# Berpacu Dengan Waktu, Gunungan Sampah di Bantar Gebang Kian Menghawatirkan | tvOne

https://www.youtube.com/watch?v=8ZRsERAo-mU
Translation: en

[00:02] Kita boleh langsung ke Prof. Firdaus lagi.
  We can go directly to Prof. Firdaus again.

[00:03] Prof. Firdaus, kalau saat ini lahannya apakah memang fokus di TPST Bantar Gebang dan juga Muara Kamal melihat lahan sekitar 10 hektar kalau tidak salah itu akan diberdayakan agar paling tidak bisa mencegah penumpukan yang lebih tinggi, Prof. Firdaus?
  Prof. Firdaus, currently, is the land indeed focused on the TPST Bantar Gebang and also Muara Kamal, seeing the land of about 10 hectares if I'm not mistaken, will it be utilized so that at least it can prevent higher accumulation, Prof. Firdaus?

[00:16] Ya.
  Yes.

[00:19] Jadi Jakarta menghasilkan 9.000 ton per hari.
  So Jakarta produces 9,000 tons per day.

[00:20] He.
  Hmm.

[00:20] Ya.
  Yes.

[00:22] Ini jumlah yang sangat besar sekali ya.
  This is a very large amount, yes.

[00:26] Dan selama ini sampai sebagian besar kita buang ke Bantar Gebang.
  And all this time, most of it we throw away to Bantar Gebang.

[00:30] Sehingga Bantar Gebang dengan luas lahan yang 100 hektar tersebut tidak mampu lagi menampung sudah kita tumpuk setinggi tadi malahan 9.000 ton per hari itu 3 setengah hari kita bisa bikin Candi Borobudur satu [musik] ya volumenya ya.
  So that Bantar Gebang with its 100-hectare land area can no longer accommodate; we have piled it up as high as before, in fact 9,000 tons per day, in three and a half days we could build one Borobudur Temple [music], yes, its volume, yes.

[00:44] Nah, ketika kita menghadapi darurat sampah ya karena dipicu oleh dua kejadian ya pada tanggal 31 Desember lalu kemudian 8 Maret di mana ada tujuh korban yang meninggal [musik] dan di banyak tempat di Indonesia.
  Well, when we face a waste emergency, yes, triggered by two incidents, yes, on December 31st and then March 8th, where there were seven victims who died [music] and in many places in Indonesia.

[00:57] Makanya kita punya hari sampah nasional pasca kejadian di Lau Gajah di Bandung tahun.
  That's why we have a National Waste Day after the incident in Lau Gajah in Bandung year.

[01:03] 2005 ya untuk mengingatkan kita bahwa sampah tersebut tanggung jawab kita bersama dan harus kita kelola dari hulu tidak dihilir ya kan di TPA itu kan dihilir ya makanya kemudian Jakarta langsung bergerak cepat ya gubernur mengeluarkan instruksi gubernur nomor 5 tahun 2026 yaitu mewajibkan masyarakat penghasil sampah tadi di rumah untuk memilah dan mengolah.
  2005, yes, to remind us that the waste is our collective responsibility and must be managed from upstream, not downstream, right? At the landfill, that's downstream, right? That's why Jakarta immediately moved quickly, yes, the governor issued governor's instruction number 5 of 2026, which requires waste-producing communities at home to sort and process it.

[01:29] Kalau tidak mampu dipilah, diolah kemudian dikirim ke bank sampah atau kemudian nanti ada oftaker yang mengambil dan yang non organik tadi yang punya low value tapi eh high calori itu yang kemudian apakah diconvert menjadi listrik atau kemudian menjadi RDF ya yang nanti bisa jadi bahan bakar pengganti batu bara.
  If they are unable to sort and process it, then it is sent to a waste bank, or later there will be an off-taker who collects it, and the non-organic ones that have low value but high calorific value, those are then either converted into electricity or into RDF, yes, which can later become a substitute fuel for coal.

[01:50] Nah, kembali ke Jakarta kita punya kira-kira 55 juta ton akumulasi yang ada saat ini di Bantarbebank.
  Now, back to Jakarta, we have approximately 55 million tons of accumulated waste currently at Bantarbebank.

[01:58] Bayangkan 55 juta ton sampah sejak tahun 5 kita akumulasi di sana dan tentunya tadi risiko pencemaran
  Imagine, 55 million tons of waste since year 5 we have accumulated there, and of course, the risk of pollution earlier.

[02:03] Lingkungan kemudian emisi gas rumah kaca.
  The environment then greenhouse gas emissions.

[02:06] Dalam bentuk gas metan yang dihasilkan.
  In the form of methane gas produced.

[02:08] Malahan ya bulan lalu kita dinobatkan.
  In fact, yes, last month we were crowned.

[02:11] Salah satu TPA dengan nomor dua terbesar dunia.
  One of the landfills as the second largest in the world.

[02:14] Di dunia menghasilkan gas metan hampir 6 ton per jam.
  In the world producing nearly 6 tons of methane gas per hour.

[02:21] Ya dan Pemprov DKI Jakarta juga dalam 2 tahun terakhir ini juga bergerak, tidak apa tidak statis ya.
  Yes, and the DKI Jakarta Provincial Government in the last 2 years has also been moving, not stagnant, yes.

[02:25] Misalkan kita membangun RDF Lorotan dengan kapasitas terpasang harusnya 2.500 ton, yaitu merubah sampah yang fresh tadi menjadi bahan bakar pengganti yang digunakan oleh industri batu bara, eh industri semen untuk pengganti batu bara.
  For example, we are building the RDF Lorotan with an installed capacity of 2,500 tons, which is to convert the fresh waste into alternative fuel used by the coal industry, uh, the cement industry to replace coal.

[02:45] Tetapi tadi bahwa kita butuh dukungan publik untuk bisa kemudian bagaimanapun sampah tadi harus ditangani dengan baik, dengan cerdas sekali dan itu tidak cukup dengan yang ada di Rorotan.
  But earlier, we need public support so that, however, the waste must be handled well, very smartly, and that is not enough with what is in Rorotan.

[02:57] Heeh.
  Yeah.

[02:57] Ya, kita juga membangun ITF yang ada di Sunter kapasitas kira-kira 2.000 ton per hari.
  Yes, we are also building the ITF in Sunter with a capacity of approximately 2,000 tons per day.

[03:03] Lalu kemudian dua pesun.
  Then two pesun.

[03:06] Di Jakarta yaitu adalah satu yang di wilayah barat yang di Tanjungan, satu lagi kemudian di Bantar Gebang.
  In Jakarta, there is one in the western region at Tanjungan, and another one then in Bantar Gebang.

[03:13] Oke, ya.
  Okay, yes.

[03:16] Dan ini tidak cukup apa kita juga ingin tadi di level kelurahan nanti juga kerja sama dengan TNI, kemudian juga dengan eh Brain dan juga Kementerian ee Dikti Saintech ya untuk juga ada berapa piloting percontohan nanti di berapa kelurahan untuk kemudian sampah tersebut kita convert apakah dengan menggunakan teknologi pirolisis untuk menjadi bahan bakar cair ya.
  And this is not enough; we also want, earlier at the village level, to later cooperate with the TNI, then also with uh Brain and also the Ministry of Higher Education, Science and Technology, yes, to also have several pilot projects later in several villages to then convert that waste, whether by using pyrolysis technology to become liquid fuel, yes.

[03:40] Tetapi yang jadi fokus kita sekarang ini karena apa?
  But what is our focus now because of what?

[03:43] Dari 9.000 1000 ton sampah yang dihasilkan per hari itu kira-kira 55,56% itu berasal dari rumah tangga.
  Of the 9,000 to 1,000 tons of waste produced per day, approximately 55.56% comes from households.

[03:48] Sampah organik artinya sisa dari rumah tangga tadi kira-kira 43% sampai 45% tadi merupakan sampai organik sisa makanan, sisa masak.
  Organic waste, meaning the leftovers from households earlier, approximately 43% to 45% earlier, is organic waste, food scraps, cooking leftovers.

[03:59] Oke.
  Okay.

[04:00] Dan jumlah inilah yang harus ditangani di hulu.
  And this is the amount that must be handled upstream.

[04:03] Heeh.
  Yeah.

[04:05] Dan sisanya tadi tadi apakah dibawa ke bank sampah nanti juga akan jadi feeding.
  And the rest earlier, whether it is taken to the waste bank, will later also become feeding.

[04:08] Untuk pesel yang akan dibangun baik di Tanjung maupun juga di Bantar Gebang nanti ya.
  For the pesel that will be built both in Tanjung and also in Bantar Gebang later, yes.

[04:13] Oke.
  Okay.

[04:14] Dan kita berpacu dengan waktu.
  And we are racing against time.

[04:16] Kenapa?
  Why?

[04:16] Bantar Gebang harus kita bebaskan dari tumpukan sampah tadi.
  We must free Bantar Gebang from the pile of garbage earlier.

[04:22] Kenapa?
  Why?

[04:22] Karena ya lindi yang dihasilkan ya selama ini juga mencemari badan air, air tanah kita dan juga masyarakat di sekitarnya juga terganggu sekali.
  Because the leachate produced all this time has also polluted water bodies, our groundwater, and the surrounding community is also very disturbed.

[04:30] Oke, artinya harus dibatasi supaya tidak lagi terjadi penumpukan.
  Okay, meaning it must be limited so that accumulation no longer occurs.

[04:35] Diop biar cukup saja sampai dengan 70 m kemudian nanti dikelola itu sehingga fresh waste ini bisa dikelola dengan baik.
  Just make it sufficient up to 70 m, then later it will be managed so that this fresh waste can be managed properly.

[04:42] Kemudian melalui pun ada danantara di Denera.
  Then there is also andantara in Denera.

[04:45] Tapi kalau melihat teknologi apa kemudian yang dipersiapkan sehingga nanti bisa ramah lingkungan, aman juga dan kemudian ini bisa konsisten tentunya.
  But if we look at what technology is then prepared so that later it can be environmentally friendly, safe, and then this can certainly be consistent.

[04:54] Kalau kita melihat memang rencana di RPJMN dan juga di masing-masing lokasi, tidak ada satu solusi yang bisa menyelesaikan masalah sampah.
  If we look at the plans in the RPJMN and also in each location, there is no single solution that can solve the waste problem.

[05:02] Semua masalah sampah di Indonesia, baik itu di skala Indonesia, skala nasional, maupun di Jakarta.
  All waste problems in Indonesia, whether at the Indonesia scale, national scale, or in Jakarta.

[05:08] Jadi semua effort itu harus dijalankan,
  So all that effort must be carried out,

[05:12] baik itu effort pemisahan, RDF, dan termasuk PSL.
  whether it's the effort of separation, RDF, and including PSL.

[05:15] Di PSL sendiri yang akan eh dipilih adalah teknologi di bahasa Inggrisnya adalah moving grade incinerators atau ini insinerasi tanpa polusi.
  In PSL itself, what will be uh chosen is the technology, in English it is moving grade incinerators or this incineration without pollution.

[05:29] Kenapa bisa kita bilang tanpa polusi?
  Why can we say it's without pollution?

[05:31] Karena memang asap yang keluar itu disaring sedemikian rupa dengan menggunakan standar yang tinggi.
  Because the smoke that comes out is filtered in such a way using high standards.

[05:36] Standar Eropa kalau misalkan standar SNI ada cukup baik, tapi standar Eropa memang lebih baik dan itu sangat ketat.
  European standards, for example, SNI standards are quite good, but European standards are indeed better and very strict.

[05:44] Sehingga bisa dibilang mungkin di beberapa lokasi justru udara asap yang keluar dari e PSL itu mungkin lebih bersih daripada udara sekitar.
  So it could be said that perhaps in some locations, the smoke air coming out of the PSL might actually be cleaner than the surrounding air.

[05:54] Itu satu.
  That's one.

[05:54] Yang kedua, lindi yang tadi Pak Prof. E Firdaus sampaikan itu menjadi masalah lingkungan juga.
  Secondly, the leachate that Prof. E Firdaus mentioned earlier also becomes an environmental problem.

[06:01] Air sampah itu akan terus-menerus mengalir jika tidak kita tampung dan tidak kita olah.
  The garbage water will continuously flow if we do not contain it and do not treat it.

[06:06] Dan di PSL sendiri lindi itu akan diolah dan bisa
  And in PSL itself, the leachate will be treated and can

[06:09] Menjadi air bersih [musik] kembali.
  Becomes clean water [music] again.

[06:12] Oke, jadi itu implementasi nyatanya karena kami menganggap kalau ada komparasi di Singapura sampah bisa dihilangkan seutunya [musik] dijadikan dijadikan sebagai bahan untuk batu bata.
  Okay, so that's the real implementation because we consider that if there is a comparison in Singapore, waste can be completely eliminated [music] and turned into material for bricks.

[06:22] He.
  Heh.

[06:23] Mungkin tidak kita juga mereplikasi yang ada di negara lain kita lakukan di Indonesia, Mas Fadli.
  Maybe we can also replicate what exists in other countries and do it in Indonesia, Mas Fadli.

[06:28] Betul.
  Correct.

[06:30] Em teknologi yang di Singapura itulah teknologi yang akan kita implementasikan di sini.
  Um, the technology in Singapore is the technology that we will implement here.

[06:33] Oke.
  Okay.

[06:34] Sama artinya ya?
  Same meaning, right?

[06:35] Kurang [musik] lebih sama.
  More or less the same [music].

[06:37] Oke.
  Okay.

[06:37] Tapi begini, Mas. [tepuk tangan]
  But it's like this, Mas. [applause]

[06:40] Apakah nanti dari 9.000 1000 ton di Jakarta per hari, apakah itu semuanya akan diolah atau bagaimana sebenarnya implementasinya nanti yang akan dilakukan melalui DNRA?
  Will the 9,000 to 1,000 tons per day in Jakarta, will all of it be processed or how will the implementation actually be carried out through DNRA?

[06:48] Kalau kita melihat memang rencana yang ditetapkan oleh em Pak Pempr Jakarta itu memang ee ada beberapa ee langkah ee untuk mengolah fresh waste ini.
  If we look at the plan set by um the Jakarta Governor, there are indeed several um steps um to process this fresh waste.

[06:59] PSL mungkin hanya masuk sebagian saja, mungkin hanya meng-cover sekitar 25 30% dari total yang di e fresh waste e dari Jakarta.
  PSL might only handle a portion, maybe only covering about 25 to 30% of the total um fresh waste um from Jakarta.

[07:07] Tetapi pengolahannya itu sendiri nanti nomor satu tentunya itu
  But the processing itself later, number one, of course, is that

[07:11] akan masuk ke insinerasi yang ee
  will go into incineration which um

[07:14] keluarnya akan menjadi udara yang bersih,
  the output will become clean air,

[07:15] [musik] ee air yang bersih, dan
  [music] um clean water, and

[07:17] juga bahkan beberapa abu bawah ee batau bottom esh yang nanti bisa menjadi ee batako atau ee brisket dan lain sebagainya
  also even some bottom ash um or bottom ash that later can become um concrete blocks or um brisket and so on

[07:25] itu yang kemudian menjadi pertumbuhan ekonomi yang baru.
  that then becomes new economic growth.

[07:28] Ini sampah-sampah yang baru ya, Mas.
  These are the new wastes, right, Sir.

[07:30] Lalu bagaimana dengan sampah-sampah lama yang sudah mungkin bercampur baur dengan berbagai zat kimia sudah puluhan tahun?
  Then what about the old wastes that have possibly been mixed with various chemicals for decades?

[07:38] itu diapakan nanti Mas ya.
  what will be done with that later, Sir, yes.

[07:39] Saya rasa ee ada beberapa nanti langkah yang akan disampaikan oleh Prof. Firdaus juga.
  I think um there will be several steps later that will also be presented by Prof. Firdaus.

[07:43] Eh memang ada beberapa teknologi yang bisa dilakukan ee misalkan dengan pirolisis dan lain sebagainya.
  Oh indeed there are several technologies that can be done um for example with pyrolysis and so on.

[07:50] Jadi [musik] ada hulu, tengah, dan juga hilir.
  So [music] there is upstream, midstream, and also downstream.

[07:51] Itu disiapkan oleh e pemerintah tentunya pusat dan juga daerah ya Sel ya.
  That is prepared by the government, of course central and also regional, yes Sel yes.

[07:56] Ya betul.
  Yes correct.

[07:56] Kalau untuk hulunya sendiri ini memang harus peran dari masyarakat,
  As for the upstream itself, this indeed must be the role of the community,

[07:59] harus ada [musik] kesadaran dari publik bahwa misalnya kalau misalnya ada kesadaran ini dari aktivis lingkungan seperti contohnya Ibu Maharia [musik]
  there must be [music] awareness from the public that for example if there is this awareness from environmental activists such as Mrs. Maharia [music]

[08:06] yang memang sampai dengan saat ini sudah menggaungkan terkait dengan e
  who indeed up to now has been voicing regarding um

[08:11] Pemeliharaan lingkungan bersama dengan warga sekitar di Kepulauan Seribu.
  Environmental maintenance together with local residents in the Thousand Islands.

[08:15] Kita lihat dulu bagaimana kemudian sosok Ibu Mahari berikut ini.
  Let's first see how the figure of Mrs. Mahari is next.

[08:26] Saya Mahariya, guru di Madrasah Ibtidaya Negeri 17 Jakarta, Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.
  I am Mahariya, a teacher at Madrasah Ibtidaya Negeri 17 Jakarta, Panggang Island, Thousand Islands.

[08:34] Mulai berurusan dengan masalah sampah ini sejak 2007.
  I started dealing with this waste problem since 2007.

[08:39] Awalnya karena sampah laut merusak mangrove yang saya tanam.
  Initially because marine waste damaged the mangroves I planted.

[08:44] Dari pengalaman itu saya melihat kita butuh metode penanganan sampah laut yang tuntas dan adil.
  From that experience, I saw that we need a thorough and fair method of handling marine waste.

[08:52] Begitu juga dengan sampah domestik yang dihasilkan di pulau.
  Likewise with domestic waste generated on the island.

[08:56] Harapan saya sederhana.
  My hope is simple.

[08:58] Solusinya harus mudah, murah, tapi juga bisa produktif dan memang sesuai dengan konteks atau kebutuhan masyarakat kepulauan.
  The solution must be easy, cheap, but also productive and truly in accordance with the context or needs of the island community.

[09:18] [tepuk tangan]
  [applause]

[09:19] Langsung saja Ibu Maharia.
  Go ahead, Mrs. Maharia.

[09:19] Bu Mahariya, bagaimana kemudian Anda [musik] menggerakkan warga sekitar untuk kemudian melakukan kegiatan mengelola sampah, peduli terhadap lingkungan yang nota BNE ini tadi sudah disampaikan juga oleh PEMPR DKI Jakarta.
  Mrs. Mahariya, how did you then mobilize the surrounding residents to carry out waste management activities, care for the environment, which this BNE note was also conveyed by the DKI Jakarta Regional Development Planning Agency?

[09:36] Sulit sekali kemudian kita kemudian menggerakkan masyarakat untuk melakukan ataupun kesadaran terkait dengan sampah ini.
  It is very difficult then for us to mobilize the community to take action or raise awareness regarding this waste.

[09:42] Oke, makasih.
  Okay, thank you.

[09:45] Sebelumnya saya mengucapin selamat ulang tahun Jakarta.
  First, I say happy birthday to Jakarta.

[09:47] [tepuk tangan]
  [applause]

[09:48] Eh, Kepulan Seribu itu Jakarta.
  Oh, the Thousand Islands is Jakarta.

[09:51] Saya KTP-nya Jakarta, Pak Firdaus.
  My ID card is from Jakarta, Mr. Firdaus.

[09:54] Dan kemudian yang kedua, saya mau ngucapin terima kasih atas hadiah Ingop 2026 lebih detail dibanding ee ee pergup sebelumnya ya.
  And then secondly, I want to thank you for the Ingop 2026 gift, which is more detailed than the previous pergup, yes.

[10:06] Ya, alhamdulillah.
  Yes, praise be to God.

[10:06] Jadi itu kita tunggu 15 tahun, Pak.
  So we waited 15 years for that, sir.

[10:10] Kalau ditanya bagaimana menggerakkan, sebetulnya masyarakat itu sederhana.
  If asked how to mobilize, actually the community is simple.

[10:16] Diajak ngobrol aja.
  Just invite them to chat.

[10:16] Diajak ngobrol.
  Invite them to talk.

[10:18] Kebetulan saya orang pulau asli, terus
  I happen to be a native islander, and then

[10:20] kemudian tahu tahu masalahnya lah.
  then I gradually came to know the problem.

[10:23] Tapi tidak semua orang kan melihat itu.
  But not everyone sees that, right.

[10:25] Nah, kemudian kita ngobrol, kita ngobrol kayak tetangga lah
  Well, then we chat, we chat like neighbors,

[10:29] persoalannya apa.
  what the issue is.

[10:31] Terus dari sekian banyak persoalan lingkungan yang kira-kira paling darurat itu apa?
  Then, among the many environmental issues, which one is roughly the most urgent?

[10:36] Terus bagaimana kita bisa nyelesaiin tanpa harus menunggu bantuan pihak lain?
  Then how can we solve it without having to wait for help from other parties?

[10:41] Kayak gitu muncul dari situ aja.
  That kind of thing just emerged from there.

[10:43] Jadi setiap minggu kita ketemu ngobrol ketemu ngobrol itu terus gitu gak berhenti-berhenti sampai sekarang ya
  So every week we meet and chat, meet and chat, it continues like that nonstop until now,

[10:48] hasilnya adalah bahwa mereka punya kesadaran bahwa ya pulaunya kudu dijaga.
  the result is that they have awareness that yes, the island must be protected.

[10:53] Kita pernah punya peristiwa dahsyat sebetulnya 2007 ketika Jakarta banjir bandeng Prof
  We actually had a terrible event in 2007 when Jakarta had a flood, Prof,

[10:58] yang orang pada nangkring di atas rumah ya.
  where people were perched on top of their houses, you know.

[11:02] Nah saat itulah ketika banjir bandang biasanya sampah itu kan luruh dibawa ke ke hilir tuh ya ke Teluk Jakarta dan hanyut di kita.
  Well, that was the time when during a flash flood, the trash usually falls and is carried downstream to Jakarta Bay and washes up on us.

[11:10] Karena saya petani mangr nih, Prof.
  Because I am a mangrove farmer, Prof.

[11:13] Mangrovnya hancur.
  The mangroves were destroyed.

[11:17] Karena mangrnya hancur ya ya kayak ketampar gitu ya.
  Because the mangroves were destroyed, it was like being slapped, you know.

[11:19] Ini kalau misalnya sampai ini nak dikelola dan saat itu belum ada Dinas Lingkungan Hidup, belum ada apa-apa, belum ada institusi yang betul-betul ngolah itu.
  If, for example, this is to be managed, and at that time there was no Environmental Agency, nothing at all, no institution that really processed it.

[11:29] Akhirnya ya karena saya guru ya saya punya tentaranya ya murid gitu ya.
  Finally, because I was a teacher, I had my army, which were the students, you know.

[11:34] [tertawa] Ya murid-murid itulah yang kemudian jadi apa?
  [laughs] Yes, those students then became what?

[11:37] jadi tentara itu.
  They became that army.

[11:39] Dan yang menarik sebetulnya gini, kami karena kami di pulau, anak pulau itu suka berenang di laut tuh, Mas Fadli.
  And what's interesting is actually this: because we are on an island, the island children like to swim in the sea, Mas Fadli.

[11:42] Berenang di laut.
  Swim in the sea.

[11:45] Jadi, setiap hari Sabtu mereka libur tuh langsung nyebur.
  So, every Saturday when they had a day off, they would immediately jump in.

[11:49] Nah, saya bilang nyeburnya setelah kita ambilin sampah.
  Well, I said they could jump in after we collected the trash.

[11:51] Oke, gitu.
  Okay, like that.

[11:54] Setiap minggu begitu.
  Every week it was like that.

[11:54] Jadi mereka nyebur ngambil sampah dulu dikumpulin di pantai dan belum ada fasilitas TPS segala macam enggak ada.
  So they would jump in, collect the trash first, gather it on the beach, and there were no waste disposal facilities or anything like that at all.

[12:01] Kita lakukan nanti kan setelah itu baru ada persoalan kan.
  We did it, and later after that, new problems arose, right.

[12:04] Nah, setelah ketumpung ini mau diapain?
  Well, after it piled up, what was it going to be done with?

[12:05] Karena tadi yang disampaiin sama Prof. ee Firdaus bahwa kalau sampai sudah terlalu lama kita kita malah bingung kan gitu.
  Because earlier, what was conveyed by Prof. uh Firdaus was that if it's been too long, we actually get confused, right.

[12:14] Kemudian yang kedua persoalan tadi teknologi apapun gitu ya, teknologi apapun yang kita pilih untuk menyelesaikan persoalan sampah maka
  Then secondly, the earlier issue: whatever technology, yes, whatever technology we choose to solve the waste problem, then

[12:21] Pendekatannya sebetulnya gak tunggal.
  The approach is actually not singular.

[12:23] Jadi harus harus harus sesuai gitu.
  So it must, must, must be appropriate like that.

[12:26] Kemudian kuncinya cuman satu gitu dari perjalanan kami yang panjang ini.
  Then the key is just one from this long journey of ours.

[12:30] Kuncinya cuma satu.
  The key is only one.

[12:32] Bagaimana itu dipilah kemudian baru diolah dengan cara lebih murah.
  How it is sorted then processed in a cheaper way.

[12:36] Sebab kalau misalnya kita biarkan situasinya seperti sekarang nih pasti meskipun ada danantara atau ada apapun gitu ya model-model apa nam investasi mentre-nya itu jadi sangat mahal kayak gitu.
  Because if for example we let the situation be like now, surely even if there is Danantara or whatever, the models, what's it called, the investment treatment becomes very expensive like that.

[12:50] Jadi misalnya gini ee Prof. Firdaus kita di Pulau Panggang misalnya hari ini punya TPS 3R [musik] Pak, ada gib segala macam tapi dominasi sampah lautnya jauh lebih banyak dibanding sampah domestiknya.
  So for example, Prof. Firdaus, we on Panggang Island for example today have a TPS 3R [music] Sir, there are various types of waste but the dominance of marine waste is far greater than domestic waste.

[13:02] Nah, problemnya tadi itu korosilah, segala macamlah sehingga alat itu menjadi lebih mahal pemeliharaannya.
  Well, the problem earlier was corrosion and all sorts of things, so that equipment becomes more expensive to maintain.

[13:09] Ee alih-alih kita jadiin itu jadi yang kita sebut sebagai sampah fresh kemudian bisa kita olah jadi energi baru.
  Uh, instead of us making it what we call fresh waste, then we can process it into new energy.

[13:17] Tapi justru kita di apa?
  But instead we are what?

[13:20] Dihadang sama situasi mentreatmen awal dulu supaya ini
  Blocked by the initial treatment situation first so that this

[13:23] bisa siap.
  Can be ready.

[13:25] Jadi, jadi yang kita sebut sebagai sampah prest tadi itu,
  So, so what we call waste prest earlier,

[13:26] Ibu Maria menarik sekali edukasi sudah terus dilakukan menjelaskan nilai manfaatnya kalau memilah sampah.
  Mrs. Maria is very interesting, education has been continuously carried out explaining the benefits of sorting waste.

[13:32] Tapi ternyata tantangan itu masih dihadapi.
  But it turns out that challenge is still faced.

[13:34] Sesaat lagi, Bu ditanggapi, Prof. Firdaus.
  In a moment, ma'am, responded by Prof. Firdaus.

[13:36] Masli boleh ikut menjawab hanya di program spesial kami malam hari ini.
  Masli may also answer only on our special program tonight.
