teman-teman kalau lagi makan

[29:37] Makanya teman-teman kalau lagi makan jangan sambil ngomong si pintunya

[29:40] jangan sambil ngomong si pintunya bingung ini tuh kan saya tuh harus

[29:42] bingung ini tuh kan saya tuh harus ngebuka, harus nutup kan kalau ngomong

[29:44] ngebuka, harus nutup kan kalau ngomong harus kebuka. Oke.

[29:45] harus kebuka. Oke. Kalau harus nutup. Akhirnya pada keselek

[29:48] Kalau harus nutup. Akhirnya pada keselek nasinya keluar lewat hidung biasanya

[29:50] nasinya keluar lewat hidung biasanya tuh.

[29:51] tuh. Oh, keselek tuh gara-gara itu.

[29:52] Oh, keselek tuh gara-gara itu. Iya sih pintunya pintu otomatisnya

[29:54] Iya sih pintunya pintu otomatisnya bingung.

[29:54] bingung. Oke. Oke.

[29:55] Oke. Oke. Dia tuh mau buka atau mau nutup gitu.

[29:57] Dia tuh mau buka atau mau nutup gitu. Oke.

[29:58] Oke. Nah, untuk anak ini dia enggak ada

[30:01] Nah, untuk anak ini dia enggak ada keselek sama sekali karena kan ada

[30:03] keselek sama sekali karena kan ada reflek batuk harusnya.

[30:04] reflek batuk harusnya. Heeh.

[30:05] Heeh. Dia

[30:07] Dia [tertawa]

[30:08] [tertawa] masih bisa ngomong nih. Suara masih

[30:10] masih bisa ngomong nih. Suara masih keluar.

[30:12] keluar. Berarti kan bukan di bukan di jalur

[30:14] Berarti kan bukan di bukan di jalur paru-paru, berarti dia jalur esofagus.

[30:17] paru-paru, berarti dia jalur esofagus. Oke.

[30:18] Oke. Aku hafal banget karena aku cinta

[30:20] Aku hafal banget karena aku cinta struktur anatomi. Aku bisa perkirain

[30:21] struktur anatomi. Aku bisa perkirain kira-kira diameter dari esofagus berapa

[30:25] kira-kira diameter dari esofagus berapa milimeternya itu. Aku search yang di

[30:27] milimeternya itu. Aku search yang di Google diameternya uang 1000 koin itu

[30:31] Google diameternya uang 1000 koin itu berapa.

[30:31] berapa. Oke.

[30:32] Oke. Ah, fix nyangkut ini. Nyangkut karena

[30:35] Ah, fix nyangkut ini. Nyangkut karena aku tahu ukuran esofagus berapa, koin

[30:37] aku tahu ukuran esofagus berapa, koin ukurannya berapa. Enggak mungkin. Enggak

[30:39] ukurannya berapa. Enggak mungkin. Enggak mungkin masuk sampai lambung. Oke.

[30:40] mungkin masuk sampai lambung. Oke. Pasti nyangkut di situ. Heeh. Soalnya

[30:42] Pasti nyangkut di situ. Heeh. Soalnya soalnya enggak enggak muat maksudnya

[30:44] soalnya enggak enggak muat maksudnya gitu ya.

[30:44] gitu ya. Enggak muat. Enggak muat. Nyangkut.

[30:45] Enggak muat. Enggak muat. Nyangkut. Nyangkut di situ. Terus bentar itu kan

[30:48] Nyangkut di situ. Terus bentar itu kan hari Minggu, Bang. Poli lagi tutup kan.

[30:51] hari Minggu, Bang. Poli lagi tutup kan. Poli THT juga lagi tutup dokter THT juga

[30:53] Poli THT juga lagi tutup dokter THT juga lagi enggak ada.

[30:56] lagi enggak ada. Kalau k biarin kasihan juga ya kan.

[30:58] Kalau k biarin kasihan juga ya kan. Tiba-tiba perawatku punya ide brilian.

[31:01] Tiba-tiba perawatku punya ide brilian. Dok, ada alat yang bisa kita masukin,

[31:04] Dok, ada alat yang bisa kita masukin, Dok untuk ngambil itu koin. Apa? Keter

[31:08] Dok untuk ngambil itu koin. Apa? Keter urin, Dok.

[31:10] urin, Dok. Bang R tahu kata terurin enggak, Bang?

[31:11] Bang R tahu kata terurin enggak, Bang? Tahu. [tertawa]

[31:12] Tahu. [tertawa] Iya.

[31:13] Iya. Selang dimasukin ke itu kan.

[31:15] Selang dimasukin ke itu kan. Iya. Itu kan ada balonnya. Benar enggak

[31:17] Iya. Itu kan ada balonnya. Benar enggak ada? Enggak tahu sih.

[31:18] ada? Enggak tahu sih. Jadi kalau kita masukin, kenapa dia bisa

[31:20] Jadi kalau kita masukin, kenapa dia bisa enggak keluar lagi? Karena ada ganjelan

[31:22] enggak keluar lagi? Karena ada ganjelan balon kita. Kita masukin

[31:24] balon kita. Kita masukin udara ke e cairan ke dalam balon itu.

[31:27] udara ke e cairan ke dalam balon itu. Oke oke oke.

[31:27] Oke oke oke. Nyangkutlah dia. Si kateter enggak bisa

[31:29] Nyangkutlah dia. Si kateter enggak bisa dikeluarin lagi. Oke.

[31:31] dikeluarin lagi. Oke. Heeh.

[31:32] Heeh. Ide brilian. Aku bilang gitu ke

[31:33] Ide brilian. Aku bilang gitu ke perawatku.

[31:34] perawatku. Ide brilian. Oke.

[31:35] Ide brilian. Oke. Ide brilan. Bu, kita coba keluarin ya.

[31:38] Ide brilan. Bu, kita coba keluarin ya. Eh, koinnya gimana caranya, Bu? Bantuin

[31:41] Eh, koinnya gimana caranya, Bu? Bantuin ya, Ibu. Bantuin pegangin kepalanya,

[31:44] ya, Ibu. Bantuin pegangin kepalanya, pegangin badannya. Aku nanti mau masukin

[31:46] pegangin badannya. Aku nanti mau masukin karet ini ke dalam mulutnya dia. Dia

[31:48] karet ini ke dalam mulutnya dia. Dia bantuin telan ya, Dek. Bantuin telan ya.

[31:51] bantuin telan ya, Dek. Bantuin telan ya. Udah, Bang. Tiduran aku bulan pakai kain

[31:53] Udah, Bang. Tiduran aku bulan pakai kain gitu dianya.

[31:55] gitu dianya. Nak, bentar ya, Nak.

[31:58] Nak, bentar ya, Nak. Ini telan ya, Nak. Ini karet karet

[32:00] Ini telan ya, Nak. Ini karet karet karet. Anggap aja permen. Yuk, telan yuk

[32:02] karet. Anggap aja permen. Yuk, telan yuk yuk telan. Weh, udah lumayan nih. Udah

[32:05] yuk telan. Weh, udah lumayan nih. Udah set masuk. Nah, si balon yang ada di

[32:07] set masuk. Nah, si balon yang ada di sini aku masukin udaranya. Set, set,

[32:10] sini aku masukin udaranya. Set, set, set.

[32:10] set. I gede tuh.

[32:11] I gede tuh. Su kira-kira diameter persis sama

[32:13] Su kira-kira diameter persis sama esofagus.

[32:14] esofagus. Heeh.

[32:14] Heeh. Bro, tarik, Bro. Tarik tarik tarik tarik

[32:17] Bro, tarik, Bro. Tarik tarik tarik tarik tarik. Koinnya kerasa Dok, Dok,

[32:21] tarik. Koinnya kerasa Dok, Dok, ambilambil kayak mancing banget

[32:23] ambilambil kayak mancing banget [tertawa]

[32:25] [tertawa] anaknya digendong. Enggak mancingak

[32:27] anaknya digendong. Enggak mancingak tiduran.

[32:27] tiduran. Mancing mania kan gitu. Kalau mancing

[32:29] Mancing mania kan gitu. Kalau mancing [tertawa] mania tiduran ambil.

[32:30] [tertawa] mania tiduran ambil. Tunggu tunggu tunggu tunggu. Jadi, jadi

[32:32] Tunggu tunggu tunggu tunggu. Jadi, jadi kateter itu dilewatin dulu sampai sini.

[32:35] kateter itu dilewatin dulu sampai sini. Ini nih. Eh, set. Nah, lewat

[32:37] Ini nih. Eh, set. Nah, lewat lewat dulu

[32:39] lewat dulu dipompa, Bang. Zp

[32:41] dipompa, Bang. Zp baru dia narik barengan.

[32:42] baru dia narik barengan. Iya, pint.

[32:43] Iya, pint. Wah, jenius itu.

[32:44] Wah, jenius itu. Iya, betul.

[32:45] Iya, betul. Pecah sih.

[32:46] Pecah sih. Dan apa yang terjadi, Bang?

[32:48] Dan apa yang terjadi, Bang? Terus, terus terus terus.

[32:49] Terus, terus terus terus. Ini kateter, nih kateter urin yang aku

[32:51] Ini kateter, nih kateter urin yang aku pakai bentuknya balon gitu tuh.

[32:53] pakai bentuknya balon gitu tuh. Eh, ini kateter urinnya dipakai.

[32:55] Eh, ini kateter urinnya dipakai. [tertawa]

[32:55] [tertawa] Oh, ini.

[32:56] Oh, ini. Karena dia ee koinnya nyangkut di

[32:58] Karena dia ee koinnya nyangkut di kateternya kan.

[32:59] kateternya kan. Iya. Heeh. Set. Berhasillah itu keluar

[33:02] Iya. Heeh. Set. Berhasillah itu keluar si

[33:03] si koin.

[33:04] koin. Koin aku tunjukin abang ya.

[33:07] Koin aku tunjukin abang ya. Harus harus kreatif juga ternyata ya di

[33:09] Harus harus kreatif juga ternyata ya di IGD itu. Oh ini duitnya.

[33:11] IGD itu. Oh ini duitnya. Iya

[33:14] Iya gitu.

[33:15] gitu. Wah wah w

[33:15] Wah wah w berhasil keluar ye. Happy semuanya

[33:18] berhasil keluar ye. Happy semuanya happy. Orang tuanya happy. Terus aku

[33:21] happy. Orang tuanya happy. Terus aku bilang ke anaknya ee Nak udah ya Nak.

[33:25] bilang ke anaknya ee Nak udah ya Nak. Uit itu buat ditabung ya Nak. Bukan buat

[33:27] Uit itu buat ditabung ya Nak. Bukan buat ditelan [tertawa] gitu,

[33:30] ditelan [tertawa] gitu, Dok. Yang bener aja, Dok. Dipancing

[33:32] Dok. Yang bener aja, Dok. Dipancing gitu, Dok.

[33:33] gitu, Dok. Iya.

[33:33] Iya. Sebenarnya tapi sebenar-benarnya kalau

[33:36] Sebenarnya tapi sebenar-benarnya kalau di hari itu enggak hari libur ya,

[33:38] di hari itu enggak hari libur ya, komplit ya.

[33:38] komplit ya. Ya udah tuh normaln normal. Endoskopi

[33:41] Ya udah tuh normaln normal. Endoskopi endoskopi. Endoskopi endoskopi harus

[33:43] endoskopi. Endoskopi endoskopi harus pakai endoskopi. Dendoskopi itu berarti

[33:44] pakai endoskopi. Dendoskopi itu berarti dimasukin selang.

[33:45] dimasukin selang. Masukin selang gitu

[33:46] Masukin selang gitu terus dipancing ke atas

[33:47] terus dipancing ke atas ya. Sama juga sih ya prinsipnya begitu.

[33:50] ya. Sama juga sih ya prinsipnya begitu. Sama ya. Gila, Dok. Gokil. [tertawa]

[33:52] Sama ya. Gila, Dok. Gokil. [tertawa] Sumpah gokil. Keren

[33:53] Sumpah gokil. Keren gitu. Terus pas tapi kok yang aneh si

[33:56] gitu. Terus pas tapi kok yang aneh si anak itu enggak kerasa apa-apa ya? Emang

[33:58] anak itu enggak kerasa apa-apa ya? Emang kanan anak kecil aja kali ya.

[33:59] kanan anak kecil aja kali ya. Kenyal lentur kan itu.

[34:01] Kenyal lentur kan itu. Oh di sini.

[34:02] Oh di sini. Heeh. Aman itu mah. Si anaknya juga

[34:04] Heeh. Aman itu mah. Si anaknya juga happy senyum-senyum kayak enggak ada

[34:06] happy senyum-senyum kayak enggak ada apa-apa Bang. [tertawa]

[34:08] apa-apa Bang. [tertawa] Mungkin dia juga udah lupa ya sekarang.

[34:10] Mungkin dia juga udah lupa ya sekarang. Sumpah aneh banget Dokd gua ngerasain

[34:12] Sumpah aneh banget Dokd gua ngerasain kayak anjir koin. Habis itu keluar

[34:15] kayak anjir koin. Habis itu keluar cardis time zone enggak dari [tertawa]

[34:19] terus itu kan benda asing yang ee ini

[34:22] terus itu kan benda asing yang ee ini mati. Benda mati. Ada juga sih benda

[34:24] mati. Benda mati. Ada juga sih benda asing mati juga, Bang Radi. Aku kan

[34:26] asing mati juga, Bang Radi. Aku kan pernah e ini sunatan massal. Jadi buat

[34:29] pernah e ini sunatan massal. Jadi buat rame-rame gitu sunatan massal. Aku

[34:31] rame-rame gitu sunatan massal. Aku bilang kalau mau kontrol nanti ke IGD

[34:34] bilang kalau mau kontrol nanti ke IGD aja ya gitu. Nah, salah satu anak yang

[34:36] aja ya gitu. Nah, salah satu anak yang aku sunatan masal itu kontrol kontrol si

[34:40] aku sunatan masal itu kontrol kontrol si kasarnya nempel lengket di ee si

[34:43] kasarnya nempel lengket di ee si kecilnya dia itu.

[34:45] kecilnya dia itu. Iya. Heeh.

[34:46] Iya. Heeh. Aku harus untuk berusaha untuk

[34:48] Aku harus untuk berusaha untuk ngelepasin itu kan, Bang.

[34:49] ngelepasin itu kan, Bang. Oke.

[34:50] Oke. Cuma emang lengket banget. Enggak tahu

[34:52] Cuma emang lengket banget. Enggak tahu nih anak ngapain gitu loh. Aku mungkin

[34:54] nih anak ngapain gitu loh. Aku mungkin keringetan atau apa gitu. Lengket

[34:56] keringetan atau apa gitu. Lengket banget.

[34:56] banget. Ya udah yuk yuk yuk. Itu mukanya yakuza

[34:59] Ya udah yuk yuk yuk. Itu mukanya yakuza banget. Itu anak mah SD. Anak SD tapi

[35:02] banget. Itu anak mah SD. Anak SD tapi anak petantang-petenteng gitu loh.

[35:04] anak petantang-petenteng gitu loh. Oh anak bandel nih.

[35:05] Oh anak bandel nih. Iya iya.

[35:08] Iya iya. Dok Dok ngapain Dok? Ngapain Dok?

[35:10] Dok Dok ngapain Dok? Ngapain Dok? [tertawa] Anak kita enggak Om dokter

[35:12] [tertawa] Anak kita enggak Om dokter cuma pengin lihat. Lihat doang. Ya, Dok.

[35:14] cuma pengin lihat. Lihat doang. Ya, Dok. Benar ya? Lihat doang. Iya lihat doang.

[35:17] Benar ya? Lihat doang. Iya lihat doang. Terus aku mau coba pegang pakai kasa. De

[35:19] Terus aku mau coba pegang pakai kasa. De deh. Enggak usah dipegang, Dok. Cucci

[35:22] deh. Enggak usah dipegang, Dok. Cucci [tertawa] banget bocah SD, Bang.

[35:25] [tertawa] banget bocah SD, Bang. Pengin pengin noyor, Bang.

[35:27] Pengin pengin noyor, Bang. Itu kayak anakku. Anakku juga gitu

[35:29] Itu kayak anakku. Anakku juga gitu kalau ke dokter gitu. Enggak disuntik

[35:30] kalau ke dokter gitu. Enggak disuntik kan? Enggak disuntik kan? Gitu

[35:32] kan? Enggak disuntik kan? Gitu terus tapi tiba-tiba enggak enggak aku

[35:35] terus tapi tiba-tiba enggak enggak aku harus copotin pegang aku tuang-tuangin

[35:38] harus copotin pegang aku tuang-tuangin NaCl biar lunak.

[35:41] NaCl biar lunak. Wah itu semua kata-kata kasar yang

[35:43] Wah itu semua kata-kata kasar yang enggak masuk di kepala aku dulu kali ya

[35:45] enggak masuk di kepala aku dulu kali ya keluar semua dari mulutnya dia gitu.

[35:48] keluar semua dari mulutnya dia gitu. Bang sebutin apa coba ya? Anj, bang K

[35:52] Bang sebutin apa coba ya? Anj, bang K semuanya. [tertawa]

[35:53] semuanya. [tertawa] Makasih sudah disensor ya. Sensor

[35:56] Makasih sudah disensor ya. Sensor manual.

[35:56] manual. Sensor sensor manual banget ya.

[35:58] Sensor sensor manual banget ya. Iya.

[35:58] Iya. Pokoknya keluar semua.

[35:59] Pokoknya keluar semua. Semua keluarlah Bang itu asli.

[36:01] Semua keluarlah Bang itu asli. Buset ibunya menurut Abang ini enggak

[36:05] Buset ibunya menurut Abang ini enggak nyentil diaak. Enggak.

[36:06] nyentil diaak. Enggak. Narahin dong aturan

[36:07] Narahin dong aturan ketawa-ketawa aja. Ya Allah.

[36:09] ketawa-ketawa aja. Ya Allah. Masyaallah. Dan tiba-tiba, Bang di

[36:11] Masyaallah. Dan tiba-tiba, Bang di antara semua jeritannya dia itu, dia

[36:14] antara semua jeritannya dia itu, dia teriak kencang lihat mukaku. Dokter sih

[36:17] teriak kencang lihat mukaku. Dokter sih enak, Cina, enggak perlu disunat.

[36:20] enak, Cina, enggak perlu disunat. [tertawa]

[36:23] Perasaan kurang Sunda apa mukaku ini?

[36:26] Perasaan kurang Sunda apa mukaku ini? Tasik ini. Tasik papa mama Tasik.

[36:29] Tasik ini. Tasik papa mama Tasik. [tertawa]

[36:30] [tertawa] Kenapa itu keluar dari mulut dia juga?

[36:33] Kenapa itu keluar dari mulut dia juga? Ya Allah

[36:34] Ya Allah tahu dari mana dia Cina enggak perlu

[36:36] tahu dari mana dia Cina enggak perlu sunat coba [tertawa]

[36:38] sunat coba [tertawa] obrolan apa yang terjadi ya di antara

[36:40] obrolan apa yang terjadi ya di antara pertemanannya dia itu apa sih Bang gitu

[36:42] pertemanannya dia itu apa sih Bang gitu loh.

[36:43] loh. Dia kan butuh masukan kan untuk bisa

[36:45] Dia kan butuh masukan kan untuk bisa keluar kan butuh input kan. Berarti

[36:47] keluar kan butuh input kan. Berarti inputnya kan dahsyat banget. Tapi emang

[36:49] inputnya kan dahsyat banget. Tapi emang enggak pernah kesel, Dok, kalau kayak

[36:50] enggak pernah kesel, Dok, kalau kayak gitu ketemu pasien yang ngeyel atau apa?

[36:53] gitu ketemu pasien yang ngeyel atau apa? Ini ini sih. Oh, lucu. Perawatku tu kan

[36:56] Ini ini sih. Oh, lucu. Perawatku tu kan cowok dua, cewek satu, Bang.

[36:58] cowok dua, cewek satu, Bang. Dia tuh pengin bantuin aku, dia ngelihat

[37:01] Dia tuh pengin bantuin aku, dia ngelihat perawatku yang dia ngapain kerudung. Eh,

[37:03] perawatku yang dia ngapain kerudung. Eh, ini ngapain si? Si ngapain ini

[37:05] ini ngapain si? Si ngapain ini dekat-dekat si

[37:06] dekat-dekat si si

[37:07] si perawatnya bilang si Zuka.

[37:09] perawatnya bilang si Zuka. Terus teman perawatku yang rada gendut,

[37:11] Terus teman perawatku yang rada gendut, "Ini juga giant ini ngapain giant?"

[37:12] "Ini juga giant ini ngapain giant?" [tertawa]

[37:14] [tertawa] Terus

[37:15] Terus enggak itu emang bandel aja atau

[37:16] enggak itu emang bandel aja atau bandel? Ada perawatku yang memang suka

[37:18] bandel? Ada perawatku yang memang suka cemberut gitu. Datang lagi nyamperin

[37:20] cemberut gitu. Datang lagi nyamperin lagi. Ini juga Sneo.

[37:22] lagi. Ini juga Sneo. Iya.

[37:22] Iya. Jadi aku dikelilingin sama Giant si

[37:25] Jadi aku dikelilingin sama Giant si Sukesuno. [tertawa] Aku lihat cermin

[37:28] Sukesuno. [tertawa] Aku lihat cermin nobita.

[37:30] nobita. Akhirnya aku panggil ibunya untuk ya aku

[37:33] Akhirnya aku panggil ibunya untuk ya aku cerita lah. Dub hati-hati Bu. Enggak

[37:35] cerita lah. Dub hati-hati Bu. Enggak semua orang se soalnya perut aku udah

[37:38] semua orang se soalnya perut aku udah emosi gitu. Sedangkan aku kan tipikal

[37:40] emosi gitu. Sedangkan aku kan tipikal enggak bisa marah ya Bang. Aku boro-boro

[37:42] enggak bisa marah ya Bang. Aku boro-boro bisa marah sama sekali gitu.

[37:44] bisa marah sama sekali gitu. Iya. Nah yang benda hidup apa? Benda

[37:45] Iya. Nah yang benda hidup apa? Benda hidup.

[37:46] hidup. Iya. Nah, itu benda hidup sama balita

[37:47] Iya. Nah, itu benda hidup sama balita juga. Cuma dia nangis terus sambil

[37:49] juga. Cuma dia nangis terus sambil megang-megangin kuping.

[37:51] megang-megangin kuping. Heeh.

[37:51] Heeh. Oh, nangis. Heeh. Gitu. Terus kenapa,

[37:54] Oh, nangis. Heeh. Gitu. Terus kenapa, Nak? Kenapa, Nak? Megang-megangin

[37:56] Nak? Kenapa, Nak? Megang-megangin megang-megangin kuping.

[37:58] megang-megangin kuping. Heeh.

[37:58] Heeh. Coba-coba Om Dokter lihat. Ambil alat

[38:02] Coba-coba Om Dokter lihat. Ambil alat kita sebutnya otoskop ya. Buat

[38:04] kita sebutnya otoskop ya. Buat ngelihatin isi dari lingang liang

[38:06] ngelihatin isi dari lingang liang telinga kita, Bang.

[38:08] telinga kita, Bang. Yuk, Nak. Nak lihat dulu nak. Yuk. Yuk.

[38:11] Yuk, Nak. Nak lihat dulu nak. Yuk. Yuk. Bentar. Kaget aku Bang. Ada dua mata

[38:15] Bentar. Kaget aku Bang. Ada dua mata ngelihatin aku, Bang.

[38:16] ngelihatin aku, Bang. Apagi, Dok. Dok, apaagi sih, Dok? Lalut

[38:20] Apagi, Dok. Dok, apaagi sih, Dok? Lalut hijau. [tertawa]

[38:21] hijau. [tertawa] Hah?

[38:23] Hah? Lalut hijau. Gede banget matanya, Bang.

[38:25] Lalut hijau. Gede banget matanya, Bang. Jadi di parkir mundur. [tertawa]

[38:30] Hijjau, parkir mundur masuk ke kuping

[38:33] Hijjau, parkir mundur masuk ke kuping orang, set. [tertawa] Jadi aku lihat

[38:36] orang, set. [tertawa] Jadi aku lihat matanya jadi adep-adepan. Aku

[38:37] matanya jadi adep-adepan. Aku tatap-tatapan sama dia.

[38:39] tatap-tatapan sama dia. Kepalat hijau. Anjir. Dia enggak bisa

[38:42] Kepalat hijau. Anjir. Dia enggak bisa keluar itu

[38:42] keluar itu ya. Gimana? Kan padat kan padat padat

[38:45] ya. Gimana? Kan padat kan padat padat kan dia kecil kan telinga anak tuh kan

[38:47] kan dia kecil kan telinga anak tuh kan kecil kan.

[38:48] kecil kan. Aduh lucu banget lagi. [tertawa]

[38:49] Aduh lucu banget lagi. [tertawa] Aduh lucu banget. Terus apa yang

[38:50] Aduh lucu banget. Terus apa yang terjadi?

[38:51] terjadi? Ya udah enggak aku tetesin NCL terus aku

[38:54] Ya udah enggak aku tetesin NCL terus aku coba slipin pakai pinset gitu sepadannya

[38:57] coba slipin pakai pinset gitu sepadannya dulu dapat kan ses w terbang apaang.

[39:00] dulu dapat kan ses w terbang apaang. [tertawa]

[39:01] [tertawa] Udah gitu hijau lagi lalatnya.

[39:03] Udah gitu hijau lagi lalatnya. Iya tahu kan lalat hijau yang gendut

[39:04] Iya tahu kan lalat hijau yang gendut itu. Iya iya iya. Yang yang enggak jelas

[39:06] itu. Iya iya iya. Yang yang enggak jelas itu kan.

[39:07] itu kan. Asli asli asli.

[39:08] Asli asli asli. Wah Dok itu cerita-cerita IGD-nya emang

[39:11] Wah Dok itu cerita-cerita IGD-nya emang luar biasa. Luar biasa semua ya.

[39:13] luar biasa. Luar biasa semua ya. Iya, itu korpus alienum kita sebut

[39:16] Iya, itu korpus alienum kita sebut korpus alenium.

[39:17] korpus alenium. Nah, ini dari YouTube member kita ada

[39:19] Nah, ini dari YouTube member kita ada banyak pertanyaan juga nih.

[39:21] banyak pertanyaan juga nih. Wih, YouTube member boleh nanya ya? I ke

[39:24] Wih, YouTube member boleh nanya ya? I ke dokter Gia

[39:25] dokter Gia kita tanyain ya.

[39:26] kita tanyain ya. Heeh.

[39:27] Heeh. Izin tanya dokter Gia. Dok, pernah

[39:28] Izin tanya dokter Gia. Dok, pernah enggak malam-malam waktu di IGD

[39:30] enggak malam-malam waktu di IGD tiba-tiba kursi gerak sendiri atau suara

[39:32] tiba-tiba kursi gerak sendiri atau suara cewek nangis dari arah karmaat atau

[39:34] cewek nangis dari arah karmaat atau fenomena yang enggak masuk akal lainnya?

[39:36] fenomena yang enggak masuk akal lainnya? Pokoknya kisah horor gitu. Pernah

[39:37] Pokoknya kisah horor gitu. Pernah enggak?

[39:38] enggak? Ya ampun. Untungnya sih aku ya enggak

[39:40] Ya ampun. Untungnya sih aku ya enggak pernah ngalamin untungnya, Bang. Jadi,

[39:42] pernah ngalamin untungnya, Bang. Jadi, oke kayaknya lebih horor yang tidak itu

[39:44] oke kayaknya lebih horor yang tidak itu deh. [tertawa]

[39:46] deh. [tertawa] Lebih horor yang dilihat mata lalat ya.

[39:49] Lebih horor yang dilihat mata lalat ya. Aku

[39:50] Aku lebih punya banyak cerita horor yang

[39:52] lebih punya banyak cerita horor yang mencekam karena

[39:54] mencekam karena nyawa-nyawa tipis gitu.

[39:56] nyawa-nyawa tipis gitu. Oh,

[39:57] Oh, daripada yang horor hantu. Iya. I

[39:59] daripada yang horor hantu. Iya. I ya. Makhluk gaib kan. Gaib kan berarti

[40:00] ya. Makhluk gaib kan. Gaib kan berarti enggak kelihatan sama mata. Ya,

[40:02] enggak kelihatan sama mata. Ya, berarti itu mitos aja ya kalau rumah

[40:03] berarti itu mitos aja ya kalau rumah sakit itu angkem. Mungkin mungkin

[40:05] sakit itu angkem. Mungkin mungkin mungkin

[40:05] mungkin karena orang enggak tahu kali.

[40:07] karena orang enggak tahu kali. Ada yang bilang paling menakutkan itu

[40:08] Ada yang bilang paling menakutkan itu kamar jenazah. Cuma banyak pasienku

[40:10] kamar jenazah. Cuma banyak pasienku sekarang yang bilang, "Bang, tahu

[40:12] sekarang yang bilang, "Bang, tahu enggak, Dok, ada ruangan yang lebih

[40:13] enggak, Dok, ada ruangan yang lebih menakutkan di rumah sakit

[40:15] menakutkan di rumah sakit apa?

[40:15] apa? Bukan ruang jenazah, Dok, kasir. Kasir

[40:18] Bukan ruang jenazah, Dok, kasir. Kasir [tertawa] rumah sakit itu menakutkan

[40:21] [tertawa] rumah sakit itu menakutkan banget." Iya. Iya, Pak.

[40:23] banget." Iya. Iya, Pak. Iya juga sih.

[40:24] Iya juga sih. Iya. Lagi. Iya. Lagi. [tertawa]

[40:25] Iya. Lagi. Iya. Lagi. [tertawa] Terus dari Rain. B, Dokter Gia mau tanya

[40:29] Terus dari Rain. B, Dokter Gia mau tanya dong. Saya belum menikah. Emang benar ya

[40:31] dong. Saya belum menikah. Emang benar ya kalau istri mau melahirkan bakal sepanik

[40:33] kalau istri mau melahirkan bakal sepanik itu? Apakah enggak bisa santai aja gitu,

[40:36] itu? Apakah enggak bisa santai aja gitu, Dok? Enggak bisa santai aja gitu. Batas

[40:38] Dok? Enggak bisa santai aja gitu. Batas waktunya berapa menit? Biasanya sampai

[40:39] waktunya berapa menit? Biasanya sampai bayi keluar sendiri. Takut panik, Dok.

[40:41] bayi keluar sendiri. Takut panik, Dok. Saya pas handle kayak gitu dia belum

[40:43] Saya pas handle kayak gitu dia belum nikah udah mikirin loh istrinya.

[40:44] nikah udah mikirin loh istrinya. Coba coba coba coba overthinkingnya.

[40:47] Coba coba coba coba overthinkingnya. Tapi gimana tuh biasanya gimana?

[40:49] Tapi gimana tuh biasanya gimana? Enggak buat yang nanya tadi aku mau

[40:51] Enggak buat yang nanya tadi aku mau bilang kamu berhak atas kehamilan yang

[40:53] bilang kamu berhak atas kehamilan yang tenang.

[40:54] tenang. Kehamilan yang tenang itu dijaganya

[40:56] Kehamilan yang tenang itu dijaganya sebelum hamil. Jadi kamu siapin dirimu

[40:59] sebelum hamil. Jadi kamu siapin dirimu tidak anemia, tekanan darahnya normal,

[41:01] tidak anemia, tekanan darahnya normal, gula darahmu normal, baru rencanain

[41:03] gula darahmu normal, baru rencanain kehamilan terus hamil terus diperiksa

[41:05] kehamilan terus hamil terus diperiksa tiap 3 bulan ante Natal ya, ante Natal

[41:08] tiap 3 bulan ante Natal ya, ante Natal care. Maka pas udah bulan kees9 itu kan

[41:11] care. Maka pas udah bulan kees9 itu kan udah proses lama, maka itu tinggal

[41:14] udah proses lama, maka itu tinggal senyam-senyam aja kamu ke rumah sakit

[41:16] senyam-senyam aja kamu ke rumah sakit mungkin perlu caesar atau boleh lahiran

[41:18] mungkin perlu caesar atau boleh lahiran normal, tiba-tiba lahir aja kamu pulang

[41:20] normal, tiba-tiba lahir aja kamu pulang bawa bayi happy gitu. Kalau IGD sendiri

[41:24] bawa bayi happy gitu. Kalau IGD sendiri ee lumayan sering juga enggak lahiran di

[41:26] ee lumayan sering juga enggak lahiran di IGD? Iya, lazim itu,

[41:28] IGD? Iya, lazim itu, Bang. Tentang cerita lahiran. Ada lagi

[41:31] Bang. Tentang cerita lahiran. Ada lagi nih ceritanya. Enggak habis-habis ya.

[41:32] nih ceritanya. Enggak habis-habis ya. [tertawa]

[41:33] [tertawa] Ini banyak banget ceritanya.

[41:35] Ini banyak banget ceritanya. Kan lama banget sih ya.

[41:36] Kan lama banget sih ya. I, Bang. Ada tiga ibu-ibu datang ke aku,

[41:39] I, Bang. Ada tiga ibu-ibu datang ke aku, tapi ditemenin sama cowok satu.

[41:42] tapi ditemenin sama cowok satu. Ini ibu kira-kira umur 18-an lah. Ini

[41:45] Ini ibu kira-kira umur 18-an lah. Ini kira-kira ya ibunya dia, Bang. Ini

[41:49] kira-kira ya ibunya dia, Bang. Ini neneknya dia gitu. Kebayang enggak? Ini

[41:51] neneknya dia gitu. Kebayang enggak? Ini lagi hamil 9 bulan.

[41:53] lagi hamil 9 bulan. Ini enggak pernah periksain kehamilan

[41:54] Ini enggak pernah periksain kehamilan kayak tadi itu.

[41:55] kayak tadi itu. Oke.

[41:56] Oke. Datang mulus-mulus udah keluar udah air

[41:58] Datang mulus-mulus udah keluar udah air ketubannya udah pecah.

[41:59] ketubannya udah pecah. Oke.

[42:00] Oke. Blor depan aku lagi, Bang. Pecah

[42:02] Blor depan aku lagi, Bang. Pecah ketubannya itu.

[42:02] ketubannya itu. H.

[42:03] H. Coba-coba sama bidan IGD dulu diperiksa

[42:06] Coba-coba sama bidan IGD dulu diperiksa Dok, pembukaannya lengkap gitu.

[42:08] Dok, pembukaannya lengkap gitu. Oke.

[42:08] Oke. Bentar daftarin dulu. Daftarin dulu,

[42:10] Bentar daftarin dulu. Daftarin dulu, gitu, Pak. Bapak daftarin, dulu, Pak.

[42:13] gitu, Pak. Bapak daftarin, dulu, Pak. Maaf, saya cuma tukang ini apa? Ee apa

[42:17] Maaf, saya cuma tukang ini apa? Ee apa tuh, Bang? Roda tiga tuh. Apa sih, Bang?

[42:18] tuh, Bang? Roda tiga tuh. Apa sih, Bang? Bajay

[42:19] Bajay bukan beca. Eh, aku c aku cuma tukang

[42:22] bukan beca. Eh, aku c aku cuma tukang beca. Maaf ya. Aku cuma ngantterin pergi

[42:24] beca. Maaf ya. Aku cuma ngantterin pergi aja ya. Cuma tiga ibu ini kan. He.

[42:26] aja ya. Cuma tiga ibu ini kan. He. Ya udah, Ibu yang daftarin ya. Iya. Aku

[42:29] Ya udah, Ibu yang daftarin ya. Iya. Aku beresin siapin untuk persalinan si anak

[42:33] beresin siapin untuk persalinan si anak muda ini. Aduh, masih

[42:36] muda ini. Aduh, masih paha.

[42:36] paha. Paha siap pimpin bareng sama bidan.

[42:39] Paha siap pimpin bareng sama bidan. Bidan yang ee ini stimulasi puting, Bang

[42:42] Bidan yang ee ini stimulasi puting, Bang Radit. Tahu enggak ya? stimul puting.

[42:43] Radit. Tahu enggak ya? stimul puting. Jadi kayak stimul puting itu membantu

[42:45] Jadi kayak stimul puting itu membantu banget buat bantu elastisitas vagina dan

[42:48] banget buat bantu elastisitas vagina dan lain-lain. Jadi itu bidan yang urusin oe

[42:51] lain-lain. Jadi itu bidan yang urusin oe oe lahir. Pas lahir pas ibu dua tadi

[42:54] oe lahir. Pas lahir pas ibu dua tadi datang lahir cewek, Bang. Bayinya

[42:56] datang lahir cewek, Bang. Bayinya perempuan lucu banget. Aduh aku happy

[42:59] perempuan lucu banget. Aduh aku happy banget lihat bayi itu. Ah yuk yuk. Pas

[43:03] banget lihat bayi itu. Ah yuk yuk. Pas lihat bayinya cewek dua ibu beda usia

[43:06] lihat bayinya cewek dua ibu beda usia ini jerit.

[43:08] ini jerit. Wow, cewek cewek mau. Loh, loh, loh,

[43:12] Wow, cewek cewek mau. Loh, loh, loh, loh. Kenapa nangis ke jerah? Kita

[43:15] loh. Kenapa nangis ke jerah? Kita terkutuk. Kita terkutuk. [tertawa]

[43:17] terkutuk. Kita terkutuk. [tertawa] Terkutuk.

[43:19] Terkutuk. Bukan. Ada apa. Entar aku taruh dulu kan

[43:21] Bukan. Ada apa. Entar aku taruh dulu kan si bayinya. Ada apa? Entar yuk keluar

[43:24] si bayinya. Ada apa? Entar yuk keluar dulu. Keluar dulu. Kan enggak enak kan.

[43:25] dulu. Keluar dulu. Kan enggak enak kan. Kasihan ni baru ngelahirin tiba-tiba

[43:27] Kasihan ni baru ngelahirin tiba-tiba ngelihat ibu dan neneknya jerit-jerit

[43:29] ngelihat ibu dan neneknya jerit-jerit kayak gitu.

[43:30] kayak gitu. Iya.

[43:30] Iya. Ibu bentar. Ada apa?

[43:32] Ibu bentar. Ada apa? Kita keluarga kayak dia terkutuk dong.

[43:34] Kita keluarga kayak dia terkutuk dong. Anak saya itu lahir tanpa suami, enggak

[43:38] Anak saya itu lahir tanpa suami, enggak ada suami. Saya yang ngelahirin anakku,

[43:40] ada suami. Saya yang ngelahirin anakku, saya juga enggak punya suami. Saya

[43:41] saya juga enggak punya suami. Saya dilahirin sama ibuku juga tanpa suami.

[43:44] dilahirin sama ibuku juga tanpa suami. Dan sekarang bayinya perempuan, Dok. Aku

[43:47] Dan sekarang bayinya perempuan, Dok. Aku takut itu perempuan itu juga terkuteh,

[43:49] takut itu perempuan itu juga terkuteh, Dok.

[43:49] Dok. Hah?

[43:50] Hah? Allahu Akbar, Bang.

[43:52] Allahu Akbar, Bang. Hah?

[43:53] Hah? Aku dalam hati, "Bu, bentar, Bu. Saya

[43:56] Aku dalam hati, "Bu, bentar, Bu. Saya saya pribadi tidak percaya ada bayi yang

[43:58] saya pribadi tidak percaya ada bayi yang terkutuk gitu sama sekali."

[44:01] terkutuk gitu sama sekali." "Enggak dong, kami terkutuk."

[44:03] "Enggak dong, kami terkutuk." Aduh, enggak bisa kan udah belief sistem

[44:05] Aduh, enggak bisa kan udah belief sistem orang kan aku enggak bisa bantah. Oke,

[44:09] orang kan aku enggak bisa bantah. Oke, Bu, boleh enggak aku bantu memutus

[44:11] Bu, boleh enggak aku bantu memutus kutukan itu, Bu?

[44:13] kutukan itu, Bu? Gimana caranya, Dok? Izinin aku

[44:15] Gimana caranya, Dok? Izinin aku melakukan hal yang belum dilakukan sama

[44:17] melakukan hal yang belum dilakukan sama ibu dan ibu. Apa itu, Dok? Izinkan saya

[44:20] ibu dan ibu. Apa itu, Dok? Izinkan saya mengazankan bayinya.

[44:22] mengazankan bayinya. Dia langsung mikir, oh ya, silakan, Dok.

[44:25] Dia langsung mikir, oh ya, silakan, Dok. Akhirnya aku azanin itu, Bang, bayinya.

[44:29] Akhirnya aku azanin itu, Bang, bayinya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Ya Allah,

[44:32] Allahu Akbar. Allahu Akbar. Ya Allah, itu azan terkhidmat yang pernah aku

[44:33] itu azan terkhidmat yang pernah aku lakukan, Bang. Asli, karena aku percaya

[44:35] lakukan, Bang. Asli, karena aku percaya ini anak suci gitu.

[44:38] ini anak suci gitu. Tapi, tapi kok bisa ibunya enggak punya

[44:41] Tapi, tapi kok bisa ibunya enggak punya suami hamil, ibunya lagi enggak punya

[44:44] suami hamil, ibunya lagi enggak punya suami hamil.

[44:44] suami hamil. Gimana dia punya belief system bahwa

[44:46] Gimana dia punya belief system bahwa terkutuk?

[44:47] terkutuk? Wah, wah, wah, wah, w

[44:48] Wah, wah, wah, wah, w gitu. Jadi, wah, ibunya ngelihat bayinya

[44:51] gitu. Jadi, wah, ibunya ngelihat bayinya diazanin, wah langsung cerah banget gitu

[44:53] diazanin, wah langsung cerah banget gitu sih ibunya ya.

[44:55] sih ibunya ya. Iya. I

[44:55] Iya. I ya. Pulang dengan happy gitu ya. Aku sih

[44:58] ya. Pulang dengan happy gitu ya. Aku sih enggak tahu ya, Bang, nasib bayi itu ke

[45:00] enggak tahu ya, Bang, nasib bayi itu ke depannya gimana. Tapi ya harapan sih

[45:02] depannya gimana. Tapi ya harapan sih enggak lah. Jauhlah dari terkutuk.

[45:05] enggak lah. Jauhlah dari terkutuk. Iya. Berarti berarti memang macam-macam

[45:06] Iya. Berarti berarti memang macam-macam ya orang yang datang ke IGD dengan

[45:08] ya orang yang datang ke IGD dengan beraneka ragam.

[45:09] beraneka ragam. Beraneka ragam

[45:10] Beraneka ragam apa yang di kepala mereka kan juga bisa

[45:12] apa yang di kepala mereka kan juga bisa macam-macam juga kan.

[45:13] macam-macam juga kan. Iya makanya

[45:14] Iya makanya pernah enggak ada yang menolak ee

[45:16] pernah enggak ada yang menolak ee pengobatan atau perawatan hanya karena

[45:17] pengobatan atau perawatan hanya karena enggak percaya sama obat, enggak percaya

[45:19] enggak percaya sama obat, enggak percaya sama dokter. Ah lucu,

[45:21] sama dokter. Ah lucu, Dok. Datang malam-malam lagi,

[45:24] Dok. Datang malam-malam lagi, Dok. Saya ingin ketemu dokter paling

[45:26] Dok. Saya ingin ketemu dokter paling sakti di sini.

[45:28] sakti di sini. Kok cuma ada aku yang jago cuma aku

[45:30] Kok cuma ada aku yang jago cuma aku sendiri.

[45:30] sendiri. Udah ajak duel apa gimana,

[45:32] Udah ajak duel apa gimana, Dok? Nih

[45:35] Dok? Nih saya udah pakai ini. Apa ini?

[45:39] saya udah pakai ini. Apa ini? Ada aneh-aneh banget, Bang, bentuknya

[45:41] Ada aneh-aneh banget, Bang, bentuknya kayak ada rambut kuda. Ada

[45:43] kayak ada rambut kuda. Ada kayak jimat gitu.

[45:44] kayak jimat gitu. Iya, jimat-jimat gitu. Paket anti santet

[45:47] Iya, jimat-jimat gitu. Paket anti santet katanya. [tertawa]

[45:48] katanya. [tertawa] Bentar. Kok paket anti santet dibawa ke

[45:51] Bentar. Kok paket anti santet dibawa ke sini?

[45:51] sini? He. Terus mau buat apa?

[45:53] He. Terus mau buat apa? Aku nih rasanya lemas nih. Aku kayaknya

[45:55] Aku nih rasanya lemas nih. Aku kayaknya disantet ini, Dok.

[45:56] disantet ini, Dok. Iya. Bentar cobacoba lemesnya berapa

[45:59] Iya. Bentar cobacoba lemesnya berapa lama aku diagnosis lah dia gini dong

[46:02] lama aku diagnosis lah dia gini dong gitu ya aku periksa.

[46:05] gitu ya aku periksa. Oh ternyata aku tahu bahwa ini hepatitis

[46:09] Oh ternyata aku tahu bahwa ini hepatitis A gitu.

[46:09] A gitu. Oh penyakit hati ya.

[46:10] Oh penyakit hati ya. Heeh. Hepatitis A coronavirus bukan

[46:13] Heeh. Hepatitis A coronavirus bukan karena santet.

[46:14] karena santet. Oh pas dijelasin

[46:16] Oh pas dijelasin untung kamu bukan hepatitis B itu lebih

[46:19] untung kamu bukan hepatitis B itu lebih berat. Tapi ini hepatitis kamu pasti

[46:20] berat. Tapi ini hepatitis kamu pasti bisa sembuh.

[46:21] bisa sembuh. Hm.

[46:22] Hm. Dan aku akan kasih kamu obat. itu anti

[46:26] Dan aku akan kasih kamu obat. itu anti santet sesungguhnya. [tertawa]

[46:30] Nah, yang itu buang aja buang. Jadi aku

[46:32] Nah, yang itu buang aja buang. Jadi aku ini ini percuma dong percuma enggak

[46:34] ini ini percuma dong percuma enggak dibeli.

[46:35] dibeli. Jadi dia hatinya sakit sakit perutnya

[46:38] Jadi dia hatinya sakit sakit perutnya mungkin daerah perut kali ya mual dia

[46:40] mungkin daerah perut kali ya mual dia pikir santai rada kuning kan

[46:43] pikir santai rada kuning kan mukanya gitu dia pikir santai tahunya

[46:46] mukanya gitu dia pikir santai tahunya hepatitis A.

[46:48] hepatitis A. Apa cerita lagi? Ayo ayo.

[46:49] Apa cerita lagi? Ayo ayo. Jadi Bang malam-malam aku kedatangan

[46:52] Jadi Bang malam-malam aku kedatangan empat anak laki-laki.

[46:54] empat anak laki-laki. Heeh. Cowok cowok cowok cok cok. Mukanya

[46:57] Heeh. Cowok cowok cowok cok cok. Mukanya panik semua. Tapi lucunya empat anak

[46:59] panik semua. Tapi lucunya empat anak laki ini paniknya tuh berirama gitu.

[47:02] laki ini paniknya tuh berirama gitu. Dok, tolongin, Dok. Terus cowok kedua

[47:03] Dok, tolongin, Dok. Terus cowok kedua bilang, "Ini Dok, tetanggaku, Dok. Dok,

[47:06] bilang, "Ini Dok, tetanggaku, Dok. Dok, itu lehernya, Dok, Dok, asli, Dok. Kita

[47:09] itu lehernya, Dok, Dok, asli, Dok. Kita stres, Dok. Apa sih kalian kayak lagi

[47:12] stres, Dok. Apa sih kalian kayak lagi main rapper gitu? Ini, Dok, dia

[47:14] main rapper gitu? Ini, Dok, dia empat-empatnya narik ke depan

[47:16] empat-empatnya narik ke depan dia bawa perempuan yang berh gitu.

[47:20] dia bawa perempuan yang berh gitu. Ini, Dok, ini ditolongin, Dok.

[47:21] Ini, Dok, ini ditolongin, Dok. Nak, kamu kenapa? Dia dengar, "Bang,

[47:24] Nak, kamu kenapa? Dia dengar, "Bang, cewek berhudi itu hoodinya mirip lagi.

[47:27] cewek berhudi itu hoodinya mirip lagi. [tertawa]

[47:29] [tertawa] Hudinya mirip gini, Bang. Bang, coba

[47:31] Hudinya mirip gini, Bang. Bang, coba deh, Bang. Bang, Bang Radi tutupin terus

[47:33] deh, Bang. Bang, Bang Radi tutupin terus nunduk

[47:34] nunduk kan."

[47:34] kan." Nah, terus Bang Radit dengak

[47:36] Nah, terus Bang Radit dengak dengar

[47:37] dengar lehernya ikut dengak, Bang. Leher senyum

[47:40] lehernya ikut dengak, Bang. Leher senyum sama aku kebuka.

[47:41] sama aku kebuka. Kenapa gua disamain [tertawa]

[47:43] Kenapa gua disamain [tertawa] sama orang? Lehernya jeroa

[47:47] sama orang? Lehernya jeroa yang benar Dok. Dok, yang benar aja,

[47:49] yang benar Dok. Dok, yang benar aja, Dok. Dia begini lehernya kebuka. Leher

[47:51] Dok. Dia begini lehernya kebuka. Leher senyum sama aku, Bang.

[47:53] senyum sama aku, Bang. Itu mataku segede piring langsung, Bang.

[47:56] Itu mataku segede piring langsung, Bang. What?

[47:58] What? N udah cepetan masuk ke ruang tindakan.

[48:00] N udah cepetan masuk ke ruang tindakan. Masukmasuk masuk ke ruang tindakan. Ini

[48:03] Masukmasuk masuk ke ruang tindakan. Ini gimana ceritanya dia si empat ini cerita

[48:05] gimana ceritanya dia si empat ini cerita lagi, "Tadi kami lagi main lagi mabar,

[48:08] lagi, "Tadi kami lagi main lagi mabar, Dok. Tiba-tiba di jendela ada yang

[48:10] Dok. Tiba-tiba di jendela ada yang bilang, "Bang, tolongin aku, Bang."

[48:12] bilang, "Bang, tolongin aku, Bang." [tertawa]

[48:13] [tertawa] Aduh, ketawa lagi

[48:14] Aduh, ketawa lagi pas lihat di jendela. Ya gitu, Dok, ya.

[48:17] pas lihat di jendela. Ya gitu, Dok, ya. Kami juga ngelihat lehernya gitu.

[48:19] Kami juga ngelihat lehernya gitu. Terus itu kira-kira apa? Dia sendiri,

[48:21] Terus itu kira-kira apa? Dia sendiri, Dok. Dia sendiri itu di CCTV kita sudah

[48:23] Dok. Dia sendiri itu di CCTV kita sudah lihat enggak ada orang lain itu sendiri

[48:24] lihat enggak ada orang lain itu sendiri tuh, Dok. Tuh cutter itu. Tu cutter itu

[48:26] tuh, Dok. Tuh cutter itu. Tu cutter itu cutter kata si abang-abang.

[48:28] cutter kata si abang-abang. Oh, dia berusaha ini.

[48:29] Oh, dia berusaha ini. Heeh.

[48:30] Heeh. Ya, ya udah udah daftarin dulu aja gitu.

[48:32] Ya, ya udah udah daftarin dulu aja gitu. Aku urusinlah. Dan yang keren, Bang.

[48:35] Aku urusinlah. Dan yang keren, Bang. Ketiadaan rasa sakit

[48:38] Ketiadaan rasa sakit leher kebuka gitu kan.

[48:41] leher kebuka gitu kan. Uh, itu adrenalin dahsyat banget ya.

[48:42] Uh, itu adrenalin dahsyat banget ya. Iya. Uh, nutupin sakit ya. I

[48:44] Iya. Uh, nutupin sakit ya. I lagi keluar banget tuh adrenal lagi

[48:45] lagi keluar banget tuh adrenal lagi tinggi-tingginya itu.

[48:46] tinggi-tingginya itu. Oke, terus

[48:47] Oke, terus tiduran kamu kenapa nak? Gitu. Aku masih

[48:51] tiduran kamu kenapa nak? Gitu. Aku masih muda soalnya kan untungnya pas aku cek

[48:54] muda soalnya kan untungnya pas aku cek ternyata kulit

[48:55] ternyata kulit jadi enggak sampai enggak sampai otot.

[48:57] jadi enggak sampai enggak sampai otot. Memang kalau diterusin dalamnya dikit

[48:59] Memang kalau diterusin dalamnya dikit beberapa mili lagi itu pembuluh darah

[49:01] beberapa mili lagi itu pembuluh darah pasti kena.

[49:02] pasti kena. Berarti itu ngangya karena darah tuh

[49:04] Berarti itu ngangya karena darah tuh bukan darah kapiler aja. Kapiler enggak

[49:06] bukan darah kapiler aja. Kapiler enggak darah pinggiran dibuka vena-vena aja

[49:09] darah pinggiran dibuka vena-vena aja si kulitnya jatuh gitu loh.

[49:11] si kulitnya jatuh gitu loh. Oh my God. kebuka. Kamu kenapa, Nak?

[49:14] Oh my God. kebuka. Kamu kenapa, Nak? Gitu. Dia diam aja,

[49:17] Gitu. Dia diam aja, "Dok, aku ini enggak punya bapak. Terus

[49:21] "Dok, aku ini enggak punya bapak. Terus ibuku baru aja meninggal. Strok stroke

[49:23] ibuku baru aja meninggal. Strok stroke lagi kan."

[49:24] lagi kan." H

[49:25] H stroke, Dok. Gitu, Dok. Aku tuh bingung

[49:27] stroke, Dok. Gitu, Dok. Aku tuh bingung deh, Dok. Aku lihat sekitar aku tuh pada

[49:31] deh, Dok. Aku lihat sekitar aku tuh pada happy semua kayaknya. Pada jago-jago

[49:33] happy semua kayaknya. Pada jago-jago banget mainin perannya. Kalau dunia ini

[49:36] banget mainin perannya. Kalau dunia ini panggung sandiwara, kapan pembagian

[49:38] panggung sandiwara, kapan pembagian skripnya sih, Dok? Kata dia gitu dia

[49:41] skripnya sih, Dok? Kata dia gitu dia lagi tapi keren ya, Bang. dia habis

[49:42] lagi tapi keren ya, Bang. dia habis melakukan itu, dia masih bisa

[49:44] melakukan itu, dia masih bisa mengutarakan isi hatinya gitu.

[49:46] mengutarakan isi hatinya gitu. Oke. Dia merasa enggak punya peran gitu

[49:48] Oke. Dia merasa enggak punya peran gitu atau

[49:48] atau iya. Kayak aku kayak dunia hiruk pikuk

[49:51] iya. Kayak aku kayak dunia hiruk pikuk itu kayak aku kayak duduk di pojok kan

[49:53] itu kayak aku kayak duduk di pojok kan enggak tahu mau ngapain dong.

[49:55] enggak tahu mau ngapain dong. Dan aku pikir dunia itu indah, ternyata

[49:57] Dan aku pikir dunia itu indah, ternyata keindahan itu ditutupi sama ibuku. Saat

[49:59] keindahan itu ditutupi sama ibuku. Saat ibuku enggak ada, nyatalah wajah dunia

[50:02] ibuku enggak ada, nyatalah wajah dunia sesungguhnya yang kejam, dingin, keji

[50:04] sesungguhnya yang kejam, dingin, keji gitu dia cerita.

[50:06] gitu dia cerita. Terus dia diam, "Berti nunggu aku jawab

[50:08] Terus dia diam, "Berti nunggu aku jawab kan?" Hm.

[50:09] kan?" Hm. Nak, percayalah, Nak. Pembagian script

[50:12] Nak, percayalah, Nak. Pembagian script itu enggak pernah ada. Enggak ada yang

[50:14] itu enggak pernah ada. Enggak ada yang pernah. Enggak ada pembagian skrip itu.

[50:17] pernah. Enggak ada pembagian skrip itu. Kita yang nulis skrip kita sendiri.

[50:19] Kita yang nulis skrip kita sendiri. Benar enggak, Bang?

[50:19] Benar enggak, Bang? Benar. Benar, benar.

[50:20] Benar. Benar, benar. Kita yang nulis skrip kita sendiri.

[50:22] Kita yang nulis skrip kita sendiri. Jadi, enggak apa-apa kalau kamu ngerasa

[50:25] Jadi, enggak apa-apa kalau kamu ngerasa bingung. Sama semua orang terhebat pun

[50:28] bingung. Sama semua orang terhebat pun di muka bumi punya fase bingung dan ini

[50:30] di muka bumi punya fase bingung dan ini lagi fase kamu. Dan untung kamu ke sini

[50:33] lagi fase kamu. Dan untung kamu ke sini enggak apa-apa. Ini Om dokter bantu

[50:35] enggak apa-apa. Ini Om dokter bantu jahit ya? Iya, Dok. Udah aku jahit

[50:38] jahit ya? Iya, Dok. Udah aku jahit pelan-pelan sambil ngobrol, Bang. One by

[50:40] pelan-pelan sambil ngobrol, Bang. One by one. Terus sampai terakhir. Kamu tahu

[50:42] one. Terus sampai terakhir. Kamu tahu enggak kupu-kupu itu enggak bisa

[50:45] enggak kupu-kupu itu enggak bisa ngelihat kehindaan dirinya, tapi orang

[50:46] ngelihat kehindaan dirinya, tapi orang lain bisa. Nah, kamu tuh kayak gitu.

[50:49] lain bisa. Nah, kamu tuh kayak gitu. Hm.

[50:50] Hm. Kamu cuma enggak bisa ngelihat potensi

[50:52] Kamu cuma enggak bisa ngelihat potensi kamu aja. Pasti orang lain bisa lihat

[50:54] kamu aja. Pasti orang lain bisa lihat potensi kamu gitu. Jadi, apapun yang

[50:57] potensi kamu gitu. Jadi, apapun yang kamu lakukan, keep going aja, keep

[50:59] kamu lakukan, keep going aja, keep flying. Aku bil.

[51:00] flying. Aku bil. Oke.

[51:00] Oke. Terus air matanya netes, Bang.

[51:02] Terus air matanya netes, Bang. Mudah-mudahan tuh air mata harapan ya.

[51:04] Mudah-mudahan tuh air mata harapan ya. He.

[51:04] He. Terus ya udah dia pulang. Harusnya sih

[51:08] Terus ya udah dia pulang. Harusnya sih dia oke sih sekarang aku belum cek lagi

[51:09] dia oke sih sekarang aku belum cek lagi sih.

[51:10] sih. Belum ketemu dia lagi. Mungkin kalau dia

[51:12] Belum ketemu dia lagi. Mungkin kalau dia nonton podcast ini bisa kontak dokter

[51:14] nonton podcast ini bisa kontak dokter Gia ya.

[51:15] Gia ya. Heeh. Ayo.

[51:15] Heeh. Ayo. Tahun berapa tuh?

[51:16] Tahun berapa tuh? Wah beberapa tahun lalu lagi.

[51:18] Wah beberapa tahun lalu lagi. Berapa tahun lalu ya?

[51:19] Berapa tahun lalu ya? Nah tadi kan yang berhasil-berhasil. Ini

[51:21] Nah tadi kan yang berhasil-berhasil. Ini terakhir ya, Bang. Ni cerita terakhir.

[51:23] terakhir ya, Bang. Ni cerita terakhir. Aku gagal ini. Aku gagal.

[51:24] Aku gagal ini. Aku gagal. Oke. Wah.

[51:25] Oke. Wah. Gagal. Suami istri datang. Si per si

[51:29] Gagal. Suami istri datang. Si per si ibunya ini kurus banget, Bang. Udah

[51:31] ibunya ini kurus banget, Bang. Udah celong banget gini. Aku tahu dia waktu

[51:33] celong banget gini. Aku tahu dia waktu versi gemuknya. Jadi aku masih hafal.

[51:35] versi gemuknya. Jadi aku masih hafal. Ibu apa kabar? Ternyata dia udah

[51:37] Ibu apa kabar? Ternyata dia udah bolak-balik ke Darmais. Dia tuh kanker

[51:39] bolak-balik ke Darmais. Dia tuh kanker kanker paru-paru. Jadi udah bolak-balik

[51:42] kanker paru-paru. Jadi udah bolak-balik semua cara udah dilakukan kemo,

[51:45] semua cara udah dilakukan kemo, radioterapi, semuanya dah. Tapi dia

[51:47] radioterapi, semuanya dah. Tapi dia datang ke aku itu hanya karena kesakitan

[51:49] datang ke aku itu hanya karena kesakitan banget gitu. Sakit banget. Sakit banget.

[51:52] banget gitu. Sakit banget. Sakit banget. Masih ada gelang U. Gelang U itu gelang

[51:54] Masih ada gelang U. Gelang U itu gelang DNR. Do not resuscitate gitu.

[51:55] DNR. Do not resuscitate gitu. Ah iya yang jangan di ditolong buat ini

[51:58] Ah iya yang jangan di ditolong buat ini ya.

[51:58] ya. Heeh. Do not resusate. Yuk yuk masuk

[52:01] Heeh. Do not resusate. Yuk yuk masuk masuk. Aku cek saturasi oksigen. Bang

[52:03] masuk. Aku cek saturasi oksigen. Bang Radi tahu saturasi kan? Saturasi itu

[52:06] Radi tahu saturasi kan? Saturasi itu berapa persen oksigen yang kita hirup

[52:08] berapa persen oksigen yang kita hirup dari udara yang berhasil masuk ke dalam

[52:09] dari udara yang berhasil masuk ke dalam darah. Harusnya misalkan kita masukin 1

[52:11] darah. Harusnya misalkan kita masukin 1 liter itu keserap 95% ke atas lah gitu.

[52:15] liter itu keserap 95% ke atas lah gitu. Ini udah ambles banget udah 70-an.

[52:18] Ini udah ambles banget udah 70-an. Hm.

[52:18] Hm. Ya udah mulai lenglengan lenglengan

[52:20] Ya udah mulai lenglengan lenglengan gitu. Aku siapin lari ngoskop. Lari

[52:22] gitu. Aku siapin lari ngoskop. Lari ngoskop itu, Bang, alat buat masangin

[52:24] ngoskop itu, Bang, alat buat masangin intubasi. Jadi masukin selang nafas

[52:25] intubasi. Jadi masukin selang nafas langsung ke paru-paru, masukin ke

[52:27] langsung ke paru-paru, masukin ke ventilator, ke mesin gitu. Karena

[52:29] ventilator, ke mesin gitu. Karena saturasinya turun terus itu harus segera

[52:31] saturasinya turun terus itu harus segera dinaikin. Pas aku pegang lari ngoskop

[52:33] dinaikin. Pas aku pegang lari ngoskop bentuknya kayak sekop gitu bapaknya

[52:35] bentuknya kayak sekop gitu bapaknya langsung ngi lihat aku. Dokter, dokter

[52:37] langsung ngi lihat aku. Dokter, dokter mau ngapain? Dokter mau ngapain? Pak,

[52:40] mau ngapain? Dokter mau ngapain? Pak, saya izin mau pasang selang nafas buat

[52:42] saya izin mau pasang selang nafas buat alat B. Enggak dong, enggak dong.

[52:44] alat B. Enggak dong, enggak dong. Enggak. Udah cukup cuk. Dokter jangan

[52:45] Enggak. Udah cukup cuk. Dokter jangan jahatin istri saya, Dok. Jangan sakitin

[52:47] jahatin istri saya, Dok. Jangan sakitin istri saya lagi. Aduh, boro-boro pengin

[52:48] istri saya lagi. Aduh, boro-boro pengin nyakitin kan, Bang.

[52:50] nyakitin kan, Bang. Enggak, Dok. Udah, udah, udah, udah.

[52:52] Enggak, Dok. Udah, udah, udah, udah. Istri saya udah habis-habisan, Dok. Aku

[52:54] Istri saya udah habis-habisan, Dok. Aku juga dia udah ditusukin semua badannya.

[52:56] juga dia udah ditusukin semua badannya. Dia sudah ditusuk, Dok, dari sini, dari

[52:59] Dia sudah ditusuk, Dok, dari sini, dari semangat buat ngelarin cairan. Udah,

[53:00] semangat buat ngelarin cairan. Udah, Dok, jangan siksa istri saya, Dok. Pak,

[53:03] Dok, jangan siksa istri saya, Dok. Pak, tapi udah, Dok. Dia tunjukin gelang ungu

[53:06] tapi udah, Dok. Dia tunjukin gelang ungu tadi. Aku telun dulu, Bang.

[53:08] tadi. Aku telun dulu, Bang. Hm.

[53:09] Hm. Itu kan monitor nyala terus. Ninininit

[53:11] Itu kan monitor nyala terus. Ninininit ninit nininit ninit.

[53:13] ninit nininit ninit. Iya.

[53:13] Iya. Istrinya sudah mulai lemas-lemas gitu.

[53:15] Istrinya sudah mulai lemas-lemas gitu. Suaminya meluk turun. Nadinya 80, 70,

[53:20] Suaminya meluk turun. Nadinya 80, 70, 60, 40, 20. Saturasi juga mulai turun

[53:24] 60, 40, 20. Saturasi juga mulai turun lagi 20 10.

[53:27] lagi 20 10. Maafin aku istriku. Maafin aku istriku.

[53:29] Maafin aku istriku. Maafin aku istriku. Nit, tunggu aku istriku. Tunggu aku.

[53:32] Nit, tunggu aku istriku. Tunggu aku. Beh, Bang, itu aku gemeteran maring

[53:35] Beh, Bang, itu aku gemeteran maring ngoskop itu

[53:37] ngoskop itu nit gitu.

[53:40] nit gitu. Meninggal, meninggal

[53:43] Meninggal, meninggal meninggal. Wah, suaminya nangis-nangis.

[53:45] meninggal. Wah, suaminya nangis-nangis. Tunggu aku cintaku, tunggu aku cintaku,

[53:48] Tunggu aku cintaku, tunggu aku cintaku, tunggu aku cintaku. Gitu. Beh, itu pedih

[53:52] tunggu aku cintaku. Gitu. Beh, itu pedih banget, Bang. Asli. Berarti dia memang

[53:55] banget, Bang. Asli. Berarti dia memang udah capek kali ya.

[53:57] udah capek kali ya. Ternyata kan enggak semuanya bagus hasil

[53:59] Ternyata kan enggak semuanya bagus hasil kemo juga kan enggak semuanya oke gitu.

[54:01] kemo juga kan enggak semuanya oke gitu. Iya.

[54:02] Iya. Tapi sebagai dokter menghadapi kematian

[54:05] Tapi sebagai dokter menghadapi kematian di IGD

[54:06] di IGD Iya. Everyday

[54:07] Iya. Everyday itu setiap hampir tiap hari ada enggak?

[54:08] itu setiap hampir tiap hari ada enggak? Iya

[54:09] Iya pasti ya. Ini bagus banget buat

[54:11] pasti ya. Ini bagus banget buat dimasukin di ending sih. Jadi

[54:13] dimasukin di ending sih. Jadi sebagai dokter IG deh, Bang. Setelah

[54:15] sebagai dokter IG deh, Bang. Setelah melihat ratusan kematian ya dengan

[54:17] melihat ratusan kematian ya dengan segala rentang usia ya, bayi yang

[54:19] segala rentang usia ya, bayi yang meninggal, balita, anak remaja,

[54:23] meninggal, balita, anak remaja, juara kelas tiba-tiba ketimpa tembok

[54:26] juara kelas tiba-tiba ketimpa tembok meninggal gitu aja. Pasangan suami

[54:28] meninggal gitu aja. Pasangan suami istri, laki-laki yang potensinya luar

[54:31] istri, laki-laki yang potensinya luar biasa, kecelakaan, motor, meninggal.

[54:35] biasa, kecelakaan, motor, meninggal. Jadi aku lihat, Bang,

[54:38] Jadi aku lihat, Bang, kematian itu membuat kehidupan jadi

[54:41] kematian itu membuat kehidupan jadi lebih berharga.

[54:43] lebih berharga. Karena kita tahu kita pasti meninggal

[54:45] Karena kita tahu kita pasti meninggal dan kita masalahnya enggak tahu kapan

[54:47] dan kita masalahnya enggak tahu kapan dan gimana kita bisa meninggal itu. Iya.

[54:50] dan gimana kita bisa meninggal itu. Iya. I

[54:50] I sehingga apun yang kita lagi jalani

[54:52] sehingga apun yang kita lagi jalani sekarang jadi berharga banget tiap

[54:55] sekarang jadi berharga banget tiap detiknya itu. Aku bersyukur ketum Bang

[54:57] detiknya itu. Aku bersyukur ketum Bang Radit di sini sama teman-teman semua itu

[54:59] Radit di sini sama teman-teman semua itu akan saya

[55:01] akan saya salah satu momen terbaik di hidup saya

[55:03] salah satu momen terbaik di hidup saya bisa ketemu Bang Rad sini.

[55:06] bisa ketemu Bang Rad sini. Jadi justru karena kematian itu pasti

[55:08] Jadi justru karena kematian itu pasti Bang dan kita enggak tahu kapan

[55:10] Bang dan kita enggak tahu kapan justru jadi makin berharga gitu.

[55:13] justru jadi makin berharga gitu. Wah gila dokter Gia terima kasih sudah

[55:15] Wah gila dokter Gia terima kasih sudah mampir ke sini lagi. Seru banget

[55:17] mampir ke sini lagi. Seru banget cerita-ceritanya. Kalau ada yang mau ee

[55:19] cerita-ceritanya. Kalau ada yang mau ee lihat-lihat sosial media dokter Gia bisa

[55:20] lihat-lihat sosial media dokter Gia bisa ke mana?

[55:21] ke mana? Iya. Gia Pratama MD.

[55:22] Iya. Gia Pratama MD. Gia Pratama MD. Sukses buat semuanya ya,

[55:25] Gia Pratama MD. Sukses buat semuanya ya, Dok ya. Dengan senang hati, Bang Radi.

[55:26] Dok ya. Dengan senang hati, Bang Radi. Thank you. Siap. Yeah.

Cite this page

If you're using ChatGPT, Claude, Gemini, or another AI assistant, paste this URL into the chat:

https://youtube-transcript.ai/docs/cerita-lagi-dari-ruang-igd-gesk3o29mo

The full transcript and summary on this page will be retrieved as context, so the assistant can answer questions about the video accurately.